Tampilkan postingan dengan label Paulus Agus Winarso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paulus Agus Winarso. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juli 2021

 

Pergolakan Iklim yang Berkelanjutan

Paulus Agus Winarso ;  Praktisi Cuaca, Iklim dan Lingkungan

KOMPAS, 13 Juli 2021

 

 

                                                           

Hingga Juli 2021, hujan lebat masih sering turun di Jakarta dan sekitarnya, juga di berbagai daerah, terutama di bagian barat Indonesia.

 

Gejala alam La Nina yang membawa banyak curah hujan di Indonesia, mulai giat sejak akhir tahun 2020. Sebelumnya, El Nino—berdampak curah hujan rendah sehingga memicu kekeringan, kebalikan dari La Nina—sempat muncul awal 2018 dengan intensitas lemah, dan kemudian menuju normal hingga akhir tahun. El Nino muncul lagi awal 2019 hingga awal 2020.

 

Selama lima tahun terakhir, dari sejak 2016, gejala alam El Nino dan La Nina memang terjadi silih berganti. Pada 2016 giat gejala El Nino kuat dengan kemarau yang giat hingga pertengahan tahun. Muncul kebakaran hutan dan lahan, hingga kualitas udara turun.

 

Tiba-tiba, pertengahan tahun 2016 giat fenomena global lawan El Nino yaitu gejala alam La Nina yang meningkatkan curah hujan di beberapa kawasan hingga awal tahun 2018. Curah hujan ektrem terjadi di Garut, Jawa Barat dan Purworejo, Jawa Tengah dengan curah hujan 200–400 milimeter.

 

Gejala alam global La Nina kala itu sepertinya menggiatkan bencana hidrometeorologi basah dengan bencana banjir, banjir bandang dan tanah longsor yang marak di beberapa kawasan Indonesia.

 

Baru awal tahun 2018 kembali lagi ke kondisi gejala alam El Nino meski nilai indeks masih lebih rendah atau suhu muka laut kawasan Samudera Pasifik kala itu kurang dari 0,5 derajat dari rerata tiap bulan.

 

Kondisi ini masuk kategori sedikit normal alias tanpa gejala alam global. Namun, kecenderungan yang terarah ke El Nino telah berkonsekuensi pada kekeringan. Bencana hidrometeorologi kering ini memicu kebakaran lahan dan hutan dan berlanjut dengan kondisi pencemaran asap khususnya di lahan gambut seperti Sumatera dan Kalimantan.

 

Tahun 2019 sempat terjadi musim hujan berkepanjangan dengan puncak musim hujan pada pertengahan tahun. Kondisi ini berubah selepas tengah tahun dengan kemarau kering yang perlahan namun terus meningkat kekeringannya.

 

Awal 2020, nilai indeks El Nino tidak memberi konsekuensi kemarau yang kering dan berkepanjangan. Bahkan dari pengamatan pribadi diketahui periode angin muson barat hanya sempat bertiup 1–2 bulan saja di awal tahun 2020. Ini bukti pergolakan iklim dan musim dari sisi pola angin muson sudah tidak lagi sinergi dengan kondisi musim selama beberapa dekade. Pergolakan musim semakin nyata tahun 2020 hingga kini.

 

Indeks kelautan

 

Sebenarnya akhir 2020 hingga awal 2021 sempat ada gejala El Nino dengan intensitas lemah. Ini seiring nilai Indeks Kelautan yang kurang dari positif 1, selaras dengan simpangan suhu muka laut tropis, antara hangat 0,5 hingga 1.

 

Peranan laut regional Samudera India barat dan selatan wilayah Indonesia diukur dengan Indeks Dipole Mode (menghitung beda nilai simpangan suhu muka laut perairan timur/barat daya Indonesia dengan nilai simpangan suhu muka laut perairan barat/Timur dari Benua Afrika).

 

Bila nilai Indeks Dipole Mode di atas positif 0,4 berarti kondisi perairan barat lebih hangat dari perairan timur. Bila bernilai negatif berarti kondisi perairan timur lebih hangat dari perairan barat

 

Kondisi nilai Indeks Dipole Mode (IDM) kala menjelang akhir bernilai cukup besar. Artinya kondisi sebagian perairan Indonesia bagian Barat kian turun atau dingin meski dampak pengaruh gejala alam El Nino yang giat sudah rendah.

 

Tambahan rendahnya suhu muka laut sebagian besar kawasan perairan Indonesia kala itulah yang menyebabkan kemarau kian kering dan berkepanjangan. Namun, saat pengaruh gejala alam El Nino sepertinya masih kuat, kondisi berlawanan muncul dengan nilai IDM yang tiba-tiba menuju nilai ambang batas minus 0,4 akhir Desember 2019. Artinya sebagian kawasan Indonesia bagian barat bersuhu muka laut hangat yang sifatnya sporadis.

 

Maka masuk awal tahun 2020 kawasan Jabodetabek, Banten dan sekitarnya, mengalami bencana hidrometeorologi dengan banjir bandang dan tanah longsor.

 

Untuk kawasan Jabodetabek, selama Januari–Februari tercatat hujan ekstrem kurang lebih 9 kali dengan rincian 3 kali hujan ekstrem dan 6 kali hujan sangat lebat. Dari catatan data curah hujan stasiun BMKG mulai 1960 hingga kini, diketahui bahwa hujan ekstrem itu sangat langka kejadiannya.

 

Kondisi catatan pergolakan di tahun 2020 yang kontroversial ternyata juga berlanjut saat giat gejala alam La Nina di akhir tahun 2020 hingga awal 2021. Mulai tampak awal musim hujan yang maju dengan curah hujan tinggi, meski belum berdampak buruk karena masih sporadis dan dapat dikelola.

 

Mulai akhir tahun 2020 nilai IDM positif namun masih dalam nilai batas ambang positif 0,4. Kondisi ini sempat menghambat perkembangan curah hujan meski situasi gejala alam La Nina masih giatkan curah hujan tinggi di Jabodetabek dan Kalimantan Selatan dan beberapa kawasan lain. Curah hujan yang turun masih dalam kisaran normal hingga awal Mei 2021.

 

Suhu laut menghangat

 

Mulai dasarian 2, Mei 2021, nilai IDM bernilai rendah dan mendekati nilai minus 0,4 yang artinya tiba-tiba saja suhu muka laut perairan Timur Samudera Indonesia menghangat. Terjadilah peningkatan curah hujan yang terjadi curah hujan yang berkepanjangan di musim kemarau, seperti di beberapa kawasan Jawa hingga Nusa Tenggara. Padahal, seharusnya saat ini sudah memasuki musim kemarau 2021.

 

Di bulan Juni curah hujan naik, terjadi hujan lebih dari normalnya. Selain itu Juni atau bulan Juni posisi garis edar semu matahari yang enjauhi kawasan lintang tempat Benua Maritim Indonesia yang tentunya suhu udara akan rendah dan turun hingga bulan Juli.

 

Adanya curahan hujan yang hampir turun tiap hari seperti musim kemarau merupakan kenyataan yang terjadi saat ini dan ini kondisi alamiah seiring pergolakan iklim dan musim.

 

Berdasarkan realita bahwa pergolakan atau kondisi kontroversial cuaca dan iklim, kini sedang, berlangsung. Seperti sekarang, musim kemarau mirip musim hujan. Ini berdampak buruk pada petani tembakau dan pengusahaan garam, mungkin juga bidang-bidang lain.

 

Belum lagi pandemi Covid-19 yang kembali giat, kiranya semua memberi konsekuensi dan pengaruh pada berbagai aspek kehidupan kita. Semoga catatan berdasarkan pengalaman dan kajian yang serba terbatas memberi pemahaman khususnya dalam menghadapi iklim Bumi yang bergolak, berkembang, dan berubah. ●

 

 

Minggu, 06 Juni 2021

 

Indikasi Perubahan Iklim Indonesia

Paulus Agus Winarso ; Praktisi Cuaca, Iklim, dan Lingkungan

KOMPAS, 03 Juni 2021

 

 

                                                           

Belakangan terjadi perkembangan kondisi cuaca dan iklim yang marak dengan badai lokal atau local storm. Kondisi ini umumnya dipicu kehadiran awan badai (cloud storm) yang umumnya dari awan kumulonimbus, disingkat Cb. Awan Cb banyak berdampak pada bencana hidrometeorologi, terutama pada lingkungan yang sudah jadi hutan ”beton” atau kawasan minim pohon-pohon besar.

 

Hasil pengamatan data meteorologi dan klimatologi sebelum 2000 menunjukkan perkembangan awan badai atau awan Cb masih terbatas, umumnya belum marak dan segiat sekarang. Awan Cb belum banyak terjadi pada periode 1970-1990.

 

Panas jadi stimulus

 

Saat saya menjadi analis dan prakirawan cuaca, kala itu pada peta hasil pengamatan cuaca dan iklim masih jarang ditemukan pertumbuhan awan badai atau Cb. Yang ada hanya awan kumulus dan towering cumulus. Awan kumulus dan towering cumulus akan jadi awan badai atau Cb jika ada dukungan unsur termal dan mekanis/dinamis yang cukup.

 

Karena pada 1970-1980 kondisi hutan dan lahan di Indonesia masih rimbun, belum banyak pengusahaan atau eksploitasi kawasan hijau, kondisi cuaca dan iklim mantap dengan pola angin musim dan cuaca yang beraturan. Ini yang dijelaskan dalam pelajaran Geografi pada tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah.

 

Perkembangan awan penghasil badai, dampaknya dalam bentuk hujan badai, angin kencang/badai, dan petir bersahut-sahutan/badai petir, baru mulai memasuki pasca-1990.

 

Kondisi ini bersamaan dengan indikasi atmosfer Bumi bagian bawah yang kian hangat dengan lahirnya gejala alam El Nino. Terkuat untuk pertama kalinya tahun 1982/1983 yang diikuti dengan bencana kebakaran lahan dan hutan yang pertama kali di tahun 1982.

 

Sepertinya atmosfer Bumi masih berlanjut dengan giatnya periode hangat muka laut di kawasan ekuator/tropis Samudra Pasifik atau dikenal gejala El Nino kian giat dan sering terjadi, seperti 1987/1988, 1990-1994, 1997/1998. Umumnya bencana kebakaran lahan dan hutan mengikuti El Nino, bahkan swasembada beras terganggu setelah dapat penghargaan internasional tahun 1985.

 

Awan Cb mulai terjadi dan giat dengan dampak lingkungan saat giat badai tropis di selatan Jawa awal 1993 dengan gugusan atau barisan awan Cb. Badai terjadi di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, tetapi kala itu dampak bencana hidrometeorologinya tidak terlalu parah.

 

Baru awal Februari 1996, seiring adanya dorongan udara dingin daratan Asia (seruak dingin/cold surge) yang umumnya masuk golongan proses adveksi bagian dari proses termal terkait dengan proses konveksi yang berpadu dengan adanya konvergensi sebagai proses mekanis dan dinamis—lahirlah suatu awan Cb yang masuk dalam kriteria gugusan/sekumpulan awan Cb. Ini disebut sistem awan konveksi kompleks, istilah kerennya di dunia meteorologi adalah MCC (mesoscale convective complex) atau MCS (mesoscale convective system) cloud.

 

Masuk MCC

 

Kegiatan awan Cb yang masuk kriteria MCC atau MCS adalah hujan badai lebih dari satu jam dengan kawasan yang cukup luas. Di kawasan Jabodetabek pada 8 Mei 2021 sepertinya terjadi awan Cb dari jenis MCC atau MCS karena curah hujan lebat mendekati sangat lebat 50-100 milimeter/ hari dan kegiatan awan mencakup luas separuh kawasan Jabodetabek. Dampaknya muncul genangan lokal dan sesaat.

 

Kehadiran awan Cb jenis MCC atau MCS di Jabodetabek 2021 ini berbeda dengan 1996 awal. Saat itu, Februari 1996, awan badai jenis MCC dan MCS menimbulkan curah hujan sangat lebat hingga ekstrem (kriteria BMKG) dengan kisaran 100-350 mm/hari konsentrasi di Jakarta. Hari kedua atau berikutnya diikuti hujan lebat hingga sangat lebat 50-150 mm/hari konsentrasi di Bogor.

 

Terjadilah banjir besar dan meluas di DKI untuk pertama kali sejak 1970. Situasi ini masih berlanjut dengan marak dan sering awan badai yang terjadi dan berkembang awal 2002 sepertinya awan Cb.

 

Kegiatan badai meluas tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga di seluruh Indonesia dan seluruh penjuru dunia. Seperti Amerika, baik Utara maupun Selatan, Eropa dengan Inggris dan beberapa negara Eropa Timur. Awan badai terjadi diikuti hujan es atau hail storm. Australia, bahkan negara yang semula bergurun pasir, juga mengalami hujan badai dari awan Cb. Misalnya Arab Saudi, bahkan Pakistan yang terkenal kering.

 

Semua itu menggambarkan betapa awan Cb atau awan badai, yang dahulu mudah untuk ditebak dan berpola, kini dalam perkembangannya menunjukan situasi yang berbeda.

 

Pemerintah Arab Saudi serius menanggapi perkembangan ini dengan mengundang pakar cuaca dan iklim untuk membantu menyikapi serius. Bagaimana dengan Indonesia?

 

Apa kita cukup memantau, menganalisis, lalu menginformasikan kepada publik? Awan Cb sepertinya belum jadi kajian komprehensif. Perkembangan kejadian awan Cb yang marak dan meluas berdampak pada bencana hidrometeorologi yang meluas dari barat hingga timur benua maritim Indonesia. Karena itu, sudah selayaknya awan Cb dan pemicunya dikaji dan dicermati lebih dalam.

 

Hujan ekstrem

 

Tren atau kecenderungan hujan ekstrem umumnya terjadi awal tahun. Di Jakarta mula-mula 1996, lalu antara 2000 dan 2019 dengan satu sampai beberapa kali hujan lebat hingga sangat lebat, dengan curah hujan 50-150 mm/hari. Kejadian hujan sangat lebat meningkat awal 2020 dengan dua kali kejadian hujan sangat lebat-ekstrem. Pada 2021 terjadi satu kali hujan sangat lebat hingga ekstrem, dan 2–3 kali hujan lebat hingga sangat lebat.

 

Kondisi di atas menandakan adanya kecenderungan kenaikan kejadian awan badai seperti yang telah terjadi. Hal ini berdampak tidak hanya pada kawasan Jabodetabek, tetapi juga kawasan lain di Indonesia. Awan badai atau Cb terbentuk dari proses konveksi dan proses lain yang ada di atmosfer. Hujan awan Cb di darat umumnya berlangsung siang hingga sore.

 

Jika malam sepertinya bukan akibat proses konveksi, mungkin sudah menyatu dengan proses fisis dan dinamis sistem gangguan cuaca tropis mulai gelombang tropis, pemindahan massa udara maritim yang hangat dan basah, serta pengaruh dinamika dan gerak lain yang memicu terbentuknya awan Cb.

 

Peningkatan kapasitas untuk meninjau lebih lanjut perilaku dan tabiat awan badai akan sangat membantu memprakirakan kehadiran bencana hidrometeorologi dan mengantisipasi. Dengan demikian, kerugian bisa diminimalkan. ●

 

Jumat, 09 April 2021

 

Mungkinkah Perubahan Iklim Kini Sedang Berlangsung

 Paulus Agus Winarso ; Praktisi Cuaca, Iklim, dan Lingkungan

                                                         KOMPAS, 09 April 2021

 

 

                                                           

Judul opini ini merupakan suatu kondisi yang sedang terjadi dan berkembang saat ini. Basisnya adalah terukurnya curah hujan sehari (3-4 April 2021), bersamaan perayaan hari Paskah yang diperingati oleh umat Nasrani di seluruh dunia.

 

Pada saat itu, terukur curah hujan di atas 200 milimeter, mungkin lebih, karena hingga opini ini disusun, hujan lebat masih berlangsung di hampir sebagian kawasan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

Dari catatan stasiun pengamat cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga pukul 08.00 waktu Indonesia tengah, 4 April 2021, di Provinsi Nusa Tenggara Timur, diketahui sebagai berikut.

 

Stasiun Meteorologi Bandara El Tari mengukur curah hujan 241 milimeter. Stasiun Klimatologi Kupang mengukur curah hujan 230 milimeter. Stasiun Meteorologi Sabu mengukur curah hujan 205 milimeter. Selanjutnya, Stasiun Meteorologi Gewayantana mengukur curah hujan 150 milimeter.

 

Gambar awan dari satelit cuaca pada 4 April 2021 menunjukkan kondisi awan hujan masih cukup meliput di sebagian besar Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang artinya curah hujan masih berlangsung.

 

Situasi dan perkembangan yang terjadi ini secara meteorologis menunjukkan adanya suatu bibit badai tropis yang giat di selatan Pulau Timor, bergerak secara lambat ke arah barat. Pusat tekanan udara berkisar 1.000-1.002 milibar yang dalam istilah meteorologi dikenal sebagai depresi tropis.

 

Depresi tropis mengakibatkan angin berputar dan bertemu atau konvergensi, yang membentuk gugusan awan. Kondisi ini berlangsung beberapa hari sejak memasuki April 2021. Ini berlangsung empat hari dengan kecenderungan tekanan udara yang terus turun, termasuk di pusatnya.

 

Kecenderungan itu didukung oleh kondisi makro berupa gelombang tropis atau osilasi MJO. Dampaknya adalah menggiatkan kondisi udara yang berkembang dengan pembentukan awan dan hujan.

 

Banjir bandang

 

Berita media massa yang menyebutkan bahwa di Pulau Flores Timur terjadi banjir bandang semula memberitakan bencana itu menyebabkan lima orang meninggal. Ternyata pada 4 April 2021 siang, bencana itu menimpa suatu desa dengan korban puluhan orang.

 

Selain Pulau Flores, kemungkinan banjir bandang masih ada di pulau-pulau besar dan kecil sekitar Pulau Timor yang sepertinya terdampak dengan hadirnya curah hujan tinggi yang masuk kategori ekstrem dari pandangan dan ukuran dari BMKG.

 

Apabila curahan hujan per hari yang terukur dalam penakar curah hujan itu di atas 150 milimeter, masuk dalam kriteria hujan ekstrem. Sementara curah hujan antara 100-149 milimeter masuk kriteria hujan lebat, antara 50-99 milimeter masuk kriteria hujan, dan kurang dari 50 masuk kriteria hujan ringan-sedang.

 

Konsekuensi akan terjadi curah hujan sangat lebat hingga ekstrem dari pengalaman atas kejadian tersebut tahun 2021 seperti yang terjadi di beberapa kawasan. Mulai dari kawasan Kalimantan Selatan akhir Januari, kawasan ibu kota Jawa Tengah, kemudian kawasan Jawa Barat awal Februari, hingga pada akhir Februari 2021 kawasan Jakarta.

 

Kini, pada April 2021 terjadi di kawasan Nusa Tenggara Timur yang secara klimatologis April masuk dalam kategori musim kemarau. Artinya, curahan hujan mulai berkurang. Mengapa demikian?

 

Ini sengaja diketengahkan untuk menjadi perhatian dari pihak-pihak terkait dengan catatan jangan buru-buru mengatakan ini semua ulah dari perubahan iklim. Kalau masuk kategori ini, akan langsung terhenti untuk dibahas.

 

Akan lebih arif apabila ini dicermati dan diperhatikan dengan saksama untuk mencermati proses fisika dan dinamika udara kawasan Benua Maritim Indonesia sebagai bagian dari pembelajaran. Karena dari perspektif dan perkembangan yang terjadi, kondisi cuaca dan iklim kawasan Benua Maritim Indonesia kian memberi dampak, khususnya bencana hidrometeorologi kering dan basah.

 

Apabila kita jauh menyimak kondisi cuaca dan iklim periode 1980-2010, tampaklah keseringan kekeringan panjang dan kebakaran lahan dan hutan. Periode 2010-2021 didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah dengan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

 

Sesuai dengan periode klimatologi yang umurnya 30 tahun, sepertinya bencana hidrometeorologi basah akan berakhir 2040. Ini adalah suatu prakiraan sesuai dengan tingkat kejadian bencana yang telah terjadi sejak 1980 hingga kini tahun 2021.

 

Sebelumnya, kondisi cuaca dan iklim kawasan Benua Maritim Indonesia cenderung mantap atau stabil, di mana periode antara akhir dan awal tahun angin baratan dan umumnya musim hujan giat. Kondisi sebaliknya terjadi di sekitar pertengahan tahun dengan kondisi angin timur dan musim kering meski giat berbagai gejala alam global, seperti El Nino/La Nina.

 

Dari catatan perkembangan menunjukkan bahwa kondisi cuaca dan iklim sangat kondusif sehingga Indonesia berhasil menjadi lumbung beras. Kondisi ini terus memuncak tahun 1990, dengan penghargaan internasional dari Badan Pangan Dunia atas keberhasilan dalam swasembada pangan nasional.

 

Kondisi ini rusak dengan giatnya gejala alam global El Nino yang berkepanjangan dan berulang (1991-1994, 1997-1998, 2002-2003, 2007-2008) sehingga memunculkan bencana hidrometeorologi kering.

 

Pengaruh dominan

 

Kembali pada kondisi cuaca dan iklim, dalam dua tahun terakhir kawasan Indonesia didominasi pengaruh gejala La Nina, seiring gejala El Nino yang giatnya singkat (2015-2016 sekitar sembilan bulan) dan yang terakhir 2018-2020 hampir dua tahun, tetapi intensitasnya lemah dengan kondisi relatif basah saat periode akhir El Nino 2020.

 

Akhirnya, perkembangan dampak kondisi gejala El Nino 2018-2020 tidak memberi dampak yang nyata dengan kondisi bencana hidrometeorologi kering seperti yang terjadi di sekitar periode 1980-2010.

 

Bahkan, pada akhir periode gejala alam El Nino 2018-2020, terutama tahun 2020, muncul kontroversial dengan hujan sangat lebat hingga ekstrem di kawasan Jakarta dan Jawa Barat awal tahun 2020.

 

Curah hujan ekstrem terjadi saat pergantian tahun 2019/2020 dengan kejadian hujan ekstrem yang meluas diikuti bencana hidrometeorologi basah yang meluas di tiga provinsi (Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat). Kemudian berlanjut dengan kejadian hujan sangat lebat enam kali dan dua kali kejadian hujan ekstrem.

 

Selain itu, juga dapat diinformasikan angin baratan mulai bertiup pada Februari hingga pertengahan Maret 2020, plus badai tropis sangat minim kala itu. Meski badai tropis sangat minim kegiatannya, seperti yang terjadi tahun 2021, kawasan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, masih terjadi curah hujan hingga memasuki pertengahan tahun 2020.

 

Tahun ini, khususnya musim hujan 2020/2021, mulai sekitar akhir tahun 2020 yang hingga kini terjadi curah hujan yang sepertinya setara dengan kuantitas dalam satu musim. Ini temuan kondisi pertama.

 

Temuan kondisi kedua adalah angin baratan yang berawal sejak akhir tahun hingga memasuki April 2021 belum berakhir hingga tulisan ini disusun.

 

Dengan demikian, dari dua temuan ini plus kondisi curah hujan yang mulai menyimpang tahun lalu dan tahun 2021, menjadi pertanyaan apakah ini merupakan bentuk atau bagian perubahan iklim. Ini yang perlu pengkajian lebih lanjut. ●

 

Selasa, 06 Februari 2018

Penyimpangan Puncak Musim Hujan

Penyimpangan Puncak Musim Hujan
Paulus Agus Winarso  ;   Praktisi Cuaca dan Iklim;  Dosen STMKG
                                                     KOMPAS, 06 Februari 2018



                                                           
Keragaman cuaca dan iklim masih berlanjut di puncak musim hujan, khususnya di kawasan dengan dua musim: musim hujan dan musim kemarau, seperti Indonesia.

Kondisi yang sudah berlangsung sepanjang 2017 ini masih berlanjut dalam dua bulan pertama tahun 2018. Cuaca yang panas terik terkadang menjadi sejuk saat angin barat bertiup sedang dan kadang kencang di beberapa kawasan Sumatera bagian selatan hingga Nusa Tenggara Timur. Kondisi cuaca panas terik juga terasa pada awal Januari 2018 di Jakarta dan sekitarnya.

Mengapa terjadi kondisi panas yang cukup terik? Ke mana hujan dengan tiupan angin yang biasanya menyejukkan sepanjang November-Desember 2017?

Bisa dikatakan telah terjadi penyimpangan mengingat bulan Januari-Februari seharusnya menjadi periode puncak hujan dengan curah hujan tinggi di sebagian kawasan Indonesia.

Penyimpangan kondisi kurang hujan/kering pada saat memasuki periode puncak musim hujan 2017/2018 tidak terlepas dari dinamika atmosfer yang berkembang seiring perubahan alam dan lingkungan. Penyimpangan kurang hujan/kering di era puncak musim hujan merupakan situasi yang berkembang akhir-akhir ini, mulai tahun 2010.

Pada setiap awal tahun, bersamaan dengan periode puncak hujan, ada selingan kondisi cuaca kering dan bahkan dengan suhu udara maksimum di atas 35 derajat celsius. Hal ini terjadi awal tahun 2016 dan tahun 2017 suhu mendekati 35 derajat celsius.

Setelah lewat sebulan pada tahun 2018, kini kawasan selatan Pulau Jawa belum muncul badai tropis. Kemunculannya justru di barat dan timur Jawa, yang berdampak pada divergensi atau beraian udara yang memicu hujan lebat hingga badai.

Osilasi Madden Julian

Pada bagian lain Osilasi Madden Julian (0MJ) memicu terjadinya gelombang di kawasan atmosfer tropis yang pada 2017 sangat giat dan melahirkan dua badai tropis yang giat dekat Jawa, yaitu badai tropis Cempaka dan Dahlia. Namun, di pertengahan Januari 2018 hanya berdampak angin kencang.

OMJ telah menciptakan awan dan hujan selama Oktober-medio Desember 2017 dan pertengahan-akhir Januari 2018. Memasuki Februari OMJ berpindah ke kawasan Amerika Tengah seperti awal Desember 2017. Awal tahun baru 2018 OMJ kembali masuk Samudra Hindia bagian barat dan sepertinya akan mengulang kejadian awan dan hujan periode akhir 2017.

OMJ menciptakan kondisi awan dan hujan seperti di akhir tahun 2017 yang lalu mendapat dukungan suhu muka laut yang hangat dan terpusat di kawasan belahan selatan. Namun, Januari 2018 suhu muka laut turun seiring awan dan hujan yang giat di bulan November hingga tengah Desember 2017. Hal ini mengurangi pasokan uap air untuk periode puncak musim hujan 2017/ 2018.

Pada bagian lain kawasan tekanan rendah terpusat di belahan selatan, tetapi akhir 2017 dan awal 2018 kondisi tekanan rendah kawasan tropis melebar dan meluas ke belahan utara, seperti Teluk Benggala di India dan kawasan Filipina. Dua perkembangan kondisi alam ini yang mungkin berdampak pada terhambatnya pembentukan awan dan hujan serta suhu udara maksimum yang naik mendekati 35 derajat celsius.

Pemanasan air laut sedikit turun akibat tertutup awan untuk kurun waktu cukup panjang— sekitar dua bulan—dan meluasnya kondisi tekanan rendah yang seharusnya di belahan selatan kini meluas ke belahan utara. Kondisi ini menciptakan pemecahan pembentukan awan dan hujan.

Situasi dan kondisi regional ini sepertinya akan sirna jika suhu muka laut kawasan Benua Maritim Indonesia naik. Namun, situasi sepertinya kurang mendukung seiring kegiatan matahari yang menuju minimum sehingga kecil dukungannya pada suhu muka laut.

Naiknya suhu muka laut akan mendukung OMJ giat sehingga memacu pertumbuhan awan dan hujan tinggi seperti November 2017. OMJ pada awal 2018 yang sudah memasuki kawasan Samudra Pasifik, sepertinya akan kembali ke wilayah Indonesia tengah Februari-awal Maret 2018. Kehadiran OMJ menghasilkan hujan lebat yang meluas dan berkepanjangan.

OMJ akan memasuki kawasan Benua Maritim Indonesia dari barat dalam setengah hingga sebulan kemudian. Dari kajian terbatas, tampaklah situasi bulan November 2017 dengan badai tropis Cempaka dan Dahlia, serupa dengan situasi di awal Januari 2018 dengan pertumbuhan badai tropis di barat daya Pulau Jawa dan timur Australia utara.

Kondisi suhu muka laut menunjukkan, untuk kawasan wilayah Indonesia, ada peluang suhu muka laut naik pertengahan Februari hingga awal Maret 2018. Namun, kondisi suhu muka laut yang lebih dingin terjadi di perairan selatan dan sebelah barat Benua Maritim Indonesia.

Kondisi suhu muka laut yang turun membuat penguapan dan pembentukan hujan perlu pemanasan surya yang giat dan makan waktu.

Walau mulai akhir 2017 hingga awal 2018 matahari sempat tidak terliput awan, indikasi rendahnya kegiatan bintik matahari (sunspot) yang kurang dari 25 buah/bulan membuat penguapan kurang intensif. Artinya, kegiatan matahari menuju kegiatan minimum.

Pada bagian lain, setiap awal tahun umumnya ditandai dengan konsentrasi tekanan rendah di belahan bumi selatan. Akhir 2017 hingga awal 2018 menunjukkan kondisi tekanan rendah yang meluas ke kawasan tropis belahan bumi utara seperti Teluk  Benggala dan kawasan Filipina atau Samudra Pasifik Barat (utara wilayah Indonesia tengah dan timur).

Puncak musim hujan

Kondisi tekanan rendah udara yang meluas berdampak pada pola angin yang umumnya bertemu/konvergen di belahan selatan menjadi terberai ke arah kawasan tropis belahan bumi utara dan selatan. Konsekuensi pada situasi dan kondisi ini adalah dukungan bagi pertumbuhan awan dan hujan di kawasan Benua Maritim Indonesia saat memasuki puncak hujan musim hujan 2017/2018.

Untuk kawasan Sumatera bagian selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara—termasuk Kalimantan dan Sulawesi bagian selatan— umumnya puncak hujan musim hujan pada Januari–Februari. Meski ada kondisi kurang hujan selama puncak musim hujan, peluang peningkatan curah hujan sepertinya kecil terjadi meski Osilasi Madden Julian atau berpeluang giat medio Februari-awal Maret 2018.

Ini semua merupakan bagian dari keragaman kondisi cuaca dan iklim yang tak akan ada hentinya. Oleh karena itu, perlu langkah antisipasi dan mitigasi dengan mencermati perkembangan kondisi alam. khususnya dinamika atmosfer. Hal ini untuk meminimalkan kerugian baik moril maupun materiil. ●

Rabu, 20 Desember 2017

Kaleidoskop Gejala Alam

Kaleidoskop Gejala Alam
Paulus Agus Winarso ;  Praktisi Cuaca dan Iklim; Dosen STMKG
                                                    KOMPAS, 20 Desember 2017



                                                           
Keragaman dalam kurun yang tidak terlalu lama merupakan  situasi dan kondisi cuaca dan iklim 2017. Hal ini akibat perkembangan kondisi gejala alam global yang memengaruhi kawasan tropis.

Keragaman cuaca dan iklim antarmusim dalam dunia cuaca dan iklim kini dikenal dengan Osilasi Madden Julian (MJO). Kegiatan MJO merupakan ekskresi dari berbagai gelombang di troposfer yang membentuk situasi dan kondisi cuaca dan iklim kawasan tropis.

MJO merupakan gambaran golakan atau dinamika udara kawasan tropis yang bergelombang dan juga bagian interaksi laut– udara yang umumnya membentuk kawasan awan dan hujan yang giat. Umumnya dalam tipe dan jenis awan konvektif yang menjulang tinggi, baik awan kumulus maupun kumulonimbus.

Jenis awan kumulonimbus (Cb) menghasilkan tiga kondisi badai berupa hujan lebat dengan intensitas curah hujan minimal 1 milimeter per detik atau setara 1 liter volume air hujan untuk kawasan datar seluar 1 meter persegi; angin kencang atau badai dengan kecepatan terendah 34 knot atau sekitar 70 kilometer per jam, dan badai petir atau petir yang bersahut-sahutan.

Keberadaan awan konveksi yang berkembang menjadi awan badai telah hadir pada lingkungan wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) yang secara lanskap juga berubah banyak dengan pembangunan hunian dan prasarana lain.

Kota pusat panas

Naiknya jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan membuat lahan terbuka hijau dengan pohon-pohon besar semakin berkurang. Konsekuensi perubahan tata guna lahan dengan kian meluasnya hutan beton berdampak pada isu kota sebagai pusat panas (urban heat island).

Penulis pernah mengkaji data di kawasan ibu kota Jakarta antara 1971 dan 1980. Ternyata kondisi heat island sudah terjadi. Di pusat kota terdapat isoterm (garis yang menghubungkan suhu yang sama) tertinggi yang dengan kawasan pinggiran beda 1–2 derajat. Hadirnya pengaruh urban heat island (UHI) sepertinya telah merebak dan meluas di kawasan BMI. Hal ini terkait dengan situasi dan perkembangan kondisi dinamika udara global yang terjadi selama 2017.

Perkembangan kondisi global masuk kriteria pasca-gejala alam La Nina hingga  normal yang berlangsung mulai awal hingga kuartal ke-2 tahun 2017. Memasuki kuartal ke-2 hingga awal kuartal ke-3, yaitu bulan Juli 2017, giat mirip gejala El Nino yang sempat menghambat kondisi awan di kawasan selatan ekuator mulai dari Lampung hingga Nusa Tenggara Timur; memasuki kuartal ke-3 hingga periode akhirnya kondisi dinamika udara global kembali normal. Memasuki kuartal ke-4 kembali menguat gejala alam La Nina yang berkembang hingga akhir tahun 2017.

Demikianlah kaleidoskop kondisi dinamika udara global dengan rincian setelah kegiatan La Nina hingga normal, lalu sekitar pertengahan tahun dengan dinamika udara mirip gejala alam El Nino yang dampaknya hanya di kawasan selatan ekuator, dan masuk kuartal ke-3 dengan kondisi dinamika udara yang kembali normal. Akhir tahun atau kuartal ke-4 tahun 2017, gejala alam La Nina kembali giat.

Dipicu MJO

Kaleidoskop dinamika udara global ini melahirkan keragaman cuaca dan iklim, dengan kehadiran berbagai gelombang atmosfer kawasan tropis pembentuk dinamika udara yang dipicu MJO.

MJO telah dikembangkan oleh negara adidaya, seperti Amerika Serikat dengan Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional Amerika Serikat (NOAA) dan negara tetangga terdekat Australia. Kajian para peneliti kedua negara menunjukkan, MJO umumnya giat saat dinamika udara global terjadi gejala alam La Nina dan normal. Sedangkan pada saat kegiatan gejala alam El Nino, kegiatan MJO akan kurang giat seiring kondisi suhu muka laut kawasan BMI umumnya lebih rendah dari normalnya (dingin).

Kondisi MJO giat umumnya saat La Nina giat dan berkurang kegiatannya saat normal dan lemah saat giat gejala alam global El Nino. Lebih lanjut lagi MJO merupakan osilasi antarmusim (intraseasonal) yang merupakan pemicu terjadi keragaman cuaca dan iklim kawasan tropis, khususnya kawasan BMI dalam kurun mingguan hingga bulanan. MJO dapat diindikasi sebagai keragaman antara kehadiran liputan awan konvektif dan hujan lebat/badai serta kondisi cerah-berawan di sekitar kawasan tropis yang berulang 30-60 hari.

Dari rincian kaleidoskop dinamika udara global itu, memicu kehadiran MJO yang cukup nyata selama 7-10 hari di kawasan BMI awal Januari, akhir Februari, dan pertengahan Maret 2017.

Bulan April awal kuartal ke-2, MJO giat di kawasan ekuator Samudra Pasifik Timur dan kawasan Amerika Tengah (tempat mulai giatnya gejala alam El Nino). Bulan Mei sebagai bulan kedua kuartal ke-2 giat pada akhir bulan dan disusul giat pada akhir Juni 2017.

Memasuki kuartal ke-3, MJO giat pada akhir Juli dan September 2017 dan di sepanjang kuartal ke-4. Sepertinya dominasi kegiatan MJO cukup dominan seiring perkembangan dinamika udara gejala alam La Nina, normal, dan El Nino.

Giatnya awan konveksi penghasil badai, khususnya hujan lebat, telah memberi konsekuensi marak dan merebaknya bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Spesial untuk kejadian badai tropis Cempaka yang giat mulai 27 November 2017 dan badai tropis Dahlia giat 29 November 2017 di selatan dan barat daya Pulau Jawa juga kontribusi dari MJO. Ini karena selama November hingga awal Desember, MJO giat di kawasan BMI.

Bagaimana dengan perkembangan angin muson atau angin musim yang dulu cukup dikenal oleh kalangan masyarakat, khususnya umum, petani, dan nelayan? Sepertinya angin musim yang terjadi dan berkembang kian tidak beraturan akibat perkembangan peredaran udara yang berubah seiring tiupan angin dalam arah tetap lebih dari sebulan langka terjadi. Hal ini disebabkan oleh kontras atau perbedaan tekanan belahan bumi utara (BBU) dan belahan bumi selatan (BBS) kawasan BMI yang hampir homogen atau sama yang terjadi dalam kurun waktu lebih dari 7 tahun (catatan pribadi sejak 2010).

Saat itu ditandai dengan kawasan daerah konvergensi antar-tropis (DKAT) yang tak bergeser ke arah BBU, berlanjut dengan pertumbuhan badai tropis, baik di kawasan BBU maupun BBS yang tidak beraturan, seperti  badai tropis Kai Tak yang giat pada medio Desember 2017 di kawasan Filipina. Sebelumnya hadir badai tropis Cempaka dan Dahlia.

Prospek 2018

Prospek kondisi untuk tahun 2018 disusun berdasarkan perkembangan kegiatan pancaran radiasi matahari yang diwakili dengan prakiraan bintik-bintik matahari (sunspot). Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memprakirakan sunspot sedang menuju kondisi minimum.

Giatnya sunspot akan memicu giatnya dinamika udara global El Nino. Sunspot yang menuju kondisi minimum berkaitan dengan giatnya La Nina selama periode 2017 terdapat jumlah bintik matahari kurang dari 25 dan selama 2018 diprakirakan kurang dari 20-15 sunspot.

Dengan demikian, situasi dan perkembangan dinamika udara global La Nina hingga normal sepertinya akan berlanjut dan memicu keragaman cuaca dalam skala mingguan hingga bulanan.

Sepertinya MJO akan sangat giat pada awal hingga pertengahan 2018 dan mulai pertengahan tahun 2018 berkurang. Akhir tahun 2018, MJO diprakirakan akan sedikit giat meski kegiatan akan sama dengan awal 2018.

Perhitungan akan prakiraan ini bersifat pribadi dan mungkin untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menyikapi situasi dan perkembangan kondisi keragaman cuaca dan iklim yang kini berlangsung dan berkembang untuk masa mendatang.

Dalam menyusun informasi ini, berbagai pusat informasi iklim dunia dilibatkan, termasuk BMKG, NASA, serta Australia dengan BoM dan Amerika Serikat dengan CPC-NOAA-nya.

Semoga kaleidoskop singkat tentang kondisi cuaca dan iklim 2017 yang ditandai dengan giatnya pemicu cuaca dan iklim beragam MJO menjadi pertimbangan dalam menyikapi kondisi alam, khususnya cuaca. ●