Senin, 05 Oktober 2026

 

Mengapa Pola Belanja Masyarakat Indonesia Mulai Berubah?

Karina Isna Irawan, Samantha Junita Dewanti :  Litbang Kompas.

KOMPAS, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

Pola belanja masyarakat Indonesia kini bergeser ke barang, jasa, serta keperluan personal yang lebih relevan dan mendesak.

 

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:

 

1. Pola belanja masyarakat kini bergeser.

 

2. Konsumsi terbatas karena pendapatan pas-pasan.

 

3. Kebutuhan harian dibiayai pinjaman daring.

 

4. Sinyal adanya tekanan terhadap daya beli.

 

5. Semakin berhati-hati di tengah tekanan daya beli.

 

Pola belanja masyarakat kini bergeser

 

Cara masyarakat membelanjakan uangnya kini mulai berubah. Terjadi pergeseran pola belanja dari kebutuhan berbasis rumah dan kegiatan seremonial menuju barang, jasa, serta keperluan personal yang lebih relevan dan mendesak.

 

Pergeseran pola belanja ini tecermin dalam persentase pengeluaran rata-rata per kapita barang bukan makanan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

 

Porsi pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga trennya cenderung menurun dalam empat tahun terakhir. Pada 2025 porsinya menjadi 25,41 persen dari total pengeluaran, atau turun 1,33 persen poin dibandingkan pada 2022.

 

Selain kebutuhan berbasis rumah, porsi pengeluaran kegiatan seremonial juga menurun kendati tidak signifikan, seperti untuk pesta dan upacara. Porsinya turun sekitar 0,15 poin persen menjadi 1,74 persen dari total pengeluaran. Kondisi ini menyiratkan urgensi realokasi belanja ke kebutuhan yang dianggap lebih relevan atau mendesak.

 

Jika dicermati, pengeluaran untuk barang dan jasa memang meningkat paling tajam (0,77 poin persen), baru kemudian barang tahan lama (0,52 poin persen) dan pakaian (0,14 poin persen). Pada 2025 porsi pengeluaran rata-rata per orang untuk barang dan jasa mencapai 12,79 persen, sementara barang tahan lama 4,02 persen dan pakaian 2,5 persen dari total pengeluaran.

 

Perubahan pola belanja ini tidak terlepas dari normalisasi konsumsi yang terjadi pascapandemi. Namun, belum cukup untuk menyimpulkan daya beli membaik atau memburuk. Sinyal yang lebih kuat adalah masyarakat kini memang sedang mengubah prioritas belanja bukan semata-mata mengurangi konsumsi.

 

Pergeseran pola belanja yang terpotret pada tahun lalu itu tampaknya terasa hingga saat ini. Masyarakat cenderung menahan belanja hingga tecermin pada kinerja penjualan ritel nasional yang dirilis Bank Indonesia setiap bulan. Pada Agustus skor indeks penjualan eceran 224,6 atau hanya tumbuh 0,45 persen dibandingkan pada periode sama tahun 2025.

 

Konsumsi terbatas karena pendapatan pas-pasan

 

Ditilik dari jumlah pengeluaran, lebih dari setengah penduduk Indonesia didominasi kelas menengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelas menengah pada 2025 berjumlah 46,7 juta orang atau 16,6 persen dari total penduduk. Sementara itu, mereka yang masuk kelompok menuju kelas menengah mencapai 142 juta orang (50,4 persen).

 

Dominasi kelas menengah dan menuju kelas menengah menjadi bahan bakar terbesar untuk memutar roda ekonomi. Selain dari dominasi jumlah, mereka juga berperan penting sebagai bantalan ekonomi karena kontribusi konsumsinya terbilang signifikan, mencapai 81,5 persen dari total konsumsi nasional.

 

Namun, peran kelas menengah sebagai bantalan ekonomi terlihat semakin menipis, seperti terekam dalam survei persepsi ekonomi Litbang Kompas, April 2026.

 

Tekanan finansial terasa cukup kuat menghantam kelas menengah. Sekitar enam dari sepuluh responden kelas menengah memiliki penghasilan yang pas dengan kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Bahkan, dua hingga tiga dari setiap sepuluh kelas menengah mengaku penghasilannya kurang.

 

Kelas menengah bawah menjadi kelompok yang ruang finansialnya semakin sempit, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi tahun lalu. Proporsi responden kelas menengah bawah yang menyebut penghasilannya pas-pasan, naik 3,1 poin persen dibandingkan April 2025. Pada saat yang sama, mereka yang penghasilannya berlebih justru turun (2,2 poin persen).

 

Penghasilan kelas menengah yang pas-pasan ini diperkuat dengan temuan, ketidaksiapan finansial apabila mereka mengalami gejolak ekonomi. Survei yang sama merekam, sekitar 62 persen responden dari kelas menengah bawah dan 57 persen kelas menengah atas tidak memiliki tabungan ataupun dana darurat.

 

Terbatasnya kemampuan pendapatan untuk membiayai kebutuhan kelas menengah juga terkonfirmasi dalam Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) yang dirilis oleh Bank Indonesia. Skor IEP ini merosot tajam sejak awal tahun dari 146 pada Januari menjadi 133,6 pada Juni, yang terjadi di seluruh kelompok pengeluaran.

 

Kebutuhan harian dibiayai pinjaman daring

 

Di tengah tren tabungan yang menyusut, pinjaman masyarakat justru meningkat. Peningkatan ini terutama berasal dari pembiayaan instan, seperti paylater, pinjaman daring, dan kartu kredit. Tingginya permintaan atas pinjaman tersebut turut membuat industri pegadaian kian menjamur.

 

Pada saat yang sama, tren belanja masyarakat masih terus tumbuh. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar rumah tangga tidak lagi sekadar mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari, tetapi juga dari pinjaman alias berutang.

 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mencatat, total saldo pinjaman, yang mencakup pinjaman daring (pindar), kartu kredit, dan paylater, baik dari perusahaan pembiayaan nonbank maupun perbankan, telah mencapai Rp 160,7 triliun per Mei 2026. Angka ini melonjak 26,4 persen secara tahunan.

 

Adapun pindar memiliki porsi terbesar dengan saldo sebesar Rp 103,7 triliun atau sekitar 54,3 persen dari total gabungan ketiga pembiayaan tersebut. Di sisi lain, pertumbuhan tertinggi ditorehkan oleh pembiayaan paylater yang mencapai 42,04 persen secara tahunan.

 

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat, fenomena tersebut tidak lepas dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Ketika pendapatan berkurang, masyarakat masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, salah satunya dengan berutang.

 

Nailul mengingatkan, kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah lantaran data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja dan memburuk. Jika tidak tertangani dengan baik, dampaknya akan merambat ke ranah sosial, seperti meningkatnya angka kejahatan.

 

Sinyal adanya tekanan terhadap daya beli

 

Fenomena semacam ini dikenal sebagai trading down atau downgrading, yakni ketika konsumen beralih dari barang atau layanan dengan harga atau spesifikasi lebih tinggi ke alternatif yang lebih murah. Perubahan bukan hanya merek barang yang masuk keranjang belanja. Pada sebagian orang, penyesuaian menyentuh gaya hidup, kepemilikan aset, dan skala usaha.

 

Downgrading menjadi cermin dari tekanan pada rumah tangga ketika pertumbuhan pendapatan tidak sejalan dengan pertambahan kebutuhan. Downgrading bukan lagi tentang kehilangan kemampuan membeli barang tertentu, melainkan perubahan cara rumah tangga menentukan prioritas di tengah pendapatan yang tidak bertambah dan biaya hidup yang semakin mencekik.

 

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, perubahan pola konsumsi masyarakat dapat menjadi sinyal adanya tekanan terhadap daya beli apabila rumah tangga terpaksa memilih produk yang lebih murah untuk menutup biaya hidup.

 

Tekanan menjadi lebih serius ketika rumah tangga mulai menjual aset untuk membiayai kebutuhan rutin. Menurut Rizal, kondisi itu menunjukkan tekanan ekonomi tidak hanya mengurangi konsumsi saat ini, tetapi juga mulai mengikis cadangan kekayaan yang semestinya dapat digunakan untuk menghadapi guncangan ekonomi berikutnya.

 

Rizal mengatakan, fenomena downgrading atau pengurangan konsumsi yang berlangsung terus-menerus dapat menciptakan efek berantai terhadap perekonomian.

 

Ketika masyarakat mengurangi belanja, omzet usaha dapat ikut tertekan. Pelemahan omzet kemudian dapat menghambat ekspansi usaha dan perekrutan tenaga kerja. Pada akhirnya, pendapatan masyarakat berpotensi kembali tertekan dan mendorong pengurangan konsumsi.

 

Dalam kondisi pendapatan yang relatif tetap, penyesuaian konsumsi umumnya dilakukan secara bertahap. Rizal menjelaskan, rumah tangga biasanya terlebih dahulu mengurangi belanja non-esensial dan menunda pembelian barang tahan lama.

 

Semakin berhati-hati di tengah tekanan daya beli

 

Tekanan daya beli membuat konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang, termasuk untuk produk kecantikan dan perawatan diri. Pilihan konsumen justru bergeser, mulai dari merek, ukuran kemasan, format produk, hingga frekuensi pembelian.

 

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Sancoyo Antarikso mengatakan, konsumen kini semakin mempertimbangkan manfaat, harga, kualitas, serta value for money sebelum membeli produk kecantikan. Konsumen yang sebelumnya terbiasa membeli produk premium, misalnya, dapat beralih ke produk dengan harga yang lebih terjangkau.

 

”Ketika konsumen semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, mereka akan semakin selektif dan mempertimbangkan bukan hanya jenama, melainkan juga manfaat, harga, ukuran, kualitas, dan value for money dari produk yang mereka beli,” kata Sancoyo kepada Kompas, Jumat (2/10/2026).

 

Perubahan pilihan itu juga dapat terlihat dari ukuran kemasan. Sebagian konsumen memilih kemasan lebih kecil agar nominal yang dikeluarkan dalam satu kali transaksi lebih rendah. Sebaliknya, konsumen yang lebih memperhitungkan harga per gram atau per mililiter dapat memilih kemasan lebih besar karena lebih ekonomis.

 

Penyesuaian juga dilakukan melalui frekuensi pembelian dan penggunaan. Konsumen dapat mengurangi frekuensi membeli produk tertentu atau memprioritaskan produk yang manfaatnya dianggap paling penting.

 

Bagi industri, tantangannya tidak lagi sekadar mempertahankan konsumen pada satu produk atau satu jenama. Industri perlu menyediakan pilihan yang lebih beragam agar konsumen dapat tetap berada dalam kategori produk kecantikan meskipun kemampuan belanjanya berubah.

 

Pilihan tersebut kini semakin luas. Dalam satu kategori produk tersedia berbagai jenama dengan posisi harga berbeda, mulai dari premium, masstige, mass market, hingga produk yang lebih terjangkau. Pertumbuhan jenama lokal juga ikut memperbanyak alternatif bagi konsumen. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/mengapa-pola-belanja-masyarakat-indonesia-mulai-berubah?open_from=Riset_Litbang_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar