|
Derita Tukang Bubur
dan Approval Rating Prabowo Stefanus
Pramono : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Untuk kedua kalinya tahun ini, kami
mewawancarai Saiful Mujani. · Saiful menjelaskan penyebab turunnya
approval rating dan tingkat elektabilitas Prabowo. · Dedi Mulyadi dan tokoh lain berpeluang
mengalahkan Prabowo dalam Pemilu 2029. TAK
terhitung sudah berapa kali saya mendengar Wali mengeluhkan kondisi ekonomi.
Dari tahun lalu, satu dari tiga tukang bubur ayam langganan saya itu terus
mempersoalkan harga bahan baku. Apa-apa serba mahal, kata Kumis,
panggilannya. Dia juga
mengeluh soal dagangannya yang jarang habis. Mangkal di sebuah sekolah dasar
negeri di Kota Bekasi, Jawa Barat, selama lebih dari 30 tahun, Kumis—memang
berengosnya tebal—dulu biasa pulang sekitar pukul 9 pagi. Tangannya hampir
tak pernah beristirahat melayani pembeli. Kini ia
menanti pembeli sambil membuka TikTok. Bukan pakai paket data, melainkan
memanfaatkan Wi-Fi dengan password yang dibocorkan petugas satpam sekolah.
Wali baru balik setelah pukul 10, dengan bubur masih tersisa di dandang dan
kemudian dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Sebagai
pelanggan setia Wali selama berpuluh tahun, saya menilai rasa buburnya hampir
tak pernah berubah. Paling rasa kuahnya agak berbeda kalau si peracik, yaitu
istrinya, pulang kampung. Harganya termasuk murah, sepuluh ribu perak saja. Khusus
untuk anak SD, Kumis rela menjual dengan harga separuhnya. Saya dulu sering
“bubur war” dengan bocah-bocah berseragam. Tapi sekarang tidak lagi. Mereka
menerima makan bergizi gratis. Saya hampir tak pernah lagi melihat anak-anak
memesan bubur si Kumis. Maka
pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, saat video Presiden Prabowo Subianto nongol
di telepon pintarnya, Wali buru-buru menggantinya. Wali juga menggerutu soal
omongan Presiden yang menurut dia tidak benar. Saya yang sedang menyendok
bubur hanya tertawa. Tukang
bubur langganan saya yang lain, Edi, asal Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa
Tengah, bernasib sama. Selain harga bahan baku yang naik, jarak tempuh
gerobaknya terasa makin jauh karena buburnya tak kunjung habis. Berbeda
dengan Wali, Edi ngider ke banyak kompleks. Saking
putus asanya, Edi bertanya harus ke mana lagi. “Mana gue tahu yang doyan
bubur lu tinggal di mana?” saya menjawab. Dengan lebih desperate, dia meminta
diajak tampil di Bocor Alus Politik. “Gih sono, jadi musuh negara,” kata
saya. Seperti juga Wali, Edi menyalahkan pemerintah. Keluhan
Wali dan Edi bisa jadi sesuai dengan hasil survei Saiful Mujani Research and
Consulting (SMRC). Sigi pada 5-19 Juli 2026 itu menyebutkan tingkat kepuasan
atau approval rating Prabowo tinggal 51,1 persen. Terjun bebas dibanding pada
November 2025 yang sebesar 81,5 persen. Pada
Kamis, 30 Juli 2026, kami mewawancarai pendiri SMRC, Saiful Mujani, di
kantornya di Menteng, Jakarta Pusat. Selama hampir tiga jam, guru besar ilmu
politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan
penurunan approval rating Prabowo. Saiful
juga menjelaskan tingkat elektabilitas Prabowo yang hanya 15 persen, jauh
tertinggal dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang 35 persen. Fenomena ini
tergolong unik karena belum ada presiden inkumben yang approval rating dan
tingkat elektabilitasnya rontok pada tahun kedua menjabat. Anda
bisa membaca wawancara tersebut dalam artikel “Saiful Mujani: Sumber
Masalahnya Adalah Prabowo”. Saat
diwawancarai, Saiful menyinggung peluang tokoh lain untuk mengalahkan Prabowo
dalam pemilihan presiden 2029. Selain Dedi Mulyadi, politikus seperti Anies
Baswedan, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono berpeluang
memenangi pilpres. Ini
wawancara kedua kami tahun ini dengan Saiful. Kami pun menanyakan bias yang
mungkin muncul dalam survei karena ia pernah menyatakan bahwa melengserkan
Prabowo bisa membuat Indonesia selamat. Saiful pun blakblakan soal
stance-nya. Ia tajam mengkritik Prabowo. Berkaca
pada hasil survei SMRC, peluang untuk membuat Prabowo tidak terpilih lagi
masih terbuka lebar. Minimal, ia tidak akan mendapatkan suara dari Wali dan
Edi, tukang bubur penyelamat perut saya.
● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/elektabilitas-prabowo-subianto-saiful-mujani-2279813 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar