|
Cinta yang Tinggal Lebih Lama dari Kuasa
Pelajaran 70 Tahun Mahathir-Hasmah Jannus
TH Siahaan : Doktor
Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. |
KOMPAS.COM, 30 September 2026
|
SELAMA tujuh puluh tahun, Dr Mahathir Mohamad dan Dr. Siti Hasmah
binti Mohamad Ali menjalani sesuatu yang jauh lebih panjang daripada masa
jabatan, yaitu kehidupan bersama. Ketika Tun Dr Hasmah wafat pada 28 September 2026 dalam usia 100
tahun, suaminya telah berusia 101 tahun. Di antara kabar kepergian dan ungkapan belasungkawa, ada
kehidupan yang patut kita rayakan. Dua orang pernah saling memilih, bertumbuh dalam pilihannya, lalu
membawa tenaga dari kebersamaan itu ke dalam pengabdian kepada negeri. Dari sini kisah mereka menjadi menarik untuk dibaca melampaui
kronik kekuasaan, sebagai pengalaman tentang cinta yang menemukan tujuan di
luar dirinya sendiri. Adat Batak Toba mengenal konsep saur matua, kepergian orang tua
yang anak-anaknya telah menikah dan memberinya cucu, dengan penghormatan yang
memuat rasa syukur atas kelengkapan hidup. Sebagian komunitas Tionghoa mengenal xi sang, perpisahan
bernuansa perayaan bagi seseorang yang mencapai usia lanjut. Dari tradisi berbeda itu kita dapat meminjam kebijaksanaannya:
ada sukacita dalam kesempatan menyaksikan kehidupan tumbuh hingga beberapa
generasi. Tun Dr Hasmah memperoleh kesempatan langka tersebut bersama anak,
cucu, dan cicitnya, sementara kesedihan orang yang ditinggalkan tetap
mempunyai tempat yang wajar. Kebersamaan mereka bermula di sekolah kedokteran di Singapura.
Pernikahan pada Agustus 1956 berlangsung sebelum Malaya merdeka, jauh sebelum
Mahathir menjadi tokoh yang namanya memenuhi halaman sejarah Asia. Hasmah mengenalnya ketika gelar, pengawalan, dan jabatan belum
menentukan cara orang menyapanya. Hubungan yang tumbuh dalam keadaan demikian memiliki simpanan
pengalaman yang sungguh berharga. Seseorang dikenal melalui proses menjadi, dengan kecakapan
sekaligus keterbatasannya, sehingga kedekatan dapat menjadi tempat berpijak
ketika kehidupan publik semakin riuh. Dalam wawancara dengan Options pada 2018, Tun Hasmah berbicara
tentang kepercayaan, cinta, dan perhatian terhadap kebutuhan pasangan. Ia mengakui seperti pasangan rumah tangga umumnya mereka pernah
bertengkar mengenai perkara kecil, lalu berdamai, dan dengan ringan menyebut
bagian berdamai itu menyenangkan. Perkawinan yang panjang toh tetap menyisakan soal keseharian yang
juga dihadapi orang kebanyakan. Kesetiaan tumbuh melalui kesediaan kembali berbicara, saling
memahami kekesalan, dan memberi ruang bagi orang yang setiap hari hidup
bersama kita. Ada pekerjaan yang terus diulang di dalamnya, dan sering kali
tanpa penonton. Apa yang diceritakan Tun Hasmah tentang bertengkar dan berdamai
itu, dalam psikologi pasangan dikenal sebagai dyadic coping, cara dua orang
menghadapi tekanan melalui dukungan timbal balik dan usaha bersama. Meta-analisis Mariana Falconier dan rekan-rekannya pada 2015,
mencakup 17.856 peserta, menemukan hubungan positif antara kemampuan tersebut
dan kepuasan dalam hubungan. Temuan ini tidak menjamin panjangnya perkawinan Mahathir-Hasmah,
tetapi ia membantu menjelaskan mengapa mereka bisa bertahan 70 tahun: bukan
karena tidak pernah bertengkar, melainkan karena mutu dukungan yang mereka
pertukarkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Temuan itu membantu kita memahami arti kebersamaan ketika
kesulitan datang. Beban seseorang dapat dibicarakan dan tanggung jawab pun
dibagi, sehingga ia tidak harus selalu tampil kuat di hadapan orang terdekat. Pasangan menyediakan kesempatan untuk pulih sebelum kembali
menghadapi tuntutan kehidupan. Inilah yang terlihat dari Mahathir dan Hasmah,
saling menjadi tempat pulang. Dukungan semacam ini juga memberi ruang bagi masing-masing orang
untuk mengembangkan kecakapannya. Tujuan bersama menjadi lebih berarti ketika keduanya tetap
dihargai sebagai pribadi, dengan pekerjaan dan panggilan hidup yang boleh
berbeda. Kedekatan justru perlu cukup lapang untuk menampung perbedaan
itu. Hasmah tetap dokter, Mahathir tetap dokter yang negarawan, dan keduanya
tumbuh tanpa harus meniadakan yang lain. Pergantian kedudukan politik memperlihatkan betapa banyak
perubahan yang telah mereka lewati. Dr Mahathir memimpin Malaysia pada 1981–2003, lalu kembali
menjabat pada 2018–2020. Dalam wawancara yang sama, Tun Hasmah mengenang
bagaimana setiap ajang pemilu membuatnya bertanya apakah ia perlu membereskan
rumah untuk pindah. Kekuasaan, dalam ingatan seorang istri, hadir sebagai kemungkinan
berkemas. Detail kecil ini mengingatkan kita bahwa jabatan bergantung pada
keputusan rakyat, sedangkan kehidupan harus tetap berjalan sesudah keputusan
itu diterima. Kebersamaan menyediakan sesuatu yang tetap bisa diusahakan
ketika kedudukan berubah. Hubungan pribadi juga dapat menyentuh kebuntuan politik. Pada Mei
2018, Anwar Ibrahim sang Perdana Menteri Malaysia saat ini mengatakan
kedekatan Tun Hasmah dan istrinya Wan Azizah memainkan peran besar dalam
rekonsiliasinya dengan Dr M, panggilan Dr Mahathir Mohamad. Anwar mengakui betapa sulit melepaskan permusuhan lama, dan
kedekatan kedua perempuan itulah yang justru membantunya melangkah maju. Rekonsiliasi tentu melibatkan kepentingan serta perhitungan
kekuatan. Namun, kesediaan bekerja sama memerlukan kemampuan mengatasi
keengganan untuk mendengarkan pihak lain. Menjaga percakapan di antara keluarga yang berjauhan mempunyai
arti politik ketika hubungan itu membantu membuka kemungkinan untuk saling
percaya kembali. Di sinilah cinta domestik Mahathir-Hasmah menyentuh sejarah
nasional. Kehangatan hubungan dapat melunakkan pertahanan ego yang
menghambat perundingan. Dalam kehidupan bernegara yang mudah memelihara
dendam, kemampuan semacam ini layak mendapat penghargaan, terutama karena
pengaruhnya sering luput dari riwayat resmi tentang siapa mengalahkan siapa. Tun Hasmah sendiri yang selepas pendidikan kedokteran memilih
mengabdi ke pinggiran bersama rakyat, membawa bekal pengabdian sejak bekerja
sebagai seorang dokter. Kepada UNICEF, ia mengenang pasien desa di Kedah yang terlambat
datang karena ketiadaan kendaraan dan ongkos perjalanan. Ia juga menceritakan
pelatihan bidan serta pembagian perlengkapan persalinan yang bersih. Pengalaman itu menempatkan penderitaan dalam keadaan yang
konkret. Orang membutuhkan pertolongan karena jarak, uang, dan pengetahuan
membatasi pilihan mereka. Menyayangi manusia menuntut usaha memahami hambatan tersebut,
lalu mengerjakan sesuatu agar pertolongan sungguh-sungguh sampai. Pada 1995, Tun Dr Hasmah memimpin delegasi Malaysia dalam
Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing. Perhatiannya pada kesejahteraan perempuan menempuh perjalanan
dari pelayanan kesehatan hingga forum internasional. Ia hadir dengan
pengetahuan dan pengalaman pengabdiannya sendiri, yang patut dikenang sebagai
bagian utuh dari perjalanan hidupnya. Jika kita ingin memahami bagaimana cinta dalam keluarga seperti
Mahathir-Hasmah bisa meluas menjadi kepedulian publik seperti yang
ditunjukkan Tun Hasmah di desa-desa Kedah hingga forum Beijing, pemikiran
Martha Nussbaum dalam Political Emotions: Why Love Matters for Justice
memberi jembatan yang tepat. Menurutnya, masyarakat yang ingin menjaga keadilan membutuhkan
dorongan emosional agar warganya bersedia memikirkan kepentingan bersama.
Kepedulian perlu menjangkau mereka yang belum pernah kita kenal. Perluasan inilah yang memberi cinta bobot kenegaraan. Kasih
mendapat tempat dalam urusan publik ketika penderitaan orang asing mulai
terasa sebagai sesuatu yang juga menjadi tanggung jawab kita. Pengalaman merawat orang terdekat dapat melatih kepekaan itu,
selama lingkar perhatian tidak berhenti pada keluarga sendiri. Inilah yang
membedakan cinta Mahathir-Hasmah dari sekadar romantisme pribadi. Kasih yang hanya berputar di lingkungan keluarga bahkan mudah
menjadi pembenaran untuk mengistimewakan kerabat. Di tangan penguasa, kebiasaan tersebut dapat merampas kesempatan
warga yang tidak mempunyai hubungan pribadi dengannya. Karena itu, kehidupan keluarga yang hangat tetap harus dibedakan
dari penilaian atas kebijakan dan penggunaan wewenang. Riwayat perkawinan yang mengagumkan tidak menghapus kewajiban
mempertanggungjawabkan kekuasaan. Pelajaran yang relevan justru terletak pada kesediaan mendengar,
menerima keterbatasan, dan memperbaiki keputusan yang menyulitkan orang lain. Rakyat yang kesulitan berobat atau kehilangan penghasilan
memerlukan kepedulian yang bekerja sampai ke dalam kebijakan. Ada contoh sederhana setelah kemenangan pemilu 2018. Melalui
putrinya, Marina, keluarga Mahathir meminta agar hadiah ucapan selamat untuk
mereka dialihkan menjadi sumbangan amal. Kegembiraan karena memperoleh kepercayaan publik diarahkan kepada
mereka yang membutuhkan. Tindakan itu membuat pengabdian terasa dekat dan mungkin
dikerjakan. Perhatian yang datang kepada seseorang dapat diteruskan menjadi
manfaat bagi orang lain, sehingga keberuntungan sebuah keluarga membuka
kesempatan untuk berbagi. Bagi pembaca Indonesia, ada gema yang akrab dalam kisah Habibie
dan Ainun. Publik mengenang kesetiaan mereka, sementara jejak pengabdian
Ainun juga hidup melalui kegiatan sosial dan perjuangan donor mata. Menjelang wafatnya, ia masih memperjuangkan dukungan bagi donor
mata melalui Bank Mata Indonesia. Pekerjaan itu memberi isi kepada cinta yang meluas menjadi
perhatian terhadap kehidupan sesama. Di hadapan orang yang terancam kehilangan penglihatan, pengabdian
mempunyai tujuan yang begitu jelas: membantu seseorang memperoleh kembali
kemungkinan menjalani hari. Keterlibatan Ainun bersama Habibie dan keluarganya dalam
pendirian The Habibie Center pada 1999, memperlihatkan kelanjutan pengabdian
sesudah masa kepresidenan. Kehidupan bersama memberi ruang bagi tujuan yang tetap dapat
dikerjakan ketika jabatan telah berakhir. Keluarga dapat menjadi tempat menyusun kembali arti keberhasilan,
terutama ketika pengakuan publik dan kesibukan resmi tidak lagi mengisi hari. Pengalaman ini dapat dibaca berdampingan dengan kehidupan
Mahathir dan Hasmah. Pasangan saling menyediakan tenaga untuk meneruskan
pekerjaan yang mereka anggap berarti, sembari membawa pengetahuan dan
kecakapan masing-masing. Tujuan hidup bersama memperoleh kedalaman ketika keduanya merasa
ikut tumbuh dalam pekerjaan tersebut. Bagi pasangan yang jauh dari Istana, tujuan itu mungkin berupa
membesarkan anak atau merawat orang tua yang menua. Ia juga dapat hadir dalam kesediaan mendukung pekerjaan pasangan
yang bermanfaat bagi sesama, bahkan ketika hasilnya belum menjanjikan
kenyamanan. Ukurannya terletak pada manfaat yang mereka sepakati dan kesediaan
membagi ongkosnya dengan adil, termasuk waktu serta kesempatan mengembangkan
diri. Ada hari ketika tenaga tidak cukup dan salah seorang harus
mengambil bagian lebih banyak. Ada pula masa ketika rencana perlu diubah
bersama, termasuk memberi kesempatan kepada pasangan untuk beristirahat. Pengabdian yang panjang membutuhkan perhatian pada orang yang
ikut menanggung bebannya. Dalam memoarnya, My Name Is Hasmah, Hasmah menyinggung
penglihatannya yang melemah. Orang- orang mengatakan Mahathir masih tampan
pada usia sembilan puluh; ia ingin dapat melihatnya dengan jelas dan
membandingkannya dengan mahasiswa muda yang dahulu dicintainya itu. Waktu telah mengubah tubuh keduanya, sementara ingatan tentang
pertemuan awal tetap tinggal. Seorang negarawan yang bagi publik telah
menjadi sejarah panjang tetap dikenali sebagai pemuda yang pernah membuatnya
jatuh cinta. Tujuh puluh tahun itu layak dikenang dengan rasa syukur yang
lapang, atas kesempatan saling menemani dan atas perhatian yang sampai kepada
kehidupan di luar keluarga. Kini Mahathir menyimpan pengalaman bersama yang tak dapat
diwakili oleh riwayat jabatan apa pun. Bagi kita yang menyaksikan dari jauh, ada pelajaran yang masih
dapat diteruskan: merawat cinta dengan sungguh-sungguh, lalu membiarkannya
menguatkan keberanian untuk mengabdi. Tujuan besarnya memperoleh kesempatan untuk bertahan ketika orang
yang mengusahakannya tahu bahwa ia mempunyai seseorang untuk berbagi lelah
dan harapan. Di dunia yang mengagungkan yang baru dan yang cepat saat ini,
mereka justru mengajarkan yang lama dan yang bertahan. Bahwa cinta sejati
tidak perlu banyak kata, ia hanya butuh satu komitmen yang diulang setiap
hari selama 70 tahun: Aku tetap di sini. Yang kini tertinggal adalah pelajaran bagi kita semua: bahwa pada
akhirnya, jabatan akan ditinggalkan, kekuasaan akan dilupakan, harta tidak
akan dibawa. Yang akan tetap dikenang setiap orang yang mengenal kita adalah,
apakah kita pernah mencintai seseorang dengan begitu setia, begitu tulus, dan
begitu lama. Jika kekuasaan adalah tentang berapa lama engkau diingat, maka
cinta adalah tentang berapa dalam engkau melekat. Selamat jalan, Tun Dr Hasmah. Terima kasih telah mengajarkan kami
bahwa cinta yang paling hebat bukanlah cinta yang berapi-api di awal,
melainkan cinta yang tetap mau menggenggam tangan yang sama, dengan keriput
yang sama, selama kurun waktu panjang, yaitu 70 tahun. Dan untuk Tun Dr. Mahathir Mohamad di usia 101 tahun - peluk duka
kami. Cinta kalian telah menjadi bukti, bahwa kisah seperti ini tidak ditulis
oleh semua manusia, hanya oleh mereka yang hatinya begitu humble dan setia. Berbahagialah kita yang sempat menyaksikan. Bahwa di zaman ini,
masih ada cinta yang tidak lekang oleh waktu, tidak luntur oleh kekuasaan,
dan tidak kalah oleh usia. Sekali lagi, Selamat beristirahat dengan damai, Tun Dr Hasmah.
Cinta kalian akan tinggal lebih lama dari sejarah politik itu sendiri. ● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/09/30/080500570/cinta-yang-tinggal-lebih-lama-dari-kuasa--pelajaran-70-tahun-mahathir?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar