Tampilkan postingan dengan label Mudji Sutrisno SJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mudji Sutrisno SJ. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Sindrom Kekuasaan

Sindrom Kekuasaan
Mudji Sutrisno ;   Budayawan
SUARA KARYA, 30 Agustus 2013


Ada empat sindrom dalam psikologi perilaku, terutama bertaut dengan kehendak untuk berkuasa. Pertama, sindrom Napoleon. Ungkapan ini diambil dari penggambaran tampilan Napoleon (pasca-Revolusi Prancis) yang berfisik pendek, tetapi berambisi besar menaklukkan Eropa. Secara psikologis, sindrom ini mau menunjuk gejala perilaku "si pungguk merindukan bulan", yang selalu mau tampil menguasai semuanya, "menjajah" kemerdekaan orang lain dan tega-teganya menyingkirkan orang lain atas nama kebenaran.

Intinya, "si cebol" ingin dilegitimasi dan diberi pengakuan sebagai penguasa. Ciri-cirinya, otoriter, merasa dirinya paling benar. Kekecilan fisiknya tak pernah diterimanya secara rendah hati sebagai keterbatasan, tetapi dijadikan pendorong untuk menyingkirkan yang berbeda dengan dirinya atau yang menghalanginya.

Kedua, sindrom pendiri. Setelah institusi mengalami regenerasi kepemimpinan di tangan yang lebih muda, ia yang dulu pernah menjadi pendiri tetap saja "berhasrat" untuk terus intervensi karena khawatir institusi yang didirikannya melenceng dari visi awalnya. Ini terjadi karena ia sudah menanamkan tradisi-tradisi yang harus terus diikuti meski sudah pensiun dan tidak menjabat lagi hingga menimbulkan "bayang-bayang" senioritas abadi.

Ketiga, sindrom post power. Yang amat lazim terjadi, setelah orang tidak memegang kekuasaan, tidak memiliki wewenang atau tidak menjabat lagi, tetapi masih mau berperilaku seperti masih di kursi jabatannya. Cirinya, ia tidak rela menyadari bahwa dirinya sudah tidak memegang kekuasaan lagi, maka yang terucap di mana-mana adalah kisah suksesnya dalam ekspresi his story.

Keempat, sindrom "anak mama" atau "anak papa". Sindrom ini karena terlalu banyak digendongnya si anak oleh mama atau papanya yang melambangkan proteksi berlebihan hingga mengalami ketergantungan. Orangtua tidak cukup memberi ruang bagi perkembangan kemandirian anak menuju pribadi dewasa yang otonom. Sindrom ini menghasilkan orang-orang dengan pribadi heteronom, tidak mandiri, dan selalu banyak pertimbangan dalam bersikap dan bertindak.

Ciri-cirinya, mudah bercurah-hati atau mengeluh serta mengungkapkan apa saja yang menjadi ketidak-enakan yang sebenarnya untuk orang dewasa merupakan tantangan pergulatan biasa, namun baginya menjadi medium untuk meminta perhatian. Seakan-akan seluruh dunia harus tahu dan mengerti bahwa ia sudah bekerja keras demi orang lain.

Refleksi keempat sindrom di atas penting diketahui untuk menjelaskan kaburnya nilai-nilai yang benar, baik dan indah yang kita hidupi saat ini. Budi cerdas dan nurani jernih sangat diperlukan untuk mengatasi fenomena sindrom politik. Apalagi, jika politik dimaknai sebagai permainan kekuasaan dan wewenang untuk menggapai kesejahteraan bersama.

Di dasar pemahaman kekuasaan termuat kemampuan dan kegiatan apa pun untuk mengontrol orang lain demi kepentingan si empunya kuasa. Dari sini, begitu mudahnya politik tergelincir untuk menjadikan hidup bersama sebagai ajang perebutan kuasa untuk saling mengerkah (memakan). Sebagaimana dikemukakan Thomas Hobbes, homo homini lupus bahwa manusia adalah serigala yang saling mengerkah sesamanya.

Agar tak tergelincir, ada baiknya dalam berpolitik perlu mengacu pada apa yang ditawarkan Driyarkara bahwa "manusia semogalah menjadi sahabat atau rekan bagi sesamanya" (homo homini socius). ●  

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (2)

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (2)
Mudji Sutrisno ;   Guru Besar STF Driyarkara dan UI, Budayawan
KORAN SINDO, 30 Agustus 2013


Teori seni sebenarnya merupakan perumusan logis sistematis mengenai pengalaman seni dari hidup ini yang tiap kali selalu mengalami keterbatasannya apabila dilogis-logiskan lantaran sumbernya ada dalam telaga jernih intuisi dan kehidupan mulia yang melampaui rasionalitas, logika, atau dimensi epistemologis dari kehidupan itu sendiri. 

Di sini pula simplifikasi atau penyederhanaan wilayah kehidupan sebagai tempat jelajah kebenaran (untuk ilmu pengetahuan) merupakan satu wilayah verum (benar) dan wilayah berikutnya adalah sisi bonum atau ranah etika mengenai sisi etis dari hidup ini. Ada tiga wilayah hidup yaitu verum (untuk ilmu pengetahuan, epistemologis), etika (bonum), dan estetika (pulchrum). 

Dengan kata lain, kehidupan yang mahakaya dan multidimensi (multiragam sisi) memuat dimensi logisnya dalam filsafat sistematis rasional logis. Hidup yang sama memuat dimensi ”indahnya atau estetisnya” dalam filsafat seni atau estetika. Kehidupan yang sama mempunya dimensi kebaikannya dalam etika. 

Lihatlah ciri khas watak kehidupan adalah multidimensinya, keanekaragamannya. Bila kita membatasi kehidupan yang multidimensi itu hanya dalam ”tiga dimensi”, yang ”baik” dari hidup ini dikenal dan dijelajahi sebagai ranah etika. Yang ”benar” dan logis dari kehidupan difilsafatkan dalam epistemologi. Sementara yang ”asri atau indah” dari kehidupan merupakan ”cakrawala luas estetika”. 

Tampilan simbolik maupun realis keindonesiaan kita sudah dirajut dan ”dirumus padat” dalam pengalaman ratusan tahun setelah mengalami multidimensinya kehidupan Nusantara yang ragam identitas suku, religi, maupun identitas-identitas lain. Kearifan para pendahulu kita dalam menghidupi Indonesia yang majemuk ini sudah dirajut dalam sikap hidup di mana pun bangsa pulau dan bahari ini berkelana dan bertemu dengan saudara-saudaranya yang beda suku, 

agama, bumi, atau adat istiadat sehingga yang dinasihatkan dan dijadikan sikap hidup toleransi adalah pepatah nasihat hidup yang berbunyi: ”di mana bumi dipijak, di situ langit hendaklah dijunjung”. Artinya, menghormati alam dengan penghuninya sesama saudara serta menjunjung Sang Pencipta atau langit adalah sikap menghayati hidup dalam toleransi di mana pun dan ke mana pun. 

Dalam perenungan mengenai makna kearifan hidup yang menjadi sikap yang harus diambil dalam keragaman Nusantara ini, dihayatilah pepatah hidup ”lain ladang lain belalang dan lain lubuk lain pula ikannya”. Hanya ketika yang indah, yang benar dan yang baik dari keragaman penyusun keindonesiaan sudi dan peduli untuk selalu memberikan kontribusinya bagi keindonesiaan yang dalam Pembukaan Konstitusi UUD 1945 dicitakan makin menjadi adil, sejahtera, 

beradab, dan saling menghormati karena sama-sama ciptaan Tuhan, pencapaian-pencapaian matangnya kesadaran berbangsa dari kotak-kotak suku, agama, dan golongan sadar untuk menapaki jalan pencerahan 1908. Lalu selangkah maju matang berkesadaran satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air Indonesia, jejak tapak ini merealisasikan ”kebinekaan menjadi ika” setelah mengalami betapa hancurnya diadu domba dalam politik divide et impera. 

Maka itu, setelah formal bernegara hukum yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 dan berdaulatnya rakyat dipastikan kini gugatan sumbangan masing-masing penyusun keindonesiaan terus berdentang. Apa yang bisa disumbangkan oleh kekatolikan untuk Indonesia? Bila Monsiegnur Soegiyopranoto Sj sudah menegaskan 100% Indonesia dan 100% Katolik, gugatannya tetaplah apa yang baik dari kekatolikan untuk Indonesia; 

apa yang benar yang terus mau disumbangkan bagi Indonesia serta apa yang ”indah” untuk dikontribusikan bagi Indonesia? Demikian pula, yang bernilai dari keislaman, dari kehinduan, dari kebuddhaan, religi bumi, dari kebatakan, keminangan, kejawaan, kefloresan, dan seterusnya untuk disumbangkan bagi keindonesiaan. 

Dalam dekade-dekade ini, kita alami riuh gaduhnya jalan politis keindonesiaan kita. Bila diekstremkan, jalan politis yang semestinya berupa tindakan bersama agar hidup bersama kita semakin sejahtera satu sama lain, semakin adil, serta praksis kuasa kita ditanggungjawabkan dalam etika politis, namun yang terjadi lebih banyak pecah dan retak-retaknya karena kesewenangan keserakahan dan setan-setan gundul dan setan cebol kekuasaan yang tega menghabisi sesama. 

Sementara jalan ekonomi yang gegap gempita di wilayah makro, namun miskin peduli di wilayah ekonomi mikro orang kecil semakin mereduksi hubungan kita serta nilai baik, benar, dan indah melulu dihitung dari nilai tukar uang dan uang melulu. Karena itu, rupanya jalan seni yang dalam kearifan-kearifan hidup bangsa kita diungkapkan tidak pertama-tama untuk dirumuskan logis sistematis, tetapi lebih lebih untuk dihayati dan dihidupi, akan menjadi jalan besar kita sekarang untuk kembali ”amemayu hayuning bawana”, artinya, mengikhtiarkan untuk membuat hidup dan dunia kita semakin indah manusiawi. 

Sebelum dirumus-rumuskan logis, perjalanan seni bangsa ini adalah ”penghayatan”; kita bersyukur atas hidup ini dengan nyanyi, berdendang dengan tari, dan mengekspresikan warna-warni-kehidupan-lewat-kuas-kanvas dalam lukisan modern Indonesia. Namun, tengoklah rangkaian dahsyat lukisan-lukisan tradisional dan asli gores tangan ragam bangsa ini dalam batik tulis, dalam rajut kain, dalam patung, karya-karya seni beraneka ragam yang memuliakan kehidupan ini. 

Watak unik para seniman kita tertuang dalam apa yang disebut sebagai ”sikap dan visi kesenimanan” dalam ”kredo”. Hanya dengan saling belajar dari keragaman kredo itulah Indonesia yang bineka sekaligus ika akan berkembang ke depan. Apa artinya? Bila sastrawan kredo seninya atau visi seni untuk peradabannya mahir dan biasa memakai prosa untuk novelis atau puisi untuk penyair, semoga mereka ini mau belajar pada teknokrat atau insinyur yang biasa berbahasa konstruksi teknik bangunan. 

Maksud dialog kredo itu secara bersahaja bisa ditulis sebagai berikut: ”Pada awalnya adalah kata. Pada awalnya adalah garis. Pada awalnya adalah warna. Bagi yang biasa berkata-kata, belajarlah dalam dialog-dialog karakter garis saudara-saudarimu. Bagi yang biasa berbahasa diam hanya berbahasa warna dan garis, belajarlah dari saudara-saudarimu yang biasa berbahasa kata-kata. 
Bagi yang terlalu berbahasa wacana dan retorika, banyak belajarlah pada rakyat jelata yang lebih diam dan berbahasa hati bahkan lebih sering menyimpan dalam-dalam pahitnya hidup dalam relung hatinya. Semua ini semogalah saling dihayati agar dialog peradaban diperjuangkan hingga kehidupan dimuliakan.”

Seperti kredo seorang ekspresionis bernama Affandi, cuatan-cuatan jari dan dominasi warna kuning selalu menjadi ciri ekspresi lukisanku sebab kuning adalah warna padi tropis tanah airku Indonesia yang kuharapkan menguning dengan butir padat gabah siap dipanen. Begitu pula mengapa Affandi banyak melukis matahari? Karena inilah keindonesiaan dengan matahari sepanjang khatulistiwa di cuatan lukisan tangan Affandi. ●  

Kamis, 29 Agustus 2013

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (1)

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (1)
Mudji Sutrisno ;   Guru Besar STF Driyarkara & UI, Budayawan
KORAN SINDO, 29 Agustus 2013


Dalam meniti jalan seni, orang akan menjumpai bahwa sumber “estetika” adalah yang indah dan yang mulia” dari dan dalam kehidupan. 

Seniman memuliakan kehidupan dengan hamparan warna aneka ragam di kanvas lukisan, atau seniman tradisional meramukannya dalam rajut komposisi warna-warni benang songket yang ditenun indah dalam kait ikat, kain tenun. Seniman atau seniwati memuliakan kehidupan yang kaya variasi wajah warna dan ragam gerak alam dan manusianya dalam “tarian”. 

Menuliskan nada kehidupan dalam nada melodi atau not balok serta not angka yang secara kreatif diciptakan harmoni meniru suara-suara alam beragam dan suara-suara kehidupan yang beraneka rupa. Pada dasarnya, dari tatapan sejenak saja, keragaman adalah kenyataandasaralamraya dandunia manusia ini. Ada seni dari kehidupan ini yang dihayati begitu saja dalam upacara ritual syukur kepada Sang Pencipta kehidupan. 

Ada pula seni yang diciptakan sebagai ritus oleh komunitasnya untuk menghormati, mensyukuri namun sekaligus memohon berkah selamat saat menapaki tahap-tahap hidup: mulai dari kelahiran, dewasa, akil balik, perkawinan, dan kematian yang selalu dikaitkan dengan sum berkehidupan. Namun, kita jumpai pula penghayatan ritus kehidupan yang disumberkan dan disucikan pada hormat atas kesuburan tanah; gunung sebagai “apexmundi”. 

Sebenarnya, barulah pada abad ke-18, apa yang dihayati sebagai ritus seni dan pemuliaan kehidupan difilsafatkan sebagai “estetika”. Baru pada saat itulah, penghayatan mengenai yang indah dari hidup dan yang subur darinya dicobarumuskan dalam “teori” mengenai seni. Maksud “teori” adalah sistematisasi logis mengenai apa itu seni yang kemudian dengan bahasa tulis ditulis menjadi rumusan tertulis apa itu seni dan estetika kalau mau dimengerti dan dipahami.

Bisa dikatakan bahwa “pada awalnya adalah kehidupan yang dihayati dalam dimensi keindahannya”. Di sinilah realisme kehidupan berhadapan dengan surealisme kehidupan di tangan dan di mata seniman. Di sini pula realitas alam dan kehidupan mengalami simbolisasinya ketika kenyataan fisik atau terinderawinya kenyataan hidup (sisi tangible; bisa dirabai dengan lima indera) dalam dunia kreasi para seniman butuh “simbol”, perlambang manakala diciptakan lagi dalam kanvas lukisan yang tidak hanya naturalis, realis namun bergerak terus ke abstrak serta yang mentransenden yang riil ini. 

Dunia warna lukis misalnya atau permaknaan warna beraneka mulai dari putih sampai dicampur- campurkan dalam berbagai kombinasi lalu menjadi warna hitam, ternyata memiliki arti dan makna simbolisnya ketika ditorehkan atau dipakai dalam kreasi karya seni. Dari dunia warna saja, nyatalah bahwa kehidupan ini akan amat membosankan dan tidak indah bila diciptakan dalam dominasi satu warna saja atau diseragamkan. 

Dalam penelitian mengenai makna warna di ritus pemuliaan hidup dan di penafsiran komunitas, penafsirnya sudah membuktikan makna yang berbeda, maksud dan arti “suci” yang tidak sama. Misalnya ketika di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, berlangsung lokakarya seni tradisi dan seni etnik, untuk komunitas mereka yang berumah di atas air laut dan hidupnya banyak bergantung pada ekosistem laut bahari dan air, warna “biru” adalah lambang warna laut. 

Sekejap langsung muncul bahwa warna dalam simbolismenya ditentukan artinya oleh kelompoknya atau komunitasnya baik kecil maupun besar. “Azzuri” atau “Biru terang” adalah lambang kaus sepak bola para pemain Italia, namun bukan untuk laut tetapi untuk warna langit khas Italia yang kalau musim panas di Eropa, Italilah satu-satunya yang berlangit biru tanpa awan sama sekali. 

Namun, ada yang menarik dalam simbolisme warna kehidupan ini. Kita yang religius dengan mudah menyebut putih sebagai warna suci dan warna sempurna, terutama pula menjadi warna berkabung perpindahan dari kematian menuju kehidupan baru. Putih dengan itu menjadi warna sempurna, atau warna resmi suci. 

Akan tetapi, ragam permaknaan warna sudah langsung berhadapan dengan komunitas ritual lain yang menegaskan bahwa warna hitamlah warna sempurna atau simbol suci sempurna sebagai warna dalam hidup karena tidak bisa menjadi warna lain lagi selain hitam. Cobalah Anda mencampurkan dua warna misalnya: merah dan biru, apa jadinya setelah dicampur tuntas? Cokelat. 

Lalu cokelat dicampur dengan kuning, apa yang muncul? Cokelat muda. Bila Anda mencampur terus warna-warna beraneka, hasil akhir memang yang muncul adalah “hitam”. Dan hitam tak bisa lagi berwarna lain ketika dipertemukan dengan yang lain. Amat menarik; makna simbol dan tafsir warna-warna.

Paparan di atas tadi adalah contoh sebuah teori seni yang mencoba merumuskan seni sebagai pengenangan kembali atau mimesis dari pengalaman hidup yang menjumpai warna-warninya dalam mengalami putihnya hidup atau hitamnya, lalu memberinya simbol dan ungkap ucapan simbolik. Yang sempurna dari jumpa aneka warna-warni dalam kehidupan adalah akhirnya “warna hitam”. 

Maka ketika ritus kelahiran dan kematian mau dikenang kembali dan dirayakan, disepakatilah semuanya memakai pakaian serba hitam. Teori pertama mengenai estetika merupakan teori ritual. Artinya, seni merupakan ritus dan berhubungan upacara untuk menghormati dan memuliakan kehidupan yang misterius, eksotis, dan dahsyat. 

Karena itu, teori ritual seni menempatkan estetika sebagai bagian dari ritus religi terutama religi bumi yang menghormati kesuburan dan kepercayaan bahwa kehidupan ada sumbernya, ada awalnya dan ada akhirnya, ada alfa dan omeganya sehingga lahir, menjadi dewasa, menikah dan kematian diberi maknanya dalam ekspresi ritualnya. 

Usaha merumuskan sebuah teori seni mengenai peng-hayatan hidup dari sisi keindahannya ini berupa pembingkaian atau pigura estetika sebagai energi kreatif dan proses kreatif manusia dalam “puisi”: kata padat makna dan isi untuk mengekspresikan renung penghayatan hidup yang dialami dalam sisi-sisi tragis, tragedi, komedi maupun bahagia serta syukur atasnya. 

Atau berekspresi dalam prosa dengan maksud serupa, namun kode bahasanya paparan sastrawi berkisah. Ia juga merupakan ekspresi keindahan cuatan warna di kanvas. Ketika gerak alam dan yang misterius dari dinamika alam diberi ekspresi gerakan tubuh yang menirukan gelora laut, suara angin, serta gelombang gelegak alam. Teori berikutnya dari estetika berusaha menalarkan dan merumuskan apa itu pengalaman estetis. 

Teori ini juga ingin merumuskan secara logis sesuatu yang sebenarnya melampaui yang logis, seperti “apa itu titik estetis dan apa itu yang tak terungkapkan dan tak terucapkan lagi” ketika orang berdecak kagum dalam ekstase estetis atau tersentuh secara mendalam dalam tragedi hidup melalui drama. Maka itu, karena terbatasnya rumusan logis untuk pengalaman estetis yang “beyond logic” maka penulisannya memakai deskripsi fenomena atau gejalanya. 

Fenomenologi deskripsi sebuah penikmatan akan kedahsyatan sebuah lukisan atau karya seni akan menggambarkan bahwa “titik keindahan” adalah pengalaman keindahan saat yang mencengangkan sekaligus sublimemerasuk dan dialami mirip2 dengan pengalaman psikologis “religius” dan ekstasis. 

Kalau dalam Zen Budhis, karena mereka menolak pendekatan mengupas realitas dalam pisau subjek mengiris realitas sebagai obyek, pengalaman estetis mereka deskripsi sebagai “menghayati dari dalam sebagaimana adanya: “suchness”. Kenyataan itu indah ketika dihayati dan diterima sebagaimana adanya: “as such as it is”, “tidak lebih dan tidak kurang”. Di sinilah semakin mendesak pentingnya sebuah “ranah” yang harus ditumbuhkan sebagai jalan seni untuk menghayati kehidupan dari estetikanya” yaitu ranah apresiasi. 

Apresiasi seni merupakan bagian mendasar dari proses pendidikan humaniora, karena, di ranah inilah sisi kehidupan dari keindahannya dilatih kepekaan manusia untuk merasakan dan menghormatinya kemudian menghidupinya.  ●  

Minggu, 16 Juni 2013

Moral Tanggung Jawab

Moral Tanggung Jawab
Mudji Sutrisno ;   Budayawan
SUARA KARYA, 14 Juni 2013

Mengapa saat terjadi musibah atau kecelakaan yang menyangkut nyawa saudara-saudari kita sebangsa, muncul dua tanggapan spontan? Yang satu, peduli dan sukarela tanpa pamrih membantu yang sedang tertimpa kemalangan untuk dihibur dan disolidaritasi. Sementara, yang kedua, para pejabatnya saling melempar tanggung jawab saat harus mempertanggungjawabkan tugas kewenangannya.

Bertanggung jawab atau menangungjawabi adalah sikap moral berani memilih tindakan atas putusan matang yang ditimbang budi dan nurani seseorang untuk juga menanggung risiko dan konsekuensinya apabila hasil akhirnya negatif. Kebanyakan di antara kita, apabila hasil akhirnya sukses dan gemilang, semuanya ramai-ramai mengaku atau "mengklaim" sebagai buah jasanya. Namun, apabila gagal, mereka lalu tidak berani bertanggung jawab dalam kewenangannya.

Fenomena pemimpin atau pejabat tidak bertanggung jawab sempat dibahas dalam sebuah diskusi mengenai penanaman sikap bertanggung jawab. Dalam kasus di atas, sikap tanggung jawab telah dijawab, salah satunya dengan "kisah lucu namun getir yang merunut lemparan tanggung jawab bukan dari kita pelaku tetapi di luar pelaku".

Tolong, bandingkan secara analogi (baca dengan jalan pikiran akal sehat serupa), mengapa kita paling jago membentuk Pam Swakarsa pada saat krisis tanggung jawab kepemimpinan menjelang diturunkannya Soeharto tahun 1997-1998? Atau, pembentukan milisi-milisi di Timor Leste saat jajak pendapat Timor Timur tahun 1999? Kini, fenomena itu dilanjutkan dengan keberadaan satuan-satuan pengaman dan penenteram yang tugasnya jauh dari pengayom dan penenteram karena mendatangkan ketakutan pada warga masyarakat kecil, khususnya para pedagang kaki lima yang terus dikejar-kejar dan digusur?
Jawabnya, jelas, terpenuhinya hipotesis perilaku dan pola "tidak berani berhadap-hadapan secara bertanggung jawab". Namun, mereka hanya maunya beres, selamat untuk diri sendiri dan demi "wibawa" meski yang jadi korban akhirnya adalah sesama saudara kita sebangsa yang tidak terlindungi, yaitu kaum jelata.

Dalam penelaahan kultural terendapkan kebersamaan perkauman yang kolektif dan kebersamaan saudara sepayungan dalam marga atau kekerabatan oleh mendiang Dr Matulaada, ditunjuklah, mengapa krisis pertanggungjawaban berada pada transisi dari masyarakat rasional "modern" dengan perbedaan tajam pada ruang pribadi dan ruang publik yang sedang ditapaki oleh "masyarakat kolektif" yang masih mencari bentuk ekspresi tanggung jawabnya. Herankah kita apabila ada pejabat atau elite lempar tanggung jawab atau "lempar batu sembunyi tangan" untuk meluputkan diri agar selamat dari pertanggungjawaban? Hal ini perlu dicarikan akar sebabnya pada situasi transisional kultural ini.

Dalam kerendahan hati, secara realistis, kita perlu belajar mulai dari diri sendiri, keluarga, di tempat kerja serta dalam kewenangan tanggung jawab pelayanan kita pada sesama, untuk berani meneladankan sikap dan perilaku bertanggung jawab. Ranah itu ada dalam pendidikan mentalitas dan watak, yang untuk mewujudkannya dibutuhkan proses dan bukan melalui orientasi hasil kilat atau target penyelesaian proyek. Memasuki era di mana materi dan uang mendominasi keseharian kita, maka "roh" dan "spirit" kerap pingsan dalam cekikannya. 

Senin, 10 Juni 2013

Batu Ujian Karakter Bangsa

Batu Ujian Karakter Bangsa
Mudji Sutrisno ;    Budayawan
KORAN SINDO, 08 Juni 2013


Watak asli seseorang oleh peneliti psikologis dan dinamika relasi, akan muncul apa adanya dalam empat kondisi. Kondisi pertama, adalah saat olahraga atau sport bersama. 

Watak seseorang yang gigih menyerang atau bertahan, tampak asli dalam sepak bola. Maka itu, para pamong pendidik yang tahu analisis ini akan melihat pertandingan-pertandingan olahraga, bahkan latihan- latihannya untuk mengenal anak didiknya dalam watak aslinya. Anak-anak Anda akan tampil seperti ia yang sejatinya, entah ego kuatnya menggiring bola untuk dimasukkan ke gawang tanpa kerja sama dengan teman sepermainan, ataukah ia memberikan umpan dan membagi bola di detik penentuan agar bola masuk ke gawang lawan karena wataknya rela kerja sama. 

Oleh karena olahraga merupakan lapangan penguji watakwatak asli manusia, maka di sana nilai (baca: sebagai berharga dan yang baik, benar dan suci dalam hidup) fairness,yaitu kejujuran bermain tanpa curang- mencurangi menjadi batu ujian atau standarnya. Karena itu, dalam perkembangan sejarah sepak bola, akhirnya fairness menjadi nilai universal untuk mengukur tingkatan permainan resmi sepak bola dunia. 

Apakah karyawan Anda, orangorang terdekat Anda tampil apa adanya sesuai watak aslinya? Silakan mengujinya dalam olahraga beregu, baik basket atau sepak bola, lantaran nilai fairness seseorang maupun wataknya yang mau kerja sama atau egois akan muncul dengan sendirinya tanpa digincu atau didramatisir dalam panggung kepura-puraan.

Situasi kedua yang menempatkan batu uji tampilnya watak asli seseorang adalah acara makan bersama. Dalam kultur Jawa tradisional, untuk menguji calon pekerja yang mau menjadi pelayan di rumah bangsawan, diujilah ia dengan disaji makan. Bila ia makan terlalu pelan dan lambat, kerjanya pun akan lambat pula, maka ia tidak lulus. 

Apabila ia makan dengan rakusnya tanpa peduli kanan kiri, maka watak asli mau menghabiskan semua untuk dirinya sendiri akan menjadi petunjuk bagaimana egosentris wataknya harus digarap ketika ia diterima sebagai pelayan rumah tangga. Namun, bila ia makan cepat, santun, dan sambil makan tetap mengajak berbicara atau mau beperhatian ketika penguji mengajaknya bicara, ia akan lulus ujian watak pelayan karena ia tetap punya perhatian untuk yang lain dan makan cepat memberi petunjuk bekerja cepat pula. 

Dalam acara-acara pesta perkawinan atau perhelatan santap bersama dengan cara ambil sendiri atau prasmanan, pastilah Anda akan mengiyakan betapa watak asli orang muncul di situ. Lihatlah betapa sering orang dalam penantian antre makan, ia tidak peduli baris di belakangnya yang menunggu. Ia ambil waktu memilih yang lama, lalu amat banyak di piringnya, dan alangkah tragis manakala tidak dihabiskan atau bahkan hanya dicomot sedikit. 

Watak asli macam apakah? Tidak menghargai nasi dan para petan penanamnya? Ungkapan loba dan serakah dalam makan? Di sini edukasi norma santun waktu muda dari keluarga atau ranah sosial mengonstruksi nilai untuk sikap dan perilakunya saat makan. Contoh bagaimana kultur normatif membentuk perilaku santun adalah manakala orang Jawa tidak mau tergesa-gesa mengambil urutan nomor satu dalam acara makan malam perkawinan. 

Menarik pula membandingkan mengapa orang masih bersantun-santun agar tidak divonis tak tahu adat dalam makan dengan fenomena di jalan raya ketika meminta jalan, tidak satu pun pengemudi yang memberikan kesempatan dengan “silakan mobil Anda masuk ke depanku!”, padahal dalam antre makan, kita saling menyilakan “monggo-monggo”, “silakan-silakan ambil dahulu”. 

Yang satu, hukum santun lalu lintas belum tertanam di inti budaya santun dan hormat sesama. Adapun di perhelatan makan, kultur santun makan sudah mengakar dalam tradisi nilai normatif kesantunan (di Jawa generasi klasik). Saling berebut makanan ketika merasa akan tidak kebagian menandai pula watak survivaldemi kebutuhan dasar makanan untuk kelangsungan hidup. Apakah rasa tidak akan kebagian dalam basic need for eatingmenjadi hasrat hidup yang paling menampilkan watak asli manusia ketika kekurangan makan, tidak kebagian, lalu survival of the fittest dari Darwin mengatakan adanya naluri untuk bertahan hidup. 

Dengan kata lain, kondisi kurang pangan adalah situasi gawat akan batas-batas kelangsungan hidup dengan kebutuhankebutuhan pokok manusia. Ketidaksanggupan menyediakan pangan, cukup menjadi batu ujian ada tidaknya tanggung jawab penyejahteraan untuk warga masyarakat.  

Kondisi ketiga yang mampu menguji munculnya watak asli seseorang adalah situasi krisis atau gawat darurat. Dalam situasi gawat darurat, misalnya kapal penumpang bocor, padahal pelampung tidak tersedia cukup. Di situlah nakhoda yang wataknya bertanggung jawab akan paling terakhir keluar kapal. Penumpang-penumpang yang berebut pelampung pasti tidak akan mendahulukan perempuan atau anak-anak karena masing-masing berebut menyelamatkan nyawanya sendiri. 

Adakah watak asli yang rela menolong yang lain dahulu untuk selamat dan baru kemudian dirinya sendiri? Dalam tradisi darurat, tingkatannya tidak menghadapkan orang pada pilihan hidup atau mati pun, watak asli orang akan muncul apa adanya. Di situ dalam darurat pesawat terlambat dan tidak ada informasi kapan berangkat. Apalagi setelah didahului rusaknya sistem komputerisasi sejak pukul 03.00 pada 23 Mei 2013 pesawat Garuda yang lalu dikerjakan secara manual sampai bandara seperti pasar antre dan Jakarta ke Yogyakarta seharusnya berangkat pukul 05.55 pagi, tetapi baru sampai Yogyakarta pukul 09.00 pagi. Maka, watak asli pejabat resmi Garuda akan muncul, apakah ia dengan rela memberi informasi? Pramugari dan kapten pilot begitu pula. 

Dan, para penumpang? Ada yang mengamuk, ada yang memaki-maki, dan ada yang menyalah-nyalahkan petugas. Namun, juga banyak yang dengan sabar menunggu diam dan sopan meminta diumumkan informasi. Dan anehnya, serombongan orang yang akan menuntut ganti rugi menjadi lupa ketika gawat darurat disadari sebagai watak bangsa ini yang tidak pernah siap untuk menghadapinya. 

Apalagi sampai hari ini tidak ada permintaan maaf dan pemberitahuan kejadian hari itu, mengapanya dan bagaimananya ketika teknologi stop? Inikah watak asli kita semua dalam kondisi darurat? Lalu di mana pertanggungjawaban dalam etos kerja? Di mana watak asli dalam slogan kita bisa? Bisa apa? “Bisa” juga bermakna racun, bukan?

Kondisi keempat, adalah kondisi menghayati situasi hidup di luar kenyamanan selama ini. Artinya, situasi yang menaruh seseorang di luar comfort zone, semisal hidup di tengah–tengah kondisi lereng gunung di perdusunan tanpa listrik untuk orang kota. Atau diikutkannya orang muda atau karyawan dalam outbound. 

Kita dahulu merasa keaslian watak muncul ketika kita berkemah pramuka, bahkan latihan-latihannya serta uji-ujian kenaikan tingkat, mulai siaga, lalu penggalang. Dari tugas jaga di pintu gerbang kamar mati rumah sakit sampai ditutup mata berkeliling malam oleh kakak-kakak penggalang, dan ketika dibuka ternyata berada di tengah-tengah kuburan. 

Watak asli takut, ngeri, dan menghindari yang susah serta yang berat-berat akan diuji untuk diberanikan dan diteguhkan menjadi watak pemberani yang penuh semangat maju. Namun, harus disadari dahulu dengan rendah hati, watak-watak asli pengecut mudah takut dan tidak berani pasang badan bertanggung jawab. 

Latihan-latihan tempa diri dan uji watak sedari kecil ini menjadi petunjuk untuk menganalisis betapa pentingnya bina dan pembatinan watak berani pada generasi muda agar kelak saat jadi pemimpin berani bertanggung jawab dan tidak menghindar atau menyuruh orang lain bertanggung jawab.  

Mengapa kita urai kondisi-kondisi di atas ranah ruang kemunculan keaslian karakter kita? Ada dua sebab. Pertama, dalam kondisi di mana yang nomor satu dalam hidup bersama, yaitu mempercayai sesama atau mempercayakan diri pada tanggung jawab di bahu sesama ketika naik pesawat kita mempercayakan diri pada pilot; naik bus malam atau kereta api kita percayakan diri pada sopir dan masinis; lalu bila kepercayaan itu kini banyak sekali diciderai? 

Kondisi di mana lebih banyak distrust lantaran percaya memilih pemimpin untuk pembaruan politik melalui perwakilan rakyat banyak diciderai dan membayar pajak ternyata petugasnya korupsi. Di sinilah alasan kedua mengapa paparan renung watak-watak asli dalam kondisi-kondisi di atas ditempatkan. 

Namun, konteks hidup berbangsa yang seharusnya berwatak untuk mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik, serta punya watak kepribadian dalam kebudayaan yang sudah menjadi visi pendiri bangsa Bung Karno dan pendiri-pendiri lain, ternyata sedang mengalami krisis beratnya. Padahal, bila sebuah bangsa sedang krisis jati dirinya, maka sejarawan Arnold Toynbee mengingatkan lampu merah kehancurannya bila kelompok kreatif tidak segera siuman untuk sadari diri terhadap krisis ini. 

Apalagi kohesivitasnya atau rajutan perekat bangsa mengurai dan meretak, di sanalah renung mendalam mengenai siapa kita sebagai bangsa dengan watak-watak asli harus menjadi refleksi mengaca diri justru dengan satu per satu menguji, siapakah kita dalam kondisi yang menguji keaslian kita. 

Sebab, jalan politik yang memecah rebutan kursi dan kuasa, butuh jalan renung budaya untuk merekatkan kembali rajutan watak berbangsa yang mau saling hormat terhadap kemajemukan, hormat terhadap harkat manusia, dan berjanji saling menyejahterakan sesama warga negara.

Jumat, 24 Mei 2013

Keterputusan Sejarah Peradabankah?


Keterputusan Sejarah Peradabankah?
Mudji Sutrisno  ;  Budayawan, Guru Besar Universitas Indonesia 
KORAN SINDO, 23 Mei 2013


Belakangan keterputusan sejarah peradaban kian nyata dirasakan. Lalu, mengapa sejarah peradaban kita mempunyai keterputusan di dalamnya? Minimal ada limah sebabnya. 

Pertama, semakin sedikitnya guru-guru sejarah yang mengajak anak-anak didik mencintai sejarah bangsa ini. Bila tidak kenal, maka tidak akan sayang. Setelah IKIP menjadi universitas, maka jurusan sejarah semakin kurus, hanya masuk ke salah satu fakultas yang tidak laku (karena sulit untuk dipakai cari nafkah uang dalam iklim kapitalis ini). Akibatnya lagi ruh cinta sejarah dalam profesi guru yang dengan hati mengajak anak-anak didik meminati sejarah pun semakin sedikit. 

Kedua, keterputusan sejarah juga disebabkan oleh ketiadaan jembatan-jembatan penghubung generasi pasca-1970-an yang rela menjadi penuntun jalan untuk cinta museum, mampu memberi narasi makna-makna historis monumen dan tugu-tugu peringatan. Misalnya Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 atau sudah 105 tahun yang lalu, sudah ditonjolkan tokoh-tokohnya ada pada sosok Dokter Soetomo sebagai aktor eksekutor dan dr Wahidin Soedirohoesodo sebagai inspirator. 

Penting duet antara inspirasi dalam pelaksanaan tidak selalu diberi daya dorong edukasi. Terlebih-lebih “dilupakannya” masih adanya satu tokoh inspirator sekaligus kreator, yaitu Suryopranoto yang menegaskan visi pentingnya membentuk kerukunan (pirukunan) dari elite-elite Boedi Oetomo ini untuk perjuangan buat si jelata atau si kromo. Semacam gugatan apabila kemerdekaan yang diperjuangkan Boedi Oetomo tidak dapat pembelaan untuk rakyat miskin, sia-sialah kemerdekaan ini. 

Jadi, sayap elitis terlalu ditampilkan dalam sejarah, namun sayap “populis” dilupakan untuk ditampilkan, apalagi sejak arus sejarah Indonesia yang sosialis dan populis pro-buruh dan tani “dipergikan” dari bumi Indonesia pasca-1965. Ketiga, pengajaran sejarah sebenarnya punya bahan lengkap, yaitu data-data sejarah dan para sejarawan penafsirnya. 

Keterbukaan untuk melihat berbagai pelaku dan peristiwa sejarah yang diselidiki terus demi cinta bangsa semestinya membuka budi untuk berani belajar merenungi antagonis beda kepentingan tafsir untuk ideologi dan kepentingan edukasi untuk cinta sejarah bagi anak-anak cucu kita. Misalnya, kejujuran untuk mengatakan bahwa terlalu banyak tugu peringatan atau monumen itu berwatak militeristik perjuangan senjata karena monumen-monumen diplomasi, sipil selalu tidak berada dalam kekuasaan fisik mampu membangun monumen. 

Tidaklah api Kebangkitan Nasional 1908 dari Boedi Oetomo pada pesta peraknya (25 tahunnya) diperingati di Solo dengan Tugu Lilin di Penumping? Saat itulah penulis semasa remaja selalu aktif dalam kegiatan pramuka di Tugu Lilin itu dan pendidik memberi penerangan cerah hubungan antara “ruh Tugu Lilin Solo” dan “ruh pramuka” serta bahasa keindonesiaan yang setiap upacara bendera kata kunci lagu Indonesia Raya dengan “jadi pandu Ibuku” yang adalah Indonesia bergaung mantap dan penuh semangat. 

Keempat, siapakah yang masih melanjutkan jembatanjembatan narasi sejarah bangsa inijugaketika generasikinisudah beralih dari tulisan buku ke visual sentuhan jari meski belum semuanya, hanya di kota-kota besar? Keterputusan sejarah terjadi di sini manakala budaya lisan masuk ke budaya buku tulisan, namun generasi kita belum mengakar untuk baca dan tulis yang butuh diam hening tekun membaca dan fokus konsentrasi, tetapi sudah dihajar oleh lisan kedua “digital visual” yang meretak-retak dalam entertainment tanpa catatan tulis. 

Karena itu, 10 jam di depan media visual televisi dan iPad bila tidak tahu mencari info dan pencerahan akan habis waktu tanpa endapan nilai apa pun selain kesenangan, just fun! Kelima, perang kepentingan atau interest antara yang pragmatis, praktis, jalan pintas melawan kepentingan menanamkan kesadaran bahwa hidup itu sebuah proses jatuh bangun harus dimenangkan oleh yang kedua bila sejarah kita tidak mau terputus. 

Sebab, pembiasaan yang dalam tradisi dinamai proses internalisasi mengenai yang baik, yang benar dan indah, serta suci sumber hidupnya ada pada keteladanan. Beribu-ribu ajaran kognisi pengetahuan dan hafalan akan percuma apabila sosok yang berjasa untuk sejarah kita, yaitu para pendiri bangsa, guru-guru bangsa, mereka-mereka pahlawan tanpa nama karena pengorbanan demi merdekanya bangsa ini. Kini sulit ditemukan lagi pada tokoh-tokoh, pesohor kita yang lebih banyak menjadi contoh jelek dan negatif. 

Oleh karena itu, nomor satu kita harus rajut kembali sejarah yang putus dengan reformulasi babakan sejarah nasional yang diisi sejarah-sejarah lokal secara terbuka. Kemudian kita sadari diri untuk mengenalkannya agar mencintainya dengan media-media yang paling menjadi pegangan sarana generasi muda kini. Prinsipnya, dengan masuk melalui “pintu mereka” agar keluar dengan pintu kecintaan sejarah mengenal dengan peduli. 

Sebab yang tidak mau belajar sejarah, ia akan melakukan kesalahan sejarah dua kali, dan yang tidak peduli akan bernasib seperti keledai yang jatuh terperosok dalam lubang mendalam sampai cacat berjalan kemudian. Hanya dengan kemauan rendah hati mengakui keterputusan sejarah peradaban kita lantaran ingatan pendek, abai, dan tidak pedulinya kita sendiri. 

Kita akan sadar merajut kembali benang-benang putus situs-situs yang saat ini butuh sekali guru-guru peradaban, ahli-ahli baca prasasti, pemikir dan penerjemah dengan keahlian menafsir bahasa Sanskerta dan bahasa-bahasa prasasti yang semuanya butuh asketisme intelektual yang sepi perhatian dan yang sunyi tepuk tangan, seperti diingatkan oleh sejarawan terkemuka kita, yaitu Prof Sartono Kartodirdjo. Jangan menjadi cendekiawan model pohon pisang yang sekali berbuah, lalu selesai! Tantangan buat kita semuakah?

Jumat, 12 April 2013

Mekanisme Psikis “Survival”


Mekanisme Psikis “Survival”
Mudji Sutrisno ;  Guru Besar STF Driyarkara & Universitas Indonesia, Budayawan
KORAN SINDO, 12 April 2013
  

Ketika ludah itu disemburkan ke wajah guru, sekolah itu menjadi gempar dan gaduh riuh. Mengapa yang meludahi, yang selama ini dikenal cukup santun meski bila bicara apa adanya apalagi bila mengkritik yang tidak benar, 

tega meludahinya di depan murid-murid apalagi di sekolahan yang termasyhur mengajarkan bagaimana rasionalitas akal budi harus jadi pandu perilaku dan tindakan? Belum lagi kepala guru datang bergegas, tiba-tiba kepalan tangan berlanjut meninju guru yang diludahi itu hingga darah menetes dari hidungnya. 

Mengapa ledakan dendam yang menurut Freud telah masuk mengeram di bawah sadar sekian waktu kini diledakkan dalam tindakan meludahi dan memukul hidung sang guru lain? Korbankah ia? Ketika murid-murid mulai bergerak untuk memisahkan mereka, tiba-tiba rentetan peristiwa ini berhenti mendadak seperti film yang tersedak rohnya lalu mati. 

Huh, ternyata hanya mimpi! Si peludah bangun menggosokgosok mata yang masih mengantuk lalu tersenyum sendiri dan bersyukur karena kejadiannya hanya mimpi. Ia lega karena tidak sungguh-sungguh jadi meludahi dan memukul tangan si guru itu. Sebab bila benar terjadi, dua hal akan langsung disebarkan. 

Yang pertama, ia dituduh pelaku kekerasan, padahal di sekolah itu dikhotbahkan terus moralitas kasih dan etika damai. Yang kedua, analisis psikis Freud memang sedang menjadi minatnya ketika mimpi dipandang sebagai keinginan obsesif yang tidak dapat disalurkan di alam nyata karena tata superego yang melarang tindak kekerasan apalagi menyakiti sesama meskipun balas dendam mempermalukan akan diwujudkan dalam tindakan balik mempermalukan pula. 

Mimpi di atas adalah petunjuk bahwa alam sadar oleh kesantunan dan superego sosial atau “adat mempermalukan harus sopan” kerap kali hanya bagian permukaan es terapung di atas air. Di bawahnya tersimpan alam bawah sadar yang tiap kali mau agresif diletuskan, tetapi lagilagi dicegah oleh superego yang berkata “jangan lakukan” hingga akhirnya keluar dan terwujud dalam alam mimpi yang melegakan karena bisa lepas dan keluar! 

Maka, menurut Freud, nurani itu negatif cirinya karena ia itu superego, hunjaman, introjeksi hukum, norma, dan aturan yang dihunjamkan ke manusia “kecil” balita yang belum mampu memakai kesadarannya untuk memilah yang baik dan yang buruk. Karena itu pula Freud menengarai pentingnya fungsi kesadaran untuk membereskan “gudang bawah sadar” yang menyimpan kemarahan, dendam, mau menghantam tak bisa karena aturan sopan apalagi hasrat menghancurkan lawan yang mempermalukan berikut pengalaman-pengalaman traumatik orang di usia dininya. 

Peran mimpi itu membuat sehat struktur pribadi psikis orang karena meleluasakan, membuatnya terlaksana balas dendam sakit dan luka batin hingga gudang bawah sadar terkurangi isinya. Hasrat untuk hidup, yang berarti harus berjuang demi kelangsungannya (survival), merupakan erosyang memberi daya pelihara dan rawat pada kehidupan. Oleh Freud ini adalah life culture. 

Apa artinya? Untuk Freud, kebudayaan itu “ambigu”, mendua, yang satu sumber daya perawat kehidupan, adapun yang lain adalah penghancur atau perusak kehidupan sampai mematikan hidup itu sendiri. Inilah death culture yang bersumber pada tanathos.
Karena kebudayaan di mata Freud itu “berwujud dua”, maka pertanyaan berikut yang muncul adalah siapa sesama atau orang lain bagi si ego? 
Freud memulai dengan contoh keponakannya yang masih balita sedang becermin. Setiap kali si anak menatap cermin dan mulai berbahasa sambil menyadari ada dia yang lain di cermin, ia sekaligus masih bingung kok sama rupa dan sama wajah. Pokok ini diperdalam fase cermin anak oleh Jacques Lacan dan jadilah bahasa menjadi penempat yang lainatausesamasebagai alterego. 

Menarik sekali menaruhnya dalam fenomena meniadakan eksistensi yang lain atau sesama dengan mendiamkannya, tidak menyapanya dalam bahasa. Coba lihat “orang lain” yang dibenci atau sedang dianggap tidak ada maka tidak diajak bicara, tidak disapa. Dalam kultur Jawa lebih membunuh eksistensi orang lain itu dalam fenomena jothakan: mendiamkan saat ketemu dan meniadakannya dengan tidak mengajaknya bicara. Sebuah proses bahasa yang meniadakan adanya sesama. 

Apakah ini dendam yang diungkapkan dengan bahasa mengacuhkan? Apakah ini mekanisme psikis melalui bahasa untuk “menghukum balas orang lain”? Banyak orang tidak tahan didiamkan karena tidak diberi perhatian, tidak disapa, ditiadakan. Di balik peniadaan bahasa sapa atau penghentian perhatian ke orang lain bila terjadi dalam masyarakat publik akan memunculkan masalah “apatisme sosial” yang akut. 

Apalagi kalau yang diabaikan adalah para pejabat publik yang sudah mengecewakan publik karena perbaikan keadilan, kesejahteraan tidak kunjung datang. Puncak apatisme publik pada pemangku jabatan adalah distrust, tidak memercayai mereka lagi karena seharusnya pelayanan publik merupakan amanah yang tiap pemilu diberikan oleh masyarakat dengan memilih mereka secara tulus. 

Namun, ternyata janjijanji kesejahteraan tetap omong kosong dan pameran kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarga serta partai politik menjadi tontonan hasilhasil korupsi. Lalu dibentuklah KPK, semula distrustmulai berproses menjadi trust kembali. Namun bila politisasi KPK yang diharap akan memulihkan praktik negara kesejahteraan tetap tidak terwujud, hal itu akan berdampak pada membekunya kembali apatisme yang di satu pihak diam mencatat di hati dengan skeptis dan kesangsian akan perbaikan. 

Di pihak lain, mempertanyakan dalam diam ke diri sendiri barangkali harapan (ekspektasi) perbaikan terlalu besar. Akhirnya, ditaruhlah sikap cuek dan mendiamkan itu ke bawah sadar. Kadang dilarikan ke alam mimpi hingga muncul ludah-meludahi serta hasrat meninju sesama hingga berdarah- darah dalam “mimpi”. Mekanisme ini membuat bisa bertahannya keseimbangan psikis masyarakat. 

Namun bila ditumpukan dendam atau beban tak terbendung begitu penuhnya akan “meledak keluar” dalam anarki amuk yang kacau atau aksi menghukum anarkistis. Sisi lain, di saat ada kesempatan seperti Pemilu 2014 nanti massa akan menghukum dengan tidak memilih mereka atau menjadi golput sebagai lanjutan sikap menganggap tidak adanya pemilu atau siapa pun calon-calon pejabat. Sebelum terlambat, bukankah lebih baik kita sadari persoalan bangsa ini dengan menatap cermin pilihan antara death culture atau life culture. 

Kamis, 14 Maret 2013

Tanggung Jawab


Tanggung Jawab
Mudji Sutrisno SJ   Guru Besar STF Driyarkara dan 
Universitas Indonesia, Budayawan    
SINDO, 13 Maret 2013

  
Menanggungjawabi adalah sebuah tindakan berani untuk memikul risiko akibat baik maupun buruk pilihan tindakan (moral) dari subjek pelaku itu sendiri. 

Ciri khas tanggung jawab adalah tidak lari atau melemparkan ke orang lain begitu tahu berakibat merugikan dan mengancam keselamatan dirinya. Berikutnya berciri tidak menyalahkan keadaan, alam sekitar di luar dirinya karena ia sadar sebagai pelaku yang punya otonomi nurani dan budi dewasa. 

Yang terakhir, pribadi yang bertanggung jawab adalah tidak mengambinghitam-kan orang lain sebagai yang disalahkan serta tidak lempar-melempar tanggung jawab atau “cuci tangan” untuk mengatakan bersih dari tuntutan bertanggung jawab. Contoh sejarah yang masyhur dalam hal ini adalah Pontius Pilatus sebagai yang mempunyai tanggung jawab bisa melepas atau menghukum Yesus, tetapi akhirnya tidak berani menanggungjawabi ketika massa memilih Barabbas sebagai yang dibebaskan, padahal ia tahu Yesus tak bersalah.
Apalagi Pilatus akhirnya mencuci tangannya karena ingin tampil bersih seakan penuh tanggung jawab, tetapi sebenarnya lepas tangan dan lepas tanggung jawab. Bertanggung jawab sebagai mentalitas merupakan proses panjang pendidikan moral pada orang sejak masih bayi, remaja sampai dewasa yang butuh “kognisi” dan “pembatinan” apa yang baik (etis), apa yang benar (pengetahuan dan ilmu), yang suci (religiositas sebagai inti religi) serta yang indah (estetis) dari kehidupan. 

Ranah pendidikan yang hanya memberikan kognisi belaka akan menjadi banyak orang “tahu” dan berpengetahuan tentang hal baik, tetapi hanya di otak dan dihafalkan serta tidak mempraktikkannya dalam praksis tindakan. Maka untuk menjembatani jarak atau “jurang lebar” ini diproseslah internalisasi, yaitu membatinkan sampai menjadi sikap dan darah daging dalam proses pendidikan mulai yang mengajak live in, penghayatan langsung dalam hidup nyata itu sendiri disertai contoh-contoh keteladanan figur-figur orang di sekitarnya. 

Seorang pendidik yang praktik soal ini menamai proses penyadaran itu berlangsung dengan “aksi” lalu merefleksi dan kemudian aksi lagi. Proses pembatinan kebaikan dan nilai dilakukan terus dengan “konsientasi” sebagai menyadari itu bukanlah mengetahui tentang yang baik (sebagai pengetahuan kognitif), tetapi memasukkan ke keheningan budi dan nurani hingga masuk meresap dan “menancap” dalam kesadaran seseorang. 

Proses konsientasi ini didalami dan didarahdagingkan melalui medium pokok relasi antarmanusia, yaitu “komunikasi bahasa”, inilah isi pokok pandangan Paulo Freire. Freire melihat bahasa pengaksaraan sebagai tindakan “menamai realitas”. Alfabetisasi adalah kodrat manusia untuk memuliakan hidup sebagai “baik” dan “benar” dengan membuat kalimat logis (benar nalar) dan baik (pujian syukur) atas hidup di sekitarnya, atas apa-apa yang ada di sekelilingnya. 

Mengapa? Karena manusia adalah makhluk pemberi makna atau homo significans. Konsekuensinya dari budi yang jernih dan hati yang baik, si orang akan berkata baik, tulus, dan berbahasa benar serta tidak bohong. Freire menaruh penamaan tanggung jawab manusia sejak ia belajar mencintai hidup dengan berbahasa. 

Para ibulah pendidik relasi bertanggung jawab antara ibu yang melahirkan dan anak yang dilahirkan dan diantarkan untuk memahami dan mencintai lingkungan sekitar dengan aksara: mama, ibu, bunda. Relasi yang saling merengkuh dan saling bertanggung jawab ini secara tulus diungkap dengan bahasa tulus, kata-kata jujur, dan terus dikembangkan sampai ibu bahasa pun nantinya mendidik lawan kontrasnya, yaitu “kata-kata kotor, bohong, dan culas” yang tidak bertanggung jawab. 

Maka dari itu, herankah kita pada salah satu praksis waktu internalisasi tentang tanggung jawab semasa anakanak di kultur kita? Bila anak tersandung batu kemudian ibu kita demi agar anak berhenti menangis lalu memukul- mukul batu yang membuat tersandung, ini berarti yang disalahkan adalah “batu” dan bukan mendidik anak untuk hati-hati dan bertanggung jawab dalam berjalan agar tidak tersandung! 

Penjelasan psikologis sosial dan sosiologis bisa masuk akal menurut F Tonnies yang membagi adanya masyarakat kolektivis (kerumunan dan gerombolan untuk yang senang beramai-ramai bersama) dan masyarakat individu yang menaruh pribadi sendiri sebagai pelaku penanggung jawab tindakannya. 

Lihat tawuran-tawuran sebagai fenomena gerombolan berani ramai-ramai, tetapi bila sendiri lain soalnya. Garis bawah tanggung jawab komunal bersama yang terlalu ditanamkan hingga keberanian menanggungjawabi sendiri tidak tumbuh juga ditunjuk oleh peta adanya masyarakat kekerabatan komunal, yaitu gemeinschaft dan masyarakat gessellschaft atau society. 

Yang satu komunalis dan yang kedua itu masyarakat yang terbentuk oleh rasionalitas, diwujudkan menjadi bertemu diikat oleh kontrak atau konvensi rasional. Yang jadi perhatian pokok kita adalah tanggung jawab pribadi dalam masyarakat dan tanggung jawab komunal dalam kekerabatan di mana pribadi yang jadi kepalanya itu merupakan yang di-tua-kan oleh komunitasnya.

Apakah latar budaya nilai berjenjang komunal yang dituakan menjadi penjelasan yang memadai untuk menunjuk susahnya tanggung jawab sendiri? Jawaban pertama, kembali ke ranah edukasi tentang manusia pelaku hidup dan penanggung jawab tindakan-tindakannya oleh pembatinan kesadaran moral bertanggung jawab dan mau mengorbankan diri untuk nilai ini beserta keberanian menanggung risikonya, apakah ini berproses ada atau tidak? 

Mochtar Lubis almarhum dalam novel Harimau-Harimau (1970-an) sudah memaparkan dalam bahasa novel kunci kedewasaan bangsa ini terletak pada mau tidaknya kita berubah dari gerombolan menjadi keberanian mengarungi hidup dengan tanggung jawab pribadi. Bila tidak kita akan menjadi gerombolan terus-menerus yang akhirnya akan dimakan harimau keangkaraan diri kita sendiri yang butuh kita bunuh. 

Tidak kurang-kurangnya bahasa kebijaksanaan laku hidup sudah dirangkum “selalu aktual”, tidak lekang oleh panas atau hancur oleh hujan dalam ajaran pepatah atau peribahasa mendidikdiridikenyataannyata sehari-hari bahwa tidak baiklah cara-cara dan sikap-sikap mental “lempar batu sembunyi tangan”, artinya licik pengecut tidak berani bertanggung jawab secara publik. 

Sudah dari ketulusan motivasi nurani dan hati, diujilah dalam hening pertimbangan awas lho Anda bisa-bisa punya kelicikan kepentingan gelap, yaitu “ada udang di balik batu”. Atau pula memukul seseorang dengan meminjam tangan orang lain, nabok nyilih tangan, sehingga ketika seseorang berani bertanggung jawab dari manusia Nusantara lalu menjadi manusia Indonesia yang memiliki prinsip acuan hidup, yaitu “berani karena benar dan takut karena salah”. 

Maka inilah kunci local wisdom yang menjadi national wisdom, bahkan kini seharusnya menjadi inti keberanian untuk menanggungjawabi tiap tindakan kita lantaran itulah life wisdom, sebuah kebijaksanaan hidup. Semoga dalam politik yang saling berebut kuasa karena tiadanya moral tanggung jawab dan dalam ekonomi yang mengejar harta sendiri tanpa peduli sesama, kita diingatkan ajaran hidup menanggungjawabkan perilaku! ● 

Kamis, 21 Februari 2013

Ranah dan Jalan Kebudayaan


Ranah dan Jalan Kebudayaan
Mudji Sutrisno Guru Besar STF Driyarkara & Universitas Indonesia, Budayawan
SINDO, 21 Februari 2013



Raymond Williams menaruh ranah budaya dalam tiga wilayah (The Long Revolution 1975; Culture, 1981). Wilayah pertama merupakan “ranah konsep”, yaitu wilayah manusia memproses penyempurnaan diri teracu dan tertuju pada makna pokok universal tertentu.

Rumusan ini mendeskripsi kehidupan dan tata acuan makna universal yang selalu dihidupi,sistem kepercayaan dan keyakinan tentang arti atau makna hidup. Wilayah kedua,kebudayaan sebagai “ranah catatan dokumentasi praksis kehidupan”,di mana kehidupan dihayati sebagai “teks” yang mencatat struktur imajinasi, pengalaman, dan pemikiran manusia. 

Ranah ketiga, ranah-ranah rumusan kemasyarakatan kebudayaan sebagai “penandaan” jagat hidup tertentu yang di dalamnya kajian-kajian budaya merupakan usaha dan ikhtiar untuk mengontruksi perasaan dalam “adat”, kebiasaan, dan struktur mentalitas yang dipakai untuk menghayati kehidupan. Karena itu,kebudayaan dipahami pula sebagai “tata acuan nilai-nilai hidup” perjalanan bermartabat bagi anak-anak dari rahimnya, baik individu perorangan maupun sebagai komunitas. 

Anyaman dan rajutan tata nilai untuk ziarah perjalanan hidup bersama dari individuindividu itu agar semakin bermartabat sebagai manusia telah membuat jalan kebudayaan menjadi jalan peradaban. Di situlah, kebudayaan merupakan “ruang hidup intuitif”, tempat citarasa estetis yang merayakan dan memuliakan kehidupan dalam tari, ketika keindahan gerak alam dan gerak hidup ditarikan. 

Dalam nyanyi, manakala kehidupan disyukuri kidung berkidung.Itulah wilayah seni cita rasa dan intuisi religius serta estetis dari kebudayaan. Sebagai anak yang lahir dari rahim kebudayaannya, manusia sekaligus lahir dari kebatinan hening lokalitas sukunya, kearifan lokalnya dengan keragaman kekayaan kearifan mengenai kehidupan. 

Pepatah “tak ada rotan akar pun jadi” berarti daya arif kreatif berusaha untuk mencipta terus yang lahir dari rahim budaya agraris dan tanah sama bijaksananya dengan pepatah “di mana bumi dipijak di situlangit dijunjung”, yang lahir dari kearifan untuk menghayati hormat pada langit yang “di atas” dan ramah pada sesama yang dibumi horizontal ini—baik alam maupun antarmanusia.

Manusia adalah makhluk yang berusaha terus-menerus mencari makna dalam hidupnya. Dia juga terus-menerus mengacu hidupnya pada apa yang dipandang berharga sebagai baik,benar,dan indah dalam menghayati dan menapaki kehidupan baik sebagai individu maupun sebagai komunitas. Dalam dirinya terdapat kemampuan untuk memahami secara akal budi (baca: kemampuan kognitif) mengenai kenyataan dan memaknainya untuk mengetahuinya secara kognitif. 

Dia mempunyai pula potensi afektif, rasa untuk mengagumi dan mengembangkan keindahan (rasa estetis). Di samping itu, manusia memiliki kemampuan religius untuk menghayati kehidupannya dalam menjawab dan mengartikan ke mana arah perjalanan hidupnya dan dari mana asalnya. Pemikiran ini memandang kebudayaan sebagai “kemampuan-kemampuan dalam diri manusia perorangan”. 

Dengan kata lain, kebudayaan dalam diri manusia orang per orang dikatakan pula sebagai kemampuan “cipta” dalam budi, “rasa” dalam kedalaman hati dan nurani serta “karsa” dalam kehendaknya. Lalu, di manakah kebudayaan dikenali dan dibaca? 

Pertama,pada sumber-sumber oasisnya,kebudayaan diungkapkan dalam bahasa yang meliputi sintaksis, grammar, dan makna kata dalam kamus yang menuliskan dan mewacanakan realitas dunia di mana manusia hidup dan merajut kebudayaannya. Tahap pertama ini menuntut pembaca budaya dari bahasa logis ke tulis serta simbolis, semiotis. 

Kedua, kebudayaan oleh masyarakat pendukungnya diungkapkan, ditradisikan lewat peribahasa, tradisi dongeng kebijaksanaan, mitos, ritual, simbol, ingatan-ingatan kolektif, adat kebiasaan, dan tanda serta salam penghormatan. Membaca kebudayaan tahap dua ini membutuhkan pemahaman dan pengenalan yang tidak hanya rasional, tetapi intuitif untuk masuk dan mencoba memahami epistemologinya (local knowledge). 

Ketiga, kebudayaan dilembagakan dan dimantapkan dalam sistem organisasi dan masyarakat yang meliputi pengaturan hidup bersama agar saling damai menghormati. Di sini pengertian struktur sebagai cara pengaturan rasional terhadap hidup bersama harus dipahami berjenjang dari sesuatu yang organik menjadi sesuatu yang organisasional. 

Keempat, tahapan kebudayaan yang menarikan dalam tari, menyanyikan kehidupan dalam musik; menuliskannya dalam susastra tulis maupun sastra pengisahan lisan,legenda dan kisah pahlawan,serta ideal hidup baik yang sering dikenal sebagai etos. Di sini bacaan kebudayaan membutuhkan bingkai nilai dan pemahaman estetis,religius dan etis,artinya pembacaan memakai bingkai intuisi keindahan dari kehidupan dalam tari dan nyanyi serta empati religius etis tingkah laku dan tindakan-tindakan yang dipilih untuk dijalani oleh komunitas itu. 

Kelima, sebagai acuan citacitadanapayangdipandangberharga, kebudayaan pada tahap ini harus dibaca dari norma, aturan tingkah laku, pantangan serta tabu yang mengatur hubungan bersama anggotanya, tapi juga ritual kematian serta rites of life passages. Di sini ‘kami’ secara kultural berarti kurang dalam berhadapan dengan ‘mereka’, yaitu orang luar atau orang asing. 

Maka membaca kebudayaan tidak cukup hanya menelitinya secara kuantitatif, tetapi secara kualitatif serta dialog hati ke hati diperlukan. Oleh karena kaya dan luasnya tahapan budaya dan dipahaminya kebudayaan sebagai dinamika yang terus-menerus untuk menjalani hidup anggota-anggotanya dalam jagat makna dan arti, maka kata kerja kebudayaan manakala dipakai untuk proses sadar meng-Indonesia butuh perumusan strategi. 

Artinya, sebuah visi awal kultural etnik, agamais, mulai dari kebinekaan, suku, agama dan kepercayaan menjadi agenda cita dan aksi peradaban seturut Mukadimah Konstitusi 1945 dan dijabarkan dalam politik kebudayaan, yaitu dalam format bernegara yang demokratis, adil, dan beradab serta berkepastian hukum.

Dari paparan di atas dapat dicatat bahwa jalan kebudayaan mempunyai kekuatan hakikinya karena kebudayaan dengan kemampuan-kemampuannya yang merawat, merayakan, dan memuliakan kehidupan merangkumkannya dalam “sistem nilai”. Hakiki, karena kebudayaan menjadi sumber bahasan sebelum dibahasakan dalam aturan atau hukum mengenai apa yang baik (etika), apa yang benar (ilmu pengetahuan epistemologi) serta apa yang indah (estetika) serta yang suci (religiositas). 

Lalu apa itu nilai? Nilai adalah sesuatu yang dipandang berharga oleh seseorang atau kelompoknya yang dipakai setiap hari untuk acuan laku dan ia wujudkan dalam perilakunya. Rumusan ini sebenarnya abstraksi saja dari yang sudah terpaparkan di depan tadi yang dari kemajemukan penyusun keindonesiaan disumbangkan oleh kekayaan religi bumi dan samawi, serta kearifan-kearifan lokal keragaman suku-suku Nusantara yang mengindonesia setelah proklamasi politis bernegara Republik Indonesia dengan ranah kulturalnya yang “bhinneka tunggal ika”. 

Pepatah, peribahasa, gurindam dan kisah-kisah kearifan lokal serta musik etnik,tari dan saga-saga folklore sekawanan jenisnya ini merupakan ungkapan pembatinan nilainilai yang diekspresikan untuk satu tujuan, yaitu memuliakan hidup dan mengajak anggotaanggota masyarakatnya untuk merawat hidup ini dengan arah semakin bermartabatnya sebagai manusia dalam hidup bersama. 

Maka, ketika perjalanan hidup membangsa terlalu gaduh riuh menghayati jalan politik yang adu kekuasaan dan rebutan kursi dengan nilai kalah menang yang tega untuk saling menyodok dan menjatuhkan, maka pilihan kembali ke jalan kebudayaan sungguh perlu diambil dan ditapaki. Pula, ketika jalan ekonomisasi terlalu disempitkan dan direduksi pada apa yang bernilai menguntungkan saja dan mencampakkan yang merugikan, bahaya “Homo economicus” yang tega saling memakan untuk keuntungannya sendiri mesti dikritik. 

Mengapa jalan kebudayaan harus dihayati sebagai solusinya? Sebab kerja-kerja kebudayaan sebenarnya merupakan kerja untuk membuat hidup bersama sebagai bangsa majemuk ini agar secara kultural, struktural semakin “manusiawi”. Artinya, semakin saling menyejahterakan satu sama lain dan negara dengan edukasinya, kesehatannya, hukum adilnya, program ekonomi prorakyat dan bukan propasar melulu serta kerjakerja penyejahteraan sebenarnya menapaki jalan yang harus semakin menuju peradaban. 

Artinya, dari kondisi tega saling mengerkah sebagai serigala (Homo homini lupus) menuju ke kondisi hidup bersama di mana sesama adalah rekan atau sahabat untuk Indonesia yang adil, beradab dan sejahtera saling menghormati (Homo homini socius). 

Di sinilah pendekatan kebudayaan yang melihat realitas masyarakat dalam berbangsa dan bernegara dari sudut pandang mentalitas manusianya,“nilai yang diacu” oleh individu maupun bersama menemukan relevansinya ketika kita sedang sulit untuk menghayati nilai saling percaya dan nilai mau peduli serta toleransi pada keragaman kita. 

Tidak cukup penyadaran sebagai pengetahuan kognitif. Tidak pula cukup hanya teknis instrumentalis pragmatis namun butuh jalan panjang menghayati proses pembatinan, keteladanan, dan kerendahan hati mau saling belajar satu sama lain dan mau saling berbagi dan bukan rebutan tanah dan air serta kekayaan bumi pertiwi ini. ●

Jumat, 04 Januari 2013

Kultur yang Sakit


Kultur yang Sakit
Mudji Sutrisno ; Guru Besar STF Driyarkara dan Universitas Indonesia, Budayawan 
SINDO,  04 Januari 2013


  
Kultur adalah hidup sehari-hari dalam perilaku dan sikapnya menghadapi kenyataan, yang ingin diberi makna. Kultur adalah pula ranah menghayati hidup dengan mengacukannya pada yang suci, yang benar, yang baik dan yang indah lalu menjadikannya laku tindakan nyata. 

Kultur yang sehat merupakan acuan pelaku dalam sosialitas atau komunitas untuk secara pribadi memberi makna pada hidupnya dan mencari acuan nilainya untuk penghayatan hidupnya dalam temu bersama, srawung bersama agar saling hormat akan harkat dan keunikan perbedaan ditenun menjadi rumah bersama yang damai sejahtera. Maka kultur yang sehat secara sosial adalah ranah di mana pribadi dan komunitasnya menapaki acuan sejahtera sebagai nilai bersama dimana tidak seorangpun boleh dikucilkan atas nama beda suku, beda religi, beda ras dalam berbangsa yang berharkat di sebuah perjuangan terus-menerus untuk merajut keadaban.

Apa itu keadaban? Adalah penghayatan laku kultur untuk menghormati martabat setiap manusia tanpa kecuali atas dasar harganya, nilainya sebagai manusia, titik! Dalam merenda, merajut, menenun hidup bersama itulah kultur yang sehat menjadi “oksigen” bagi napas anggotaanggota komunitas yang dengan keadaban terus memperjuangkan bahasa-bahasa akrab secara ekonomis adalah pemerataan, secara politis adalah kesetaraan hak dan kewajiban warga negara, bahasa keadaban secara sosial kultural adalah sejahtera, secara hukum adalah keadilan.

Perjalanan menjadi Indonesia adalah perjalanan bersama dari kemajemukan suku, religi, ras untuk konsensus menjadi bangsa yang berkeadaban tanpa diskriminasi lalu sepakat 1908, 1928, 1945 menegara Republik Indonesia dengan format tata bernegara yang paling “mewadahi” keragaman identitas-identitas subkultur, religi itu dalam sistem politik demokrasi di mana daulat rakyat yang majemuk dengan kesamaan hak di depan hukum menjadi esensinya.

Maka dalam keragaman identitas kultural itulah lalu disepakati kepastian wasit aturan main konstitusional dalam negara hukum.Perbedaan yang saling menghormati dan damai relasinya dalam keragaman bila menjadi anarkistis dan menghancurkan harkat sesama warga negara akan berhadapan dengan hukum yang adil untuk menjaga keadaban dan menghukum kebiadaban. Kultur yang sehat akan memberi ruang tiap warganya untuk secara pribadi dan bersama dalam saling hormat untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya (dalam ilmu dan pengetahuan), kemampuan rasa dalam estetika, kemampuan refleksi asal usul hidup dan maknanya dalam yang suci sebagai kemampuan religius serta kemampuan menimbang tindakan baik dan buruk dalam etika. 

Dengan kata lain praksis kehidupan yang dihayati dalam kemampuan-kemampuan di atas oleh pribadi dan dalam kebersamaannya di ranah makna dan acuan nilai (baca: apa yang benar, apa yang suci, apa yang baik,dan apa yang indah dalam kehidupan) dikatakan pula sebagai kebudayaan sebagai kemampuan-kemampuan cipta dalam budi, rasa dalam kedalaman hati, nurani serta cipta dalam kehendaknya. Jalan kultur(al) adalah jalan merancang, membuat nyata sistem hidup bersama dalam politik, ekonomi, sosial dengan sudut refleksi, sudut pandang atau dimensi kebudayaannya bertujuan peradaban dan bukan ketidakadaban! 

Meletakkan realitas hidup bersama kita saat ini dalam bingkai cermin jalannya kultur kita, ditemukan kondisi sakitnya kultur kita. Fenomena-fenomena kultur sakit itu adalah sebagai berikut. Pertama, dilupakannya habitat hidup bangsa ini dari budaya tanah dan air.Mengapa? Lihatlah, sungai-sungai kita, abad kedelapan lalu berbanding dengan bangsa Asia Tenggara lain, sungai-sungai kita masih menjadi urat nadi perjalanan dan sumber-sumber bangsa tani. 

Lihatlah pula wajah laut atau bahari kita sekarang, kekayaan alam laut dicuri tetangga dan nasib nelayan-nelayan kita serta pesisir dan pelabuhan-pelabuhan bahari kita mengalami kemunduran. Yang paling menyedihkan adalah ketika tanah subur sawah, hutan, kebun di bawahnya ditemukan aneka tambang-tambang berharga mineralmineral dan minyak bumi lalu “dihancurkanlah” tanahtanah itu dan direbutlah dari para petani dan perkebunan sehingga hutan bopeng-bopeng, tanah-tanah hancur, dan kini air tanah disedot habis oleh perkebunan kelapa sawit. 

Budaya air, tidak hanya dilupakannya budaya sungai, tetapi juga “kejayaan laut” semasa Sriwijaya serta pulau-pulau rempah Banda, Maluku yang sampai salah satu pulaunya ditukar oleh Kolonial Inggris dan Belanda dengan Manhattan kini menjadi pulau yang saling memisah karena pola pikir salah tentang lautan. Yang benar ialah di wilayah lautanlah kita hidup lalu pulau-pulau menjadi situs-situs, tempat-tempat hidupnya dan yang keliru adalah pikiran kita hidup di pulau-pulau dipisahkan oleh lautan. 

Karena itulah kultur sakit ini membuat seorang Pramoedya menulis novelnya Arus Balik (1980-an) untuk menunjukkan betapa selama ini kita itu berpikir dan bermentalitas melulu “daratan” dan bukan lautan! Konsekuensinya dalam ekonomia berpikir dan mentalitas daratan itulah jalan-jalan darat dikembangkan mengikuti Daendels Anyer-Panarukan dan kita teruskan pembangunan jalan-jalan darat dengan toltol untuk para pedagang mobil dan kini pedagang-pedagang motor. Kedua, ketika perjalanan kultur bangsa ini dikonstruksi dan harus melalui bahasa sebagai komunikasi warganya, tengoklah indikasi saling tidak percaya dan keras cemoohnya antarkita dalam berbahasa. 

Belum jelas apakah pejabat digeser atau diganti dalam sebuah partai politik, tetapi demi keriuhan yang teriak keras dan menyengat dipakailah kata-kata pecat-memecat, copot-mencopot antarkita yang berakal budi, berpendidikan. Belum lagi wacana saling menghancurkan melalui kekerasan kata-kata yang Anda semua bisa temukan di demodemo, di internet, dunia maya. Lebih halus tetapi tidak mencerdaskan; fenomena, gosip, kasak-kusuk bahkan menjadi judul rubrik-rubriknya. 

Namun kultur sakit dalam berbahasa yang sudah diajarkan menancap ke kesadaran dan bawah sadar sejak represi rezim lalu membuat bahasa memperhalus eufemisme untuk tidak jujur antarkita terus menjadi tradisi memakai bahasa yang tidak jujur dalam berbahasa. Kultur sakit dalam ungkapan berbahasa merupakan abainya edukasi kesantunan dalam salam-menyalam antara saudara-i sebangsa yang ranah budayanya ada diedukasi berbahasa santun di keluarga, sekolah-sekolah melalui metode dan praksis laku bahasa dengan hati, dengan rasa sastra dan rasa seni.

Bila porsi kognisi dan hafalan terlalu banyak, hati dan rasa berbahasa halus dan sopan jadi terjepit. Apalagi bila lingkungan hidup berbahasanya anak-anak dan remaja sudah penuh dengan kosakata kebun binatang sebagai ungkapan sehari-hari serta budaya latah yang enak saja tiap kali berucap monyong lu, monyet ludan seterusnya. Ketiga, sakitnya kultur kita terungkap dalam pengerdilan nilai harkat kemanusiaan saudara-i kita hanya dihargai sebagai “modal” (baca: kemampuan- kemampuan kultural disebut modal kultural; modal adalah bahasa ekonomi kapital); sesama direduksi harkatnya dengan kalkulasi untung dan rugi, uang serta rasionalitas (jalan pikiran) memperalat (instrumentalis) untuk mencapai tujuan kita. 

Di sebuah perguruan di Jakarta yang seharusnya menjadi acuan etis, teologis, filosofis martabat manusia,terjadi karyawan yang sudah bertahun-tahun memberikan pikiran dan kerjanya “diberhentikan” tanpa keberanian untuk resmi memberi tahu dan mengajaknya bicara serta menghargai jasa-jasanya. Mengapa? Karena ia diperlakukan oleh kultur sakit “habis manis sepah dibuang” dan oleh kelicikan menggeser seseorang yang “memukul”, tetapi meminjam tangan orang lain. Mentalitas jongos yang nabok nyilih tangan dari “emprit” mengaku “garuda”. 

Reduksi ekonomisasi karena menangnya kapitalisme inilah yang membuat uang, nafsu berkuasa serta menundukkan orang lain demi panggung egonya sendiri yang kerap dirasionalisasi dengan nilainilai luhur, spiritualisasi (baca: merohanikan alasan dengan dalih suci padahal busuk karena kelompoknya yang akan dimenangkan atau merekamereka yang satu kubu). Keempat, yang merupakan akarnya akar dari kultur yang sakit adalah distrust atau saling tidak sudi, tidak mau, dan tidak memercayai sesama saudara sebangsa karena dilukai kecewa lantaran tidak diwujudkannya janji-janji semasa pemilu baik nasional atau lokal. 

Saling tidak percaya ini juga disebabkan kondisi nyata sosial-ekonomi di mana yang berakses kemakmuran dan kuasa semakin kaya, sedangkan rakyat jelata semakin menderita. Contoh mutakhir soal gaji menusuk rasa adil kita manakala pegawai Bank Indonesia dinaikkan gaji-gajinya dengan enaknya, sementara THR, taraf hidup minimal sebagai buruhburuh gajinya kalau mau ditambah harus demo, unjuk rasa, dan dengan perjuangan korban waktu, tenaga. Pula untuk guru dan pegawai rendahan serta masalah outsourcing. 

Belum lagi paradoks pergi kunjungan kerja studi DPR ke luar negeri dengan biaya-biaya mahal dari uang rakyat dibandingkan dengan kasus-kasus bunuh diri ibu dan anak-anaknya, pengemis mati kelaparan dan makan nasi akingnya mereka yang susah nafkah! Distrust paling menggenang dan terawat subur manakala tragedi-tragedi kelam kemanusiaan bangsa ini hanya wacana dan janji tanpa realisasi santunan dan rekonsiliasi untuk kejahatan kemanusiaan. 

Kultur sehat membuahkan bangsa sehat, sedangkan kultur sakit butuh bedah kanker sakitnya agar menjadi sehat kembali bila perlu diamputasi bagian yang paling parah, yaitu korupsi wajah tidak jujur kita. Semoga!
 ●