Selasa, 04 Agustus 2026

 

Derita Tukang Bubur dan Approval Rating Prabowo

Stefanus Pramono :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Untuk kedua kalinya tahun ini, kami mewawancarai Saiful Mujani.

 

·      Saiful menjelaskan penyebab turunnya approval rating dan tingkat elektabilitas Prabowo.

 

·      Dedi Mulyadi dan tokoh lain berpeluang mengalahkan Prabowo dalam Pemilu 2029.

 

TAK terhitung sudah berapa kali saya mendengar Wali mengeluhkan kondisi ekonomi. Dari tahun lalu, satu dari tiga tukang bubur ayam langganan saya itu terus mempersoalkan harga bahan baku. Apa-apa serba mahal, kata Kumis, panggilannya.

 

Dia juga mengeluh soal dagangannya yang jarang habis. Mangkal di sebuah sekolah dasar negeri di Kota Bekasi, Jawa Barat, selama lebih dari 30 tahun, Kumis—memang berengosnya tebal—dulu biasa pulang sekitar pukul 9 pagi. Tangannya hampir tak pernah beristirahat melayani pembeli.

 

Kini ia menanti pembeli sambil membuka TikTok. Bukan pakai paket data, melainkan memanfaatkan Wi-Fi dengan password yang dibocorkan petugas satpam sekolah. Wali baru balik setelah pukul 10, dengan bubur masih tersisa di dandang dan kemudian dibagikan kepada tetangga-tetangganya.

 

Sebagai pelanggan setia Wali selama berpuluh tahun, saya menilai rasa buburnya hampir tak pernah berubah. Paling rasa kuahnya agak berbeda kalau si peracik, yaitu istrinya, pulang kampung. Harganya termasuk murah, sepuluh ribu perak saja.

 

Khusus untuk anak SD, Kumis rela menjual dengan harga separuhnya. Saya dulu sering “bubur war” dengan bocah-bocah berseragam. Tapi sekarang tidak lagi. Mereka menerima makan bergizi gratis. Saya hampir tak pernah lagi melihat anak-anak memesan bubur si Kumis.

 

Maka pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, saat video Presiden Prabowo Subianto nongol di telepon pintarnya, Wali buru-buru menggantinya. Wali juga menggerutu soal omongan Presiden yang menurut dia tidak benar. Saya yang sedang menyendok bubur hanya tertawa.

 

Tukang bubur langganan saya yang lain, Edi, asal Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, bernasib sama. Selain harga bahan baku yang naik, jarak tempuh gerobaknya terasa makin jauh karena buburnya tak kunjung habis. Berbeda dengan Wali, Edi ngider ke banyak kompleks.

 

Saking putus asanya, Edi bertanya harus ke mana lagi. “Mana gue tahu yang doyan bubur lu tinggal di mana?” saya menjawab. Dengan lebih desperate, dia meminta diajak tampil di Bocor Alus Politik. “Gih sono, jadi musuh negara,” kata saya. Seperti juga Wali, Edi menyalahkan pemerintah.

 

Keluhan Wali dan Edi bisa jadi sesuai dengan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Sigi pada 5-19 Juli 2026 itu menyebutkan tingkat kepuasan atau approval rating Prabowo tinggal 51,1 persen. Terjun bebas dibanding pada November 2025 yang sebesar 81,5 persen.

 

Pada Kamis, 30 Juli 2026, kami mewawancarai pendiri SMRC, Saiful Mujani, di kantornya di Menteng, Jakarta Pusat. Selama hampir tiga jam, guru besar ilmu politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan penurunan approval rating Prabowo.

 

Saiful juga menjelaskan tingkat elektabilitas Prabowo yang hanya 15 persen, jauh tertinggal dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang 35 persen. Fenomena ini tergolong unik karena belum ada presiden inkumben yang approval rating dan tingkat elektabilitasnya rontok pada tahun kedua menjabat.

 

Anda bisa membaca wawancara tersebut dalam artikel “Saiful Mujani: Sumber Masalahnya Adalah Prabowo”.

 

Saat diwawancarai, Saiful menyinggung peluang tokoh lain untuk mengalahkan Prabowo dalam pemilihan presiden 2029. Selain Dedi Mulyadi, politikus seperti Anies Baswedan, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono berpeluang memenangi pilpres.

 

Ini wawancara kedua kami tahun ini dengan Saiful. Kami pun menanyakan bias yang mungkin muncul dalam survei karena ia pernah menyatakan bahwa melengserkan Prabowo bisa membuat Indonesia selamat. Saiful pun blakblakan soal stance-nya. Ia tajam mengkritik Prabowo.

 

Berkaca pada hasil survei SMRC, peluang untuk membuat Prabowo tidak terpilih lagi masih terbuka lebar. Minimal, ia tidak akan mendapatkan suara dari Wali dan Edi, tukang bubur penyelamat perut saya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/elektabilitas-prabowo-subianto-saiful-mujani-2279813

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar