Tampilkan postingan dengan label Stanislaus Riyanta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stanislaus Riyanta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

ISIS, Aksi di Marawi, dan Ancaman bagi Indonesia

ISIS, Aksi di Marawi, dan Ancaman bagi Indonesia
Stanislaus Riyanta ;  Pengamat Intelijen dan Terorisme;
Alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia
                                                     DETIKNEWS, 07 Juni 2017



                                                           
Aksi terorisme tidak bisa dipandang sebelah mata. Rangkaian aksi teror yang terjadi akhir-akhir ini seperti di Manchester Inggris, Mesir, Marawi Filipina dan di Jakarta, merupakan sebuah aksi teror yang serius hingga menimbulkan korban jiwa manusia. ISIS menjadi kelompok radikal yang paling disorot dalam aksi-aksi teror yang terjadi di dunia saat ini. Hal ini tidak lepas dari pengakuan mereka sendiri yang menyatakan terlibat.

Aksi ISIS di Marawi menjadi kekhawatiran karena bisa mengancam stabilitas di Asia Tenggara. Kelompok Milisi yang menduduki Marawi membuktikan bahwa milisi tersebut mempunyai kekuatan yang harus diperhitungkan. Terlebih lagi terungkap bahwa ada milisi asing dari berbagai negara yang ikut bergabung. Meskipun jumlahnya tidak sangat besar, namun kelompok milisi ini merepotkan pemerintah Filipina.

Siapapun pelakunya dan apapun afiliasinya, milisi yang melakukan aksi di Marawi adalah kelompok teroris. Kelompok tersebut sudah melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap orang lain untuk menciptakan ketakutan bagi pihak lain.

Teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik; penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mendefinisikan terorisme sebagai "kekerasan yang direncanakan, bermotivasi politik, ditujukan terhadap target-target yang tidak bersenjata oleh kelompok-kelompok sempalan atau agen-agen bawah tanah, biasanya bertujuan untuk mempengaruhi khalayak (Hudson dan Mejeska, 1992:12).

Aksi terorisme dipilih menjadi suatu model oleh orang, kelompok atau organisasi tertentu untuk memaksakan tujuannya. Kelompok (teroris) itu memiliki pilihan-pilihan atau nilai kolektif dan menjatuhkan pilihan pada terorisme sebagai pilihan aksi utama yang mengabaikan serangkaian alternatif lainnya (Crenshaw, 2003).

Analis lain seperti Post (1986) menyatakan bahwa mereka (teroris) melakukan aksi teroris bukan pada pilihan taktis atau strategis, tapi karena secara kepribadian membutuhkan musuh dari luar untuk disalahkan. Hal ini merupakan mekanisme dominan karakteristik destruktif.

Pilihan atas aksi teror dibanding oleh aksi atau cara lain untuk mewujudkan cita-cita orang, kelompok atau negara, dengan demikian bisa disimpulkan, disebabkan oleh beberapa hal, yaitu teror adalah cara paling efektif untuk menunjukkan eksistensi kelompok minoritas atau marginal, kemudian teror cermin dan implikasi atas kepribadian pemimpin kelompok yang tidak sehat dan menjadi kultur kelompok secara umum.

Selain itu, teror merupakan implikasi atas pemahaman suatu doktrin atau ajaran kekerasan sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai cita-cita, terutama dianut oleh kelompok-kelompok garis keras/radikal dengan latar belakang sentimen teologis atau politis yang membuat perbedaan ekstrim dengan kelompok lain.

Ancaman bagi Indonesia?

Cara yang dilakukan ISIS untuk mewujudkan keinginan membangun khilafah di dunia adalah dengan melakukan teror. Tentu saja cara yang dilakukan oleh kelompok radikal ini mendapat perlawanan dari banyak pihak.

Pasukan multinasional yang dipimpin oleh Amerika melakukan gempuran terhadap ISIS di Irak dan Suriah. ISIS melakukan perlawanan, tidak hanya di Irak dan Suriah tapi penetrasi langsung di negara-negara yang melawan ISIS lainnya seperti Inggris dan Prancis.

Perlawanan ISIS dilakukan dengan aksi-aksi teror sporadis tapi mematikan. Indonesia akhir-akhir ini juga menjadi daerah sasaran aksi teror dari kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Aksi bom Thamrin dan Kampung Melayu adalah aksi teror yang diakui oleh ISIS.

Aksi lain yang dilakukan oleh pelaku tunggal (lone wolf) ditengarai juga karena pengaruh dari ISIS seperti yang terjadi pada penyerangan polisi di Tangerang, Gereja Katolik Medan, dan Samarinda. Aksi lain seperti yang terjadi pada teror kepada polisi di Jawa Timur dan bom Cicendo dilakukan oleh kelompok radikal (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

ISIS dikategorikan sebagai salah satu ancaman bagi Indonesia. Fakta menunjukkan bahwa terdapat simpatisan ISIS di Suriah yang berasal dari Indonesia, termasuk Bahrun Naim, yang selama ini diduga menjadi aktor intelektual aksi teror di Thamrin dan Kampung Melayu.

Selain itu di Indonesia terdapat beberapa kelompok radikal yang menjadi pendukung ISIS. Faktor pendukung ancaman ISIS bagi Indonesia adalah adanya narapidana dan mantan narapidana kasus terorisme yang berpotensi melakukan aksi teror kembali sebagai bentuk dukungan kepada ISIS.

Informasi dari sumber BNPT menyatakan bahwa saat ini terdapat 250 napi terorisme yang tersebar di 77 lapas dan 1 rutan. Mantan napi terorisme 600 orang, namun yang diketahui keberadaannya baru 184 orang, 416 mantan napi terorisme tidak diketahui keberadaannya.

Dalam kasus paling hangat di Marawi, terdeteksi ada beberapa WNI yang bergabung dengan milisi pendukung ISIS yang bertempur melawan pasukan pemerintah Filipina.

Hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa ancaman aksi teror oleh kelompok radikal terutama yang berafiliasi dengan ISIS adalah hal nyata. Kesiapsiagaan pemerintah untuk mendeteksi dan mencegah ancaman ISIS di Indonesia, terutama pasca aksi teror kelompok ISIS di Marawi, harus disiapkan dan dikuatkan secara maksimal.

Deteksi dan Cegah Dini

Intelijen menjadi garda terdepan dalam melakukan deteksi ancaman terorisme. Kelompok radikal bergerak dengan senyap untuk menyiapkan aksi teror atau perlawanan bersenjata secara terbuka. Proses infiltrasi kelompok radikal ke suatu daerah, melakukan penggalangan, dan persiapan untuk melakukan aksi, bisa dideteksi oleh intelijen.

Fungsi intelijen adalah melakukan deteksi dini dan pencegahan dini. Tentu saja cara-cara tersebut dilakukan secara tertutup dan tidak diketahui secara umum. Keterbatasan kewenangan intelijen bisa membuat intelijen sebagai pendeteksi dini tapi tidak bisa melakukan pencegahan dini.

Tumpulnya intelijen karena kewenangannya yang terbatas ini menjadi celah yang menarik bagi kelompok radikal untuk melakukan aksinya.

Radikalisasi yang menjadi penyebab aksi teror harus dicegah dan dilawan. Pencegahan radikalisasi (kontra radikalisasi) yaitu dengan melawan paham radikal supaya tidak masuk dan berkembang pada suatu orang atau kelompok.

Kontra radikalisasi sebaiknya dilakukan mulai tahap dini dari keluarga seperti mengajarkan toleransi, menerima perbedaan sebagai suatu kenyataan dan kekayaan bangsa. Kontra radikalisasi bisa juga dilakukan oleh pemuka agama yang mengajarkan nilai-nilai agama yang luhur, suci, dan saling mengasihi antar umat manusia.

Jika nilai-nilai tersebut tertanam kepada setiap orang sejak dini maka akan menjadi benteng terhadap paham radikal.

Terkait dengan aksi ISIS di Marawi, Indonesia harus waspada. Terdapat celah-celah kerawanan di Indonesia yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok ISIS untuk melakukan hal yang sama di Indonesia. Daya tarik Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar dan adanya kelompok-kelompok radikal yang berafiliasi dengan ISIS sangat kuat.

Celah kerawanan dari sisi geografis juga cukup besar. Dengan negara kepulauan dan banyaknya titik perbatasan dengan negara lain, menjadi celah masuknya kelompok radikal ke Indonesia. Bahkan tanpa dimasuki dari luar, di dalam Indonesia sendiri sudah banyak yang radikal dan melakukan aksi teror di bawah kendali ISIS.

Tentu saja hal ini memudahkan masuknya orang dari luar untuk bergabung dengan kelompok radikal yang sudah eksis di Indonesia.

Pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan menutup celah-celah kerawanan yang ada di Indonesia agar tidak menjadi jalan bagi kelompok radikal untuk masuk dan eksis serta menjalankan aksinya. Celah kerawanan yang harus dicegah adalah secara fisik yaitu sistem pengamanan yang lebih kuat seperti di jalur laut dan darat serta pintu-pintu kedatangan orang dari luar negeri.

Intelijen pasti sudah punya data terhadap orang yang bergabung atau menjadi simpatisan ISIS. Jika mereka datang melalui pintu kedatangan resmi, bisa diamankan dan dicegah untuk melakukan aksi lebih jauh.

Namun, jika mereka melalui pintu tidak resmi maka intelijen harus bekerja sama dengan masyarakat dan komponen lain untuk meningkatkan radar sosialnya atas keberadaan orang-orang baru, atau orang yang lama meninggalkan daerahnya.

Pencegahan aksi teror juga bisa dilakukan melalui bantuan teknologi. Arus percakapan orang yang diindikasikan berpotensi melakukan aksi teror bisa dipantau dan diselidiki. Selain itu transaksi keuangan sebagai modal untuk melakukan aksi juga bisa dicermati. Kombinasi bantuan teknologi dan kinerja intelijen diharapkan menjadi sistem deteksi yang efektif sehingga bisa menjadi dasar untuk melakukan pencegahan.

Indonesia Masih Kuat?

Aksi kelompok radikal seperti di Marawi masih sangat sulit untuk dilakukan di Indonesia, kecuali jika ada dukungan luas dari masyarakat dan ada akses senjata untuk melakukan perlawanan kepada aparat keamanan.

Indonesia sangat beruntung memiliki Polri, BIN, TNI dan BNPT. Kemampuan aparat Indonesia cukup kuat untuk menutup celah penggalangan kelompok radikal meluas di masyarakat. Selain itu pengawasan senjata di Indonesia cukup baik dilakukan oleh aparat keamanan sehingga penggunaan senjata ilegal dapat dikendalikan dengan baik.

Namun, ancaman ISIS bagi Indonesia tidak bisa diremehkan. Simpatisan ISIS yang merupakan perseorangan dan kelompok berkali-kali menunjukkan eksistensinya. Jika mereka melebarkan sayap, melakukan propaganda, perekrutan, dan pelatihan untuk melakukan aksi teror, maka jika ada momentum yang tepat aksi teror terjadi di Indonesia.

Aparat keamanan, pertahanan dan intelijen diyakini mampu untuk mendeteksi dan mencegah radikalisasi dan terorisme. Aksi-aksi teror secara sporadis sangat memungkinkan terjadi lagi di Indonesia, mengingat titik rawan untuk celah masuk dan eksistensi sel-sel kelompok radikal masih ada. Selama masyarakat tidak tergalang secara masif oleh kelompok radikal, dan kinerja aparat cukup baik maka aksi ISIS seperti di Marawi dapat dicegah.

Minggu, 12 Maret 2017

Kalkulasi Politik Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua

Kalkulasi Politik Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua
Stanislaus Riyanta  ;    Pengamat Intelijen; Alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia; Tinggal di Jakarta
                                                    DETIKNEWS, 09 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KPU DKI Jakarta telah memutuskan pada Pilkada DKI Jakarta putaran kedua nanti Ahok-Djarot akan berhadapan dengan Anies-Sandi. Pada tanggal 7 Maret – 15 April 2017 kedua pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta memasuki kampanye. Pemilihan suara akan dilakukan pada tanggal 19 April 2017.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kalkulasi politik pilkada DKI Jakarta pada putaran kedua ini?

Hasil pada putaran pertama (sumber: pilkada2017.kpu.go.id) menunjukkan pasangan calon Ahok-Djarot memperoleh suara terbanyak dengan 2.357.785 suara (42,96%), disusul kemudian oleh pasangan calon Anies-Sandi dengan perolehan suara 2.193.530 suara (39,97%). Agus-Sylvi yang harus tersingkir pada putaran pertama hanya memperoleh 936.461 suara (17,06%).

Suara dari Agus-Sylvi sebanyak 17,06% tentu sangat menggiurkan bagi pasangan calon yang akan berkompetisi pada putaran kedua. Ahok-Djarot di atas kertas masih memerlukan 8% lagi untuk menang dengan asumsi pemilih pada putaran pertama tetap memilih pada putaran kedua. Anies-Sandi masih memerlukan 11% untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta ini. Kebutuhan akan suara tersebut tentu saja membuat kantung suara Agus-Sylvi menjadi sangat menarik dan mempunyai nilai tawar yang tinggi.

Peluang

Ahok-Djarot masih bisa memperbesar suara dari kalangan pemilih rasional Jakarta. Pemilih rasional Jakarta cukup besar, sesuai data Indikator Politik Indonesia, jumlah publik yang puas terhadap kinerja Ahok mencapai 73,4%. Di sisi lain pemilih Ahok-Djarot hanya sekitar 43%.

Data tersebut menunjukkan ada sekitar 30% pemilih Jakarta yang puas dengan kinerja Ahok-Djarot namun tidak memilih Ahok-Djarot. Angka ini menjadi peluang bagi Ahok-Djarot untuk menambah perolehan suara.

Di atas kertas 30% warga DKI Jakarta yang puas dengan kinerja Ahok namun tidak memilihnya pada putaran pertama sebagian justru memilih Anies-Sandi, mengingat jumlah pemilih Agus-Sylvi hanya 17%. Kemungkinan besar mereka tidak mau memilih Ahok-Djarot karena kasus penistaan agama.

Ahok-Djarot bisa merebut suara tersebut salah satunya dengan memanfaatkan sidang kasus penistaan agama yang didakwakan kepada Ahok. Pemilihan saksi-saksi yang meringankan dan berpengaruh kepada masyarakat diprediksi bisa (walaupun sedikit mengembalikan) kepercayaan masyarakat kepada Ahok.

Selain hal tersebut, Ahok-Djarot harus tetap melakukan kampanye dengan basis unjuk kinerja dengan menunjukkan data dan fakta yang sudah dicapai. Angka kepuasan kinerja yang cukup tinggi dari masyarakat harus diolah secara serius sebagai tambahan suara.

Bagi Anies-Sandi banyak cara bisa dilakukan untuk memenangkan Pilkada DKI pada putaran kedua ini. Sebanyak 17% suara yang dimiliki Agus-Sylvi bisa direbut oleh Anies-Sandi. Selain itu Anies-Sandi juga bisa merebut suara dari kelompok masyarakat rasional yang dari 73,4% hanya 43% yang memilih Ahok-Djarot.

Cara merebut pemilih rasional ini adalah dengan memperbaiki program kerja yang mempunyai nilai jual dan rasional bagi masyarakat. Anies-Sandie sebaiknya tidak perlu lagi menggunakan isu primodial untuk merebut suara tambahan. Hal ini bisa menjadi bumerang di saat masyarakat bisa jengah dengan politik yang kurang sehat.

Konsilidasi politik bisa dilakukan oleh Anies-Sandi terutama untuk merangkul Partai Demokrat dan tiga partai lain, PPP, PAN dan PKB. Seharusnya kalkulasi partai politik berdasarkan platform bepihak pada Anies-Sandi untuk menambah jumlah koalisi partai pendukung. Namun koalisi partai di tingkat pusat yang diikuti oleh PPP, PAN dan PKB pada pihak pemerintah Joko Widodo akan menjadi tantangan tersendiri.

Dampak dan Risiko

Siapapun pemenang pilkada putaran kedua akan menjadi modal besar bagi Pilpres 2019. Hingga saat ini masih belum ada tokoh selain Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang diperkirakan akan maju pada Pilpres 2019.

Pilkada DKI tidak salah jika dianggap sebagai Pilkada Pra Pilpres. Pasangan Ahok-Djarot menjadi representasi kekuatan politik Joko Widodo dan pasangan Anies-Sandi menjadi representasi kekuatan politik Prabowo Subianto.

Jika Ahok-Djarot yang menang maka kekuatan politik Joko Widodo akan lebih solid. Koalisasi parpol jika bisa linear antara tingkat pusat dan provinsi DKI akan lebih mudah untuk membangun chemistry politik.

Hal tersebut merupakan langkah signifikan untuk menuju 2019. Kekuatan koalisi parpol sangat penting terutama untuk memperlancar kebijakan-kebijakan yang memerlukan dukungan legislatif.

Risiko jika Ahok-Djarot yang menang pada Pilkada DKI tentu tidak kecil. Ahok-Djarot akan banyak menerima serangan terutama dari basis koalisi massa yang disatukan oleh kasus penistaan agama. Isu ini bisa terus dilakukan terutama untuk melemahkan basis kekuatan Jokowi menghadapi Pilpres 2019 nanti.

Risiko jika Anies-Sandi yang menang pada Pilkada DKI tentu saja juga ada. Bagi dunia bisnis dan industri, janji-janji kampanye Anies-Sandi seperti DP 0% bagi perumahan, program-program yang diklaim pro rakyat terutama pada sektor UKM bisa menjadi suatu ketidakpastian bagi sektor bisnis.

Selain itu jika Anies-Sandi yang memenangkan pilkada maka akan terjadi gaya pengelolaan baru di DKI Jakarta. Hal-hal baru ini belum tentu menguntungkan bagi sektor ekonomi dan bisnis karena penyesuaian dengan gaya dan kebijakan seringkali menimbulkan biaya.

Situasi politik pada pilkada DKI Jakarta bisa membuat sektor ekonomi dan bisnis mengambil sikap wait and see. Sektor ekonomi dan bisnis lebih diuntungkan jika pilkada dilakukan pada satu putaran. Aktivitas politik cukup menguras perhatian.

Ketidakpastian

Siapapun masih bisa menang dalam Pilkada DKI putaran kedua. Selisih suara kedua pasangan lebih kecil dari jumlah suara Agus-Sylvi yang harus berhenti pada putaran pertama. Dengan perkiraan selisih angka yang tipis pada putaran pertama, dan kantung suara yang direbut juga sedikit.

Dengan kondisi di atas maka diperkirakan pada putaran kedua nanti siapapun yang menang selisihnya akan tetap tipis. Selisih suara yang tipis ini akan memicu pihak yang kalah melakukan gugatan ke Mahkamah Konsitusi (MK), sebagai salah satu usaha untuk memenangkan pilkada.

Untuk menghindari terjadinya gugatan ke MK oleh pihak yang tidak puas dengan hasil pilkada maka harapan besar kepada KPU DKI Jakarta dan Bawaslu DKI Jakarta untuk bersikap adil dan melakukan deteksi dini serta pencegahan dini atas pelanggaran pelaksanaan pilkada. Celah-celah untuk terjadinya pelanggaran akan membuat ketidakpastian politik semakin panjang.

Sabtu, 04 Februari 2017

Melawan Daya Tarik ISIS

Melawan Daya Tarik ISIS
Stanislaus Riyanta  ;  Pengamat Intelijen dan Terorisme;
Alumnus FMIPA Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia
                                                  DETIKNEWS, 30 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pertengahan tahun 2015 publik di Indonesia dikejutkan dengan Dwi Djoko Wiwoho, mantan Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSO) Badan Pengusahaan (BP) Batam yang bergabung dengan ISIS. Dwi Djoko Wiwoho meninggalkan pekerjaan dan jabatan yang cukup bergengsi, dari sisi ekonomi sudah tidak ada masalah lagi.

Kejadian serupa kembali terulang pada tahun 2017. Triyono Utomo Abdul Sakti, mantan Kepala Subdirektorat Penerimaan Negara Bukan Pajak Non Sumber Daya Alam Kementrian Keuangan mengundurkan diri dari PNS dan mencoba bergabung dengan ISIS.

Keputusan Triyono Utomo cukup mengejutkan, pendidikan Triyono cukup bergengsi. Triyono merupakan alumni Sekolah Tingggi Akuntansi Negara (2004) dengan gelas Sarjana Sains Terapan (S.ST), dan alumni dari Flinders University South Australia (2009) dengan gelar Master of Public Administration (MPA). Dari sisi finansial, tentu saja tidak perlu diragukan lagi. Namun daya tarik ISIS yang kuat mampu membuat Triyono berpaling dan memilih meninggalkan karir dan jabatannya untuk bergabung dengan ISIS.

Sebelum kedua pejabat tersebut yang bergabung dengan ISIS, pada bulan Juli 2015 publik dikejutkan dengan kabar bergabungnya Brigadir Syahputra, Anggota Kepolisian dari Polres Batanghari Jambi. Syahputra bergabung dengan ISIS di Suriah dan berganti nama menjadi Abu Azzayn al Indunisiy. Kabar terakhir, Syahputra telah tewas dalam sebuah serangan udara oleh koalisi international pimpinan AS, meskipun hingga saat ini belum ada konfirmasi atau bukti resmi yang diterima oleh pemerintah Indonesia.

Faktor Pendorong dan Motivasi

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menyatakan bahwa kurang lebih 500-an WNI telah bergabung dengan ISIS. Banyak dari mereka yang tertahan di negara-negara transit seperti Malaysia dan Turki. Angka sebesar itu tentu tidak bisa disepelekan, walaupun banyak dari mereka yang telah kembali ke Indonesia dengan berbagai alasan seperti dideportasi atau memang pulang dengan keinginan sendiri.

Hijrahnya warga negara Indonesia ke ISIS tidak serta merta begitu saja. Ada berbagai faktor yang mendorong mereka untuk bergabung dengan ISIS. Abu Jandal, alias Salim Mubarok Attamimi, warga negara Indonesia yang pernah tinggal di Malang ini adalah salah satu orang yang aktif mengajak dan merekrut orang di daerah Jawa Timur untuk bergabung dengan ISIS.

Ajakan yang dilakukan Abu Jandal diduga dengan bujukan ekonomi. Rekrutmen secara tertutup diduga dilakukan kerana sasaran calon simpatisan ISIS sudah jelas dan merupakan kenalan dari Abu Jandal. Narasi-narasi disampaikan sehingga terbangun motivasi calon simpatisan untuk bergabung dengan ISIS.

Alhasil WNI yang tergiur dengan janji-janji ekonomi ini rela menjual asetnya dan bersama keluarga atau secara bertahap mereka pergi ke Suriah melalui Turki. Abu Jandal, yang kemudian diketahui telah tewas di Suriah, mengumpankan daya tarik ekonomi sebagai pendorong calon simpatisan ISIS untuk hijrah ke Suriah, sehingga terbangun motivasi untuk perubahan secara ekonomis dengan kemasan ideologis.

Selain faktor ekonomi, ISIS berhasil menciptakan daya tarik ideologis yang sangat kuat sehingga mampu menggalang orang-orang yang murni ingin bergabung karena persamaan keyakinan. ISIS menyebarkan doktrin-doktrin ideologis melalui media sosial dan media masa secara masif. Publikasi atas ISIS yang sangat gencar di seluruh dunia justru menciptakan daya tarik bagi banyak orang.

Orang yang cenderung mempunyai paham atau keyakinan yang sama akan mudah bersimpati dan akhirnya bergabung. Bahkan tidak sedikit yang melepaskan jabatan, harta, keluarga dan apa yang telah dicapai hanya untuk bergabung dengan ISIS. Ini terbukti pada kasus di Indonesia, mantan pejabat BP Batam dan mantan PNS Kementerian Keuangan bergabung dengan ISIS.

Dari ratusan orang warga negara Indonesia yang telah hijrah dan bergabung dengan ISIS terdeteksi ada dua motivasi besar, yaitu ekonomi dan ideologi. Motif ekonomi terjadi pada simpatisan yang digalang secara individu, face to face, yang biasanya mempunyai hubungan sosial dengan perekrut yang telah lebih dulu bergabung dengan ISIS.

Motif kedua adalah ideologi. Motif ini bisa muncul karena memperoleh informasi tentang ISIS melalui media sosial dan media masa. Interaksi dengan ISIS di Suriah terjadi dengan bantuan internet dan setelah melakukan komunikasi secara intens. Setelah terjadi komunikasi maka penggalangan dilakukan dan orang yang tergalang tersebut akhirnya memutuskan untuk hijrah bergabung dengan ISIS dengan motivasi ideologi.

Selain hijrah, orang yang tergalang melalui media sosial dan media masa, bisa diperalat sebagai lone wolf untuk melakukan aksi di Indonesia. Hal ini seperti yang terjadi di Tangerang (20/20/2016) pada kasus penyerangan Polisi, dan penyerangan di Gereja Katolik di Medan (28/8/2016). Dengan motivasi ideologi dan doktrin-doktrin serta janji surgawi maka pelaku terdorong untuk melakukan aksi teror

Faktor Penyebab

Mudahnya sebagian warga negara Indonesia terdoktrin dan dimasuki ideologi oleh ISIS menunjukkan ada masalah serius yang harus disikapi oleh pemerintah. Seharusnya ideologi bangsa Indonesia Pancasila dan filosofi Bhinneka Tunggal Ika mampu menjadi filter masuknya idelogi seperti yang digunakan oleh ISIS, yang menghalalkan cara-cara keji untuk mencapai tujuan.

Warga negara Indonesia dengan ideologi Pancasila dan filosofi Bhinneka Tunggal Ika sadar akan perbedaan di Indonesia, perbedaan tersebut disikapi sebagai sesuatu yang mengayakan dan menyatukan bangsa Indonesia sehingga tercipta persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, jika sebagai warga negara Indonesia mempunyai sifat nasionalisme rendah, maka akan membuka diri untuk mencari ideologi lain yang dianggap sesuai dengan keinginannya. Celah rendahnya nasionalisme dan kehausan akan ideologi inilah yang dimanfaatkan oleh ISIS melalui para perekrut secara langsung dan melalui media sosial untuk menggalang simpatisannya.

Nasionalisme akan tetap terjaga jika warga negara merasakan negara hadir dan ada serta mampu menjadi pengayom bagi warganya. Jika pejabat negara dan elit politik sibuk dengan kepentingannya masing-masing maka kepercayaan warga negara terhadap pemerintah akan luntur dan secara langsung nasionalisme akan berkurang. Hal ini terbukti pada berbagai unjuk rasa akhir-akhir ini yang menampilkan aksi-aksi melawan simbol negara seperti penghinaan terhadap Presiden atau bendera Merah Putih. Jika nasionalisme tinggi atau kuat tentu hal tersebut tidak akan terjadi.

Pengaruh kelompok intoleran terhadap masuknya ideologi garis keras cukup signifikan. Kelompok atau organisasi intoleran terutama yang menentang Pancasila atau yang berafiliasi dengan organisasi terlarang seperti ISIS harus ditindak tegas. Jika dibiarkan dan masyarakat melihat bahwa negara tidak melakukan tindakan terhadap kelompok tersebut maka ini menjadi jalan bagi ideologi selain Pancasila untuk eksis di Indonesia.

Sikap dan tindakan tegas harus segera dilakukan untuk menunjukkan posisi negara dalam melindungi warganya dari ideologi dan paham asing. Pembiaran oleh pemerintah akan membuat keraguan warga negara atas terhadap negara, pemerintah, dan filosofi bangsanya. Celah ini sangat berbahaya karena bisa dimanfaatkan untuk menggerus nasionalisme.

Pencegahan

Pemerintah harus dengan cepat mengatasi fenomena ini. Nilai-nilai ideologi Pancasila dan filosofi Bhinneka Tunggal Ika harus dipupuk kembali sebagai benteng terdepan mencegah ideologi atau paham asing yang tidak tepat. Paham-paham asing tersebut meskipun dengan kemasan ideologis akan menggalang warga negara Indonesia dan akan mengadu domba sesama warga negara Indonesia.

Negara harus hadir bagi warganya, para pemimpin dan elit politiknya sebagai teladan yang baik bagi penerapan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan justru saling bertikai dan memamerkan aksi berebut panggung kekuasaan. Ketidakpercayaan warga negara terhadap pemerintah dan elit politiknya akan membuka celah lebar bagi ideologi dan kepentingan asing.

Deradikalisasi harus diawali dengan kepercayaan warga negara terhadap pemerintah dan elit politik. Kepercayaan tersebut yang akan menjadi energi bagi warga negara untuk bergerak bersama-sama pemerintah untuk tetap setia dengan ideologi Pancasila dan filosofi Bhinneka Tunggal Ika serta melawan ideologi asing yang berpotensi mengganggu negara.

Jika elit politik masih terus bertikai dan menujukkan atraksi politik yang tidak sehat serta menjemukan, maka siap-siap saja daftar orang-orang seperti Wiwoho dan Triyono Utomo bertambah panjang. Nasionalisme harus dibangkitkan, dikuatkan dan dibangun sebagai garda terdepan pencegah ideologi asing memasuki Indonesia, dan hal ini harus dimulai dari teladan pemimpin dan elit politik. ●

Jumat, 23 Desember 2016

Waspadai 'Konser' Akhir Tahun Kelompok Bahrun Naim

Waspadai 'Konser' Akhir Tahun
Kelompok Bahrun Naim
Stanislaus Riyanta  ;   Analis Intelijen dan Terorisme;
Alumnus Program Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia
                                                DETIKNEWS, 22 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Akhir tahun 2016 ini secara secara berurutan Densus 88 berhasil melakukan pencegahan aksi teror. Densus 88 melakukan penangkapan terhadap terduga pelaku teror disertai dengan berbagai barang bukti. Penangkapan yang dilakukan Densus 88 di Bekasi, Ngawi, Payakumbuh, Deli Serdang dan Tangerang Selatan membuktikan bahwa ada gerakan kelompok teror yang akan melakukan aksi atau 'konser' di akhir tahun.

Di Bekasi, Densus 88 berhasil mengamankan terduga calon pengantin bom bunuh diri berjenis kelamin perempuan dengan barang bukti berupa bom panci dengan daya ledak hingga radius 300 meter. Perempuan bernama Dian Yulia Novi yang ditangkap Densus 88 pada hari Sabtu (10/12/2016) tersebut rencananya akan melakukan aksi bom bunuh diri di Istana pada saat pergantian pasukan Paspampres. Setelah Dian dan beberapa orang kelompoknya tertangkap, Polri juga mengamankan orang yang diduga terlibat dengan rencana aksi ini yaitu Khafid Fathoni (22), yang ditangkap di Ngawi. Khafid merupakan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Solo.

Di Purworejo, Densus 88 mengamankan seorang perempuan dengan inisial IP (35) pada kamis (15/12/2016). IP ditangkap di rumahnya dengan dugaan sebagai anggota kelompok bom panci yang berhasil diamankan oleh Densus 88 di Bekasi. Kelompok dengan calon pengantin Dian Yulia Novi ini diketahui berafiliasi dengan Bahrun Naim, yang sekaligus diduga sebagai sponsor dari rencana aksi bom bunuh diri di Istana. Hal ini dibuktikan dengan adanya transfer dana dari Bahrun Naim kepada kelompok bom panci Bekasi.

Pada Rabu (21/12/2016), Polri menangkap serorang terduga teroris di Kecamatan Biru-Biru, Deli Serdang Sumatera Utara. Terduga teroris berinisial S ini merupakan kaki tangan Gigih Rahmat Dewa di Batam yang merupakan bagian dari jaringan Bahrun Naim. Di Payakumbuh seorang terduga teroris dengan inisial JT alias H ditangkap Densus 88 (21/12/2016). JT alias H diduga mempunyai peran sebagai pembeli bahan-bahan untuk pembuatan bom.

Di hari yang sama, Densus 88 berhasil menangkap satu orang terduga teroris bernama Adam di Tangerang Selatan. Dari hasil interogasi maka Densus 88 melakukan pengembangan dan melakukan penyergepan terhadap kelompok Adam di sebuah rumah kontrakan nomor 46 RT 02/RW 01 Kampung Curug, Setu, Tangerang Selatan. Densus 88 menembak mati 3 orang tersebut.

Tindakan tegas dari aparat kepolisian ini dilakukan karena tiga orang yang akan ditangkap melakukan perlawanan dengan senjata api dan melempar bom. Dalam penangkapan tersebut Densus 88 berhasil mengamankan bom pipa dan senjata api. Dari penyelidikan yang dilakukan ternyata diketahui bahwa 2 dari 3 orang yang tewas adalah calon pengantin bom bunuh diri.

'Konser' Akhir Tahun

Akhir tahun adalah waktu ideal dan favorit bagi kelompok teroris, terutama di Indonesia untuk melakukan aksinya, atau sering juga disebut sebagai sebuah 'konser'. Indonesia tentu tidak akan lupa dengan peristiwa aksi bom malam natal tahun 2000. Rangkaian bom Natal di sejumlah gereja pada tahun 2000 oleh kelompok Jamaah Islamiyah tersebut merenggut banyak korban. Dalam hitungan menit, ratusan korban berjatuhan, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.

Pada akhir tahun 2013, polisi berhasil menangkap terduga teroris yang akan melakukan aksi bom Natal 2013 dan tahun baru 2014. Para teroris yang tertangkap Densus 88 tersebut adalah Irwan Kurniawan alias Arqom, ditangkap di Lamongan, Jawa Timur; Fahri alias Agus dan A ditangkap ditangkap di Kali Abang Nangka, Bekasi Utara.

Di Bekasi, pada 23 Desember 2015, Polri menangkap Arif Hidayatulah dan kelompoknya termasuk yang berasal dari Uighur. Arif Hidayatulah diketahui tergabung dalam Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JAKDN). Arif Hidayatulah adalah teman kuliah Bahrun Naim yang sekarang berada di Suriah. Dalam penangkapan ini diketahui ada satu orang yang lolos, yaitu Nur Rohman, yang dikemudian hari diketahui menjadi pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta.

Dari trend analisis tersebut di atas dan dari berbagai bukti-bukti yang diperoleh oleh Polri melalui satuan khususnya Densus 88, maka Indonesia patut mewasapadai 'konser' akhir tahun kelompok teroris. Kerja keras Densus 88 mengamankan terduga teroris beserta barang buktinya dimungkinkan masih meloloskan anggota kelompok lainnya. Anggota kelompok yang lain, jika ada, tentu akan lebih agresif dan nekad untuk melancarkan 'konser' akhir tahunnya, sebagai bentuk perlawanan terhadap Polri/Densus 88 atas ditangkapnya orang-orang satu kelompoknya.

Dominasi Bahrun Naim

Penangkapan terduga teroris di Bekasi, Ngawi, Payakumbuh, Deli Serdang, dan Tangerang Selatan diduga didominasi oleh peran Bahrun Naim yang merupakan salah satu tokoh ISIS yang berasal dari Indonesia. Bahrun Naim diduga sekarang berada di Suriah, walaupun ada pihak yang menyebutkan bahwa Bahrun Naim saat ini sudah berada di Mindanao Filipina.

Keterlibatakan Bahrun Naim sebagai otak dari rencana 'konser' akhir tahun di Indonesia tentu bukan asal tuduh. Densus 88 tentu mempunyai peta jaringan, bukti transaksi keuangan, bukti arus komunikasi, dan tentu saja pengakuan-pengakuan dari terduga teroris yang tertangkap dan diinterogasi, walaupun nilai dari pengakuan biasanya hanya akan jadi petunjuk, bukan sebagai kebenaran.

Motivasi Bahrun Naim untuk melakukan 'konser' akhir tahun di Indonesia diduga terkait dengan rencana pengembangan ISIS di Asia Tenggara. Terdesaknya ISIS di Irak dan Suriah membuat ISIS perlu menyelamatkan diri dengan mencari tempat lain. Diduga tempat yang akan menjadi basis ISIS setelah pergi dari Irak dan Suriah adalah Afghanistan dan Asia Tenggara. Bahrun Naim tentu mempunyai harapan besar terhadap keberadaan ISIS di Asia Tenggara.

Keinginan eksistensi Bahrun Naim sebagai tokoh ISIS yang berasal dari Indonesia untuk menjadi pemimpin ISIS di Asia Tenggara tidak bias diabaikan. Salah satu cara Bahrun Naim untuk membuktikan eksistensinya adalah dengan mengadakan 'konser' akhir tahun di Indonesia. Hal ini sejalan dengan perintah dari pemimpim ISIS di Suriah kepada para simpatisannya untuk mengadakan aksi di wilayahnya masing-masing.

Pencegahan

Densus 88 yang melakukan penangkapan terduga teroris di berbagai kota adalah langkah pencegahan yang berhasil dilakukan dan patut mendapat apresiasi. Keberhasilan Densus 88 ini secara signifikan akan melemahkan rencana 'konser' akhir tahun yang akan dilakukan oleh kelompok teroris jaringan Bahrun Naim. Namun tetap perlu diwaspadai masih ada kelompok-kelompok lainnya yang belum terdeteksi dan ditangani oleh Densus 88.

Masyarakat dapat berperan aktif mencegah aksi terorisme terutama aksi terror 'konser' akhir tahun dengan mengamati lingkungannya masing-masing, Dari berbagai penangkapan yang dilakukan terlihat bahwa orang-orang yang ditangkap melakukan kontrak rumah atau sewa kamar sebagai tempat transit. Masyarakat terutama yang mempunyai usaha mengontrakkan rumah atau menyewakan kamar perlu waspada jika ada orang-orang yang akan kontrak/sewa dalam jangka waktu pendek.

Tidak ada salahnya masyarakat cerewet terhadap orang-orang yang tidak dikenal, tanyakan alamat asalnya, pekerjaan, dan alasan kontrak/sewa rumah. Jika orang tersebut mempunyai tujuan negatif tentu tidak suka dan akan menghindar jika 'diinterogasi'. Koordinasi dengan aparat setempat perlu dilakukan jika ada orang tidak dikenal datang di suatu lingkungan.

Perayaan Natal diduga merupakan salah satu momen yang menjadi incaran kelompok teroris. Gereja adalah salah satu sasaran teror, hal ini terbukti dari aksi teror di Medan dan Samarinda yang menyerang gereja. Warga gereja tentu memahami siapa saja masyarakat yang biasa datang ke gereja tersebut, jika ada orang yang tidak dikenal tidak perlu ragu meminta bantuan aparat keamanan yang bertugas untuk melakukan tindakan pencegahan. Aparat keamanan perlu menggandeng elemen masyarakat untuk mencegah peristiwa bom malam natal tahun 2000 terulang. Semakin banyak elemen masyarakat yang bersatu untuk mencegah aksi teror maka semakin ragu pelaku teror akan melakukan aksinya.

Polisi merupakan salah satu sasaran utama dari kelompok teroris jaringan Bahrun Naim, hal ini terbukti dari aksi-aksi teror serangan kepada Polisi di Thamrin Jakarta, Tangerang dan Surakarta. Perlu waspada terhadap pancingan untuk berkumpul di suatu tempat yang akan menjadi killing zone aksi bom bunuh diri. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan Polri dan aparat lainnya diperlukan untuk mencegah dan melawan terorisme.

Ancaman terorisme terutama aksi 'konser' akhir tahun bukan sekedar dongeng. Bukti-bukti sudah diperoleh. Masyarakat harus waspada, Polri dan aparat keamanan lain tidak bisa mencegah tanpa keterlibatan masyarakat. Terorisme harus dilawan secara serius, dan tidak perlu menunggu ada korban selanjutnya untuk tidak mengatakan bahwa terorisme adalah pengalihan isu.