Senin, 17 Agustus 2026

 

Kisah Asmara Oei Tjoe Tat di Tengah Penjajahan Jepang

Yohanes Paskalis :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Di Jakarta, Oei Tjoe Tat muda kembali bertemu dengan gadis belia yang pernah ia kenal dalam perjumpaan tak disengaja pada 1938.

 

·      Kedatangan tentara Jepang menjadi batu kerikil dalam hubungan asmara Oei Tjoe Tat dengan Kwee Loan Nio.

 

·      Oei Tjoe Tat dan Kwee Loan Nio punya karakter berbeda. Keduanya saling melengkapi di tengah beratnya hidup di Jakarta.

 

GRIYA bergaya arsitektur kolonial Belanda di Jalan Serang, Batavia—sekarang Jalan Syamsu Rizal, Jakarta Pusat—itu telah berganti wajah menjadi properti modern minimalis dua lantai. Dulu, pada 1940-an, Oei Tjoe Tat kerap berkunjung ke rumah yang ditempati keluarga Lie Oen Hock tersebut.

 

Ketika itu Oei tengah melanjutkan studinya di Rechtshoogeschool te Batavia—sekolah tinggi hukum yang bangunannya kini menjadi kantor Kementerian Pertahanan. Adapun Lie Oen Hock, yang juga lulusan Rechtshoogeschool, adalah seorang hakim di Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta.

 

Fransiska Oei alias Oei Lan Siem, putri ketiga Oei Tjoe Tat, tahu cerita tentang kebiasaan ayahnya di masa muda itu. Semula dia mengira sang ayah berkunjung berkali-kali ke rumah di Jalan Serang itu karena ingin bertemu dan berbincang dengan Lie Oen Hock ihwal ilmu hukum. “Karena Om Lie seorang master hukum, jadi nyambung kalau mengobrol,” kata Fransiska ketika ditemui Tempo pada Selasa, 30 Juni 2026.

 

Perkiraan Fransiska, yang kini menjadi anggota direksi sebuah bank swasta nasional, bisa jadi tidak keliru. Oei memang mengagumi dan terinspirasi pemikiran Lie Oen Hock. Jauh sebelum menjadi hakim, Lie adalah praktisi hukum kondang di Solo dengan gelar meester in de rechten dari Universiteit Leiden, Belanda. Kelak pria yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, itu juga diangkat menjadi Guru Besar Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

 

Tapi tiga dekade terakhir, setelah membaca Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Fransiska punya dugaan baru. Oei intens berkunjung ke Jalan Serang tak sekadar ingin berdiskusi dan belajar tentang hukum, tapi juga ngapel. Rumah Lie Oen Hock juga menampung adik-adik sang istri, Kwee Giok Nio. Di antara mereka adalah Kwee Loan Nio atau biasa dipanggil Rika, yang belakangan menikah dengan Oei dan melahirkan Fransiska pada 1957.

 

Usia Rika lebih muda dua tahun dibanding Oei. Pada 1941, ketika Oei kerap datang ke rumah Lie Oen Hock, Rika masih menjadi murid sekolah menengah atas di Algemeene Middelbare School Kristen Salemba.

 

Jakarta sebenarnya bukan tempat perjumpaan pertama Oei dengan Rika. Empat tahun sebelumnya, pada suatu malam Juli 1938, keduanya pernah bertemu tanpa sengaja dalam sebuah pesta amal kelompok Hsing Chung Hui Solo, Yogyakarta, dan Salatiga. Acara pengumpulan dana itu digelar di rumah mantan Majoor der Chinezen, Be Kwat Koen, yang berseberangan dengan rumah keluarga Oei di Jalan Mesen.

 

Di tengah kemeriahan fancy fair, Oei yang masih remaja memberanikan diri menyapa Rika. Gadis belia itu datang bersama keluarganya dari Salatiga. Ayah Rika, Kwee Tjien Khee, adalah pedagang kayu balok. Bisnis keluarga ini, menurut Oei, tak mentereng. Tapi Kwee Tjien Khee cukup terpandang karena aktif dalam kegiatan sosial di Salatiga. Oei mengaku tidak pernah menduga gadis belia yang ketika itu masih duduk di Hollandsch-Chineesche School—sekolah berbahasa Belanda khusus untuk anak-anak keturunan Tionghoa elite—tersebut akan menjadi pendamping di seumur hidupnya.

 

Di Jakarta, Oei dan Rika mulai berpacaran. Tapi romansa sejoli di perantauan ini buyar ketika tentara Jepang masuk pada awal 1942. Penutupan sekolah-sekolah pada masa pemerintahan Belanda memaksa Oei dan Rika pulang ke kampung masing-masing dan menjalin hubungan jarak jauh.

 

Pada masa itu, di kampung halaman, Oei yang belum tamat kuliah akhirnya menyibukkan diri dengan bekerja. Semula ia menjadi pegawai di Hotel Slier atau Hotel Sakura, yang bangunannya sekarang menjadi Kantor Pos Indonesia di wilayah Kampung Baru, Solo. Hanya tiga bulan di sana, Oei pindah kerja karena diterima di Yokohama Specie Bank.

 

Jarak antara Solo dan Salatiga hanya 50 kilometer. Namun Oei sulit menemui Rika. Pada masa itu semua alat transportasi darat disita tentara Jepang. Armada bus yang melayani rute Solo-Salatiga juga berkurang drastis, tersisa satu unit dengan kondisi yang tak layak karena semua besi suku cadang diangkut ke Jepang.

 

“Pagar-pagar dan hek-hek rumah dicopot dan diganti dengan kayu, termasuk rumah saya di Jalan Mesen 201,” ujar Oei dalam memoar.

 

Toh, hubungan asmara mereka bertahan. Di tengah periode yang serba tak pasti, Oei dan Rika akhirnya menikah pada April 1945, empat bulan menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia.

 

Oei mengenang dirinya harus berdesakan dengan ratusan penumpang kereta ketika menjemput Rika dari Salatiga pada hari perayaan. Di Stasiun Purwosari, Solo, pasangan ini disambut andong istimewa milik sahabat keluarga mereka, Oen Boen Ing, seorang dokter terkemuka di Solo.

 

Perjamuan sederhana digelar di rumah masa kecil Oei di Jalan Mesen. Selain dihadiri keluarga dan kolega, pernikahan itu dihadiri para pengungsi dari Kalimantan yang tengah bersembunyi dari kekejaman Jepang, serta anggota sebuah klub bulu tangkis bernama Hsich Toeng.

 

Keluarga muda Oei dan Rika baru menghadapi ujian sebenarnya ketika pindah ke Jakarta selepas proklamasi. Mereka hidup nomaden, terus bergeser dari menumpang di rumah kerabat, mengontrak kamar, hingga tinggal di sebuah garasi berukuran 6 x 2,5 meter di Oranje Boulevard—kini Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Di tempat terakhir itu, Oei membangun kamar mandi berdinding gedek, dengan lantai batu bata dan atap daun kelapa. “Sebagai bak mandi, saya menggunakan sebuah drum bekas minyak mobil,” tutur Oei.

 

Rika sempat mengelola toko bunga bernama Cantik untuk menyambung hidup bersama suaminya yang sedang melanjutkan studi hukum. Oei—kala itu sudah bergelar sarjana hukum muda—tidak gengsi untuk sesekali membantu mengantarkan kembang pesanan pembeli.

 

Putri sulung pasangan Oei dan Rika, Oei Yang Siem yang sekarang bernama Shilana Atma Waskowski, turut merasakan kondisi saat itu. Lahir pada 1948, Shilana samar-samar masih ingat ketika tinggal di “rumah garasi”. “Cuma satu ruangan. Ruang tidur dan tempat (menyambut) tamu dipisahkan gorden,” katanya.

 

Fransiska dan tiga saudaranya yang juga diwawancarai Tempo menyatakan ayah dan ibu mereka sangat irit membagikan kisah romantis di masa muda. Namun mereka punya kenangan yang sama: Rika selalu menjadi pendengar yang baik untuk segala cerita perpolitikan yang dibawa Oei ke rumah. “Mereka seperti teko bertemu dengan tutupnya,” ujar Fransiska.

 

Oei Ling Siem alias Desita Atma Brunier, putri kedua Oei yang kini menetap di Prancis, menilai kedua orang tuanya punya karakter yang kontras tapi tetap harmonis. Menurut Desita, ayahnya humoris dan tidak pernah marah, sedangkan ibunya orang yang tegas dan berdisiplin.

 

“Anak-anak lebih takut kepada Mama,” tutur Desita dalam wawancara melalui layanan Zoom. “Kalau sedang ditungguin mengerjakan PR (pekerjaan rumah), kami sudah berdebar-debar duluan,” dia menambahkan.

 

Setelah Jepang menyerah, Oei terseret ke pusaran sejarah yang kelak membawanya menjadi aktivis Sin Ming Hui, tokoh Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki, hingga Menteri Negara era Sukarno. Ketika kehidupan publik Oei berkembang demikian cepat, Rika yang menangani semua urusan domestik di rumah.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/asmara-oei-tjoe-tat-rika-kwee-loan-nio-2282207

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar