Tampilkan postingan dengan label Jalan Seni dan Kebinekaan Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Seni dan Kebinekaan Kita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (2)

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (2)
Mudji Sutrisno ;   Guru Besar STF Driyarkara dan UI, Budayawan
KORAN SINDO, 30 Agustus 2013


Teori seni sebenarnya merupakan perumusan logis sistematis mengenai pengalaman seni dari hidup ini yang tiap kali selalu mengalami keterbatasannya apabila dilogis-logiskan lantaran sumbernya ada dalam telaga jernih intuisi dan kehidupan mulia yang melampaui rasionalitas, logika, atau dimensi epistemologis dari kehidupan itu sendiri. 

Di sini pula simplifikasi atau penyederhanaan wilayah kehidupan sebagai tempat jelajah kebenaran (untuk ilmu pengetahuan) merupakan satu wilayah verum (benar) dan wilayah berikutnya adalah sisi bonum atau ranah etika mengenai sisi etis dari hidup ini. Ada tiga wilayah hidup yaitu verum (untuk ilmu pengetahuan, epistemologis), etika (bonum), dan estetika (pulchrum). 

Dengan kata lain, kehidupan yang mahakaya dan multidimensi (multiragam sisi) memuat dimensi logisnya dalam filsafat sistematis rasional logis. Hidup yang sama memuat dimensi ”indahnya atau estetisnya” dalam filsafat seni atau estetika. Kehidupan yang sama mempunya dimensi kebaikannya dalam etika. 

Lihatlah ciri khas watak kehidupan adalah multidimensinya, keanekaragamannya. Bila kita membatasi kehidupan yang multidimensi itu hanya dalam ”tiga dimensi”, yang ”baik” dari hidup ini dikenal dan dijelajahi sebagai ranah etika. Yang ”benar” dan logis dari kehidupan difilsafatkan dalam epistemologi. Sementara yang ”asri atau indah” dari kehidupan merupakan ”cakrawala luas estetika”. 

Tampilan simbolik maupun realis keindonesiaan kita sudah dirajut dan ”dirumus padat” dalam pengalaman ratusan tahun setelah mengalami multidimensinya kehidupan Nusantara yang ragam identitas suku, religi, maupun identitas-identitas lain. Kearifan para pendahulu kita dalam menghidupi Indonesia yang majemuk ini sudah dirajut dalam sikap hidup di mana pun bangsa pulau dan bahari ini berkelana dan bertemu dengan saudara-saudaranya yang beda suku, 

agama, bumi, atau adat istiadat sehingga yang dinasihatkan dan dijadikan sikap hidup toleransi adalah pepatah nasihat hidup yang berbunyi: ”di mana bumi dipijak, di situ langit hendaklah dijunjung”. Artinya, menghormati alam dengan penghuninya sesama saudara serta menjunjung Sang Pencipta atau langit adalah sikap menghayati hidup dalam toleransi di mana pun dan ke mana pun. 

Dalam perenungan mengenai makna kearifan hidup yang menjadi sikap yang harus diambil dalam keragaman Nusantara ini, dihayatilah pepatah hidup ”lain ladang lain belalang dan lain lubuk lain pula ikannya”. Hanya ketika yang indah, yang benar dan yang baik dari keragaman penyusun keindonesiaan sudi dan peduli untuk selalu memberikan kontribusinya bagi keindonesiaan yang dalam Pembukaan Konstitusi UUD 1945 dicitakan makin menjadi adil, sejahtera, 

beradab, dan saling menghormati karena sama-sama ciptaan Tuhan, pencapaian-pencapaian matangnya kesadaran berbangsa dari kotak-kotak suku, agama, dan golongan sadar untuk menapaki jalan pencerahan 1908. Lalu selangkah maju matang berkesadaran satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air Indonesia, jejak tapak ini merealisasikan ”kebinekaan menjadi ika” setelah mengalami betapa hancurnya diadu domba dalam politik divide et impera. 

Maka itu, setelah formal bernegara hukum yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 dan berdaulatnya rakyat dipastikan kini gugatan sumbangan masing-masing penyusun keindonesiaan terus berdentang. Apa yang bisa disumbangkan oleh kekatolikan untuk Indonesia? Bila Monsiegnur Soegiyopranoto Sj sudah menegaskan 100% Indonesia dan 100% Katolik, gugatannya tetaplah apa yang baik dari kekatolikan untuk Indonesia; 

apa yang benar yang terus mau disumbangkan bagi Indonesia serta apa yang ”indah” untuk dikontribusikan bagi Indonesia? Demikian pula, yang bernilai dari keislaman, dari kehinduan, dari kebuddhaan, religi bumi, dari kebatakan, keminangan, kejawaan, kefloresan, dan seterusnya untuk disumbangkan bagi keindonesiaan. 

Dalam dekade-dekade ini, kita alami riuh gaduhnya jalan politis keindonesiaan kita. Bila diekstremkan, jalan politis yang semestinya berupa tindakan bersama agar hidup bersama kita semakin sejahtera satu sama lain, semakin adil, serta praksis kuasa kita ditanggungjawabkan dalam etika politis, namun yang terjadi lebih banyak pecah dan retak-retaknya karena kesewenangan keserakahan dan setan-setan gundul dan setan cebol kekuasaan yang tega menghabisi sesama. 

Sementara jalan ekonomi yang gegap gempita di wilayah makro, namun miskin peduli di wilayah ekonomi mikro orang kecil semakin mereduksi hubungan kita serta nilai baik, benar, dan indah melulu dihitung dari nilai tukar uang dan uang melulu. Karena itu, rupanya jalan seni yang dalam kearifan-kearifan hidup bangsa kita diungkapkan tidak pertama-tama untuk dirumuskan logis sistematis, tetapi lebih lebih untuk dihayati dan dihidupi, akan menjadi jalan besar kita sekarang untuk kembali ”amemayu hayuning bawana”, artinya, mengikhtiarkan untuk membuat hidup dan dunia kita semakin indah manusiawi. 

Sebelum dirumus-rumuskan logis, perjalanan seni bangsa ini adalah ”penghayatan”; kita bersyukur atas hidup ini dengan nyanyi, berdendang dengan tari, dan mengekspresikan warna-warni-kehidupan-lewat-kuas-kanvas dalam lukisan modern Indonesia. Namun, tengoklah rangkaian dahsyat lukisan-lukisan tradisional dan asli gores tangan ragam bangsa ini dalam batik tulis, dalam rajut kain, dalam patung, karya-karya seni beraneka ragam yang memuliakan kehidupan ini. 

Watak unik para seniman kita tertuang dalam apa yang disebut sebagai ”sikap dan visi kesenimanan” dalam ”kredo”. Hanya dengan saling belajar dari keragaman kredo itulah Indonesia yang bineka sekaligus ika akan berkembang ke depan. Apa artinya? Bila sastrawan kredo seninya atau visi seni untuk peradabannya mahir dan biasa memakai prosa untuk novelis atau puisi untuk penyair, semoga mereka ini mau belajar pada teknokrat atau insinyur yang biasa berbahasa konstruksi teknik bangunan. 

Maksud dialog kredo itu secara bersahaja bisa ditulis sebagai berikut: ”Pada awalnya adalah kata. Pada awalnya adalah garis. Pada awalnya adalah warna. Bagi yang biasa berkata-kata, belajarlah dalam dialog-dialog karakter garis saudara-saudarimu. Bagi yang biasa berbahasa diam hanya berbahasa warna dan garis, belajarlah dari saudara-saudarimu yang biasa berbahasa kata-kata. 
Bagi yang terlalu berbahasa wacana dan retorika, banyak belajarlah pada rakyat jelata yang lebih diam dan berbahasa hati bahkan lebih sering menyimpan dalam-dalam pahitnya hidup dalam relung hatinya. Semua ini semogalah saling dihayati agar dialog peradaban diperjuangkan hingga kehidupan dimuliakan.”

Seperti kredo seorang ekspresionis bernama Affandi, cuatan-cuatan jari dan dominasi warna kuning selalu menjadi ciri ekspresi lukisanku sebab kuning adalah warna padi tropis tanah airku Indonesia yang kuharapkan menguning dengan butir padat gabah siap dipanen. Begitu pula mengapa Affandi banyak melukis matahari? Karena inilah keindonesiaan dengan matahari sepanjang khatulistiwa di cuatan lukisan tangan Affandi. ●  

Kamis, 29 Agustus 2013

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (1)

Jalan Seni dan Kebinekaan Kita (1)
Mudji Sutrisno ;   Guru Besar STF Driyarkara & UI, Budayawan
KORAN SINDO, 29 Agustus 2013


Dalam meniti jalan seni, orang akan menjumpai bahwa sumber “estetika” adalah yang indah dan yang mulia” dari dan dalam kehidupan. 

Seniman memuliakan kehidupan dengan hamparan warna aneka ragam di kanvas lukisan, atau seniman tradisional meramukannya dalam rajut komposisi warna-warni benang songket yang ditenun indah dalam kait ikat, kain tenun. Seniman atau seniwati memuliakan kehidupan yang kaya variasi wajah warna dan ragam gerak alam dan manusianya dalam “tarian”. 

Menuliskan nada kehidupan dalam nada melodi atau not balok serta not angka yang secara kreatif diciptakan harmoni meniru suara-suara alam beragam dan suara-suara kehidupan yang beraneka rupa. Pada dasarnya, dari tatapan sejenak saja, keragaman adalah kenyataandasaralamraya dandunia manusia ini. Ada seni dari kehidupan ini yang dihayati begitu saja dalam upacara ritual syukur kepada Sang Pencipta kehidupan. 

Ada pula seni yang diciptakan sebagai ritus oleh komunitasnya untuk menghormati, mensyukuri namun sekaligus memohon berkah selamat saat menapaki tahap-tahap hidup: mulai dari kelahiran, dewasa, akil balik, perkawinan, dan kematian yang selalu dikaitkan dengan sum berkehidupan. Namun, kita jumpai pula penghayatan ritus kehidupan yang disumberkan dan disucikan pada hormat atas kesuburan tanah; gunung sebagai “apexmundi”. 

Sebenarnya, barulah pada abad ke-18, apa yang dihayati sebagai ritus seni dan pemuliaan kehidupan difilsafatkan sebagai “estetika”. Baru pada saat itulah, penghayatan mengenai yang indah dari hidup dan yang subur darinya dicobarumuskan dalam “teori” mengenai seni. Maksud “teori” adalah sistematisasi logis mengenai apa itu seni yang kemudian dengan bahasa tulis ditulis menjadi rumusan tertulis apa itu seni dan estetika kalau mau dimengerti dan dipahami.

Bisa dikatakan bahwa “pada awalnya adalah kehidupan yang dihayati dalam dimensi keindahannya”. Di sinilah realisme kehidupan berhadapan dengan surealisme kehidupan di tangan dan di mata seniman. Di sini pula realitas alam dan kehidupan mengalami simbolisasinya ketika kenyataan fisik atau terinderawinya kenyataan hidup (sisi tangible; bisa dirabai dengan lima indera) dalam dunia kreasi para seniman butuh “simbol”, perlambang manakala diciptakan lagi dalam kanvas lukisan yang tidak hanya naturalis, realis namun bergerak terus ke abstrak serta yang mentransenden yang riil ini. 

Dunia warna lukis misalnya atau permaknaan warna beraneka mulai dari putih sampai dicampur- campurkan dalam berbagai kombinasi lalu menjadi warna hitam, ternyata memiliki arti dan makna simbolisnya ketika ditorehkan atau dipakai dalam kreasi karya seni. Dari dunia warna saja, nyatalah bahwa kehidupan ini akan amat membosankan dan tidak indah bila diciptakan dalam dominasi satu warna saja atau diseragamkan. 

Dalam penelitian mengenai makna warna di ritus pemuliaan hidup dan di penafsiran komunitas, penafsirnya sudah membuktikan makna yang berbeda, maksud dan arti “suci” yang tidak sama. Misalnya ketika di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, berlangsung lokakarya seni tradisi dan seni etnik, untuk komunitas mereka yang berumah di atas air laut dan hidupnya banyak bergantung pada ekosistem laut bahari dan air, warna “biru” adalah lambang warna laut. 

Sekejap langsung muncul bahwa warna dalam simbolismenya ditentukan artinya oleh kelompoknya atau komunitasnya baik kecil maupun besar. “Azzuri” atau “Biru terang” adalah lambang kaus sepak bola para pemain Italia, namun bukan untuk laut tetapi untuk warna langit khas Italia yang kalau musim panas di Eropa, Italilah satu-satunya yang berlangit biru tanpa awan sama sekali. 

Namun, ada yang menarik dalam simbolisme warna kehidupan ini. Kita yang religius dengan mudah menyebut putih sebagai warna suci dan warna sempurna, terutama pula menjadi warna berkabung perpindahan dari kematian menuju kehidupan baru. Putih dengan itu menjadi warna sempurna, atau warna resmi suci. 

Akan tetapi, ragam permaknaan warna sudah langsung berhadapan dengan komunitas ritual lain yang menegaskan bahwa warna hitamlah warna sempurna atau simbol suci sempurna sebagai warna dalam hidup karena tidak bisa menjadi warna lain lagi selain hitam. Cobalah Anda mencampurkan dua warna misalnya: merah dan biru, apa jadinya setelah dicampur tuntas? Cokelat. 

Lalu cokelat dicampur dengan kuning, apa yang muncul? Cokelat muda. Bila Anda mencampur terus warna-warna beraneka, hasil akhir memang yang muncul adalah “hitam”. Dan hitam tak bisa lagi berwarna lain ketika dipertemukan dengan yang lain. Amat menarik; makna simbol dan tafsir warna-warna.

Paparan di atas tadi adalah contoh sebuah teori seni yang mencoba merumuskan seni sebagai pengenangan kembali atau mimesis dari pengalaman hidup yang menjumpai warna-warninya dalam mengalami putihnya hidup atau hitamnya, lalu memberinya simbol dan ungkap ucapan simbolik. Yang sempurna dari jumpa aneka warna-warni dalam kehidupan adalah akhirnya “warna hitam”. 

Maka ketika ritus kelahiran dan kematian mau dikenang kembali dan dirayakan, disepakatilah semuanya memakai pakaian serba hitam. Teori pertama mengenai estetika merupakan teori ritual. Artinya, seni merupakan ritus dan berhubungan upacara untuk menghormati dan memuliakan kehidupan yang misterius, eksotis, dan dahsyat. 

Karena itu, teori ritual seni menempatkan estetika sebagai bagian dari ritus religi terutama religi bumi yang menghormati kesuburan dan kepercayaan bahwa kehidupan ada sumbernya, ada awalnya dan ada akhirnya, ada alfa dan omeganya sehingga lahir, menjadi dewasa, menikah dan kematian diberi maknanya dalam ekspresi ritualnya. 

Usaha merumuskan sebuah teori seni mengenai peng-hayatan hidup dari sisi keindahannya ini berupa pembingkaian atau pigura estetika sebagai energi kreatif dan proses kreatif manusia dalam “puisi”: kata padat makna dan isi untuk mengekspresikan renung penghayatan hidup yang dialami dalam sisi-sisi tragis, tragedi, komedi maupun bahagia serta syukur atasnya. 

Atau berekspresi dalam prosa dengan maksud serupa, namun kode bahasanya paparan sastrawi berkisah. Ia juga merupakan ekspresi keindahan cuatan warna di kanvas. Ketika gerak alam dan yang misterius dari dinamika alam diberi ekspresi gerakan tubuh yang menirukan gelora laut, suara angin, serta gelombang gelegak alam. Teori berikutnya dari estetika berusaha menalarkan dan merumuskan apa itu pengalaman estetis. 

Teori ini juga ingin merumuskan secara logis sesuatu yang sebenarnya melampaui yang logis, seperti “apa itu titik estetis dan apa itu yang tak terungkapkan dan tak terucapkan lagi” ketika orang berdecak kagum dalam ekstase estetis atau tersentuh secara mendalam dalam tragedi hidup melalui drama. Maka itu, karena terbatasnya rumusan logis untuk pengalaman estetis yang “beyond logic” maka penulisannya memakai deskripsi fenomena atau gejalanya. 

Fenomenologi deskripsi sebuah penikmatan akan kedahsyatan sebuah lukisan atau karya seni akan menggambarkan bahwa “titik keindahan” adalah pengalaman keindahan saat yang mencengangkan sekaligus sublimemerasuk dan dialami mirip2 dengan pengalaman psikologis “religius” dan ekstasis. 

Kalau dalam Zen Budhis, karena mereka menolak pendekatan mengupas realitas dalam pisau subjek mengiris realitas sebagai obyek, pengalaman estetis mereka deskripsi sebagai “menghayati dari dalam sebagaimana adanya: “suchness”. Kenyataan itu indah ketika dihayati dan diterima sebagaimana adanya: “as such as it is”, “tidak lebih dan tidak kurang”. Di sinilah semakin mendesak pentingnya sebuah “ranah” yang harus ditumbuhkan sebagai jalan seni untuk menghayati kehidupan dari estetikanya” yaitu ranah apresiasi. 

Apresiasi seni merupakan bagian mendasar dari proses pendidikan humaniora, karena, di ranah inilah sisi kehidupan dari keindahannya dilatih kepekaan manusia untuk merasakan dan menghormatinya kemudian menghidupinya.  ●