|
Independensi Habibie Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 28 Juli 2026
Perry Warjiyo
tidak sakit. Tapi tiba-tiba saja ia mundur dari jabatan gubernur bank sentral
Indonesia. Tentu juga bukan karena malu kok kurs rupiah begini lemahnya.
Padahal salah satu tugas utama bank sentral adalah menjaga stabilitas nilai
tukar mata uang.
Tugas utama
lain bank sentral Anda sudah tahu: menjaga tidak terjadi inflasi yang tecermin
dari naiknya harga-harga. Hanya di Amerika Serikat bank sentralnya punya tugas
utama lain: menjaga agar tersedia cukup lapangan kerja.
Maka spekulasi
pun seperti jamur di musim jamur. Spekulasi terbanyak adalah "akibat
tekanan pemerintah".
Anda sudah
tahu: nilai tukar rupiah mengalami kemerosotan yang tajam sejak Januari 2025.
Itu sama saja dengan mempermalukan Presiden Prabowo Subianto: baru tiga bulan
menjabat rupiah jatuh: menjadi Rp16.255 per USD. Kejatuhan itu terus
berlangsung sampai menjelang dua tahun masa jabatan Presiden Prabowo.
Tapi Presiden
tidak bisa memecat seorang gubernur Bank Indonesia. Sejak tahun 1999 Bank
Indonesia independen: agar tidak terjadi lagi krisis moneter. Anda belum lahir:
tahun 1988 negara Anda ini dilanda krisis moneter yang luar biasa. Sampai
Presiden Soeharto meletakkan jabatan.
Sejak itu
pemerintah tidak bisa lagi mencampuri kebijakan bank sentral. Prabowo pasti
uring-uringan melihat kurs yang mencoreng wajahnya. Padahal masa jabatan Perry
masih dua tahun lagi. Kalau rupiah tidak bisa bangkit itu pertanda buruk bagi
rapor masa jabatan pertama Prabowo.
Maka
satu-satunya jalan, Perry harus di-OJK-kan. Waktu bursa saham tersungkur
beberapa bulan lalu Ketua Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, mengundurkan
diri. Tertanggal 30 Januari 2026. Tidak hanya Mahendra seorang. Seorang
deputinya, Inarno Djajadi ikut mundur.
Setelah itu
seorang wanita dipilih sebagai ketua OJK yang baru: Friderica Widyasari Dewi.
Anda sering memanggilnyi Kiki.
Di Bank
Indonesia hanya Perry yang mundur. Seperti juga di OJK seorang wanita
ditampilkan untuk menjadi pimpinan BI sementara: Destry Damayanti. Dia alumnus
Universitas Indonesia Jakarta yang meraih gelar doktor di Cornell University
Amerika Serikat.
Tentu Perry
punya prestasi besar: QRIS lahir di masa ia jadi gubernur bank sentral.
Indonesia sangat maju dalam pengembangan uang digital. Secara internal Perry
adalah pribadi yang menyenangkan. Suka menyanyi. Suka bergurau. Baru Perry
gubernur bank sentral Indonesia yang dipilih kembali untuk masa jabatan kedua.
Secara
eksternal kepemimpinan bidang keuangannya tidak menonjol. Dalam menjaga kurs
dan inflasi tidak cukup mengandalkan kebijakan BI saja. Harus ada koordinasi
dengan banyak lembaga. Di sini terlihat Perry tidak ambil posisi di depan. Ia
seperti kalah agresif dengan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Bisa saja Perry
jadi ''tertuduh'' melemahnya kurs rupiah yang begitu berat. Atau ia hanya jadi
kambing hitam yang harus disembelih. Analis akan mengamati apa yang akan
terjadi sebelum dan setelah Perry mundur. Adakah bukti pemerintah telah ikut
campur di BI.
Kekhawatiran
akan campur tangannya pemerintah itulah yang membuat pasar kian tidak percaya.
Kemarin rupiah kembali anjlok melewati Rp 18.000 per dolar.
Tentu tidak
mudah bagi pemerintah untuk tidak ikut campur. Presiden Donald Trump pun
menekan bank sentral Amerika sekuat tenaga. Terutama karena ia ingin suku bunga
dibuat lebih rendah. Hanya saja Federal Reserve di Amerika tidak pernah takut
kepada Presiden Trump –atau presiden siapa pun.
Apalagi di
Jerman. Deutsche Bundesbank dikenal yang paling independen di dunia. Sistemnya
dibuat sangat independen. Sampai masa jabatan pimpinan Deutsche Bundesbank
dibuat tidak sama dengan masa jabatan pemerintah. Masa jabatan Deutsche
Bundesbank dibuat delapan tahun.
Ketika Uni
Eropa membentuk bank sentral Eropa mereka tidak mengadopsi sistem di Amerika
atau Inggris. Tapi meng-copy sistem independensi Jerman.
Bukan hanya
sistemnya. Independensi Deutsche Bundesbank sudah sangat membudaya. Rakyat akan
marah kalau ada selentingan pemerintah ikut campur. Sistem sudah menyatu dengan
budaya. Budaya menyatu dengan sistem.
Orang seperti
Prof B.J. Habibie pun menjiwai budaya itu. Sebagai orang yang tinggal dan ikut
sistem Jerman, Pak Habibie tahu apa yang harus diperbuat ketika tiba-tiba jadi
presiden Indonesia. Meski Pak Harto sudah membudayakan Bank Indonesia bagian
dari pemerintah Prof Habibie langsung menyatakan tidak mau ikut campur urusan
bank sentral.
Konon sikap
Presiden Habibie seperti itu yang membuat rupiah menguat luar biasa di masa
jabatannya yang hanya satu tahun: dari sekitar Rp16.000 per dolar ke
Rp8000/dolar.
Di Indonesia,
seandainya pun presiden tidak ikut campur, aroma politik Bank Indonesia sangat
dalam. Itu karena gubernur Bank Indonesia dipilih oleh DPR –atas calon yang
diajukan pemerintah. BI pun tidak bisa berkutik ketika harus memberi jatah
rupiah kepada mereka yang memilihnya.
Yang seperti
itu yang membuat BI sulit independen –termasuk bisa saja pilihan mundur adalah
lebih baik dari pada dikaitkan dengan aib besar itu. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/959531/independensi-habibie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar