|
Menabur Garam di Ladang Ilmu: Refleksi Mendalam Franz Magnis Suseno
tentang Esensi Filsafat Darius Leka : Advokat
& Pengamat Hukum |
ORBIT INDONESIA, 30 Juni 2026
|
Di
sebuah ruang tenang yang dipenuhi buku-buku tua dan aroma kebijaksanaan yang
mengendap selama puluhan tahun, RP. Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, S.J.,
duduk dengan tatapan yang tetap tajam meski usia telah menyentuh angka yang
matang. Bagi dunia akademis Indonesia, ia bukan sekadar nama; ia adalah
mercusuar intelektual yang telah memandu ribuan pemikiran kritis. Namun, saat
disinggung mengenai posisi filsafat di tengah hiruk-pikuk perkembangan
teknologi dan sains yang serba cepat, pria yang akrab disapa Romo Magnis ini
memberikan jawaban yang mengejutkan sekaligus menenangkan. "Filsafat
itu bukan yang paling penting," ucapnya lembut, seolah sedang memecah
keheningan di sebuah ruang kuliah. Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat
itu menggantung, sebelum kemudian melengkapinya dengan sebuah metafora yang
sangat membumi: "Tapi, ia adalah garam di antara ilmu-ilmu." Pernyataan
ini bukan sekadar retorika. Di era di mana utilitas sering kali menjadi
satu-satunya tolok ukur keberhasilan—di mana kita hanya menghargai apa yang
bisa dihitung, dijual, atau diproduksi secara instan—Romo Magnis mengajak
kita untuk kembali melihat ke dalam. Ia mengajak kita merenungkan bahwa
hidup, sama seperti masakan, akan terasa hambar jika hanya mengandalkan
bahan-bahan teknis tanpa sentuhan "garam" yang memberi rasa dan
makna. Selama
berdekade-dekade, Romo Magnis telah menjadi saksi bagaimana ilmu pengetahuan
berkembang pesat. Ia melihat kemajuan teknik, kedokteran, hingga kecerdasan
buatan. Namun, ia juga mencatat adanya kekosongan besar: hilangnya kemampuan
manusia untuk bertanya mengapa di balik deretan bagaimana. Bagi
Romo Magnis, filsafat sering kali disalahpahami sebagai disiplin ilmu yang
angkuh, yang duduk di menara gading dan jauh dari realitas kehidupan.
Padahal, filsafat justru lahir dari ketakjuban dan kegelisahan manusia
terhadap dunianya. "Jika
ilmu pengetahuan memberikan kita peta untuk berjalan, filsafat memberikan
kita kompas untuk menentukan arah," jelasnya. Filsafat, menurut
pemikirannya, tidak bermaksud menggantikan peran sains. Kita tidak
membutuhkan filsafat untuk membangun jembatan, untuk membedah sel kanker,
atau untuk merancang algoritma. Namun, kita membutuhkan filsafat untuk
memahami mengapa kita membangun jembatan, ke mana arah kemajuan sains
tersebut akan membawa kemanusiaan, dan apakah algoritma yang kita ciptakan
menghargai martabat manusia atau justru mereduksinya menjadi sekadar
angka-angka di atas kertas. Metafora
"garam" yang digunakan Romo Magnis sangatlah tepat. Garam tidak
menjadi bahan utama dalam sebuah hidangan. Anda tidak akan makan semangkuk
garam sebagai santapan utama. Namun, tanpa garam, hidangan paling mewah
sekalipun akan terasa hambar dan tidak menggugah selera. Begitu pula ilmu
pengetahuan. Tanpa sentuhan kritis filsafat, sains dapat menjadi dingin,
mekanistis, dan kehilangan kompas etisnya. Dalam
perbincangan mendalam tersebut, Romo Magnis menyinggung tantangan besar yang
dihadapi masyarakat modern: spesialisasi yang berlebihan. Pendidikan kita
sering kali melahirkan tenaga ahli yang sangat mahir di bidangnya, namun buta
terhadap konteks kemanusiaan secara luas. "Seorang
insinyur bisa sangat hebat membangun sistem ekonomi yang efisien," kata
Romo Magnis. "Tetapi jika ia tidak pernah bertanya tentang keadilan
sosial, jika ia tidak pernah merenungkan dampak tindakannya bagi si miskin
dan yang terpinggirkan, maka sistem yang ia bangun bisa menjadi mesin
penindas yang sangat canggih." Di
sinilah filsafat menjalankan tugasnya sebagai pengingat. Filsafat memaksa
kita untuk keluar dari "kacamata kuda" disiplin ilmu kita sendiri.
Ia menantang kita untuk bertanya: Apa artinya menjadi manusia? Apa tanggung
jawab kita terhadap sesama? Bagaimana kita membangun masyarakat yang tidak
hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab secara moral? Romo
Magnis menekankan bahwa filsafat tidak memberikan jawaban instan. Jika
seseorang datang kepada filsafat mengharapkan sebuah rumus ajaib untuk
menyelesaikan masalah hidup, ia akan kecewa. Filsafat justru sering kali
memberikan lebih banyak pertanyaan. Namun, itulah letak kekuatannya.
Pertanyaan yang benar adalah awal dari setiap terobosan besar, baik di bidang
sains, politik, maupun spiritualitas. Lebih
jauh dari ruang kelas, Romo Magnis melihat filsafat sebagai kebutuhan bagi
setiap individu. Di tengah arus informasi yang membanjir (dan sering kali
menyesatkan), kemampuan untuk berpikir kritis—buah dari latihan
filsafat—menjadi keterampilan bertahan hidup yang paling krusial. "Kita
hidup di zaman di mana kebenaran sering kali dikaburkan oleh kepentingan
politik, ekonomi, dan algoritma media sosial," ujarnya dengan nada yang
sedikit prihatin. "Filsafat mengajarkan kita untuk tidak menelan
mentah-mentah apa yang disajikan di depan mata. Ia mengajarkan kita untuk
bertanya: Siapa yang diuntungkan dari informasi ini? Apakah argumen ini masuk
akal? Apa asumsi-asumsi tersembunyi di balik narasi ini?" Kemampuan
untuk berpikir reflektif inilah yang ia maksud sebagai "garam"
dalam kehidupan sehari-hari. Ia memberi rasa pada realitas. Ia mencegah kita
dari keputusasaan intelektual atau, yang lebih buruk, kepatuhan buta pada
narasi-narasi otoriter. Romo
Magnis, yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri pada dunia filsafat di
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, menunjukkan melalui teladannya bahwa
filsafat bukanlah kegiatan eksklusif bagi kaum akademisi di ruang-ruang
ber-AC. Filsafat adalah dialog yang hidup. Ia adalah cara kita merayakan akal
budi yang dianugerahkan kepada manusia. Menanggapi
pertanyaan mengenai bagaimana filsafat bisa tetap relevan di zaman digital,
Romo Magnis justru melihat peluang besar. Meskipun banyak orang mengeluh
bahwa perhatian manusia saat ini sangat pendek dan dangkal, ia tetap optimis. "Justru
di dunia yang serba cepat ini, kebutuhan akan ruang untuk berefleksi semakin
mendesak," tegasnya. Ia menyarankan agar pendidikan filsafat tidak lagi
diajarkan secara hafalan mengenai sejarah tokoh-tokoh besar, melainkan
sebagai sebuah latihan dialektika. Kita harus berani membawa filsafat ke
dalam perdebatan tentang isu-isu kontemporer: perubahan iklim, etika
kecerdasan buatan, kesenjangan ekonomi, hingga polarisasi politik. "Jika
filsafat tidak mampu menjawab tantangan zaman, maka ia memang hanya akan
menjadi koleksi museum," tambahnya. Namun, ia yakin bahwa selama manusia
masih memiliki akal budi dan rasa ingin tahu, filsafat akan selalu menemukan
jalannya untuk masuk kembali ke ruang publik. Pertemuan
dengan Franz Magnis Suseno adalah pengingat akan pentingnya kedalaman di
tengah kedangkalan. Ia bukan mengajak kita untuk meninggalkan ilmu
pengetahuan, melainkan untuk memperkaya ilmu tersebut dengan dimensi etis dan
eksistensial. Ketika
kita menutup perbincangan, Romo Magnis kembali menegaskan inti dari pesannya.
Menjadi orang yang berilmu tanpa filsafat adalah seperti memiliki mesin yang
kuat tanpa kemudi. Kita bisa melaju sangat kencang, namun kita tidak tahu
apakah kita sedang menuju tujuan yang tepat atau justru sedang menabrak
dinding. Garam
memang jumlahnya sedikit, namun dampaknya terasa di setiap suapan. Begitu
juga dengan filsafat. Ia mungkin tidak mendominasi panggung utama kemajuan
peradaban, namun dialah yang memastikan bahwa kemajuan tersebut memiliki
rasa, memiliki tujuan, dan yang paling penting, memiliki martabat. Di
tengah dunia yang terus berubah, di mana ketidakpastian menjadi satu-satunya
yang pasti, mungkin sudah saatnya kita semua—dari mahasiswa hingga pembuat
kebijakan—kembali menaburkan "garam" itu ke dalam pekerjaan dan
pemikiran kita. Agar kemajuan yang kita capai tidak hanya menjadikan kita
manusia yang lebih pintar, tetapi juga manusia yang lebih bijaksana. ● Catatan:
Artikel ini ditulis berdasarkan pemikiran dan refleksi RP. Prof. Dr. Franz
Magnis Suseno, S.J., mengenai posisi filsafat di tengah perkembangan ilmu
pengetahuan masa kini. Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/8lEyViZZj9/menabur-garam-di-ladang-ilmu-refleksi-mendalam-franz-magnis-suseno-tentang-esensi-filsafat
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar