|
Di Balik Nilai Eka Syafitri : Kepala SD Sukma Bangsa Pidie. |
MEDIA INDONESIA, 28 September 2026
|
SELAMA puluhan tahun, pendidikan kita terbiasa
mengukur keberhasilan anak dengan satu pertanyaan sederhana: “Berapa
nilainya?” Angka di rapor menjadi hakim atas kemampuan seorang anak,
sementara proses panjang yang ia lalui, keberanian mencoba, kegigihan
memperbaiki diri, dan keberanian mengakui kesalahan, sering luput dari
perhatian. Padahal, jika kita jujur, nilai yang tinggi belum
tentu mencerminkan pemahaman yang mendalam, dan nilai yang rendah belum tentu
berarti anak tidak belajar. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi
di dalam diri anak dan tugas kita sebagai pendidik ialah melihatnya. MELIHAT ANAK DARI PERTANYAAN SEDERHANA “Bu, nilai saya berapa?” Pertanyaan itu sering
saya dengar di kelas. Anak-anak ingin tahu apakah jawaban mereka benar dan
hasil belajar mereka sesuai dengan harapan. Namun, dalam perjalanan mengajar,
saya mulai memahami bahwa angka hanyalah salah satu bagian dari cerita
seorang anak. Di balik sebuah nilai, ada proses yang kadang
tidak terlihat. Ada anak yang awalnya tidak berani menjawab, tetapi beberapa
minggu kemudian mulai mengangkat tangan. Jika hanya melihat angka,
perkembangan seperti itu mudah terlewat. Saya teringat seorang siswa yang kurang percaya
diri menyampaikan pendapat. Nilai latihan hariannya berkisar 50-70, dan
wajahnya selalu kecewa, khawatir menghadapi orangtua di rumah. Namun, setelah
beberapa bulan mendapat feedback yang membangun, ia mulai berani mengangkat
tangan. Nilainya belum melonjak drastis, tetapi ia sudah mau mencoba,
perkembangan yang tidak terlihat di rapor. Sejak semester tahun ajaran 2025/2026, SD Sukma
Bangsa Pidie menerapkan asesmen formatif berupa deskripsi dan feedback, bukan
sekadar angka. Pada awalnya tidak mudah. Siswa masih bertanya, “Bu, nilainya
berapa?” Perlahan siswa dan orangtua memahami bahwa feedback justru membantu
anak mengetahui apa yang sudah dikuasai, apa yang perlu diperbaiki. MEMBACA PROSES, BUKAN HANYA HASIL Cara pandang itu mengubah cara saya membaca
pekerjaan siswa. Ketika hasil seorang anak belum sesuai dengan harapan, saya
tidak hanya melihat angkanya. Saya bertanya: bagian mana yang sudah dipahami?
Bagian mana yang masih sulit? Apakah anak belum memahami konsep, kurang
teliti, atau sebenarnya memahami tetapi belum percaya diri? Apthorp, Harlacher, Klute, dan Reale (2017)
menjelaskan asesmen formatif ialah proses mengumpulkan, memahami, dan
menggunakan informasi tentang proses belajar untuk menentukan pembelajaran
berikutnya. Feedback bukan sekadar 'benar' atau 'salah', melainkan juga
memberikan arah. Misalnya, “Ide kamu sudah menarik. Coba tambahkan alasan
agar lebih kuat.” Atau, “Cara berpikirmu sudah benar sampai langkah kedua.
Mari lihat bagian berikutnya.” Hattie dan Timperley (2007) melalui The Power
of Feedback menjelaskan feedback mendukung proses dan pencapaian belajar
siswa. Setelah mendapat feedback, anak diberi kesempatan
memperbaiki. Jawaban yang belum tepat dapat dicoba kembali, tulisan yang belum
lengkap dapat diperbaiki, dan presentasi yang belum maksimal dapat diulang.
Tentu, menerapkan semua itu tidak selalu mulus. Sebagai guru dengan waktu 2
JP x 35 menit, saya memiliki kendala dalam memberikan feedback. Tidak semua
siswa dapat saya berikan feedback dan apresiasi karena waktu terus berjalan,
sementara guru mata pelajaran lain sudah berdiri di pintu kelas untuk
pergantian jam. Terkadang buku siswa yang belum saya beri feedback terpaksa
saya bawa ke ruang kerja, sementara orangtua bertanya, kenapa buku anaknya
tidak dibawa pulang. Belum selesai satu kelas, saya sudah ditambah satu kelas
lain yang juga harus diberi feedback. Bagi saya, kesempatan memperbaiki bukan berarti
memanjakan anak. Anak justru sedang belajar bertanggung jawab terhadap proses
belajarnya. Penelitian Yao, Amos, Snider, dan Brown (2024) juga menunjukkan
dampak positif asesmen formatif terhadap pencapaian akademik siswa. Dari sini
saya belajar melihat anak berdasarkan perkembangannya, bukan membandingkannya
dengan temannya. Saya lebih sering bertanya, “Apakah hari ini anak ini sudah
berkembang kalau dibandingkan dengan dirinya yang kemarin?” MERAWAT RUANG BELAJAR YANG AMAN Cara pandang itu sejalan dengan lingkungan
belajar yang ingin dibangun di SD Sukma Bangsa Pidie: kelas menjadi tempat
yang aman bagi anak untuk belajar, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki,
dan mencoba kembali. Budaya itu dimulai dari kebiasaan sederhana. Anak
belajar mengatakan tolong, maaf, terima kasih, selamat, dan berbicara dengan
sopan. Ketika seorang anak salah menjawab, teman tidak menertawakan. Ketika
belum berhasil, ia tidak langsung dianggap tidak pintar. Dari kebiasaan
sederhana itulah ruang belajar yang aman dan damai tumbuh. Ketika saya mulai membaca proses belajar anak,
saya juga belajar sebagai guru. Saat banyak siswa belum memahami materi, saya
bertanya: apakah cara saya menjelaskan sudah tepat? Apakah contoh yang
diberikan dekat dengan kehidupan mereka? Kesalahan anak memberi saya
informasi. Pertanyaan mereka menunjukkan kebutuhan. Proses belajar siswa juga
menjadi feedback bagi guru. Pada akhirnya, saya semakin percaya bahwa tidak
semua pertumbuhan anak dapat terlihat dalam satu kali ulangan. Ada anak yang
mulai berani berbicara. Ada yang belajar bertanggung jawab. Ada yang mulai
mampu meminta maaf. Karena itu, ketika melihat hasil belajar seorang
anak, mungkin kita perlu berhenti sejenak sebelum bertanya, “Berapa
nilainya?” Mari bertanya: “Apa yang sudah ia kuasai? Apa yang masih perlu
dibantu? Kesempatan apa yang bisa kita berikan agar ia berkembang?” Angka tetap memiliki tempat dalam pendidikan.
Namun, angka bukan satu-satunya cerita tentang seorang anak. Tugas guru bukan
hanya melihat hasil akhir, tetapi membaca proses, memberikan feedback,
memberikan kesempatan memperbaiki, dan mendampingi anak sampai bertumbuh. Mungkin suatu hari seorang anak tidak lagi
mengingat berapa nilai yang pernah ia dapatkan. Namun, ia mungkin mengingat
seorang guru yang berkata: “Tidak apa-apa kalau belum bisa. Kita coba lagi.” Di balik setiap nilai, ada anak yang sedang
belajar. Di balik setiap kesalahan, ada kesempatan untuk memperbaiki dan di
balik setiap proses, ada manusia yang sedang bertumbuh. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/938229/di-balik-nilai
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar