Tampilkan postingan dengan label Qaimah Umar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qaimah Umar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Desember 2017

Agar Guru tidak Menjadi Ruwet

Agar Guru tidak Menjadi Ruwet
Qaimah Umar ;  Guru SDN Harapan Baru IV Bekasi
                                          MEDIA INDONESIA, 18 Desember 2017



                                                           
BEBAN profesional guru menyiratkan perlunya usaha peningkatan kapasitas dan kompetensi guru, termasuk pengembangan kompetensi pedagogis, kepribadian, dan sosial siswa. Ada banyak kekhawatiran tentang guru jika dilihat dari aspek ruang lingkup tugas, profesionalisme, dan upaya pemerintah dalam melakukan usaha peningkatan kapasitas dan kompetensi guru.

Kekhawatiran itu menyangkut pola peningkatan kapasitas guru yang belum sepenuhnya baik, ditambah lagi dengan pola evaluasi terhadap kinerja guru yang cenderung monoton dan minim kreativitas serta lebih fokus pada aspek evaluatif yang formal, rigid, dan administratif.

Ada pernyataan menarik dari Presiden Jokowi pada puncak peringatan Hari Guru, beberapa waktu lalu. Guru, menurut Jokowi, seyogianya harus lebih banyak berinteraksi dengan siswa daripada menghabiskan lebih banyak waktu untuk urusan laporan administratif yang serbaformal dan ruwet. Kata 'ruwet' tentu saja ditanggapi dengan sorak sorai para guru karena selama ini mereka lebih banyak dituntut menyelesaikan laporan oleh para pengawas dan dinas pendidikan ketimbang memperhatikan aspek kedekatan emosional dengan siswa. Menurut saya, perlu reorientasi tugas pengawas dalam memperkuat kedekatan guru dengan siswa.

Kompetensi pengawas

Dari segi jumlah, pengawas sekolah di RI relatif masih minim berbanding jumlah sekolah yang ada. Menurut pengakuan para pengawas, rata-rata dalam sepekan mereka harus berkeliling lebih dari delapan sekolah, dengan jarak tempuh antara satu sekolah dan lainnya sangat variatif dan cenderung jauh.

Selain itu, kemampuan pengawas dalam mengembangkan tugas sangat rigid, untuk tidak mengatakan terlalu text-book alias selalu merujuk pedoman dan juklak kepengawasan yang sangat membebani tugas guru yang seharusnya lebih banyak dengan siswa. Itulah mengapa para guru selalu sibuk dengan laporan formal yang bersifat administratif demi menghindari risiko penilaian guru yang buruk dari pengawas.

Sangat umum diketahui jika ada pengawas masuk dan berkunjung ke sebuah sekolah, biasanya para pengawas hanya duduk manis di ruang kepala sekolah dan memanggil para guru satu per satu atau berkelompok untuk diberi arahan. Saya hampir tak pernah menemui ada pengawas yang ketika datang ke sebuah sekolah langsung menuju kelas dan melakukan observasi kelas secara saksama.

Bahkan, dalam pengalaman saya selama mengajar, jarang sekali mendapati pengawas yang memiliki instrumen observasi kelas yang baik untuk mendeteksi efektivitas proses belajar-mengajar. Hampir seluruh pengawas hanya memeriksa dokumen kurikulum yang harus ditulis para guru dan ini membuat guru tertekan dan ruwet dengan administrasi.

Agar pengawas tak menambah beban para guru, sebaiknya kompetensi para pengawas dikembangkan untuk bersama-sama kepala sekolah melakukan proses observasi kelas secara rutin setiap hari. Kepala sekolah bersama-sama para pengawas melatih diri merancang dan membuat instrumen observasi kelas yang bisa dilakukan guru dan siswa.

Ada banyak contoh instrumen observasi kelas yang bisa dijadikan sebagai standar penilaian guru kinerja guru secara teratur tanpa meminta para guru menulis lembar-lembar laporan administratif yang cenderung ruwet dan tak pernah dibaca pengawas dan kepala sekolah. Misalnya, ada pertanyaan kecil dalam lembar observasi yang mencatat berapa kali guru tersenyum, mengatakan terima kasih, memuji siswa, dst.

Leadership guru

Guru bisa maksimal mengajar dan melakukan proses pendekatan yang intens dengan siswa apabila kita memahami sedini mungkin kemampuan leadership rata-rata guru, baik tingkat penguasaan instruksional materi maupun organisasi sekolah. Dalam hal penguasaan aspek instruksional, pemahaman guru tentang pengembangan kurikulum dapat dilihat melalui uji kompetensi guru dan atau program penilaian guru melalui jalur formal seperti dirancang pemerintah melalui sertifikasi.

Jalur peningkatan kemampuan instruksional ini jika dirancang dengan panduan pola internship yang komprehensif dan melibatkan banyak pengawas sekolah yang kompeten diharapkan meningkatkan kapasitas leadership guru. Namun, untuk meningkatkan kemampuan organisasional dan manajerial sekolah secara khusus, guru perlu dibiasakan melakukan banyak peran membantu tugas-tugas kepala sekolah. Inilah salah satu makna penting dari proses penilaian guru terhadap kemampuan leadership guru (Spillane, Halverson, & Diamond: 2001).

Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kemampuan leadership guru juga akan mempermudah upaya sekolah menggalang dukungan masyarakat. Guru yang memiliki leadership baik akan mampu berkomunikasi efisien dengan masyarakat. Pada tahap ini perluasan kapasitas dan tanggung jawab guru memberikan ruang bagi mereka melakukan banyak inisiatif dalam bekerja atas nama sekolah. Profesionalisme jenis ini sekaligus akan meningkatkan citra sekolah dan kemampuan akademis siswa sekaligus (Talbert & McLaughlin, 1994).

Paling tidak ada tiga alasan dan kebutuhan mengapa proses penilaian guru jenis ini perlu dilakukan. Pertama menyangkut model manfaat keikutsertaan guru, seperti disinggung di atas, dengan meningkatnya peran dan fungsi kepala sekolah dalam sebuah manajemen sekolah, diperlukan banyak dukungan staf yang paham dan membantu tugas-tugas itu. Alangkah baiknya jika peran itu juga bisa diberikan kepada para guru untuk skala dan waktu tertentu. Pembiasaan model ini akan membuat guru lebih peduli dengan proses manajerial sekolah sekaligus meningkatkan pemahaman guru terhadap alur kebutuhan organisasi sekolah yang harus dikendalikan (Barth, 2001).

Kedua, sebagai akibat dari model penyertaan pertama, kemampuan dan keahlian guru tentang belajar-mengajar dengan sendirinya akan meningkat. Sebagai ujung tombak pembelajaran di kelas, kemampuan berorganisasi guru melalui model-model peer-teaching, mentoring, serta kolaborasi antarguru akan serta-merta meningkatkan kemampuan guru dalam mengorganisasi bahan ajar dan proses pengajaran (Lieberman & Miller, 1999).

Ketiga, model penilaian kemampuan leadership guru juga pasti akan membawa dampak pada capaian akademis siswa. Artinya, jika praktik kepemimpinan berlangsung secara demokratis di sekolah, bentuk partisipasi guru diakui legalitasnya, serta komunikasi antara sekolah dan masyarakat berlangsung sangat intens, dan positif karena keterlibatan penuh para guru, dapat dipastikan itu berdampak positif dan baik terhadap capaian akademis dan perkembangan mental siswa.

Proses penilaian kemampuan leadership guru dapat membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan kompetensi guru, baik kompetensi pada aspek pedagogis, kepribadian, maupun sosial. Hanya, pertanyaannya, adakah kemungkinan kebijakan bagi pengembangan model penilaian guru jenis ini ke depan? Seperti kita ketahui, kelemahan mendasar proses peningkatan kapasitas dan kemampuan kompetensi guru selama ini lebih disebabkan tiadanya keseriusan kerja sama yang baik antara kepala sekolah, pengawas, guru, dan masyarakat. Guru selama ini hanya menjadi objek pelatihan dan program penilaian yang dikembangkan tanpa riset dan assessment tentang kebutuhan akademis guru itu sendiri. ●

Rabu, 15 Maret 2017

Media Literasi Siswa

Media Literasi Siswa
Qaimah Umar  ;   Guru SDN 04 Harapan Baru, Bekasi
                                             MEDIA INDONESIA, 13 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

'WE all live in two world: the real world and the media world. The real world is where we come in direct contact with other people, locations and events. Most of us feel that the real world is too limited, that is, we cannot get all the experiences and information we want from just the real world. In order to get those experience and information, we journey into the media world'.   (Potter, 2001: vii)

Kutipan di atas hendak menegaskan bahwa saat ini kita hidup dalam dua dunia yang berbeda; dunia nyata dan dunia media. Kedua fakta itu menuntut kita untuk terus membaca agar gap antara dunia nyata dan dunia media dapat mendekatkan diri kita pada kemampuan melihat sesuatu yang terjadi secara bijak dan cerdas.

Sebagai guru, kemampuan membaca media merupakan keterampilan yang harus dimiliki seorang guru agar tak ketinggalan berita. Karena itu, membaca tetap merupakan kunci utama bagi setiap guru dalam mengarungi proses belajar-mengajar di kelas.

Kemampuan membaca guru harus benar-benar teruji oleh derasnya arus literasi media saat ini, jika guru tak ingin tertinggal dengan siswanya.
Sebagai pusat informasi di mata para siswa, jelas kemampuan membaca guru di bidang media harus sejalan dengan upaya menjadikan anak-anak terlindungi oleh berita-berita yang sangat beragam dan bahkan bisa mengganggu anak-anak dalam belajar.

Secara definitif, media literasi atau literasi media sebenarnya merupakan kemampuan seseorang dalam membaca beragam jenis berita. Baik dalam bentuk suara, gambar maupun tulisan di media, baik internet, televisi, surat kabar, majalah, hingga media sosial.

Diperlukan keluasan pengetahuan guru dalam melihat fenomena bertumbuhnya beragam jenis media sosial saat ini sehingga berita itu mampu dianalisis dan dieksplorasi secara cerdas dan dapat menjadi sebuah bahan diskusi menarik di ruang kelas.

Empat tahap

Dalam memahami media literasi, setidaknya ada empat tahap yang bisa digunakan setiap guru untuk menerima, memilah, menyeleksi informasi sesuai dengan kebutuhan intelektual yang diinginkannya terjadi dalam proses belajar-mengajar. Sebagai anggota masyarakat, guru jelas sekali memainkan peran penting dalam meliterasi media bagi para siswa mereka sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Menurut James Porter dalam Rahayu (Media Literasi Agenda "Pendidikan" Nasional yang Terabaikan: 171-184) Volume 1 Nomor 2, empat tahap untuk memahami media literasi bagi kebutuhan proses belajar-mengajar yang bertanggung jawab ialah explore, recognize symbols, recognize patterns, dan matching meaning.

Keahlian dan keterampilan untuk mengeksplorasi sebuah bangunan berita, baik dalam bentuk gambar maupun tulisan, merupakan jenis keterampilan yang harus dimiliki guru ketika melihat sebuah peristiwa melalui media.

Dalam bahasa agama, seorang guru wajib hukumnya untuk melakukan tabayyun atau klarifikasi atau semacam check and recheck terhadap beragam jenis berita di media agar pikiran menjadi jelas dengan informasi yang diterima. Mencari semua sudut pemberitaan secara bijaksana akan menempatkan seorang guru berbeda dengan individu lainnya karena kemampuan eksplorasi itu sesungguhnya berkaitan erat dengan kecerdasan dan luasnya pengetahuan seorang guru.

Kemampuan kedua ialah mengenali simbol-simbol berita secara simultan dan terus-menerus. Dalam bahasa pendidikan, mengenali simbol sesungguhnya identik dengan keahlian menempatkan masalah menjadi tujuan pembelajaran. Misalnya, jika simbol anak cerdas ialah otak, guru yang kreatif akan memaknai simbol otak sebagai gambar lampu, jalanan, jempol, buku, dan beragam simbol lainnya untuk kebutuhan penilaian dan pemetaan kemampuan siswa.

Selain mengenali simbol pada unsur setiap berita, seorang guru juga harus memiliki kecerdasan lain ketika berhadapan dengan beragam berita yang muncul, yaitu keahlian untuk mengenali pola-pola pemberitaan berdasarkan database pengetahuan kita. Misalnya, bagaimana seorang guru memetakan kemampuan siswa dalam melihat perbedaan pola berita berdasarkan persepsi agama, sosial, hukum, ekonomi, dan sebagainya.

Tahap terakhir dari keahlian yang harus dimiliki seorang guru dalam melihat sebuah berita ialah kemampuan menangkap makna dari setiap pemberitaan berdasarkan tuntunan etika dan moral yang baik. Mengambil hikmah dari setiap pemberitaan akan membuat seorang guru dianggap berbeda ketika berhadapan dengan beragam tafsir yang muncul di kepala para siswa. Artinya, seorang guru harus peka terhadap realitas berita yang penuh dengan ragam simbol dan pola. Namun, ketika sampai pada pemaknaan guru selalu mengarahkan siswa untuk memahami sebuah berita dari sisi yang positif dan penuh dengan pesan moral yang tegas dan bijaksana.

Memahami empat tahapan itu sesungguhnya akan membuat kita tersadar bahwa 'media are constructed and construct reality' (Christ, 2004: 92-96).
Eksistensi media di masyarakat sebagai alat komunikasi menjadikan media dikonstruksi lingkungannya, baik itu lingkungan sosial maupun ekonomi.

Representasi media juga dapat mengonstruksi realitas, yakni ketika seseorang tidak memiliki informasi tentang suatu peristiwa dari sumber atau referensi lain selain media, besar kemungkinan orang itu beranggapan peristiwa itu sama dengan realitasnya. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

Demi siswa

Sudah saatnya dan semestinya seorang guru harus melek media atau sadar tentang pentingnya literasi media demi kedewasaan siswa-siswi mereka. Posisi guru sangat penting dan unik serta memiliki relevansi yang tinggi untuk masalah literasi media karena guru setiap saat selalu berinteraksi dengan para siswa yang sangat gemar dengan pemberitaan media beserta isinya.

Salah satu definisi yang populer menyatakan literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan isi pesan media. Dari definisi itu dipahami bahwa fokus utamanya berkaitan dengan isi pesan media.

Dapat kita lihat sendiri isi acara televisi dan media sosial lainnya di gadget para siswa yang sering meresahkan masyarakat. Misalnya karena berdampak buruk bagi anak-anak yang belum bisa memilih tayangan yang layak untuk di tonton, seperti kekerasan, seks dan pornografi, perlindungan terhadap anak-anak dan remaja, gossip/infotainment, mistik, reality show yang terkesan lebay.

Banyak pula persepsi yang salah berkembang karena media terus mengekspos pelanggaran etika, sebagai contoh, program berita kriminal yang terlalu menonjolkan sensasionalisme dan sadisme, juga informasi tentang selebritas yang melanggar privasi. Yang lebih parah ialah banyak masyarakat yang belajar dari acara televisi seperti cara mencemooh orang, memaki, dan sejuta umpatan lainnya saat orang itu tidak ada di depannya.

Karena itu, kemampuan para guru untuk menjadikan literasi media sebagai sarana belajar-mengajar sangat penting dilakukan. Dalam bahasa yang sederhana, memahami empat tahap bagaimana cara menyikapi sebuah pemberitaan di media seperti digambarkan di atas harus dilakukan para guru dengan kesadaran demi masa depan siswa yang lebih baik.

Senin, 25 Mei 2015

Kemewahan Pendidikan di Negeri Seribu Danau

Kemewahan Pendidikan di Negeri Seribu Danau

Qaimah Umar  ;  Guru SDN Harapan Baru IV Bekasi
MEDIA INDONESIA, 25 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
MUNGKIN tak banyak guru yang seberuntung saya bisa melihat langsung kondisi sekolah dan suasana belajar yang berlangsung di Finlandia. Sebagai negara dengan skor PISA yang meyakinkan dalam lima tahun terakhir, pendidikan di Finlandia bisa dibilang mengagumkan setidaknya karena tiga hal.
Pertama, kemauan politik pemerintah yang kuat untuk mengevaluasi dan mengubah sistem pengajaran yang berlangsung di sekolah. Kedua, memberi kepercayaan guru untuk melaksanakan kurikulum pemerintah berdasarkan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Ketiga, memberikan insentif yang tinggi terhadap guru dengan catatan guru tersebut benar-benar dicintai dan disukai para siswanya.

Jika kita merujuk pada kata sistem yang berasal dari bahasa Yunani systema, secara umum pengertiannya ialah `cara atau strategi', sedangkan dalam bahasa Inggris, system juga berarti susunan, jaringan dan juga cara tentang bagaimana suatu strategi atau cara berpikir sebaiknya dilakukan. Jika dihubungkan dengan kata pendidikan (Yunani pedagogi; paid dan agogos) yang berarti membimbing, sistem pendidikan bisa dikatakan sebagai sebuah strategi dan cara yang dilakukan secara sadar dan terencana, untuk mewujudkan proses pembelajaran dan suasana belajar yang menyenangkan.

Dari pengamatan sederhana yang saya temukan di beberapa sekolah Finlandia, yakni kemampuan guru sangat sejalan dengan keinginan pemerintah dalam menjabarkan sebuah proses belajar mengajar. Karena itu, tidak mengherankan jika sistem pendidikan di Finlandia sangat berbeda dengan Indonesia, terutama dari perspektif delivery pengajaran. Hampir semua guru mau dan patuh mengikuti aturan pemerintah yang ditetapkan dan dievaluasi setiap empat tahun sekali, tetapi dengan masa uji coba yang cukup panjang jika terjadi sebuah rencana perubahan dalam sistem pendidikannya.

Meskipun tidak adil rasanya membandingkan Indonesia dengan Finlandia, beberapa yang kentara dari aspek kebijakan pendidikan yang sangat sederhana sesungguhnya bisa ditiru dan dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kita.

Misalnya saja, untuk tiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberi maternity package yang berisi tiga buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri.
Alasannya sederhana, bahwa pendidikan anak usia dini ialah tahapan kritis yang tidak boleh hilang begitu saja dari pantauan para orangtua. Mungkin inilah alasannya, mengapa Kemendikbud beberapa waktu lalu menyodorkan untuk membentuk pejabat setingkat dirjen yang mengurusi hal-ihwal keayahbundaan.

Kemudian, kegemaran membaca aktif didorong sedemikian rupa dalam konteks sekolah. Negeri Seribu Danau ini, julukan untuk Finlandia, menerbitkan lebih banyak buku anak-anak daripada negeri mana pun di dunia. Guru diberi kebebasan melaksanakan kurikulum pemerintah, bebas memilih metode dan buku teks.

Setiap buku, terutama buku-buku daras untuk pendidikan dasar, gambar lebih banyak dari kata-kata atau kalimat. Karangan hanya dengan gambar daya kritis berpikir anak akan tumbuh dan berkembang, sehingga terbiasa dalam menganalisis situasi berdasarkan pemahamannya.

Selain itu, proses belajar mengajar di sekolah berlangsung rileks dan saat masuk kelas, siswa harus melepas sepatu, hanya berkaus kaki. Belajar aktif diterapkan guru yang semuanya tamatan S-2 lulusan universitas yang juga memiliki program yang mumpuni dalam mencetak guru-guru berkualitas. Itulah mengapa orang Finlandia merasa lebih terhormat jadi guru daripada jadi dokter atau insinyur.

Paradoks

Dari beberapa gambaran tadi, pada akhirnya saya berkesimpulan, bahwa suatu skema sistem bisa berjalan dengan baik dan mudah jika ada kemauan politik dari pemerintah. Dalam konteks Indonesia, kemauan politik (political will) bukan hanya dibutuhkan dari pemerintah, melainkan juga dari para anggota legislatif kita yang terkadang kurang peka dan peduli dengan agenda sistem pendidikan nasional.

Sebut saja misalnya ujian nasional (UN). Pemerintah Finlandia, jika ingin saya katakan secara ekstrem, sangat tidak menggemari pola ujian nasional buat anak-anak di sekolah mereka. Frekuensi tes benar-benar dikurangi. Ujian nasional hanyalah menjadi semacam matrikulasi untuk masuk ke perguruan tinggi. Bahkan, yang lebih ekstrem lagi, hampir tidak ada guru yang memiliki kegemaran memberikan pekerjaan rumah (home work) bagi para siswa mereka, karena hanya akan menambah beban psikologis anak untuk berkembang secara baik.

Di Finlandia, kemandirian dalam mengikuti proses belajar mengajar itu tidak hanya dinikmati oleh guru-gurunya yang begitu dihormati, tetapi juga ditularkan kepada para siswa melalui berbagai kesempatan-kesempatan penting.
Salah satunya, yakni setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai. Hal ini tidak lain dimaksudkan agar guru dan siswa menikmati proses belajar yang joyful dan menyenangkan.

Kini, Finlandia menikmati kemewahan sebagai negara paling kompetitif di dunia. Singapura dan Inggris nyatanya ikut mengadopsi beberapa cara dan strategi pengajaran dan pembelajaran yang diberlakukan oleh Finlandia. Dari sebelumnya negeri agraris yang tak terkenal, kini Finlandia maju di bidang teknologi. Produk HP Nokia, misalnya, merajai pasar telepon seluler di dunia. Itulah keajaiban pendidikan Finlandia yang menekankan pada aspek kreativitas dan semangat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Dalam pemahaman para guru di Finlandia, kreativitas dan rasa ingin tahu ialah semacam saudara kembar atau bisa juga sepupu, yang jika ditiadakan dalam sebuah proses belajar mengajar, pastilah akan terjadi banyak masalah.

Paradoks lain yang juga penting untuk saya kemukakan ialah tidak adanya posisi pengawas sekolah (school supervisor) yang menurut mereka, malah akan membebani posisi sekolah. Pengawasan sekolah dalam sistem pendidikan mereka dilakukan dua pemangku kepentingan (stakeholders), yaitu untuk tanggung jawab akademis, diserahkan kepada kepala sekolah dan universitas, sedangkan untuk persoalan relasi dikembalikan kepada masyarakat, untuk menilai apakah sebuah sekolah tersebut baik atau tidak. Dalam konteks pendidikan di Tanah Air, tugas pengawas memang terasa tak jelas karena selain keterampilan, para pengawas kita sangat kurang dalam masa lah pedagogis. Tidak jarang para pengawas hanya menjadi semacam watchdog yang siap memarahi guru jika melakukan kesalahan administratif.

Rabu, 04 Maret 2015

Mencari Kepemimpinan Kepala Sekolah Idaman

Mencari Kepemimpinan Kepala Sekolah Idaman

Qaimah Umar  ;  Guru SDN Harapan Baru IV Bekasi
MEDIA INDONESIA, 02 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                

SELAMA 21 tahun mengajar, saya mengalami tujuh kali pergantian kepala sekolah. Itu berarti setiap tiga tahun saya memiliki satu kepala sekolah yang bertugas mengayomi saya dan teman-teman. Jika harus menjawab pertanyaan, mana di antara tujuh kepala sekolah yang memiliki peninggalan dan kesan yang mendalam di mata siswa, guru, dan para orangtua, jawaban saya bisa jadi subjektif. Bagi saya, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari semua kelebihan dan kekurangan tersebut, saya selalu ingin belajar dari ragam karakter kepemimpinan kepala sekolah saya.

Beberapa di antara karakter yang selalu saya ingat dari tujuh kepala sekolah saya ialah bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan kami, para guru, yang menjadi rekan kerja kepala sekolah. Beberapa dari mereka sangat aktif berkomunikasi secara verbal, tetapi beberapa lainnya tak cukup banyak bicara dan hanya menunjukkan gesture tubuhnya. Jadi, kesan yang menonjol pun terbagi dua, yaitu tipe kepala sekolah yang senang dan ingin selalu didengar karena suka bicara; lainnya ialah kepala sekolah yang irit bicara, tetapi suka bertindak aktif memberikan contoh tentang suatu hal yang semestinya dilakukan para guru. Mana di an tara dua tipe komunikasi kepala sekolah itu yang baik bagi pengembangan sekolah?

Tujuh prinsip

Tak mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, jika kita melihat pada beberapa teori klasik tentang kepemimpinan sekolah, akan ditemukan dua arus besar tipologi kepemimpinan sekolah, yaitu kepala sekolah yang suka pada aspek hasil (production oriented) dan kepala sekolah yang lebih mengutamakan sinergi antarpemangku kepentingan dalam bekerja (employee oriented). Kedua tipologi itu dibentuk berdasarkan pengalaman panjang serta riset-riset effective leadership dengan adanya interaksi antara kepala sekolah dan seluruh warga sekolah.

Kepemimpinan sekolah yang efektif biasanya selalu menawarkan sebuah solusi pada setiap masalah yang dihadapi warga sekolah. Sebuah sekolah akan dipandang berhasil jika memiliki seorang kepala sekolah yang memiliki karakter kuat dalam membina dan memberikan arahan kepada warga sekolah tentang apa yang seharusnya dilakukan. Artinya, seorang kepala sekolah harus memiliki visi dan strategi yang baik dalam menata hubungan kerja dengan seluruh warga sekolah, terutama terhadap guru dan siswa.Karena itu, sangat sulit untuk melihat karakter kepala sekolah yang paling efektif karena tiap sekolah memiliki situasi dan kondisi yang berbeda-beda sehingga cara dan teknik untuk menghadapinya pun harus berbeda-beda, bergantung pada kemampuan manajerial kepala sekolah.

Ada cerita menarik dari Robert Palestini (2008) dalam buku A Game Plan for Effective Leadership: Lessons from 10 Successful Coaches in Moving from Theory to Practice. Sebagai seorang kepala sekolah, Robert Palestini pernah menjadi guru olahraga selama delapan tahun. Suatu ketika ia mengikuti workshop kepelatihan bola basket di Michigan University, dengan materi yang diberikan dua orang pelatih sangat bertolak belakang. Pada sesi pagi hari dalam workshop tersebut, pelatih pertama mengatakan jika Anda ingin membentuk sebuah tim bola basket yang kuat dan akan selalu menjadi juara, Anda harus dominan dalam memberikan instruksi secara tegas. Pemain harus terus-menerus dalam situasi ditekan dengan bentakan dan teriakan sebagai pertanda Anda ialah seorang pelatih yang tegas dan berwibawa.

Pada sesi siang hari dari workshop yang sama, pelatih lain memberikan pengalamannya tentang kiat membentuk sebuah tim bola basket yang kuat. Menurutnya, sebuah tim yang kuat akan terbentuk jika pendekatan yang dilakukan dalam melatih ialah dialog dan proses komunikasi yang ramah dan menempatkan semua pemain dalam posisi yang sejajar.Tak perlu ada kemarahan dan teriakan yang berlebihan jika suasana saling sayang dan menghormati telah dibangun. Pendek kata, proses dialogis yang menempatkan pemain dalam situasi dan kondisi yang nyaman secara psikologis akan mampu menciptakan tim yang kuat.

Dari dua pendapat kepelatihan itu, Robert Palestini akhirnya menyimpulkan untuk menjadi seorang kepala sekolah yang berhasil, kita tak harus menggunakan salah satu dari kedua pendekatan kepelatihan itu. Menurutnya, memberikan hukuman dan mencintai siswa dan guru harus ditempatkan pada situasi dan kondisi yang berkembang di lapangan. Memilih salah satu dari dua jenis kepelatihan dalam menentukan kepemimpinan kepala sekolah bukanlah hal yang bijak karena kepemimpinan (leadership) ialah sesuatu yang bisa dipelajari dan tidak melulu disebabkan seseorang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin.

Dalam konteks kepemimpinan di sekolah, penting bagi seorang kepala sekolah memiliki kesadaran bahwa kehadirannya semata-mata untuk membuat suasana belajar-mengajar menjadi nyaman dan menyenangkan. Karena itu, beberapa prinsip penting dalam kepemimpinan kepala sekolah yang efektif mungkin perlu dipertimbangkan. Pertama, kepala sekolah memiliki kemampuan untuk beradaptasi secara baik dengan kondisi dan lingkungan sekolah yang dipimpinnya. Perhatikan secara saksama struktur kelembagaan sekolah dan lihatlah apakah struktur tersebut sesuai dan bisa berjalan dengan baik.

Kedua, kepala sekolah yang baik juga harus mengerti budaya sekolah yang telah dan akan dikembangkan sekolah yang dipimpinnya.Bertanya dan mengamati perilaku siswa dan guru dalam proses interaksi belajar-mengajar akan membantu seorang kepala sekolah dalam memetakan persoalan yang muncul dalam usaha penumbuhan budaya sekolah yang sehat. Ketiga, kepala sekolah jelas harus memiliki kepekaan yang baik, terutama dalam memberikan kepercayaan (trust) dan menghargai (respect) setiap potensi yang dimiliki para guru dan siswa. Jika seorang kepala sekolah dapat memercayai para guru untuk mengambil peran yang sesuai dengan kapasitasnya, dapat dipastikan keberlanjutan proses pengembangan budaya sekolah yang baik akan menjadi lebih mudah untuk dilakukan dan dilanjutkan.Keberlanjutan sebuah program dan kebijakan akan menjadi ciri keempat dari kepala sekolah yang baik.

Ciri kelima, kepala sekolah harus kreatif dan memiliki artikulasi yang jelas dan tegas dalam mencapai visi dan misi sekolah. Kepala sekolah ialah seorang yang harus terus-menerus mengingatkan guru dan siswa akan tujuan dan cita-cita yang harus dicapai. Dalam konteks ini, kemampuan berkomunikasi secara verbal dan tindakan yang baik merupakan ciri keenam dari kepada sekolah yang efektif dan kuat. Jika kemampuan seorang kepala sekolah dalam berkomunikasi dapat diandalkan, prinsip ketujuh pasti akan dengan mudah ditunaikan, yaitu selalu mampu memberikan motivasi kepada semua guru dan siswa.

Wallahu a'lam bi al-sawab.

Kamis, 25 Desember 2014

Kurtilas Menurut Kacamata Guru SD

Kurtilas Menurut Kacamata Guru SD

Qaimah Umar  ;  Guru pada SDN Harapan Baru IV Bekasi
MEDIA INDONESIA,  22 Desember 2014

                                                                                                                       


AKHIRNYA Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Anies Baswedan menghentikan sementara implementasi Kurikulum 2013. Sontak beberapa teman saya ada yang gembira, ada juga yang patah semangat, karena penghentian sementara berlaku pada sekolah kami yang baru satu semester mengimplementasikan Kurikulum 2013 (Kurtilas). Saya dan beberapa teman lainnya ialah termasuk orang yang kecewa, karena semangat untuk melakukan perubahan cara mengajar dan menilai siswa yang sedang menuju ke arah perubahan.

Beberapa hari setelah pengumuman penghentian oleh Kemendikbud, muncul juga suara dan kebijakan berbeda dari pemerintah daerah. Para pengawas juga tak sedikit yang kebingungan karena jerih payah mereka mengikuti proses pelatihan Kurtilas menjadi sedikit terganggu.

Selain itu, keputusan penghentian sementara Kurtilas di tengah semester juga berdampak pada sisa proses belajar mengajar yang harus diselesaikan para guru yang baru satu semester mencoba menerapkannya. Bayangkan, sulitnya mengajar dengan dua sistem yang berbeda karena implikasi teknis di sekolah dan di kelas sangat merepotkan guru. Apalagi nanti di akhir tahun ajaran, para guru dituntut untuk membuat evaluasi atau tes terhadap kemampuan siswa. Pada ujungnya yang dituntut dari guru, seperti terus berputar di dalam lingkaran setan formalitas kurikulum yang tak berujung.

Kelebihan dan kekurangan

Kurtilas sejatinya diharapkan sebagai prasyarat bagi para guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar. Kurtilas sebagai tools bagi proses pengembangan kapasitas guru, sebenarnya mampu menarik perhatian para pemangku kepentingan pendidikan. Dalam menghadapi dinamika perubahan yang sedemikian cepat dan kebutuhan akan standar kualitas pendidikan yang tinggi menyebabkan guru sangat perlu untuk menyesuaikan diri dan terus memperbaiki keterampilan yang dimiliki melalui program pengembangan kapasitas pembelajaran, lebih dari waktu-waktu sebelumnya.Dengan kebijakan Kurtilas, sebenarnya para guru berharap akan ada pola pengembangan kemampuan kapasitas guru secara berkelanjutan.

Kurtilas dengan panduan detail buku pegangan siswa dan guru secara terpadu, sebenarnya itu dimaksudkan untuk memudahkan sejumlah kegiatan belajar mengajar yang sengaja dirancang untuk membantu pengembangan kapasitas guru. Kegiatan memahami kompetensi dasar dengan logika premis yang runut dan runtun, sebenarnya akan membuat guru ataupun siswa memperoleh keuntungan dalam merancang proses belajar mengajar yang nyaman dan aman. Namun, berbagai rencana yang merupakan kelebihan dari Kurtilas tersebut ternodai oleh banyaknya kesalahan teknis dalam buku pegangan guru dan siswa. Terutama dalam hal sebaran peta kompetensi dasar yang tidak proporsional dan sangat memberatkan guru.

Buku pegangan siswa dan guru ternyata tidak sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 SD/MI. Antara Permendikbud yang mengatur isi silabus dengan buku pegangan guru dan siswa, terdapat banyak sekali kerancuan dalam hal sebaran kompetensi dasar (KD) yang tidak proporsional. Misalnya, ada beberapa KD yang dilaksanakan pada lebih dari 10 subtema, tetapi ada pula KD yang dilaksanakan hanya 1 kali, bahkan ada KD yang tidak dilaksanakan sama sekali. Hal itu tentu saja amat membingungkan guru karena beban kerja menjadi bertambah, sedangkan panduan teknisnya malah terkesan amburadul.

Belum lagi dengan kerangka evaluasi yang mengharuskan guru menilai semua aspek kemampuan siswa setiap hari dan melakukan pencatatan secara detail. Alih-alih akan meningkatkan kreativitas guru malah berujung pada kelelahan yang tak perlu. Bisa dibayangkan, jika seorang guru mengajar dua kelas, yakni setiap kelas jumlah siswanya sekitar 4045, berarti dia berhadapan dengan 90-an siswa setiap hari. Apakah mungkin guru melakukan pencatatan dalam konteks penilaian terhadap seluruh siswanya? Benar saja, buku rapor evaluasi siswa Kurtilas begitu rumit. Padahal, pelatihan teknisnya tidak dilakukan secara sempurna.

Akhirnya, sementara ini saya berkesimpulan bahwa Kurtilas sebenarnya baik karena pertama, membuat guru lebih rajin dan karena itu memaksa diri mereka untuk kreatif. Kedua, Kurtilas juga memaksa guru untuk mau membaca karena tak cukup dengan mengandalkan buku teks semata saja. Buku pegangan guru cukup membantu menjelaskan proses belajar. Namun, kesalahan teknis, seperti tidak sinkronnya kompetensi dasar dengan indikator membuat guru bingung.

Sebagaimana halnya kurikulum lama, akhirnya guru terjebak pada logika formal kurikulum yang terlalu mengandalkan aspek administratif. Banyaknya pencatatan yang harus dibuat dan dilakukan guru dalam proses belajar Kurtilas membuat guru kehabisan waktu. Sementara kompetensi dasar yang ingin diselesaikan menumpuk dalam satu minggu, aspek penilaian, dan evaluasi juga harus dilakukan secara harian dan kepada setiap anak.

Kembalikan ke sekolah

Saya setuju Kurtilas harus dievaluasi kembali. Basis evaluasi bukan hanya pada aspek teknis kurikulum tertulis seperti yang sudah ada dalam peraturan menteri tentang silabus, melainkan juga pada aspek implementasi di sekolah. Banyak guru mengalami kebingungan karena instruksi antara kementerian dan pemerintah daerah (pemda) tak jarang sering berbeda. Hal itu terlihat dari kegamangan para pengawas sekolah yang tidak begitu menguasai esensi Kurtilas secara filosofis ataupun pedagogis. Karena itu, dengan menetapkan Kurtilas tetap berlaku pada sejumlah sekolah, saya berharap ke depan, Kemendikbud memiliki cukup pelatih dan pendamping yang mau terjun langsung ke sekolah-sekolah terpilih. Bukan hanya memberikan pelatihan Kurtilas, melainkan juga mendampingi keseharian guru dalam mengajar di kelas.

Berbagai bentuk pendampingan perlu dilakukan di dalam sekolah atau juga upayaupaya mandiri yang dilakukan guru dalam mengembangkan potensi diri. Minimnya jumlah pengawas, sebenarnya bisa disiasati dengan meminta para dosen perguruan tinggi ikut terlibat dalam proses pendampingan sekolah dalam melaksanakan Kurtilas. Selain itu, sekolah juga dapat menggunakan strategi pengembangan kapasitas guru dengan belajar dari sekolah-sekolah swasta yang telah memiliki program yang dimaksud.

Sekolah-sekolah yang sampai saat ini masih diperbolehkan melaksanakan Kurtilas perlu diberi pelatihan ulang terhadap seluruh warga sekolah. Dengan melibatkan secara langsung kepala sekolah, pengawas, Dinas Pendidikan, LSM, dan orangtua ialah sebuah keniscayaan karena implikasi dari Kurtilas terjadi bukan hanya terhadap proses belajar mengajar yang dilakukan guru, melainkan juga memiliki implikasi manajerial.Penambahan jam pelajaran, pembelian media belajar yang memungkinkan guru menjadi lebih kreatif, serta membuat sistem biaya operasional sekolah yang transparan dan bertanggung jawab, tentu merupakan konsekuensi logis dari implementasi Kurtilas.

Karena itu, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di tingkat sekolah perlu diberi perhatian secara serius jika ingin implementasi Kurtilas sukses.

Dengan mengembalikan operasional Kurtilas ke sekolah, maka proses peningkatan kapasitas guru setidaknya akan mampu untuk: (1) meningkatkan keterampilan kinerja seluruh staf, (2) memperbaiki keterampilan kinerja setiap guru, (3) memperluas pengalaman guru agar kariernya berkembang dan mendapatkan promosi, (4) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman profesional setiap guru, (5) memperluas bekal kependidikan guru, (6) membuat staf merasa lebih berharga, (7) meningkatkan kepuasan kerja, (8) mengembangkan cara pandang yang lebih baik terhadap pekerjaan, (9) membantu guru mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan, (10) memperjelas kebijakan soal mana kewenangan sekolah dan mana kewenangan kementerian (Craft, 2000).

Pada akhirnya, muara dari keseluruhan kegiatan implementasi Kurtilas sebenarnya ingin meningkatkan kapasitas guru, yakni hasil akhirnya ialah peningkatan hasil belajar siswa.

Senin, 24 Desember 2012

Hari Ibu, Belajar dari dan Bersama Ibu


Hari Ibu, Belajar dari dan Bersama Ibu
Qaimah Umar ;  Ibu tiga orang anak dan Guru di SDN Harapan Baru IV Bekasi
MEDIA INDONESIA, 24 Desember 2012



‘Jangan mencari yang besarbesar, cukup mengerjakan yang kecil-kecil dengan cinta yang besar. Makin kecil yang kita hadapi, harus makin besar cinta yang kita berikan’. (Mother Theresa, Come Be My Light: The Private Writings of the Saint of Calcutta)

KUTIPAN bijak tersebut dari Bunda Theresa sangat sesuai dengan kebutuhan pendidikan karakter bagi anak-anak Indonesia. Apalagi jika dilihat dari situasi kelam dunia pendidikan kita, di saat keteladanan dan cinta sejati mulai senyap dan hilang, kita benar-benar membutuhkan inspirasi cerdas yang dapat membangunkan jiwa. Apa yang dikatakan Bunda Theresa tentang mengerjakan hal-hal kecil dengan cinta yang besar sangat identik dengan apa yang dilakukan hampir seluruh ibu di muka bumi ini.

Seorang ibu hampir dapat dipastikan selalu mengerjakan hal-hal kecil, seperti memperhatikan anak-anak dan keluarga mereka, tetapi dengan cinta yang sangat besar. Cinta seorang ibu terhadap anaknya tak akan mungkin berakhir karena perhatian dan cinta mereka justru datang dari hal-hal kecil. Hal-hal kecil selalu bermuasal dari keseharian yang ada di sekitar kita. Karena itu, contoh kecil ini sangat baik dan memungkinkan untuk ditransformasi dalam praktik pengajaran di sekolah, yaitu memperhatikan para siswa dari hal-hal yang kecil, kemudian mendiskusikan secara bersama masalah-masalah yang muncul.

Moral Cinta Ibu

Ada banyak alasan bagi kita untuk mempersoalkan bagaimana nasib pendidikan moral dan budi pekerti dikembangkan dan diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah. Setiap bentuk anomali perilaku anak-anak di sekolah, baik dalam bentuk tawuran antarsiswa, penyalahgunaan obat terlarang, penyimpangan perilaku seksual, hingga penistaan peran guru melalui Facebook, misalnya, selalu disikapi dengan pendekatan serbaformal, termasuk di antaranya usulan tentang perlunya membuat model kurikulum pengembangan pendidikan moral dan budi pekerti. Selain kurikulum, sepertinya tidak ada lagi cara lain untuk memperbaiki perilaku menyimpang siswa.

Pertanyaannya adalah kurikulum yang bagaimana lagi yang ingin kita buat untuk pendidikan moral dan budi pekerti di sekolah? Para pegiat dan pemikir pendidikan sejak lama gundah tentang suasana pendidikan yang berlangsung di sekolah.
Ivan Illich dan Paolo Freire bahkan mengkritik dengan pedas sekali bahwa sekolah telah menjadikan para siswa seperti robot karena mereka kurang dilatih untuk memberikan respons kreatif. Lebih hebat lagi, bahkan keduanya juga menuduh sekolah telah memasung kebebasan dan kreativitas serta membunuh daya pikir anak. 
Sejak lama sistem sekolah lebih banyak menggunakan pendekatan kognitif, tetapi abai dalam menumbuhkan dan melatih aspek afektif dan psikomotorik siswa secara tajam.

Soal di sekolah lebih banyak menuntut siswa untuk hanya menjawab benar dan salah, tetapi lalai dalam melakukan autokritik terhadap pelembagaan ujian, meskipun saat ini, katanya, pemerintah telah memberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang seharusnya memberi ruang yang lebih banyak bagi guru dan siswa untuk mendesain pola pembelajaran. Kenyataannya? Kurikulum masih sentralistis, terlalu banyak mengatur `ini boleh dan itu tidak boleh', sehingga antara guru dan birokrasi pendidikan kita menjadi setali tiga uang; saling memengaruhi untuk menumbuhkan budaya kepatuhan tanpa inovasi yang berarti.

Jika saja persoalan moral dilandasi atas dasar pembelajaran kita dalam melihat cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya, sebenarnya tak akan sulit mempraktikkannya dalam proses belajar mengajar. Jika pendekatan seorang ibu lebih banyak menggunakan hati dan cinta, bisa dibayang kan apa yang akan terjadi jika semua guru lebih memberikan cinta dan hati mereka daripada sekadar memenuhi kewajiban. Saya tidak memiliki kapasitas dan pretensi untuk menjawab model kurikulum pendidikan moral dan budi pekerti yang seharusnya. Namun, saya ingin mencoba merekonstruksi ulang pertanyaan tersebut dengan kalimat ‘dari manakah kesadaran dan tanggung jawab para guru terhadap pendidikan moral dan budi pekerti harus dimulai’. Jawaban singkatnya, belajarlah dari cara ibu kita memberikan cinta dan kasih sayang mereka kepada kita.

Buruk Rupa Guru

Utomo Dananjaya (2005) dalam salah satu tulisannya mengatakan guru ternyata lebih kejam daripada ibu tiri. Lha, kok bisa? Bayangkan, karena birokrasi yang rigid dan tak peduli tentang kreativitas, guru sering kali menjadi objek ‘pemerasan’ para kepala dinas dan pengawas. Pemerasan dilakukan kepala dinas karena kebutuhan atas nama program sertifikasi; guru dipaksa untuk berlomba mencari sertifikat, dan indikasi bahwa program sertifikasi merupakan sebuah objek pemerasan terendus ketika praktik plagiarisme mencuat dalam program sertifikasi di banyak provinsi. 

Beberapa waktu lalu di Riau, sebanyak 1.700 guru ketahuan memalsukan sertifikat dan karya tulis (copy paste) orang lain. Ironisnya, tim sukses orang-orang yang membantu para guru dalam melakukan praktik kecurangan itu diduga ialah para pejabat di tingkat dinas pendidikan dan kantor depag.

Di sekolah, para guru juga diperas pengawas yang kurang memiliki kesadaran tentang pentingnya quality assurance (bukan quality control!). Dengan demikian, guru dipaksa untuk secara kaku mengikuti desain kurikulum yang standar isi dan standar kom petensinya diterjemahkan secara kaku dalam praktik dan proses belajar mengajar. Aki batnya, guru seperti tak punya waktu untuk membuat desain pembelajaran yang kreatif sehingga kerjanya hanya melulu memberi pekerjaan rumah (PR) kepada para muridnya. PR biasanya diambil dari buku-buku kumpulan soal dan jawaban sehingga lebih banyak rumusan benar-salah, pilihan ganda, dan soal isian. 

Akhirnya setali tiga uang lagi; guru merasa diperas dan dibebani dinas dan pengawasnya. Maka, pada saat yang sama, guru juga memberikan beban PR yang tidak pernah putus kepada siswanya. Di mana dan kapan guru memiliki kesempatan untuk menempatkan pelajaran moral dan budi pekerti jika situasinya seperti ini?

Dalam sebuah survei yang dilakukan Phi Delta Kappa/ Gallup study pada 2004 menyebutkan 73% responden setuju tentang kelemahan mendasar pendidikan, yaitu bertumpu pada ketiadaan guru yang baik hati alias mengajar tidak dengan rasa cinta. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa jika karena kondisi terpaksa/ mendesak seseorang harus berhenti dari profesinya sebagai seorang guru, jawaban yang paling banyak dipilih ialah karena alasan rendahnya gaji dan fasilitas (67%), kekakuan birokrasi (21%), kesulitan dalam menghadapi orangtua siswa (8%), dan alasan kondisi siswa (4%). Artinya, hanya 4% sebenarnya guru yang selalu memiliki keterikatan secara emosional terhadap siswa mereka (Rosanne Liesveld and Jo Ann Miller: 2005).

Cerita dan fakta tersebut ingin menunjukkan bahwa keterikatan (engagement) secara psikologis atau emosional sesungguhnya musuh guru itu sendiri. Dalam konteks pendidikan di sekolah dasar, mari kita bertanya, lebih banyak mana guru kita yang memberi PR dan yang memeluk serta mencium siswanya setiap hari di kelas? Atau guru-guru kita memang benar seperti dugaan Paulo Freire, yang menganggap siswa-siswi mereka sebagai tahanan (prisoners) atau pekerja (employees) yang harus selalu ditekan untuk belajar dan belajar, tetapi bukan dididik.

Di sinilah sesungguhnya pembeda antara pengajar dan pendidik. Guru dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi biasanya memperlakukan siswa mereka sebagai teman, anak, atau bahkan relawan sehingga unsur tekanan dan pemaksaan tidak terjadi dalam proses belajar mengajar. Sebab, ikatan emosional yang lebih akan menyebabkan hubungan guru-siswa menjadi lebih akrab, dinamis, dan mudah membuat mereka memahami sekaligus mematuhi aturan yang ada.

Pertanyaan selanjutnya ialah adakah contoh tipe guru yang otoritatif dan penuh keikhlasan dalam mengajar sehingga mampu menciptakan anak didik yang berhasil secara emosional dan material? Sangat banyak tipe guru seperti itu, salah satu contohnya sosok Harfan Effendy Noor dan Muslimah Hafsari atau Bu Mus, yang digambarkan secara kasatmata oleh Andrea Hirata dalam buku dan fi lm Laskar Pelangi.

Bagi Andrea Hirata, kedua sosok gurunya itu selalu tampak berbahagia ketika mengajar, pandai bercerita, tegas, dan berwibawa. ‘Mereka adalah kesatria tanpa pamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang diberikan pohon fi licium yang menaungi atap kelas... dan memberi napas kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem’.

Wahai para guru, marilah kita becermin pada wajah ibu kita, yang memiliki cinta dan keikhlasan begitu besar, meski yang diurusnya terkesan kecil. Selamat Hari Ibu.