Tampilkan postingan dengan label Jean Couteau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jean Couteau. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2021

 

Stabilkah Indonesia pada Proklamasi Ke-100?

Jean Couteau ;  Penulis kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu

KOMPAS, 8 Agustus 2021

 

 

                                                           

Di mana-mana bendera Merah Putih sudah berkibar. Di mana-mana masyarakat merayakan kemenangan medali emas bagi pemain bulu tangkis di Olimpiade Tokyo.

 

Ya, biar pun korban pandemi berjatuhan tak terhitung jumlahnya, rakyat seluruh Nusantara masih tetap bersiap-siap untuk merayakan dengan gembira ulang tahun ke-76 Kemerdekaan Indonesia. Tetapi, akankah demikian pula bagi proklamasi ke-100?

 

Sekarang ini, bila Indonesia dibandingkan dengan negara multireligius apa pun lainnya di Asia, situasinya jauh lebih baik. India boleh disebut demokratis, tapi tetap ada perlakukan diskriminatif terhadap warga minoritas Islam di sana. Lalu bagaimana Pakistan? Di situ, para penganut Syah dan Sikh juga mengalami diskriminasi.

 

Bagaimana Bangladesh? Sederhana: minoritas Hindunya ramai-ramai hengkang ke India, bukan tanpa alasan. Kalau Myanmar? Lebih jelek lagi: bahkan pada waktu kepemimpinan ”demokratis” seorang Aung San Suu Kyi, penduduk Rohingya kerap disebut korban ”genosida”.

 

Bisa saja mengulur daftar negara lain: Sri Lanka memiliki persoalan serupa. Thailand dan Filipina punya persoalan separatisme Islam-nya. Sebagai penutup, bagaimana dengan China? Oh! Kalau Islam Uighur, memori kulturalnya digojlok agar tampil ”Marxis-Leninis” ragam China. Belum tentu lebih baik, kan?

 

Rumus kebangsaan Indonesia tampak jauh lebih kokoh daripada rumus kebangsaan hampir semua negara multireligius lainnya, yang entah ”menaklukkan” agama seperti China; memutlakkannya secara hukum atau faktual seperti Pakistan dan Myanmar; atau melencengkan hukum sehingga suatu agama saja diunggulkan, seperti di India, Bangladesh, dan bahkan Malaysia.

 

Melihat itu, apakah Indonesia adalah ”surga” agama-agama? Tidak: berbagai anutan marjinal masih terlarang; masih ada diskriminasi sana-sini. Namun, disokong Pancasila, negara tidak mengancam agama, dan agama tidak mengancam negara; semua institusi pokok negara bersifat multietnis dan multireligius: tentara, polisi, peradilan, pendidikan; dan situasi keseharian tidak tegang di seputar agama.

 

Apakah situasi multikultural ini bisa lestari? Tergantung. Pada umumnya, bila salah kelola, modernisasi dapat bermuara pada kristalisasi identiter agama, antara lain karena merombak mekanisme tradisional transmisi pengetahuan: kemelekhurufan, yang fenomena ”baru” itu, memperluas otonomi tafsir terhadap kitab-kitab suci; orang bisa mengaksesnya sendiri tanpa bimbingan guru spiritual tradisional.

 

Alhasil, ketika tanda-tanda ketidakadilan sosial terlihat meningkat akibat modernisasi, kerap terjadi elite-elite lama entah kehilangan kuasa atau tidak ada pilihan selain merangkul para ideolog agama didikan baru yang lebih ”mempribumi” dan lebih fanatik juga. Jadi, agama tersulap menjadi sarana perjuangan politik. Kalau sudah sampai ke situ, agama bisa saja terisap pusaran identiter yang tiada henti, seperti di beberapa negara di atas. Jauh dari pertimbangan spiritual apa pun.

 

Indonesia relatif terlindungi terhadap evolusi itu. Terlidungi oleh laut, tradisi keterbukaannya, serta ideologinya. Tetapi, apakah cukup? Sejak 1966, otonomi tafsir tahap awal sudah membawa buah: tafsir terbuka ala Nurcholish Madjid, tetapi juga lahir kelompok-kelompok ultrakonservatif dan radikal.

 

Namun, tantangan yang sebenarnya berada 10-20 tahun ke depan: bila pendidikan sudah meningkat, tetapi tanpa disertai keadilan sosial, terdapat risiko bahwa generasi muda, yang semuanya akan rata-rata berijazah SMA ke atas, kian cenderung melepaskan diri dari tafsir kiai/ulama tradisional untuk merangkul tafsir radikal sebagai sarana perjuangan sosial.

 

Fenomena kemungkinan pergeseran pemuda Islam ke arah radikalisme ini menggugah sosiolog terkemuka Indonesia, Thamrin Amal Tomagola, untuk memberi peringatan: ”Be ready for the worse”, dia menulis tahun 2017, mengenai risiko radikalisme urban (Festschrift ke-84 Toeti Heraty, 2017).

 

Risiko radikalisme juga menghantui agama lain, dengan problematik yang serupa: masalah sosio-ekonomi ditanggapi sebagai masalah agama. Misalnya di Bali, di mana perlawanan terhadap reklamasi Teluk Benoa pernah mengambil bentuk religius, dan di mana anggota DPD dengan raihan suara tertinggi kerap berpidato di ambang batas toleransi.

 

Yang pokok ialah bahwa penguasa negeri ini memahami bahwa radikalisme agama adalah fenomena sosial murni. Berakar di luar agama, dan hendaknya dihadapi secara politik-demokratis, dibantu kebijakan pendidikan yang tepat nan ketat, serta kebijakan keadilan sosial yang seadil-adilnya.

 

Memahami ini adalah syarat perayaan 100 tahun kemerdekaan yang riang gembira kelak, 24 tahun lagi. Mampukah sistem kepartaian ini menghadapi tantangan ini? Semoga. ”Prevention is better than cure”. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

 

Merdeka! ●

 

Minggu, 18 Juli 2021

 

Dapatkah Vaksinasi seperti Dua Ratus Tahun Lalu

Jean Couteau ;  Penulis kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu

KOMPAS, 18 Juli 2021

 

 

                                                           

Cukup banyak orang Indonesia takut divaksin. Sekarang tolong pikirkan: dua ratus tahun yang lalu, bukan vaksin yang ditakuti, melainkan penyakit, tepatnya wabah cacar. Ketika cacar sudah mewabah, antara 10-30 persen orang bisa tersapu bersih. Dan ada wabah lain. Maka orang tak ada waktu mempertanyakan apakah wabah itu buatan China atau jadi bagian dari komplotan big pharma. Tidak! Pikiran orang bodoh zaman itu tidak secanggih ini. Mereka pasrah, atau berdoa, biasanya tanpa hasil.

 

Lalu, apa yang terjadi? Meskipun ibu-ibu tak habis-habis melahirkan, jumlah penduduk tidak bertambah. Kenapa? Oleh karena anak-anaknya terus mati. Yang tidak mati sakit cacar, mati sakit kolera atau malaria. Ya, begitulah nasib orang Indonesia pada waktu itu: mereka tidak meninggal akibat vaksin Sinovac atau AstraZeneca seperti sekarang—paling sedikit itulah yang dikatakan dokter Lois dan kawan-kawannya. Mereka meninggal akibat wabah ini atau wabah itu. Sederhana, kan? Harapan hidup rata-rata 25 tahun.

 

Wanita yang  berusia 15 tahun kala itu sudah menikah, lalu segera memiliki enam atau tujuh anak. Tak lama mereka   mengucapkan selamat tinggal menuju liang kubur, diikuti oleh separuh anaknya!  Tidak mengherankan apabila pocong kuburan kini sedemikian banyaknya. Terlalu banyak orang yang meninggal sebelum waktunya, yaitu sebelum Indonesia mengenal vaksin.

 

Untunglah ada para penjajah, para Londo itu. Aneh betul? Tetapi, memang begitu! Pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1804, di Batavia, ada penjajah yang tidak hanya asyik menindas pribumi atau membaca berita tentang pemenggalan raja Perancis (1793), pendudukan Belanda dan pembubaran VOC (1799), tetapi cukup banyak juga yang bernalar sehat. Mereka percaya pada kemajuan, pada kausalitas eksperimen-eksperimen, termasuk di dalam bidang medis.

 

Bisa dimaklumi: untuk 100 Londo yang mendarat di Batavia, dalam kurun tiga tahun separuh di antaranya sudah mati. Maka begitu terdengar berita bahwa cacar bisa dihindari dengan vaksin dari cacar sapi—orang yang kena cacar sapi diambil darah dan nanah lukanya dan dipindah ke sayatan penerimanya—Londo-londo progresif itu mengambil tindakan. Mendengar bahwa pengendap cacar untuk vaksin sudah ada di Mauritius, mereka mengirim ”sepuluhan anak berusia 10 sampai 12 untuk divaksinasi dan membawa pulang vaksin’hidup’” (D Lombard, Vol I, 1999: 142).

 

Begitu pulang, kira-kira setahun kemudian, para pahlawan ”vaksin hidup” ini segera dikerahkan, diperbanyak jumlahnya dan disebar-sebar ke pelosok-pelosok Batavia untuk memvaksin orang, sayatan darah dari orang ke orang lalu ke bandar-bandar di pesisir dan kemudian ke seluruh Jawa. Bagaimana hasilnya: wabahnya punah! Orang Jawa bisa lega. Dan memang, dengan berlalunya waktu, selaras kemajuan medis, serta vaksin demi vaksin, populasi Jawa bertambah banyak: dari 5 juta pada tahun 1800 menjadi lebih dari 150 juta sekarang ini. Tanpa vaksin primitif itu, jumlah penduduk Jawa akan jauh lebih sedikit.

 

Melihat sejarah ini, pembaca yang terhormat, mana mungkin masih ada orang yang takut atau meragukan keampuhan vaksin. Bukankah lebih berbahaya melakukan vaksin sayatan darah pada waktu itu, ketika obat merah belum dikenal, daripada divaksinasi Sinovac atau AstraZeneca sekarang ini, apalagi tanpa sayatan. Bukankah waktu itu prosedur uji coba masih sangat sederhana, maka ada risiko.

 

Waktu itu kita di awal kedokteran modern. Pikirkanlah sejenak: apabila londo-londo masa lalu bisa menawarkan vaksin tanpa dihalangi siapa pun, lalu sukses, bukankah perusahaan vaksin dari China, dari Amerika, atau dari mana pun, termasuk Indonesia, dapat juga menawarkan vaksin dengan sukses pula.

 

Ya, teman-teman, bisa jadi jamu atau obat ini-itu membantu daya tahan, tetapi ketahuilah: tidak cukup. Petinju kelas bulu tak bertahan lebih dari 3 menit melawan petinju kelas berat. Virus adalah sesuatu yang nyata, yang hanya dikalahkan oleh sesuatu yang nyata pula: vaksin. Dan apabila ada doktor-doktor atau profesor-profesor yang mengatakan bahwa vaksin tidak menyerang virus tetapi memperbanyaknya, carilah di Google informasi tentang orang itu. Akan cepat kempes kekaguman Anda terhadap mereka itu: delusi, waham kebesaran. Tak pantas diperhatikan.

 

Nalar telah menyelamatkan orang Indonesia 200 tahun lalu. Nalar harus menyelamatkan Indonesia sekarang ini. Maka segeralah mendapat vaksinasi dan sambutlah esok hari dengan tenang. ●

 

Selasa, 29 Juni 2021

 

Tangkislah Serangan Covid

Jean Couteau ;  Penulis kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu

KOMPAS, 27 Juni 2021

 

 

                                                           

Tidak mudah bertatap muka dengan orang lain semasa pandemi Covid-19. Kalau bertemu, mukanya harus tertutup. Bermasker. Tak boleh ada lagi yang namanya cipika-cipiki. Bisa kena Covid. Meski kita memakai masker, tak berani ngomong, terutama kalau tak ada angin. Takut si Covid memanfaatkan kesempatan itu untuk meloncat nempel, lalu merambat entah ke mana, di pojok hidung, di langit-langit, atau di ujung lidah.

 

Bahaya! Pokoknya si Covid mutlak kudu dilawan, dihadang, dan dikalahkan sebelum dia menyelusup masuk ke tenggorokan, dan lebih-lebih bercokol di paru-paru. Kalau ditelan saja, tidak terlalu parah. Sesampai di lambung, ia akan diserang asamnya dan mampus sebelum sempat berbiak-biak. Paling-paling akan menyebabkan mules dan mencret, keluar entah bagaimana dan merampungkan sisa pengalaman hidupnya sebagai pupuk di kebun kecil belakang rumah, atau sebagai santapan favorit di lorong tikus dan kecoa. Namun, seandainya dia salah jalan dan sampai masuk ke paru-paru, lain ceritanya. Di situ, anginnya segar untuk berkembang biak. Maka, begitu si Covid dihirup, langsung masuk dan bercokol.

 

Ideal untuk si virus bandel ini. Dia keenakan, bisa berfoya-foya sebagai mahkota protein. Apalagi dia tak sendiri. Ada betinanya. Maka, tanpa disadari oleh yang empunya paru-paru, si Covid sudah kasmaran dan beranak-pinak tanpa menghiraukan pendapat siapa pun. Pokoknya bikin anak! Banyak! Mungil-mungil semuanya. Tak mengherankan tanpa makan waktu lama paru-paru tak bisa bernapas. Kehabisan udara. Si empunya paru sampai megap-megap! Kewalahan menghadapi serangan massal anak-anak Covid! Si empunya paru-paru bisa mati. Kecuali….

 

Ya, kecuali kalau ada bala bantuan. Karena selama ini, yang melawan si Covid ini hanya tentara pribadi si empunya paru-paru. Antibodi, namanya. Cukup hebat sebenarnya si antibodi itu! Kalau satu lawan satu, serdadu antibodi satu, Covid satu, antibodi pasti menang. Memang, banyak jagoannya di antaranya! Tetapi, antibodi mempunyai masalah: betapa hebatnya di dalam pertarungan satu lawan satu, dia kalah soal beranak pinak.

 

Minatnya kurang, hampir impoten! Meski ada betinanya, dia tak mampu beranak pinak di dalam jumlah yang cukup banyak untuk menangkis serangan barisan Covid yang terus berdatangan tak takut mati. Apalagi, celakanya! mayat-mayat Covid yang bergelimpangan itu memblokir kanal-kanal oksigen menuju vena-vena yang empunya tubuh. Di situ, menunggu sang maut penjemput kematian, yang empunya paru-paru itu! Ampun deh!

 

Satu-satunya jalan keluar agar sang empunya paru-paru bisa hidup ialah mencari bantuan luar. Vaksin, namanya! Begitu disuntik, bak viagra, para antibodi terpicu menjadi perkasa. Gilirannya beranak pinak. Membeludak jumlahnya. Jutaan banyaknya. Dampaknya langsung terasa. Baru si Covid masuki tubuh, belum dia sampai di paru-paru, sudah ketahuan niat jahatnya. Lalu dihadang. Dibidik panah antibodi. Byur, celetak! Kena! Babak belur. Tentara Covid jahanam lari tunggang langgang. Kecut. Itulah kesaktian si vaksin. Memicu antibodi yang mengenyahkan Covid.

 

Sekarang, ibaratkan kalian adalah serdadu antibodi di atas. Akan bereaksi bagaimana apabila mendengar bahwa komandan Anda, yang bermarkas nun jauh di atas sana, menolak bala bantuan vaksin gara-gara vaksin disebut-sebut terkontaminasi babi atau menjadikan Bill Gates lebih kaya. Pasti kalian akan nuntut komandan itu disepak dan bala bantuan diterima.

 

Kini, bolehkah saya lebih serius? Kalian telah membaca dan memahami cerita metaforik ini, kan? Maka, jangan ragu-ragu, teman-teman. Jangan membiarkan si Covid mengantar Anda dan orang di sekitar anda—siapa tahu?—ke ambang maut. Siapa pun Anda, petani dan tuan tanah, buruh dan eksekutif, orang kaya dan orang miskin, beragama Islam, Hindu, Kristen, Buddha, Konghucu, atau aliran kepercayaan; jangan kalian perhatikan suara sumbang orang yang tidak bertanggung jawab. Bersedialah kalian untuk divaksin. Semua. Demi keselamatan kita bersama. Amin. ●

 

Minggu, 06 Juni 2021

 

Berbagi Kasih

Jean Couteau ; Penulis kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu

KOMPAS, 06 Juni 2021

 

 

                                                           

Pagi ini, entah kenapa aku teringat pengalamanku, sembilan tahun yang lalu, di kuburan yang secara  khusus aku  datangi.  Waktu itu, tepat di belakang gereja tua Mouzillon, desa Perancis nun jauh di Barat sana. Di desa itu makam-makam berderet, keluarga demi keluarga, dari tanggal kematian yang satu ke tanggal kematian yang lain, dari salib yang satu ke salib yang lain, dari onggokan berumput kering ke makam bermarmer megah. Di antara makam itu aku mencari dia, ya  dia itu, yang dulu menyediakan bahu untukku menangis, ketika teriakan-teriakan skizofrenia kakak meraung-raung mengisi kesunyian pagi dan kegelapan malamku. Ya, sembilan tahun lalu itu, aku mencari makam ibu pengasuh kami yang miskin harta, namun kaya hati.  Si Mbok kata orang sini,  yang mengajarkan aku menanjak dewasa.

 

Kuburan itu pasti masih ada di sini, aku yakin.  Maka di gang-gang kuburan negeriku, dengan seikat bunga di genggaman  tangan, aku berjalan merunduk-runduk, lama berputar-putar, mencari-cari kuburan  itu, demi masa lalu, demi tak lagi mempertanyakan makna.

 

Namun aku sial. Kuburan bertuliskan: "Bahuaud" –Bao bagiku--yang  khusus aku datangi untuk meratapinya, juga dengan angka tahun 1899-1962 diterakan di batu nisannya, tidak kutemukan.  Tidak ada waktu mencarinya lebih lama. Kereta api ke Paris dan pesawat terbang ke Jakarta tak akan menungguku. Aku gundah, air mata berlinang, dan bergegas menuju gerbang.  Tiba-tiba di pojok timur, aku melihat satu makam berbeda: sebuah batu nisan Islam dengan foto orang hitam. Ini tanda orang “lain” telah lama hadir di negeri kelahiranku.

 

Kini berselang sembilan tahun aku teringat kenangan itu semua. Lalu  kuingat lagi “Bao”,   sekitar tahun 1965. Bao dan orang hitam.  Pada waktu itu, ayahku, dokter hewan di kota Clisson, harus menjalankan kampanye tahunan untuk penyuntikan sapi di seluruh daerah, yang konon terancam penyakit “Tangan, Kaki dan Mulut”. Jumlah hewan yang harus disuntik puluhan ribu. Maka untuk itu dia membutuhkan asisten, yang biasanya dicarinya di sekolah tinggi kedokteran hewan di dekat Paris.

 

Setiap tahun sekolah itu mengirim seorang dokter hewan muda yang perlu praktik. Tetapi, tahun 1965 itu, dokter muda yang dikirim sedikit “berbeda”: dia adalah orang “hitam”, orang Afrika dari negara Mali,   negeri bekas jajahan Perancis. Dia akan tinggal di sayap khusus rumah besar keluargaku. Namun, dia akan datang ketika keluarga kami di luar daerah. Maka, selama beberapa hari dia akan ditangani oleh  “Bao”, Si Mbok tua yang baik itu.

 

Namun benak Mbok Bao itu, yang janda perang berijazah SD saja, tidak dipenuhi impian manis universalisme Perancis; lebih diisi cerita Tarzan dan berita misionaris yang disantap orang tak beradab berkulit hitam menakutkan. Mendengar bahwa dia harus melayani dokter hewan seperti itu, yaitu “hitam”, Bao kontan menghadap ibuku dan berkata: “Maaf Nyonya, aku takut. Lebih baik aku meletakkan jabatan."

 

"Okay," sahut ibuku kaget, "kalau mau berhenti, berhentilah, tetapi kasih tahu padanya paviliun tempat tinggalnya. Baru boleh atur semua dengan sekretaris Bapak...."

 

Tiba harinya untuk menyambut si dokter hewan “hitam” itu. Hari itu berlalu, kami tak mendapat berita. Hari kedua, melihat belum ada berita juga, ibuku menelepon untuk mengetahui bagaimana sambutan si “hitam” itu. Tahu-tahu yang mengangkat adalah Simbok Bao, yang bahkan sebelum ditanya sudah langsung berkata: “Maaf, Nyonya, ternyata si Daouda –itu namanya—adalah seperti seorang santo.” Ajaib, kan!

 

Bao kemudian tetap menjadi sahabat Daouda sampai ajalnya. Ternyata prasangka rasial dan etnis wong cilik yang baik bisa menghilang di hadapan senyuman orang yang baik hatinya. ●

 

Selasa, 18 Mei 2021

 

Sampah Sungai-sungai Dunia

Jean Couteau ;  Penulis kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu

KOMPAS, 16 Mei 2021

 

 

                                                           

Tanggal 13 Mei. Sejak pagi, membuka handphone, saya menyaksikan bagaimana warga negeri ini berupaya merayakan ”keindonesiaannya” dengan mempertemukan ucapan ”Mohon maaf lahir dan batin” dengan ucapan ”Tuhan memberkati”. Mumpung terdapat pertemuan kalender antara perayaan Idul Fitri dan perayaan Kenaikan Isa Almasih.

 

Apakah kita akan dapat mempertahankan toleransi antarkelompok dengan sekadar tradisi bersilaturahmi, yaitu dengan ”berseru-seru” bahwa Pancasila tidak membedakan agama-agama secara hukum, atau dengan merujuk pada ungkapan bahwa ”kita memang berjiwa toleran sebagai bangsa”. Kini perombakan sosial mahabesar; adapun redistribusi kekayaan nasional dan internasional sangat timpang. Karena itu, agama dengan mudah dijadikan senjata politik, bahkan tanpa sepenuhnya disadari oleh para rahib, ulama, rabi, sadu, pendeta, dan lain-lain.

 

Memikirkan semua itu, saya kadang-kadang tidak enak hati membaca surat kabar. Saya tidak enak, misalnya, ketika membaca berita di Le Monde yang menggambarkan betapa terpuruknya HAM di negeri asal saya, negeri yang pertama menelurkan HAM itu: seorang Muslim ditangkap di dekat katedral kota Lyon karena dianggap ”bersikap aneh” ketika mengujar kata ”Allah” di tengah kerumunan gereja. Bukankah gereja adalah tempat suci yang semestinya terbuka pada semua umat manusia?

 

Di Perancis itu, seperti juga di banyak tempat, bahkan di negeri tercinta ini, mau tidak mau terjadi kristalisasi agama: orang merapatkan barisan di seputar identitas asal, abai pada akal dan kemanusiaan yang sebelumnya mereka junjung tinggi.

 

Penyakit agama kini menyeluruh. Paranoia mengambil dimensi global. Israel sebenarnya terlahir dari tafsir kembali Alkitab yang dilakukan orang Yahudi setelah diizinkan keluar dari gettho-gettho-nya oleh Napoleon. Mereka lalu meninggalkan tradisi mistis mereka ketika hanya berupaya menggapai Jerusalem spiritual dan merangkul sebagai gantinya Jerusalem nyata, tanah Israel politik yang konon dijanjikan itu. Lalu digerogotilah oleh mereka setiap jengkal, satu per satu, dari tanah yang disebut suci itu.

 

Bahkan akhir-akhir ini tafsir kolonial itu tidak cukup. Muncul tafsir baru: melihat bahwa masih ada Masjid Al-Aqsa di Jerusalem yang diperuntukkan bagi orang Islam, kaum Yahudi ekstrem kanan merujuk pada cerita Samson sebagai patokan represi politik. Seperti Samson yang konon telah merobohkan kuil atas orang Filistin demi menghancurkan mereka 2.500 tahun yang lalu, mereka pun ingin membinasakan orang Palestina masa kini. Meskipun mereka pun mati untuk itu. Gila, kan?

 

Memang pemelintiran kitab agama bukanlah hal baru. Perang Salib dilakukan atas nama kebenaran. Para pejuang Perang Salib lalu itu diperangi oleh pejuang Islam atas nama kebenaran pula. Lalu orang Yahudi dan Islam sama-sama diusir dari Iberia oleh Raja Katolik Spanyol atas nama kebenaran lain. Amerika dianggap oleh pendatang kolonial pertama sebagai tanah yang dijanjikan Alkitab. Lalu, dibantainya orang Indian atas nama itu.

 

Apakah agama-agama non-Semitik lebih halus sikap politiknya? Tidak. Setelah dibungkam lama, kini muncul radikalisme Hindutwa di India. Adapun agama Buddha, apakah perlakuannya terhadap orang Islam di Myanmar adalah lebih baik? Konon mirip genosida, kata beberapa ahli PBB.

 

Begitulah pembaca yang budiman. Saya kelihatan marah, kan? Karena itu, skeptis tentang masa depan kebersamaan bangsa dan dunia. Namun, justru karena skeptis, harus dapat saya buktikan keliru, yaitu perdamaian mesti diciptakan. Namun, untuk itu tidak cukup berjuang dengan berkata-kata saja, seperti diungkap orang bijak Bali dan Jawa yang lama: ”Semua agama adalah sama, semua seperti sungai-sungai, yang asalnya dari gunung, dan akhirnya semua bermuara di laut. Hanya jalurnya yang berbeda.

 

”Ya! Ungkapan bijak itu tidak lagi cukup. Harus menyadari pula bahwa di sungai-sungai masa kini terdapat banyak plastik dan sampah-sampah. Oleh karena itu, bukankah sudah saatnya para rahib, ulama, rabi, dan pendeta melakukan pembersihan sungainya masing-masing. Hingga akhirnya air mengalir sejernih-jernihnya. ●

 

Minggu, 25 April 2021

 

Universalisme Nasional Sang Garuda

Jean Couteau ;  Penulis Kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu

KOMPAS, 25 April 2021

 

 

                                                           

Waktu saya masih baru tinggal di Indonesia dan mulai menguasai bahasanya, saya sering ’kesel’ mendengar setiap saat istilah ’bangsa’, ’Pancasila’ dan semboyan-semboyan terkait: saya masih bodoh. Maklum, saya lahir ketika horor-horor nasionalisme Perang Dunia Kedua masih hadir di benak lingkungan hidup keluarga saya.

 

Acuan pada bangsa, zaman itu, adalah sesuatu yang menakutkan dan saya belum tahu bahwa konsep nasionalisme Indonesia berbeda, bertujuan membangun ”kebersamaan” dalam negeri, bukan permusuhan terhadap orang luar. Alhasil, saya percaya bahwa prinsip-prinsip universalisme Perancis, bila ditegakkan, adalah cukup untuk menghasilkan dunia yang damai dan sejahtera. Kini saya menyadari bahwa lebih rumit dari itu. Khususnya di Indonesia. Mari kita lihat.

 

Apa prinsip-prinsip Revolusi Perancis yang diumumkan dengan sedemikian tegas bahwa meruntuhkan kerajaan dan kemudian menggoncangkan dunia: pertama soal hak asasi manusia, ”les droits de l’homme et du citoyen” (hak asasi manusia dan warga negara-1789). Kedua,  ”liberte, egalite, fraternite ou la mort” (kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan atau maut -1793).

 

Prinsip itu baik, kan. Namun, hemat saya, ada kelemahannya. Ide-ide revolusi itu berhadapan langsung dan secara mutlak dengan realita sosial. Realita ditolak atas nama ideal. Akibatnya, begitu prinsip luhur kemanusiaan itu diumumkan, hasilnya bertolak belakang dengan niatnya semula. Bukanlah HAM yang berlaku, tetapi kekerasan.

 

Mulai waktu revolusi Perancis itu sendiri, dengan guillotine. Diteruskan dengan demam nasionalisme keras dan kolonialisme yang merajalela selama lebih dari 150 tahun dan memuncak ketika kesetaraan sosial hendak diterapkan dengan paksa di Uni Soviet dan dunia pasca-1917.

 

Jadi, betapapun indah gagasan ciptaan Pencerahan abad ke-18 ini, idealisme universalis itu cenderung bermuara pada teror.

 

Bagaimana itu ditanggapi di Indonesia. Itulah yang menarik, karena geniusnya Soekarno dengan angan-angan khas Indonesia miliknya. Dia tahu sedari kecil bahwa di negeri Nusantara ini yang penting bukanlah kekuatan definisi ketat suatu ide atau ”konsep”, melainkan ruang imajiner yang dilahirkannya.

 

Dia tidak keliru. Di Indonesia, agar suatu ide dirangkul umum, bukanlah logika yang diandalkan, tetapi simbol penyertanya. Rasa adalah lebih unggul daripada intelektualitas. Pemahaman dari pengertian. Daripada menyatakan, lebih baik mengungkap; daripada menyuruh, mengimbau. Indonesia bukan tanah Descartes, dan tidak ada salahnya.

 

Soekarno mafhum terhadap nilai-nilai pencerahan dan Revolusi Perancis di atas. Dia meraih pendidikan insinyurnya di dalam suasana di mana angan-angan revolusi itu dirangkul oleh semua aktivis kemerdekaan. Dia juga mendukung perjuangan untuk mencapai keadilan sosial.

 

Namun, ada sesuatu yang selalu dia sadari: bagi orang Indonesia yang tengah disadarkannya menjadi bangsa ini, ideal normatif abstrak tidaklah cukup. Harus dilokalkan, didagingkan di dalam rumusan yang mencerminkan pandangan dunia bangsa. Oleh karena itu, dia tidak sepenuhnya puas dengan tampilan Pancasila sebelum Pancasila itu dipatri di dalam narasi simbolis yang kuat.

 

Di mana Soekarno mendapat narasi itu? Pada cerita wayang yang diminatinya sedari kecil. Pada pakem sang Garuda yang berjuang melawan aneka raksasa dan makhluk menakutkan untuk akhirnya merebut air kehidupan abadi (amerta) di puncak Gunung Indrakila. Dengan amerta itu, Garuda lalu membebaskan ibunya dari ular-ular yang memperbudaknya.

 

Entah kapan, mengingat cerita itu, terlahirlah di benak Soekarno makna simbolis multitafsir yang dinanti-nantikannya: Garuda melambangkan bangsa yang berjuang demi meraih amerta kemerdekaan. Setelah tercapai, sang ibu, yaitu Pertiwi, terbebas dari ular-ular penjajahnya. Itulah pesan simbolis pertama. Selain itu, bila amerta merupakan keabadian bangsa Indonesia, keabadian tersebut hanya dapat terjamin bila bangsa bersatu di dalam kebinekaannya.

 

Oleh karena itu, dengan mengambarkan Garuda memegang erat-erat Bhinneka Tunggal Ika di cakarnya, tersampaikan syarat persatuan bangsa, dengan kelima prinsip Pancasila di dadanya, sebagai jantung hidupnya. Itulah pesan simbolis kedua.

 

Tidak mengherankan bila kini Sang Garuda hendak dijadikan pelindung istana negara oleh pematung Nyoman Nuarta. Dengan menaungi gedung istana negara, dia menerakan di dalam bentuk simbolis fisik keabadian Negara Indonesia di dalam kebinekaannya. Tentu, terlindungi di bawah sayapnya terdapat juga liberté, égalité, fraternité. Bukan lagi sebagai prinsip revolusioner, melainkan sebagai tawaran perilaku. Sebagai realita universalisme berakar lokal.

 

Bravo Indonesia. ●

 

Senin, 05 April 2021

 

Gangguan Navigasi Sperma

 Jean Couteau ; Penulis Kolom “Udar Rasa” Kompas Minggu

                                                         KOMPAS, 04 April 2021

 

 

                                                           

Sebagai seorang kakek yang sudah cukup produktif, saya tidak mungkin tidak hirau terhadap fenomena pembuahan diri kita menjadi manusia. Segi konkretnya tak perlu saya tekankan di sini. Takut melanggar etika jurnalistik. Namun, kenyataan berbicara: kalau sudah berpredikat ayah atau ibu, berarti kita pernah terbawa oleh semacam program ragawi yang membuat kita melekat pada lawan jenis kita. Di situ, ujung-ujungnya, kita pernah berurusan dengan sperma/ovula atau, lebih tepatnya, sperma/ovula itu berurusan dengan kita. Kita pernah mengalami proses pembenihan atau pembuahan hidup.

 

Mengetahui hal ini, bisa dibayangkan betapa saya kaget dengan berita yang tiba-tiba muncul di depan mata saya beberapa hari yang lalu: volume spermatozoid yang kini dihasilkan kaum pria cenderung menurun drastis dibandingkan dengan beberapa puluh tahun yang lalu, notabene sebelum saya menjadi kakek. Singkatnya, sang ovula, alih-alih dibanjiri ribuan spermatozoid, kini paling-paling berhadapan dengan satu-dua peminat saja. Akibatnya, ya! Semangat sang ovula pun berkurang! Maka, pembuahan gagal. Oleh karena fenomena ini massal, masa depan manusia terancam.

 

Kalau tak percaya, bacalah tulisan The Guardian (28/03/21 dan kutipan 12/05/14): ”kepintaran renang dan navigasi sperma terganggu produk kimia biasa”. Lupakan alegori lautan, yang dimaksud ialah, apabila kini pria kekurangan sperma, ialah karena bahan-bahan kimia tengah merasuki unsur-unsur genetis kita. Perusakan ekologi tidak menimpa alam luar saja, tetapi juga terjadi di dalam tubuh kita.

 

Alangkah baiknya apabila kita bisa tetap ”naif” seperti dulu, seperti orang Bali, misalnya, ketika hidup di dalam keakraban dengan alam. Belum ada kimia-pestisida, belum ada ilmu pengetahuan teknologi alias iptek, yang ada hanyalah proses kama dan atma: pada awal proses penghamilan, katanya, ada intervensi seorang ”batara” yang disebut Sang Hyang Deleng, yaitu ”Sang Hyang Lirik”.

 

Akibatnya lirikan ajaibnya, dari sepasang manusia kasmaran keluarlah dua kama, yaitu dua wujud nafsu yang berbeda. Yang satu, kama bang, berwarna merah, produk sang wanita; sedangkan yang satunya lagi kama petak, berwarna putih, produk sang pria. Lalu, ketika kedua tipe kama beradu di garba sang wanita, tiba-tiba, jreng-jreng!! Dari persemayaman para leluhur, yaitu dari Gunung Agung, turunlah atma yang sudah lama merindukan gumi Bali dan membidik untuk itu permainan asmara sang cucunya di madyapada itu. Jreng-jreng lagi!! Terwujudlah si jabang bayi, yang akan lahir 9 bulan kemudian. Puitis, kan?

 

Kini, sayangnya, masa mitos ala Bali yang puitis itu sudah lewat. Masa kita adalah masa ilmu, masa intervensi manusia atas alam. Masa kimia merasuki semua. Masa lahirnya Covid-19 dan matinya sperma. Memang manusia luar biasa, kata kaum optimistis, yakin: apabila kimia dan ilmunya merusak ”navigasi” sperma, ilmu medis akan membantu. Kalau perlu, dengan ”Program Bayi Tabung”. Kasarnya, sperma dan ovula ditaruh di tabung, dikocok, dan lahirlah sang bayi.

 

Ajaib, bukan? Namun, hal ini menimbulkan masalah yang tidak hanya etis, tetapi juga filsafati: sejauh mana program bayi tabung merupakan tanda kuasa manusia atas alam? Sejauh mana tantangan terhadap misteri kehidupan dan kuasa ketuhanan? Problematika ini bernada metafisik! Hingga pernah dijadikan seni konseptual oleh salah seorang ”dokter tabung” Indonesia, Dr Augky Hinting, dari Surabaya. Dia memvisualisasi di karyanya manipulasi sperma dan ovula di tabung, atau dia memperlihatkan spermatozoid bagai pilot Formula One di ajang perlombaan? Dengan ini, dia jelas memundurkan batas kesakralan pembuahan manusi, tetapi juga, secara paradoksal, mengangkat kesakralan hidup baru itu sebagai isu tersendiri.

 

Itu masalahnya. Bisa jadi Dr Augky dan dokter-dokter lain menghasilkan kian banyak bayi tabung. Bahkan, bisa jadi, seperti ditulis salah satu artikel The Guardian lainnya (25/03/21), bahwa harinya tidak jauh ketika manusia akan mampu memproduksi bayi di dalam inkubator/womb artifisial. Manipulasi ini bisa jadi menutupi kekurangan spermatozoid dan keengganan ovula. Namun, sejauh mana alam akan menerima pongah tingkahnya manusia. Dan, sejauh mana cucu-cucu kita pun bisa menerimanya. ●

 

Senin, 08 Maret 2021

 

Renungan Ibuku

 Jean Couteau ; Penulis Kolom “Udar Rasa” Kompas Minggu

                                                        KOMPAS, 07 Maret 2021

 

 

                                                           

Kalau sedang mengemudi, aku suka membiarkan pikiranku melayang-layang, merekam arti hal-hal yang sepele. Cara orang menyeberang jalan, lubang di aspal, gerobak bapak kerempeng yang mengangkut sampah, mobil sangat besar yang menyosor dari belakang sebelum tiba-tiba menyalip kasar, kepala pria dihiasi udeng.... Semua detail sepele itu aku perhatikan dan lantas menjadi kesan yang tertera di benakku: itulah Indonesiaku, dan itulah Baliku….

 

Ya! Di negeri itu kini bermukim diriku, bule sudah tua, yang masa kecilnya dilewati di pinggir sebuah sungai di Perancis yang indah, dengan benteng kuno besar yang menjorok di seberang sana, seolah-olah demi mengingatkan kesadaran sejarah.

 

”Aku” ketika di sana! ”Aku” ketika di sini! Apakah ”aku” itu adalah ”aku” yang sama? Di sana adalah tempat aku lahir, Perancis, diasuh ibu yang seorang pelukis. Di sini tempat aku akan mati, Indonesia, menjadi penulis seni budaya.

 

Jati diri! Kata itu berdengung di telinga, ”Kunci jati dirimu ada pada orang lain”. Almarhumah Ibu pernah berkata. Apa artinya kata itu bagiku di sini? Apakah usai menjelajahi dunia dan bermukim di Bali, aku betul-betul telah menemukan kebersamaan dengan sesama yang diidamkannya? Oh Ibu!

 

Ngapain aku mengendarai mobil ini? Aku sedang menuju Desa Mas di Kabupaten Gianyar, tepatnya ke Gallery Bidadari. Akan bertemu dengan seorang yang juga perantau, yang aku ketahui telah seperti aku ”menggali lubangnya” di rantau sebagai pengelola galeri, seorang wanita. Bila aku berasal dari ujung Barat Eurasia, di Perancis, dia lahir di sebuah pulau di ujung Timur-nya, di Jepang. Kami berdua kini berumah tangga di Indonesia.

 

Sambil membelok ke kanan atau ke kiri, terbayang di benak wajah ibuku ketika masih muda: ”Kita bangsa yang pintar di Perancis, Nak. Tetapi, kita juga belajar dari negeri jauh, anakku. Di Beaux-Arts (Sekolah Tinggi Seni), dosenku selalu menekankan bahwa Jepang-lah guru kami di dalam hal dialog kontur dan warna,” ujarnya.

 

Berpikir tentang Ibu, tebersit juga wajah berkeriput seorang pria Jepang tua, teman almarhumah, yang mengunjungi kami setiap dua tahun. Apa tujuannya? Menjelajahi satu per satu gereja-gereja gaya Roman di daerah kami. Ya! Jepang dan Perancis memang berbagi minat perihal sejarah dan seni?

 

Sesampai di Mas, Hiromi sudah menanti, tersenyum. Kami melihat karya, lalu duduk, lantas berbicara tentang ini itu. Khususnya tentang seni: seni Jepang yang cenderung mengambil inti bentuknya dibandingkan dengan seni Bali yang sebaliknya berbiak di dalam detail yang semakin kecil.

 

Lalu, tiba-tiba suara hati keluar, ”Aku hidup di Bali, Pak Jean, sebagai orang Jepang. Tetapi, aku tidak melihat perbedaan antara Bali dan Jepang. Aku justru melihat persamaan.”

 

Hiromi melanjutkan, ”Yang pokok di Bali adalah leluhur, kan? energi alam, dengan dewa-dewanya, tanpa dogma. Tepat seperti di ajaran Shinto, yang juga menghormati alam dan leluhur. Keluargaku berasal dari pusat kultus Shinto di Kiyushu. Di situ pendeta Shinto adalah penjaga hutan, penjaga keseimbangan, tepat seperti dalam tradisi Bali….”

 

Suara lirih halusnya terdengarnya seolah bersenandung, bersenandung tentang Bali-nya, yang juga Jepang-nya. Bagaimana di sana ataupun di sini kita harus berdamai dengan ”mandala” hingga tergapai kesatuan makna.

 

Mendengarnya berbicara seperti itu, aku teringat wejangan khas Bali yang berkata: semua kepercayaan adalah sama. Bagai sungai yang semua berasal dari Gunung dan semua bermuara di Lautan yang sama. Ada pula padanan ungkapan Jawa yang berkata, Tuhan bagai pasar, untuk menujunya ada jalan dari Timur, dari Barat, dari berbagai jurusan.

 

Wajah Ibu terlintas di benakku. Saat beliau sudah sangat tua, delapan tahun yang lalu: ”Kau seperti aku, Jean. Dunia aku jelajahi dari Yunani sampai ke Laos dan Afrika. Harapan kaum wanita telah aku abadikan di potret-potretku. Mantra biku-biku aku usapkan di kanvas pada baju oranyenya. Semoga kau mampu meneruskan dalam pesan kata bermakna apa yang aku sampaikan dengan garis dan warna.”

 

Itulah terakhir kali aku melihat Ibu masih hidup sebelum beliau wafat, jauh dari kehadiran saya.

 

Aku kini tahu: baik di Perancis maupun pada senyuman Hiromi di Mas, Bali, atau di Jawa dan entah lagi di mana, ada saja orang yang berbagi impian ibuku. Masih mampukah aku? ●