|
Menuju 81 Tahun Indonesia: Inflasi “Krisis” dan Realitas Berthold
Damshäuser : Seorang
indonesianis yang sejak tahun 1986 mengajar di Universitas Bonn, Jerman.
Bersama Wolfgang Kubin ia menjadi editor Orientierungen - Zeitschrift zur
Kultur Asiens, jurnal tentang budaya-budaya Asia. |
ORBIT INDONESIA, 30 Juni 2026
|
Indonesia
81 tahun sebentar lagi datang. Bagi sebuah negara, itu bukan angka keramat.
Tidak ada pesta besar di tahun 2026 ini; kita harus menunggu empat tahun lagi
untuk sesuatu yang bisa disebut perak atau emas. Namun, bagi saya pribadi,
tahun 2026 adalah sebuah pesta perak yang megah, atau tepatnya, sebuah usia
emas: setengah abad. Tepat lima puluh tahun lalu, pada tahun 1976, kaki saya
pertama kali menyentuh tanah Nusantara. Saya datang, saya melihat, dan saya
ditaklukkan, bukan sebagai penjajah, melainkan sebagai musafir yang terpesona
oleh kebudayaan dan manusianya. Pertemuan itu mengubah seluruh jalur hidup
saya, baik yang pribadi maupun yang profesional. Sejak tahun 1976, saya
adalah peziarah yang setia. Indonesia telah menjelma menjadi tanah air kedua
di samping Jerman. Bahkan, dalam urusan menulis, ia adalah tanah air pertama
saya. Saya menulis dan mempublikasikan pemikiran saya dalam bahasa Indonesia.
Saya adalah anggota Satupena. Di atas kertas, saya adalah seorang penulis
Indonesia. Pembaca saya adalah publik Indonesia. Saya merasa menjadi bagian
dari detak jantung negeri ini. Namun,
di situlah letak ironinya atau mungkin sebuah berkah yang jenaka. Mata saya,
betapapun setianya, tetaplah mata yang memandang dari luar. Anda akan
merasakannya dalam baris-baris berikutnya. Mungkin begini: saya selalu ikut
menangis bersama derita Indonesia, tetapi saya sendiri tidak pernah
benar-benar menderita di Indonesia. Pandangan saya tumbuh dari ladang
kecukupan, bukan dari sumur kecemasan. Sebuah posisi yang nyaman, bukan? Dan
tentu saja, sangat rentan untuk digugat. Apalagi jika kita ingat bahwa
Indonesia itu muda. Jauh lebih muda daripada jajaran negara Eropa yang lelah,
lebih muda dari Jepang, Korea, atau Cina. Bahkan namanya sendiri barulah
sebuah penemuan kemarin sore. Mari kita ingat kembali romantika akademis itu:
adalah James Richardson Logan dan George Samuel Windsor Earl yang pertama
kali mengutak-atiknya, namun Adolf Bastian-lah, seorang etnolog Jerman (ya,
seorang Jerman!), yang memopulerkan nama "Indonesien" pada tahun
1884 melalui bukunya, Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels.
Arti harfiahnya sederhana saja, namun eksotis: "India Kepulauan".
Kata “Indonesia” bukanlah warisan bahasa daerah Nusantara, melainkan istilah
ilmiah Eropa abad ke-19 yang berakar pada Yunani–Latin dan dipopulerkan oleh
tradisi akademik Jerman. Namun betapa indah ia terdengar. Hampir
seabad lalu, para pemuda di Hindia Belanda dengan keberanian yang
hampir-hampir naif memilih nama asing ini sebagai payung dari sebuah mimpi
bernama negara merdeka. Mereka menolak ego bahasa mayoritas dan memilih
bahasa Melayu sebagai Bahasa Indonesia. Hari ini, sebuah bangsa bernama
"Bangsa Indonesia" benar-benar mewujud. Mengapa? Karena orang-orang
di dalamnya merasa memilikinya, meski di saat yang sama mereka tetaplah
seorang Jawa, Sunda, atau Bali. Lahirnya bangsa ini adalah sebuah pertunjukan
yang spektakuler, terutama karena kecepatannya. Indonesia adalah sebuah
laboratorium kemajemukan yang raksasa. Menyamakan Indonesia dengan Jerman,
Prancis, atau Italia adalah kekeliruan metodologis. Indonesia tidak bisa
dibanding-bandingkan dengan satu negara Eropa; ia hanya bisa dibandingkan
dengan seluruh benua Eropa. Sama heterogennya, sama rumitnya. Bahwa
Indonesia memiliki bentuknya yang sekarang sebagai ahli waris sah dari
wilayah kolonial Hindia Belanda sebenarnya adalah sebuah kebetulan sejarah
yang ironis. Andai saja Nusantara dulu dikoyak oleh imperium yang berbeda,
Sumatra dan Kalimantan oleh Inggris, Jawa oleh Belanda, Sulawesi dan Maluku
oleh Spanyol, kita mungkin hari ini akan melihat tiga atau empat negara yang
saling curiga. Dalam hal ini, kolonialisme Belanda, secara tidak sengaja,
meninggalkan sebuah berkah: sebuah kesatuan. Orang-orang Eropa hari ini
sebenarnya layak didera rasa iri yang hebat. Di Brussel, para birokrat
berdarah-darah merajut apa yang disebut "Negara Eropa", dan mereka
terus-menerus gagal. Sementara Indonesia, dengan segala kekurangannya,
berhasil menciptakan satu ruang publik yang inklusif berkat Bahasa Indonesia.
Di Eropa, puluhan bahasa nasional memisahkan ruang publik menjadi sekat-sekat
yang tuli. Di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, kita bertengkar dan
berdamai dalam satu bahasa yang sama. Mengapa ini berhasil? Mungkin karena
suku-suku di Indonesia tidak memelihara dendam sejarah sedalam jalinan
permusuhan abadi antara Jerman dan Prancis, atau Inggris dan Prancis. Dan
tentu saja, sosiologi politik kita unik: suku Jawa, meski dominan secara
kuantitas, tidak pernah memiliki lawan tanding yang sepadan yang melahirkan
"perang saudara abadi". Hari
ini, kata "krisis" telah mengalami inflasi makna. Ia diucapkan di
pasar, di studio televisi, di koridor kekuasaan. Bukan hanya di Jakarta,
tetapi juga di Berlin. Di Jerman, negara asal saya, masyarakat dan media
tanpa henti meratap tentang krisis. Kita tampaknya telah amnesia terhadap
akar kata Yunani kuno: krisis. Dalam kamus asalnya, krisis berarti
"keputusan", "titik balik", atau "saat
penghakiman". Ia adalah momen krusial medis ketika seorang pasien akan
memilih: sembuh atau mati. Krisis bukanlah sebuah "kondisi buruk yang
permanen dan stagnan". Ia adalah sebuah ambang pintu, sebuah kesempatan
untuk memilih jalan baru. Namun, melodrama melankolis ini terjadi di
mana-mana. Di Eropa, hampir semua kepala pemerintahan dibenci. Emmanuel
Macron di Prancis, Perdana Menteri Inggris, hingga Kanselir Jerman Friedrich
Merz. Di AS, polarisasi membelah segalanya. Setiap pemimpin di era modern ini
tampaknya harus puas dengan modal politik di mana setidaknya 50% rakyat
mengutuk mereka sejak hari pertama pelantikan. Indonesia
tidak luput dari drama ini. Ramalan tentang "Indonesia Gelap" atau
"Di Ambang Kehancuran" laku keras di media sosial sebagai komoditas
wacana. Pesimisme menjadi agama baru. Sebagai seorang pengamat yang mencoba
tahu diri, saya melihat sebuah teka-teki psikologi sosial: mengapa masyarakat
yang secara statistik jauh lebih sejahtera dibanding orang tua mereka dulu,
justru menjadi masyarakat yang paling cemas? Mayoritas mutlak hari ini telah
melampaui batas kebutuhan minimum. Mereka punya nasi di piring, atap di atas
kepala, pakaian yang layak, dan anak-anak yang bisa mengecap bangku sekolah.
Namun, ketidakpuasan tetap menjadi panglima. Saya pun sering mengutuk situasi
di Jerman dengan nada yang sama ketusnya. Kadang saya merenung, jangan-jangan
ketidakpuasan kita terhadap dunia luar sebenarnya hanya cerminan dari
ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Entahlah. Jika
kita menengok sejarah 80 tahun Indonesia, grafiknya menunjukkan kurva yang
menanjak. Selama 50 tahun menjadi saksi, saya melihat bagaimana nasib
keluarga besar istri saya, seorang perempuan Jawa yang besar di Jakarta
berubah ke arah positif. Kini mereka hidup jauh lebih baik, lebih sehat, dan
lebih mapan. Kehadiran BPJS Kesehatan, sebuah sistem jaminan yang sering
dicaci karena antreannya adalah salah satu lompatan kemanusiaan terbesar di
negeri ini. Tentu, ini bukan berarti semua orang sudah makmur. Bagi jutaan
orang, kehidupan sehari-hari tetaplah sebuah survival, sebuah pertarungan
yang melelahkan. Namun, struktur negara ini relatif stabil. Bayangan perang
saudara seperti yang terjadi di beberapa negara Afrika terasa absurd di sini.
Indonesia memiliki daya lentur sebuah ketahanan terhadap krisis yang luar
biasa. Dulu,
saya adalah nabi palsu yang buruk. Saya ingat betul tahun 1998, setelah
Soeharto tumbang. Dengan wajah penuh kecemasan intelektual, saya berceramah
di depan mahasiswa-mahasiswa saya di universitas, meramalkan bahwa Indonesia
akan mengalami "Balkanisasi". Saya merasa tahu negeri ini akan
pecah berkeping-keping dalam perang etnis. Sejarah, dengan sifatnya yang
jenaka, membuktikan bahwa saya salah besar. Saya juga pernah cemas secara
berlebihan tentang apa yang saya sebut "Arabisasi Islam Indonesia".
Saya takut toleransi akan runtuh di bawah kaki fanatisme. Sekali lagi, saya
terlalu pesimistis. Saya meremehkan daya lentur masyarakat Indonesia dalam
merawat tenun toleransinya. Belajar dari salah ramal itu, kini saya cenderung
memandang sinis keluhan-keluhan kelas menengah atas di kedai kopi estetis
Jakarta. Mereka yang meratap paling nyaring ketika rupiah melemah atau harga
barang naik, seringkali berbicara seolah-olah mereka memikul penderitaan yang
sama beratnya dengan orang miskin kota yang mengantre program Makan Bergizi
Gratis (MBG). Ada narsisme dalam penderitaan kelas menengah kita. Refleksi
ini juga saya kembangkan dalam puisi “Indonesia Krisis, Krisis Melulu” yang
beberapa minggu yang lalu telah terbit di OrbitIndonesia
(https://orbitindonesia.com/detail/1TBqohYO93/berthold-damshauser-indonesia-krisis-krisis-melulu). Namun,
keadilan sosial bukanlah sebuah fiksi yang bisa diabaikan dengan tawa ironis.
Ketimpangan di Indonesia adalah sebuah skandal yang dingin. Sila kelima
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia tampak seperti hiasan dinding
yang bisu jika kita membaca data kekayaan dari Credit Suisse Global Wealth
Data: 1% orang terkaya menguasai hampir 49% total kekayaan privat di
Indonesia. Sementara 10% teratas menguasai sekitar 77% kekayaan, menyisakan
hanya 23% untuk 90% populasi sisanya. Lebih tragis lagi, 40% terbawah dari
masyarakat kita hanya berbagi 1,4% dari kue kekayaan nasional. Menurut
perhitungan Oxfam, organisasi internasional yang sejak lama meneliti
kemiskinan dan ketimpangan sosial, kekayaan empat orang terkaya di Indonesia
lebih besar daripada gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Ini bukan
lagi ketimpangan; ini adalah anomali yang ekstrem. Akar
masalahnya klise namun kokoh: gurita konsentrasi kepemilikan tanah, oligarki
yang berkelindan karib dengan elite politik, ketimpangan akses pendidikan,
dan absennya negara kesejahteraan yang kuat. Para miliarder di Indonesia
seharusnya bersujud syukur setiap hari. Massa yang miskin menerima
ketimpangan ini dengan kepasrahan yang luar biasa patuh, tanpa revolusi,
tanpa kemarahan yang membakar. Mengapa? Karena pembersihan ideologi kiri
(sosialis dan proletar) pasca-1965 telah berhasil dengan sangat gemilang. Di
Indonesia, memikirkan keadilan redistributif seringkali langsung dicap dengan
ketakutan histeris masa lalu. Kini,
kecemasan saya bergeser pada hal-hal yang tidak mengenal paspor: perubahan
iklim, naiknya permukaan laut, dan mikroplastik yang meracuni air kita.
Indonesia berada di garis depan bencana ini, seperti yang diingatkan oleh
banjir besar di Sumatra pada tahun 2025 lalu. Ada juga ketegangan geopolitik.
Secara geografis, Indonesia mungkin beruntung karena posisinya membuat
dataran ini kecil kemungkinan menjadi medan laga perang konvensional (berbeda
dengan Eropa atau Timur Tengah). Namun jika perang besar pecah dan sistem
finansial global runtuh, Indonesia akan terseret dalam krisis dan gejolak
sosial yang hebat. Jika itu terjadi, orang-orang di tahun-tahun mendatang
akan menengok ke belakang, ke tahun 2026, dan menyebutnya sebagai "Zaman
Keemasan" sebuah waktu di mana kita mengeluh padahal kita sedang
baik-baik saja. Dalam
ranah politik praktis, menarik untuk melihat tesis dari buku penting Vedi R.
Hadiz dan Richard Robison yang terbit tahun 2026 ini, Oligarchy and the End
of Reformasi in Indonesia: Power Reorganised. Tesis mereka ringkas namun
mematikan: Jatuhnya Soeharto dan fajar Reformasi 1998 tidak pernah
menghancurkan struktur kekuasaan oligarki. Para aktor lama ini justru
berhasil mendompleng institusi demokrasi yang baru—pemilu bebas, kebebasan
pers, dan desentralisasi—untuk mengorganisasi ulang kepentingan mereka.
Demokrasi liberal di Indonesia, pada akhirnya, hanyalah sebuah gelanggang baru
bagi para oligark untuk melegitimasi kekuasaan mereka. Ini adalah kesimpulan
yang pahit. Demokrasi liberal gagal menjinakkan kekuatan konglomerat atau
melahirkan keadilan sosial. Korupsi pun hanya mengalami desentralisasi.
Akibatnya, di masa depan, masyarakat mungkin akan mulai meragukan efektivitas
demokrasi itu sendiri. Apalagi ketika mereka melihat ke utara, ke arah Cina
yang otoriter namun begitu digdaya secara ekonomi. Kini,
kita mendengar narasi bahwa Presiden Prabowo ingin memangkas kuku para
konglomerat dan memperkuat kendali negara dalam ekonomi. Ini adalah
eksperimen politik yang mendebarkan sekaligus berbahaya. Jika kebebasan pasar
dikurangi demi negara yang kuat, kita mungkin sedang berjalan kembali menuju
otoritarianisme yang rapi. Konflik internal di antara elite politik bisa
pecah, sebab mayoritas dari mereka adalah bagian dari elite ekonomi itu
sendiri. Ironisnya, selama ini kerja sama yang harmonis di antara para elite
dalam membagi "kue kekuasaan" adalah jaminan utama stabilitas
politik Indonesia. Kini,
kita mendengar narasi bahwa Presiden Prabowo ingin memangkas pengaruh para
konglomerat dan memperkuat kendali negara dalam ekonomi. Dorongan semacam ini
dapat dipahami sebagai reaksi terhadap struktur ekonomi yang lama timpang, di
mana konsentrasi kekayaan dan kekuasaan berada di tangan segelintir kelompok.
Dalam perspektif ini, ada upaya untuk mengoreksi ketidakseimbangan historis
yang selama ini sulit disentuh oleh mekanisme pasar semata. Namun, ini tetap
merupakan eksperimen politik yang mendebarkan sekaligus berisiko. Sejarah
menunjukkan bahwa penguatan negara dalam ekonomi dapat dengan mudah bergeser
dari koreksi menuju kontrol yang berlebihan. Jika kebebasan pasar dikurangi
secara drastis, kita bisa memasuki fase baru relasi negara-ekonomi yang tidak
mudah diprediksi, dengan konsekuensi yang tidak selalu sejalan dengan niat
awalnya. Konflik internal di antara elite politik juga bisa muncul, sebab
banyak di antara mereka sendiri adalah bagian dari jaringan ekonomi yang
sama. Ironisnya, stabilitas politik Indonesia selama ini justru bertumpu pada
kompromi halus di antara elite dalam membagi “kue kekuasaan”. Jika
keseimbangan ini pecah, stabilitas akan goyah, dan seperti biasa, korbannya
adalah rakyat kecil. Di
akhir perjalanan setengah abad saya, sebuah kesan menggelitik tersisa. Saya
selalu kagum melihat orang Indonesia sebagai nasionalis yang menyala-nyala.
Mereka mencintai nusa dan bangsa dengan segenap jiwa. Lagu Indonesia Raya
dinyanyikan dengan semangat yang menggetarkan dada; kemenangan tim nasional
sepak bola dirayakan seolah-olah langit baru saja menghadiahkan mukjizat.
Namun, ada distorsi yang membingungkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa
cinta yang meluap-luap pada tanah air itu seringkali gagal menjelma menjadi
tindakan altruistik dan idealis terhadap negara? Di tingkat praktis,
kalkulasi yang muncul seringkali egois: "Apa yang bisa saya peras dari
negara ini untuk keuntungan saya?", dan bukan "Apa yang bisa saya
berikan untuk negara ini?". Nasionalisme Indonesia tampaknya berhenti di
tribun stadion dan ruang upacara, lalu menguap di jalan raya dan meja
birokrasi. Tapi
tentu saja, semua ini hanyalah kesan seorang pengamat asing yang sudah
terlalu lama hidup bersama Indonesia. Seorang penulis tua yang mungkin saja
keliru—atau barangkali hanya diam-diam iri karena belum juga bisa menjadi
orang Indonesia seutuhnya. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/E4qgVUrwO8/menuju-81-tahun-indonesia-inflasi-krisis-dan-realitas
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar