|
Jumling Suyudi Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 04 Oktober 2026
Ini seperti
sambaran petir tanpa mendung dan hujan. Baik pelantikannya sebagai kapolri,
maupun apa yang dilakukannya setelah jadi kapolri yang baru: Komisaris Jenderal
Polisi Suyudi Ario Seto –mungkin hari ini ia sudah naik pangkat dari Komjen
bintang tiga ke Jenderal Polisi bintang empat.
Tidak sampai 24
jam menduduki jabatan orang nomor satu di Kepolisian Republik Indonesia,
Jenderal Suyudi sudah melakukan mutasi sebanyak 88 perwira tinggi dan menengah
–termasuk 17 kapolda se-Indonesia. Rasanya belum pernah ada petir yang sekilat
ini sebelumnya.
Pelantikannya
sebagai Kapolri sendiri tidak kalah kilatnya: Kamis 1 Oktober menjelang siang
Suyudi menjalani fit and proper test di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Siang
itu juga dilantik sebagai kapolri di Istana. Tidak sempat beredar gunjingan.
Kurang dari lima jam setelah itu Presiden Prabowo Subiyanto melantiknya sebagai
kapolri.
Fit and proper
test-nya pun tidak sampai satu jam. Bahkan tidak sampai setengah jam. DPR
langsung setuju dengan usulan Presiden Prabowo. Di hal-hal tertentu proses yang
kilat memang ada baiknya: tidak sempat ''masuk angin''.
Tidak pernah
ada akselerasi proses sekilat itu. Seolah semuanya dipersiapkan secara rahasia
tingkat langit: mulai dari pengiriman surat presiden berisi calon tunggal
kapolri ke DPR, undangan pimpinan DPR ke anggota Komisi III, proses sidang fit
and proper test calon kapolri di Komisi III, kesimpulan hasil tes, pengiriman
hasil tes DPR ke Presiden, terbitnya putusan Presiden, sampai pelantikannya.
Pun apa yang
dilakukan kapolri baru Suyudi. Tidak kalah kilatnya. Satu-satunya berita di
luar kedinasan setelah pelantikannya hanyalah: Jenderal Suyudi sungkem ke
ibunya. Tidak ada berita pesta kegembiraan karena menjadi kapolri.
Rupanya setelah
sungkem ke ibunya itu Suyudi langsung ''mengarantina diri'' mengutak-atik
penggantian 88 pejabat teras di Mabes Polri –sampai ke 17 kapolda: siapa
diberhentikan, siapa diganti, siapa mengganti, siapa digeser, siapa yang
menggeser. Begitu cepatnya.
Sepertinya
Jenderal Polisi Suyudi ingin segera melaksanakan apa yang sudah lama ia
inginkan secepatnya lewat tim baru yang kompak dan tegak lurus.
Jangan-jangan
para kapolda baru itu harus langsung bertugas tanpa menunggu pelantikan –karena
pelantikan hanyalah upacara: yang inti adalah surat tugasnya. Atau tetap
melakukan pelantikan tapi serentak: efisien dan tidak makan waktu. Bayangkan
kalau harus melantik satu per satu 17 kapolda di provinsi masing-masing. Seolah
melantik menjadi pekerjaan pokok.
Publik terlihat
menaruh harapan yang sangat besar pada kapolri yang baru. Orang memang sudah
tidak percaya pada pidato tapi pidato Suyudi saat jadi kapolri sangat menarik.
Juga sangat memberi harapan bahwa Polri akan berubah –tanpa menunggu reformasi
Polri yang heboh-heboh. Reformasi terbaik adalah dari dalam dirinya sendiri.
Saya pun
mengontak tim Disway di Banten. Saya ingin dapat gambaran seperti apa kiprah
Suyudi saat menjadi Kapolda Banten (Juni 2024-Agustus 2025). Ternyata
teman-teman Disway Radar Banten sangat terkesan pada Suyudi. Sampai mereka
memberi ''gelar'' Suyudi sebagai Jenderal Jumling.
"Jumling
singkatan Jumat Keliling," ujar Mashudi, wartawan Radar Banten yang
sekarang sudah menjabat direktur di media itu. Jumling itu, kata Mashudi,
karena sejak jadi kapolda, Suyudi langsung mengadakan program Jumat Keliling.
Seluruh kapolres sampai kapolsek harus salat Jumat berpindah-pindah dari satu
masjid ke masjid lainnya di daerah masing-masing.
Suyudi sendiri
melakukan hal yang sama. Tiap Jumat ke daerah yang berbeda di Banten. Maka
meski Suyudi orang asli Banten rasanya ketika jadi kapolda itulah ia mengenal
Banten lebih sampai ke pelosoknya. Setelah remaja Suyudi memang lebih banyak
berada di luar Banten.
Mashudi sendiri
bekerja pertama sebagai wartawan di Radar Banten. Mulai dari calon reporter,
redaktur, pemred, sampai sekarang menjadi direktur. Ia sendiri lahir dan
sekolah di Lampung Selatan –kini disebut Kabupaten Pesawaran– dan kuliah di
Fakultas Hukum Universitas Lampung. Ayahnya petani di sana. Kakeknya asal
Pandeglang, Banten, yang secara mandiri bertransmigrasi ke Lampung.
"Dengan
Jumling itu polisi bisa lebih dekat ke masyarakat," ujar Suyudi saat itu
seperti diingat Mashudi.
"Yang juga
menonjol dari Pak Suyudi adalah ketegasannya menghadapi premanisme di
Banten," ujar Mashudi. Wartawan banyak mendapat berita dari Polda soal
pemberantasan preman itu. "Preman yang ditangkap sampai 492 orang,"
ujar Mashudi –namanya memang satu kata: Mashudi. "Ketua Kadin Cilegon pun
ditangkap," tambahnya.
Anda masih
ingat: itu terkait dengan permintaan sang ketua Kadin ke Candra Asri agar
memberinya proyek senilai Rp5 triliun. Candra Asri, perusahaan milik Prayogo
Pangestu, memang akan membangun proyek petrochemical di Cilegon yang bernilai
lebih Rp50 triliun.
Jenderal Suyudi
juga punya program yang disebut Poliran –Polisi Peduli Pengangguran. Rupanya
Suyudi melihat pengangguran adalah akar terjadinya kriminalitas, premanisme,
dan ketidakstabilan keamanan. Wartawan di Banten mencatat Polda banyak
melakukan pelatihan ketrampilan dan magang. Mereka yang sudah ikut pelatihan
disalurkan ke perusahaan-perusahaan untuk magang kerja. Setelah punya
pengalaman kerja para pengangguran bisa punya pilihan lebih banyak.
Yang menonjol
lainnya dari Suyudi: penegakan disiplin di internal polisi di Polda sendiri.
Terutama kalau ada polisi yang main-main dengan narkoba. Suyudi sangat menonjol
soal narkoba ini –tak ayal kalau setelah menjadi kapolda ia menjabat kepala BNN
–Badan Narkotika Nasional. Dari BNN ia langsung jadi kapolri.
"Kalau ada
polisi yang tidak disiplin atau main-main narkoba dikirim ke pesantren, hidup
di pesantren selama dua minggu," ujar Mashudi.
"Apa
kesukaan makanan daerah Suyudi?"
"Jejorong,"
ujar Mashudi.
Sebagai orang
asli Pandeglang Suyudi makan jejorong sejak kecil. Itu kue khas Pandeglang
sampai Lebak. Anda sudah tahu apa itu jejorong: kue kukus dibungkus daun
pisang. Bagian bawahnya gula aren, tengahnya tepung, atasnya santan. Gula
arennya tidak dicairkan sehingga setelah dikukus bisa menyatu dengan tepung
bagian bawah –tidak sampai meleleh. Gurih. Enak. Apalagi saat dimakan waktu
masih hangat.
Di lingkungan
keluarga, Suyudi sangat rendah hati. Jauh dari kesan arogan. Setiap berkunjung
ke keluarga di Pandeglang maupun Rangkasbitung Suyudi tidak pernah berpakaian
dinas. Ketika ditanya soal itu ia mengatakan agar hubungan bisa lebih
kekeluargaan.
Dari semua itu
saya terkesan dengan keberaniannya memberantas premanisme di sekitar
perusahaan. Kini dengan jabatan Kapolri Suyudi pasti tahu salah satu gangguan
terbesar iklim investasi bukanlah perizinan tapi premanisme dengan segala
bentuknya. Atau itu menjadi salah satu instruksi utamanya kepada semua Kapolda
baru.
Wajar dari
kapolri baru muncul banyak harapan baru –sampai harapan itu ternyata tinggal
harapan. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/971742/jumling-suyudi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar