|
Kolibri Angkat Gajah Ahmadie Thaha : Kolumnis, mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 26 Juli 2026
|
Dunia AI
berlomba membesarkan gajah. Colibrì memilih belajar menjadi burung kecil:
sumber dayanya terbatas, tetapi akalnya menolak ikut terbatas. Seekor burung kecil sedang mencoba
mengangkat gajah. Begitulah kira-kira kesan pertama membaca kisah Colibrì,
proyek perangkat lunak yang memungkinkan komputer kelas jangkrik menjalankan
otak AI raksasa seperti GLM-5.2. Otak AI bernama GLM-5.2 itu tersusun
dari sekitar 744 miliar parameter — semacam angka-angka hasil belajar yang
menentukan bagaimana AI mengenali pola, memahami pertanyaan, dan menyusun
jawaban. Setelah dipadatkan pun besar filenya masih sekitar 370 GB. Tapi ajaibnya, Colibrì bisa
menjalankannya pada laptop 12-core dengan RAM hanya 25 GB. Ia tak memasukkan
seluruh parameter raksasa itu ke dalam RAM komputer sekaligus. Ia hanya
mengambil bagian yang sedang dibutuhkan, sementara bagian lain tetap disimpan
di SSD atau NVMe dan baru dipanggil ketika tiba gilirannya bekerja. Untuk sekarang, Colibrì memang baru
menggendong “gajah” bernama GLM-5.2. Otak AI ini mempunyai cara kerja yang
disebut Mixture-of-Experts (MoE). Ia dapat diumpamakan seperti sebuah
perusahaan dengan 744 ribu pegawai, tapi setiap pekerjaan hanya membutuhkan
sekitar 40 ribu orang yang keahliannya sesuai. Sisanya, 704 ribu tak perlu ikut
berdesakan masuk kantor; mereka boleh menunggu sampai keahliannya dibutuhkan.
Itulah celah yang dimanfaatkan Colibrì. Pada cara biasa, menjalankan GLM-5.2
membutuhkan komputer dengan memori luar biasa besar atau beberapa kartu
grafis kelas atas yang harganya tentu bukan kelas jangkrik. Colibrì memilih jalan berbeda: yang
sedang bekerja masuk RAM, yang belum diperlukan menunggu di SSD. Namun,
detail teknisnya tentu lebih rumit. Yang pasti, eksperimen Colibrì
membuktikan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin melalui kreativitas dan
kecerdikan mengatasi sebuah masalah. Nama Colibrì sendiri terasa seperti
metafora yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Dalam bahasa Italia,
colibrì berarti burung kolibri, makhluk mungil dari benua Amerika dengan
kemampuan terbang yang tidak biasa. Ia dapat melayang, berputar, melesat,
bahkan terbang mundur. Tubuh kecilnya membutuhkan pasokan
energi terus-menerus dari nektar bunga. Kolibri tidak menjadi perkasa dengan
membesarkan tubuhnya seperti rajawali. Ia mengatasi keterbatasannya dengan
kelincahan dan cara bergerak yang berbeda. Begitu pula perangkat lunak yang
memakai namanya. Ia tidak melawan model AI raksasa dengan komputer yang sama
raksasanya. Ia bergerak antara RAM, VRAM, dan tempat penyimpanan di komputer,
mengambil yang diperlukan, meninggalkan yang belum diperlukan, lalu berpindah
lagi. Ia tidak mengalahkan berat dengan
tenaga, tetapi dengan gerak. Ia tidak menandingi kebesaran dengan kebesaran,
tetapi dengan kecerdikan. Di sinilah Colibrì memberi pelajaran
yang lebih luas: keterbatasan tidak selalu harus dijawab dengan menambah
kekuatan; kadang ia justru memaksa kita menemukan cara baru via kreativitas. Kita hidup pada zaman yang gemar
menyelesaikan kekurangan dengan penambahan. Komputer lambat, tambah RAM.
Model AI tidak muat, beli GPU. Server kurang kuat, beli server baru.
Perusahaan kekurangan kapasitas, tambah anggaran. Semua itu tak salah,
apalagi kalau ada uang untuk membelinya. Colibrì lahir justru karena
pembuatnya, Vincenzo yang dikenal sebagai JustVugg, tak memiliki mesin yang
dianggap pantas menjalankan model sebesar itu. Ia bisa saja menerima nasib:
model 744 miliar parameter memang bukan kelas laptop saya. Selesai. Tetapi Vincenzo tak diam. Ia
mengajukan pertanyaan lain: bagian mana dari model sebesar itu yang
benar-benar diperlukan pada suatu saat? Dari pertanyaan itulah tembok yang
tampaknya kokoh mulai mempunyai pintu. Dalam sejarah teknologi, pintu semacam
itu sering ditemukan oleh mereka yang tak punya cukup uang untuk membeli
tembok baru. Keterbatasan memang mempunyai dua wajah: menjadi alasan untuk
menyerah, atau menjadi ibu kreativitas. Sebab kreativitas sering bukan
kemampuan membuat sesuatu semakin rumit, melainkan menemukan jalan sederhana
yang tak terlihat karena kita terlalu terbiasa dengan jalan mahal. Bagi kita di Indonesia, pelajaran itu
terasa dekat. Tidak setiap sekolah, pesantren, kampus, perpustakaan, kantor
hukum, puskesmas, atau lembaga penelitian mampu membeli server AI bernilai
ratusan juta hingga miliaran rupiah. Laboratorium komputer kita tak
semuanya mempunyai GPU mutakhir. Anggaran riset kita pun sulit bertanding
dengan perusahaan teknologi dunia yang belanja komputasinya dihitung dalam
miliaran dolar. Kalau gelanggang perlombaan ditentukan
semata-mata oleh siapa mempunyai komputer terbesar, kita sudah kalah sebelum
peluit dibunyikan. Tetapi siapa bilang kita harus berlomba di gelanggang itu?
Kolibri tidak mendaftarkan diri dalam lomba angkat besi melawan gajah. Ia
memilih terbang. Kita bisa mengembangkan AI yang lebih
hemat, perangkat lunak yang bekerja pada komputer yang sudah dimiliki
sekolah, perpustakaan digital yang melayani pesantren tanpa pusat data
raksasa, atau teknologi pertanian yang dapat digunakan petani tanpa langganan
mahal. Ukuran keberhasilannya bukan betapa
mengagumkan spesifikasinya ketika dipamerkan, melainkan berapa banyak
persoalan manusia yang dapat diselesaikannya. Di sinilah teknologi bertemu
dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada komputer: nilai. Al-Qur'an memakai ungkapan yang indah:
fastabiqul khairat — berlomba-lombalah dalam kebaikan. Manusia memang suka
berlomba. Perusahaan, universitas, dan negara berlomba; pembuat model AI pun
hampir setiap minggu mengumumkan model yang diklaim paling pintar. Islam tidak mematikan naluri berlomba
itu. Ia mengarahkan garis finisnya: kebaikan. Maka pertanyaannya bukan hanya
siapa membuat model terbesar, memiliki GPU terbanyak, atau memuncaki
benchmark. Yang lebih penting: siapa membuat
pengetahuan lebih mudah dijangkau, pendidikan lebih murah, pekerjaan manusia
lebih ringan, layanan kesehatan lebih merata, dan mereka yang selama ini
berada di pinggir ikut memperoleh manfaat? Di situlah fastabiqul khairat
memperoleh makna yang sangat modern. Tradisi open source seperti Colibrì
memberi contoh kecil: seseorang menemukan jalan, lalu membukanya ke publik
agar orang lain dapat belajar, memperbaiki, dan melangkah lebih jauh. Tentu kekurangan tak perlu
diromantisasi; laboratorium tetap membutuhkan dana, peneliti harus dihargai,
dan komputer cepat lebih menyenangkan daripada komputer yang memberi kita waktu
menanak nasi sambil menunggu jawabannya. Tetapi modal besar tanpa kreativitas
hanya melahirkan konsumen yang lebih kaya. Pelajaran Colibrì justru jangan
membiarkan kekurangan menjadi vonis. Dunia boleh berlomba membesarkan otak
AI, GPU, server, dan segala “gajah” teknologi. Kita pun boleh membangunnya
jika mampu. Tetapi fastabiqul khairat
mengingatkan: garis finis perlombaan bukan siapa memiliki kendaraan paling
besar, melainkan siapa membuat manfaat sampai kepada lebih banyak manusia. Burung kolibri tak pernah mencoba
menjadi gajah. Dengan tubuh beberapa gram, ia memilih cara terbang yang tak
dimiliki kebanyakan burung. Barangkali kita pun perlu berhenti
berkata, “Kita tidak punya sumber daya sebesar mereka,” lalu menggantinya
dengan pertanyaan yang sejak dahulu menggerakkan penemuan manusia: adakah
cara lain? Sebab dunia boleh terus membesarkan
gajah. Tetapi untuk berlomba mendatangi sebanyak mungkin bunga kebaikan,
kadang-kadang kolibri justru lebih pantas menjadi guru. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar