|
Mereka yang Memperjuangkan Anak-Anaknya Dimas Supriyanto
: Wartawan
Senior |
ORBIT INDONESIA, 29 Juni 2026
|
Ketika
Megawati Soekarnoputri memperjuangkan Puan Maharani dan Prananda - banyak
yang menganggapnya sebagai regenerasi kepemimpinan partai. Ketika
Susilo Bambang Yudhoyono membangun jalan politik Agus Harimurti Yudhoyono dan
Edhie Baskoro Yudhoyoni, publik menyebutnya sebagai hak partai menentukan
penerusnya. Namun
ketika Joko Widodo mendukung Kaesang Pangarep, tiba-tiba muncul kepanikan.
Blusukan dianggap investasi politik. Bertemu rakyat ditafsirkan sebagai
kampanye terselubung. Mengenakan
atribut partai dipandang sebagai ancaman demokrasi. Mengapa
standar penilaiannya berubah? Bukankah
setiap tokoh politik memang berusaha membesarkan partai atau kader yang
diyakininya? Bukankah
itu juga dilakukan hampir semua ketua umum partai di Indonesia? Hartarto
menteri era Orde Baru, mengkader anaknya, Airlangga Hartarto. Agung Laksono
Mengkader anaknya, Dave Laksono. Zulkifli Hasan mendorong anaknya, Zita
Anjani. Harry Tanoe pun mengkader empat anaknya juga, Angela, Valencia,
Jessica dan Warren Tanoesodibjo. Semua menjadi caleg. Amien
Rais yang pernah dijuluki tokoh reformasi mempromosikan empat anaknya, Hanafi
Rais, Hanum Rais, Mumtaz dan Baigaqy Rais ke panggung politik. Jadi anggota
DPR RI dan pengurus partai bentukannya. Kalau
membangun penerus adalah kesalahan, maka ukur dengan ukuran yang sama kepada
semua. Kalau itu adalah hak politik yang dijamin demokrasi, maka hak itu juga
berlaku bagi Jokowi. Masalahnya
bukan pada Jokowi, Megawati, atau SBY. Atau Amin Rais. Masalahnya adalah
ketika publik menggunakan dua timbangan berbeda terhadap tindakan yang secara
substansi serupa. Dalam
demokrasi, yang menentukan berhasil atau tidaknya dukungan seorang tokoh
bukanlah kritik lawan politik, melainkan suara rakyat di bilik suara. Jika
rakyat menerima, kandidat menang. Jika rakyat menolak, kandidat kalah. Sesederhana
itu. Karena
itu, ketakutan berlebihan terhadap aktivitas politik Jokowi justru menunjukkan
bahwa sebagian lawan politik masih mengakui besarnya pengaruh elektoralnya. Jika
benar Jokowi sudah tidak lagi berpengaruh, mengapa setiap langkahnya terus
dipersoalkan? Mengapa
setiap blusukan, setiap pertemuan dengan warga, bahkan setiap baju yang
dikenakannya selalu menjadi bahan polemik? Ironisnya,
mereka yang selama ini mengajarkan bahwa demokrasi adalah kompetisi gagasan,
justru terlihat gelisah ketika kompetitor mulai bergerak lebih awal. Pada
akhirnya, demokrasi menuntut satu hal yang sederhana: perlakukan semua aktor
politik dengan standar yang sama. Jangan
jadikan regenerasi sebagai "hak politik" ketika dilakukan kelompok
sendiri, tetapi berubah menjadi "politik dinasti" ketika dilakukan
lawan. Kritik
akan lebih bermartabat jika lahir dari prinsip yang konsisten, bukan dari
identitas siapa pelakunya. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/VXP6lgrl41/dimas-supriyanto-mereka-yang-memperjuangkan-anak-anaknya
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar