|
KEPUASAN ATAS PRABOWO MEROSOT TAPI DAPAT NAIK KEMBALI • Berkaca
dari Kisah Ronald Reagan dan Jimmy Carter Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 29 Juli 2026
|
Tidak
ada grafik yang terus menanjak. Tidak ada pula grafik yang terus menurun.
Begitulah kehidupan manusia, perusahaan, bangsa, dan para pemimpin. Setiap
kurva hanyalah potret sesaat dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Karena
itu, merosotnya kepuasan terhadap kinerja seorang presiden tidak selalu
menjadi pertanda akhir. Ia sering kali justru menjadi saat paling berharga
ketika kenyataan memaksa seorang pemimpin berhenti sejenak, mendengar lebih
sungguh, lalu memperbaiki arah. Sejarah
berulang kali menunjukkan bahwa banyak kebangkitan besar lahir bukan setelah
kemenangan, melainkan setelah peringatan. Yang
berbahaya bukanlah ketika angka kepuasan menurun atas kinerja seorang
presiden. Yang berbahaya adalah ketika penurunan itu dianggap sekadar
gangguan statistik, bukan suara rakyat yang meminta perubahan. Menjelang
pasar tutup, seorang pedagang sembako menghitung uang hasil jualannya.
Tangannya bergerak lambat. Hari itu, lebih banyak orang bertanya tentang
harga daripada membeli, seolah setiap rupiah harus dipertahankan lebih lama. Seorang
pelanggan mengurangi jatah beras. Pelanggan lain mengembalikan telur ke rak
karena uang di dompet tidak lagi cukup. Bagi pedagang itu, kesulitan ekonomi
hadir sebagai wajah-wajah yang pulang membawa belanja lebih sedikit. Malamnya,
ia mendengar berita tentang menurunnya kepuasan terhadap kinerja Presiden
Prabowo. Baginya, angka survei bukan sekadar persentase. Angka itu menjelma
menjadi pelanggan yang datang dengan kecemasan dan pulang dengan kantong
lebih ringan. Nasib
seorang pemimpin akhirnya tidak ditentukan oleh tepuk tangan di ruang
konferensi. Ia ditentukan oleh keputusan sunyi jutaan keluarga ketika memilih
apa yang dibeli, ditunda, dikurangi, atau terpaksa dilepaskan. Sebab
hasil survei bukan lonceng kematian bagi kekuasaan. Ia adalah alarm yang
berbunyi sebelum pintu kepercayaan benar-benar tertutup. Pemimpin
yang besar tidak memusuhi alarm itu, tidak memecah termometernya, dan tidak
menyalahkan rakyat yang merasa demam. Ia
justru membaca gejalanya, menemukan sumber sakitnya, lalu bekerja sampai
bangsa kembali merasakan harapan di dalam kehidupan sehari-hari mereka,
secara nyata, perlahan, tetapi semakin pasti. -000- Dalam
politik, ada dua jenis angka yang sama pentingnya. Yang pertama mengukur
ekonomi: inflasi, pertumbuhan, investasi, produksi, dan nilai tukar. Yang
kedua mengukur psikologi: kepercayaan, harapan, dan kepuasan publik. Angka
ekonomi menggambarkan keadaan negara. Angka psikologi merekam suasana batin
bangsa. Ketika keduanya melemah, yang berubah bukan hanya grafik
pemerintahan, melainkan juga cara rakyat memandang hari esok. Pada
14 sampai 21 Juni 2026, LSI Denny JA mensurvei 1.200 responden secara
nasional, dengan margin of error sekitar 2,9 persen. Hasilnya menunjukkan
penurunan cukup tajam dalam kepuasan terhadap Presiden Prabowo. Hasil
lengkap survei LSI Denny JA maupun Indikator Politik Indonesia belum terbit
resmi. Keduanya memperlihatkan kecenderungan yang sama, tetapi di sini
dipakai hanya sebagai penanda awal arah perubahan, bukan rujukan utama. Rujukan
utama esai ini adalah survei SMRC yang dikerjakan pada 5 sampai 19 Juli 2026
dan dirilis pada 26 Juli, terhadap 749 responden, dengan margin of error
sekitar 3,7 persen. SMRC
mencatat kepuasan terhadap Presiden Prabowo turun dari 81,2 persen pada
November 2025 menjadi 66,4 persen pada akhir Februari sampai awal Maret 2026,
lalu tinggal 51,1 persen pada Juli 2026. Penurunan
sekitar tiga puluh poin persentase dalam sembilan bulan bukan lagi fluktuasi
kecil. Ia mengisyaratkan perubahan yang cukup dalam pada hubungan psikologis
antara rakyat dan pemerintah yang sedang mereka nilai. Sumber
utama ketidakpuasan bukanlah ideologi atau keamanan, melainkan ekonomi rumah
tangga. Susahnya mencari kerja dan kebutuhan pokok muncul sebagai kegelisahan
paling dekat, paling sering dirasakan, dan paling sulit dibantah oleh angka
makro. SMRC
juga menemukan penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional merosot
tajam. Sentimen negatif itu disebut termasuk yang terburuk dalam rangkaian
surveinya selama beberapa tahun terakhir. Hukum
politik hampir tidak pernah berubah. Rakyat tidak menilai keberhasilan
ekonomi melalui pidato Presiden atau siaran pers kementerian, melainkan
ketika membeli beras, membayar sekolah, mengisi bensin, dan menghitung sisa
penghasilan keluarga. -000- Ekonomi
bukan satu-satunya sumber kegelisahan. Dua program unggulan pemerintahan
Prabowo, Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, mulai memasuki
ujian kepercayaan publik yang lebih berat. SMRC
mencatat lebih dari 95 persen masyarakat mengetahui program Makan Bergizi
Gratis. Namun pengenalan tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Ketika
pelaksanaannya dinilai, mayoritas justru menyatakan kurang atau tidak puas. Pada
Koperasi Desa Merah Putih, banyak warga belum yakin program itu mampu
memperbaiki ekonomi desa. Tujuannya diterima sebagai cita-cita baik, tetapi
tata kelola dan dampaknya masih mengundang keraguan. Pemerintah
karena itu tidak lagi terutama membutuhkan sosialisasi yang lebih gencar.
Yang dibutuhkan adalah pelaksanaan yang aman, transparan, tepat sasaran,
serta sungguh menjawab pengalaman konkret masyarakat. Ketika
pengalaman rakyat bertentangan dengan cerita pemerintah, pengalaman itulah
yang menang. Harga cabai di pasar lebih meyakinkan daripada slogan di baliho,
dan isi dompet lebih dipercaya daripada isi pidato. Popularitas
dapat turun, lalu bangkit kembali. Namun popularitas juga dapat terus merosot
apabila pemerintah gagal membaca pesan rakyat, mengoreksi pelaksanaan
program, dan menghadirkan hasil yang benar-benar terasa. -000- Ketika
membaca angka-angka itu, ingatan saya melayang kepada dua Presiden Amerika
Serikat yang pernah berdiri di persimpangan sejarah serupa: Ronald Reagan dan
Jimmy Carter, dua pemimpin dengan akhir politik berbeda. Keduanya
menghadapi ekonomi sulit, inflasi tinggi, pengangguran, dan approval rating
yang merosot. Namun sejarah membawa mereka menuju pelabuhan berbeda. Reagan
menang besar pada 1984, sedangkan Carter kehilangan mandat kedua pada 1980. Approval
Reagan sempat jatuh hingga sekitar 35 persen pada awal 1983. Banyak analis
menduga ia akan menjadi presiden satu periode, sebab resesi masih mendalam
dan pengangguran melampaui sepuluh persen. Namun
sejarah tidak hanya ditentukan oleh beratnya krisis yang diwarisi. Sejarah
lebih sering ditentukan oleh kemampuan pemimpin mengubah kenyataan, bukan
sekadar menjelaskan mengapa keadaan sulit. Perbedaan
pertama antara Reagan dan Carter terletak pada hasil nyata yang dirasakan
masyarakat. Kebijakan moneter ketat Paul Volcker, siklus ekonomi, dan
kebijakan fiskal memang turut membantu menurunkan inflasi. Namun
rakyat cenderung menghubungkan keseluruhan pemulihan itu dengan presiden yang
sedang memimpin. Ketika harga melandai dan lapangan kerja bertambah,
kehidupan sehari-hari memberi kredibilitas kepada kata-kata Reagan. Jimmy
Carter menghadapi pengalaman berbeda. Ia meraih prestasi diplomatik besar
melalui Perjanjian Camp David dan dikenal sebagai pribadi yang jujur,
sederhana, bersih, bermartabat, serta memiliki perhatian mendalam kepada
kemanusiaan. Namun
demokrasi memiliki hukum yang keras. Prestasi internasional jarang mampu
mengalahkan kegelisahan di meja makan keluarga, terutama ketika inflasi
menembus dua digit setelah syok minyak kedua pada 1979, pekerjaan sulit
didapat, dan biaya hidup terus menekan. -000- Perbedaan
kedua adalah cara membangun harapan. Reagan dijuluki The Great Communicator
bukan semata karena kepiawaiannya berbicara, melainkan karena kenyataan
perlahan bergerak mengikuti janji yang ia sampaikan. Ketika
Reagan mengatakan Amerika akan bangkit, rakyat mulai melihat pabrik
beroperasi kembali dan pekerjaan bertambah. Harapan tidak lagi tinggal di
podium. Ia berjalan memasuki rumah-rumah warga. Carter
juga berusaha membangkitkan optimisme. Dalam pidatonya tentang krisis
kepercayaan, ia mengajak bangsa Amerika merenungkan konsumerisme, moralitas,
tanggung jawab bersama, dan hilangnya tujuan dalam kehidupan nasional. Secara
intelektual, pidato itu mendalam. Namun secara politik, banyak warga merasa
Presiden sedang menjelaskan kelemahan masyarakat ketika mereka justru
menunggu pemerintah menunjukkan jalan keluar yang nyata. Dalam
tekanan ekonomi, rakyat membutuhkan cahaya sebelum diajak merenungkan gelap.
Mereka memerlukan bukti sebelum bersedia mendengar filsafat tentang mengapa
sebuah bangsa kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri. Perbedaan
ketiga adalah kemampuan mengelola momentum. Carter sempat memperoleh lonjakan
dukungan ketika diplomat Amerika disandera di Iran dan rakyat untuk sementara
bersatu di belakang Presiden. Namun
dukungan itu tidak bertahan. Krisis berlarut, inflasi tetap tinggi, dan harga
energi terus membebani masyarakat. Simpati berubah menjadi kelelahan, lalu
kekecewaan, dan akhirnya keputusan politik. Reagan
bergerak sebaliknya. Ia memulai dari titik rendah, tetapi pemulihan ekonomi
menghadirkan rangkaian keberhasilan kecil yang perlahan mengembalikan
imajinasi dan kepercayaan rakyat mengenai masa depan Amerika. -000- Indonesia
tentu berbeda dari Amerika. Sistem multipartai dan koalisi besar di parlemen
memberi Presiden Prabowo benteng politik kuat yang tidak dimiliki Reagan
maupun Carter dalam menjalankan pemerintahan. Namun
tanpa efektivitas kerja, dukungan partai dapat berubah menjadi tembok rapuh
ketika gelombang kekecewaan membesar di akar rumput. Koalisi menjaga
pemerintahan, tetapi tidak otomatis memulihkan kepercayaan rakyat. Sebab,
efektivitas kabinet tak ditentukan oleh gemuknya koalisi, melainkan oleh
ketajaman eksekusi. Turunnya
kepuasan terhadap Presiden Prabowo menunjukkan Indonesia sedang berdiri di
persimpangan antara jalan Reagan dan jalan Carter. Sejarah belum menentukan
ke mana langkah pemerintah akan berakhir. Pertanyaan
terpenting bukan lagi mengapa angka survei menurun. Pertanyaan yang
menentukan adalah apakah pemerintah mampu menghadirkan perubahan nyata yang
sungguh dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan
tidak lahir karena rakyat diminta percaya. Ia tumbuh ketika kehidupan memberi
mereka alasan baru untuk percaya, sedikit demi sedikit, melalui pengalaman
yang tak dapat dibantah. -000- Jika
Presiden Prabowo ingin mengambil jalan Reagan, ada lima agenda yang patut
menjadi prioritas. Semuanya bukan sekadar strategi politik, melainkan syarat
agar kepercayaan tumbuh kembali dari pengalaman rakyat. Pertama,
jadikan pemulihan daya beli sebagai proyek nasional utama. Ukuran
keberhasilannya bukan hanya pertumbuhan investasi, melainkan stabilitas harga
pangan, tersedianya pekerjaan, dan meningkatnya penghasilan riil keluarga. Keberhasilan
harus terasa di dapur rakyat. Seorang ibu lebih mudah membeli beras, seorang
ayah lebih mudah memperoleh pekerjaan, dan pedagang kecil kembali melihat
pelanggan berdatangan. Kedua,
benahi pelaksanaan Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Pertahankan tujuannya, tetapi koreksi metode, tata kelola, skala, dan
pengawasan berdasarkan pengalaman di lapangan. Transparansi
anggaran, keamanan pangan, ketepatan sasaran, kualitas gizi, penggunaan bahan
lokal, serta kecepatan menangani keluhan harus menjadi ukuran terbuka yang
dapat diperiksa dan dipertanggungjawabkan kepada publik. Ketiga,
jadikan pemberantasan korupsi sebagai bukti keberpihakan kepada rakyat.
Korupsi merusak legitimasi karena membuat masyarakat merasa pengorbanannya
dihisap oleh mereka yang hidup dekat dengan pusat kekuasaan. Penegakan
hukum tanpa pandang bulu akan memberi dampak moral yang kuat. Semakin tinggi
jabatan pelakunya, semakin besar makna politik ketika pemerintah berani
membersihkan rumahnya sendiri. Keempat,
berani mengoreksi kebijakan sebelum rakyat memaksanya. Pemimpin besar bukan
mereka yang tidak pernah salah, melainkan mereka yang cukup rendah hati untuk
belajar dari kenyataan. Koreksi
bukan tanda kelemahan. Ia justru menunjukkan keberanian memilih hasil di atas
gengsi, kepentingan rakyat di atas citra, serta masa depan di atas kesalahan
yang terlanjur dipertahankan. Kelima,
hadirkan keberhasilan-keberhasilan kecil yang konsisten. Kepercayaan tidak
pulih sekaligus. Ia dibangun melalui harga yang lebih stabil, pelayanan yang
lebih mudah, pekerjaan yang bertambah, dan program yang tepat sasaran. Seratus
perubahan kecil yang dirasakan rakyat akan lebih kuat daripada seribu pidato
yang hanya menggema di ruang pertemuan. Optimisme lahir ketika kemajuan dapat
dilihat, disentuh, dan dibuktikan. -000- Di sinilah saya kembali
teringat kepada pedagang sembako di awal tulisan ini. Setiap pagi ia membuka
toko dengan harapan sederhana: semoga hari ini lebih baik daripada kemarin. Ia
berharap pelanggan kembali datang, tidak ada lagi yang mengembalikan telur ke
rak, dan hasil kerja hari itu cukup dibawa pulang untuk keluarganya. Harapan
yang sama hidup di jutaan rumah tangga Indonesia. Mereka tidak menuntut
pemerintah sempurna. Mereka hanya ingin hidup terasa sedikit lebih ringan,
pekerjaan lebih mudah ditemukan, dan harga kebutuhan pokok lebih terjangkau. Turunnya
kepuasan publik bukan vonis sejarah. Ia adalah pesan bahwa rakyat membutuhkan
bukti lebih kuat daripada janji, hasil lebih nyata daripada narasi, dan
perubahan yang sungguh terasa. Reagan
menunjukkan bahwa kepercayaan dapat tumbuh kembali ketika kehidupan rakyat
membaik. Carter mengingatkan bahwa integritas dan niat baik tidak selalu
cukup apabila perubahan datang terlalu lambat. Prabowo
kini berdiri di antara dua jalan itu. Angka survei yang merosot bukanlah
akhir, tetapi peringatan untuk mendengar lebih sungguh, mengoreksi arah, dan
menghadirkan hasil. Para
pemilih belum sepenuhnya berpaling; mereka masih menyisakan ruang bagi
harapan. Yang
mereka tunggu hanya satu: bukti bahwa hidup mereka mulai membaik. ● REFERENSI 1. Gil Troy, The Reagan Revolution: A Very Short
Introduction, Oxford University Press, 2009. 2. Kai Bird, The Outlier: The Unfinished Presidency
of Jimmy Carter, Crown, 2021. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar