|
Sastra: Menjaga Nurani di Tengah Ketimpangan
Hidup Nia Samsihono : Koordinator SATUPENA DKI Jakarta. |
ORBIT INDONESIA, 29 Juni 2026
|
Artikel pendek ini
ditulis berpijak pada ulasan Satrio Arismunandar terhadap buku Jeffrey A.
Winters. “The Blind Spot: How Oligarchs Dominate Our Democracy.” New York:
Scribner, Mei 2026. Tebal: 384 halaman. Satrio menulis: Jeffrey A. Winters:
Masalah Terbesar Demokrasi Modern Adalah Penguasaan Proses Politik oleh Kaum
Superkaya. Pemikiran saya timbul
tentang ketimpangan yang sebetulnya tidak harus dijawab dengan semua orang
harus menjadi kaya, tetapi dengan jalan hidup bersama yang lebih adil,
manusiawi, dan menyejukkan. Bisakah? Premis buku Jeffrey A.
Winters yang diulas itu juga sejalan dengan keterangan penerbit bahwa
kekuasaan kaum sangat kaya bukan sekadar cacat demokrasi, melainkan dapat
bekerja melalui fondasi dan mekanisme demokrasi itu sendiri. Ketimpangan sosial bukan
sekadar soal ada orang kaya dan ada orang miskin. Dalam kehidupan manusia,
perbedaan rezeki, kemampuan, kesempatan, dan jalan hidup memang selalu ada. Hal yang menjadi
persoalan adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi penguasaan: yang kuat
mengatur yang lemah, yang kaya menentukan arah kebijakan, yang punya modal
besar dapat membeli suara, membentuk opini, bahkan memengaruhi hukum. Gagasan Jeffrey A.
Winters dalam buku tersebut menjadi penting. Demokrasi yang kita bayangkan
sebagai ruang kesetaraan ternyata dapat menyimpan titik buta. Semua warga
boleh memilih, semua orang boleh berbicara, semua orang tampak ikut serta.
Namun, hasil akhirnya sering tetap lebih menguntungkan mereka yang memiliki
kekayaan besar. Winters menyebut keadaan semacam ini sebagai ketimpangan
partisipatif: rakyat ikut dalam demokrasi, tetapi kekuatan nyata tetap
dikuasai segelintir orang yang mampu membiayai politik, media, lobi, dan
jaringan kekuasaan. Kesadaran akan
ketimpangan tidak berarti kita harus membenci orang kaya. Tidak semua orang
kaya jahat, sebagaimana tidak semua orang miskin otomatis benar. Masalahnya bukan pada
kekayaan sebagai hasil kerja, kreativitas, atau keberuntungan hidup.
Masalahnya muncul ketika kekayaan berubah menjadi alat untuk menguasai
manusia lain. Saat itulah demokrasi kehilangan kesejukannya, sebab suara
rakyat kecil hanya menjadi angka, sementara arah kehidupan bersama ditentukan
oleh uang besar. Maka, sikap pertama yang
perlu dibangun adalah kejernihan. Kita perlu belajar melihat bahwa kemiskinan
bukan semata-mata kemalasan, dan kekayaan bukan semata-mata tanda kemuliaan.
Banyak orang miskin bekerja keras, tetapi lahir dari ruang yang sempit:
pendidikan terbatas, modal kecil, akses kesehatan buruk, lingkungan tak
memberi peluang. Sebaliknya, banyak orang kaya memiliki kesempatan yang
diwariskan, jaringan yang luas, dan perlindungan yang tak dimiliki warga
biasa. Jalan keluar yang
menyejukkan bukanlah menyeragamkan semua orang agar sama kaya. Itu tidak
realistis dan mungkin juga tidak manusiawi. Hal yang lebih penting adalah
memastikan bahwa setiap orang memiliki martabat dasar: bisa makan layak,
berobat tanpa takut hancur, belajar tanpa terhalang biaya, bekerja tanpa
diperas, dan bersuara tanpa dibungkam. Keadilan sosial bukan berarti semua
orang memiliki jumlah harta yang sama, melainkan tidak ada manusia yang
hidupnya diinjak oleh sistem. Oleh karena itu, demokrasi perlu dibersihkan
dari biaya politik yang terlalu mahal. Selama politik hanya bisa
dimasuki orang yang punya modal besar atau disokong pemilik modal, kebijakan
publik akan mudah tersandera. Partai politik harus lebih transparan. Dana
kampanye harus diawasi. Lobi bisnis harus dibuka. Media menjaga
independensinya. Hukum tidak boleh menjadi pagar tinggi bagi pemilik
kekayaan, tetapi menjadi rumah teduh bagi semua warga. Di luar negara,
masyarakat juga perlu memperkuat solidaritas kecil: koperasi, komunitas
warga, pendidikan publik, gerakan literasi, ekonomi lokal, dan budaya saling
menolong. Ketimpangan sering
bertahan karena manusia terbiasa melihatnya sebagai hal wajar. Dalam
kehidupan, semua komponen yang ada terlibat menentukan kebijakan. Sastra
adalah bagian dari komponen kehidupan. Kondisi kehidupan timpang diterima
sebagai suatu kewajaran dan sastra mampu untuk mengguncang kewajaran palsu
itu. Sastra juga tidak akan
langsung meruntuhkan oligarki yang membentuk situasi itu, tetapi menjaga
manusia agar tidak kehilangan belas kasih. Sastra memperoleh tempatnya. Mungkin benar bahwa para
oligarki yang kaya raya itu tidak selalu mau membaca sastra. Atau mereka
membaca, tetapi hanya sebagai hiasan budaya, bukan sebagai jalan menyentuh
nurani. Mereka bisa menghadiri peluncuran buku, membiayai festival, memberi
penghargaan seni, tetapi belum tentu membiarkan sastra mengubah cara mereka
memandang manusia. Namun, sastra tidak
bekerja secepat palu hakim atau pasal undang-undang. Sastra bekerja pelan,
seperti air yang menetes pada batu. Ia mungkin tidak langsung melembutkan
hati para pemilik kuasa besar, tetapi ia dapat melembutkan masyarakat. Ketika masyarakat membaca
cerita tentang buruh, petani, nelayan, guru honorer, korban penggusuran, atau
ibu yang hidupnya berat, ketimpangan tidak lagi terlihat sebagai angka,
melainkan sebagai wajah manusia. Sastra juga dapat
melembutkan bahasa politik. Politik yang terlalu dikuasai uang sering memakai
bahasa kering: investasi, pertumbuhan, stabilitas, efisiensi. Semua kata itu
penting, tetapi tidak cukup. Sastra mengembalikan kata-kata yang sering
hilang dari meja kekuasaan: martabat, air mata, rumah, tubuh, ibu, anak,
tanah, dan harapan. Dengan bahasa seperti
itu, kebijakan publik tidak semata-mata dilihat sebagai hitungan untung rugi,
tetapi sebagai urusan kehidupan manusia. Bahkan, sastra mungkin menyentuh
generasi berikutnya. Mungkin para pemilik kuasa hari ini sudah terlalu keras
untuk berubah. Namun, anak-anak mereka,
generasi muda, mahasiswa, pembaca, penonton teater, pendengar lagu, dan
penikmat film dapat mulai bertanya: untuk apa kekayaan jika orang lain
kehilangan hidupnya? Untuk apa kemajuan jika hanya sebagian kecil orang yang
menikmatinya? Hal yang tidak kalah
penting, yaitu, sastra melembutkan cara kita mengkritik ketimpangan. Kritik
terhadap oligarki tidak boleh berubah menjadi kebencian buta. Sastra menjaga
agar kritik tetap bernurani: tajam, tetapi tidak kejam; tegas, tetapi tidak
kehilangan kemanusiaan. Kita boleh menolak
penguasaan manusia atas manusia lain, tetapi tetap menjaga kesadaran bahwa
tujuan akhir perjuangan sosial bukan balas dendam, melainkan kehidupan
bersama yang lebih adil. Pada akhirnya, yang kita
cari bukan dunia tanpa perbedaan, melainkan dunia tanpa penindasan. Tidak
harus semua orang menjadi kaya, tetapi jangan ada yang dibuat miskin oleh
keserakahan. Tidak harus semua orang memiliki kuasa yang sama besar, tetapi
jangan ada kuasa yang boleh membeli masa depan orang banyak. Demokrasi yang sejuk
adalah demokrasi yang membuat rakyat merasa hadir bukan hanya saat mencoblos,
melainkan juga saat hidupnya dilindungi. Ketimpangan sosial akan berkurang
ketika kekayaan tidak lagi menjadi izin untuk menguasai, dan kemiskinan tidak
lagi menjadi alasan untuk direndahkan. Di situlah manusia
kembali ditempatkan sebagai manusia: bukan alat, bukan angka, bukan suara
yang dibeli, melainkan sesama yang harus dijaga. Sastra mungkin tidak
langsung meruntuhkan oligarki, tetapi ia dapat mencegah masyarakat menerima
ketimpangan sebagai nasib abadi. Ia terus berbisik: manusia tidak boleh
dikuasai hanya karena ia miskin, dan kekayaan tidak boleh menjadi alasan
untuk kehilangan belas kasih. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar