|
Pertanian Regeneratif Harus Berpijak pada
Realitas Petani Cazadira Fediva Tamzil : Ahli Kebijakan Publik yang kini menjabat sebagai
Direktur Eksekutif Pijar Foundation. Ia meraih gelar Master of Science (MSc)
in Global Politics dari London School of Economics and Political Science
(LSE), Inggris. |
MEDIA INDONESIA, 01 Oktober 2026
|
Beberapa tahun terakhir, petani Indonesia semakin
akrab dengan cuaca yang sulit diprediksi. Fenomena El Niño, misalnya, dapat
membawa musim kering yang lebih panjang dan meningkatkan tekanan terhadap
ketersediaan air serta produktivitas pertanian. Bagi petani, perubahan iklim
bukan lagi sekadar persoalan yang dibicarakan dalam forum global, tetapi
risiko yang dapat menentukan hasil panen dan pendapatan mereka. Kondisi ini membuat upaya membangun pertanian
yang lebih tangguh menjadi semakin penting. Salah satu pendekatan yang banyak
mendapat perhatian adalah pertanian regeneratif, yang menempatkan kesehatan
tanah, efisiensi sumber daya, keanekaragaman hayati, dan ketahanan ekosistem
sebagai bagian penting dari kegiatan bertani. Namun, keberhasilan pendekatan
ini pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh satu hal yang sederhana: apakah
pertanian regeneratif dapat menjadi bagian yang masuk akal dari kehidupan dan
usaha tani petani? Transisi menuju praktik baru juga membutuhkan
penyesuaian dan biaya, sementara petani tetap harus menjaga produktivitas dan
penghidupan mereka di tengah ketidakpastian cuaca dan pasar. Karena itu,
menciptakan kondisi yang memungkinkan petani bertransisi menjadi tanggung
jawab bersama. Karena itu, transisi menuju pertanian regeneratif perlu
dibangun dengan memahami realitas tersebut. Praktik yang baik bagi lingkungan
perlu sekaligus dapat diterapkan dalam konteks lokal dan memberikan manfaat
yang dapat dirasakan oleh petani, dengan ekosistem kebijakan, pengetahuan,
pembiayaan, dan pasar yang turut mendukungnya. Berangkat dari konteks, bukan sekadar metode Pertanian regeneratif pada dasarnya merupakan
seperangkat prinsip yang menempatkan kesehatan tanah dan ketahanan ekosistem
sebagai bagian penting dari kegiatan bertani. Karena kondisi setiap wilayah
berbeda, penerapannya pun tidak harus seragam. Di satu wilayah, agroforestri
mungkin menjadi pendekatan yang sesuai. Di wilayah lain, tumpang sari atau
pengelolaan air dapat memberikan manfaat yang lebih besar. Pada komoditas
tertentu, diversifikasi tanaman mungkin menjadi pilihan, sementara pada
komoditas lain, perbaikan pengelolaan tanah dan penggunaan input dapat
menjadi titik awal. Dengan demikian, kekuatan pertanian regeneratif justru
terletak pada kemampuannya untuk menyesuaikan prinsip dengan kondisi
setempat. Petani kecil di Jawa yang mengelola sawah
beririgasi menghadapi tantangan yang berbeda dengan petani kakao di Sulawesi.
Siklus tanaman, kebutuhan tenaga kerja, akses terhadap air, struktur pasar,
hingga kemampuan menanggung risiko tidaklah sama. Karena itu, pertanian
regeneratif sebaiknya tidak hadir sebagai satu paket praktik yang berlaku
untuk semua. Petani perlu mendapatkan ruang untuk mengidentifikasi, mencoba,
dan mengevaluasi pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan usaha
tani mereka. Indonesia memiliki modal yang kuat untuk
membangun pendekatan semacam ini. Berbagai praktik lokal seperti tumpang
sari, agroforestri, pemanfaatan bahan organik, dan pengelolaan air telah lama
menjadi bagian dari pengalaman bertani di berbagai daerah. Pengetahuan
tersebut merupakan aset penting. Namun, pengetahuan lokal juga dapat terus
berkembang melalui dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembelajaran
berbasis bukti. Dengan menggabungkan pengalaman petani dengan pengetahuan
ilmiah, kita dapat menemukan praktik yang tidak hanya baik secara ekologis,
tetapi juga relevan secara agronomis dan ekonomi. Menerjemahkan Bukti Menjadi Aksi Perubahan dalam cara bertani membutuhkan proses
belajar. Praktik baru mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi
penerapannya di lapangan dapat menghadirkan berbagai pertanyaan: berapa
banyak tenaga kerja yang dibutuhkan, bagaimana pengaruhnya terhadap hasil
panen, kapan manfaatnya mulai terlihat, dan bagaimana mengelola risiko selama
masa transisi? Karena itu, petani membutuhkan kesempatan untuk melihat dan
mencoba, bukan hanya menerima rekomendasi. Lahan demonstrasi, petani percontohan, dan sistem
penyuluhan dapat menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan dengan
pengalaman. Indonesia juga memiliki modal sosial melalui tradisi Sekolah
Lapang, di mana petani dapat belajar, melakukan pengamatan, mencoba praktik,
dan mengevaluasi hasilnya bersama. Pembelajaran antarpelaku tani juga memiliki peran
yang tidak kalah penting. Ketika seorang petani dapat melihat bagaimana
praktik tertentu diterapkan oleh petani lain dengan kondisi yang relatif
serupa, proses belajar menjadi lebih konkret. Pendekatan semacam ini juga
memungkinkan kita menghindari asumsi bahwa setiap praktik akan memberikan
hasil yang sama di setiap tempat. Memastikan Imbal Hasil Ekonomi dan Pasar Pada akhirnya, petani harus mengambil keputusan
yang menopang penghidupan mereka. Manfaat lingkungan saja tidak cukup bagi
petani untuk bertransisi pada praktik baru. Transisi ini harus diikuti dengan
peluang untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan pendapatan petani.
Diversifikasi dapat memperkuat ketahanan usaha tani sekaligus berkontribusi
pada sistem pangan yang lebih beragam dan bergizi. Namun, petani juga perlu
kepastian bahwa hasil produksi tersebut memiliki pembeli. Namun, tanpa permintaan pasar atau pembelian yang
jelas, bahkan praktik yang terbukti secara agronomis akan sulit berkembang
dalam skala besar. Karena itu, keberhasilan pertanian regeneratif tidak hanya
ditentukan oleh apa yang terjadi di lahan, tetapi juga oleh apakah ekosistem
di sekitarnya membuat praktik tersebut layak secara ekonomi. Mewujudkan kondisi tersebut membutuhkan
kolaborasi lintas sektor. Pemerintah perlu memastikan kebijakan dan dukungan
yang tersedia menjawab kebutuhan petani serta mendorong praktik yang sesuai
dengan kondisi lokal. Akademisi dan universitas dapat memperkuat bukti
mengenai praktik yang bekerja dalam konteks Indonesia. Organisasi pembangunan
dan filantropi dapat mendukung pembelajaran dan pengujian pada tahap awal
transisi. Koperasi dan kelompok tani dapat menggerakkan pembelajaran,
mengelola lahan demonstrasi, mengagregasi produksi, dan membuka akses pasar.
Pembeli dan lembaga keuangan dapat menciptakan sinyal permintaan serta
membantu mengurangi risiko awal transisi. Pada akhirnya, pertanian regeneratif akan
berkembang ketika petani dapat melihat bahwa praktik tersebut bekerja,
memahami bagaimana menerapkannya, dan melihat manfaat ekonomi yang membuatnya
layak dipertahankan. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/939565/pertanian-regeneratif-harus-berpijak-pada-realitas-petani
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar