Minggu, 04 Oktober 2026

 

Cinta yang Tinggal Lebih Lama dari Kuasa Pelajaran 70 Tahun Mahathir-Hasmah

Jannus TH Siahaan : Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik.

KOMPAS.COM, 30 September 2026

 

 

                                                           

SELAMA tujuh puluh tahun, Dr Mahathir Mohamad dan Dr. Siti Hasmah binti Mohamad Ali menjalani sesuatu yang jauh lebih panjang daripada masa jabatan, yaitu kehidupan bersama.

 

Ketika Tun Dr Hasmah wafat pada 28 September 2026 dalam usia 100 tahun, suaminya telah berusia 101 tahun.

 

Di antara kabar kepergian dan ungkapan belasungkawa, ada kehidupan yang patut kita rayakan.

 

Dua orang pernah saling memilih, bertumbuh dalam pilihannya, lalu membawa tenaga dari kebersamaan itu ke dalam pengabdian kepada negeri.

 

Dari sini kisah mereka menjadi menarik untuk dibaca melampaui kronik kekuasaan, sebagai pengalaman tentang cinta yang menemukan tujuan di luar dirinya sendiri.

 

Adat Batak Toba mengenal konsep saur matua, kepergian orang tua yang anak-anaknya telah menikah dan memberinya cucu, dengan penghormatan yang memuat rasa syukur atas kelengkapan hidup.

 

Sebagian komunitas Tionghoa mengenal xi sang, perpisahan bernuansa perayaan bagi seseorang yang mencapai usia lanjut.

 

Dari tradisi berbeda itu kita dapat meminjam kebijaksanaannya: ada sukacita dalam kesempatan menyaksikan kehidupan tumbuh hingga beberapa generasi.

 

Tun Dr Hasmah memperoleh kesempatan langka tersebut bersama anak, cucu, dan cicitnya, sementara kesedihan orang yang ditinggalkan tetap mempunyai tempat yang wajar.

 

Kebersamaan mereka bermula di sekolah kedokteran di Singapura. Pernikahan pada Agustus 1956 berlangsung sebelum Malaya merdeka, jauh sebelum Mahathir menjadi tokoh yang namanya memenuhi halaman sejarah Asia.

 

Hasmah mengenalnya ketika gelar, pengawalan, dan jabatan belum menentukan cara orang menyapanya.

 

Hubungan yang tumbuh dalam keadaan demikian memiliki simpanan pengalaman yang sungguh berharga.

 

Seseorang dikenal melalui proses menjadi, dengan kecakapan sekaligus keterbatasannya, sehingga kedekatan dapat menjadi tempat berpijak ketika kehidupan publik semakin riuh.

 

Dalam wawancara dengan Options pada 2018, Tun Hasmah berbicara tentang kepercayaan, cinta, dan perhatian terhadap kebutuhan pasangan.

 

Ia mengakui seperti pasangan rumah tangga umumnya mereka pernah bertengkar mengenai perkara kecil, lalu berdamai, dan dengan ringan menyebut bagian berdamai itu menyenangkan.

 

Perkawinan yang panjang toh tetap menyisakan soal keseharian yang juga dihadapi orang kebanyakan.

 

Kesetiaan tumbuh melalui kesediaan kembali berbicara, saling memahami kekesalan, dan memberi ruang bagi orang yang setiap hari hidup bersama kita. Ada pekerjaan yang terus diulang di dalamnya, dan sering kali tanpa penonton.

 

Apa yang diceritakan Tun Hasmah tentang bertengkar dan berdamai itu, dalam psikologi pasangan dikenal sebagai dyadic coping, cara dua orang menghadapi tekanan melalui dukungan timbal balik dan usaha bersama.

 

Meta-analisis Mariana Falconier dan rekan-rekannya pada 2015, mencakup 17.856 peserta, menemukan hubungan positif antara kemampuan tersebut dan kepuasan dalam hubungan.

 

Temuan ini tidak menjamin panjangnya perkawinan Mahathir-Hasmah, tetapi ia membantu menjelaskan mengapa mereka bisa bertahan 70 tahun: bukan karena tidak pernah bertengkar, melainkan karena mutu dukungan yang mereka pertukarkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

 

Temuan itu membantu kita memahami arti kebersamaan ketika kesulitan datang. Beban seseorang dapat dibicarakan dan tanggung jawab pun dibagi, sehingga ia tidak harus selalu tampil kuat di hadapan orang terdekat.

 

Pasangan menyediakan kesempatan untuk pulih sebelum kembali menghadapi tuntutan kehidupan. Inilah yang terlihat dari Mahathir dan Hasmah, saling menjadi tempat pulang.

 

Dukungan semacam ini juga memberi ruang bagi masing-masing orang untuk mengembangkan kecakapannya.

 

Tujuan bersama menjadi lebih berarti ketika keduanya tetap dihargai sebagai pribadi, dengan pekerjaan dan panggilan hidup yang boleh berbeda.

 

Kedekatan justru perlu cukup lapang untuk menampung perbedaan itu. Hasmah tetap dokter, Mahathir tetap dokter yang negarawan, dan keduanya tumbuh tanpa harus meniadakan yang lain.

 

Pergantian kedudukan politik memperlihatkan betapa banyak perubahan yang telah mereka lewati.

 

Dr Mahathir memimpin Malaysia pada 1981–2003, lalu kembali menjabat pada 2018–2020. Dalam wawancara yang sama, Tun Hasmah mengenang bagaimana setiap ajang pemilu membuatnya bertanya apakah ia perlu membereskan rumah untuk pindah.

 

Kekuasaan, dalam ingatan seorang istri, hadir sebagai kemungkinan berkemas. Detail kecil ini mengingatkan kita bahwa jabatan bergantung pada keputusan rakyat, sedangkan kehidupan harus tetap berjalan sesudah keputusan itu diterima. Kebersamaan menyediakan sesuatu yang tetap bisa diusahakan ketika kedudukan berubah.

 

Hubungan pribadi juga dapat menyentuh kebuntuan politik. Pada Mei 2018, Anwar Ibrahim sang Perdana Menteri Malaysia saat ini mengatakan kedekatan Tun Hasmah dan istrinya Wan Azizah memainkan peran besar dalam rekonsiliasinya dengan Dr M, panggilan Dr Mahathir Mohamad.

 

Anwar mengakui betapa sulit melepaskan permusuhan lama, dan kedekatan kedua perempuan itulah yang justru membantunya melangkah maju.

 

Rekonsiliasi tentu melibatkan kepentingan serta perhitungan kekuatan. Namun, kesediaan bekerja sama memerlukan kemampuan mengatasi keengganan untuk mendengarkan pihak lain.

 

Menjaga percakapan di antara keluarga yang berjauhan mempunyai arti politik ketika hubungan itu membantu membuka kemungkinan untuk saling percaya kembali. Di sinilah cinta domestik Mahathir-Hasmah menyentuh sejarah nasional.

 

Kehangatan hubungan dapat melunakkan pertahanan ego yang menghambat perundingan. Dalam kehidupan bernegara yang mudah memelihara dendam, kemampuan semacam ini layak mendapat penghargaan, terutama karena pengaruhnya sering luput dari riwayat resmi tentang siapa mengalahkan siapa.

 

Tun Hasmah sendiri yang selepas pendidikan kedokteran memilih mengabdi ke pinggiran bersama rakyat, membawa bekal pengabdian sejak bekerja sebagai seorang dokter.

 

Kepada UNICEF, ia mengenang pasien desa di Kedah yang terlambat datang karena ketiadaan kendaraan dan ongkos perjalanan. Ia juga menceritakan pelatihan bidan serta pembagian perlengkapan persalinan yang bersih.

 

Pengalaman itu menempatkan penderitaan dalam keadaan yang konkret. Orang membutuhkan pertolongan karena jarak, uang, dan pengetahuan membatasi pilihan mereka.

 

Menyayangi manusia menuntut usaha memahami hambatan tersebut, lalu mengerjakan sesuatu agar pertolongan sungguh-sungguh sampai.

 

Pada 1995, Tun Dr Hasmah memimpin delegasi Malaysia dalam Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing.

 

Perhatiannya pada kesejahteraan perempuan menempuh perjalanan dari pelayanan kesehatan hingga forum internasional. Ia hadir dengan pengetahuan dan pengalaman pengabdiannya sendiri, yang patut dikenang sebagai bagian utuh dari perjalanan hidupnya.

 

Jika kita ingin memahami bagaimana cinta dalam keluarga seperti Mahathir-Hasmah bisa meluas menjadi kepedulian publik seperti yang ditunjukkan Tun Hasmah di desa-desa Kedah hingga forum Beijing, pemikiran Martha Nussbaum dalam Political Emotions: Why Love Matters for Justice memberi jembatan yang tepat.

 

Menurutnya, masyarakat yang ingin menjaga keadilan membutuhkan dorongan emosional agar warganya bersedia memikirkan kepentingan bersama. Kepedulian perlu menjangkau mereka yang belum pernah kita kenal.

 

Perluasan inilah yang memberi cinta bobot kenegaraan. Kasih mendapat tempat dalam urusan publik ketika penderitaan orang asing mulai terasa sebagai sesuatu yang juga menjadi tanggung jawab kita.

 

Pengalaman merawat orang terdekat dapat melatih kepekaan itu, selama lingkar perhatian tidak berhenti pada keluarga sendiri. Inilah yang membedakan cinta Mahathir-Hasmah dari sekadar romantisme pribadi.

 

Kasih yang hanya berputar di lingkungan keluarga bahkan mudah menjadi pembenaran untuk mengistimewakan kerabat.

 

Di tangan penguasa, kebiasaan tersebut dapat merampas kesempatan warga yang tidak mempunyai hubungan pribadi dengannya.

 

Karena itu, kehidupan keluarga yang hangat tetap harus dibedakan dari penilaian atas kebijakan dan penggunaan wewenang.

 

Riwayat perkawinan yang mengagumkan tidak menghapus kewajiban mempertanggungjawabkan kekuasaan.

 

Pelajaran yang relevan justru terletak pada kesediaan mendengar, menerima keterbatasan, dan memperbaiki keputusan yang menyulitkan orang lain.

 

Rakyat yang kesulitan berobat atau kehilangan penghasilan memerlukan kepedulian yang bekerja sampai ke dalam kebijakan.

 

Ada contoh sederhana setelah kemenangan pemilu 2018. Melalui putrinya, Marina, keluarga Mahathir meminta agar hadiah ucapan selamat untuk mereka dialihkan menjadi sumbangan amal.

 

Kegembiraan karena memperoleh kepercayaan publik diarahkan kepada mereka yang membutuhkan.

 

Tindakan itu membuat pengabdian terasa dekat dan mungkin dikerjakan. Perhatian yang datang kepada seseorang dapat diteruskan menjadi manfaat bagi orang lain, sehingga keberuntungan sebuah keluarga membuka kesempatan untuk berbagi.

 

Bagi pembaca Indonesia, ada gema yang akrab dalam kisah Habibie dan Ainun. Publik mengenang kesetiaan mereka, sementara jejak pengabdian Ainun juga hidup melalui kegiatan sosial dan perjuangan donor mata.

 

Menjelang wafatnya, ia masih memperjuangkan dukungan bagi donor mata melalui Bank Mata Indonesia.

 

Pekerjaan itu memberi isi kepada cinta yang meluas menjadi perhatian terhadap kehidupan sesama.

 

Di hadapan orang yang terancam kehilangan penglihatan, pengabdian mempunyai tujuan yang begitu jelas: membantu seseorang memperoleh kembali kemungkinan menjalani hari.

 

Keterlibatan Ainun bersama Habibie dan keluarganya dalam pendirian The Habibie Center pada 1999, memperlihatkan kelanjutan pengabdian sesudah masa kepresidenan.

 

Kehidupan bersama memberi ruang bagi tujuan yang tetap dapat dikerjakan ketika jabatan telah berakhir.

 

Keluarga dapat menjadi tempat menyusun kembali arti keberhasilan, terutama ketika pengakuan publik dan kesibukan resmi tidak lagi mengisi hari.

 

Pengalaman ini dapat dibaca berdampingan dengan kehidupan Mahathir dan Hasmah. Pasangan saling menyediakan tenaga untuk meneruskan pekerjaan yang mereka anggap berarti, sembari membawa pengetahuan dan kecakapan masing-masing.

 

Tujuan hidup bersama memperoleh kedalaman ketika keduanya merasa ikut tumbuh dalam pekerjaan tersebut.

 

Bagi pasangan yang jauh dari Istana, tujuan itu mungkin berupa membesarkan anak atau merawat orang tua yang menua.

 

Ia juga dapat hadir dalam kesediaan mendukung pekerjaan pasangan yang bermanfaat bagi sesama, bahkan ketika hasilnya belum menjanjikan kenyamanan.

 

Ukurannya terletak pada manfaat yang mereka sepakati dan kesediaan membagi ongkosnya dengan adil, termasuk waktu serta kesempatan mengembangkan diri.

 

Ada hari ketika tenaga tidak cukup dan salah seorang harus mengambil bagian lebih banyak. Ada pula masa ketika rencana perlu diubah bersama, termasuk memberi kesempatan kepada pasangan untuk beristirahat.

 

Pengabdian yang panjang membutuhkan perhatian pada orang yang ikut menanggung bebannya.

 

Dalam memoarnya, My Name Is Hasmah, Hasmah menyinggung penglihatannya yang melemah. Orang- orang mengatakan Mahathir masih tampan pada usia sembilan puluh; ia ingin dapat melihatnya dengan jelas dan membandingkannya dengan mahasiswa muda yang dahulu dicintainya itu.

 

Waktu telah mengubah tubuh keduanya, sementara ingatan tentang pertemuan awal tetap tinggal. Seorang negarawan yang bagi publik telah menjadi sejarah panjang tetap dikenali sebagai pemuda yang pernah membuatnya jatuh cinta.

 

Tujuh puluh tahun itu layak dikenang dengan rasa syukur yang lapang, atas kesempatan saling menemani dan atas perhatian yang sampai kepada kehidupan di luar keluarga.

 

Kini Mahathir menyimpan pengalaman bersama yang tak dapat diwakili oleh riwayat jabatan apa pun.

 

Bagi kita yang menyaksikan dari jauh, ada pelajaran yang masih dapat diteruskan: merawat cinta dengan sungguh-sungguh, lalu membiarkannya menguatkan keberanian untuk mengabdi.

 

Tujuan besarnya memperoleh kesempatan untuk bertahan ketika orang yang mengusahakannya tahu bahwa ia mempunyai seseorang untuk berbagi lelah dan harapan.

 

Di dunia yang mengagungkan yang baru dan yang cepat saat ini, mereka justru mengajarkan yang lama dan yang bertahan. Bahwa cinta sejati tidak perlu banyak kata, ia hanya butuh satu komitmen yang diulang setiap hari selama 70 tahun: Aku tetap di sini.

 

Yang kini tertinggal adalah pelajaran bagi kita semua: bahwa pada akhirnya, jabatan akan ditinggalkan, kekuasaan akan dilupakan, harta tidak akan dibawa.

 

Yang akan tetap dikenang setiap orang yang mengenal kita adalah, apakah kita pernah mencintai seseorang dengan begitu setia, begitu tulus, dan begitu lama.

 

Jika kekuasaan adalah tentang berapa lama engkau diingat, maka cinta adalah tentang berapa dalam engkau melekat.

 

Selamat jalan, Tun Dr Hasmah. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa cinta yang paling hebat bukanlah cinta yang berapi-api di awal, melainkan cinta yang tetap mau menggenggam tangan yang sama, dengan keriput yang sama, selama kurun waktu panjang, yaitu 70 tahun.

 

Dan untuk Tun Dr. Mahathir Mohamad di usia 101 tahun - peluk duka kami. Cinta kalian telah menjadi bukti, bahwa kisah seperti ini tidak ditulis oleh semua manusia, hanya oleh mereka yang hatinya begitu humble dan setia.

 

Berbahagialah kita yang sempat menyaksikan. Bahwa di zaman ini, masih ada cinta yang tidak lekang oleh waktu, tidak luntur oleh kekuasaan, dan tidak kalah oleh usia.

 

Sekali lagi, Selamat beristirahat dengan damai, Tun Dr Hasmah. Cinta kalian akan tinggal lebih lama dari sejarah politik itu sendiri. ●

 

Sumber : https://www.kompas.com/global/read/2026/09/30/080500570/cinta-yang-tinggal-lebih-lama-dari-kuasa--pelajaran-70-tahun-mahathir?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar