|
Batu
Ujian Karakter Bangsa
Mudji Sutrisno ;
Budayawan
|
|
KORAN SINDO, 08 Juni 2013
Watak asli
seseorang oleh peneliti psikologis dan dinamika relasi, akan muncul apa adanya
dalam empat kondisi. Kondisi pertama, adalah saat olahraga atau sport bersama.
Watak seseorang yang gigih menyerang atau bertahan, tampak asli dalam sepak
bola. Maka itu, para pamong pendidik yang tahu analisis ini akan melihat
pertandingan-pertandingan olahraga, bahkan latihan- latihannya untuk mengenal
anak didiknya dalam watak aslinya. Anak-anak Anda akan tampil seperti ia yang
sejatinya, entah ego kuatnya menggiring bola untuk dimasukkan ke gawang tanpa
kerja sama dengan teman sepermainan, ataukah ia memberikan umpan dan membagi
bola di detik penentuan agar bola masuk ke gawang lawan karena wataknya rela
kerja sama.
Oleh karena olahraga merupakan lapangan penguji watakwatak asli manusia, maka
di sana nilai (baca: sebagai berharga dan yang baik, benar dan suci dalam
hidup) fairness,yaitu kejujuran bermain tanpa curang- mencurangi menjadi batu
ujian atau standarnya. Karena itu, dalam perkembangan sejarah sepak bola,
akhirnya fairness menjadi nilai universal untuk mengukur tingkatan permainan
resmi sepak bola dunia.
Apakah karyawan Anda, orangorang terdekat Anda tampil apa adanya sesuai watak
aslinya? Silakan mengujinya dalam olahraga beregu, baik basket atau sepak bola,
lantaran nilai fairness seseorang
maupun wataknya yang mau kerja sama atau egois akan muncul dengan sendirinya
tanpa digincu atau didramatisir dalam panggung kepura-puraan.
Situasi kedua yang menempatkan batu uji tampilnya watak asli seseorang adalah
acara makan bersama. Dalam kultur Jawa tradisional, untuk menguji calon pekerja
yang mau menjadi pelayan di rumah bangsawan, diujilah ia dengan disaji makan.
Bila ia makan terlalu pelan dan lambat, kerjanya pun akan lambat pula, maka ia
tidak lulus.
Apabila ia makan dengan rakusnya tanpa peduli kanan kiri, maka watak asli mau
menghabiskan semua untuk dirinya sendiri akan menjadi petunjuk bagaimana
egosentris wataknya harus digarap ketika ia diterima sebagai pelayan rumah
tangga. Namun, bila ia makan cepat, santun, dan sambil makan tetap mengajak
berbicara atau mau beperhatian ketika penguji mengajaknya bicara, ia akan lulus
ujian watak pelayan karena ia tetap punya perhatian untuk yang lain dan makan
cepat memberi petunjuk bekerja cepat pula.
Dalam acara-acara pesta perkawinan atau perhelatan santap bersama dengan cara
ambil sendiri atau prasmanan, pastilah Anda akan mengiyakan betapa watak asli
orang muncul di situ. Lihatlah betapa sering orang dalam penantian antre makan,
ia tidak peduli baris di belakangnya yang menunggu. Ia ambil waktu memilih yang
lama, lalu amat banyak di piringnya, dan alangkah tragis manakala tidak
dihabiskan atau bahkan hanya dicomot sedikit.
Watak asli macam apakah? Tidak menghargai nasi dan para petan penanamnya?
Ungkapan loba dan serakah dalam makan? Di sini edukasi norma santun waktu muda
dari keluarga atau ranah sosial mengonstruksi nilai untuk sikap dan perilakunya
saat makan. Contoh bagaimana kultur normatif membentuk perilaku santun adalah
manakala orang Jawa tidak mau tergesa-gesa mengambil urutan nomor satu dalam
acara makan malam perkawinan.
Menarik pula membandingkan mengapa orang masih bersantun-santun agar tidak
divonis tak tahu adat dalam makan dengan fenomena di jalan raya ketika meminta
jalan, tidak satu pun pengemudi yang memberikan kesempatan dengan “silakan mobil Anda masuk ke depanku!”,
padahal dalam antre makan, kita saling menyilakan “monggo-monggo”, “silakan-silakan
ambil dahulu”.
Yang satu, hukum santun lalu lintas belum tertanam di inti budaya santun dan
hormat sesama. Adapun di perhelatan makan, kultur santun makan sudah mengakar
dalam tradisi nilai normatif kesantunan (di Jawa generasi klasik). Saling
berebut makanan ketika merasa akan tidak kebagian menandai pula watak
survivaldemi kebutuhan dasar makanan untuk kelangsungan hidup. Apakah rasa
tidak akan kebagian dalam basic need for eatingmenjadi hasrat hidup yang paling
menampilkan watak asli manusia ketika kekurangan makan, tidak kebagian, lalu survival of the fittest dari Darwin
mengatakan adanya naluri untuk bertahan hidup.
Dengan kata lain, kondisi kurang pangan adalah situasi gawat akan batas-batas
kelangsungan hidup dengan kebutuhankebutuhan pokok manusia. Ketidaksanggupan
menyediakan pangan, cukup menjadi batu ujian ada tidaknya tanggung jawab
penyejahteraan untuk warga masyarakat.
Kondisi ketiga yang mampu menguji munculnya watak asli seseorang adalah situasi
krisis atau gawat darurat. Dalam situasi gawat darurat, misalnya kapal
penumpang bocor, padahal pelampung tidak tersedia cukup. Di situlah nakhoda
yang wataknya bertanggung jawab akan paling terakhir keluar kapal.
Penumpang-penumpang yang berebut pelampung pasti tidak akan mendahulukan
perempuan atau anak-anak karena masing-masing berebut menyelamatkan nyawanya
sendiri.
Adakah watak asli yang rela menolong yang lain dahulu untuk selamat dan baru
kemudian dirinya sendiri? Dalam tradisi darurat, tingkatannya tidak
menghadapkan orang pada pilihan hidup atau mati pun, watak asli orang akan
muncul apa adanya. Di situ dalam darurat pesawat terlambat dan tidak ada
informasi kapan berangkat. Apalagi setelah didahului rusaknya sistem
komputerisasi sejak pukul 03.00 pada 23 Mei 2013 pesawat Garuda yang lalu dikerjakan secara
manual sampai bandara seperti pasar antre dan Jakarta ke Yogyakarta seharusnya
berangkat pukul 05.55 pagi, tetapi baru sampai Yogyakarta pukul 09.00 pagi.
Maka, watak asli pejabat resmi Garuda akan muncul, apakah ia dengan rela memberi
informasi? Pramugari dan kapten pilot begitu pula.
Dan, para penumpang? Ada yang mengamuk, ada yang memaki-maki, dan ada yang
menyalah-nyalahkan petugas. Namun, juga banyak yang dengan sabar menunggu diam
dan sopan meminta diumumkan informasi. Dan anehnya, serombongan orang yang akan
menuntut ganti rugi menjadi lupa ketika gawat darurat disadari sebagai watak
bangsa ini yang tidak pernah siap untuk menghadapinya.
Apalagi sampai hari ini tidak ada permintaan maaf dan pemberitahuan kejadian
hari itu, mengapanya dan bagaimananya ketika teknologi stop? Inikah watak asli
kita semua dalam kondisi darurat? Lalu di mana pertanggungjawaban dalam etos kerja?
Di mana watak asli dalam slogan kita bisa? Bisa apa? “Bisa” juga bermakna
racun, bukan?
Kondisi keempat,
adalah kondisi menghayati situasi hidup di luar kenyamanan selama ini. Artinya,
situasi yang menaruh seseorang di luar comfort
zone, semisal hidup di tengah–tengah kondisi lereng gunung di perdusunan
tanpa listrik untuk orang kota. Atau diikutkannya orang muda atau karyawan
dalam outbound.
Kita dahulu merasa keaslian watak muncul ketika kita berkemah pramuka, bahkan
latihan-latihannya serta uji-ujian kenaikan tingkat, mulai siaga, lalu
penggalang. Dari tugas jaga di pintu gerbang kamar mati rumah sakit sampai
ditutup mata berkeliling malam oleh kakak-kakak penggalang, dan ketika dibuka
ternyata berada di tengah-tengah kuburan.
Watak asli takut, ngeri, dan menghindari yang susah serta yang berat-berat akan
diuji untuk diberanikan dan diteguhkan menjadi watak pemberani yang penuh
semangat maju. Namun, harus disadari dahulu dengan rendah hati, watak-watak
asli pengecut mudah takut dan tidak berani pasang badan bertanggung jawab.
Latihan-latihan tempa diri dan uji watak sedari kecil ini menjadi petunjuk
untuk menganalisis betapa pentingnya bina dan pembatinan watak berani pada
generasi muda agar kelak saat jadi pemimpin berani bertanggung jawab dan tidak
menghindar atau menyuruh orang lain bertanggung jawab.
Mengapa kita urai kondisi-kondisi di atas ranah ruang kemunculan keaslian
karakter kita? Ada dua sebab. Pertama, dalam kondisi di mana yang nomor satu
dalam hidup bersama, yaitu mempercayai sesama atau mempercayakan diri pada
tanggung jawab di bahu sesama ketika naik pesawat kita mempercayakan diri pada
pilot; naik bus malam atau kereta api kita percayakan diri pada sopir dan
masinis; lalu bila kepercayaan itu kini banyak sekali diciderai?
Kondisi di mana lebih banyak distrust
lantaran percaya memilih pemimpin untuk pembaruan politik melalui perwakilan
rakyat banyak diciderai dan membayar pajak ternyata petugasnya korupsi. Di
sinilah alasan kedua mengapa paparan renung watak-watak asli dalam
kondisi-kondisi di atas ditempatkan.
Namun, konteks hidup berbangsa yang seharusnya berwatak untuk mandiri secara
ekonomi, berdaulat secara politik, serta punya watak kepribadian dalam
kebudayaan yang sudah menjadi visi pendiri bangsa Bung Karno dan pendiri-pendiri
lain, ternyata sedang mengalami krisis beratnya. Padahal, bila sebuah bangsa
sedang krisis jati dirinya, maka sejarawan Arnold Toynbee mengingatkan lampu
merah kehancurannya bila kelompok kreatif tidak segera siuman untuk sadari diri
terhadap krisis ini.
Apalagi kohesivitasnya atau rajutan perekat bangsa mengurai dan meretak, di
sanalah renung mendalam mengenai siapa kita sebagai bangsa dengan watak-watak
asli harus menjadi refleksi mengaca diri justru dengan satu per satu menguji,
siapakah kita dalam kondisi yang menguji keaslian kita.
Sebab, jalan politik yang memecah rebutan kursi dan kuasa, butuh jalan renung
budaya untuk merekatkan kembali rajutan watak berbangsa yang mau saling hormat
terhadap kemajemukan, hormat terhadap harkat manusia, dan berjanji saling
menyejahterakan sesama warga negara. ●