|
Memetakan Lagu Tilawah Al-Qur'an Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 02 Agustus 2026
|
Syeikh
Musthafa Ismail meninggalkan suara. KH Mudrik Qori mencoba menemukan tata
bahasa di balik suara itu —agar nagham tak hanya ditiru, tapi dipahami. Ada ilmu yang mula-mula tinggal di
buku. Ada pula ilmu yang bertahun-tahun tinggal di telinga. Nagham atau lagu
Al-Qur’an termasuk yang kedua. Seorang murid duduk di depan guru,
mendengar, menirukan, salah, dibetulkan, lalu mengulanginya entah berapa
ratus kali. Tak ada grafik. Tak ada diagram. Kadang bahkan tidak ada
penjelasan panjang. Guru cukup berkata, “Bukan begitu
naiknya.” Lalu ia membaca. Murid mendengar. Begitulah sebuah pengetahuan
berpindah dari dada ke dada, dari bibir ke bibir para santri. KH Mudrik Qori rupanya ingin membawa
pengetahuan yang hidup dalam telinga itu ke dunia akademik. Dan Selasa, 28
Juli 2026, Mudir ‘Aam Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Sumatera
Selatan, itu mempertahankan disertasi doktornya di Universitas Muhammadiyah
Malang. Judul penelitiannya cukup panjang:
“Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren
Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan.” Bagi saya, yang menarik bukan gelar
doktornya, meskipun doktor bidang khusus ini mungkin belum banyak. Yang
menarik adalah tema kajian yang dibawanya ke ruang sidang: lagu alias nagham
Al-Qur’an. Lebih tepat lagi, ia mengkaji dan
memetakan salah satu suara paling ajaib dalam sejarah tilawah modern: Syeikh
Musthafa Ismail. Bagi orang yang tumbuh dalam
lingkungan MTQ, nama itu hampir seperti nama sebuah mazhab. Musthafa Ismail,
qari Mesir kelahiran Mit Ghazal pada 17 Juni 1905 dan wafat 26 Desember 1978,
bukan sekadar pemilik suara merdu. Sumber-sumber Mesir menjulukinya malik
al-maqamat, raja maqam. Harian Al-Ahram mencatat Musthafa Ismail membaca
qiraat dengan lebih dari 19 maqam beserta percabangannya. Ia juga dikenal memiliki napas panjang,
keluasan ilmu qiraat, dan kemampuan berpindah maqam dengan keluwesan yang
membuat pendengar terpukau dan bersiutan. Saat mendengar, mereka kadang tidak
sadar bahwa “kendaraan” musikal sang qari sudah berganti. Ia tidak terdengar
seperti orang memindahkan persneling. Tahu-tahu kita sudah berada di jalan
lain. Itulah keistimewaannya. Banyak orang
mempunyai suara lebih bulat. Ada yang lebih menggelegar. Ada yang lebih
bening. Tapi Musthafa Ismail seperti arsitek
yang kebetulan bekerja dengan suara. Ia tak hanya mempunyai batu bata; ia
tahu kapan membuat pintu masjid, kapan menaikkan kubah, dan kapan membiarkan
sebuah lorong gelap agar cahaya di ujungnya terasa lebih terang. Karena itu, maqam di tangannya bukan
kosmetik yang ditempelkan pada ayat. Ia menjadi semacam perangkat tafsir
bunyi. Ayat ancaman tak diperlakukannya sama
dengan ayat rahmat. Kisah tidak selalu diberi warna yang sama dengan
perintah. Ketika makna bergerak, suara ikut bergerak. Musik tidak menyeret Al-Qur’an
mengikutinya; musiklah yang diperintah mengikuti Al-Qur’an. Perbedaannya
tipis di telinga, tapi sangat besar secara teologis. Di sinilah penelitian KH Mudrik Qori
menjadi menarik. Dari analisis rekaman autentik, praktik pembelajaran, dan
jalur transmisi guru, ia mengidentifikasi tiga bentuk variasi yang disebut
ma’zul, tahwil, dan takhlith. Dalam konstruksi penelitiannya, ma’zul
berhubungan dengan pengembangan frase nagham yang memungkinkan pergeseran
rasa tanpa meninggalkan karakter maqam utama. Tahwil merupakan perpindahan
atau modulasi dari satu maqam menuju maqam lain. Sedangkan takhlith memadukan
unsur beberapa maqam dalam satu rangkaian tilawah. Bagi orang awam, mungkin lebih mudah
membayangkannya seperti orang mengemudikan mobil di pegunungan. Ma’zul adalah memainkan kendaraan di
jalur yang sama. Tahwil adalah berpindah jalur. Takhlith lebih rumit:
beberapa karakter jalan dimanfaatkan dalam satu perjalanan. Masalahnya, pengemudinya harus sangat
mahir. Salah sedikit, mobil bisa masuk kebun orang. Musthafa Ismail adalah pengemudi yang
membuat tikungan berbahaya tampak seperti jalan lurus. Yang dilakukan Kiai Mudrik pada
dasarnya mencoba menggambar peta perjalanan itu. Selama puluhan tahun, banyak qari
belajar Musthafa Ismail dengan cara paling tua dalam peradaban manusia:
mendengar dan meniru. Rekaman diputar. Sebuah frase diulang.
Naikannya ditiru. Turunannya dikejar. Kadang berhasil, kadang yang tertangkap
hanya kulitnya. Murid bisa meniru suara, tapi belum
tentu memahami logika di belakang suara. Disertasi ini mengajukan pertanyaan
penting: mungkinkah logika itu diajarkan? Pertanyaan tersebut lebih besar dari
urusan MTQ. Ia menyentuh persoalan klasik pendidikan tradisional: bagaimana
mengubah pengetahuan tersirat menjadi pengetahuan yang dapat diterangkan
tanpa merusak tradisinya. Orang pesantren mengenal persoalan
itu. Seorang kiai kadang mampu membaca kitab dengan ketepatan luar biasa,
tapi ketika ditanya algoritma berpikirnya, jawabannya sederhana: “Ya begitu.”
Bukan karena ia tidak tahu. Justru
pengetahuan itu sudah terlalu menyatu dengan dirinya. Seperti orang berjalan
yang tidak lagi menghitung kapan kaki kanan harus maju dan kaki kiri harus
menyusul. Dalam ilmu pengetahuan modern, hal
semacam ini sering disebut tacit knowledge: pengetahuan yang kita kuasai,
tapi tidak seluruhnya mudah kita uraikan menjadi petunjuk tertulis. Michael Polanyi merumuskannya dengan
kalimat terkenal: kita mengetahui lebih banyak dari yang dapat kita katakan.
Pesantren mengenalnya jauh sebelum istilah itu masuk jurnal manajemen
pengetahuan. Namanya sederhana: berguru. Karena itulah sanad Kiai Mudrik
penting. Ia tidak mendatangi Musthafa Ismail hanya melalui YouTube. Ia
mula-mula belajar kepada ayahnya, KH Ahmad Qori Nuri, kemudian kepada KH
Sayyid Muhammad Assirri, guru nagham PTIQ dan IIQ Jakarta yang disebut
sebagai murid langsung Syekh Musthafa Ismail. Ia juga mendapat inspirasi melalui KH
Moersjied Qorie Indra yang memiliki jalur pembelajaran kepada murid Musthafa
Ismail. Rekaman kemudian dipertemukan dengan transmisi guru. Ini perjumpaan yang menarik: sanad
bertemu metodologi. Keduanya kadang dipertentangkan secara ceroboh. Seolah
yang tradisional pasti tidak ilmiah, sementara yang ilmiah harus membuang
tradisi. Padahal keduanya menjawab pertanyaan
berbeda. Sanad terutama menjawab: dari mana pengetahuan ini diterima?
Metodologi ilmiah bertanya: bagaimana pengetahuan itu diperiksa, dijelaskan,
diklasifikasi, dan memungkinkan orang lain mengujinya? Kalau keduanya dipertemukan dengan
sehat, pesantren tidak kehilangan ruhnya dan universitas tidak kehilangan
akalnya. Dari penelitian itu Kiai Mudrik
menyusun Model Pembelajaran Nagham Berbasis Pesantren dengan jenjang nagham
‘aam, nagham khas, hingga nagham khas al-khas. Pembelajaran tidak berhenti pada
kemampuan mengeluarkan suara indah. Ada penguasaan maqamat, modulasi,
improvisasi, pemahaman makna ayat, adab tilawah, sampai kesiapan menghadapi
MTQ. Dengan kata lain, murid bukan hanya
diajari “belok di sini”, tapi mengapa harus berbelok dan kapan sebaiknya
jangan berbelok. Ini penting karena salah satu penyakit
pendidikan seni adalah pemujaan terhadap hasil akhir. Kita melihat qari hebat
lalu menyuruh anak menirukannya. Itu tak ubahnya seperti melihat Lionel
Messi menggiring bola kemudian menyuruh murid: “Nah, lakukan begitu.”
Persoalannya justru terletak pada kata “begitu”. Ada ribuan jam latihan yang
tersembunyi di belakangnya. Tapi di sini pula penelitian semacam
ini perlu terus diuji dan dikembangkan. Sistematisasi membawa manfaat,
sekaligus risiko. Begitu seni dibuat menjadi modul,
manusia mudah tergoda mengubah modul menjadi resep. Bayangkan bila seorang murid kemudian
belajar: ayat tentang azab berarti maqam A, ayat tentang surga berarti maqam
B, kisah nabi berarti maqam C. Selesai. Tilawah berubah menjadi resep obat:
sakit kepala ambil tablet nomor satu, batuk ambil nomor dua. Musthafa Ismail justru besar karena ia
tidak membaca Al-Qur’an seperti mesin vending. Keindahan bacaannya lahir dari
pertemuan banyak hal sekaligus: tajwid, qiraat, pemahaman ayat, kemampuan
vokal, maqam, pengalaman, intuisi, bahkan respons terhadap suasana majelis. Karena itu, sistem pembelajaran yang
baik seharusnya bukan menghasilkan seribu fotokopi Musthafa Ismail. Ia harus
melahirkan seribu pembaca yang memahami tata bahasa musikal Musthafa Ismail,
lalu tumbuh menjadi dirinya sendiri. Di situlah talaqqi tetap tak
tergantikan. Modul dapat mengatakan bahwa nada ini
terlalu tinggi. Spektrogram kelak bahkan bisa menunjukkan frekuensinya.
Kecerdasan buatan mungkin dapat mengenali maqam dan perpindahannya. Bahkan riset teknologi pembacaan
Al-Qur’an sudah bergerak ke sana. Studi-studi mutakhir mulai membangun
dataset audio Al-Qur’an berskala besar dan sistem penilaian pelafalan
otomatis. Dataset Tadabur yang diperkenalkan
pada 2026, misalnya, menghimpun lebih dari 1.400 jam rekaman dari lebih 600
qari. Quran-MD menyediakan data teks dan audio sampai tingkat ayat dan kata
dari puluhan pembaca. Mesin akan semakin pandai mendengar.
Tapi guru mengatakan sesuatu yang lebih pelik: “Bacaanmu benar, tapi belum
terasa.” Kalimat terakhir itu sulit dimasukkan
ke Excel. Karena tilawah memang bukan hanya peristiwa akustik. Tajwid menjaga agar huruf tidak
dizalimi. Qiraat menjaga transmisi bacaan. Maqam membantu suara membawa rasa.
Tafsir menolong pembaca memahami ke mana makna bergerak. Adab menjaga agar
semua kecakapan itu tidak berubah menjadi pertunjukan ego. Seorang qari bisa menguasai nada
tinggi, tapi Al-Qur’an tidak diturunkan untuk memamerkan bahwa manusia
mempunyai pita suara. Maka nilai penting penelitian Kiai
Mudrik mungkin justru terletak di sini: ia membuka pintu agar tradisi nagham
Indonesia mulai lebih serius mendokumentasikan dirinya. Indonesia telah puluhan tahun menjadi
negeri MTQ. Kita mempunyai qari, qariah, pelatih, pesantren, LPTQ, perguruan
tinggi Al-Qur’an, dan jaringan guru yang luar biasa. Kita rajin mengadakan perlombaan dari
tingkat kelurahan sampai internasional. Panggungnya megah, lampunya terang,
pialanya tinggi. Tapi pengetahuan yang membuat para juara itu lahir belum
selalu didokumentasikan dengan ketekunan yang sama. Kita sering hebat menghasilkan
maestro, tapi kurang rajin menuliskan bagaimana maestro dibuat. Karena itu pekerjaan berikutnya tidak
boleh berhenti pada satu disertasi. Rekaman qari-qari besar perlu
didigitalkan dan dianotasi. Pola maqam dapat dipetakan. Metode para guru
senior perlu direkam sebelum mereka wafat. Perguruan tinggi, pesantren, LPTQ,
ahli qiraat, ahli fonetik, bahkan ilmuwan komputer dapat bekerja bersama
membangun korpus nagham Indonesia. Dari sana bisa lahir buku ajar, arsip
audio, perangkat latihan interaktif, sampai sistem kecerdasan buatan yang
membantu murid mengenali maqam dan mengevaluasi latihan—tentu tanpa sok
hendak menggantikan guru. Teknologi terbaik dalam pendidikan
Al-Qur’an bukan teknologi yang mengusir syekh dari ruangan. Ia justru membuat
pengetahuan syekh dapat menjangkau lebih banyak murid. Dan mungkin di situlah Musthafa Ismail
tersenyum dari sejarah. Hampir setengah abad setelah ia wafat, lekukan suaranya
masih dipelajari ribuan kilometer dari Mesir. Seorang kiai dari Indralaya membawanya
ke ruang doktoral di Malang, membongkar tikungan-tikungan maqamnya, lalu
mencoba menggambar petanya agar generasi berikutnya tidak sekadar menjadi
peniru. Sebab warisan terbaik seorang maestro
bukanlah suara yang terus ditirukan. Warisan terbaiknya adalah ilmu yang
membuat orang mengerti mengapa suara itu pernah begitu hidup. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar