Jumat, 16 Agustus 2013

Pola Asuh Keluarga Berkarakter

Pola Asuh Keluarga Berkarakter
J Sumardianta Guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta,
Penulis buku Guru Gokil Murid Unyu (2013)
TEMPO.CO, 14 Agustus 2013



“Tidak semua orang bisa menghasilkan sesuatu yang hebat. Tapi setiap orang bisa mengerjakan sesuatu yang sederhana dengan cinta yang hebat."        (Bunda Teresa)

“Ayah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya agar anaknya tidak digigit nyamuk. Apakah ayah juga akan melakukan hal yang serupa?” Sambil tertawa, ayah menjawab pertanyaan anaknya, “Tidak, Nak. Ayah akan memasang kelambu agar nyamuk tidak bisa menggigit semua anak ayah.”

“Aku pernah membaca kisah seorang bapak yang rajin berpuasa supaya anak-anaknya tidak kelaparan. Apakah ayah juga akan melakukan hal yang sama?” Si ayah menjawab tegas, “Ayah akan bekerja lebih keras guna memastikan keluarga ayah tidak ada yang kecingkrangan.”

Si anak tersenyum lega. “Terima kasih ayah. Aku bisa selalu bersandar di bahu ayah.” Sambil membelai rambut anaknya, ayah berujar, “Tidak. Ayah akan mendidikmu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri. Anak-anak ayah tidak boleh ada yang tersungkur sepeninggal ayah nanti.”

Amor mundum fecit. Cinta itu menciptakan dunia. Amor vincit omnia. Cinta itu mengatasi segala-galanya. Daya-daya cinta transformasional pasangan suami-istri bersahaja tapi heroik dikisahkan amat menyentuh dan memikat dalam film 9 Summers 10 Autumns. 

Film yang baru saja diputar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia itu merupakan memoar pasangan suami-istri Abdul Hashim dan Ngatinah. Kisah tentang good parenting character. Realisme, spiritualisme, dan romantisme pola asuh keluarga berkarakter dimulai sejak masa pacaran, menikah, mendidik dan membesarkan anak, sampai saat anak-anak dewasa dan mandiri.

Film adaptasi novel Iwan Setyawan itu menawarkan cara terbaik koneksi mental guna memperoleh wawasan living in the family moment. Hashim dan Tinah, suami-istri bersahaja, teladan bagus nilai-nilai dasar: integritas, respek, tanggung jawab, fairness, dan kepedulian. Hashim, seorang pekerja kasar, setiap hari bergulat dengan kerasnya hukum rimba jalanan sebagai sopir angkot dan truk. Watak Hashim yang keras diimbangi hati Tinah yang lembut. Tinah ibu rumah tangga tangguh. Dia membalikkan mitos tentang sumur-dapur-kasur. Visiun tentang pendidikan menjadikan kelima anaknya bahagia dan terpelajar.

Tinah yang tegar menghadapi kesusahan total mendedikasikan hidup buat kelima anaknya. Kemiskinan tidak dipandang melulu sebagai penderitaan, melainkan titik awal perjuangan. Dia tidak tamat SD. She is not well educated but intellectually enlightened. Tinah istri visioner yang berani bercita-cita tinggi. Ia fokus mewujudkan cita-cita itu. Hashim sepanjang 40 tahun bekerja sebagai sopir angkot dan truk selalu mengobarkan semangat bagi keluarganya.

Tinah memperlakukan orang lain dengan penuh hormat. Tinah tidak mau dijodohkan dengan Ali, pedagang tempe di Pasar Batu, dan Lek Hari, saudagar dari Malang. Tinah memilih Hashim karena respek dengan ungkapan sang playboy terminal saat pertama kali mengajaknya pacaran, “Nah, kun gelem gak urip susah ambek aku?”

Hashim dan Tinah menyelamatkan anak-anak dengan pendidikan. Keduanya bekerja sangat keras dan bertahan dalam kesulitan. Mereka sesungguhnya megap-megap saat mulai membiayai kuliah Nani, anak kedua, di Universitas Brawijaya. Tinah gigih meminta surat keterangan miskin di kantor kelurahan, walau ditolak. Tinah bukanlah selebritas kaya dan berpengaruh. Ia ibu rumah tangga biasa yang menerapkan prinsip sinergi pada masa-masa sulit membesarkan dan mendidik anak-anak.

Tinah membagi lauk telur dadar merata buat kelima anaknya. Dua bungkus nasi goreng yang dibawa Hashim sepulang narik angkot dibagi adil. Kadang nasi goreng dicampur nasi putih. Dipastikan anak-anak tidak ada yang rebutan. Keindahan berbagi yang kelak mempengaruhi paradigma dan perilaku anak-anak sampai dewasa.

Cinta Tinah mengalir tanpa jeda. Pelayanan tulus buat orang-orang terkasihi. Tinah seorang profesional financial planner. Tinah membuat lauk tempe bervariasi setiap hari agar anak-anaknya tetap tumbuh bergizi sekaligus tidak mblenger: tempe goreng, penyetan tempe, sambel tempe, dan kering tempe. Tinah membuat suasana rumah hangat dan anak-anak terlindungi.

Iwan, berumur 23 tahun, menjadi lulusan terbaik Statistik IPB. Prinsipnya sesudah menjadi ekspatriat di Amerika: The higher your position is the bigger your responsibility you have. Cinta dan kesederhanaan Tinah yang memungkinkan Iwan Setyawan bertahan hidup di New York. Kota absurd yang mengalami kegersangan dan kebangkrutan spiritual. Kota metropolis terbesar di dunia itu wujud konkret ungkapan spiritual hunger in an age of plenty. Warganya busung lapar spiritual di tengah kemakmuran material. Spirit Tinah yang membuat Iwan bisa berdamai dengan kontradiksi, paradoks, dan ambiguitas saat lonely crowd. Keluarga yang jauh justru menjadi teman dekat. Semangat Tinah amat bersahaja: jangan takut!

Setelah makan siang, kelima anak Hashim dan Tinah langsung menggarap PR. Mereka membuat persiapan buat pelajaran esok hari. Isa, si anak sulung, guru les andal bagi adik-adiknya. Rengekan anak-anak sebatas: bayar SPP, seragam, buku, dan sepatu baru. Beda dengan remaja alay zaman sekarang yang ngambek minta iPhone, iPad, atau iPod. Bapak dan ibu yang kalang kabut terpaksa “iPaid”.

Iwan bertahan sepuluh tahun di New York karena obsesi membahagiakan orang tua dan keempat saudarinya. Dia baru berpelesir ke Paris, Venezia, dan Rio de Janeiro sesudah berbalas budi kepada keluarga. Ia rajin mentransfer uang setiap kali memperoleh bonus promosi untuk membangun rumah orang tua, membangun rumah keempat saudarinya, menikahkan keempat saudari kandungnya, menyiapkan pensiun buat orang tua, bikin rumah kos di Yogya, membelikan mobil bapak, dan melunasi utang kepada pamannya, Lek Tukeri. 

Iwan mempraktekkan kebajikan Mahatma Gandhi. Cara terbaik menjadi manusia berkarakter adalah dengan berbagi dan melayani sesama. Kemurahan hati Iwan buah pengorbanan Hashim dan Tinah.

Transformasi Iwan dari man for himself menuju man for others tergambar dalam aforisma berikut. Kebahagiaan akan terasa manis bila diperoleh melalui perjuangan mengalahkan penderitaan. Kebahagiaan akan menjadi lebih manis bila dibagikan.

Berikut ini pesan etis Iwan Setyawan yang amat mencintai ibunya. “Ketika ibumu semakin tua. Ketika sorot mata penuh cinta dan harapannya tidak lagi menatap seperti dulu. Ketika kakinya yang letih tidak bisa lagi menopang perjalanannya. Pinjamkan lenganmu buat memapah. Hiburlah dia sepenuh hati. Saatnya akan tiba ketika kamu harus menangis. Menemaninya berjalan-jalan untuk terakhir kali. Dan, jika ibu meminta sesuatu, berikanlah. Saatnya akan datang waktu paling getir. Ketika mulut ibu tidak pernah meminta apa-apa lagi.” ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar