Jumat, 31 Juli 2026

 

Hidup Makin Susah, Anak Muda China Terpaksa Berbagi Ranjang

Luki Aulia :  Wartawan Kompas

KOMPAS, 30 Juli 2026

 

 

                                                           

Tekanan ekonomi membuat sebagian pekerja muda China memangkas pengeluaran mereka hingga ke ruang paling pribadi, yakni tempat tinggal.

 

Di tengah kota-kota China yang dipenuhi gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, dan teknologi masa depan, sebagian anak mudanya justru sedang belajar hidup dengan ruang yang semakin sempit. Salah satunya Winnie Zeng (25).

 

Untuk menghemat 450 yuan (Rp 1,2 juta) setiap bulan, ia memilih berbagi tempat tidur dengan perempuan lain yang sebelumnya tidak dikenalnya. Bagi Zeng, keputusan itu bukan eksperimen gaya hidup. Dengan penghasilan sekitar 4.000 yuan (Rp 10,7 juta) sebulan, jumlah 450 yuan itu sangat berarti.

 

Karena bisa berhemat untuk tempat tinggal, Zeng bisa mengurangi pengeluaran sekaligus menabung lebih banyak untuk berjaga-jaga jika suatu hari kehilangan pekerjaan. Di sebuah negara yang sedang gencar membangun kota-kota futuristik, mendorong industri kendaraan listrik, dan berlomba menjadi pusat kecerdasan buatan (AI) dunia, Zeng justru sedang menghitung nilai sebuah tempat tidur.

 

Kisah Zeng di Kota Wuhan ini menjadi salah satu gambaran paling sederhana tentang perubahan yang sedang terjadi di kalangan pekerja muda China. Kantor berita Reuters, Selasa (28/7/2026), menyebutkan, pembicaraan tentang fenomena berbagi kamar, bahkan tempat tidur, belakangan ramai di media sosial.

 

Fenomena itu masih sedikit dibandingkan sekitar 260 juta penyewa hunian di China. Namun, perhatian ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata tentang orang yang tidur dalam satu ranjang yang sama. Yang sedang dibicarakan adalah uang, penghasilan, dan rasa tidak aman.

 

Di Beijing, Morgan Pan (39) mulai berbagi kamar setelah perusahaan rintisan AI tempatnya bekerja terlihat bangkrut. Pendapatannya kini kurang dari separuh dibandingkan sebelumnya. Seorang mantan pekerja teknik sipil bernama Wang juga memilih berbagi tempat tinggal setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut.

 

Keduanya tidak sedang mengejar kehidupan minimalis. Mereka sedang menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berubah.

 

Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi China melahirkan keyakinan bahwa hidup akan terus bergerak ke arah yang lebih baik. Pekerjaan di kota berarti pendapatan yang lebih tinggi. Memiliki pendapatan berarti punya rumah yang lebih baik, konsumsi yang lebih besar, dan masa depan yang lebih pasti. Bagi sebagian anak muda, rantai itu kini tidak lagi terasa sesederhana dulu.

 

Ekonomi China masih tumbuh. Pada kuartal I-2026, produk domestik bruto China tumbuh 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan kuartal II melambat menjadi 4,3 persen, dari 5 persen pada kuartal I.

 

Angka itu jauh dari gambaran sebuah ekonomi yang runtuh. Manufaktur masih tumbuh 5,5 persen. Sektor informasi, perangkat lunak, dan teknologi informasi tumbuh 10,7 persen. China tetap memproduksi teknologi masa depan dalam skala raksasa.

 

Namun, persoalan ekonomi tidak selalu terlihat dari pabrik yang tutup atau gedung yang kosong. Kadang-kadang ia terlihat dari keputusan kecil di dalam rumah, seperti makan di rumah daripada di restoran, menunda membeli pakaian, memilih kamar yang lebih murah, atau berbagi tempat tidur.

 

Di situlah angka pertumbuhan mulai bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Penjualan ritel barang dan jasa di China pada semester I-2026 hanya tumbuh 1,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Juni 2026, pertumbuhannya bahkan hanya 1 persen. Masyarakat masih berbelanja, tetapi tampaknya semakin berhitung.

 

Bagi sebuah negara yang ingin memperkuat konsumsi domestik, ini menjadi persoalan penting. Pertumbuhan ekonomi butuh masyarakat yang bersedia mengeluarkan uang. Namun, seseorang yang tidak yakin dengan pekerjaannya bulan depan akan cenderung lebih menyimpan uangnya.

 

Bukan karena tidak ingin membeli apa-apa, melainkan karena takut tidak akan punya cukup uang jika terjadi sesuatu yang buruk. Kecemasan itu yang dirasakan anak muda China saat ini.

 

Kekhawatiran itu wajar mengingat tingkat pengangguran China untuk kelompok usia 16-24 tahun -tidak termasuk pelajar- berada di angka 14,9 persen (data Juni 2026). Angka itu turun dari 15,6 persen pada Mei dan menjadi yang terendah dalam setahun.

 

Namun, itu tetap berarti hampir satu dari tujuh anak muda dalam kelompok tersebut yang berada di pasar kerja belum mendapatkan pekerjaan. Untuk kelompok usia 25-29 tahun, tingkat pengangguran mencapai 7,1 persen.

 

Bagi anak muda China, uang punya arti yang berbeda saat kondisi sedang susah. Gaji bukan hanya untuk mendapatkan hidup yang lebih nyaman, melainkan juga perlindungan. Karena itu, banyak anak muda memilih menabung ketimbang membeli.

 

Berbagi tempat tinggal dan tempat tidur juga jadi bentuk kompromi karena pendapatan yang berkurang. Ketika seseorang memilih berbagi ranjang demi menghemat Rp 1,2 juta, batas antara pilihan dan kebutuhan menjadi semakin tipis.

 

Perubahan ini juga bisa menjalar ke keputusan-keputusan yang lebih besar. Anak muda yang tidak yakin dengan pekerjaan akan berpikir lebih lama sebelum membeli rumah. Mereka mungkin menunda pernikahan karena biaya hidup. Keputusan memiliki anak juga menjadi lebih berat ketika pendapatan tidak pasti.

 

Bahkan membeli mobil atau barang rumah tangga bisa dianggap sebagai pengeluaran yang sebaiknya ditunda. Ini berarti persoalannya bukan hanya apakah anak muda China punya uang, melainkan lebih pada apakah mereka cukup percaya pada masa depan untuk membelanjakan uang itu.

 

Ini tidak berarti anak muda China tak ingin punya kehidupan lebih baik. Justru karena mereka menginginkannya, mereka merasa harus lebih berhati-hati agar tidak kehilangan apa yang sudah dimiliki. Kisah Zeng lebih besar daripada sekadar cerita tentang sebuah kamar di Wuhan.

 

Tempat tidur biasanya merupakan ruang paling pribadi dalam kehidupan seseorang. Itu tempat beristirahat setelah bekerja, tempat orang menutup pintu dari dunia luar. Namun, ketika ruang itu bisa dibagi demi menghemat, yang sedang berubah tidak hanya cara seseorang tidur, tetapi cara seseorang memandang kehidupan.

 

Kenyamanan mulai punya harga yang harus dihitung dan masa depan mulai butuh dana cadangan. Kebebasan untuk hidup sendiri pun mulai bersaing dengan kebutuhan untuk merasa aman.

 

Seperti Zeng. Ia menyerahkan sebagian ruang pribadinya untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin lebih berharga in this economy, yakni tabungan. Ia rela mengurangi rasa nyaman, rela menunda keinginan-keinginan untuk beli sesuatu, atau impian-impiannya. (REUTERS) ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/hidup-makin-susah-anak-muda-china-terpaksa-berbagi-ranjang?open_from=Internasional_Page

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar