Selasa, 04 Agustus 2026

 

Efek Domino Kebakaran Hutan dan Lahan

Redaktur Editorial 4 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Luas kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari-Juni 2026 telah melampaui peristiwa pada periode yang sama 2019 dan 2023.

 

·      Potensi lonjakan jumlah kasus karhutla terus meningkat karena puncak El Niño super diperkirakan baru dimulai pada Oktober-Desember mendatang.

 

·      Dampak kebakaran hutan bisa merembet ke masalah ekonomi masyarakat, yang dapat menjadi bahan bakar terjadinya gejolak sosial dan politik.

 

KITA, rakyat Indonesia, sebaiknya bersiap menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kini telah meluas di berbagai daerah. Tidak hanya merusak lingkungan hidup dan mengganggu kesehatan masyarakat, petaka tahunan itu juga memperbesar risiko terjadinya guncangan pada ekonomi. Di tengah buruknya tata kelola pemerintahan sekarang, efek domino bencana kali ini bisa merembet ke mana-mana.

 

Risikonya sekarang meningkat. Data SiPongi, sistem pemantauan karhutla milik Kementerian Kehutanan, mencatat indikasi luas kebakaran sepanjang Januari-Juni 2026 telah mencapai 107,5 ribu hektare. Angka ini lebih luas dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019 dan 2023, tahun ketika karhutla kembali meluas di atas 1 juta hektare.

 

Banyak pakar sebenarnya sejak jauh-jauh hari mewanti-wanti ihwal meningkatnya potensi lonjakan angka karhutla pada tahun ini. Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur terus menghangat sejak awal 2026.

 

Sejumlah kajian memperkirakan fenomena iklim yang biasa disebut El Niño tersebut bisa mencapai level sangat kuat—dengan kenaikan suhu muka laut lebih dari 2 derajat Celsius di atas normal. Akibatnya, kekeringan ekstrem hampir pasti melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Pada masa-masa seperti itu, aktivitas manusia rentan memicu kebakaran, terutama di lahan gambut.

 

Tingginya angka indikasi luas kebakaran pada semester I lalu patut menjadi perhatian. Api ternyata telah menjalar lebih luas di 35 provinsi ketika El Niño super belum benar-benar datang. Hasil pemodelan tim Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan El Niño akan mencapai puncaknya di level sangat kuat pada Oktober-Desember 2026 sehingga ekornya ada kemungkinan berlanjut tahun depan.

 

Sungguh sekarang belum dapat dibayangkan seberapa luas api akan menghanguskan hutan dan lahan dalam enam bulan ke depan. Pada 2023, El Niño dengan level kuat turut mendorong lonjakan angka kasus karhutla seluas total 1,16 juta hektare. Sedangkan ketika terakhir kali El Niño super terjadi pada 2015, luas area terbakar mencapai 2,61 juta hektare.

 

Hal yang sudah pasti, tingginya potensi bencana karhutla tahun ini berbarengan dengan memburuknya tata pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Anggaran penanggulangan bencana—termasuk di kantong kas daerah—dipangkas untuk membiayai proyek-proyek ambisius Presiden, seperti makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. Program pemulihan gambut, yang amat penting untuk mencegah karhutla, juga makin tak tentu arah sejak Prabowo membubarkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.

 

Kondisi itu sangat mengkhawatirkan. Sejumlah studi menunjukkan, karhutla dalam skala luas dan berkepanjangan yang terjadi sebelumnya selalu menggerus penghasilan masyarakat di daerah terdampak. Pada saat yang sama, gangguan produksi dan distribusi komoditas penting, seperti pangan dan energi, memicu kenaikan harga.

 

Efek domino tersebut sudah terlihat di Kalimantan Barat, provinsi dengan area kebakaran terluas saat ini. Harga pangan strategis dalam tiga bulan terakhir terus menanjak. Pasokan bahan bakar minyak provinsi tersebut juga dilaporkan seret akibat gangguan kabut asap. Persoalan yang sama kini menghantui provinsi langganan karhutla lain di wilayah Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara, dan Papua.

 

Celakanya, kita tahu, perekonomian dalam negeri sekarang telanjur limbung. Bukan tak mungkin rentetan dampak karhutla yang tak terkendali itu akan memantik gejolak sosial dan politik. Serangkaian peristiwa yang terjadi setelah kebakaran hebat pada 1997 semestinya bisa menjadi pelajaran.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/efek-domino-kebakaran-hutan-ekonomi-2279718

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar