|
Republik yang Tidak Pernah Salah Laksamana Sukardi : Ekonom dan Politikus Indonesia. |
ORBIT INDONESIA, 15 Juni 2026
|
(Satire tentang bangsa
yang kaya, bahagia, demokratis, dan selalu menemukan penjelasan untuk segala
sesuatu kecuali mengapa tidak dipercaya.) Indonesia adalah negara
yang sangat istimewa. Tuhan memberikan hampir
semua yang dibutuhkan untuk menjadi negara maju. Minyak ada. Gas ada. Nikel ada. Emas ada. Batu bara ada. Sawit ada. Laut luas. Tanah subur. Penduduk besar. Posisi geografis
strategis. Kalau setelah semua itu
kita masih kesulitan, berarti kita sangat kreatif dalam menciptakan masalah
sendiri. ** Kita bangga menjadi salah
satu demokrasi terbesar di dunia. Rakyat bebas memilih
pemimpin yang bukan pilihannya. Pemimpin diseleksi
terlebih dahulu oleh elit partai politik. Partai politik
menyodorkan kambing, maka serigala akan dipimpin oleh seekor kambing. Pemilu hanya alat
legitimasi triliunan rupiah dari pajak rakyat. Wakil rakyat yang dipilih
untuk jadi pengawas, tunduk kepada yang diawasi. Pemimpin bebas memilih
siapa yang mengawasi dirinya. Yang diawasi bebas
memilih siapa yang menulis laporannya. Yang menulis laporan
bebas memilih kesimpulannya. Lalu semua orang
menyebutnya checks and balances. Karena kalau disebut
arisan kekuasaan, terdengar kurang akademis. ** Kita juga termasuk bangsa
paling bahagia di dunia. Ini pencapaian yang luar
biasa. Di negara lain, orang
bahagia setelah sejahtera. Di Indonesia, orang
bahagia tanpa harus sejahtera, bahkan bahagia sebelum bisa makan. Cita cita menjadi pejabat
jaminan perut kenyang dan bahagia. Korupsi tinggi? Bahagia. Pajak bocor? Bahagia. Rupiah melemah? Bahagia. IHSG turun? Bahagia. Kepercayaan investor
hilang? Tetap bahagia. Kalau Titanic versi
Indonesia tenggelam, kemungkinan penumpangnya masih sempat berkata: “Yang penting kita tetap
optimis.” Kita selfie dulu ! ** Ekonomi kita katanya
kuat. PDB besar. Komoditas melimpah. Ekspor tinggi. Tetapi anehnya devisa
banyak parkir di luar negeri. Enggan kembali ke rumahnya Mungkin uang juga punya
naluri bertahan hidup. Ia pergi ke tempat yang
membuatnya merasa aman. Di Indonesia uang bisa
dicekal. Uang dipajang di
kejaksaan sebagai saksi bisu hasil korupsi. Menjadi back-drop narasi
korupsi walaupun koruptornya tidak jelas. ** Tax ratio kita kecil. Ini prestasi yang sulit
ditiru negara lain. Ekonomi besar. Produksi
dan belanja besar. Aktivitas ekonomi ramai. Tetapi penerimaan negara
selalu terasa kurang. Seperti restoran yang
selalu penuh pengunjung tetapi pemiliknya mengaku tidak pernah untung. Karena
dipalak preman jalanan. Semua orang tahu ada yang
aneh. Tetapi tidak ada yang
tahu siapa yang harus merasa malu. Atau mungkin semua tahu. Hanya tidak ada yang mau
mulai. “Sesama bis kota dilarang
saling mendahului!” ** Lalu sekarang kita
menghadapi masalah yang sebenarnya sederhana. Bukan kekurangan sumber
daya. Bukan kekurangan
penduduk. Bukan kekurangan loyalis. Kita hanya kekurangan
sesuatu yang tidak bisa ditambang, dicetak, atau dipinjam. Kepercayaan. Dan ternyata kepercayaan
adalah aset yang lebih mahal daripada nikel, emas, maupun batu bara. ** Ada satu hal yang selalu
membuat investor asing tercengang. Mereka melihat negara
kaya raya yang mencari tambahan utang dengan bunga yang tinggi. Mereka melihat fiskal
yang semakin sempit. Mereka melihat penerimaan
negara yang tidak pernah cukup. Mereka melihat Rupiah
tertekan. Mereka melihat pasar
modal tertinggal. Lalu mereka melihat para
elitnya. Perjalanan mencari utang
menggunakan Private jet. Rolls-Royce. Jam tangan seharga rumah. Jas branded Eropa. Hotel termewah. Delegasi yang jumlahnya
cukup untuk membentuk klub sepak bola. Dan dengan semua
kemewahan tersebut… mereka pergi mencari
pinjaman. Seharusnya menjadi donor
atau kreditor. Ini mungkin satu-satunya
model bisnis di dunia yang datang ke bank memakai Rolls-Royce untuk meminta
kredit. Bayangkan seseorang turun
dari jet pribadi. Masuk ke bank dengan jas
Italia. Duduk dengan penuh
wibawa. Lalu berkata: “Maaf Pak, negara saya
sedang kekurangan uang.” Itu private Jet dan Roll
Royce milik pribadi, bukan milik negara. Biaya pribadi! Petugas bank bingung. Harus menawarkan pinjaman
atau konseling keuangan. ** Dalam dunia bisnis ada
prinsip sederhana. Kalau Anda benar-benar
kaya, Anda tidak perlu terlihat kaya. Kalau Anda perlu terlihat
kaya, biasanya ada sesuatu yang sedang ditutupi. Karena kepercayaan lahir
dari kredibilitas. Bukan dari kemewahan. Investor tidak pernah
bertanya: “Berapa banyak private
jet, Rolls-Royce yang dimiliki para pejabat negara ini?” Investor bertanya: “Apakah aturan bisa
berubah besok pagi?” “Apakah kontrak
dihormati?” “Apakah hukum tidak
selektif, berlaku sama untuk semua?” “Apakah ada institusi
negara yang berani berkata tidak kepada penguasa?” Pertanyaan yang sangat
membosankan. Pertanyaan tersebut
sangat penting, arus modal selalu
mengikuti jawaban atas pertanyaan itu. ** Lalu kita heran. Mengapa Rupiah melemah? Mengapa IHSG tertinggal? Mengapa arus modal
keluar? Mengapa kepercayaan
turun? Kita seperti pasien yang
makan gorengan tiga kali sehari, merokok dua bungkus, tidur tiga jam, tidak
pernah olahraga, lalu marah kepada timbangan. “Timbangan ini pasti
bagian dari oposisi atau antek asing” ** Masalah terbesar
Indonesia sebenarnya bukan utang. Bukan defisit. Bukan birokrasi. Bukan bahkan korupsi. Masalah terbesar
Indonesia adalah terlalu banyak orang yang tidak pernah merasa bersalah. Karena orang yang merasa
bersalah masih bisa belajar. Orang yang tidak pernah merasa
bersalah akan terus mengulang kesalahan sambil menyalahkan orang lain. ** Ketika pasar khawatir: “Pasarnya tidak
mengerti.” Ketika investor pergi: “Investornya kurang
nasionalis.” Ketika akademisi
mengkritik: “Antek-antek asing.” Ketika media
mengingatkan: “Narasinya negatif.” Ketika rakyat mulai
cemas: “Kurang optimis.” Menarik sekali. Semua salah. Kecuali mereka. ** Lama-lama kita hidup di
negara yang tidak punya masalah. Karena semua masalah
berhasil diubah menjadi masalah persepsi. Ekonomi bukan masalah
ekonomi. Kepercayaan bukan masalah
kepercayaan. Pasar bukan masalah
pasar. Semuanya masalah
komunikasi. Kalau begitu, dokter juga
tidak perlu lagi mengobati penyakit. Semua akan mati dan
dikubur masal. Narasi akhirnya akan mati
ikut dikubur. ** Yang paling berbahaya
adalah echo chamber atau ruangan bergema. Tempat di mana kritik
mati sebelum lahir. Tempat di mana fakta
harus meminta izin sebelum masuk. Tempat di mana setiap
kalimat berakhir dengan: “Benar sekali Pak.” “Luar biasa Pak.” “Visioner sekali Pak.” “Siyap Komandan!” “Sejarah akan mencatat
Pak.” Memang sejarah selalu
mencatat. Masalahnya, sejarah tidak
bekerja sebagai tim humas. ** Dalam sejarah dunia,
negara jarang runtuh karena kekurangan orang pintar. Negara lebih sering
bermasalah karena terlalu banyak pemimpin yang hanya mendengar suaranya
sendiri. Mereka kehilangan
kemampuan yang paling penting dalam kepemimpinan: Kemampuan untuk merasa
tidak nyaman. Karena rasa tidak nyaman
adalah alarm. Dan alarm yang dimatikan
tidak membuat kebakaran berhenti. ** Pertanyaan terbesar kita
bukan: Apakah Indonesia kaya? Sudah jelas kaya. Bukan: Apakah Indonesia punya
masa depan? Sudah jelas punya. Pertanyaannya adalah: Apakah kita masih punya
rasa malu? Karena rasa malu adalah
sistem peringatan terakhir sebuah bangsa. Saat korupsi tidak lagi
memalukan. Saat konflik kepentingan
tidak lagi memalukan. Saat ketidakmampuan tidak
lagi memalukan. Saat tong kosong berbunyi
nyaring tidak lagi memalukan. Saat kehilangan
kepercayaan dianggap tidak pernah ada. Karena kepercayaan tidak
hadir dalam kosa kata kamus bernegara Maka yang hilang bukan
hanya kekayaan. Yang hilang adalah hati
nurani kolektif. ** Dan bangsa yang
kehilangan hati nurani biasanya tidak langsung bangkrut. Mereka tetap mengadakan
konferensi. Tetap membuat slogan. Tetap membayar buzzer. Tetap meniup lilin ulang
tahun. Tetap berpidato. Tetap berfoto. Tetap bertepuk tangan. Tetap naik pesawat
pribadi Sampai suatu hari mereka
menemukan kenyataan yang sangat sederhana: Pasar tidak mendengar
pidato. Investor tidak membaca
slogan. Uang tidak memilih
passport. Dan kepercayaan tidak
bisa dipaksa oleh kekuasaan. ** Namun kita tetap boleh
optimis. Karena sejarah juga
mengajarkan sesuatu. Bahwa bangsa tidak
berubah ketika penderitaannya cukup besar. Bangsa berubah ketika
rasa malunya akhirnya lebih besar daripada egonya. Dan mungkin reformasi
yang paling dibutuhkan hari ini bukan reformasi fiskal. Bukan reformasi
birokrasi. Bukan reformasi hukum. Melainkan reformasi hati
nurani. Kemampuan sederhana untuk
berkata: “Ya, kami salah.” Kalimat yang sangat
murah. Tidak membutuhkan APBN. Tidak membutuhkan utang. Tidak membutuhkan
konsultan. Tetapi entah mengapa, menjadi komoditas paling
langka di negeri yang konon kaya raya ini. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/jMbP66FmOU/laksamana-sukardi-republik-yang-tidak-pernah-salah |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar