Tampilkan postingan dengan label Zuly Qodir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zuly Qodir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2021

 

Pengorbanan dan Ketulusan

Zuly Qodir ;  Sosiolog, Direktur Program Doktor Politik Islam UMY

KOMPAS, 19 Juli 2021

 

 

                                                           

Agama senantiasa menghadirkan dua sisi kisah kemanusiaan, yaitu  keutamaan, ketulusan, dan pengorbanan di satu sisi, serta  kemurkaan, kerakusan, kebencian, dan keangkuhan di sisi lainnya. Dua sisi kisah kemanusiaan dalam agama-agama dikenal dengan sebutan etika keagamaan-akhlak-moral kebajikan dan keburukan.

 

Ulama besar Imam Al-Ghazali menyebutnya dimensi kemanusiaan di atas dengan etika kemanusiaan dan kebinatangan. Etika kemanusiaan diidentikkan dengan sikap-perilaku-tindakan kemuliaan sebagaimana para malaikat, yang senantiasa taat atas perintah sang pencipta, tanpa memiliki nafsu, bahkan hasrat apapun. Sementara itu, etika kebinatangan sering diidentikkan dengan kerakusan, bengis, menang sendiri, tidak bersedia berbagi, serta tabiat-kebiasaan tidak taat peraturan.

 

Namun demikian, etika seperti malaikat yang tergambar di atas tidak mungkin terjadi pada diri manusia, bahkan tidak perlu diikuti, sebab akan berdampak pada dunia yang statis, tidak ada kemajuan, tidak ada perubahan serta tentunya tidak dinamis. Oleh sebab itu, Ghazali kemudian memberikan nasihat untuk umat manusia tentang etika kemanusiaan: berdiri di antara etika malaikat dan kebinatangan. Yakni seimbang sebagai makhluk yang memiliki nafsu seperti binatang, namun sekaligus memiliki sifat-sifat yang dimiliki malaikat. Dengan demikian, dunia akan dinamis, maju, ada perubahan dan tantangan.

 

Etika keutamaan

 

Dalam kaitan itulah, Idul Adha (Idul Kurban), yang hendak kita selenggarakan kali ini merupakan momentum etika kemanusiaan yang benar-benar akan menguji umat beragama, terutama yang hendak memberikan hewan kurban pada panitia. Kurban yang hendak dilakukan di era pandemi Covid-19, yang tampaknya belum bersahabat dengan umat manusia Indonesia (khususnya), dengan melihat korban terpapar wabah mematikan terus meningkat. Terlalu banyak jiwa-jiwa yang telah terkapar oleh dahsyatnya wabah mematikan ini sejak satu setengah lalu.

 

Oleh sebab itu, terdapat beberapa ajakan untuk melakukan reinterpretasi atas kurban yang hendak diberikan pada saat Idul Adha. Seperti datang dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, agar uang kurban atau hewan kurban yang akan disembelih nanti dapat dialihkan untuk membantu mereka yang terdampak Covid-19, yang memang membutuhkan bantuan makanan yang bergizi, biaya pengobatan, perawatan serta pemulihan. Oleh sebab demikian banyak biaya dan beban sosial yang harus ditanggung para korban Covid-19 ini di masyarakat.

 

Jika hewan kurban disembelih kemudian dibagikan pada para penerima seperti biasanya, menurut Muhammadiyah, dimensi kemanfaatannya saat ini, terutama pada para korban Covid-19 tidak akan banyak mendapatkan nilai keutamaan manfaat. Apalagi jika hanya mendapatkan 1-2 kg daging segar. Oleh karena itu, Muhammadiyah berijtihad, para pemberi uang korban, agar mereka merelakan untuk diberikan kepada para korban keganasan Covid-19, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia.

 

Gagasan ijtihad Muhammadiyah tersebut agaknya sesuai dengan kaidah: bahwa menyelamatkan satu jiwa manusia, sama dengan kita berupaya menyelamatkan sejumlah besar umat manusia, yakni memungkinkan adanya kehidupan selanjutnya, karena menekan adanya kematian. Hal ini juga sesuai dengan kaidah fikiyah: mendahulukan al maslahah al-um, ila madlarat fil an-nas (kemaslahatan umum-banyak manusia, ketimbang manfaat sedikit manusia. Inilah yang kita namakan maslahah fil-nas (manfaat untuk umat manusia).

 

Manusia dengan etika keutamaan, dikatakan Buya Hamka, penulis Tafsir Al-Azhar, mereka adalah sosok manusia yang tidak disiksa oleh hasrat kebinatangan dan terjerat tabiat malaikat. Mereka adalah yang mampu hidup seimbang antara: Hasrat binatang dan malaikat, sehingga memiliki etika untuk perubahan, dinamis, kadang mempersoalkan yang telah dianggap baku demi kebajikan. Manusia dengan etika keutamaan adalah manusia yang tidak dirundung oleh keimanan yang buta, tanpa ilmu pengetahuan dan realitas sosial. Mereka itulah jiwa-jiwa merdeka yang memiliki kesalehan individual, sekaligus kesalehan sosial.

 

Manusia cinta harta

 

Sementara itu, mereka yang tidak memiliki kepekaan sosial atas penderitaan orang lain, hanya ingin menang sendiri, angkuh atas yang dimiliki, egois, serta hanya ingin menyenangkan keluarga, sanak saudara atau pun kelompoknya adalah sosok manusia yang dikatakan oleh Buya Hamka sebagai “pencinta harta”. Mereka manusia cinta harta, yang beranggapan bahwa apa yang telah dimiliki adalah mutlak karena usahanya sendiri, tanpa campur tangan pihak lainnya.

 

Manusia cinta harta, agaknya akan sulit melakukan perubahan perspektif dan tindakan di luar tradisi-tabiat selama ini. Kurban misalnya, dipastikan akan sulit jika harus dikonversikan menjadi harta yang dikumpulkan, kemudian diberikan pada mereka yang terkena wabah Covid-19. Ajakan Muhammadiyah agar para pemberi kurban merelakan dananya untuk kebutuhan lainnya, ketimbang untuk membeli hewan kurban akan ditentang dengan argumen bahwa menyembelih hewan kurban adalah syariat yang tidak dapat diubah.

 

Kurban adalah ibadah yang mengikuti tradisi Ibrahim-Ismail, bukan mengikuti perkembangan dan perubahan zaman seperti sekarang. Pikiran jumud-tekstual semacam ini tentu akan terus ada, terutama dalam diri jiwa-jiwa yang cinta harta, namun bersembunyi di balik kesalehan spiritual-keagamaan.

 

Saat ini hadirnya manusia-manusia pecinta harta akan dapat dilihat dengan gampang: apakah memiliki kerelaan ketika ada ajakan beribadah di rumah saja saat Idul Adha, mengalihkan dana hewan kurban untuk membantu mereka yang terserang wabah korona, dan mampu menahan diri dari berkomentar penuh kebencian pada pemerintah, pada ormas keagamaan yang berpandangan bahwa perlu ada reinterpretasi atas Kurban ataukah akan bertingkah sebaliknya!

 

Ketulusan jiwa

 

Saat ini, dibutuhkan jiwa-jiwa yang tulus dalam berkurban. Pengorbanan membutuhkan ketulusan yang tanpa topeng. Pengorbanan yang betul-betul dapat menciptakan ketenangan jiwa-jiwa umat manusia dari berbagai penderitaan, termasuk penderitaan dari wabah Covid-19. Selain itu ketulusan jiwa yang mampu menghadirkan ketenangan psikologi dan situasi sosial politik dari berbagai komentar, hasrat politik, hasrat kerakusan, serta hasrat egois.

 

Idul Adha kali ini benar-benar menjadi Idul Adha yang harus mampu menciptakan kondisi bagaimana bangsa ini lebih tenang secara sosial dari hentakan kemerosotan ekonomi-produksi, warga yang tidak dibombardir dengan pelbagai informasi menyesatkan alias hoaks, karena kebencian pada pemerintah dan lawan-lawan politik.

 

Warga negara saat ini lebih membutuhkan keselamatan ketika Covid-19 menyergap, oleh sebab umat manusia Indonesia banyak yang sangat membutuhkan ventilator, oksigen serta ruang perawatan ketimbang kegaduhan manuver-manuver politik yang hanya hendak menguntungkan diri sendiri, kelompoknya, serta orang-orang terdekatnya.

 

Warga negara tidak lagi berharap terlalu banyak pada politisi dan pengamat, mantan pejabat yang suka mengumbar janji palsu dan menyebarkan berita palsu-hoaks yang dimaksudkan untuk mendapatkan simpati dan dukungan politik.

 

Oleh sebab itu, saatnya kita berhenti menjadi manusia-manusia pecinta harta atas nama kesalehan, kebajikan serta syiar agama. Idul Adha kali ini benar-benar hari raya yang harus dirayakan dengan cara berbeda, tanpa mengurangi kekhusukan dan ketulusan dalam bermunajat pada Tuhan. Inilah Idul Adha yang akan menciptakan dan menemukan siapa sejatinya manusia yang sungguh-sungguh rela dalam pengorbanan dan memiliki ketulusan pada Tuhan. Selamat Merayakan Idul Kurban dengan ketenangan! ●

 

Selasa, 29 Juni 2021

 

Pemburu Kekuasaan dan Kerakusan

Zuly Qodir ;  Sosiolog, Ketua Program Doktor Politik Islam UMY

KOMPAS, 27 Juni 2021

 

 

                                                           

Telah lama kekuasaan diperebutkan. Bahkan, demi kekuasaan, orang rela mati menumpahkan darah sahabat-sahabatnya. Mereka berebut tidak kenal waktu, siang maupun malam bagaikan seekor musang. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan era Orde Baru, pernah berujar pada 2014, ”Malam masih menyelimuti kita. Namun, musang berbulu ayam sudah berkeliaran.”

 

Ini kiasan yang sangat dalam bagi para pengejar dan pemuja kekuasaan. Mereka telah bergerak merangsek mengatur segala strategi untuk merebutnya, ketika orang lain masih terlelap dalam mimpi. Kebiasaan seperti itu oleh Menteri Daoed Joesoef dikatakan sebagai tabiat para pengejar kuasa, tampaknya lembut namun beringas, sebab khawatir tidak mendapatkan posisi yang diinginkan sejak semula. Namun, pada komunikasi publik, menampakkan dirinya seakan tidak akan merebut kekuasaan tersebut. Tampak alim, santun, sopan, dan merendah. Seakan-akan hendak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendapatkan kesempatan atau melanjutkan apa yang telah diukirnya.

 

Tetapi itulah, para pemburu kekuasaan tidak akan berhenti bergerak dengan berbagai rencana (busuk sekalipun). Membunuh sahabat, kawan dekat, bahkan sanak saudara pun tidak segan dilakukan. Yang terpenting, hasratnya tercapai dengan segala upaya. Namun, sekali lagi, publik tidak mampu membacanya karena dilakukan dengan cara-cara yang tampak simpati, lembut, serta memberikan simpati pada mereka yang diajak bicara.

 

Musang berbulu ayam

 

Kayu yang ada di dalam sungai tidak akan pernah menjadi buaya. Begitu pun buaya di sungai tidak akan pernah berubah menjadi kayu. Kayu tetaplah kayu. Buaya tetaplah buaya. Tidak akan terjadi metamorfosa di antara keduanya. Kayu dapat tampak seperti buaya. Demikian pula buaya dapat tampak seperti kayu. Namun, sifat kayu dan buaya tidak akan terjadi perubahan. Inilah yang dikatakan tabiat, karakter, sehingga sampai kapan pun dinyatakan sulit terjadi perubahan. Sifat bengis tetap ada pada buaya, serigala, dan musang. Sifat lembut dan jinak akan tetap ada pada ayam dan domba.

 

Musang, sebagai binatang, merupakan binatang pemangsa yang ganas. Ayam, itik, kelinci, bahkan kucing dan tikus saja akan dimangsa jika dianggap berbahaya atas dirinya. Bahkan, tidak saja karena dianggap membahayakan si musang, jika musang merasa perlu untuk memangsa, maka dengan sigap si musang akan memangsa dengan geram. Inilah perilaku musang, sebagai binatang buas, haus memangsa siapa pun yang berada di hadapannya.

 

Ibarat yang sering dijadikan padanan adalah serigala berbulu domba. Serigala merupakan binatang sangat buas. Pemangsa binatang berdarah dingin. Tanpa ampun akan memangsa siapa pun yang berada di depannya. Tidak perlu menjadi musuh serigala, binatang apa saja akan dienyahkan dari hadapannya, apalagi jika dianggap membahayakan dirinya. Inilah perilaku serigala dengan sikap kasar, keras, dan bengis, namun tampak lemah lembut karena mempergunakan bulu domba.

 

Ayam dan domba sebaliknya, merupakan binatang ternak yang sangat disenangi manusia. Ayam banyak manfaat bagi manusia. Bulunya, kokoknya membangunkan dari tidur pulas, dagingnya ataupun telurnya mengandung protein. Domba, demikian pula, ternak yang jinak. Sangat bermanfaat bagi petani. Pupuknya, anaknya, kulitnya, dagingnya, dan kepalanya. Semuanya bermanfaat untuk manusia. Hampir tidak ada manusia yang ketakutan dengan ayam ataupun domba sebagai binatang piaraan.

 

Namun, mengapa kiasan tentang musang berbulu ayam dan serigala berbulu domba menjadi sangat populer dalam kosakata di negeri ini. Oleh sebab, perilaku para pemburu kekuasaan yang rakus tidak pernah hilang di negeri ini.

 

Di kampus, di partai politik, di lembaga pemerintah, kementerian, ataupun lembaga swasta selalu muncul orang-orang yang berpura-pura baik, santun, lemah lembut, sederhana, tawadhu, tidak membutuhkan puja-puji dari sesama, dan tidak menghendaki kekuasaan. Padahal, sejatinya orang tersebut memiliki hasrat yang sangat kuat dalam merebut dan memelihara kekuasaan yang telah diraih dan dimiliki.

 

Kekuasaan yang telah didapatkan akan dipertahankan dan terus direbut dengan segala metode, namun tidak menampakkan dirinya bahwa dialah sang pemuja kekuasaan. Bahkan, jika diperlukan, akan membuat cerita bahwa orang lain yang sebenarnya haus kekuasaan, dengan menjelekkan dirinya. Memfitnah dirinya sehingga orang simpati padanya.

 

Perilaku kasar, bengis dan urik, tidak jujur ditutup dengan berbagai drama agar yang lain melihatnya sebagai sesuatu yang normal. Seakan tidak ada anomali dan keserakahan di sana. Semua itu dibungkus oleh perilaku ayam dan kambing yang memang santun, lemah lembut dan asli, tidak dibuat-buat.

 

Sungguh kita menghadapi perilaku banyak manusia yang menutup perilakunya dengan topeng-topeng kesederhanaan. Semua topeng ini dalam bahasa agama disebut sebagai perilaku kaum fasik, berbeda antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Apa yang di depan kita dengan di belakang kita. Berbeda antara ucapan dan tindakan.

 

Manusia penuh dengan topeng seperti itu sungguh membahayakan kita semua. Namun, perlu diingat pula banyak yang terkesima, termakan dan larut dalam tarian irama manusia bertopeng karena bujuk rayuan, ungkapan, kosakata yang dipergunakan dan gerak-gerik yang lembut. Perilaku kaum fasik oleh agama dianggap sangat berbahaya sebab dapat mencelakakan umat manusia yang lebih banyak. Sekalipun dapat menyelamatkan segelintir orang demi meraih apa yang dikehendakinya.

 

Tuna-nurani dan tuna-etika

 

Tumbuhnya manusia-manusia bertopeng, musang berbulu ayam, dan serigala berbulu domba disebabkan hilangnya nurani yang dimiliki sebagian manusia. Bisikan nurani, yang suci, tertutup oleh ambisi yang terus menyelimuti dalam pikiran, dan hatinya. Dalam bahasa agama, bisikan nurani, sebagai bisikan suci, bisikan ilahi, terempas oleh kuatnya bisikan syaitan yang hendak menjerumuskan dalam kesesatan dan kedhaliman yang nyata. Namun, demi meraih kejayaan semu, popularitas duniawi, serta kemewahan zahir, maka bisikan ilahi tertutup segalanya.

 

Manusia tuna-etika itu lahir sebagai bentuk nyata dari sikap dan perilaku keras kepala yang dimiliki. Dengan demikian, sekalipun telah banyak sahabat, sanak saudara, teman karib, ataupun sesama atasan telah memberikan peringatan, nasihat, dan saran, tetap tidak didengarkan, bahkan semuanya dianggap sebagai penghambat dalam memperjuangkan kemajuan cita-cita.

 

Para penghamba kekuasaan dan rakus tidak akan pernah mendengar apa yang disampaikan orang lain. Orang yang menyampaikan sesuatu secara obyektif sekalipun akan dituduh sebagai cerita bohong tidak sesuai dengan kenyataan.

 

Manusia-manusia tuna-nurani dan tuna-etika dapat juga dikatakan sebagai manusia yang ingin menang sendiri, sekalipun dalam meraih kesuksesan sebenarnya banyak dibantu orang lain. Namun, seakan-akan kesuksesan yang diraih merupakan prestasi yang didapatkan karena perjuangan sendiri yang telah dilakukan selama ini. Inilah sesungguhnya keangkuhan manusia tuna-nurani dan tuna-etika. Mereka beranggapan apa yang telah diputuskan merupakan yang terbaik. Tidak perlu mengoreksi apa yang diputuskan, sekalipun sebagai sebuah keteledoran dan kesalahan.

 

Hal yang paling hebat dari manusia-manusia tuna-nurani dan tuna-etika dalam bertindak adalah menjadikan sahabat, kolega, ataupun teman sejawat mendapatkan posisi di sampingnya. Namun, sejatinya posisi yang diberikan kepada para kolega, sahabat, dan sejawat tersebut hanyalah untuk menutup segala ambisi yang dimilikinya. Semua agenda telah dimiliki tanpa sepengetahuan sahabat, kolega, karib, dan teman sejawat. Agenda-agenda tersembunyi tidak pernah diutarakan kepada sahabatnya. Dipendam sendiri dan hanya akan dikemukakan kepada mereka yang memiliki agenda yang sama, yakni: sesama pemuja kekuasaan serta pencari kuasa. Mereka akan membuat persekongkolan dengan sesama pencari kekuasaan. Inilah sebenarnya kerakusan yang nyata namun tertutup selimut kemunafikan!

 

Para pemuja kekuasaan sebenarnya merupakan manusia yang perilakunya penuh dengan kerakusan duniawi. Namun, karena dibalut dengan sikap sopan, rendah hati, gaya bicara yang renyah, dan penampilan yang seadanya, maka orang lain akan beranggapan itulah sesungguhnya pemimpin yang diharapkan. Padahal, semuanya adalah kepalsuan yang nyata dalam bungkus musang berbulu ayam, serigala berbulu domba. Kerakusan dibungkus dalam kesederhanaan. Kebengisan dibungkus dengan kebajikan. Sungguh berbahaya jika kita terus dikelilingi manusia-manusia demikian. Akan hancurlah peradaban umat manusia.

 

Saat ini kita tengah berada pada situasi di mana para pemuja kekuasaan sangat tampak jelas di hadapan hidung. Mereka berkeliaran siang malam, pagi-sore. Di mana ada kesempatan, manusia haus kekuasaan dan rakus, akan beraksi, menelikung, memfitnah dan berbuat kasar pada mereka yang tidak direstui. Apalagi terhadap mereka yang dianggap sebagai ancaman dalam mendapatkan apa yang dikehendaki. Inilah zaman di mana pemuja dan rakus kekuasaan mendapatkan ruang karena kemunafikan merajai dunia! ●

 

Minggu, 06 Juni 2021

 

Tafsir Islam Progresif Ideologi Pancasila

Zuly Qodir ; Sosiolog; Direktur Program Doktor Politik Islam UMY

KOMPAS, 01 Juni 2021

 

 

                                                           

Sejarawan Kuntowijoyo mengingatkan, dalam era industrialisasi dan informasi seperti saat ini, kita tidak bisa lagi menjadikan Pancasila hanya sebagai mitos. Pancasila harus menjadi ideologi. Pancasila karena itu harus rasional. Kita harus memasyarakatkan Pancasila dalam dimensi sejarah, bukan magis pada masyarakat (Kuntowijoyo, 1997).

 

Sangat menarik apa yang dikemukakan sejarawan ternama tersebut. Hal ini berkaitan dengan adanya semangat baru masyarakat Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai ”pedoman hidup” bangsa dan negara dalam konteks kekinian. Konteks masyarakat yang sangat deras dibanjiri pelbagai macam arus ideologi dunia, seperti liberalisme, sosialisme, individualisme, dan kapitalisme global. Pertarungan ideologi yang oleh Francis Fukuyama sebagai episode the end of Ideology, ternyata semakin deraslah persoalan ideologi menguat ke permukaan.

 

Membudayakan Pancasila

 

Menjadikan Pancasila sebagai ideologi rasional oleh karena itu kita harus mengembalikan Pancasila benar-benar menjadi ”dasar pijakan” berbangsa dan bernegara. Dia sudah taken for granted, tidak meragukan lagi Pancasila sebagai pedoman hidup bernegara warga masyarakat Indonesia.

 

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru untuk memasyarakatkan Pancasila agar tidak menjadi mitos yang bersifat magis. Saat ini, ketika anak-anak bangsa saling berkelahi karena urusan politik kepentingan, saatnya mengembalikan pembudayaan Pancasila dalam kehidupan kaum elite.

 

Pancasila sebagai ideologi rasional karena itu harus dimasyarakatkan, khususnya kaum elitenya. Pancasila akan menjadi bagian dari masyarakat jika terlihat jelas dalam praktik-praktik berpolitik, beragama, bermasyarakat, serta individual.

 

Orang yang mengamalkan ideologi Pancasila adalah orang yang perilakunya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Jika dia Islam, maka bertuhan dengan rasional. Bertuhan yang berkebudayaan, yakni tidak memaksakan kehendak, tidak membenci yang berbeda, tidak menjelek-jelekkan pihak lain yang berbeda, serta memberikan rasa empati pada sesama makhluk Tuhan. Teladan dari para elite tentang Pancasila inilah yang dinantikan, bukan khotbah.

 

Oleh sebab itulah, Pancasila sebagai ideologi rasional harus menjadi ”saksi di muka bumi Indonesia”, bahwa para pelaku politik, ekonomi, kebudayaan, dan agama harus mencerminkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Jika kita seorang politikus, maka kita harus berjiwa besar menerima kekalahan jika dalam bertarung kalah. Jika kita seorang agamawan maka kita harus jujur dan berkata yang benar dalam berkata-kata dan bertindak. Demikian seterusnya. Inilah yang kita maksudkan dengan Pancasila harus menjadi saksi dalam hidup.

 

Pancasila oleh sebab itu tidak bisa dihadirkan di masyarakat dengan metode yang ”membunuh partisipasi” warga negara. Pancasila dihadirkan pada masyarakat tidak dengan cara-cara pemaksaan di bawah todongan bedil atau meriam. Bahkan, Pancasila tidak boleh dihadirkan di masyarakat dengan cara untuk menghukum masyarakat.

 

Manusia pancasilais adalah manusia yang taat hukum. Karena itu, Pancasila sebenarnya adalah ”arah pembuatan hukum” di Indonesia. Inilah yang kita maksudkan dengan membudayakan Pancasila. Pancasila bukan sebagai mitos yang mengerikan, tidak bisa didiskusikan nilainya. Kita diskusikan bukan untuk ”menghukum Pancasila”, tetapi untuk mencari inspirasi baru dari nilai-nilai Pancasila yang dapat dipraktikkan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara secara bersama menuju negara yang aman, damai, sejahtera, dan makmur.

 

Imperatif Islam

 

Banyak tulisan menyatakan bahwa Pancasila tidak ada satu pun nilainya yang bertentangan dengan Islam. Ahmad Syafii Maarif, Cak Nur, Abdurrahman Wahid, ataupun Azyumardi Azra menyatakan bahwa Pancasila itu bisa dikatakan sebagai obyektivikasi Islam. Inilah Pancasila dalam praktik kehidupan Muslim Indonesia. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa Islam merupakan imperasi atas nilai-nilai Pancasila.

 

Dengan pandangan demikian, sebenarnya tidak perlu lagi umat Islam mempersoalkan nilai-nilai Pancasila yang kemudian dijadikan dasar negara. Tetapi, pada kenyataannya ada sekelompok anggota masyarakat Indonesia yang terus mempertanyakan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

 

Tidak perlu lagi umat Islam mempersoalkan nilai-nilai Pancasila yang kemudian dijadikan dasar negara.

 

Pancasila oleh kelompok kecil ini dianggap sebagai thagut. Oleh sebab itu, negara yang berdasarkan thagut pantas untuk diperangi dan dasarnya harus diganti menjadi dasar negara yang diridai Tuhan, yakni bukan Pancasila. Bukan hanya dasar negara yang harus diubah, bentuk negara pun harus diubah sehingga negara Indonesia harus diubah menjadi negara Islam (islamic state) atau khilafah Islamiyah.

 

Ada kelompok yang menginginkan perubahan dasar negara dan bentuk negara. Mereka telah dibubarkan, tetapi sering meminta suaka politik pada Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia.

 

Pancasila yang nilai-nilainya oleh para sarjana Muslim dianggap sebagai imperasi Islam atas dasar negara Indonesia ternyata pada realitasnya sering dipertentangkan dengan adanya pelbagai perilaku anak-anak bangsa yang kita anggap kurang pancasilais. Perilaku korupsi, ingin menang sendiri, membenci pihak lain, serta memonopoli kebutuhan ekonomi menjadi hal yang tidak bisa kita mungkiri adanya. Oleh karena itu, mereka yang tidak setuju dengan Pancasila sebagai dasar negara kemudian mengajukan dasar negara yang lain untuk Indonesia.

 

Hal yang berbahaya jika ada pertentangan yang cukup kuat di kalangan masyarakat antara ideologi Pancasila dan Islam. Pancasila diperhadap-hadapkan dengan Islam. Pancasila dituduh sebagai dasar negara sekuler. Sementara Islam adalah dasar negara bertuhan. Bahkan, Pancasila kemudian diperhadap-hadapkan, seakan-akan posisinya akan menggantikan kitab suci agama (Islam) dalam menjalankan ritual keislaman.

 

Tentu saja Pancasila dan Islam adalah suatu yang berbeda tidak bisa dimungkiri. Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk ”masuk surga”. Sementara itu, Pancasila adalah ideologi negara untuk bermasyarakat dan bernegara. Kita juga sering mendengar bahwa Islam itu sekaligus sebagai ideologi. Sementara Pancasila itu bukan sebagai ”pedoman orang beragama”, hanya ideologi, sehingga posisinya lebih rendah daripada Islam yang dianut oleh mayoritas umat beragama di Indonesia.

 

Pembelahan sosial

 

Didasarkan adanya argumen semacam itu, tidak heran jika masyarakat kita terbelah menjadi dua aliran besar. Pertama, aliran keras pendukung ideologi Pancasila dan kedua aliran keras pendukung ideologi Islam. Kubu yang pertama sebagai ultranasionalis sering kali memosisikan mereka yang berada pada garis keras keagamaan merusak bangsa dan negara dengan gagasan Islam ideologis. Sementara aliran keras keislamanan menuduh para ”pembela ideologi Pancasila” sebagai pemuja thagut yang akan melakukan deislamisasi di Indonesia.

 

Perdebatan dua kubu ini semakin keras ketika pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berdasarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas. HTI kemudian berupaya mencari simpati umat Islam yang jumlahnya mayoritas dengan menyatakan bahwa negara ini otoriter, tidak demokratis, serta ingin memberangus umat Islam.

 

Pertanyaannya, Pancasila yang lahir 1 Juni 1945, sebagaimana pidato Bung Karno waktu itu, ternyata tidak menjadi tanggal 1 Juni 1945 untuk mengadakan ritual peribadatan seperti ritual-ritual hari kelahiran Nabi, Isra Miraj, dan seterusnya. Bahkan, ketika terjadi debat tentang Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila 2020, demikian keras pembelahan yang muncul.

 

Meski demikian, fakta sejarah telah terjadi bahwa Pancasila yang disahkan oleh BPUPKI pada 18 Agustus 1945 itulah yang saat ini telah resmi menjadi dasar negara Republik Indonesia. Bukan pula Pancasila hasil penggalian Soekarno 1 Juni 1945 sebagai dasar negara RI. Bukan pula Pancasila 22 Juni 1945 yang menjadi dasar negara.

 

Dengan demikian, Pancasila inilah yang menjadi dasar ideologi kebangsaan, bukan dasar Islam atau islamic state. Inilah ijtihad dan ijmak para pendiri bangsa yang sudah seharusnya dihargai dan dihormati, yang tidak menjadikan negara Indonesia sebagai negara agama (Islam) ataupun negara sekuler. Indonesia adalah negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

Berdasarkan fakta sejarah, Indonesia dihuni oleh mayoritas umat Islam. Kita telah membaca banyak karya bahwa tidak satu pun sila Pancasila yang bertentangan dengan Islam. Tetapi, sampai saat ini masih ada saja kelompok yang menolak Pancasila.

 

Oleh sebab itu, ada pertanyaan penting yang harus diajukan, yakni apa yang salah dengan Pancasila? Inilah yang saat ini perlu dijernihkan sehingga anak-anak bangsa ini tidak terus disibukkan dengan simbol-simbol yang hendak dijadikan sebagai pengganti dasar negara Indonesia.

 

Sebagai sebuah ideologi, nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Islam pun tidak bertentangan dengan Pancasila, tetapi sering terjadi pertentangan disebabkan karena adanya kepentingan-kepentingan politik dari anak-anak bangsa di Indonesia. Kita perlu melakukan tafsir progresif tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa sehingga sesuai dengan denyut nadi bangsa. ●

 

Senin, 10 Mei 2021

 

Memaafkan dan Membangun Peradaban

Zuly Qodir ;  Ketua Program Doktor Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

KOMPAS, 10 Mei 2021

 

 

                                                           

Kemarin aku merasa pintar, maka aku akan mengubah dunia. Sekarang aku lebih bijaksana, maka aku akan mengubah diriku sendiri. Jalaluddin Rumi

 

Tak satu pun umat manusia tanpa dosa. Inilah noda yang telah melanda setiap umat manusia di muka bumi sejak Adam-Hawa di hadapan Tuhan. Orang paling saleh itu bukanlah orang yang tak pernah berbuat dosa, karena itu tak punya dosa, tetapi mereka yang dengan sadar diri mengaku pernah berbuat salah.

 

Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang bersedia berkhidmat untuk bersimpuh di hadapan Tuhan Sang Khalik untuk memohon ampunan.

 

Dalam tradisi agama-agama, dosa itu bawaan umat manusia. Menghapus dosa pun tradisi yang sama tuanya dengan dosa itu muncul. Tragedi Raja Midas yang dihukum umatnya karena dosa adalah bentuk paling nyata dari adanya para pendosa yang terjadi di sebuah negeri.

 

Kerajaan Tuhan pun penuh dengan para pendosa karena itu membutuhkan penyucian agar dunia ini tak penuh dengan angkara murka yang dapat berdampak pada adanya pertumpahan darah dan kehancuran hubungan sosial. Di sinilah orang yang berbuat dosa biasanya bersimpuh di hadapan Tuhan untuk berdoa memohon ampun melalui berbagai ritual doa-doa suci yang dipanjatkan.

 

Doa dipanjatkan baik secara pribadi maupun kolektif. Di masyarakat dipercaya doa kolektif lebih mujarab daripada doa individual karena itu sering dipanjatkan secara kolektif-kolegial (istighotsah). Kekuatan doa memohon ampun adalah kekuatan umat beragama mengharap (roja) pengampunan Tuhan yang Maha Pengampun. Tak ada dosa yang tak diampuni Tuhan jika Tuhan berkehendak mengampuninya.

 

Tak ada yang berhak mengklaim bahwa doanya paling diterima di hadapan Tuhan sebab posisi semua hamba itu sama di hadapan Tuhan. Jika kamu berdoa, (maka) Aku akan kabulkan, demikian Tuhan berfirman.

 

Doa-doa, karena itu penting dilakukan. Doa sendiri menjadi pertanda seorang hamba atau komunitas tak sombong dengan kehidupannya. Doa itu berharap agar Sang Khalik mendengarkan apa yang jadi pengharapan dan permintaan. Tuhan berfirman, hanya orang-orang yang menyombongkan diri saja yang tidak berkenan memohon kepada-Nya.

 

Setiap manusia beriman, dengan caranya, akan berdoa sebagai ungkapan syukur dan berharap Tuhan mengabulkan permohonannya. Doa yang dipanjatkan, dikatakan Rabiah Adawiyah, merupakan kekuatan spiritual seseorang yang tak takut neraka, tetapi juga tak melulu berharap surga.

 

Doa dan dosa selalu seiring sejalan dengan kehidupan umat manusia. Hanya mereka yang sadar akan dosa-dosa yang diperbuatnya akan merunduk di hadapan Tuhan. Semakin banyak berdoa dan berharap diampuni, semakin seseorang bersih dari noda. Bukan tak pernah berbuat dosa, melainkan sadar karena berbuat dosa, maka segera berdoa dan berharap diampuni Tuhan.

 

Rekonsiliasi diri

 

Jiwa-jiwa yang bersih merupakan jiwa yang tak angkuh. Keangkuhan hanya akan menjadikannya menepuk dada. Dalam keangkuhan, seseorang merasa paling berhak menghukum orang lain. Karena keangkuhan juga merasa paling bersih dari segala kejahatan. Merasa paling berhak mengutip teks kitab suci untuk menuduh orang lain dengan berbagai ungkapan kasar, kotor, tak bermartabat serta menghujat. Keangkuhan itu tumbuh karena menganggap orang lain lebih rendah.

 

Keangkuhan seseorang itu sejatinya tumbuh karena tidak pernah merasa pada dirinya itu ada kekurangan. Jika ada kegagalan yang dialami, akan senantiasa menuduh orang lain yang culas. Jika mengalami kekalahan dalam pertandingan, akan menuduh ada pihak-pihak yang curang. Jika terjadi kegaduhan publik, akan menganggap lawan-lawannya yang berbuat kegaduhan. Pendek kata, keangkuhan itu tidak pernah bisa menempatkan diri dalam kekurangan apalagi kesalahan.

 

Oleh sebab itu, keangkuhan sebenarnya bentuk kekufuran paling nyata sekalipun seseorang lihai mengutip teks kitab suci dalam setiap pidatonya.

 

Seperti dikemukakan ahli tafsir M Quraish Shihab, kekufuran itu datangnya dari kesombongan. Dengan kesombongan seseorang tak bersedia melakukan koreksi dirinya sendiri. Segala sesuatu akan ditimpakan pada orang lain yang berbuat aniaya (dhalim) pada kelompoknya dan keluarganya.

 

Tidak pernah seseorang yang dalam dirinya tebersit kesombongan akan mampu melihat kebajikan pada pihak lainnya. Oleh sebab itu, sesungguhnya kekafiran paling nyata adalah karena kesombongan itu sendiri, bukan karena seseorang tidak beribadah kepada Tuhan. Seseorang boleh saja tampak beribadah kepada Tuhan, tetapi hatinya penuh dengan kebencian dan syahwat Rahwana.

 

Syahwat Rahwana merupakan syahwat yang menggiring seseorang pada keinginan-keinginan yang berlebihan. Keinginan tak pernah puas dengan apa yang telah diraih selama ini, baik secara pribadi, keluarga, maupun sanak saudaranya. Syahwat Rahwana menjadikan seolah seisi dunia harus menjadi miliknya. Dunia itu harus terpegang dalam genggamannya. Orang lain haruslah menjadi pengikutnya. Tak boleh ada orang lain berada di depannya.

 

Sungguh berbahaya syahwat Rahwana jika terus hinggap di dalam hati seseorang. Apalagi di hati sanubari tokoh politik, tokoh agama, dan pemimpin ormas keagamaan sebab akan berdampak pada munculnya kerusakan publik. Syahwat Rahwana tak akan mampu menciptakan kebajikan publik (public virtue) yang sangat diharapkan oleh semua warga negara yang ada di negeri ini. Public virtue hanya akan tumbuh pada pribadi-pribadi yang penuh ketundukan jiwa.

 

Ketundukan jiwa inilah yang dapat kita sebut sebagai rekonsiliasi antara keinginan dan nurani. Nurani akan membimbing umat manusia dari segala bentuk syahwat Rahwana. Manusia tak akan pernah mampu menghilangkan nafsu (keinginan). Namun, manusia akan mampu mengelola keinginan tatkala nurani dapat membimbingnya.

 

Mereka yang dibimbing nurani merupakan manifestasi dari manusia yang memiliki kesalehan individual (personal piety) dan memiliki public virtue. Ini pula yang sebenarnya oleh Tuhan dinyatakan sebagai seorang yang tidak mengkhianati agama.

 

Oleh sebab itu, kini saatnya kita secara individual dan kolektif melakukan rekonsiliasi antara kesombongan sebagai kekafiran dan kesalehan sehingga memunculkan manusia yang fitri, manusia yang terlahir kembali dalam kesucian jiwa dan pikiran karena angkara murka dan kebencian.

 

Kesalehan yang nyata adalah kesalehan yang dapat dirasakan dampaknya pada manusia lain, tidak hanya dinikmati dirinya sendiri sehingga ibarat lilin dia akan memakan dirinya sendiri sekalipun orang lain mendapatkan sinar terang.

 

Kita harus menjadi pohon yang rimbun daunnya sekaligus mampu merimbunkan sekitarnya sehingga orang nyaman berada di bawahnya.

 

Memupuk jejak

 

Momentum Idul Fitri pekan ini kita gunakan untuk memupuk jejak membangun negeri. Jangan jadikan negeri yang subur, indah, dan beragam ini hancur karena syahwat Rahwana. Kita perlu menjadikan negeri ini baldatun tayyibatun wa rabun ghafur (adil, makmur, sejahtera dalam limpahan karunia Tuhan). Oleh sebab itu, kita perlu menumbuhkan sikap-sikap optimistis dalam membangun peradaban dan kedamaian di Indonesia.

 

Kita butuh jiwa-jiwa yang kuat memupuk kebersamaan. Kita butuh pribadi-pribadi yang kuat mendidik masyarakat dari keculasan. Kita butuh pribadi-pribadi yang optimistis dalam menapaki hidup dengan berbagai tantangan serius seperti Covid-19.

 

Kita butuh pemimpin yang jujur, adil, dan mampu membawa bangsa ini lebih baik setiap saat. Pemimpin semacam inilah yang kita dapat katakan sebagai pemimpin transformatif. Kita tak butuh sosok pemimpin politik yang ingin menang sendiri.

 

Di sinilah jejak peradaban harus dibangun, sebab seperti dikatakan Sherif Haramain, Indonesia negeri tempat bermukim seperlima penduduk Muslim dunia dengan segala kekayaan alamnya, terlalu penting untuk dilupakan dan terlalu menjanjikan untuk disia-siakan. Inilah pesan Idul Fitri bagi kita sebagai caring society. ●