|
Pertemanan
Oei Tjoe Tat dengan Para Oposan Soeharto Han Revanda Putra
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Para menteri era Sukarno, kebanyakan
eks tahanan politik, rutin berkumpul di rumah Oei Tjoe Tat. · Arisan di rumah Oei Tjoe Tat diisi
diskusi soal isu-isu politik pada masa Orde Baru. · Kelompok arisan Oei Tjoe Tat menjadi
tempat diskusi dan meluapkan ekspresi tanpa tersiar ke publik. KABAR
Oei Tjoe Tat akan berkunjung ke Salatiga, Jawa Tengah, pada Mei 1986 sampai
ke Stanley Adi Prasetyo. Oei, menteri negara era Presiden Sukarno, akan
menyambangi kediaman keluarga istrinya, Rika alias Kwee Loan Nio, yang
berasal dari kota itu. Bagi Stanley, yang saat itu merupakan mahasiswa teknik
elektro Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, nama Oei terdengar asing
karena sudah jauh dari ingar-bingar politik. Apalagi pada 1966-1977 Oei
menjadi tahanan politik Orde Baru. Namun
lain halnya ketika Stanley menceritakan rencana itu kepada Arief Budiman,
yang aktif mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana. Arief, yang punya
jejaring luas, melihat kunjungan Oei sebagai peluang berjejaring. Kakak
kandung aktivis Soe Hok Gie itu mengundang Oei hadir dalam kelompok diskusi
mereka di kampus. Stanley yang penasaran lantas bertanya kepada Arief soal
profil Oei Tjoe Tat. Pertanyaan ini dibalas dengan satu bundel kertas
fotokopian. “Itulah memoar yang dia tulis untuk anak-cucu,” kata Stanley di
kantor Tempo pada Kamis, 2 Juli 2026. Sembilan
tahun kemudian atau pada 1995, catatan di fotokopian itu kemudian terbit
menjadi buku Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno. Stanley
menjadi penyunting buku itu bersama Pramoedya Ananta Toer, penulis dan mantan
tahanan politik Orde Baru. Indonesianis yang juga pakar ilmu politik dari
University of Washington dan University of California, Berkeley, Amerika
Serikat, Daniel S. Lev, menulis kata pengantar dalam buku yang diterbitkan
Hasta Mitra ini. Stanley
bercerita, ketika tiba di kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Oei sudah mengalami
gejala stroke. Ia berjalan memakai alat bantu dan membiarkan tangan kirinya
lemas. Namun, menurut Stanley, sakit tak menghalangi Oei bercerita tentang
masyarakat peranakan Cina dan kehidupan masa Presiden Sukarno. Selepas
diskusi, Stanley menghampiri Oei untuk meminta alamat dan nomor telepon.
Sejak saat itu, setiap kali ke Jakarta untuk berdemonstrasi atau berdiskusi,
Stanley selalu mampir ke kediaman Oei di Jalan Blitar Nomor 10, Menteng,
Jakarta Pusat. Stanley
kian akrab dengan Oei ketika mulai bekerja untuk majalah Jakarta-Jakarta pada
1990. Dia sering terlibat dalam pertemuan dengan para kolega Oei seperti eks
tahanan politik, mantan pejabat, hingga veteran. Sebulan sekali pada pekan
pertama, mereka berkumpul untuk mengadakan arisan. Tuan rumahnya bergiliran
sesuai dengan pemenang. Namun pertemuan ini kerap berlangsung di kediaman Oei
karena lokasinya strategis. “Dalam acara itu saya terlihat mencolok karena
paling muda,” tutur Stanley. Kelompok
arisan ini ternyata bukan ajang temu kangen biasa para sepuh. Ketika ibu-ibu
mengocok dadu, peserta yang kebanyakan bapak-bapak membicarakan persoalan
politik. Tak jarang mereka menghadirkan tamu untuk menjadi pemantik diskusi,
dari mantan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin; mantan Menteri Luar Negeri,
Roeslan Abdulgani; diplomat Ilen Surianegara dan menantunya, Eros Djarot;
diplomat Manai Sophiaan; hingga Pramoedya Ananta Toer. Seusai arisan dan
diskusi, mereka ramai-ramai makan siang. Kebanyakan
anggota kelompok arisan adalah pejabat pada era Sukarno yang menjadi tahanan
politik di masa Orde Baru atau keluarganya. Mereka di antaranya mantan
Menteri Perburuhan, Soetomo Martopradopo; mantan Menteri Penerangan, Setiadi
Reksoprodjo; dan veteran Pertempuran Surabaya, Soehario Padmodiwirio alias
Hario Kecik. Seperti Oei, mereka pernah mendekam di dalam penjara Orde Baru
karena dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Sekali
waktu, Hario Kecik pernah ribut dengan Manai Sophiaan. Stanley bercerita,
Manai, ayah aktor dan politikus Sopan Sophiaan, pernah menjabat Duta Besar
Indonesia untuk Uni Soviet pada 1964-1967. Pada ujung masa jabatannya,
kedutaan besar—yang sudah dikendalikan atase militer—mencabut paspor para
mahasiswa Indonesia di Uni Soviet yang tak mau mengutuk pemerintahan Sukarno
dan menerima Orde Baru. Hario, yang belajar di Sekolah Militer Suvorov di Uni
Soviet, termasuk mahasiswa yang sempat menjadi eksil. “Bila perlu, tak jotos
di sini,” ujar Stanley, menirukan ucapan Hario kepada Manai. Sri
Kusdiyantina, istri mantan Menteri Luar Negeri, Soebandrio, dan Sri Wuryanti,
istri mantan Menteri Panglima Angkatan Udara, Omar Dani, juga menjadi anggota
tetap kelompok arisan ini ketika suami mereka masih berada di balik jeruji.
Fransiska Oei, putri ketiga Oei Tjoe Tat, mengenang, para istri mantan
pejabat itu hampir tiap hari datang ke rumahnya. Kebiasaan ini berlangsung
sejak Oei masih di penjara. “Mereka dekat sekali dengan Mami,” ujarnya di
Jakarta Selatan pada Selasa, 30 Juni 2026. Tak
semua anggota kelompok arisan merupakan pesakitan Orde Baru. Kepala
Kepolisian RI 1968-1971, Hoegeng Iman Santoso, yang dicopot Presiden Soeharto
setelah menyelidiki kasus penyelundupan mobil mewah, juga ikut serta. Stanley
bercerita, Hoegeng, yang saat itu sudah berusia sekitar 80 tahun, lebih
banyak diam. Tapi, setiap kali ada yang menggoda dengan pura-pura memuji
Soeharto, Hoegeng melontarkan makian. “Dia ngedumel, yang lain ketawa-tawa,”
tutur Stanley. Di
antara tokoh-tokoh itu, Oei kerap berperan sebagai moderator, terutama jika diskusi
berlangsung di kediamannya. Menurut Stanley, Oei mengatur lalu lintas diskusi
sekaligus mengontrol sejumlah peserta yang temperamental. Jika ada yang
marah-marah karena merasa tak diberi waktu, Oei akan meminta peserta lain
mempersingkat waktu bicaranya. Oei juga yang akan menjelaskan situasi jika
ada orang bertikai. “Begitu Pak Oei menyampaikan sesuatu, semua reda,”
katanya. Topik
yang dibicarakan para sepuh ini berkisar tentang isu politik yang sedang
hangat. Stanley memberi contoh, mereka pernah berdiskusi tentang pembangunan
Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah yang menggusur para petani. Di tengah
diskusi, Hario Kecik membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan poster “Tanah
untuk Rakyat” karya Yayak Kencrit. Kepada para peserta lain, Hario membanggakan
poster itu sebagai bentuk perlawanan melalui seni rupa. Isu lain
yang muncul dalam diskusi itu adalah makin populernya Megawati Soekarnoputri
dan Partai Demokrasi Indonesia. Adapun isu seperti peristiwa 1965, menurut
Stanley, justru tak disinggung karena semua peserta dianggap sudah mafhum.
Dalam setiap pertemuan, kelompok arisan menyepakati isu yang akan dibahas
pada pertemuan berikutnya. “Mereka menyebut ini obrolan hari tua agar masih
terhubung dengan situasi saat ini,” ujarnya. Kepada
sesama eks tahanan politik, Oei juga memberi bantuan hukum. Peneliti senior
tamu Lembaga Studi Asia Tenggara Yusof Ishak, Leo Suryadinata, bercerita,
para eks tahanan politik sering bertandang ke rumahnya untuk meminta bantuan
hukum. Ketika Leo mewawancarai Oei untuk keperluan penelitian pada 1990-an,
ada eks tahanan politik yang masuk ke dalam rumah itu. “Karena sakit, dia
tidak menjadi pengacara lagi, tapi rumahnya selalu terbuka," tuturnya. Menurut
Leo, salah satu tokoh yang meminta bantuan hukum adalah Omar Dani. Ketika
menjalani sidang di Mahkamah Militer Luar Biasa pada Oktober 1966, Omar Dani
mengajukan nama Oei Tjoe Tat sebagai pembela. Namun hakim militer menolak
usulan itu karena Oei juga sedang ditahan. Oei
memberi konsultasi hukum secara cuma-cuma kepada para eks tahanan politik dan
aktivis. Bahkan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta masih mengundang dia dalam
beberapa diskusi. Namun Oei menghindari pendampingan hukum secara litigasi
lantaran kadung mendapat stigma sebagai eks tahanan politik. Berbeda
dengan Stanley, anak-anak Oei tak terlalu tertarik pada kelompok arisan itu.
Putra bungsu Oei, Tikki Budiman, mengenang banyak tokoh politik yang sudah
sepuh kerap berkumpul di rumahnya, bahkan sampai marah atau memaki-maki.
Namun, bagi Tikki yang bersifat introver, keriuhan itu menjadi gangguan.
“Saya pernah datang beberapa kali. Saya kesal karena ramai,” ujarnya pada
Sabtu, 18 Juli 2026. Tokoh
lain yang Tikki ingat pernah berkunjung ke rumahnya adalah Sri Sultan
Hamengku Buwono IX. Menurut dia, foto sultan yang pernah menjabat Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta itu tergantung di rumahnya. Sedangkan putri kedua
Oei, Desita Atma Brunier, mengenang istri Soetomo dan Setiadi sebagai teman
dekat mami dan papinya. Namun, ketika arisan bergulir, dia telah mengikuti
suaminya tinggal di Prancis. Ketika sesekali pulang ke Indonesia bersama
suami dan anak-anaknya pun Desita jarang bergabung. “Cuma tahu ada tamu, tapi
saya tidak tahu mereka membicarakan apa,” katanya pada Rabu, 15 Juli 2026. Hingga
menjelang akhir hayatnya, Oei Tjoe Tat terus berhubungan dengan keluarga
Sukarno. Putri ketiga Oei, Fransiska Oei, mengungkapkan bahwa tokoh yang
kerap berkunjung ke rumahnya adalah putri kedua Sukarno dan Fatmawati,
Megawati Soekarnoputri. Namun Fransiska tak tahu apa yang mereka bicarakan
karena saat itu dia masih kecil. Dia pun selalu masuk ke rumah jika ada tamu
yang hendak berdiskusi tentang politik dengan Oei. Putra
sulung Sukarno, Mohammad Guntur Soekarnoputra, mengatakan cukup sering
berbicara dengan Oei ketika masih bekerja kepada ayahnya. ”Pak Oei bukan
hanya salah satu penjaga pemikiran Bung Karno, melainkan juga penganut setia
ajaran-ajaran sosial-politiknya,” tuturnya pada Ahad, 26 Juli 2026. Namun,
setelah Sukarno lengser, Guntur menambahkan, intensitas komunikasinya
berkurang. Guntur
mengatakan, dari Oei, dia banyak mendapat pengaruh pemikiran mengenai
hubungan pribumi dengan golongan lain. Karena itu, dia bergaul dengan orang
dari berbagai macam latar belakang tanpa membeda-bedakan identitas ataupun
golongan. Oei dikenal sebagai pendukung gagasan integrasi yang diusung Badan
Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia. Oei juga
membalas kunjungan Megawati dengan bertamu ke kediamannya di Jalan Kebagusan,
Jakarta Selatan. Stanley Adi Prasetyo bercerita, ia selalu diajak Oei jika
bertamu ke rumah Presiden RI kelima itu. Oei biasanya bertamu sekitar pukul
10 pagi. Di luar kolega lama, Oei juga berkawan dengan Abdurrahman Wahid
alias Gus Dur. Menurut Stanley, Oei lebih banyak bercanda jika bertemu dengan
Presiden RI keempat itu. Para putri Oei mengenang Gus Dur sebagai tokoh yang
dikagumi sang ayah dan selalu mendukung keluarga mereka. Tokoh
lain yang berjasa bagi keluarga Oei adalah Ali Sadikin. Ketika tentara hendak
mengambil alih rumah di Jalan Blitar Nomor 10 setelah Oei masuk bui, Ali
mengeluarkan instruksi bahwa semua rumah tahanan politik di Jakarta berada di
bawah pengawasan gubernur. Karena itu, tentara urung menguasai bangunan
tersebut dan hanya berjaga di sana. Ihwal
jejaring, Ivan Wibowo, salah seorang kerabat Oei, mengatakan pernah mendengar
bahwa Ali Sadikin heran karena Oei bisa mengenal orang sebanyak itu. Oei
menjawab, dia tak hanya menguasai satu departemen, tapi secara global.
Menurut Ivan, banyak kolega yang ia kenal dulu merupakan sesama menteri atau
tahanan politik. “Kalau nongkrong di rumah, itu semua oposan,” katanya pada
Selasa, 9 Juni 2026. Rumah
Oei juga menjadi jujugan para aktivis dan intelektual muda. Sosiolog Monash
University yang juga keponakan ipar Oei, Ariel Heryanto, mengatakan ia sering
mampir di kediaman suami adik ibu mertuanya itu. Dia menggambarkan kediaman
itu sebagai tempat singgah anak-anak muda yang nyaman karena teduh dan selalu
ada sajian. “Tuan rumahnya senang sekali kedatangan anak-anak muda,” ujarnya
pada Sabtu, 18 Juli 2026. Peneliti
Leo Suryadinata juga berkali-kali menyambangi rumah Oei untuk berdiskusi.
Meski telah mengidap stroke, Oei masih tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan
Leo. Kepada Oei, Leo menanyakan hubungan dia dengan Yap Thiam Hien, ahli
hukum terkemuka. Satu kesan yang Leo tangkap adalah Oei merasa bangga atas
tugasnya membantu Sukarno. "Biarpun Bung Karno sudah meninggal, dia
tetap bicara tentang Bung Karno dengan semangat hormat," tuturnya. Setelah
Oei wafat pada 26 Mei 1996, Rika masih meminta Stanley sesekali datang
berkunjung ke rumah di Jalan Blitar 10. Arisan masih sempat terselenggara
secara bergilir. Namun satu per satu anggota kelompok itu menyusul berpulang.
Kelompok arisan dan pertemuan para sepuh itu tak lagi tampak hingga rumah di
Jalan Blitar tersebut berganti tuan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/oei-tjoe-tat-sukarno-oposan-soeharto-2282230 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar