|
Ternyata Rocky Gerung Tidak "Dungu" - Dia Tahu Mana yang
Harus Dikritik, dan Mana yang Harus Dibela Agus M. Maksum : Pemerhati
Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform
Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat Mahasiswa ITS, Aktivis 98,
Mantan Ketua Tim IT/Cyber Prabowo-Sandi 2019. |
ORBIT INDONESIA, 06 Juli 2026
|
"Dungu"
adalah kata yang dilekatkan publik pada Rocky Gerung — senjata retorikanya
yang paling terkenal. Kini kata itu saya kembalikan padanya sebagai pujian:
Rocky ternyata tidak dungu. Dia mampu membedakan mana pelaksanaan yang harus
dikritik, dan mana perintah Konstitusi yang wajib dibela. Saya
ingin bertanya sesuatu yang sederhana. Kalau
seorang kritikus paling tajam di republik ini — orang yang pernah menyebut
presiden sebelumnya dengan sebutan yang membuat Bareskrim sibuk — tiba-tiba
berkata bahwa MBG dan Koperasi Desa Merah Putih harus dibela... Apakah
dia berubah? Atau kita yang selama ini salah membaca? Di
warung kopi dekat rumah, seorang tukang ojek bertanya pada saya. "Pak,
Rocky Gerung kok sekarang belain pemerintah?" Saya
tersenyum. Pertanyaan itu wajar. Tapi jawabannya tidak sesederhana yang
dibayangkan. Ibu-ibu
yang anaknya makan siang bergizi di sekolah tidak peduli siapa presidennya.
Petani yang gabahnya di beli Bulog dengan harga Rp 6500 tidak bertanya soal
koalisi. Yang mereka tahu: negara hadir. Atau tidak hadir. Di
sinilah paradigmanya harus dibongkar. Selama
bertahun-tahun kita diajari bahwa kritikus sejati adalah yang mengkritik
semuanya. Siapa pun presidennya. Apa pun programnya. Seolah konsistensi
diukur dari volume kemarahan, bukan dari ketepatan sasaran. Itu
paradigma yang keliru. Kritikus
sejati bukan yang selalu marah. Kritikus sejati adalah yang tahu membedakan:
mana konsep yang diperintahkan Konstitusi, dan mana pelaksanaan yang bisa
diselewengkan manusia. Yang
pertama harus dibela. Yang kedua harus diawasi. Ibaratnya
begini. Kalau
rumah Anda bocor, Anda perbaiki atapnya. Anda tidak merobohkan rumahnya.
Orang yang menyuruh merobohkan rumah karena atapnya bocor — dialah yang
bermasalah, bukan rumahnya. MBG
bocor di sana-sini? Perbaiki. Kopdes ada yang diselewengkan? Tangkap
penyelewengnya. Tapi merobohkan programnya berarti merobohkan perintah Pasal
33 dan Pasal 34 UUD 1945. Saya
memantau langsung apa yang terjadi di Surabaya, 27 Juni 2026. Di
forum bedah buku Marhaenisme yang digelar DPC PDI Perjuangan — bukan di
panggung Istana, bukan di acara pendukung pemerintah — Rocky Gerung berkata
terang: "Bela koperasi, bela MBG. Itu perintah konstitusi. Konstitusi
memerintahkan begitu, maka harus dibela." Ditanya
apakah itu berarti memihak pemerintah, jawabannya tegas: "Saya memihak
pada konstitusi." Dan
dia tidak berhenti di situ. Dia memberi rumus kritik yang sah: "Baru
kalau dikatakan 'benar sih, tapi jadi sarang korupsi', itu kritik yang
sah." Ini
orang yang sama yang mengkritik habis IKN dan Whoosh. Yang mendesak reshuffle
menteri-menteri hasil tukar-tambah politik. Yang menyebut kekuasaan hari ini
dikendalikan pemilik modal, bukan rakyat. Dia
tidak berhenti mengkritik. Dia hanya memilih sasaran dengan benar. Maka
yang sedang kita saksikan bukan sekadar perubahan sikap seorang komentator. Ini
benturan dua cara berpikir. Satu
paradigma mengatakan: program bermasalah, tutup programnya. Paradigma lain
mengatakan: program bermasalah, selesaikan masalahnya — karena programnya
perintah Konstitusi. Satu
paradigma melihat kritik sebagai identitas. Paradigma lain melihat kritik
sebagai tanggung jawab. Mereka
mengukur dengan kemarahan. Konstitusi mengukur dengan kemaslahatan. Rocky
sendiri memperingatkan bahaya yang lebih besar: munculnya tokoh-tokoh yang —
dalam istilahnya — menunggangi gelombang kedunguan. Riding the tidal wave of
stupidity. Orang yang tidak bisa membedakan konsep dan pelaksanaan, lalu
mengajak publik marah pada arah yang sudah benar. Dan
siapa yang paling diuntungkan kalau kemarahan itu berhasil menjatuhkan
program-program konstitusi? Bukan
mahasiswa. Bukan rakyat. Pemilik
modal. Saya
tidak sedang membela Rocky Gerung. Saya bahkan mencatat: April lalu dia masih
mengkritik keras MBG. Tapi justru di situlah nilainya — dia mengoreksi
bidikan setelah membedakan mana konsep, mana pelaksanaan. Itu bukan
kelemahan. Itu kejujuran intelektual. Dan
kejujuran intelektual hari ini adalah barang langka. Rocky
Gerung tidak "dungu". Yang
dungu adalah zaman yang menganggap mereka membela Konstitusi sama dengan
menjilat kekuasaan. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/a8SI6jn4dq/agus-m-maksum-ternyata-rocky-gerung-tidak-dungu-dia-tahu-mana-yang-harus-dikritik-dan-mana-yang-harus-dibela
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar