|
Bagaimana Reorganisasi Oligarki
Berlangsung di Era Prabowo Savero Aristia Wienanto : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 02 Oktober 2026
|
· Buku karya Richard Robison dan Vedi R.
Hadiz, Reorganisasi Kekuasaan di Indonesia: Politik Oligarki di Era Pasar,
diluncurkan di Jakarta. · Buku ini berargumen bahwa perubahan
pasca-Reformasi 1998 bukan pembongkaran total struktur kekuasaan Orde Baru,
melainkan reorganisasi (penataan ulang) oligarki. · Oligarki dipahami sebagai struktur
sosial ketika kelompok kecil dengan sumber daya besar mengendalikan negara,
pasar, dan masyarakat. DUA
program yang paling disorot pada era Prabowo Subianto, makan bergizi gratis
(MBG) dan koperasi desa merah putih, memiliki dimensi yang lebih besar
daripada sekadar urusan makanan dan ekonomi desa. Keduanya menggambarkan
bagaimana kekuasaan ekonomi-politik diatur dan dipusatkan, sebuah pola
reorganisasi oligarki yang menjadi salah satu tesis buku Reorganisasi
Kekuasaan di Indonesia: Politik Oligarki di Era Pasar karya Richard Robison
dan Vedi R. Hadiz. Buku
terbitan GDN ini diluncurkan di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur, pada Senin,
28 September 2026. Buku ini merupakan terjemahan dari Reorganizing Power
in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets yang pertama
kali terbit pada 2004. Buku Reorganisasi
Kekuasaan di Indonesia ini ditulis oleh dua guru besar dari kampus
ternama Australia. Vedi R. Hadiz adalah profesor studi Asia dan profesor
kehormatan Redmond Barry di Asia Institute, University of Melbourne. Ada pun
Richard Robison merupakan profesor emeritus di Murdoch University. Tesis
utama buku ini menyoroti Indonesia yang memasuki era demokrasi elektoral,
desentralisasi, kebebasan pers, serta kompetisi politik yang jauh lebih
terbuka dibanding masa Orde Baru. Namun perubahan tersebut lebih tepat
dipahami sebagai reorganisasi daripada transformasi konfigurasi kekuasaan. Dalam
peluncuran buku itu, Vedi mengatakan, demokrasi menyediakan arena kompetisi
politik yang baru, tapi kekuatan sosial dan kepentingan politik-ekonomi yang
berkembang di bawah Orde Baru sebagian besar berhasil menyesuaikan diri
dengan aturan permainan yang baru. Mereka kehilangan berbagai kendaraan
politik lama, tapi tidak kehilangan kapasitas untuk mempertahankan maupun
membangun kembali dominasi dalam lingkungan kelembagaan yang telah berubah. Vedi
mengatakan Reformasi 1998 tidak menghancurkan struktur oligarki yang dibangun
pada masa Orde Baru. Menurut dia, perubahan yang terjadi justru berupa
reorganisasi kekuasaan dan perubahan mekanisme kontestasi antarkekuatan
oligarki. “Dalam buku ini, kami bicara tentang bagaimana oligarki itu adalah
suatu struktur sosial. Bukan sekadar kumpulan orang kaya doang,” katanya. Menurut
Vedi, institusi dalam sistem politik bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri,
melainkan menjadi arena bagi berbagai kekuatan untuk berkontestasi. Perubahan
utama setelah Reformasi, kata dia, terdapat pada mekanisme kontestasi yang
kemudian berlangsung melalui pemilu dan institusi-institusi demokratis
lainnya. Karena
itu, Vedi menyebutkan perubahan pasca-Reformasi bukan transformasi kekuatan,
melainkan reorganisasi dari oligarki. Ia mengatakan karakter oligarki
tersebut juga tidak berhenti pada kondisi yang sama, melainkan terus
berevolusi. Menurut
Vedi, salah satu perubahan penting setelah Reformasi adalah beralihnya
oligarki Orde Baru yang sangat tersentralisasi menjadi oligarki yang lebih
terdesentralisasi. Selain itu, ia mengatakan, perubahan tersebut membuat
kekuatan-kekuatan oligarki yang lama tidak lagi memerlukan otoritarianisme
seperti pada masa Orde Baru untuk mempertahankan kepentingannya. Vedi
menjelaskan bahwa persoalan hari ini adalah resentralisasi kekuasaan yang
berlangsung sejak masa pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi. “Jokowi masuk ke
dalam persaingan antar-faksi oligarki ini, meski tidak mempunyai basis
kekuasaan,” ujar Vedi. Dari
situ itu, menurut dia, Jokowi membangun pengaruh di luar jaringan yang selama
ini dibentuk melalui sistem kepartaian. Dalam proses tersebut, Jokowi makin
mengandalkan bagian-bagian penting dari birokrasi. Lebih lanjut, Vedi
menyoroti menguatnya militer ke dalam ruang politik sebagai bagian dari
perkembangan tersebut. Vedi
menyebut proyek strategis nasional (PSN) sebagai salah satu alat penting
dalam proses memperkuat pengaruh Jokowi. Program pembangunan infrastruktur
dan keberadaan badan usaha milik negara, kata dia, menjadi basis bagi
pembentukan jaringan patronasi. “Sekarang Prabowo menerima warisan dari
Jokowi seperti itu,” tuturnya. Menurut
Vedi, sejumlah program pemerintahan Prabowo memiliki karakter sentralistis
karena pengelolaannya berpusat pada pemerintah pusat dan jaringan kekuasaan
di sekitarnya. Ia menyinggung bagaimana program unggulan, seperti MBG dan
koperasi desa merah putih, menjadi bagian dari cara Prabowo memusatkan
kekuatan ekonomi-politik. Vedi
menilai pola itu mengindikasikan dua hal. Pertama, ada pengaturan agar
persaingan di antara faksi-faksi oligarki berlangsung lebih terkendali.
Kedua, ada dorongan dominasi salah satu faksi oligarki terhadap keseluruhan
struktur oligarki. “Itulah yang kita hadapi sekarang,” ucapnya. Pembacaan
Oligarki Robertus
Robet, sosiolog Universitas Negeri Jakarta, menilai Robison dan Vedi
mengajukan sebuah tesis yang radikal. “Menurut mereka, yang berubah bukan
struktur kekuasaan, melainkan cara kekuasaan bekerja,” kata Robert, yang juga
ikut menulis kata pengantar. Vedi dan
Robison, Robert menjelaskan, menganggap perubahan aturan tak serta-merta
menghasilkan perubahan relasi kekuasaan. Ia menyinggung bagaimana sejarah
menunjukkan bahwa elite politik tidak menghilang hanya karena ada perubahan
konstitusi. Selain
itu, kata Robert, kelas-kelas kapitalis lama tidak lenyap hanya karena pemilu
menjadi bebas. Sebaliknya, mereka justru mempunyai kemampuan luar biasa untuk
menyesuaikan diri terhadap perubahan. Dari sini, istilah oligarki memperoleh
makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar “pemerintahan orang kaya". “Oligarki
dipahami sebagai konfigurasi kekuasaan yang memungkinkan kelompok kecil
dengan sumber daya material sangat besar mengendalikan negara, pasar, dan
masyarakat,” ujar peraih gelar doktor bidang filsafat di Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara itu. Sementara
itu, pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menilai buku Reorganisasi
Kekuasaan di Indonesia masih relevan untuk menelusuri perjalanan reformasi
Indonesia. Menurut dia, perubahan institusi melalui amendemen konstitusi dan
pembentukan berbagai lembaga baru tidak dengan sendirinya mengubah relasi
kekuasaan yang menopang oligarki. Menurut
Bivitri, pembacaan terhadap oligarki kerap berhenti pada kesimpulan bahwa
oligarki merupakan sumber persoalan. Padahal, penggunaan konsep oligarki
seharusnya membantu menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja dan bagaimana
struktur tersebut dapat dibongkar. Bivitri
mengatakan salah satu bagian penting dalam buku tersebut adalah pembahasan
mengenai apakah konstitusionalisme demokratis mampu mengubah Indonesia. Bab
tersebut, menurut dia, memunculkan pertanyaan penting tentang sejauh mana
perubahan institusional pasca-Reformasi benar-benar mengubah struktur
kekuasaan. Dalam
konteks hukum tata negara, Bivitri menilai kondisi hari ini menunjukkan
bagaimana hukum makin mudah menjadi instrumen bagi kekuasaan. Ia mencontohkan
penggunaan berbagai kebijakan pemerintah, termasuk proyek strategis nasional,
untuk mencapai keinginan penguasa. “Hukum makin lama makin menjadi alat
saja,” tutur dosen Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera itu. Bivitri
mengatakan pembacaan terhadap buku Reorganisasi Kekuasaan di Indonesia juga
penting untuk melihat perubahan konstitusi Indonesia setelah Reformasi.
Menurut dia, pada saat itu muncul harapan bahwa perubahan konstitusi dapat
menjadi dasar bagi terbentuknya demokrasi yang lebih kuat. Namun, dalam
praktiknya, perubahan institusional tersebut tidak disertai perubahan
mendasar dalam relasi kekuasaan. Menurut
Bivitri, pengalaman tersebut membuat buku Reorganisasi Kekuasaan di Indonesia
penting dibaca kembali. Menurut dia, buku tersebut membantu menggeser
perhatian dari sekadar perubahan institusi menuju pertanyaan yang lebih mendasar
mengenai bagaimana kekuasaan diorganisasikan. “Yang terjadi hari ini adalah
reorganisasi kekuasaan,” ucapnya. ● Sumber : https://www.tempo.co/teroka/bagaimana-reorganisasi-oligarki-berlangsung-di-era-prabowo-2298332 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar