|
Bahasa Sebagai
Pengobatan Alternatif Akhmad Idris :
Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bina Insan Mandiri Surabaya. |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Pengobatan medis kini menjadi orotitas
tunggal metode penyembuhan pelbagai penyakit yang diyakini secara ilmiah. · Ada pengobatan lain yang sesungguh bisa
menjadi pembantu metode medis dalam cara menyembuhkan penyakit. · Bahasa bisa menjadi salah satu
alternatif metode penyembuhan secara intrinsik. PERINGATAN
Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026 menjadi momentum kepedulian negara
terhadap masa depan anak Indonesia. Peringatan ini sekaligus (seharusnya)
menjadi renungan serius mengenai fakta bahwa Indonesia menempati peringkat
pertama dalam jumlah kasus bunuh diri anak di Asia Tenggara sejak 2023 hingga
2026 berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Menurut
Yurika Fauzia Wardhani (2024), peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional,
kasus bunuh diri anak di usia remaja disebabkan oleh masalah sosial, tekanan
akademis, permasalahan keluarga, emosi, identitas diri, hingga perundungan
digital. Secara garis besar, penyebab utama bunuh diri adalah masalah sosial,
psikologis, dan spiritual. Ironisnya, kesehatan yang lebih diperhatikan
adalah kesehatan fisik—mengabaikan kesehatan sosial, psikologis, ataupun
spiritual. Porat
Antonius (2026) dalam karya mutakhirnya, Bahasamu Hidupmu atau Bahasamu
Kematianmu, mengungkapkan bahwa sistem tunggal medis terlalu mendominasi
sehingga menempatkan pengobatan medis menjadi satu-satunya
penyembuhan—menafikan pengobatan yang lain. Padahal faktanya adalah
pengobatan medis tidak pernah memberikan kepastian. Bahkan, menurut beberapa
pakar, dunia medis kerap ditunggangi kepentingan politik-bisnis. Lebih
dari itu, sistem tunggal medis mengimani pandangan yang berbasis pada
supremasi tubuh sehingga yang perlu dijaga kesehatannya hanyalah fisik—tanpa
mempertimbangkan kesehatan sosial, psikologis, juga spiritual. Berdasarkan
fakta tersebut, kita patut mempertimbangkan pengobatan alternatif yang mampu
mengakomodasi kesehatan nonfisik dan satu di antaranya, menurut Porat
Antonius, adalah mulai menggunakan bahasa yang benar dan baik. William
James (1902), seorang filsuf, psikolog, dan dokter, dalam The Varieties of
Religious Experience: A Study in Human Nature mengkritik ironi dalam dunia
kesehatan. Kehidupan yang sehat ataupun cara penyembuhan penyakit yang telah
berkembang sepanjang sejarah hanya diakomodasi dunia medis yang cenderung
menghabiskan banyak biaya. Di sisi
lain, terdapat pendekatan-pendekatan alternatif dengan biaya lebih murah dan
layak dipertimbangkan berdasarkan riset-riset ilmiah yang ironisnya tidak
diakomodasi dalam kebijakan publik karena kepentingan politik-bisnis. Satu di
antara contoh pendekatan alternatif berbasis riset ilmiah adalah disertasi
Elisa Rinihapsari (2022) yang menemukan metode ekoterapi untuk penyembuhan
penyakit kanker. Metode ekoterapi ini pernah dibahas secara teoretis ataupun
praktis oleh Martin Jordan dan Joe Hinds (2016) dalam Ecotherapy: Theory,
Research and Practice. Senada
dengan William James, Peter Gotzsche (2013) dalam Deadly Medicines and
Organised Crime: How Big Pharma Has Corrupted Healthcare mengungkapkan bahwa
orientasi dunia medis telah berubah, dari nonprofit-karitatif menjadi
politik-bisnis. Sisi gelap ini kerap ditutupi dengan penonjolan aspek positif
sehingga memberi kesan ketiadaan efek negatif. Sebut
saja khasiat obat yang ditampilkan sebagai satu-satunya penyembuh, padahal
William Osler (1892) dalam The Principles and Practice of Medicine
menyebutkan pengobatan (medis) adalah ilmu ketidakpastian dan seni
kemungkinan. Sederhananya, segala upaya medis seperti kemoterapi dan
obat-obat antibiotik memiliki dua kemungkinan kontradiktif sekaligus, yakni berhasil
dan gagal. Satu di
antara pendekatan (pengobatan) alternatif yang dapat digunakan untuk
membangun kesehatan fisik, sosial, psikologis, dan spiritual adalah berbahasa
dengan benar dan baik. Porat
Antonius memaknai “benar” dengan standar linguistik, sedangkan “baik” dengan
standar moral. Kebenaran linguistik diperlukan untuk menghindari kerancuan
hingga kekacauan makna yang secara otomatis berdampak pada kebenaran makna,
sedangkan kebenaran moral dibutuhkan untuk mendapatkan bahasa sebagai
nutrisi—bukan toksin. Tidak
berlebihan jika Suzanne O’Sullivan (2025) dalam The Age of Diagnosis
menegaskan bahwa (bahkan) kesehatan fisik ditentukan oleh narasi yang
disampaikan, narasi yang dipikirkan, dan narasi yang diterima. Dalam
kasus diagnosis dokter, narasi yang disampaikan pasien akan mempengaruhi
resep yang akan diberikan dokter—bukti pentingnya berbahasa dengan “benar”.
Begitu juga narasi yang disampaikan dokter akan mempengaruhi narasi yang
bakal dipikirkan pasien sendiri dan hal ini, menurut O’Sullivan, dapat
memperparah penyakit pasien jika dokter tidak menggunakan bahasa yang “baik”. Pada
akhirnya, kehadiran bahasa sebagai pengobatan alternatif tidak bermaksud
menggeser, menyaingi, atau menggantikan pengobatan medis. Bahasa justru ingin
menjadi “pembantu” agar pengobatan medis tidak memikul beban yang berat
dengan label dominasi tunggalnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/bahasa-pengobatan-alternatif-2279663
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar