Selasa, 04 Agustus 2026

 

Bahasa Sebagai Pengobatan Alternatif

Akhmad Idris  :  Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bina Insan Mandiri Surabaya.

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Pengobatan medis kini menjadi orotitas tunggal metode penyembuhan pelbagai penyakit yang diyakini secara ilmiah.

 

·      Ada pengobatan lain yang sesungguh bisa menjadi pembantu metode medis dalam cara menyembuhkan penyakit.

 

·      Bahasa bisa menjadi salah satu alternatif metode penyembuhan secara intrinsik.

 

PERINGATAN Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026 menjadi momentum kepedulian negara terhadap masa depan anak Indonesia. Peringatan ini sekaligus (seharusnya) menjadi renungan serius mengenai fakta bahwa Indonesia menempati peringkat pertama dalam jumlah kasus bunuh diri anak di Asia Tenggara sejak 2023 hingga 2026 berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

 

Menurut Yurika Fauzia Wardhani (2024), peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, kasus bunuh diri anak di usia remaja disebabkan oleh masalah sosial, tekanan akademis, permasalahan keluarga, emosi, identitas diri, hingga perundungan digital. Secara garis besar, penyebab utama bunuh diri adalah masalah sosial, psikologis, dan spiritual. Ironisnya, kesehatan yang lebih diperhatikan adalah kesehatan fisik—mengabaikan kesehatan sosial, psikologis, ataupun spiritual.

 

Porat Antonius (2026) dalam karya mutakhirnya, Bahasamu Hidupmu atau Bahasamu Kematianmu, mengungkapkan bahwa sistem tunggal medis terlalu mendominasi sehingga menempatkan pengobatan medis menjadi satu-satunya penyembuhan—menafikan pengobatan yang lain. Padahal faktanya adalah pengobatan medis tidak pernah memberikan kepastian. Bahkan, menurut beberapa pakar, dunia medis kerap ditunggangi kepentingan politik-bisnis.

 

Lebih dari itu, sistem tunggal medis mengimani pandangan yang berbasis pada supremasi tubuh sehingga yang perlu dijaga kesehatannya hanyalah fisik—tanpa mempertimbangkan kesehatan sosial, psikologis, juga spiritual.

 

Berdasarkan fakta tersebut, kita patut mempertimbangkan pengobatan alternatif yang mampu mengakomodasi kesehatan nonfisik dan satu di antaranya, menurut Porat Antonius, adalah mulai menggunakan bahasa yang benar dan baik.

 

William James (1902), seorang filsuf, psikolog, dan dokter, dalam The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature mengkritik ironi dalam dunia kesehatan. Kehidupan yang sehat ataupun cara penyembuhan penyakit yang telah berkembang sepanjang sejarah hanya diakomodasi dunia medis yang cenderung menghabiskan banyak biaya.

 

Di sisi lain, terdapat pendekatan-pendekatan alternatif dengan biaya lebih murah dan layak dipertimbangkan berdasarkan riset-riset ilmiah yang ironisnya tidak diakomodasi dalam kebijakan publik karena kepentingan politik-bisnis.

 

Satu di antara contoh pendekatan alternatif berbasis riset ilmiah adalah disertasi Elisa Rinihapsari (2022) yang menemukan metode ekoterapi untuk penyembuhan penyakit kanker. Metode ekoterapi ini pernah dibahas secara teoretis ataupun praktis oleh Martin Jordan dan Joe Hinds (2016) dalam Ecotherapy: Theory, Research and Practice.

 

Senada dengan William James, Peter Gotzsche (2013) dalam Deadly Medicines and Organised Crime: How Big Pharma Has Corrupted Healthcare mengungkapkan bahwa orientasi dunia medis telah berubah, dari nonprofit-karitatif menjadi politik-bisnis. Sisi gelap ini kerap ditutupi dengan penonjolan aspek positif sehingga memberi kesan ketiadaan efek negatif.

 

Sebut saja khasiat obat yang ditampilkan sebagai satu-satunya penyembuh, padahal William Osler (1892) dalam The Principles and Practice of Medicine menyebutkan pengobatan (medis) adalah ilmu ketidakpastian dan seni kemungkinan. Sederhananya, segala upaya medis seperti kemoterapi dan obat-obat antibiotik memiliki dua kemungkinan kontradiktif sekaligus, yakni berhasil dan gagal.

 

Satu di antara pendekatan (pengobatan) alternatif yang dapat digunakan untuk membangun kesehatan fisik, sosial, psikologis, dan spiritual adalah berbahasa dengan benar dan baik.

 

Porat Antonius memaknai “benar” dengan standar linguistik, sedangkan “baik” dengan standar moral. Kebenaran linguistik diperlukan untuk menghindari kerancuan hingga kekacauan makna yang secara otomatis berdampak pada kebenaran makna, sedangkan kebenaran moral dibutuhkan untuk mendapatkan bahasa sebagai nutrisi—bukan toksin.

 

Tidak berlebihan jika Suzanne O’Sullivan (2025) dalam The Age of Diagnosis menegaskan bahwa (bahkan) kesehatan fisik ditentukan oleh narasi yang disampaikan, narasi yang dipikirkan, dan narasi yang diterima.

 

Dalam kasus diagnosis dokter, narasi yang disampaikan pasien akan mempengaruhi resep yang akan diberikan dokter—bukti pentingnya berbahasa dengan “benar”. Begitu juga narasi yang disampaikan dokter akan mempengaruhi narasi yang bakal dipikirkan pasien sendiri dan hal ini, menurut O’Sullivan, dapat memperparah penyakit pasien jika dokter tidak menggunakan bahasa yang “baik”.

 

Pada akhirnya, kehadiran bahasa sebagai pengobatan alternatif tidak bermaksud menggeser, menyaingi, atau menggantikan pengobatan medis. Bahasa justru ingin menjadi “pembantu” agar pengobatan medis tidak memikul beban yang berat dengan label dominasi tunggalnya. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/bahasa-pengobatan-alternatif-2279663

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar