Tampilkan postingan dengan label Yunani - Mari Becermin dari Yunani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yunani - Mari Becermin dari Yunani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2015

Mari Becermin dari Yunani (4)

Mari Becermin dari Yunani (4)

Dahlan Iskan  ;  Mantan CEO Jawa Pos
                                                         JAWA POS, 14 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SETELAH rapat maraton selama 17 jam yang melelahkan, akhirnya disepakati: Yunani diberi utangan tahap ketiga 50 miliar euro. Ini setelah Yunani bersedia ''dipaksa'' menyerahkan asetnya senilai itu sebagai jaminan. Hanya, aset tersebut diizinkan tetap di Yunani. Tidak perlu ditempatkan di Luksemburg seperti yang diinginkan Jerman.

''Kini tidak perlu lagi plan B. Yunani tetap di Zona Eropa,'' komentar Kanselir Jerman Angela Merkel. ''Yang kita butuhkan saat ini tidur dulu,'' ujar delegasi yang kelihatan kelelahan.

Minggu lalu, nasib Yunani sempat ibarat Lebaran yang sudah dekat yang tiba-tiba ditunda. Harapan Yunani untuk mendapat pinjaman hampir Rp 1.000 triliun itu tiba-tiba mengambang. Pertemuan puncak para kepala pemerintahan Uni Eropa yang dijadwalkan menyetujui pinjaman tersebut tiba-tiba dibatalkan.

Yunani memang sudah berjanji untuk mereformasi sistem ekonomi mereka (lihat Jawa Pos Sabtu, 11/5). Tetapi, sudah tidak ada yang percaya pada janji itu. Pemerintah di Uni Eropa ditekan rakyatnya masing-masing. ''Kalau sampai memberikan pinjaman lagi, pemerintah akan kami jatuhkan,'' ancam politikus terpenting Finlandia.

Angela Merkel, kanselir Jerman, juga ditekan rakyatnya. Reputasi Merkel yang begitu hebat selama ini bisa jatuh kalau sampai menyetujui utang baru.

Ada pula yang menekan pemerintah dengan cara memelas. ''Kami, pensiunan di sini, menerima uang pensiun yang amat kecil. Bagaimana bisa pemerintah kami memberikan utang ke Yunani untuk membayar pensiunan mereka yang nilainya gila-gilaan?'' ujar politikus di Hungaria. Di Yunani, sistem pensiunnya begitu royal. Seorang pensiunan rata-rata menerima Rp 20 juta per bulan.

Mengerasnya sikap rakyat Uni Eropa itu dipicu sikap pemerintah di Yunani yang menggalang rakyatnya untuk anti-Uni Eropa. Bahkan sampai melaksanakan referendum Minggu lalu. Tetapi, Yunani akhirnya kepepet. Menerima juga syarat-syarat utang tersebut. Hanya, penerimaan itu dinilai kurang ikhlas. Misalnya, masih minta persetujuan parlemen segala. Bahkan ketika dibicarakan di parlemen, muncul pula penentangan-penentangan.

Dengan dibatalkannya pertemuan puncak para kepala pemerintahan Uni Eropa itu, nasib Yunani seperti layang-layang putus. Entah akan mendarat di mana. Mungkin keluar dari Uni Eropa dan nyangkut di pohon gersang. Minggu ini sungguh mencekam di Yunani.

Apalagi Uni Eropa meningkatkan syaratnya. Untuk jaminan utang itu, Yunani harus menyerahkan aset senilai 50 miliar euro. Termasuk harus melakukan privatisasi pelabuhan terbesar dan terpentingnya. Juga, harus melepaskan frekuensi telekomunikasinya untuk diliberalkan. Jaringan listriknya juga harus diswastakan. Janji-janji yang kemarin saja tidak cukup. Masih ada lebih dari 300 bidang kehidupan yang harus dibenahi di Yunani.

Termasuk, ini yang akan sangat sulit, kekayaan gereja Orthodox Yunani.

Menurut harian Le Monde, Prancis, Sinode Suci Gereja Orthodox Yunani adalah penguasa properti terbesar kedua di negara itu. Memiliki lahan 130.000 hektare. Penguasa pertamanya adalah pemerintah. Tidak boleh lagi gereja tidak membayar pajak untuk propertinya itu. Khususnya properti yang dibisniskan.

Gereja memang memerankan politik yang sangat tinggi di Yunani. Politisi enggan menyentuh hal-hal yang akan membuat gereja kurang berkenan. Di Yunani, setiap tahun ajaran baru harus dimulai dengan pemberkatan dari gereja. Penduduknya harus menyilangkan tangan saat melewati gereja. Dan pemerintahan baru juga harus diberkati gereja. Baru perdana menteri baru yang berumur 40 tahun yang sekarang ini, Alexis Tsipras, yang menolak diberkati. Dia mengaku tidak bertuhan.

Peran politik gereja itu juga terlihat jelas pada 2010 lalu. Yakni, saat krisis Yunani kian berat. Waktu itu, Sinode Suci bersama 13 bishop seluruh Yunani mengeluarkan pernyataan keras. Tiga lembaga keuangan internasional (dikenal dengan Troika) yang memberikan utang ke Yunani dikecam keras sebagai ''pendudukan asing'' di Yunani.

Gereja membantah tidak bayar pajak. ''Gereja kaya raya itu hanya mitos.'' Begitu keterangan yang dikutip di media Yunani. ''Gereja kami tidak sekaya di Italia atau Spanyol,'' tambahnya.

Kekayaan gereja di Yunani, katanya, menyusut terus. ''Tinggal 4 persen dibanding kekayaan gereja sebelum revolusi tahun 1821,'' katanya. ''Banyak bangunan pemerintah yang didirikan di tanah gereja. Tidak membayar kompensasi sampai sekarang.''

Layang-layang putus itu akhirnya berhasil diselamatkan. Kesepakatan sudah dicapai kemarin. Bola api tersebut kini pindah lagi ke Yunani. Kesepakatan itu harus dimintakan persetujuan parlemen Yunani. Minggu ini para politikus Yunani akan bertempur: menerima syarat-syarat itu atau menolak.

Mari Becermin dari Yunani (3)

Mari Becermin dari Yunani (3)

Dahlan Iskan ;  Mantan CEO Jawa Pos
                                                         JAWA POS, 11 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKAL sehat akhirnya tidak kalah oleh emosi. Tinggal dua jam dari batas waktu yang ditentukan, pemerintah Yunani akhirnya memasukkan usulan konkret agar utang tahap tiga dari Uni Eropa bisa didapat. Yunani akhirnya menyerah pada ultimatum Uni Eropa. Itu sebenarnya seperti antiklimaks. Gegap gempita saat menyambut kemenangan ”No” dalam referendum hari Minggu lalu seperti tidak ada artinya.

Inilah janji terbaru Yunani untuk mendapat utang baru itu:

1). APBN dibuat tidak defisit lagi. Tahun 2015 ini harus surplus 1 persen, tahun-tahun berikutnya menjadi 2 persen, 3 persen, dan 3,5 persen. (Ini berarti pendapatan harus naik dan pengeluaran harus turun. Kebalikan dengan selama ini, pendapatan turun, pengeluaran naik).

2). Pajak penjualan akan dinaikkan. Mulai Oktober nanti. Pajak pertambahan nilai diseragamkan untuk semua pembelian barang, termasuk makan di restoran.

3). Fasilitas pajak yang semula untuk mengembangkan turisme di pulau-pulau Yunani dihapus. Kecuali pulau yang amat terpencil. Yunani kedatangan 22 juta turis tiap tahun.

4). Pengeluaran untuk militer dipotong Rp 2,5 triliun tahun ini, Rp 5 triliun tahun depan, dan seterusnya.

5). Pajak perusahaan dinaikkan dari 26 persen menjadi 28 persen.

6). Petani tidak akan mendapat pembebasan pajak dan tidak akan disubsidi.

7). Pajak untuk perkapalan diberlakukan progresif berdasar besarnya kapal.

8). Pajak untuk kapal pesiar dan mewah dinaikkan 10 sampai 13 persen, bergantung ukuran.

9). Sistem pensiun dirombak total. (Pensiunan selama ini dibayar langsung dari kas negara seperti Indonesia 35 tahun lalu. Rata-rata pensiunan terima Rp 20 juta/bulan. Ada yang menerima Rp 40 juta. Sistemnya juga sangat memberatkan, pengeluaran untuk pensiunan bisa melebihi pengeluaran untuk pegawai yang masih aktif. Sistem pensiun di Yunani memang dinyatakan ketinggalan 20 tahun).

10). Untuk gaji pegawai pemerintah, akan diberlakukan sistem baru yang didasarkan pada keterampilan, performance, dan tanggung jawab. Bukan lagi sistem PGPS (pinter goblok penghasilan sama).

11). Menerapkan strategi baru untuk memberantas korupsi dimulai akhir bulan ini.

12). Hukum akan mengatur agar keuangan partai politik lebih terbuka.

13). Menjauhkan pengusutan kejahatan keuangan dari intervensi politik.

Dan banyak janji lagi.

”Usulan itu masuk akal dan bisa dipegang,” komentar Presiden Prancis Hollande. Prancis adalah negara kedua terbesar pemberi utang kepada Yunani setelah Jerman.

Selama ini, Yunani tidak pernah mau melakukan itu. Maunya hanya penghasilan terus meningkat, hidup enak, tidak perlu kerja keras, dan kalau uangnya tidak cukup berutang saja.

”Sebenarnya masih ada 329 hal yang harus diketatkan di Yunani,” ujar seorang ahli keuangan internasional seperti dikutip media Inggris. Itu kalau Yunani mau benar-benar memenuhi standar dan peraturan yang berlaku di seluruh negara Uni Eropa. ”Bisa melaksanakan tiga perempatnya saja sudah sangat baik,” katanya.

Mendengar komentar Hollande itu, napas rasanya lebih longgar. Hari Minggu besok, ketika 28 kepala pemerintahan Uni Eropa berkumpul untuk membuat keputusan, rasanya tidak sulit. Yunani akan ditolong sekali lagi.

Bahwa Perdana Menteri Alexis Tsipras terkesan menyerah kalah, apa boleh buat. Rakyat Yunani sendiri sebenarnya terkejut ketika ternyata yang mereka inginkan terkabul: ”No” menang. Yang berarti menolak syarat-syarat utang baru Uni Eropa. Banyak yang berkomentar kaget: Lho, kok menang! Mereka, seperti pada zaman dulu, memang ingin sekali menunjukkan perlawanan kepahlawanan kepada Jerman. Mereka begitu gembira ketika ”No” menang di referendum. Tapi, sesaat setelah merayakan kemenangan itu, sebenarnya mereka langsung tertegun: Setelah menang ini, harus bagaimana? Dapat uang dari mana?

Mula-mula Yunani mencoba mengulur waktu. Hanya usulan mengambang yang dimasukkan ke Uni Eropa. Disertai pidato yang sangat bagus dari Alexis. Tapi, yang mendengarkan pidato itu orang pinter semua. ”Manana, manana,” komentar mereka yang berarti sama dengan tidak ada isinya. ”Ini sudah bukan zamannya pidato,” komentar yang lain. ”Ini tinggal menghitung hari. Bukan minggu atau bulan, apalagi tahun. Mengapa masih pidato-pidato?”

Uni Eropa tetap keras. Kalau sampai batas waktu Kamis malam usulan konkret tidak diserahkan, tidak akan ada miliar-miliar euro untuk Yunani.

Yunani sebenarnya masih akan terus main layang-layang. Usulan baru itu masih akan dibicarakan di DPR. Dijadwalkan DPR membahasnya Jumat. Berarti sudah di luar batas waktu.

Uni Eropa tidak mau mengubah batas waktu. Kamis malam harus masuk. Ini karena harus ada waktu dua hari (Jumat dan Sabtu) untuk dipelajari oleh para menteri keuangan di seluruh Uni Eropa. Agar Minggu bisa diputuskan oleh 28 kepala pemerintahan yang sudah siap berkumpul di Brussel.

Syukurlah kalau Yunani tetap memenangkan akal sehat. Semua yang ingin hidup makmur harus mau menderita dulu. Syukurlah, nasib rakyat tidak diperjudikan.

Sabtu, 11 Juli 2015

Mari Becermin dari Yunani (2)

Mari Becermin dari Yunani (2)

   Dahlan Iskan  ;  Mantan CEO Jawa Pos
                                                         JAWA POS, 09 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Krisis Yunani berkembang menjadi sentimen antarbangsa. Jerman menjadi bulan-bulanan di Yunani. Sebaliknya, Yunani juga jadi bulan-bulanan di Jerman.

’’Jangan ada miliar-miliar lagi untuk Yunani,’’ bunyi poster yang dibawa pendemo di Jerman.

’’Merkel itu Hitler baru,’’ bunyi poster di Yunani.

Rakyat Jerman yang dikenal sebagai pekerja keras tidak rela kalau negaranya terus mengutangi Yunani. Dari USD 360 miliar utang Yunani, yang terbesar berasal dari Jerman. Mereka menilai rakyat Yunani, khususnya pemerintahannya, kurang sungguh-sungguh bekerja. Enak-enakan menikmati utang. Lalu tidak mau bayar utang. Bahkan minta utang lagi. Elite politiknya lebih suka politik-politikan, kurang mau bekerja dan bekerja.

Sebaliknya, Yunani menilai Jerman terlalu mendikte Yunani. Mentang-mentang Jerman kaya. Mentang-mentang memberi utang. Padahal, utang itulah yang mengakibatkan Yunani sengsara. Diincrit-incrit. Tidak secara tuntas menyelesaikan persoalan.

Syaratnya pun memberatkan. Mencekik. Menjajah. Kemarahan rakyat Yunani itu tecermin dalam hasil referendum yang 62 persen memilih ’’YA’’ dalam hatinya untuk mendapatkan utang baru, tapi memilih ’’TIDAK’’ waktu mencoblos, untuk menolak syarat-syarat utang itu.

Seandainya Jerman membalas referendum Yunani itu dengan referendum di Jerman, hasilnya akan sebaliknya. Kalau rakyat Jerman disodori pilihan ’’YA’’ (memberi utang lagi) atau ’’TIDAK’’ (jangan memberi utang lagi), maka dipastikan 90 persen akan memilih ’’TIDAK’’.

Opini rakyat Jerman yang seperti itulah yang membuat pemimpin Jerman Angela Merkel tidak mudah menyetujui permintaan baru Yunani: (1) kucurkan segera dana darurat untuk mempertahankan hidup di Yunani selama empat bulan, (2) siap dana sebagai utang baru untuk pemulihan ekonomi selama dua tahun ke depan, (3) potonglah utang lama sebanyak 30 persen, (4) semua utang itu baru mulai dicicil 20 tahun lagi.

Selasa lalu, seluruh menteri keuangan Uni Eropa sudah kumpul secara mendadak di Brussel. Tapi, karena belum ada usulan tertulis dari Yunani, pertemuan itu hanya bicara ngalor-ngidul. Ada yang bicara: Sudahlah, amputasi saja, biarkan Yunani keluar dari Uni Eropa.

Ada yang bicara melankolis: Baiknya Yunani ditolong sekali lagi. Ingatlah, Jerman juga pernah menikmati pemotongan utang besar-besaran pada masa lalu. Mereka mengingatkan tanggal 27 Februari 1953, setelah Hitler takluk dan Jerman dalam krisis, Jerman mendapat potongan utang 50 persen. Berkat potongan utang itu, Jerman mampu membangun ekonominya. Lalu menjadi negara maju seperti sekarang.

Dengan hasil referendum itu, kata mereka, rakyat Yunani ibaratnya sudah menempelkan moncong pistol ke pelipis mereka. Jangan sampai kita memutuskan hari ini untuk menyuruh mereka menarik pelatuknya. Dari hasil pertemuan kemarin, nasib pelatuk itu ditentukan dalam rapat terakhir hari Minggu depan. Yakni, oleh 28 kepala pemerintahan seluruh Uni Eropa.

Turisme di Yunani, kata mereka, masih bisa diandalkan. Tiap tahun 22 juta turis berlibur ke Yunani. Di antaranya khusus untuk melakukan pernikahan di Pulau Santorini yang eksotis. Tahun ini, kalau tidak ada yang batal, sebanyak 2.500 pasangan ingin menikah di pulau itu. Termasuk banyak juga yang dari Jerman.

Bahwa sentimen rakyat Yunani kini lebih fokus pada Jerman, itu juga dilatarbelakangi sentimen masa lalu. Jerman dianggap pernah menjajah Yunani. Rakyat Yunani merasa pernah mengalahkan Jerman pada masa penjajahan. Termasuk kepahlawanan mereka saat membebaskan diri dari penjajahan Turki pada zaman Usmani. Rasa kepahlawanan mereka terusik sekarang. Yunani adalah pemimpin dunia di segala bidang pada masa lalu.

Selalu saja politik, sentimen nasionalisme, harga diri, rasa kebesaran masa lalu, dan sebangsa itu punya peran penting yang memengaruhi tidak berjalannya teori-teori ekonomi.

Yunani dan Indonesia

Yunani dan Indonesia

   Anwar Nasution  ;  Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
                                                           KOMPAS, 10 Juli 2015          

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tingkat laju ekonomi yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, terus merosotnya harga komoditas ekspor dan daya saing industri manufaktur, melemahnya nilai tukar rupiah, membengkaknya utang luar negeri sektor swasta, serta kondisi industri perbankan yang semakin lemah menggambarkan kurang baiknya kondisi ekonomi Indonesia.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo belum menunjukkan inisiatif untuk menanggulangi kondisi ini. Sementara para pejabat pemerintah memberikan analisis yang menyesatkan, seolah-olah tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kondisi utang luar negeri Pemerintah Indonesia jauh lebih kecil daripada utang luar negeri Yunani.

Ada berbagai persamaan dan perbedaan yang menonjol antara krisis Yunani dewasa ini dan kerawanan yang dihadapi perekonomian Indonesia. Persamaannya antara lain dalam sistem politik dan pemerintahannya yang lemah dan korup, badan usaha milik negara (BUMN)-nya tak kompetitif sehingga hanya merupakan beban bagi masyarakat, sedangkan sistem hukumnya tak dapat melindungi hak milik individu dan memaksakan berlakunya kontrak perjanjian secara efektif dan efisien.

Tabung haji Malaysia kaya raya dan punya berbagai perkebunan sawit di Indonesia dan properti di Arab Saudi, sedangkan dana haji kita hanya jadi sumber korupsi. Administrasi perpajakannya buruk, sedangkan dunia usaha dan orang kayanya lebih suka menyimpan kekayaannya di luar negeri.

Penyebab krisis ekonomi Yunani dengan kesulitan ekonomi Indonesia dewasa ini adalah berbeda bagaikan bumi dengan langit. Krisis Yunani bermula dari pinjaman luar negeri sektor pemerintah yang dewasa ini mencapai 450 persen dari jumlah penerimaannya. Beban bunga utang saja sudah 13 persen dari penerimaannya sehingga membatasi pengeluaran lainnya. Pemerintah Yunani lama hidup lebih besar pasak daripada tiang dan menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)-nya dengan pinjaman luar negeri dengan memanfaatkan tingkat suku bunga yang rendah di pasar uang dan modal di negara-negara anggota Uni Eropa lainnya.

Ketidakseimbangan

Di lain pihak, pinjaman luar negeri Pemerintah Indonesia lebih terkontrol dan kini rasio pinjaman terhadap produk domestik bruto sekitar 25 persen. Seperti halnya pada saat krisis 1997-1998, sumber utama kerawanan ekonomi Indonesia dewasa ini adalah pada utang luar negeri sektor korporat yang semakin membengkak. Lebih dari sepertiga likuiditas bursa obligasi dan efek-efek Jakarta bersumber dari pemasukan modal asing jangka pendek.

Barangkali sebagian daripadanya uang milik orang Indonesia yang di parkir di luar negeri. Utang luar negeri swasta tersebut dinyatakan dalam satuan mata uang asing dan berjangka pendek. Pinjaman itu digunakan untuk membelanjai investasi jangka panjang dan sebagian daripadanya hanya menghasilkan penerimaan dalam mata uang rupiah.

Oleh karena itu, terjadilah dua bentuk ketidakseimbangan yang sangat membahayakan, yakni ketidakseimbangan jangka waktu kredit dan investasi serta mata uang (maturity and currency mismatches).

Pengusaha Indonesia menyimpan dana dan meminjam ke luar negeri karena tidak adanya kepastian sehubungan dengan buruknya sistem politik dan sosial kita serta karena tidak efisiennya bank-bank nasional yang didominasi oleh bank-bank negara. Efisiensi perbankan di Indonesia, yang didominasi oleh bank-bank BUMN, adalah yang terendah di ASEAN sedangkan tingkat suku bunga bank merupakan yang tertinggi di kawasan ini.

Kredit luar negeri tersebut digunakan untuk membelanjai investasi di sektor real estat yang sangat marak di seluruh pelosok Tanah Air, pertambangan, perkebunan, industri manufaktur, serta pembangkit tenaga listrik dan prasarana lainnya.

Penerimaan dunia usaha dalam rupiah semakin membesar setelah Bank Indonesia mengeluarkan aturan yang mensyaratkan agar semua transaksi di Indonesia hanya dinyatakan dalam rupiah. Aturan ini hanya bersifat legalistis tanpa melihat fungsi uang secara ekonomi. Mata uang dollar Amerika Serikat menjadi mata uang dunia bukan karena adanya resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau invasi militer Amerika Serikat, melainkan atas dasar kepercayaan saja pada mata uang itu dan kepada pemerintah yang memelihara stabilitas nilainya.

Kebijakan distortif

Harga komoditas industri primer hasil pertambangan dan perkebunan yang menjadi andalan ekspor Indonesia terus-menerus merosot sejak tahun 2011. Sementara itu, peranan industri manufaktur semakin tergusur karena menguatnya mata uang rupiah, memburuknya iklim berusaha, semakin distortifnya sistem perdagangan dan investasi, serta kurangnya infrastruktur selama 10 tahun pemerintahan Presiden Susilo bambang Yudhoyono.

Penerimaan devisa dari kiriman para tenaga kerja Indonesia (remittances) sangat kecil karena rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan mereka. Sistem perdagangan dan investasi yang distortif itu, antara lain, tecermin pada larangan ekspor ataupun pengenaan tarif bea ekspor yang tinggi pada biji tambang yang belum diolah. Padahal, kemampuan kita untuk mendirikan industri pengolahan (smelter) tidak ada karena tidak adanya listrik dan infrastruktur, seperti jalan dan pelabuhan.

Seperti halnya pada 1997-1998, dunia usaha dan perbankan semakin megap-megap. Dunia usaha kesulitan untuk melunasi utang bunga dan pokok utang pada bank di dalam negeri dan luar negeri. Penyebabnya adalah, di satu pihak, harga produknya melemah, sedangkan di lain pihak, tingkat suku bunga meningkat dan kurs rupiah semakin melemah.

Hambatan pada penggunaan kredit meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL) bank dan pelemahan rupiah meningkatkan risiko pasarnya dari transaksi valuta asing. Pada gilirannya, kedua hal ini menggerogoti kecukupan modal perbankan, seperti yang terjadi pada 1997-1989 yang mengempaskan perekonomian nasional. Pada waktu itu, APBN sedikit mengalami surplus dan defisit neraca berjalan tidak mengkhawatirkan karena hanya di bawah 4 persen dari produk domestik bruto.

Jumat, 10 Juli 2015

Mari Becermin dari Yunani (1)

Mari Becermin dari Yunani (1)

   Dahlan Iskan  ;  Mantan CEO Jawa Pos
                                                         JAWA POS, 08 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SAYA pernah dapat untung besar dari Yunani. Tapi, teman saya pernah jeblok akibat Yunani.

Suatu hari, saya menerima telepon dari teman saya di Athena, ibu kota Yunani. Dia ingin menjual mesin besar yang masih baru dengan harga bekas.

’’Kenapa?’’ tanya saya.

’’Tiba-tiba pabrik saya kena gusur. Ganti ruginya bagus.’’

’’Kenapa?’’

’’Untuk perumahan atlet,’’ jawabnya.

Athena memang baru saja ditunjuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2004 sebagai peringatan 100 tahun. Olimpiade pertama dilakukan di Athena dan 100 tahun kemudian harus di Athena lagi.

Saya langsung terbang ke Athena melalui Istanbul, Turki. Betul. Masih baru. Uniman 70. Bikinan Jerman. Rencana beli mesin baru dari Jerman saya batalkan.

Tahun 2000–2004 Yunani memang lagi jadi bintang. Pertumbuhan ekonominya tertinggi di Eropa. Apa saja dibangun di sana. Galangan kapal raksasa, berbagai stadion, infrastruktur turisme, gedung-gedung, dan perumahan mewah. Maju sekali.

Kemajuan, seperti juga kemiskinan, sulit dihentikan. Ibarat mobil yang berjalan kencang, kalau direm mendadak, bisa banyak kecelakaan.

Maka ketika dana di dalam negeri tidak cukup untuk membiayai kemajuan itu, berutanglah. Kalau perlu dengan bunga agak tinggi. Pemerintah Yunani terus cari utangan. Swastanya tidak mau kalah.

Sampai akhirnya diketahui rasio utang terhadap kemampuan ekonominya njomplang: 120 persen. Bahkan pernah mencapai 200 persen. Padahal, untuk menjadi anggota Uni Eropa, ada pembatasan yang ketat rasio utang terhadap GDP (Perjanjian Maastricht 1992): hanya boleh 60 persen.

Anggaran negaranya pun mulai defisit. Kian besar pula. Mencapai 6–8 persen. Bahkan pernah mencapai 12 persen. Padahal, level defisit yang dibolehkan di Uni Eropa hanya 3 persen.

Buntutnya jelas: bunga terus membubung. Lalu inflasi. Kenaikan harga-harga. Begitu tingginya inflasi di Yunani hingga pernah mencapai 50 persen. Rakyatnya demo. Tidak kuat menerima kenaikan harga-harga. Para pemimpinnya takut tidak disukai rakyat. Gaji dan pensiun pun dinaikkan secara drastis. Akibatnya, defisit anggarannya tambah besar lagi.

Saat para pelaku keuangan dunia melihat angka-angka merah menyala dalam rapor ekonomi yang gawat itu, mulailah mereka menarik dana dari Yunani. Mereka berhitung pada saatnya nanti Yunani pasti dilanda krisis. Lomba cepet-cepetan lari dari Yunani itulah yang membuat krisis kian parah.

Pemerintah dan swasta kian haus dana. Utang, obligasi, derivatif, dan apa pun bentuknya ditabrak. Dengan bunga mahal sekalipun. Teman saya pernah tergiur bunga tinggi. Uang organisasi dimasukkan ke situ. Dapat bunga dua kali lipat lebih tinggi dari bunga deposito di Indonesia. Dia masukkan Rp 2,5 miliar. Lenyap. Usut punya usut, ternyata dibelikan surat utang yang terkait dengan Yunani.

Tahun 2010, setelah dua tahun krisis, keadaan tambah parah. Politik ikut guncang. Uang kian sulit. Harus ada utangan darurat. Dengan syarat apa pun. Eropa turun tangan. Diberilah kucuran USD 110 miliar. Uang itu sebentar saja lenyap. Krisisnya tidak teratasi. Syaratnya tidak dipenuhi.

Sebenarnya, Yunani pernah mencoba memenuhi syarat itu. Ikat pinggang dikencangkan. Kredit bank diperketat. Gaji dan pensiun dipotong. Hasilnya parah: 100 ribu perusahaan bangkrut. PHK besar-besaran. Pengangguran menjadi 30 persen. Demo tidak henti-hentinya.

Eropa kembali memberikan utang USD 130 miliar. Dengan syarat yang lebih keras. Dalam sekejap juga lenyap.

Eropa sangat marah. Eropa sampai pada kesimpulan bahwa utang tersebut ternyata banyak yang hanya dipakai untuk membayar utang ke bank-bank swasta di luar Yunani. Tentu tidak kentara. Menggunakan berbagai skema keuangan yang canggih. Program-program penyehatan ekonominya pun tidak sepenuhnya jalan.

Eropa tidak mau lagi memberikan utang. Kecuali Yunani mau tunduk dengan syarat-syarat yang amat ketat. Mulai perincian penggunaan uangnya, program-program penyehatan ekonominya, sampai berbagai macam restrukturisasi di dalam negerinya. Demi kebaikan Yunani. Agar tidak lenyap lagi dan lenyap lagi.

Kali ini, Yunani yang secara politik sudah beralih ke partai kiri juga marah. Merasa terlalu didikte. Merasa dijajah secara ekonomi. Merasa tidak berdaulat.

Yunani menggunakan senjata demokrasi. Rakyat diminta memilih ’’YA’’ atau ’’TIDAK’’. YA berarti menerima syarat-syarat Eropa itu. TIDAK berarti menolak. Hari Minggu lalu rakyat sudah melakukan referendum dan hasilnya kita semua sudah tahu. Rakyat memilih ’’TIDAK’’. Menang 62 persen. Artinya, rakyat menolak syarat-syarat yang dikenakan Eropa.

Eropa seperti dipojokkan. Kalau Eropa tidak mencairkan utang, sama artinya membiarkan Yunani bangkrut. Ibarat kaki yang harus diamputasi. Kalau Eropa bersedia melunakkan syarat-syaratnya, apalah jadinya. Apa jaminannya utang itu tidak lenyap lagi. Negara lain yang juga sulit seperti Portugal dan Spanyol akan menuntut perlakuan yang sama.

Hari ini para pimpinan Eropa baru rapat untuk memutuskannya.

Sebelum ada keputusan, bank-bank di Yunani yang semula hanya tutup untuk satu minggu belum bisa dibuka lagi. Entah sampai kapan.

Menteri keuangan Yunani mengundurkan diri. Diganti dengan Euclid Tsakalotos. Menteri baru ini sealiran dengan Perdana Menteri Alexis Tsipras. Bahkan, para pengamat menilai dialah sebenarnya otaknya. Menkeu yang baru ini memang ahli ekonomi yang beraliran kiri. Istrinya, wanita Inggris, juga seorang ahli ekonomi.

Ketika jadi mahasiswa di Oxford Inggris dulu, Euclid Tsakalotos bergabung dengan Liga Mahasiswa Komunis. Buku-buku ekonomi yang dia tulis pun mencerminkan aliran pemikirannya yang bertolak belakang dengan aliran ekonomi tokoh berpengalaman seperti Margareth Thatcher dan Ronald Reagan.

Dari judul buku-buku yang dia tulis, seperti Strategi Ekonomi Alternatif dan Kebijakan Economi Progressif atau empat buku lainnya, sudah tecermin aliran ekonomi yang posisinya berseberangan dengan yang dilakukan di negara-negara barat.

Seandainya tetap dihukum Eropa (kita tunggu putusan Uni Eropa hari ini), bahkan seandainya Yunani keluar dari Uni Eropa, Yunani mungkin berharap bisa bersandar ke Tiongkok. Tapi, Tiongkok mungkin tidak akan mau melemahkan Eropa. Tiongkok berkepentingan Eropa kuat. Untuk menjadi penyeimbang Amerika Serikat.

Mungkin Yunani akan bersandar ke Rusia. Tapi, Rusia pernah habis-habisan menolong Yunani belum lama ini. Gagal.

Kini kita lagi melihat eksperimen dari sebuah negara Barat yang ingin menerapkan sebuah teori ekonomi yang sangat berbeda.

Dengan nasib rakyat menjadi taruhannya.