|
Sosok
Perempuan di Balik Kemenangan Presiden AS
Raymond Kaya ; Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercu
Buana
|
MEDIA
INDONESIA, 13 November 2012
|
PEKAN lalu, Barack Obama kembali menjadi
presiden Amerika Serikat (AS) untuk yang kedua kalinya setelah memenangi
pertarungan menghadapi Mitt Romney. Kemenangan itu ditentukan swing states
atau pemilih yang masih mengambang di beberapa negara bagian terutama di
Ohio. Begitu Ohio memberikan suara untuk Obama, drama politik kampanye pemilu
AS pun berakhir.
Pemilu tersebut melibatkan banyak pihak dan
didukung tim kampanye yang luar biasa hebat di belakang para kandidat itu.
Namun, sosok penting yang ada di belakang para kandidat tersebut ialah
kehadiran istri mereka atau yang setelah mereka menjadi presiden akan dikenal
dengan nama first lady.
Mantan Presiden AS Jimmy Carter pernah menulis
peran istrinya, Rosalynn Smith Carter, selama dia menjabat presiden. Tulisan
tersebut dimuat di The Atlanta Journal and Constitution. ‘Meskipun istri saya,
Rosalynn, tidak memiliki karier profesional, dia mitra penuh saya di hampir
semua bidang, pertanian, bisnis, dan bahkan urusan politik. Dia selalu
menjadi pemain kunci dalam pertemuan-pertemuan yang membahas strategi
politik’, tulis Carter dalam artikelnya yang diberi judul ‘A First Lady Finds
Her Own Way’.
Dalam pemilu AS yang berlangsung tahun ini,
istri setiap kandidat presiden yaitu, Michelle Obama (dari Partai Demokrat)
dan Ann Romney (dari Partai Republik) di berbagai kesempatan menunjukkan
peran penting suami mereka terutama dalam keluarga. Hal itu diperlukan agar
para pemilih memiliki persepsi penting soal keluarga yang harmonis meski
sebuah data menyebutkan AS menempati urutan kelima dalam soal perceraian.
Dari 1.000 penduduk ‘Negeri Paman Sam’, angka
perceraian mencapai 3,4. Artinya para pemilih di AS ingin menyatakan, meski
keluarga kami tidak bahagia dan berhasil, kami orang biasa. Lain halnya Anda,
seorang calon presiden atau presiden kami, harus mempunyai keluarga yang
baik-baik.
Peran Michelle Obama
Sumbangan terbesar Michelle Obama dalam pemilu
kali ini ialah pidatonya yang luar biasa di penutupan malam pertama konvensi
Partai Demokrat di Charlotte, Carolina Utara.
Dalam pidato yang disambut aplaus meriah para
peserta, ia berbagi kenangan hidup bersama Obama selama 23 tahun dan ia
menemukan nilai-nilai keluarga pada suaminya. “Barack dan saya dibesarkan di keluarga
yang tidak memiliki banyak uang, tetapi mereka memberikan kami sesuatu yang
lebih berharga, cinta tanpa syarat, pengorbanan dan kesempatan untuk pergi ke
tempat-tempat yang mereka sendiri tidak pernah membayangkannya
(Mediaindonesia.com, 6/9).“
Pidato Michelle Obama itu dinilai mampu
menggugah banyak pihak. Michelle menceritakan perjalanan hidupnya dan sang
suami yang sama-sama berasal dari keluarga pekerja, di saat orangtua mereka
harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga masing-masing. Memang dalam
pidato itu tidak ada unsur–unsur yang penting, tapi banyak kisah menarik yang
diungkap Michelle.
Tidak hanya itu, tim kampanyenya dengan cerdas
meminta Michelle yang lulusan Fakultas Hukum Universitas Chicago untuk
mengucapkan kata-kata pentingnya tidak lebih dari 140 karakter. Kata-kata
penting itulah yang disebar melalui media sosial Twitter. Saat Michelle Obama
berpidato, data dari Twitter menunjukkan lebih dari 28 ribu tweet dihasilkan
per menitnya. Jumlah itu kira-kira dua kali lipat jika dibandingkan dengan
saingan Barack Obama, Mitt Romney, ketika menyampaikan pidato resmi
penerimaannya sebagai capres dari Partai Republik satu pekan sebelum pidato
Michelle di Carolina Utara. Pesan tweet dengan tanda #michelleobama dan #fi
rstlady menjadi top trending saat
itu dan para pengguna akun Twitter memuji Michelle Obama yang menyebut
dirinya sebagai ‘mom in chief’.
Penggunaan media sosial bukan hal yang baru
bagi Obama dan tim kampanyenya. Untuk urusan perayaan hari ulang tahun
pernikahan mereka yang ke-20, pada 4 Oktober lalu, keduanya bahkan bertukar
kata mesra di Twitter. Michelle yang memiliki hampir 1,7 juta follower
mengungkapkan, “Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-20, Barack. Terima
kasih telah menjadi mitra, teman, dan ayah yang luar biasa, setiap harinya. I
love you!--mo.”
Ann juga diapresiasi. Namun, agak sedikit
berbeda dengan Michelle Obama, istri Mitt Romney itu enggan membahas soal
politik ataupun masalah partai. Ann Romney tampil di depan publik saat
menyampaikan pidatonya dalam Konvensi Nasional Partai Republik awal Juni 2012
di Tampa, Florida. Dalam pidatonya yang meraih banyak apresiasi, Ann
menekankan sisi lain yang lebih membumi dari suaminya yang dikenal sebagai
multijutawan AS. Ann menceritakan kerja keras dan usaha Mitt dalam meraih
kesuksesan dan posisinya sekarang ini.
Melalui kedua pidato yang mendapatkan sambutan
besar dari para pendukung mereka itu, baik Ann maupun Michelle sama-sama
bertujuan menggugah para pemilih (utamanya) kaum perempuan di AS. Mereka
menyatakan cinta yang besar kepada suami masingmasing dan menyebutnya sebagai
pria yang bisa dipercaya untuk memimpin AS.
Dramaturgi Politik
Sebetulnya apa yang dilakukan Michelle dan Ann
tak lepas dari teori dramaturgi. Ervin Goffman yang mengembangkan teori
dramaturgi, sebuah teori yang mengemukakan pengandaian kehidupan individu
sebagai panggung sandiwara, ada sutradara, setting panggung, aktor, dan
akting. Dalam sudut pandang sosiologi politik, drama itu harus menjadi
cerminan apa yang terjadi di masyarakat, kemudian memberi kesan agar sebuah
tujuan tercapai.
Dalam perkembangan teori itu, Kenneth Duva
Burke memperkenalkan konsep dramatisme. Tujuan dramatisme-dalam drama
tadi--ialah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia
atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan.
Apa yang dilakukan
Michelle dan Ann merupakan bagian dari konsep tersebut. Sekumpulan ahli
komunikasi politik atau sutradara politik mencitrakan istri-istri kandidat
presiden sebagai penyampai pesan yang sangat efektif. Dramatisasi soal kehidupan
masa lalu yang baik, yang diceritakan Michelle dan Ann, tak lebih dari
keinginan mereka untuk mendekatkan diri dengan para pemilih yang
frustrasi dengan ekonomi
AS saat ini. Namun, ‘drama’ tadi dikemas dengan luar biasa dan tidak lebay.
Posisi Sejajar
Bagaimana dengan di Indonesia? Perspektif ilmu
antropologi tentang peran perempuan dalam masyarakat Jawa yang menyebutkan
konsep istri sebagai sigaraning nyowo, bukan sekadar konco wingking, juga
memberikan gambaran posisi yang sejajar dan lebih egaliter terhadap perempuan
Jawa (Handayani & Novianto, 2004). Istilah konco wingking pun tidak selalu lebih rendah, tergantung
bagaimana perempuan Jawa memaknainya.
Itu sama seperti sutradara yang
bekerja di belakang layar dan tidak pernah terlihat dalam filmnya, tetapi
dapat menentukan jalannya film. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar