|
Setelah Tahu Narkoba Berbahaya Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 04 Oktober 2026
|
Anak sudah
tahu narkoba berbahaya. Mengapa sebagian tetap mencobanya? Mungkin masalahnya
bukan pengetahuan, melainkan kemampuan menghadapi tekanan. Pagi ini saya berdiskusi dengan istri
tentang materi penyuluhan dan edukasi anti-narkoba yang akan dilaksanakan
secara daring. Tema kegiatannya sebenarnya sudah sangat familiar: “Upgrade
Your Life, Not Drugs! Jaga Diri, Raih Masa Depan.” Pelaksananya Institut
Agama Islam Jameatkheir bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional. Ada dua narasumber, sementara istri
saya didapuk sebagai keynote speaker. Ada Zoom, jadwal, dan segala
kelengkapan sebuah acara resmi. Tetapi percakapan kami justru berhenti pada
pertanyaan yang lebih sederhana: kalau anak-anak sudah tahu narkoba berbahaya,
apa lagi yang harus kita ajarkan? Pertanyaan itu penting karena selama
ini pendidikan anti-narkoba sering berjalan seperti pelajaran tentang api.
Anak diberi tahu bahwa api panas, dapat membakar rumah, merusak tubuh, bahkan
membunuh. Setelah itu kita berharap, kalau suatu hari seseorang datang
membawa korek api, anak otomatis berteriak, “Tidak!” Masalahnya, manusia bukan buku
pelajaran yang selalu bertindak sesuai jawaban yang sudah dihafalnya. Hampir semua anak pernah mendengar
bahwa narkoba berbahaya. Mereka tahu narkoba dapat merusak kesehatan,
pendidikan, keluarga, bahkan masa depan. Mereka mungkin juga pernah melihat
gambar otak rusak atau mendengar kisah orang kehilangan hidupnya karena
narkoba. Namun pengetahuan tentang bahaya tidak otomatis berubah menjadi
kemampuan menolak. Di sinilah pendidikan anti-narkoba
perlu naik kelas. Riset mutakhir semakin mengarah kepada pencegahan yang
tidak berhenti pada pemberian informasi, tetapi membangun kemampuan regulasi
emosi, ketahanan diri, keterampilan menghadapi tekanan, kemampuan mencari
pertolongan, dan kecakapan sosial. Sebuah tinjauan sistematis dan
meta-analisis yang baru terbit menemukan bahwa program pencegahan di sekolah
yang menggabungkan kesehatan mental dengan pencegahan penggunaan zat
memberikan hasil lebih baik pada sejumlah perilaku terkait alkohol.
Dimasukkan regulasi emosi, resiliensi, kemampuan menghadapi stres, coping,
dan help-seeking. Temuan ini mengubah pertanyaan kita.
Jangan hanya bertanya, “Apakah anak tahu narkoba berbahaya?” Tanyakan pula,
“Apa yang dilakukan anak ketika sedang tertekan, kesepian, marah, gagal,
ingin diterima teman, atau ditawari hal keren?” Sebab godaan narkoba jarang
datang membawa pesan: "Saya narkoba. Saya akan menghancurkan masa
depanmu." Ia bisa datang dalam kalimat yang jauh
lebih sederhana: “Coba sedikit.” “Jangan takut.” “Semua juga pakai.” “Kalau
kamu teman saya, ikut.” Di situ anak tidak sedang mengikuti ujian
pengetahuan. Ia sedang menghadapi tekanan sosial. Karena itu, slogan Say No to Drugs di
flyer-flyer anti-narkoba sebenarnya baru separuh pendidikan. Anak memang
harus mampu berkata tidak. Tetapi kita perlu mengajarinya bagaimana
mengatakan tidak ketika teman terus mendesak, ketika ia takut dikucilkan,
atau ketika dirinya sendiri sedang mencari pelarian. Kita bahkan bisa melakukan simulasi
dalam penyuluhan. Seorang peserta berperan sebagai teman yang menawarkan.
Peserta lain berlatih menolak. Teman itu mengejek. Ia tetap menolak. Teman
itu menawarkan lagi dengan alasan yang lebih halus. Ia mencari jalan keluar.
Dengan latihan semacam itu, pendidikan tidak berhenti sebagai poster yang
indah di dinding. Ia berubah jadi keterampilan yang mungkin dipakai ketika
keadaan memaksa. Angka di Indonesia membuat persoalan
ini tidak layak diperlakukan sebagai urusan kecil. Survei kolaboratif BNN,
BRIN, dan BPS untuk periode 2023–2025 mencatat prevalensi penyalahgunaan
narkotika sebesar 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta orang usia 15–64 tahun,
naik dari 1,73 persen pada 2023. BNN juga menyebut kelompok usia 15–24 tahun
sebagai kelompok yang paling rentan, dengan prevalensi 2,53 persen. Namun ada bagian data yang justru
lebih menarik dari jumlahnya. BNN menyebut lingkungan sosial sebagai salah
satu faktor utama yang berkaitan dengan meningkatnya penyalahgunaan. Karena
itu strategi pencegahan mereka kini tidak hanya berbicara tentang penindakan,
tetapi juga keluarga, sekolah, kampus, desa, dan komunitas. Artinya, anak tidak hidup dalam
laboratorium steril. Ia hidup dalam keluarga. Ia masuk sekolah. Ia berteman.
Ia bermain di lingkungan. Ia membawa telepon genggam. Ia masuk grup
percakapan. Ia melihat konten digital. Ia mencari pengakuan. Ia mengalami
kegagalan. Ia bisa merasa sendirian meskipun memiliki ratusan teman di media
sosial. Karena itu anak tidak bisa kita
perlakukan seperti komputer yang cukup dipasangi antivirus bernama
“penyuluhan”. Penyuluhan penting. Tetapi penyuluhan hanya satu mata rantai.
Benteng pertama tetap hubungan manusia dengan manusia. Penelitian sistematis 2025 tentang
intervensi berbasis keluarga menemukan bukti bahwa program yang melibatkan
keluarga dalam pencegahan penggunaan zat pada anak dan remaja memiliki
manfaat, sementara kajian 2026 terhadap intervensi keluarga dalam penanganan
gangguan penggunaan zat juga menemukan hasil positif pada pengurangan
penggunaan zat dan perbaikan fungsi keluarga. Maka orang tua jangan hanya bertanya,
“Kamu sudah belajar?” Sesekali pertanyaan itu perlu diganti menjadi, “Hari
ini ada masalah apa?” atau “Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” Sekolah pun jangan hanya menjadi
tempat anak menerima larangan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar
menghadapi kehidupan. Guru tidak cukup mengajarkan bahwa narkoba merusak
otak. Guru juga perlu membantu anak mengenali emosi, mengelola stres, memilih
teman, mengambil keputusan, meminta bantuan, dan menghadapi kegagalan. Di sinilah pendidikan agama dan
pendidikan karakter mempunyai ruang yang sangat besar. Tetapi agama pun
jangan direduksi menjadi daftar ancaman dan dosa. Nilai agama harus tumbuh
menjadi kemampuan mengendalikan diri ketika tidak ada orang yang melihat. Moralitas
diuji bukan ketika seseorang berdiri di depan spanduk bertuliskan “Jauhi
Narkoba”, melainkan ketika ia berada sendirian bersama tawaran yang
menggiurkan. Ada pula hal yang harus kita katakan
dengan jujur: tidak semua orang yang sudah terjerumus cukup diberi ceramah
agar kembali lurus. Mereka mungkin membutuhkan asesmen, konseling, layanan
kesehatan, rehabilitasi, dukungan keluarga, dan lingkungan yang tidak
mempermalukan. Stigma sering membuat masalah semakin
gelap. Orang takut mengaku karena takut dicap. Keluarga menyembunyikan
masalah karena malu. Akhirnya pertolongan datang terlambat. Maka pendekatan anti-narkoba yang
matang harus memiliki empat pintu: mencegah sebelum terjadi, mengenali risiko
sedini mungkin, menolong ketika masalah muncul, dan memulihkan ketika
seseorang sudah terjerumus. Kita memang harus mengatakan bahwa
narkoba berbahaya. Tetapi setelah kalimat itu, pekerjaan kita baru dimulai.
Kita harus mengajarkan anak cara menghadapi tekanan. Kita harus membangun
keluarga yang membuat anak berani bercerita. Kita juga harus menciptakan sekolah
yang mengajarkan keterampilan hidup, bukan hanya hafalan. Kita harus
membangun lingkungan yang tidak memberi ruang nyaman bagi peredaran narkoba.
Dan kita harus menyediakan jalan pulang bagi mereka yang sudah tersesat. Mungkin karena itu tema “Upgrade Your
Life, Not Drugs!” terasa lebih dalam dari
sekadar slogan. Yang perlu kita upgrade bukan hanya pengetahuan anak
tentang narkoba, tetapi juga kemampuan anak mengelola dirinya dan kemampuan
lingkungan menjaganya. Sebab tujuan pendidikan anti-narkoba
bukan mencetak anak yang pandai mengatakan, “Narkoba itu berbahaya.”
Tujuannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit. Yakni, ketika narkoba
datang menawarkan dirinya, anak tahu mengapa ia harus menolak, tahu bagaimana
cara menolak, dan tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan. Anak tidak cukup diberi alasan untuk
takut kepada narkoba. Anak perlu diberi kemampuan untuk mengatakan
"tidak" kepada narkoba. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar