|
Efek Domino Kebakaran
Hutan dan Lahan Redaktur Editorial
4 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Luas kebakaran hutan dan lahan
sepanjang Januari-Juni 2026 telah melampaui peristiwa pada periode yang sama
2019 dan 2023. · Potensi lonjakan jumlah kasus karhutla
terus meningkat karena puncak El Niño super diperkirakan baru dimulai pada
Oktober-Desember mendatang. · Dampak kebakaran hutan bisa merembet ke
masalah ekonomi masyarakat, yang dapat menjadi bahan bakar terjadinya gejolak
sosial dan politik. KITA,
rakyat Indonesia, sebaiknya bersiap menghadapi dampak kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) yang kini telah meluas di berbagai daerah. Tidak hanya
merusak lingkungan hidup dan mengganggu kesehatan masyarakat, petaka tahunan
itu juga memperbesar risiko terjadinya guncangan pada ekonomi. Di tengah
buruknya tata kelola pemerintahan sekarang, efek domino bencana kali ini bisa
merembet ke mana-mana. Risikonya
sekarang meningkat. Data SiPongi, sistem pemantauan karhutla milik
Kementerian Kehutanan, mencatat indikasi luas kebakaran sepanjang
Januari-Juni 2026 telah mencapai 107,5 ribu hektare. Angka ini lebih luas dua
kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019 dan 2023, tahun
ketika karhutla kembali meluas di atas 1 juta hektare. Banyak
pakar sebenarnya sejak jauh-jauh hari mewanti-wanti ihwal meningkatnya
potensi lonjakan angka karhutla pada tahun ini. Suhu permukaan laut di
Samudra Pasifik ekuator bagian timur terus menghangat sejak awal 2026. Sejumlah
kajian memperkirakan fenomena iklim yang biasa disebut El Niño tersebut bisa
mencapai level sangat kuat—dengan kenaikan suhu muka laut lebih dari 2
derajat Celsius di atas normal. Akibatnya, kekeringan ekstrem hampir pasti
melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Pada masa-masa seperti itu,
aktivitas manusia rentan memicu kebakaran, terutama di lahan gambut. Tingginya
angka indikasi luas kebakaran pada semester I lalu patut menjadi perhatian.
Api ternyata telah menjalar lebih luas di 35 provinsi ketika El Niño super
belum benar-benar datang. Hasil pemodelan tim Pusat Penelitian Iklim dan
Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan El Niño akan
mencapai puncaknya di level sangat kuat pada Oktober-Desember 2026 sehingga
ekornya ada kemungkinan berlanjut tahun depan. Sungguh
sekarang belum dapat dibayangkan seberapa luas api akan menghanguskan hutan
dan lahan dalam enam bulan ke depan. Pada 2023, El Niño dengan level kuat
turut mendorong lonjakan angka kasus karhutla seluas total 1,16 juta hektare.
Sedangkan ketika terakhir kali El Niño super terjadi pada 2015, luas area
terbakar mencapai 2,61 juta hektare. Hal yang
sudah pasti, tingginya potensi bencana karhutla tahun ini berbarengan dengan
memburuknya tata pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo
Subianto. Anggaran penanggulangan bencana—termasuk di kantong kas
daerah—dipangkas untuk membiayai proyek-proyek ambisius Presiden, seperti
makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. Program pemulihan gambut,
yang amat penting untuk mencegah karhutla, juga makin tak tentu arah sejak
Prabowo membubarkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. Kondisi
itu sangat mengkhawatirkan. Sejumlah studi menunjukkan, karhutla dalam skala
luas dan berkepanjangan yang terjadi sebelumnya selalu menggerus penghasilan
masyarakat di daerah terdampak. Pada saat yang sama, gangguan produksi dan
distribusi komoditas penting, seperti pangan dan energi, memicu kenaikan
harga. Efek
domino tersebut sudah terlihat di Kalimantan Barat, provinsi dengan area
kebakaran terluas saat ini. Harga pangan strategis dalam tiga bulan terakhir
terus menanjak. Pasokan bahan bakar minyak provinsi tersebut juga dilaporkan
seret akibat gangguan kabut asap. Persoalan yang sama kini menghantui
provinsi langganan karhutla lain di wilayah Kalimantan, Sumatera, Nusa
Tenggara, dan Papua. Celakanya,
kita tahu, perekonomian dalam negeri sekarang telanjur limbung. Bukan tak
mungkin rentetan dampak karhutla yang tak terkendali itu akan memantik
gejolak sosial dan politik. Serangkaian peristiwa yang terjadi setelah
kebakaran hebat pada 1997 semestinya bisa menjadi pelajaran. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/efek-domino-kebakaran-hutan-ekonomi-2279718 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar