|
Hidup Makin Susah, Anak Muda China Terpaksa
Berbagi Ranjang Luki
Aulia : Wartawan Kompas |
KOMPAS, 30 Juli 2026
|
Tekanan ekonomi membuat sebagian pekerja muda China memangkas
pengeluaran mereka hingga ke ruang paling pribadi, yakni tempat tinggal. Di tengah kota-kota China yang dipenuhi gedung pencakar langit,
pusat perbelanjaan, dan teknologi masa depan, sebagian anak mudanya justru
sedang belajar hidup dengan ruang yang semakin sempit. Salah satunya Winnie
Zeng (25). Untuk menghemat 450 yuan (Rp 1,2 juta) setiap bulan, ia memilih
berbagi tempat tidur dengan perempuan lain yang sebelumnya tidak dikenalnya.
Bagi Zeng, keputusan itu bukan eksperimen gaya hidup. Dengan penghasilan
sekitar 4.000 yuan (Rp 10,7 juta) sebulan, jumlah 450 yuan itu sangat
berarti. Karena bisa berhemat untuk tempat tinggal, Zeng bisa mengurangi
pengeluaran sekaligus menabung lebih banyak untuk berjaga-jaga jika suatu
hari kehilangan pekerjaan. Di sebuah negara yang sedang gencar membangun
kota-kota futuristik, mendorong industri kendaraan listrik, dan berlomba
menjadi pusat kecerdasan buatan (AI) dunia, Zeng justru sedang menghitung
nilai sebuah tempat tidur. Kisah Zeng di Kota Wuhan ini menjadi salah satu gambaran paling
sederhana tentang perubahan yang sedang terjadi di kalangan pekerja muda
China. Kantor berita Reuters, Selasa (28/7/2026), menyebutkan, pembicaraan
tentang fenomena berbagi kamar, bahkan tempat tidur, belakangan ramai di
media sosial. Fenomena itu masih sedikit dibandingkan sekitar 260 juta penyewa
hunian di China. Namun, perhatian ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan
semata-mata tentang orang yang tidur dalam satu ranjang yang sama. Yang
sedang dibicarakan adalah uang, penghasilan, dan rasa tidak aman. Di Beijing, Morgan Pan (39) mulai berbagi kamar setelah
perusahaan rintisan AI tempatnya bekerja terlihat bangkrut. Pendapatannya
kini kurang dari separuh dibandingkan sebelumnya. Seorang mantan pekerja
teknik sipil bernama Wang juga memilih berbagi tempat tinggal setelah
perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Keduanya tidak sedang mengejar kehidupan minimalis. Mereka sedang
menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berubah. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi China melahirkan
keyakinan bahwa hidup akan terus bergerak ke arah yang lebih baik. Pekerjaan
di kota berarti pendapatan yang lebih tinggi. Memiliki pendapatan berarti
punya rumah yang lebih baik, konsumsi yang lebih besar, dan masa depan yang
lebih pasti. Bagi sebagian anak muda, rantai itu kini tidak lagi terasa
sesederhana dulu. Ekonomi China masih tumbuh. Pada kuartal I-2026, produk domestik
bruto China tumbuh 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya. Namun, pertumbuhan kuartal II melambat menjadi 4,3 persen, dari 5
persen pada kuartal I. Angka itu jauh dari gambaran sebuah ekonomi yang runtuh.
Manufaktur masih tumbuh 5,5 persen. Sektor informasi, perangkat lunak, dan
teknologi informasi tumbuh 10,7 persen. China tetap memproduksi teknologi
masa depan dalam skala raksasa. Namun, persoalan ekonomi tidak selalu terlihat dari pabrik yang
tutup atau gedung yang kosong. Kadang-kadang ia terlihat dari keputusan kecil
di dalam rumah, seperti makan di rumah daripada di restoran, menunda membeli
pakaian, memilih kamar yang lebih murah, atau berbagi tempat tidur. Di situlah angka pertumbuhan mulai bertemu dengan kehidupan
sehari-hari. Penjualan ritel barang dan jasa di China pada semester I-2026
hanya tumbuh 1,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Juni
2026, pertumbuhannya bahkan hanya 1 persen. Masyarakat masih berbelanja,
tetapi tampaknya semakin berhitung. Bagi sebuah negara yang ingin memperkuat konsumsi domestik, ini
menjadi persoalan penting. Pertumbuhan ekonomi butuh masyarakat yang bersedia
mengeluarkan uang. Namun, seseorang yang tidak yakin dengan pekerjaannya
bulan depan akan cenderung lebih menyimpan uangnya. Bukan karena tidak ingin membeli apa-apa, melainkan karena takut
tidak akan punya cukup uang jika terjadi sesuatu yang buruk. Kecemasan itu
yang dirasakan anak muda China saat ini. Kekhawatiran itu wajar mengingat tingkat pengangguran China untuk
kelompok usia 16-24 tahun -tidak termasuk pelajar- berada di angka 14,9
persen (data Juni 2026). Angka itu turun dari 15,6 persen pada Mei dan
menjadi yang terendah dalam setahun. Namun, itu tetap berarti hampir satu dari tujuh anak muda dalam
kelompok tersebut yang berada di pasar kerja belum mendapatkan pekerjaan.
Untuk kelompok usia 25-29 tahun, tingkat pengangguran mencapai 7,1 persen. Bagi anak muda China, uang punya arti yang berbeda saat kondisi
sedang susah. Gaji bukan hanya untuk mendapatkan hidup yang lebih nyaman,
melainkan juga perlindungan. Karena itu, banyak anak muda memilih menabung
ketimbang membeli. Berbagi tempat tinggal dan tempat tidur juga jadi bentuk kompromi
karena pendapatan yang berkurang. Ketika seseorang memilih berbagi ranjang
demi menghemat Rp 1,2 juta, batas antara pilihan dan kebutuhan menjadi
semakin tipis. Perubahan ini juga bisa menjalar ke keputusan-keputusan yang
lebih besar. Anak muda yang tidak yakin dengan pekerjaan akan berpikir lebih
lama sebelum membeli rumah. Mereka mungkin menunda pernikahan karena biaya
hidup. Keputusan memiliki anak juga menjadi lebih berat ketika pendapatan
tidak pasti. Bahkan membeli mobil atau barang rumah tangga bisa dianggap
sebagai pengeluaran yang sebaiknya ditunda. Ini berarti persoalannya bukan
hanya apakah anak muda China punya uang, melainkan lebih pada apakah mereka
cukup percaya pada masa depan untuk membelanjakan uang itu. Ini tidak berarti anak muda China tak ingin punya kehidupan lebih
baik. Justru karena mereka menginginkannya, mereka merasa harus lebih
berhati-hati agar tidak kehilangan apa yang sudah dimiliki. Kisah Zeng lebih
besar daripada sekadar cerita tentang sebuah kamar di Wuhan. Tempat tidur biasanya merupakan ruang paling pribadi dalam
kehidupan seseorang. Itu tempat beristirahat setelah bekerja, tempat orang
menutup pintu dari dunia luar. Namun, ketika ruang itu bisa dibagi demi
menghemat, yang sedang berubah tidak hanya cara seseorang tidur, tetapi cara
seseorang memandang kehidupan. Kenyamanan mulai punya harga yang harus dihitung dan masa depan
mulai butuh dana cadangan. Kebebasan untuk hidup sendiri pun mulai bersaing
dengan kebutuhan untuk merasa aman. Seperti Zeng. Ia menyerahkan sebagian ruang pribadinya untuk
mendapatkan sesuatu yang mungkin lebih berharga in this economy, yakni
tabungan. Ia rela mengurangi rasa nyaman, rela menunda keinginan-keinginan
untuk beli sesuatu, atau impian-impiannya. (REUTERS) ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar