Tampilkan postingan dengan label Saras Dewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saras Dewi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Juli 2021

 

Museum Wabah

Saras Dewi ;  Pengajar Filsafat di Universitas Indonesia

KOMPAS, 24 Juli 2021

 

 

                                                           

Sekiranya, apakah yang akan dipikirkan oleh masyarakat puluhan tahun pada masa depan ketika mereka memasuki museum wabah, menelusuri lorong-lorong yang diisi berderet peraga dan artefak?

 

Tergambar di museum itu kesengsaraan serta ketidaksiapan umat manusia menghadapi cengkeraman pandemi. Dipajang lukisan era kontemporer karya seniman Spanyol, tertera judulnya, ”El Amor en Tiempos de Pandemia”, cinta pada masa pandemi, menampilkan sepasang manusia berciuman masih menggunakan maskernya.

 

Terdapat pula rekonstruksi ruang bangsal isolasi yang simulasinya dipancarkan menggunakan dinding LED raksasa sehingga para pengunjung dapat merasakan secara virtual kesepian dan keheningan yang dialami oleh para pasien dan tenaga kesehatan.

 

Belum pernah sebelumnya wabah menjadi pusat kehidupan manusia. Museum itu menunjukkan peralihan pemikiran manusia yang semula terbagi-bagi, terbelah dengan ambisi ideologisnya—yang akhirnya disadarkan bahwa wabah itu sesuatu yang lebih besar dari asumsi antroposentrisnya.

 

Betapa pentingnya arsip mengenai wabah, tidak saja yang direkam dalam tulisan-tulisan ilmiah, atau ekspresi seni rupa, tetapi juga dalam sastra. Salah satu sastra kuno tentang wabah yang menarik untuk dibaca adalah mahakarya Arthasastra.

 

Teks ini merupakan ajaran filsafat kuno dari abad ke-4 SM yang dituliskan oleh Kautilya, seorang filsuf dan negarawan pada zaman kekuasaan Dinasti Maurya, di India. Teks ini masih sangat relevan untuk dipelajari sebab ia membicarakan peran pemerintah dan pemimpin pada masa krisis.

 

Meski bentuk kekuasaan yang dibicarakan oleh Arthasastra adalah monarki, Arthasastra secara kritis mendudukkan posisi pemimpin yang condong pada bobot kewajiban dan tanggung jawabnya dibandingkan dengan hak atau privilesenya.

 

Arthasastra menguraikan urgensi kepekaan pemimpin dalam menciptakan kebijakan, khususnya terkait dengan mitigasi kebencanaan. Arthasastra menekankan pentingnya perlindungan hutan agar terhindar dari berbagai musibah, dari banjir hingga petaka kelaparan.

 

Arthasastra juga mengutamakan sehatnya ekosistem agar terhindar dari berbagai wabah penyakit. Keselarasan ekosistem flora dan fauna harus dilestarikan.

 

Pada saat wabah penyakit terjadi, Arthasastra membahas mengenai purifikasi, ada dua makna purifikasi yang dapat ditafsir, pada satu sisi kehidupan murni dari sisi spiritualitas, pada sisi yang lainnya adalah kesadaran untuk merawat keseimbangan lingkungan hidup.

 

Saya membaca kembali Arthasastra pada masa pembatasan ini, menemani tengah malam yang kerap diselingi suara ambulans hilir mudik tanpa henti. Begitu pula pengumuman dari masjid di sebelah rumah, menggunakan pengeras suara menyampaikan dengan getir, ”Innalillahi… telah meninggal dunia….”

 

Arthasastra kental aspek religius dan nuansa ritualistiknya. Meski demikian, penulisnya, Kautilya, adalah seorang pemikir yang rasional. Bagian terakhir dari Arthasastra menegaskan posisi ilmu pengetahuan yang fundamental dalam membangun masyarakat yang baik. Dikatakan di dalam salah satu penggalan ayatnya, ”Maka ilmu ini, diuraikan dengan alat-alat ilmu, telah disusun untuk pemerolehan dan perlindungan dunia ini dan yang akan datang.”

 

Sains adalah tumpuan kemanusiaan saat ini supaya kita dapat beradaptasi dari serangan virus SARS-CoV-2. Segenap kemampuan keilmuan perlu dikerahkan secara maksimal ke dalam riset-riset yang menghimpun secara transdisipliner, melintasi kluster keilmuan, dari kesehatan, sains dan teknologi, hingga sosial dan humaniora. Mempertahankan rasionalitas memang menjadi tantangan di masa pandemi ini.

 

Histeria masyarakat diperburuk oleh komunikasi pemerintah yang acap kali simpang siur. Berita bohong, penyangkalan pada fakta-fakta kesehatan, penolakan pada vaksin, adalah realitas sosial yang sangat menyedihkan.

 

Saya berdiskusi dengan Bagus Takwin, seorang peneliti di bidang psikologi yang mencermati fenomena ini. Ia menyebutkan, setidaknya ada tiga alasan: epistemik, eksistensial, dan sosial, mengapa ada orang-orang yang lebih percaya pada grandiose teori konspirasi dibandingkan dengan fakta-fakta obyektif.

 

Bagus Takwin menjelaskan, motif epistemik terkait dengan kebutuhan akan pengetahuan dan kepastian, tetapi ada problem, baik akses maupun kejernihan, dalam memilah perbedaan sumber yang kredibel dengan yang buruk.

 

Bagus Takwin melanjutkan, dari aspek sosial, mereka yang percaya dengan teori konspirasi biasanya orang-orang yang memiliki kebutuhan akan keunikan bahwa informasi yang mereka miliki istimewa dan superior. Pada level kelompok, Bagus Takwin mendedah, orang-orang tersebut memiliki perasaan berlebih pada kelompoknya, dan bersikeras bahwa kelompoknya kurang dihargai sehingga cenderung memilih narasi yang berbeda.

 

Terakhir adalah alasan eksistensial, yang muncul karena mereka tidak dapat menerima rasa tidak berdaya dan hilangnya otonomi. Kekecewaan ini mendorong eskapisme, terselubunginya kemampuan bernalar benar.

 

Memang sulit untuk menjadi logis pada saat pandemi. Saya sendiri bergelut dengan kenyataan harus kehilangan anggota keluarga, sahabat, kolega, guru, hingga mahasiswa selama satu setengah tahun secara bertubi-tubi. Akal budi serasa berontak.

 

Tulisan Fernando Castrillon, seorang psikoanalis, mengatakan, alangkah menjengkelkannya pandemi ini, tetapi kita harus menerima kenyataan. Ia menyebutnya dengan convivirus, dalam bahasa Spanyol, convivir, artinya untuk hidup bersama.

 

Saya mendengus, malangnya kita, harus menerima entitas mungil, misterius nan mematikan ini menjadi bagian dari keseharian hidup kita. Entitas yang cerdik dan tangkas mereplikasikan dirinya menjadi macam-macam varian!

 

Lamunan saya kembali ke museum wabah pada masa depan dan makna sejarah apa saja yang akan ditampakkan di dalamnya. Pandemi SARS-CoV-2 merobek ekonomi, suatu tragedi keadilan sosial global.

 

Sengkarut tumbangnya kesehatan publik dan tersisihnya hak asasi manusia untuk mendapatkan kesetaraan akses kesehatan. Terpampang diorama yang menggambarkan kefrustrasian warga mencari tabung oksigen, sedangkan pada ekstrem yang lainnya, komersialisasi vaksin amat memilukan bagi kemanusiaan.

 

Menjelang pengujung museum, pengunjung ditunjukkan hologram yang mencekam, para penggali kubur dengan pakaian hazmat berdiri kelelahan di hamparan kuburan massal. Keluarga yang menangis di kejauhan, mereka tidak dapat bertatap muka untuk menyentuh, merangkul, atau menggenggam tangan pasien di detik-detik terakhir kehidupannya.

 

Sinaran hologram itu memendarkan wajah-wajah penuh air mata. Dokumentasi ini menunjukkan bahwa mereka yang terenggut nyawanya bukanlah statistik belaka, mereka lebih dari sekadar angka.

 

Mereka yang percaya dengan teori konspirasi biasanya orang-orang yang menilai informasi mereka itu istimewa dan superior. ●

 

Rabu, 23 Juni 2021

 

Trauma

Saras Dewi ;  Pengajar Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia

KOMPAS, 19 Juni 2021

 

 

                                                           

Lukisan karya I Gusti Ayu Kadek Murniasih menyala dengan warna-warni terang, garis-garisnya menghipnotis siapa pun. Kepribadiannya, senyumnya, ceritanya erat melekat dalam setiap lukisan. Meski demikian, di balik rangkaian percikan warna; merah muda, biru pirus, kuning atau ungu, ada yang sama sekali hening, kesepian bahkan pilu.

 

Setidaknya, itu cara saya memandang karya-karya Murniasih. Melalui karya lukisnya, Murniasih menenggelamkan kita ke dalam pusaran emosi. Saya merasa menguak lapisan demi lapisan emosi yang terpendam dalam isolasi.

 

Karya-karya Murniasih sudah semenjak lama mengundang kekaguman para pakar seni rupa. Sebagian besar tentu menggaris bawahi nuansa erotis yang seolah-olah tampak gamblang, gaya lukis Murniasih pun merupakan dobrakan pada masanya.

 

Sebagai seorang perempuan perupa, karya-karya Murniasih semakin menonjol di dunia seni rupa yang didominasi oleh laki-laki. Para peneliti seni rupa memperbincangkan ekspresi seksualitas yang dituangkan Murniasih di atas kanvas. Sapuan kuasnya berkisah tentang gairah perempuan, topik yang hingga kini sering kali dianggap tabu untuk dibahas. Bermacam pandangan yang ortodoks tentang tubuh perempuan diterobos oleh Murniasih, ada gempita kebebasan perempuan untuk menjadi dirinya sendiri.

 

Menurut saya, kegirangan warna ataupun permainan bentuk dari obyek-obyek yang dilukis Murniasih sering mengecoh para pengamat. Sisi keriangan Murniasih yang lincah mempertukarkan obyek sehari-hari dengan makna erotis, sejatinya mengendapkan makna tersembunyi yang muram. Resapi karya-karyanya yang berjudul ”Trauma 2” (1994-2004), ”Aman Tanpa Khawatir” (2004), ”Hati Yang Sepi” (1994-2004), dan ”Sedih Pun Berkarya” (1994-2004).

 

Dalam salah satu wawancara, Murniasih menuturkan pengalaman kelam diperkosa oleh ayahnya sendiri. Ia mengatakan, ”Saya ingin menyampaikan sekarang pada semua orang apa yang terjadi pada saya ketika saya berusia 7 tahun. Saya diperkosa oleh ayah saya. Hingga kini saya tutup di hati dan pikiran saya, tetapi sekarang saya ingin bicara, saya sudah siap. Saya masih 7 tahun, dapatkah kamu bayangkan?” (HelloBali, Edisi September 2003, Arsip Seni Visual Indonesia)

 

Lukisan berjudul ”Trauma 2” benderang bercorak hijau, menggabungkan dua benda; tubuh perempuan dan pisau bergerigi. Murniasih mengisyaratkan, dua kali tubuhnya mengalami kekerasan, pertama kali oleh ayahnya kemudian untuk kedua kali oleh kekasihnya, keduanya adalah orang-orang terdekat, orang-orang yang semestinya dapat ia percayai.

 

Demikian pula dalam lukisan ”Aman Tanpa Khawatir”, dengan latar belakang berwarna merah darah, tubuh perempuan tampak nyaring berwarna hijau neon yang dilindungi gembok raksasa berwarna jingga. Benturan warna-warna ini seperti menyamarkan makna getir dari lukisan tersebut. Mungkinkah perempuan dapat merasa aman di dalam tubuhnya sendiri? Tanpa dibayangi paksaan, ancaman, atau teror? Bertubi-tubi Murniasih mengalami trauma. Ia ingin menutup dirinya, mengunci tubuhnya sehingga tiada satu pun dapat menyakitinya.

 

Kita dapat mengenal Murniasih selain dari kejujuran lukisannya, juga melalui para sahabat karibnya. Dua sahabatnya, Oka Rusmini dan Cok Savitri, adalah sastrawan tersohor di Indonesia. Mereka adalah perempuan yang meretas dunia sastra dengan tulisan-tulisan tajam menggunakan sudut pandang feminis. Oka Rusmini menceritakan, ”Murniasih berkata dengan melukis persoalan-persoalan tubuhnya, dia merasa bisa berbagi luka-luka yang ada di semesta tubuhnya.”

 

Sementara Cok Savitri dalam dokumentasi Ketemu Project bercerita tentang trauma yang terus mendekam di dalam tubuh Murniasih. Murniasih bergelut dengan tubuhnya, kala trauma mendera, ia sering mencederai dirinya sendiri. Trauma itu menjadi sulur yang melingkar-lingkar di tubuhnya dan turut menyertainya hingga akhir hayatnya. Murniasih berpulang dikarenakan penyakit kanker rahim yang dideritanya. Ia meninggal dunia ketika berusia 40 tahun.

 

Keresahan Murniasih yang meletup dalam karya-karyanya memengaruhi seniman muda, salah satunya adalah Citra Sasmita. Citra Sasmita merupakan perempuan perupa kelahiran Tabanan, Bali, yang juga lantang mengkritik diskriminasi dan kekerasan yang terjadi pada perempuan melalui seni. Instalasinya yang berjudul ”Mea Vulva, Maxima Vulva” adalah karya penting yang merespons kegelisahan Murniasih tentang ketidakadilan jender yang terjadi di sekitarnya.

 

Tidak mudah bagi perempuan untuk dapat menyampaikan pengalaman traumatis. Citra Sasmita berkolaborasi bersama perempuan seniman di Bali lainnya menciptakan ruang berkesenian yang peka terhadap cita-cita keadilan dan kesetaraan.

 

Kisah Murniasih adalah satu cerita nyata di antara kasus-kasus menyedihkan kekerasan seksual di Indonesia. Kekerasan terjadi di ruang publik dan privat, pada berbagai latar belakang sosial, di rumah, sekolah, kampus, komunitas agama, perkantoran, pabrik. Pelecehan terjadi di jalan, di kendaraan umum, di pertokoan, di mana pun perempuan membawa tubuhnya. Bahkan, pedihnya ada kasus-kasus pemerkosaan terhadap perempuan saat tubuhnya tidak lagi bernyawa. Dunia terlampau suram untuk perempuan. Hari demi hari dijejali pemberitaan menyayat tentang korban-korban kekerasan seksual.

 

Merefleksikan kondisi yang memperihatinkan ini, kita sesungguhnya dalam kegentingan dan membutuhkan pembaharuan kebijakan yang akan mempercepat transformasi budaya. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual memosisikan kehadiran negara dalam mencegah kekerasan serta melindungi juga mendampingi korban. Pengesahan RUU Pungkas mengafirmasi bahwa problem kekerasan terhadap perempuan adalah problem kemanusiaan yang harus dipecahkan bersama. RUU Pungkas sangat esensial untuk membunyikan kekerasan seksual yang selama ini disenyapkan, disingkiran oleh budaya yang sarat diskriminasi terhadap perempuan.

 

Lukisan-lukisan Murniasih adalah penggambaran memori tubuh yang diliputi trauma. Namun, saya membayangkan pula keberanian Murniasih untuk bicara, ia menjadi penyintas melalui karya-karyanya. Lukisan Murniasih adalah uluran tangan kepada perempuan, sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas untuk bersama-sama pulih. ●

 

Sabtu, 15 Mei 2021

 

Yang Tak Terkatakan

Saras Dewi ;  Pengajar Ilmu Filsafat dari Universitas Indonesia

KOMPAS, 15 Mei 2021

 

 

                                                           

Tumbuh dalam keluarga yang memiliki beragam pandangan beragama menjadi pengalaman yang memungkinkan saya dapat melihat berbagai sisi makna penghayatan spiritual. Saya mendewasa dengan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap aneka ragam filosofi agama, saya menyelaminya melalui karya-karya Ibn Arabi, Rabi’ah Al Adawiyah, Adi Shankara, dan Rabindranath Tagore.

 

Ada yang misterius di dalam karya-karya ini. Seberapa sering pun puisi-puisi ini dibaca akan selalu menghadirkan sesuatu yang baru. Kala remaja tidak lebih dari usia 19 tahun, saat pertama kali membaca puisi-puisi ini, saya kerap membayangkan maknanya? Sebab, para penyair ini menulis sajak-sajak seperti surat cinta kepada Tuhan. Saya termangu membaca kata-kata yang penuh dengan infatuasi kepada Tuhan, hingga saat ini pun, hati saya tetap terpikat.

 

Muhyiddin Ibn Arabi (1165-1240) dikagumi serta dicintai sebagai Al-Syeikh al-Akbar, atau guru yang agung. Ia merupakan seorang sufi, filsuf, dan penyair yang berasal dari Mursia, Spanyol. Ajaran-ajarannya begitu berpengaruh hingga saat ini. Karya-karyanya, seperti Fusus al-Hikam (Mutiara Kebijaksanaan) lalu Al-Futuhat al-Makkiyah (Iluminasi Mekkah), dan Tarjuman al-Ashwaq (Penafsir Kerinduan) menjadi mercusuar dalam perjalanan kebatinan.

 

Keunikan karya

 

Profesor William C Chittick, peneliti juga penerjemah teks mistisisme dan filsafat Islam, menjelaskan keunikan pemikiran Ibn Arabi. Ia mengatakan bahwa terdapat distingsi posisi Ibn Arabi di antara Kalam (Teologi) dan Falsafah (filsafat). Ibn Arabi mengkritik keduanya, lebih tepatnya ia ingin melampaui batasan-batasan yang ada dalam pendekatan teologis ataupun filosofis yang masih terikat pada rasio. Ibn Arabi menekankan pada suatu realisasi untuk mencapai kebenaraan (haqq). Realisasi ini melibatkan keterbukaan, kerelaan untuk melakukan penelusuran ke dalam diri sendiri.

 

Fondasi dari ajaran Ibn Arabi adalah cinta. Ia meyakini bahwa tujuan terbentuknya kosmos ini bertumpu pada napas Tuhan yang mahapengasih (Nafas Al-Rahman). Ia mengandaikan bahwa Nafas tersebut kekal adanya, Nafas itu adalah pertanda kreativitas Tuhan yang terus menciptakan kehidupan. Ibn Arabi menguraikan bahwa atas kehendak serta cinta Tuhan, segala kehidupan ini terus bergulir.

 

Proses kehidupan beserta tranformasi dapat terjadi dalam kesinambungan karena Tuhan bersemayam dalam setiap napas yang diembuskan pada makhluk. Kesatuan wujud yang terbungkus dalam cinta Tuhan, dapat disadari jika kalbu manusia dapat menyibak yang hakiki. Penyibakan ini, menurut Ibn Arabi, bukanlah hasil pikiran atau intelektualitas semata.

 

Henry Corbin dalam karyanya yang berjudul, Creative Imagination in the Sufism of Ibn Arabi menjelaskan bahwa Ibn Arabi menggunakan kalbu (qalb), yang memungkinkan kesadaran intuitif untuk mengungkap kesejatian. Kalbu dalam konteks ini dapat dipahami sebagai hati yang murni, dan dari kemurnian itu manusia dapat berimajinasi tentang penyatuan semesta.

 

Tidak sembarang imajinasi yang dimaksud  Ibn Arabi, tetapi imajinasi yang mutlak (al-khayal al-mutlaq). Lebih lanjut lagi Corbin mencermati imajinasi ini, atau yang ia sebut mundus imaginalis (alam al-khayal) terkait pula dengan keseluruhan susunan dunia yang diyakini, seperti dunia tampak ataupun gaib. Akan tetapi, Ibn Arabi mengingatkan bahwa sebaiknya kita tidak terjebak pada dualisme, ia mengandaikan bagaimana yang rohani itu dapat ditampakkan atau dikorporealisasi, begitu juga sebaliknya yang fisikal, tubuh sehari-hari dapat diabstraksikan secara spiritual.

 

Teofani adalah penjelmaan yang ilahi ke dalam wujud yang dapat dipersepsikan oleh manusia. Dalam pandangan Ibn Arabi, teofani dapat terjadi dikarenakan energi kreatif dari cinta. Bahkan dalam Futuhat al-Makkiyah, ia mengatakan, manusia akan tersadar bahwa seluruh yang ada sesungguhnya cinta dari Tuhan sebagai Kekasih, manusia dapat menyadari ini jika ia berhasil menyibak tirai yang menutupi pikirannya.

 

Profesor Sa’diyya Shaikh, peneliti sufisme dan hubungannya dengan konsep jender, dalam karyanya yang berjudul Sufi Narratives of Intimacy memberikan sudut pandang yang menarik tentang ajaran Ibn Arabi. Ia mengangkat unsur erotika dalam tulisan Ibn Arabi bahwa cinta di antara dua manusia melalui peleburan dua tubuh adalah jalan untuk menampilkan kebenaran.

 

Ia juga mengutip Ibn Arabi yang membicarakan daya kreatif perempuan. Ibn Arabi menolak pandangan yang mengatakan kekuatan maskulin sebagai yang dominan dibandingkan yang feminin. Ajaran Ibn Arabi menekankan pada keunikan aspek maskulin dan feminin, tetapi ia menggarisbawahi atribut feminin yang kerap diabaikan dalam gagasan teofani. Justru, cinta dan belas kasih menurutnya adalah aspek feminitas yang mendasari terciptanya kehidupan (mawujudat).

 

Dalam buku The Principle Upanisads, buah karya Servapalli Radhakrishnan, filsuf juga negarawan asal India, pembaca akan menjumpai komentar Radhakrishnan menganalisis teks kuno Upanisad yang dikaitkan dengan ajaran sufisme. Ia mengutip Jalaluddin Rumi, dan juga seorang perempuan sufi, Rabi’ah al-Adawiyah. Dalam Brhadaranyaka Upanisad disebutkan bahwa segala pengetahuan serta kearifan adalah napas dari Tuhan. Begitu juga dalam Prasna Upanisad yang menyebutkan keutamaan pemujaan pada napas vital (prana). Radhakrishnan mengutip pula salah satu puisi Rabi’ah yang bicara tentang penyerahan diri secara total kepada Tuhan, Radhakrishnan menyebutkan keserupaan dengan gagasan Bhakti atau cinta dalam tradisi Hindu.

 

Teramat sulit mendefinisikan cinta, menurut para sufi, ada keterbatasan kata-kata manusia untuk menangkapnya secara sempurna. Ada sesuatu yang tak terkatakan dalam cinta. Meski demikian, bahasa puitis Ibn Arabi dan Rabi’ah mengajak kita berimajinasi bahwa di balik segala perbedaan sebenarnya manusia dipersatukan oleh cinta. Seperti yang disampaikan Rabi’ah, ”Dalam jiwaku, berdiri candi, kuil, masjid, gereja// yang kemudian larut.// Seluruhnya larut di dalam Tuhan.” ●

 

Senin, 01 Maret 2021

 

Tawa Medusa

 Saras Dewi  ;  Pengajar filsafat di Universitas Indonesia

                                                     KOMPAS, 27 Februari 2021

 

 

                                                           

Legenda menuturkan Medusa sebagai makhluk yang mengerikan. Kepalanya ditumbuhi ular-ular yang menjuntai, mendesis ganas. Matanya begitu mematikan sehingga siapa pun yang dipandangnya akan berubah menjadi batu. Medusa menjadi simbol teror yang membuat gentar musuh-musuhnya. Mitos tentang Medusa disampaikan dari masa ke masa oleh penyair seperti Homer, Hesiod, dan Ovid.

 

Medusa ditampilkan sebagai monster yang akhirnya dikalahkan oleh sang protagonis Perseus. Tidak cukup membunuh Medusa dengan cara memenggal kepala perempuan itu, Perseus juga membawa kepala itu sebagai senjata. Sebab, mata yang mematikan itu tetap ampuh mengubah siapa pun menjadi batu. Kepala Medusa yang dimutilasi itu digunakan Perseus untuk mengalahkan raksasa laut, mengukuhkan posisi dirinya sebagai pahlawan yang masyhur terukir di langit.

 

Sejatinya kisah Medusa menceritakan tragedi seorang perempuan. Pada mulanya Medusa adalah seorang pendeta yang berbakti tulus di kuil Athena. Akan tetapi, kesetiaannya kepada Dewi Athena dibalas dengan kepahitan.

 

Suatu ketika Poseidon, mahadewa samudra, menampakkan dirinya dan menggoda Medusa. Medusa menolak, sebagai seorang pendeta, jiwa dan tubuhnya ia abdikan kepada kebijaksanaan. Poseidon pun murka, tidak menerima bahwa seorang manusia berani melawan kuasa dewa. Poseidon memerkosa Medusa di kuil suci.

 

Dengan penuh rasa sakit hati dan trauma, Medusa mengadu kepada Athena, disebabkan pemerkosaan itu Medusa menjadi hamil. Ia menuntut keadilan kepada sang dewi. Alih-alih menghukum Poseidon karena kejahatannya, Athena malah mencecar Medusa karena dianggap telah menodai kuil.

 

Ia juga menyalahkan Medusa untuk kehamilan itu, bahkan menyangsikan kejahatan Poseidon. Vonis terakhir Athena adalah mengutuk Medusa menjadi monster.

 

Pembacaan kritis terhadap mitos ini akan menguak bahwa Medusa adalah  korban pemerkosaan yang justru dipersalahkan karena berani mengungkapkan kebenaran. Cerita ini masih sangat relevan dengan kejadian nyata di masa sekarang.

 

Perempuan korban kekerasan seksual sulit melaporkan kasusnya ke jalur hukum karena sering kali diragukan kata-katanya. Orang-orang pun kerap bias terhadap korban dan berbalik menghakimi korban. Korban yang melaporkan kekerasan acap kali justru mengalami kriminalisasi sehingga banyak perempuan memilih senyap dan memendam duka.

 

Bagaimana cara mencari pertolongan, atau mengusahakan keadilan, saat perempuan dihabisi kata-katanya? Bahasa hukum tumpul melihat kejahatan yang dialami oleh perempuan, yang sarat akan ketimpangan kuasa, tidak mampu mengidentifikasi pemaksaan dan manipulasi yang terjadi pada perempuan. Dalam beberapa kasus, fakta yang menyedihkan adalah para korban pemerkosaan dianjurkan untuk menikahi pelaku kekerasan sebagai bentuk pertanggungjawaban.

 

Sulistyowati Irianto, Guru Besar Ilmu Hukum di Universitas Indonesia, mengatakan perlunya reformasi hukum. Karena itulah pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual begitu penting (Kompas, 12 Oktober 2020). RUU ini bertujuan melindungi perempuan sebagai subyek hukum. Namun, reformasi hukum ini masih tertatih-tatih.

 

Bahasa adalah arena kekuasaan. Perempuan terus bergelut untuk menciptakan kata-kata baru yang mendorong kesetaraan. Bahasa diskriminatif masih membelenggu perempuan. Kamus Bahasa Indonesia pun, dalam subentri kata perempuan, tertera frasa-frasa penuh prasangka seperti perempuan jalang, jangak (cabul), nakal, jahat, dan sebagainya. Sepatutnya istilah-istilah ini perlu dirombak dengan yang konstruktif dan afirmatif terhadap semangat kesetaraan.

 

Hélène Cixous melalui esainya yang berjudul ”Tawa Sang Medusa” mengatakan bahwa pembebasan tubuh perempuan ditempuh melalui bahasa. Ia menekankan pentingnya perempuan untuk menulis, menarasikan hidupnya. Tulisan karya perempuan menjadi cara untuk menunjukkan perempuan sebagai individual, sebagai dirinya sendiri.

 

Sastra adalah lorong bawah tanah yang memungkinkan perempuan untuk bergerilya membentuk kata-kata baru, cakrawala baru, harapan untuk dunia baru.

 

Seperti yang dilakukan oleh Ursula K Le Guin, seorang penulis fiksi ilmiah dan juga seorang feminis. Cerita-cerita fantasi yang ia karang mewakili keresahannya melihat kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi di dunia ini. Karyanya yang berjudul ”Kata untuk Dunia adalah Hutan”, dipublikasi pada 1972, disambut oleh penikmat sastra sebagai cerita genre fantasi yang kritis menyerang kolonialisme dan eksploitasi lingkungan hidup.

 

Ia mendeskripsikan proses penjajahan yang keji di Planet Athshe, penjarahan, pemerkosaan, hingga pemusnahan budaya asli setempat yang dilakukan manusia. Perempuan dan bumi senasib mengalami penyiksaan dan penganiayaan oleh sistem budaya yang patriarkis.

 

Semasa saya kanak-kanak, alangkah takutnya saya pada leak. Leak bersemayam di sungai, di pantai, di heningnya hutan bergumul dengan sihir. Orang-orang dilarang mengusik tempat-tempat keramat. Jangan sampai mengundang kemarahan Ni Rangda, sang ratu para leak.

 

Beranjak dewasa saya mempelajari berbagai sisi dari mitos Calon Arang. Calong Arang merupakan cerita dari abad ke-11 yang mengisahkan kehidupan seorang janda yang hidup di Girah. Ia dituding menyebarkan wabah menggunakan sihir hitam.

 

Cok Savitri, seorang perempuan seniman Bali, menyampaikan perspektif yang berbeda tentang Calon Arang. Melalui pementasan yang berjudul Pembelaan Dirah, ia melancarkan protes terhadap stigma seorang janda maupun citra penyihir jahat.

 

Menurut dia, Calon Arang adalah perempuan yang tangguh menantang kekuasaan, ”Semua benteng memiliki celah, begitu pun keangkuhan, tak kecuali kekuasaan retak. Oleh lirik mataku.” Kecerdasan dan kesaktiannya membuat pihak kerajaan khawatir. Bagi Cok Savitri, Calon Arang adalah pelindung bumi yang tercederai. Ibu yang menaungi kaum yang terbuang.

 

Saya tidak lagi merasakan takut pada Rangda, bahkan saya merasa tenang. Kita perlu geram melihat ketidakadilan yang terjadi. Kemarahan Calon Arang, serupa dengan kemarahan Medusa, adalah kemarahan yang tidak akan beristirahat sampai kelaliman musnah. ●