|
Mengapa Pola Belanja Masyarakat Indonesia
Mulai Berubah? Karina
Isna Irawan, Samantha Junita Dewanti : Litbang Kompas. |
KOMPAS, 04 Oktober 2026
|
Pola belanja masyarakat Indonesia kini bergeser ke barang, jasa,
serta keperluan personal yang lebih relevan dan mendesak. Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini: 1. Pola belanja masyarakat kini bergeser. 2. Konsumsi terbatas karena pendapatan pas-pasan. 3. Kebutuhan harian dibiayai pinjaman daring. 4. Sinyal adanya tekanan terhadap daya beli. 5. Semakin berhati-hati di tengah tekanan daya beli. Pola belanja masyarakat kini bergeser Cara masyarakat membelanjakan uangnya kini mulai berubah. Terjadi
pergeseran pola belanja dari kebutuhan berbasis rumah dan kegiatan seremonial
menuju barang, jasa, serta keperluan personal yang lebih relevan dan
mendesak. Pergeseran pola belanja ini tecermin dalam persentase pengeluaran
rata-rata per kapita barang bukan makanan yang dirilis Badan Pusat Statistik
(BPS). Porsi pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga
trennya cenderung menurun dalam empat tahun terakhir. Pada 2025 porsinya
menjadi 25,41 persen dari total pengeluaran, atau turun 1,33 persen poin
dibandingkan pada 2022. Selain kebutuhan berbasis rumah, porsi pengeluaran kegiatan
seremonial juga menurun kendati tidak signifikan, seperti untuk pesta dan
upacara. Porsinya turun sekitar 0,15 poin persen menjadi 1,74 persen dari
total pengeluaran. Kondisi ini menyiratkan urgensi realokasi belanja ke
kebutuhan yang dianggap lebih relevan atau mendesak. Jika dicermati, pengeluaran untuk barang dan jasa memang
meningkat paling tajam (0,77 poin persen), baru kemudian barang tahan lama
(0,52 poin persen) dan pakaian (0,14 poin persen). Pada 2025 porsi
pengeluaran rata-rata per orang untuk barang dan jasa mencapai 12,79 persen,
sementara barang tahan lama 4,02 persen dan pakaian 2,5 persen dari total
pengeluaran. Perubahan pola belanja ini tidak terlepas dari normalisasi
konsumsi yang terjadi pascapandemi. Namun, belum cukup untuk menyimpulkan
daya beli membaik atau memburuk. Sinyal yang lebih kuat adalah masyarakat
kini memang sedang mengubah prioritas belanja bukan semata-mata mengurangi
konsumsi. Pergeseran pola belanja yang terpotret pada tahun lalu itu
tampaknya terasa hingga saat ini. Masyarakat cenderung menahan belanja hingga
tecermin pada kinerja penjualan ritel nasional yang dirilis Bank Indonesia
setiap bulan. Pada Agustus skor indeks penjualan eceran 224,6 atau hanya
tumbuh 0,45 persen dibandingkan pada periode sama tahun 2025. Konsumsi terbatas karena pendapatan pas-pasan Ditilik dari jumlah pengeluaran, lebih dari setengah penduduk
Indonesia didominasi kelas menengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat,
kelas menengah pada 2025 berjumlah 46,7 juta orang atau 16,6 persen dari
total penduduk. Sementara itu, mereka yang masuk kelompok menuju kelas
menengah mencapai 142 juta orang (50,4 persen). Dominasi kelas menengah dan menuju kelas menengah menjadi bahan
bakar terbesar untuk memutar roda ekonomi. Selain dari dominasi jumlah,
mereka juga berperan penting sebagai bantalan ekonomi karena kontribusi
konsumsinya terbilang signifikan, mencapai 81,5 persen dari total konsumsi
nasional. Namun, peran kelas menengah sebagai bantalan ekonomi terlihat
semakin menipis, seperti terekam dalam survei persepsi ekonomi Litbang
Kompas, April 2026. Tekanan finansial terasa cukup kuat menghantam kelas menengah.
Sekitar enam dari sepuluh responden kelas menengah memiliki penghasilan yang
pas dengan kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Bahkan, dua hingga tiga
dari setiap sepuluh kelas menengah mengaku penghasilannya kurang. Kelas menengah bawah menjadi kelompok yang ruang finansialnya
semakin sempit, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi tahun lalu. Proporsi
responden kelas menengah bawah yang menyebut penghasilannya pas-pasan, naik
3,1 poin persen dibandingkan April 2025. Pada saat yang sama, mereka yang
penghasilannya berlebih justru turun (2,2 poin persen). Penghasilan kelas menengah yang pas-pasan ini diperkuat dengan
temuan, ketidaksiapan finansial apabila mereka mengalami gejolak ekonomi.
Survei yang sama merekam, sekitar 62 persen responden dari kelas menengah
bawah dan 57 persen kelas menengah atas tidak memiliki tabungan ataupun dana
darurat. Terbatasnya kemampuan pendapatan untuk membiayai kebutuhan kelas
menengah juga terkonfirmasi dalam Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) yang
dirilis oleh Bank Indonesia. Skor IEP ini merosot tajam sejak awal tahun dari
146 pada Januari menjadi 133,6 pada Juni, yang terjadi di seluruh kelompok
pengeluaran. Kebutuhan harian dibiayai pinjaman daring Di tengah tren tabungan yang menyusut, pinjaman masyarakat justru
meningkat. Peningkatan ini terutama berasal dari pembiayaan instan, seperti
paylater, pinjaman daring, dan kartu kredit. Tingginya permintaan atas
pinjaman tersebut turut membuat industri pegadaian kian menjamur. Pada saat yang sama, tren belanja masyarakat masih terus tumbuh.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar rumah tangga tidak lagi
sekadar mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari, tetapi
juga dari pinjaman alias berutang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mencatat,
total saldo pinjaman, yang mencakup pinjaman daring (pindar), kartu kredit,
dan paylater, baik dari perusahaan pembiayaan nonbank maupun perbankan, telah
mencapai Rp 160,7 triliun per Mei 2026. Angka ini melonjak 26,4 persen secara
tahunan. Adapun pindar memiliki porsi terbesar dengan saldo sebesar Rp
103,7 triliun atau sekitar 54,3 persen dari total gabungan ketiga pembiayaan
tersebut. Di sisi lain, pertumbuhan tertinggi ditorehkan oleh pembiayaan
paylater yang mencapai 42,04 persen secara tahunan. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies
(Celios) Nailul Huda berpendapat, fenomena tersebut tidak lepas dari
meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Ketika pendapatan berkurang,
masyarakat masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, salah satunya dengan
berutang. Nailul mengingatkan, kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah
lantaran data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi sedang tidak
baik-baik saja dan memburuk. Jika tidak tertangani dengan baik, dampaknya
akan merambat ke ranah sosial, seperti meningkatnya angka kejahatan. Sinyal adanya tekanan terhadap daya beli Fenomena semacam ini dikenal sebagai trading down atau
downgrading, yakni ketika konsumen beralih dari barang atau layanan dengan
harga atau spesifikasi lebih tinggi ke alternatif yang lebih murah. Perubahan
bukan hanya merek barang yang masuk keranjang belanja. Pada sebagian orang,
penyesuaian menyentuh gaya hidup, kepemilikan aset, dan skala usaha. Downgrading menjadi cermin dari tekanan pada rumah tangga ketika
pertumbuhan pendapatan tidak sejalan dengan pertambahan kebutuhan.
Downgrading bukan lagi tentang kehilangan kemampuan membeli barang tertentu,
melainkan perubahan cara rumah tangga menentukan prioritas di tengah
pendapatan yang tidak bertambah dan biaya hidup yang semakin mencekik. Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics
and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, perubahan pola konsumsi
masyarakat dapat menjadi sinyal adanya tekanan terhadap daya beli apabila
rumah tangga terpaksa memilih produk yang lebih murah untuk menutup biaya
hidup. Tekanan menjadi lebih serius ketika rumah tangga mulai menjual
aset untuk membiayai kebutuhan rutin. Menurut Rizal, kondisi itu menunjukkan
tekanan ekonomi tidak hanya mengurangi konsumsi saat ini, tetapi juga mulai
mengikis cadangan kekayaan yang semestinya dapat digunakan untuk menghadapi
guncangan ekonomi berikutnya. Rizal mengatakan, fenomena downgrading atau pengurangan konsumsi
yang berlangsung terus-menerus dapat menciptakan efek berantai terhadap
perekonomian. Ketika masyarakat mengurangi belanja, omzet usaha dapat ikut
tertekan. Pelemahan omzet kemudian dapat menghambat ekspansi usaha dan
perekrutan tenaga kerja. Pada akhirnya, pendapatan masyarakat berpotensi
kembali tertekan dan mendorong pengurangan konsumsi. Dalam kondisi pendapatan yang relatif tetap, penyesuaian konsumsi
umumnya dilakukan secara bertahap. Rizal menjelaskan, rumah tangga biasanya
terlebih dahulu mengurangi belanja non-esensial dan menunda pembelian barang
tahan lama. Semakin berhati-hati di tengah tekanan daya beli Tekanan daya beli membuat konsumen semakin berhati-hati dalam
membelanjakan uang, termasuk untuk produk kecantikan dan perawatan diri.
Pilihan konsumen justru bergeser, mulai dari merek, ukuran kemasan, format
produk, hingga frekuensi pembelian. Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi)
Sancoyo Antarikso mengatakan, konsumen kini semakin mempertimbangkan manfaat,
harga, kualitas, serta value for money sebelum membeli produk kecantikan.
Konsumen yang sebelumnya terbiasa membeli produk premium, misalnya, dapat
beralih ke produk dengan harga yang lebih terjangkau. ”Ketika konsumen semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran,
mereka akan semakin selektif dan mempertimbangkan bukan hanya jenama,
melainkan juga manfaat, harga, ukuran, kualitas, dan value for money dari
produk yang mereka beli,” kata Sancoyo kepada Kompas, Jumat (2/10/2026). Perubahan pilihan itu juga dapat terlihat dari ukuran kemasan.
Sebagian konsumen memilih kemasan lebih kecil agar nominal yang dikeluarkan
dalam satu kali transaksi lebih rendah. Sebaliknya, konsumen yang lebih
memperhitungkan harga per gram atau per mililiter dapat memilih kemasan lebih
besar karena lebih ekonomis. Penyesuaian juga dilakukan melalui frekuensi pembelian dan penggunaan.
Konsumen dapat mengurangi frekuensi membeli produk tertentu atau
memprioritaskan produk yang manfaatnya dianggap paling penting. Bagi industri, tantangannya tidak lagi sekadar mempertahankan
konsumen pada satu produk atau satu jenama. Industri perlu menyediakan
pilihan yang lebih beragam agar konsumen dapat tetap berada dalam kategori
produk kecantikan meskipun kemampuan belanjanya berubah. Pilihan tersebut kini semakin luas. Dalam satu kategori produk
tersedia berbagai jenama dengan posisi harga berbeda, mulai dari premium,
masstige, mass market, hingga produk yang lebih terjangkau. Pertumbuhan
jenama lokal juga ikut memperbanyak alternatif bagi konsumen. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar