Tampilkan postingan dengan label Raymond Kaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raymond Kaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Usman, Harun, Susilo

                           Usman, Harun, Susilo

 Raymond Kaya  ;   Wartawan di SCTV
TEMPO.CO,  13 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                      
Tiga nama, yakni Usman, Harun, dan Susilo, memang tidak berhubungan, tapi paling tidak nama mereka belakangan ini bisa dikaitkan dengan nama sebuah negara, Singapura. Usman dan Harun, nama keduanya diabadikan pada sebuah kapal kelas fregat ringan jenis Nakhoda Ragam buatan Inggris. 

Penamaan KRI Usman Harun ini kemudian menuai protes dari Singapura karena latar belakang sejarah. Pengeboman yang dilakukan keduanya di MacDonald House, Orchard Road, Singapura, pada 1965 menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Pengeboman ini dianggap pemerintah Singapura sebagai sebuah tindakan teroris. Tapi, bagi Indonesia, tindakan yang dilakukan kedua prajurit KKO (kini Marinir) ini dianggap sebagai bagian dari strategi perang.

Kini Susilo Siswoutomo, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Dia berkata di media,
"Kalau Singapura dan Malaysia tidak ekspor BBM, dalam waktu lima hari, kita (Indonesia) bisa meninggal. Sebab, kita punya banyak pesawat tempur. Nah, itu mau diisi apa kalau bukan BBM. Mau diisi air?"

Ucapan Susilo ini bukan tanpa bukti. Pada 2013, Indonesia mengimpor BBM dengan total biaya US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Selama ini,
Singapura memiliki penyulingan minyak tercanggih di dunia. Ini baru dari sisi energi, belum dari sisi telekomunikasi, investasi, dan lain-lain. Pendek kata, Indonesia bergantung pada Singapura. 

Jadi, di satu sisi, Indonesia boleh melakukan apa saja sebagai sebuah negara yang berdaulat, apalagi untuk sebuah nama kapal perangnya. Bahkan, Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun tak berniat datang ke Singapore Airshow karena ada 100 perwiranya yang undangannya dibatalkan secara sepihak oleh pemerintah Singapura. Tapi, apakah hanya karena alasan pengeboman pada 1965 itu pemerintah Singapura melontarkan ketidakpuasannya?

Sebuah negara diperhitungkan bukan dari sekadar memiliki wilayah yang besar, tapi memiliki besar-besaran lain, seperti kondisi ekonomi, politik, dan pemimpin bangsanya. Sebuah negara yang besar seperti Indonesia seharusnya menjadi big brother di kawasannya-di Asia Tenggara. 

Kini, Indonesia terlihat unggul dalam konteks perang propaganda politik dengan ungkapan "keluhan Singapura kami catat" atau "penamaan Usman Harun hak kita" dan lain-lain. Tapi sebenarnya Indonesia tidak mampu secara pasti meredam "omelan" Singapura itu. Sebuah ironi, ketika Singapura yang tidak memiliki minyak mentah sanggup mengekspor BBM, karena memiliki kilang minyak yang canggih, dan sebaliknya dengan Indonesia. 

Sebuah ironi, ketika banyak pengusaha Indonesia lebih memilih bertransaksi di Singapura, karena pajak yang lebih murah dan disimpan di bank-bank yang dianggap lebih aman. Belum lagi urusan kesehatan, fashion, hingga wisata. 

Jadi, tuntutan Singapura untuk mengubah nama KRI Usman Harun bukanlah sebuah retorika politik yang hanya didasarkan pada emosi masa lalu, tapi bisa membuat negara lain bergantung kepadanya. Paling tidak, itu yang diungkap oleh Wamen Susilo, "Kita punya banyak pesawat tempur. Nah, itu mau diisi apa kalau bukan BBM. Mau diisi air?"

Kamis, 30 Januari 2014

Ibu Negara, Log Off

                            Ibu Negara, Log Off         

Raymond Kaya  ;   Wartawan di SCTV
TEMPO.CO,  29 Januari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
Ibu Negara Michelle Obama, 21 Januari lalu, kembali terlibat dalam sebuah kampanye hidup sehat bertema Let's Move bersama para pemain basket Miami Heat, Dwayne Wade, Ray Allen, Chris Bosh, dan LeBron James, serta pelatih kepala Erik Spoelstra, yang dalam video ini bertindak sebagai seorang reporter. Tayangan di YouTube ini dikomentari banyak pihak, termasuk misalnya ekspresi Michelle saat melakukan slam dunk dengan wajah menyeringai. Tayangan ini langsung mendapat respons yang umumnya menyambut, tapi ada yang memberi tanda dislike sekaligus berkomentar. 

Salah satu isi kalimatnya, "Isn't there a reward for proof of BIGFOOT?" Bahkan dalam sebuah situs di TV nasional NBC, ada sebuah kalimat bernada rasial karena hampir semua yang terlibat dalam tayangan ini berkulit hitam. Tapi tak satu pun nada marah diungkap dari White House, apalagi dari pribadi Michelle. 

Seseorang yang sadar masuk ke teknologi media baru yang berbasis Internet atau dunia virtual sebenarnya masuk dalam sebuah dunia yang baru tanpa etika dan budaya. Seseorang yang dengan sadar masuk ke dunia Internet harus membedakan dirinya sebagai human dan sebagai post-human. Pada saat seseorang masuk ke dunia virtual melalui Internet, ia masuk dalam kondisi post-human. Dengan demikian, apa pun yang dia alami saat berinteraksi dengan orang lain dalam media sosial, ia harus memikirkan segala konsekuensinya, baik hal-hal yang menyenangkan maupun sebaliknya, justru menjengkelkan. Semuanya harus terselesaikan di dunia virtual itu dan jangan dibawa-bawa ke dalam kehidupan pribadi setelah melakukan sign off atau keluar dari media yang digunakan. Profesor Charless Ess dari Universitas Drury menyatakan dunia virtual (bukan dunia maya) adalah dunia baru yang masih mencari sebuah norma. Nilai-nilai yang disepakati oleh warga dalam dunia virtual hanya disepakati sesama mereka dan tidak bersifat umum. 

Ada berbagai cara agar "terhindar" atau "tidak" mendapat perlakuan negatif saat masuk ke dunia virtual. Pertama, dengan tidak mengirim spam kepada orang lain. Kedua, jangan menganggap dunia virtual sebagai dunia yang penuh dengan privasi. Ketiga, jangan menyerang orang lain jika diri Anda tidak ingin mendapat serangan balik. Dan terakhir, gunakan nama dan identitas yang benar. Jangan sekali-kali memberi komentar menggunakan identitas palsu untuk mendukung pendapat diri. Perilaku ini tidak cuma bodoh, tapi lambat laun juga akan terbongkar. 

Michelle Obama tentu melakukan semua syarat di atas, tapi serangan tetap ada dalam dunia virtual kepada dirinya. Itulah yang memang terjadi. Apa pun yang dibuat dalam dunia virtual, sebagus apa pun semuanya, bersifat subyektif. Michelle sudah masuk dalam kondisi human dan (mampu keluar) dari kondisi post-human. Ia sadar betul, jika semua programnya masuk dalam dunia virtual, kritik pun akan datang. Michelle dan para ahli komunikasinya hanya menghitung jumlah hit dan like dari tayangannya dan orang-orang yang mungkin terkena dampak yang positif atas karya mereka. Maka, jika tidak suka akan dunia virtual, hanya satu pilihan: jangan marah-marah, log off. Selesai….

Minggu, 08 Desember 2013

Rantai Fantasi Mandela

Rantai Fantasi Mandela
Raymond Kaya  ;   Wartawan SCTV
TEMPO.CO,  07 Desember 2013

  

Nelson Mandela meninggal pada usia 95 tahun. Ia meninggalkan sebuah jejak penting bagi komunikasi politik di Afrika Selatan. Mendekam hampir 30 tahun di penjara akibat kekejaman rezim Apartheid, yang membedakan warna kulit pada era modern, tidak membuat Mandela menyimpan dendam terhadap warga kulit putih. Ia bahkan meminta mereka hidup berdampingan. Setelah keluar dari penjara pada Februari 1990, Mandela, melalui partainya, African National Congress (ANC), memenangi pemilihan umum langsung pertama bagi semua warga Afrika Selatan pada 1994.

Bagi Mandela, hal tersulit adalah meminta warga kulit hitam Afrika tidak memusuhi warga kulit putih, yang selama berabad-abad menjadikan mereka warga kelas dua di tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka yang lahir sebelum era 1990-an akan terbiasa dengan tulisan "white only", baik di tempat perhentian bus, toilet umum, maupun pantai-pantai indah di Cape Town. Penduduk Afrika Selatan yang mayoritas berkulit hitam harus menuruti tuan-tuan tanah warga kulit putih yang banyak berasal dari Belanda dan Inggris. Tercatat, setelah berakhirnya Perang Dunia II, Afrika Selatan merupakan satu-satunya negara yang menerapkan perbedaan ras, yang menyebabkan negara ini dikecam dan dikucilkan dari pergaulan internasional. Hal ini berubah drastis setelah runtuhnya era Perang Dingin pada 1988. Jualan rezim Pretoria bahwa Mandela adalah pendukung komunis sudah tidak laku. 

Perdamaian

Ada sebuah fantasi baru yang terjadi saat Mandela kembali ke pangkuan rakyat Afrika Selatan, yaitu perdamaian. Tak mudah bagi Mandela meyakinkan sebagian besar rakyat Afrika Selatan untuk memberi maaf kepada orang kulit putih, yang selama ini melakukan diskriminasi. Bahkan, sebagian berharap inilah saatnya menuntaskan dendam yang lama terpendam. Namun Mandela paham bahwa rezim Apartheid menggunakan Mongosuthu Buthelezi untuk mendirikan Partai Inkatha guna memecah-belah rakyat Afrika Selatan. Buthelezi, yang berasal dari suku Zulu, adalah mantan Ketua Pemuda ANC pimpinan Mandela, seorang bangsawan dari suku Thembu. Mandela memilih jalan rekonsiliasi untuk mencegah terjadinya perang saudara di Afrika Selatan.
Mandela membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, sebuah Komisi yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah pada era Apartheid. Setiap orang yang merasa telah menjadi korban kekerasan dipersilakan menghadap dan mengadu ke Komisi ini. Para pelanggar kekerasan juga dapat memberi kesaksian dan memohon amnesti atas tuntutan yang diajukan. Sesi dengar pendapat (hearing) dimuat dalam berita-berita nasional dan internasional. Banyak sesi yang disiarkan lewat stasiun televisi nasional. 

Komisi ini merupakan komponen penting dari transisi menuju demokrasi yang penuh dan bebas di Afrika Selatan. Meski terdapat sejumlah kekurangan, pada umumnya Komisi yang dipimpin oleh Uskup Agung Afrika Selatan Desmond Tutu ini dianggap sangat berhasil. Sejumlah film dibuat berdasarkan kisah-kisah nyata dari komisi ini. 

Salah satu film yang terkenal saat itu adalah Forgiveness (2004) yang disutradarai oleh Ian Gabriel. Film ini menampilkan Andre Vosloo, seorang mantan polisi yang memohon pengampunan dari keluarga aktivis yang dibunuhnya selama rezim Apartheid. Catatan lain mengenai hal ini terdapat dalam buku biografi berjudul Playing the Enemy : Nelson Mandela and The Game that Made a Nation karya John Carlin. Buku ini mengisahkan sebuah pertandingan bersejarah dalam kejuaraan dunia rugby pada 1995 yang berlangsung di Afrika Selatan. Mandela, dengan upaya yang sungguh-sungguh, menyatukan dukungan masyarakat Afrika Selatan-terutama masyarakat kulit hitam-untuk mendukung Springboks, tim rugby Afrika Selatan yang didominasi orang kulit putih. Kisah ini kemudian dijadikan film berjudul Invictus, dengan aktor peraih Oscar, Morgan Freeman, sebagai Nelson Mandela. 

Dalam teori konvergensi simbolik yang diperkenalkan Ernest Borman, simbol perdamaian dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan kisah-kisah yang benar terjadi menjadi sebuah rantai fantasi. Dalam kasus di Afrika Selatan ini, tema fantasi yang "dijual" adalah "konsep perdamaian" yang kemudian diceritakan, dianalogikan, dipidatokan, dinarasikan pada karakter-karakter orang-orang yang menyukai perdamaian. Tokoh-tokoh seperti Mandela, Desmond Tutu, Oliver Tambo, bahkan Presiden Afrika Selatan pada waktu itu, F.W. De Klerk, muncul sebagai "tokoh fantasi" yang secara positif menggemakan perdamaian. Kita bisa belajar dari tema fantasi seorang Mandela: perdamaian. 

Rabu, 20 November 2013

Penyadapan Australia

Penyadapan Australia
Raymond Kaya  ;   Wartawan SCTV
TEMPO.CO,  20 November 2013


Pemerintah Indonesia memanggil pulang duta besarnya di Canberra karena kasus penyadapan yang dilakukan pemerintah Australia terhadap para pejabat Indonesia. Dalam konteks hubungan internasional, pemanggilan ini menunjukkan protes paling keras yang dilakukan Jakarta. Pemerintah Australia sulit mengelak, terlebih yang menyiarkan laporan Edward Snowden adalah televisi ABC (Australia Broadcasting Corporation), yang notabene adalah televisi yang dibiayai oleh pemerintah Australia. Bagi ABC, tanggung jawab mereka memang bukan kepada pemerintah, melainkan kepada masyarakat yang membayar pajak sehingga publik berhak mengetahui sebuah kebenaran dari tayangan mereka. 

Bagaimana perlakuan Jakarta terhadap Washington? Amerika (menurut laporan Edward Snowden) juga menyadap Indonesia. Bahwa Dinno Patti Djalal mengundurkan diri dari jabatan Duta Besar Indonesia di Washington karena berfokus pada konvensi itu telah diberitakan. Namun kini penggantinya, Budi Bowoleksono, tengah menunggu penempatan di Washington. Apakah kemudian Kementerian Luar Negeri berani mengumumkan penundaan penempatan Budi Bowoleksono ini? Jika hal ini dilakukan, Jakarta dipandang membela prestise bangsa Indonesia, sebagai salah satu inti kepentingan nasional. Sampai tahap ini, tentu apa yang dilakukan oleh Jakarta positif. 

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, tanggapan yang diberikan oleh pemerintah Australia melalui media seolah-olah ingin mengatakan bahwa penyadapan ini adalah insiden yang lumrah dilakukan (dismissive), seperti dikutip Antaranews.com. Makna dari tanggapan Menteri Marty adalah, pemerintah Australia haruslah menyesal, meminta maaf, atau memohon agar hubungan diplomatik itu kembali seperti pada saat sebelum terjadinya laporan Snowden tersebut. 

PM Australia Tonny Abbot sendiri terlihat membela diri dengan menyatakan, "Semua pemerintah mengumpulkan informasi, dan semua pemerintah tahu bahwa setiap pemerintah lainnya juga mengumpulkan informasi (Tempo.co, 18 November). Jadi, benar jika Marty Natalegawa menyarankan agar Nadjib Kesoema pulang dengan hanya membawa tas di kabin pesawat. Tapi, jika ini terjadi dan tidak ada satu pun kata maaf dari pemerintah Australia, apa yang terjadi? Perang harga diri. Siapa yang merasa kepentingan nasionalnya akan lebih terganggu tentu akan berinisiatif untuk "mengulurkan tangan tanda maaf" yang pertama. 

Ini bukanlah hal baru. Pada 2006, Duta Besar Indonesia untuk Australia, Teuku Mohammad Hamzah Thayeb, resmi ditarik pulang. Hamzah dibutuhkan di Jakarta untuk menjelaskan soal pemberian suaka kepada 42 warga Papua dari pemerintah Australia. Apa yang terjadi adalah 42 warga Papua itu tetap berada di Australia dan bahkan kemudian Hamzah Thayeb kembali ke Australia pada Juni 2006, karena Presiden SBY akan bertemu dengan PM John Howard di Batam. Lalu, nanti apa alasan kembalinya H.E. Nadjib Kesoema ke Canberra? Jangan sampai sekarang menepuk dada tapi kemudian menutup mulut dengan tangan.
 

Rabu, 16 Januari 2013

Slogan Politik Capres


Slogan Politik Capres
Raymond Kaya ;  Mahasiswa Program MasterKomunikasi
Universitas Mercubuana Jakarta
SUARA KARYA, 15 Januari 2013


Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan 10 partai politik (parpol) peserta Pemilu 2014. Sembilan parpol, adalah "muka lama" atau penghuni DPR dan satu lainnya adalah Partai Nasdem sebagai pendatang baru. Sementara 24 partai lainnya termasuk PBB yang menduduki peringkat 10 di Pemilu 2009, tersingkir.
Dengan hanya 10 parpol ini yang berhak maju di Pemilu 2014, diperkirakan hanya akan ada maksimal empat kandidat presiden - wakil presiden. Terlebih, jika batas minimal parpol di parlemen yang bisa mengusung calon presiden (presidential threshold) pada Pemilu 2014, seperti sebelumnya, yaitu 20 persen perolehan kursi parlemen, atau 25 persen suara nasional.
Jika ini dipertahankan maka diperkirakan hanya akan ada koalisi dari Partai Golkar, PDIP, Demokrat dan Gerindra. Dari keempat kemungkinan koalisi ini, baru Golkar yang secara jelas mencalonkan Abu Rizal Bakrie sebagai calon presiden. Seharusnya nama-nama calon presiden itu memang sudah muncul di tahun 2013. Ada keuntungan jika sejak awal pencalonan presiden itu diumumkan, yaitu segala tindakan, perilaku, ucapan dan lainnya bisa mendapatkan perhatian publik secara lebih. Apalagi, para kandidat presiden tentu akan memperkenalkan diri lewat sebuah komunikasi politik, entah berupa kata, frasa ataupun kalimat yang mudah diingat para pemilih. Yang jelas, slogan para kandidat presiden tersebut idealnya be first, be different dan be unique.
Sekadar mengingatkan, pada 31 Desember 2012, stasiun televisi ABC di AS membuat sebuah laporan unik dengan memperhatikan secara seksama frasa yang paling sering diungkapkan Presiden Barrack Obama. Frasa itu adalah Let me be clear ('Mari saya jelaskan sejelas-jelasnya'). Frasa itu sendiri sudah diucapkan oleh Obama, empat tahun terakhir, tak lama setelah menjadi Presiden AS pertama kali pada 2008.
Saat kampanye pemilihan presiden periode pertama di AS pada 2007, Obama menggunakan kata kunci change (perubahan). Kata itu kemudian menjadi sebuah slogan dalam bentuk frasa Change, We Can Believe In dan kemudian mengubahnya saat menjelang pemilihan presiden tahun 2008, menjadi Change, We Need.
Bahkan saat itu, setiap kali Obama mengucapkan kata change, maka serentak pendukungnya akan meneriakkan yes we can. Setelah change, kemudian Obama memainkan beberapa frasa unik, seperti, Make no mistake. Change isn't easy, It won't happen overnight dan There will be setbacks and false starts. Jika makna kalimat itu sendiri tidak jelas, maka bisa menimbulkan berbagai perkiraan. Lantas, Obama sebetulnya ingin berkata, "Biar saya jelaskan, sejelas-jelasnya!"
Tetapi, apakah kemudian AS sebagai negara yang dipimpinnya mampu melaksanakan kebijakan seperti yang 'dijelaskan sejelas-jelasnya' oleh Obama itu?
Obama pun saat menerima hadiah nobel perdamaian sempat berucap, Let me be clear. "Saya tidak melihatnya sebagai pengakuan prestasi saya sendiri, melainkan sebagai penegasan kepemimpinan Amerika atas nama aspirasi orang-orang di semua bangsa."
Sementara Obama juga menggunakan frasa yang sama, atau variasi dari itu, untuk menerapkan strategi khusus di Irak dan Afghanistan. Kemudian, terkait strategi hubungan AS-China, bipartisanship, upaya untuk bergabung dengan Uni Eropa hingga masalah seperti pembahasan dislegislatif mengenai hewan peliharaan.
Penggunaan frasa seperti ini disebut juru bicara Gedung Putih Josh Earnest sebagai gaya Obama yang khas. Penggunaan frasa secara teoritis bisa dilihat melalui kajian semiotis atau tanda-tanda yang disampaikan sebagai suatu informasi secara komunikatif.
Menurut kajian Ronald Barthes, dalam konteks order of siginification, mencakup denotasi atau konotasi makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal. Makna denotatif "Let me be clear" bisa diartikan sebagai sebuah keraguan Obama dalam menyikapi sebuah masalah. Bahkan, sebuah frasa sendiri tidak memiliki kata predikat sehingga arti kata itu bisa jadi menjadi tidak jelas. Oleh karena itulah Obama mengungkapkan, "Biar aku jelaskan agar menjadi jelas."
Kembali ke Pemilu 2014 nanti, calon-calon presiden kemungkinan sudah mulai memikirkan kata, frasa ataupun kalimat yang mudah diingat oleh para pemilih. Dulu, mantan Presiden Abdurahman Wahid memiliki ungkapan, "Begitu aja kok repot!". Meski tidak tahu persis apa makna kalimat itu tapi jika frasa ini sudah terucap maka segala permasalahan seharusnya mudah diatasi. Artinya, bisa saja dianggap tidak penting-penting amat untuk dibahas atau jangan-jangan memang masalah itu berat dan sukar dipecahkan.
Pada era Presiden Soeharto, unsur penanda tadi memang bukan sekedar kalimat tapi sering diucapkan dengan senyuman. Tak heran, jika Alm Pak Harto dikenal sebagai a smiling general (Jenderal yang suka tersenyum). Satu pernyataan yang masih diingat ketika beliau mengatakan, 'Saya gebuk!' sambil tersenyum menyikapi potensi kerusuhan di Tanah Air.
Tahun 2009, usaha untuk membangun sebuah simbol pernah dilakukan oleh Rizal Mallarangeng me-lalui icon RM 09, yang sangat eye catch karena meminjam istilah CR 7 yang lebih dulu ada untuk julukan pesepakbola terkenal Portugal, Christiano Ronaldo. Hal lain yang masih diingat dari 2009 adalah semboyan Pak JK, "Lebih cepat, lebih baik," sebagai mudah diingat dan memiliki makna multitafsir.
Memang, perlu dipadukan antara semboyan dari kata, frasa atau kalimat tadi dengan icon gambar yang juga mudah diingat agar para pemilih dan bagi para simpatisan, icon gambar akan lebih mudah diproduksi dan tidak menunggu bantuan dari pusat. Namun, yang terpenting, kata, frasa, kalimat atau simbol dan gambar yang digunakan dalam Pemilu 2014 sebaiknya bukan sekedar janji kampanye. Tetapi, benar-benar harus dijalankan saat mereka menjadi pemimpin bangsa. 

Rabu, 14 November 2012

Sosok Perempuan di Balik Kemenangan Presiden AS


Sosok Perempuan di Balik Kemenangan Presiden AS
Raymond Kaya ;  Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercu Buana
MEDIA INDONESIA, 13 November 2012



PEKAN lalu, Barack Obama kembali menjadi presiden Amerika Serikat (AS) untuk yang kedua kalinya setelah memenangi pertarungan menghadapi Mitt Romney. Kemenangan itu ditentukan swing states atau pemilih yang masih mengambang di beberapa negara bagian terutama di Ohio. Begitu Ohio memberikan suara untuk Obama, drama politik kampanye pemilu AS pun berakhir.

Pemilu tersebut melibatkan banyak pihak dan didukung tim kampanye yang luar biasa hebat di belakang para kandidat itu. Namun, sosok penting yang ada di belakang para kandidat tersebut ialah kehadiran istri mereka atau yang setelah mereka menjadi presiden akan dikenal dengan nama first lady.

Mantan Presiden AS Jimmy Carter pernah menulis peran istrinya, Rosalynn Smith Carter, selama dia menjabat presiden. Tulisan tersebut dimuat di The Atlanta Journal and Constitution. ‘Meskipun istri saya, Rosalynn, tidak memiliki karier profesional, dia mitra penuh saya di hampir semua bidang, pertanian, bisnis, dan bahkan urusan politik. Dia selalu menjadi pemain kunci dalam pertemuan-pertemuan yang membahas strategi politik’, tulis Carter dalam artikelnya yang diberi judul ‘A First Lady Finds Her Own Way’.

Dalam pemilu AS yang berlangsung tahun ini, istri setiap kandidat presiden yaitu, Michelle Obama (dari Partai Demokrat) dan Ann Romney (dari Partai Republik) di berbagai kesempatan menunjukkan peran penting suami mereka terutama dalam keluarga. Hal itu diperlukan agar para pemilih memiliki persepsi penting soal keluarga yang harmonis meski sebuah data menyebutkan AS menempati urutan kelima dalam soal perceraian.

Dari 1.000 penduduk ‘Negeri Paman Sam’, angka perceraian mencapai 3,4. Artinya para pemilih di AS ingin menyatakan, meski keluarga kami tidak bahagia dan berhasil, kami orang biasa. Lain halnya Anda, seorang calon presiden atau presiden kami, harus mempunyai keluarga yang baik-baik.

Peran Michelle Obama

Sumbangan terbesar Michelle Obama dalam pemilu kali ini ialah pidatonya yang luar biasa di penutupan malam pertama konvensi Partai Demokrat di Charlotte, Carolina Utara.

Dalam pidato yang disambut aplaus meriah para peserta, ia berbagi kenangan hidup bersama Obama selama 23 tahun dan ia menemukan nilai-nilai keluarga pada suaminya. “Barack dan saya dibesarkan di keluarga yang tidak memiliki banyak uang, tetapi mereka memberikan kami sesuatu yang lebih berharga, cinta tanpa syarat, pengorbanan dan kesempatan untuk pergi ke tempat-tempat yang mereka sendiri tidak pernah membayangkannya (Mediaindonesia.com, 6/9).“

Pidato Michelle Obama itu dinilai mampu menggugah banyak pihak. Michelle menceritakan perjalanan hidupnya dan sang suami yang sama-sama berasal dari keluarga pekerja, di saat orangtua mereka harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga masing-masing. Memang dalam pidato itu tidak ada unsur–unsur yang penting, tapi banyak kisah menarik yang diungkap Michelle.

Tidak hanya itu, tim kampanyenya dengan cerdas meminta Michelle yang lulusan Fakultas Hukum Universitas Chicago untuk mengucapkan kata-kata pentingnya tidak lebih dari 140 karakter. Kata-kata penting itulah yang disebar melalui media sosial Twitter. Saat Michelle Obama berpidato, data dari Twitter menunjukkan lebih dari 28 ribu tweet dihasilkan per menitnya. Jumlah itu kira-kira dua kali lipat jika dibandingkan dengan saingan Barack Obama, Mitt Romney, ketika menyampaikan pidato resmi penerimaannya sebagai capres dari Partai Republik satu pekan sebelum pidato Michelle di Carolina Utara. Pesan tweet dengan tanda #michelleobama dan #fi rstlady menjadi top trending saat itu dan para pengguna akun Twitter memuji Michelle Obama yang menyebut dirinya sebagai ‘mom in chief’.

Penggunaan media sosial bukan hal yang baru bagi Obama dan tim kampanyenya. Untuk urusan perayaan hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20, pada 4 Oktober lalu, keduanya bahkan bertukar kata mesra di Twitter. Michelle yang memiliki hampir 1,7 juta follower mengungkapkan, “Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-20, Barack. Terima kasih telah menjadi mitra, teman, dan ayah yang luar biasa, setiap harinya. I love you!--mo.”

Ann juga diapresiasi. Namun, agak sedikit berbeda dengan Michelle Obama, istri Mitt Romney itu enggan membahas soal politik ataupun masalah partai. Ann Romney tampil di depan publik saat menyampaikan pidatonya dalam Konvensi Nasional Partai Republik awal Juni 2012 di Tampa, Florida. Dalam pidatonya yang meraih banyak apresiasi, Ann menekankan sisi lain yang lebih membumi dari suaminya yang dikenal sebagai multijutawan AS. Ann menceritakan kerja keras dan usaha Mitt dalam meraih kesuksesan dan posisinya sekarang ini.

Melalui kedua pidato yang mendapatkan sambutan besar dari para pendukung mereka itu, baik Ann maupun Michelle sama-sama bertujuan menggugah para pemilih (utamanya) kaum perempuan di AS. Mereka menyatakan cinta yang besar kepada suami masingmasing dan menyebutnya sebagai pria yang bisa dipercaya untuk memimpin AS.

Dramaturgi Politik

Sebetulnya apa yang dilakukan Michelle dan Ann tak lepas dari teori dramaturgi. Ervin Goffman yang mengembangkan teori dramaturgi, sebuah teori yang mengemukakan pengandaian kehidupan individu sebagai panggung sandiwara, ada sutradara, setting panggung, aktor, dan akting. Dalam sudut pandang sosiologi politik, drama itu harus menjadi cerminan apa yang terjadi di masyarakat, kemudian memberi kesan agar sebuah tujuan tercapai.

Dalam perkembangan teori itu, Kenneth Duva Burke memperkenalkan konsep dramatisme. Tujuan dramatisme-dalam drama tadi--ialah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan.

Apa yang dilakukan Michelle dan Ann merupakan bagian dari konsep tersebut. Sekumpulan ahli komunikasi politik atau sutradara politik mencitrakan istri-istri kandidat presiden sebagai penyampai pesan yang sangat efektif. Dramatisasi soal kehidupan masa lalu yang baik, yang diceritakan Michelle dan Ann, tak lebih dari keinginan mereka untuk mendekatkan diri dengan para pemilih yang
frustrasi dengan ekonomi AS saat ini. Namun, ‘drama’ tadi dikemas dengan luar biasa dan tidak lebay.

Posisi Sejajar

Bagaimana dengan di Indonesia? Perspektif ilmu antropologi tentang peran perempuan dalam masyarakat Jawa yang menyebutkan konsep istri sebagai sigaraning nyowo, bukan sekadar konco wingking, juga memberikan gambaran posisi yang sejajar dan lebih egaliter terhadap perempuan Jawa (Handayani & Novianto, 2004). Istilah konco wingking pun tidak selalu lebih rendah, tergantung bagaimana perempuan Jawa memaknainya.

Itu sama seperti sutradara yang bekerja di belakang layar dan tidak pernah terlihat dalam filmnya, tetapi dapat menentukan jalannya film.