Tampilkan postingan dengan label Xavier Quentin Pranata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Xavier Quentin Pranata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Juli 2021

 

Mengakhiri Kesombongan dan Prasangka

Xavier Quentin Pranata ;  Pelukis Kehidupan di Kanvas Jiwa

DETIKNEWS, 30 Juli 2021

 

 

                                                           

Saat kuliah English Literature oleh Barbara Hopwood, dosen kami, saya dianjurkan untuk membaca novel Pride and Prejudice karya Jane Austin. Novel klasik yang sudah dicetak lebih dari 20 juta eksemplar dan masuk "most-loved books" ini belum lama ini diputar di Netflix. Novel yang terbit pada 1813 ini tetap apik dan ciamik diikuti di zaman sekarang. Bukankah kisah cinta senantiasa up to date?

 

Antara Kesombongan dan Prasangka

 

Kisahnya sebenarnya hanya seputar kehidupan orang-orang kaya di Inggris pada tahun 1800-an. Keluarga kaya dengan lima anak gadis ini mencari menantu kaya agar keturunan mereka bisa sejahtera. Di sinilah konflik terjadi. Elizabeth Bennet, putra kedua keluarga Bennet, tokoh sentral dalam novel ini dikenal sebagai gadis yang bukan saja menarik penampilannya melainkan juga jenaka dan cerdas. Dia ketemu lawan yang tangguh dalam diri Fitzwilliam Darcy pengusaha kaya pemilik perkebunan yang sangat luas dengan penghasilan selangit.

 

Elizabeth, tokoh protagonis, awalnya alergi terhadap Darcy karena sikapnya yang angkuh. Meskipun demikian, setelah mengenalnya lebih jauh, ternyata Darcy tidak seperti yang dia duga. Keangkuhannya bisa jadi dipengaruhi oleh penghasilannya yang jika dihitung uang sekarang membuat orang tercengang. Para pelayannya bahkan menganggap tuannya sebagai orang yang baik hati dan sopan. Kisahnya berakhir dengan happy ending. Kelima gadis itu mendapatkan jodoh masing-masing.

 

Meskipun Jane Austin hanya ingin menggambarkan kehidupan masyarakat Inggris pada zaman itu, khususnya orang-orang kaya yang bisa saja terkesan snob dan "semau gue", tampaknya kisah ini juga bisa kita pakai untuk belajar saling memahami sesama anak bangsa. Bukankah saat ini kesombongan dan prasangka terus-menerus diumbar di media sosial sehingga terjadi riak kecil sampai benturan keras yang jika tidak segera diatasi membuat perahu Indonesia bukan saja bocor, melainkan tenggelam? Failed nation, kata Ibas, bisa terjadi jika kita sendiri yang menggenapinya dengan terus-menerus membuat kegaduhan.

 

Kesombongan

 

Orang-orang yang hidup serba berkecukupan seringkali tanpa sadar menyakiti hati orang lain baik lewat ucapan, sikap maupun tindakan. Di sebuah sekolah internasional, seusai liburan, para murid kelas atas itu dengan enteng berkata, "Rasanya bosan pergi ke Eropa melulu. Itu sebabnya kemarin saya minta Papa untuk berlibur ke Maldives."

 

Teman-temannya yang sesama anak orang kaya memakluminya, bahkan menambahkan, "Saya juga bosan ke Amerika. Papa selalu mengajak kami ke sana sih. Tahun ini saya minta berlibur ke Islandia." Apa yang mereka tidak ketahui bahwa di kelasnya ada anak-anak orang biasa yang bisa masuk ke sekolah elit itu karena beasiswa. Jangankan keluar negeri, untuk mencukupi makan mereka sehari-hari saja ortunya harus membanting tulang.

 

Snobisme semacam itu yang tanpa sadar --atau dengan kesadaran penuh untuk konten YouTube-nya-- memamerkan pola hidup mewah di media sosialnya. Mungkin karena terlalu sibuk dengan dunia glamour-nya sehingga lupa bahwa masih banyak saudaranya yang terpaksa harus menutup lapaknya karena PPKM darurat. Work from home bagi mereka yang punya tabungan berjibun dan penghasilan tetap setiap bulan masih bisa ditanggung, namun bagaimana mereka yang kerja hari ini untuk makan hari ini atau istilah kerennya "from hand to mouth"?

 

Saya baca di media mainstream seorang pemilik warung kopi menyegel tempat usahanya sendiri dengan tulisan seperti ini: "Kami bukan kriminal Kami hanya menjual kopi. Tapi karena peraturan yang selalu menyudutkan kami bahkan berpatroli setiap hari dan akhirnya tempat ini kami segel sendiri..." Pengumuman selanjutnya ditulis dengan huruf besar dengan tinta merah: "SEMOGA KARYAWAN KAMI TIDAK MENJADI KRIMINAL SETELAH DIRUMAHKAN."

 

Ada dua poin yang terbaca jelas. Pertama, mereka merasa keberatan kalau warung kopinya ditutup. Kedua, ada semacam peringatan bahwa orang yang lapar bisa melakukan apa pun, termasuk tindakan kriminal. Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Christine Lee, MD, seorang gastroenterologist: "There is a physiological reason why some people get angry when they're hungry."

 

Hal inilah yang seharusnya sudah menjadi pertimbangan yang matang bagi para pembuat peraturan agar pelaksanaannya di lapangan bisa fleksibel dengan pendekatan yang humanis. Polisi memborong nasi jinggo sebelum meminta pedagang untuk menutup warugnya di Gianyar, Bali patut diapresiasi ketimbang menyemprotkan air ke warung makan dan warung kopi.

 

Kesombongan lain yang patut disayangkan adalah penghinaan lewat media sosial. Misalnya, mengolok-olok netizen yang dianggap tidak bisa berbahasa asing, bahkan diminta belajar dari anak kecil. Cuitan semacam ini jelas membuat warganet marah dan justru mengungkit kembali bahwa yang bersangkutan juga bukan orang yang tanpa cela. Bisa jadi karena kejengkelan mereka tidak hanya menjadi hater bagi yang bersangkutan, melainkan menyasar ke orang-orang terdekatnya baik garis lurus ke atas --ortu-- maupun garis lurus ke bawah --anaknya.

 

Jane Austin dalam Pride and Prejudice menulis dengan sangat apiknya: "For what do we live, but to make sport for our neighbors, and laugh at them in our turn?" Apa sih untungnya memamerkan Ferrari, Maserati dan Lamborghini di garasi sementara 'tetangga' susah mencari sesuap nasi di warung sendiri?

 

Prasangka

 

Kata ini sungguh berbahaya. Tanpa sadar, atau dengan kesadaran penuh, bisa jadi kita seperti yang diungkapkan Jane Austin, "I have not the pleasure of understanding you." Senang tidak senang, suka tidak suka, mau tidak mau, "no man is an island," ujar John Done, sebagai makhluk sosial kita perlu berusaha memahami orang lain. Bukankah Stephen R. Covey pun menganjurkan kita untuk "seek first to understand, then to be understood"?

 

Alangkah konyolnya kita jika berharap, bahkan memaksakan kehendak, agar 'kamu' memahami 'aku' tanpa mencoba memahami 'kamu' lebih dulu ketimbang menuntut 'kamu memahami aku'. Pemahaman bersama membuat polarisasi antara 'kamu' dan 'aku' bertransformasi menjadi 'kita'.

 

Pemerintahan Jokowi, sejak awal pandemi, terkesan menutup-nutupi wabah Covid-19 dan bahayanya. Alasannya sangat masuk akal, yaitu agar rakyat tidak panik dan melakukan hal yang justru merugikan. Misalnya saja, panic buying, sehingga terjadi mark up gila-gilaan untuk produk obat, vitamin, dan tabung oksigen. Karena barang-barang yang dicari --misalnya saja masker pada awal pandemi-- langka, atau bahkan habis, ada orang-orang yang justru menimbun untuk menaikkan harga jualnya.

 

Ada lagi yang 'memanfaatkan' kepanikan sekaligus ketidaktahuan masyarakat terhadap produk sehingga ada spekulan yang menyebarkan kabar yang half truth, sehingga Bear Brand pun diborong orang. Seorang netizen menanggapi rush terhadap "susu beruang" ini dengan membuat meme yang lucu: "Jadi khasiat susu ini membunuh si virus, caranya adalah dengan membuat virus tersebut bingung, ini susu sapi, mereknya beruang iklannya naga, karena bingung virusnya stres lalu imun si virus turun jadinya itu virus bisa dikalahkan oleh antibodi...gini toh cara kerjanya."

 

Saya percaya ulah iseng warganet itu justru yang bisa meningkatkan imun kita. Anak saya yang terbiasa minum susu merek ini pun ikut tergelak saat melihat meme ini. Bukannya hati yang gembira adalah obat yang mujarab?

 

Kembali ke kesan bahwa pemerintah menutup-nutupi kasus ini. Alasannya, sekali lagi, jika warga panik, Indonesia bisa mengalami masa paceklik. Sebaliknya, saat pemerintah melakukan PSBB sampai PPKM darurat --istilah yang gonta-ganti berkali-kali-- yang tujuannya jelas untuk menghambat penyebaran virus, banyak orang yang menentang. Dasarnya apa? Bisa jadi karena memang terdampak keras usahanya. Bisa juga karena prasangka. Apalagi saat diumumkan bahwa tempat ibadah harus ditutup selama PPKM darurat. Pemerintah dianggap menekan umat beragama.

 

Sudah Saatnya Meruntuhkan Kesombongan dan Menghilangkan Prasangka

 

Caranya? Bersama-sama melakukan tobat nasional. Bukan yang satu diminta tobat, sedangkan yang lain tetap kumat. Teguran Nabi Yesaya ini perlu kita renungkan: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."

 

Pertama, bertobat dari kesombongan. Mari sama-sama merendahkan diri dengan duduk bersama mencari solusi. Bukankah sinergi jauh lebih elok ketimbang adu gengsi? Negara lain yang bahu membahu antara legislatif, eksekutif dan yudikatif plus rakyat sudah lebih dulu bangkit. Mereka yang sudah beradu cepat melakukan tamasya di ruang angkasa, masak kita masih terus saja berkutat di kolam angsa?

 

Kedua, bertobat dari prasangka. Banyak hal yang kita yakini benar ternyata tidak seperti itu. Ingat apa yang Goebbels katakan, "Kebohongan yang diulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran." Mari sudahi narasi basi yang membuat mati nurani.

 

Ketiga, tinggal diam dan tinggal tenang. Orang yang grusa-grusu seringkali justru membuat kekisruhan. Orang yang cepat marah justru jadi orang yang kalah. "Angry people are not always wise," ujar Jane Austin dalam Pride and Prudice. Bukankah 'anger' (amarah) yang diumbar justru menjadi 'danger' (bahaya) yang bukan saja mencelakakan orang lain, tetapi juga diri sendiri.

 

Mari belajar untuk merasa puas dengan apa yang kita miliki. Seperti kata Jane Austin, "I must learn to be content with being happier than I deserve."

 

Rabu, 17 Juli 2019

Jokowi, Shenzhen, dan Ikan Asin

Minggu 14 Juli 2019, 10:30 WIB

Jokowi, Shenzhen, dan Ikan Asin

Xavier Quentin Pranata - detikNews

Jokowi-Maruf tinggal menunggu pelantikan, tetapi PR yang harus mereka kerjakan banyak sekali. Rendahnya harga ayam potong di tingkat peternak, garam yang tidak lagi terasa asin karena harganya yang terjun bebas, dan melambungnya harga cabe hanya secuil mozaik dari jendela kaca raksasa Indonesia.

Sabtu, 24 Februari 2018

Bu Dendy Kok Bisa Trendy?

Bu Dendy Kok Bisa Trendy?
Xavier Quentin Pranata ;  yang terus belajar mendengar masukan orang lain
demi perbaikan diri
                                                  DETIKNEWS, 23 Februari 2018



                                                           
Seperti fashion, ketik kata kunci 'Bu Dendy' maka sekejap Anda akan mendapat tautan banyak sekali tentang ulah seorang mamah muda yang memarahi seorang sahabatnya sambil menyebar uang lima ratus juta. Ceritanya, Ovie, pengunggah video tersebut di Facebook, mencaci maki Nyla, sahabatnya sendiri yang dia tuduh menjadi pelakor. Dalam sekejap saja video itu menjadi virus yang begitu cepat menular alias viral.

Saat seorang pimpinan media online mengirimi saya link-nya, saya pun sempat menghentikan aktivitas dan melihat video yang berdurasi singkat itu. Singkat tapi melesat. Sambil melihat, sel-sel abu-abu di belakang kepala saya seakan berputar dengan cepat memutar cakram ingatan tentang peristiwa yang mirip dengan itu.

Peristiwa pertama terjadi di Hong Kong. Seorang ibu yang tersinggung berat oleh pramuniaga sebuah toko melemparkan segepok uang ke muka penjaga toko itu, dan meninggalkannya begitu saja. Sikapnya begitu arogan. Dia merasa menang? Kalah! Meskipun dipermalukan, pramuniaga itu seperti kejatuhan durian. Kaya mendadak. Kedua, dua orang sahabat sedang jalan-jalan petang hari. Tiba-tiba sebuah koin terjatuh dari saku temannya. Sang sahabat yang merasa diri orang super-rich, segera mengeluarkan uang 100 dolar AS dan membakarnya untuk menjadi penerang guna mencari koin yang jatuh itu. Arogan plus bodoh!

Saat membaca kemarahan netizen terhadap 'video Bu Dendy' tadi, saya tersedak. Bebauan tak sedap menguar dari komentar itu. Namun, justru dari situlah saya bisa sedikit membaca tanda-tanda zaman edan ini.

Pertama, begitu mudahnya makhluk zaman now mengunggah aib orang tanpa berpikir seberapa jauh jangkauan bau tak sedap itu. Sekali diunggah terlambat sudah.

Seorang ibu menggosipkan seorang romo bahwa dia punya simpanan, padahal kita tahu romo hidup selibat. Saat meminta maaf, romo mengampuni ibu itu dengan satu syarat sebagai pelajaran. Romo meminta ibu itu untuk membawakan sebuah bantal dan mengikutinya ke ruang lonceng di menara gereja yang paling tinggi. Sesampai di atas, romo itu menyodorkan sebuah gunting. Saat ibu itu menggunting bantal itu, kapuk segera tersebar dan tertiup angin ke mana-mana.

"Sudah selesai, Romo," kata ibu itu, "Apa yang harus saya kerjakan berikutnya. Saya siap melaksanakan hukuman ini."

"Ambil kembali setiap butir kapas yang terlepas dari bantal ini," jawab romo itu.

Ibu itu pucat pasi.

Kedua, saat kita melabrak seseorang dengan penuh emosi, kita lupa bahwa reaksi yang salah terhadap aksi yang salah pun bisa menuai badai. Terbukti di antara sekian 'komentator' dadakan itu ada yang 'membela' pelakor, bahkan ada yang membalas dengan mengungkapkan aib lama bahwa penuduh, dulunya pelaku juga. "Bumerang yang kita lempar dengan garang ke orang tanpa perhitungan matang, bisa jadi malah kembali menjadi penyerang dan membuat kita mengerang," begitu tulisan yang saya berikan kepada seorang sahabat yang meminta pendapat saya tentang video viral ini.

Ketiga, akal sehat dan tubuh yang kuat bisa dikalahkan oleh hasrat sesaat emosi yang melesat. Saya percaya seandainya pelempar uang dan pengunggah video itu mau berhenti sesaat untuk berpikir beberapa saat, bisa jadi ceritanya berbeda. "Hati boleh panas, tetapi kepala tetap dingin" merupakan rambu yang tetap teruji validitasnya.

Keempat, jika keinginan akan materi menaklukkan kebutuhan hakiki insani, sahabat sebaik apa pun bisa menikamkan belati beracunnya ke hati kita tanpa peri. Kita bisa terus menggelengkan kepala kita dan mengelus dada tiada henti saat semakin banyak orang yang menghalalkan segala --hoax, hate speech, black campaign-- untuk mengundang clickbait dan mendulang iklan.

Kelima, saat nurani makin termarginalisasi, kita bisa terpeleset dari pijakan batu kokoh penghakiman ke jurang yang menjungkalkan diri saat mendapat kesempatan yang sama. Nasihat pun masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Ketimbang menghakimi Bu Dendy dan malah menjadikannya semakin trendy, bukankah jauh lebih elok jika kita bercermin dan melihat ke dalam relung hati kita yang terdalam dengan satu pertanyaan, "Sudahkah kita membuang gajah di pelupuk mata kita sendiri ketimbang memamerkan selumbar di pelupuk mata orang?" ●

Sabtu, 27 Januari 2018

Menangkap Tuyul Online

Menangkap Tuyul Online
Xavier Quentin Pranata ;  Bukan Pemerhati Tuyul
                                                   DETIKNEWS, 26 Januari 2018



                                                           
"Pernah mengantarkan tuyul, Mas?" tanya saya kepada seorang driver online.

Yang saya tanya hanya tersenyum dan berkata, "Itu kerjaan teman-teman yang nakal, Pak. Saya sih memilih kerja yang lurus-lurus saja. Hidup hanya sekali mengapa dibuat bengkok."

Dari para pengemudi online inilah saya mendengar ada praktik curang yang dilakukan rekan-rekannya sesama driver. Sopir angkutan online ini diberi bonus oleh perusahaan jika mereka mendapat poin tertentu. Puncaknya sampai mendekati angka lima ratus ribu. Bukankah itu jumlah yang menggiurkan? Namun, tentu saja tidak setiap pengemudi, dan tidak setiap hari mereka bisa mendapatkan bonus itu, kecuali ya dengan cara "tuyul-tuyulan".

Ada beberapa praktik "tuyul" yang mereka lakukan. Pertama, sistem tembak. Beberapa orang driver bekerja sama membentuk satu geng. Jika poin hari itu belum mencukupi, mereka bisa menghubungi temannya dan berkata, "Tolong tembak saya ya!"

Artinya, mereka saling memesan kendaraannya sehingga target terpenuhi. Penumpangnya? Tidak ada, alias fake passanger. Agar tidak ketahuan, mereka biasa membeli HP murah dalam jumlah banyak dan diputar pemakaiannya. Pengelola taksi konvensional sebenarnya punya alat untuk mengetahui apakah armada mereka benar-benar mengangkut penumpang atau tidak. Dari mana mereka tahu? Dari berat kendaraan plus penumpang. Jika tidak ada penumpang, beratnya berkurang, bukan? Mereka punya alat untuk mengukur hal-hal seperti ini.

Kedua, ya mengantar "tuyul". Mereka menggunakan Fake GPS untuk memainkan akal-akalan ini. Driver bisa ngopi atau bahkan tiduran di rumah sambil nonton televisi sementara Fake GPS memainkan peran seolah-olah mobilnya sedang sibuk mengantar penumpang. "Mobilnya digerakkan saja pakai jari di layar HP, Pak," ujar seorang pengemudi yang pernah melihat praktik curang temannya.

Amankah cara ini? Sepandai-pandainya tuyul mencuri, akhirnya tertangkap juga. Detikcom menurunkan berita Grab Gandeng Polisi Ungkap Kasus Driver Antar 'Tuyul' di Kota Lain. Bermula dari ditangkapnya para tuyul, eh driver nakal di Makasar, Grab menggandeng polisi untuk menguak kasus sejenis di kota-kota lain.

Kasus "tuyul" ini mengingatkan saya akan cerita tentang bagaimana orang-orang zaman dulu menangkap tuyul "beneran". Ada dua versi yang masih melekat erat di ingatan saya.

Kisah pertama, seorang pembantu rumah tangga risih dengan cara majikannya mengumpulkan kekayaan yang tidak halal. Dia tidak tahan mendengar keluhan, bahkan tangisan para tetangga yang kehilangan barang berharga—khususnya uang—yang dicuri para tuyul majikannya.

Dari orang pintar di desa itu, dia mendengar bahwa apa yang dikonsumsi tuyul itu berdampak langsung terhadap majikannya. "Ndhuk, kalau menghidangkan bubur, jangan panas-panas ya. Biarkan dingin dulu baru ditaruh di meja yang ada di pojok itu," begitu perintah yang sering dia dengar dari ndoro-nya.

Meskipun heran, dia dulu tidak tahu mengapa dia harus menyediakan beberapa mangkok bubur dan harus ditaruh di meja pojok di sebuah kamar yang remang-remang mengerikan. Padahal, tuan dan nyonyanya hanya tinggal berdua. Anak-anak mereka sekolah di luar kota, bahkan di luar negeri. Yang lebih mengherankan, mereka berdua tidak suka bubur.

"Jangan-jangan bubur-bubur ini untuk tuyul peliharaan ndoro?" batinnya.

Suatu malam, seperti ritual sehari-hari, dia memasak bubur. Setelah matang, alih-alih mendinginkannya, dia langsung membawa mangkok-mangkok berisi bubur panas itu ke ruang biasanya. Dengan tangan gemetaran dia menaruhnya ke meja pojok pendek misterius itu.

Keesokan harinya dia terkejut sekaligus kecut ketika dipanggil majikannya. Tuannya marah besar, dan menyuruhnya membawa seluruh pakaiannya serta mengusirnya pulang. Sekilas dia melirik bibir majikannya bengkak melepuh kemerahan.

Kisah kedua. Tuyul—karena masih kanak-kanak—nature-nya adalah bermain. Oleh sebab itu, untuk menangkapnya sederhana saja. Kita diminta untuk mencari yuyu alias kepiting sungai, dan menaruhnya di meja. Agar yuyu tidak lari, sebuah toples ditaruh terbalik ke atasnya. Dengan demikian, yuyu itu hanya bisa berkeliling, dan membuat suara berupa ketukan di toples tanpa bisa melarikan diri.

Kita taruh yuyu dalam toples itu di meja rumah yang sering kemalingan. Cara ini membutuhkan kesabaran. Namun, ada cara untuk memancing agar tuyul itu datang. Sebarkan saja berita bahwa rumah itu baru saja mendapat rezeki entah dari penjualan panen atau warisan. Tanpa diundang, pada malam harinya para pemilik tuyul akan mengirimkan peliharaannya itu ke rumah target.

Jika tuyul itu masuk ke rumah, dia tidak segera mencari uang, melainkan asyik bermain dengan yuyu dalam toples. Perhatiannya teralihkan. Saat mereka sedang asyik bermain, konon katanya kita bisa menangkap dan mengikatnya pakai rambut yang panjang.

Benarkah kedua kisah di atas? Saya belum pernah melihatnya secara langsung, dan tidak berminat untuk mencobanya sendiri. Saya pun tidak menganjurkan orang lain untuk melakukannya. Mengapa? Karena ada tuyul lain yang jauh lebih berbahaya, yang sering menipu orang yang suka belanja lewat online shop.

Namun, yang paling berbahaya adalah tuyul yang aktif beroperasi justru menjelang dan pada saat pilkada serentak yang sebentar lagi dihelat. Mereka bukan saja mencuri uang, melainkan merampok demokrasi sebuah negara.

Ada tuyul yang kerjanya mencuri suara. Ada tuyul yang membantu majikannya mendapatkan tahta dengan menghamburkan uang ke para calon pemilih.

Ada juga tuyul yang menyebar berita bohong dan kebencian agar lawan politik majikannya masuk kandang. Cilakanya, orang-orang baik yang tidak memelihara tuyul pun ikut-ikutan menyebarkan berita dari para tuyul ini tanpa cek dan recek sumbernya, apalagi kebenarannya. Mereka lebih memilih pembenaran ketimbang mencari kebenaran.

Itulah sebabnya saya setuju dengan meme yang memberi definisi berita bohong demikian: "Hoax itu dibuat oleh orang pintar yang jahat dan disebarkan oleh orang baik yang bodoh."

Mengapa orang baik bisa ikut-ikutan menyebarkan berita para tuyul itu? Paling tidak ada tiga alasan. Pertama, ingin dianggap orang yang up date, sehingga lebih melek berita ketimbang yang lain. Kelompok ini merasa jika tidak up date, meraka merasa out of date dan akhirnya ter-delete. Kedua, ingin menolong orang lain mendapatkan informasi yang benar atau bahkan meluruskan berita. Ironisnya, mereka justru terbengkokkan.

Ketiga, ingin mendukung idolanya dengan menyebarkan berita buruk tentang lawan politik tokoh dukungannya. Mereka tidak sadar bahwa dengan melakukan seperti ini, jika terbongkar, bukan saja mencoreng reputasi mereka, melainkan juga menjungkalkan prestasi orang yang mereka junjung. Bukankah efek bumerang bisa menempeleng setiap orang yang meleng?

Jadi, serahkan saja para tuyul ini kepada ahlinya sambil berharap agar uang—dan suara kita—tidak ikut dicuri.

Minggu, 14 Januari 2018

Masihkah Anda Mengidolakan Ahok?

Masihkah Anda Mengidolakan Ahok?
Xavier Quentin Pranata ;  Dosen dan Pembicara Publik
                                                   DETIKNEWS, 11 Januari 2018



                                                           
Di tengah panasnya api pemberitaan negatif tentang Ahok, saya menemukan sejuknya oase karya Yanu Arifin di detikSport berjudul Maukah Kamu Berganti Klub Idola Jika Ditawari Mobil dan Uang Rp 3,2 M? Intinya begini. Artikel itu membahas video Bundesliga yang mengunggah video teaser yang ditujukan bagi para fans yang sedang menganggur karena jeda musim dingin.

Dua orang 'agen' diminta untuk merayu para maniak bola untuk memindahkan loyalitas mereka ke klub bola lain. Oliver Roemer loyalis Borussia Dortmund, Michael Zeman pendukung Bayern Munich, dan Martin Siermann 'bonek' Borussia Moenchengladbach diiming-imingi uang, mobil, dan popularitas agar memindahkan dukungan ke klub lawan.

Roemer diminta untuk jadi fans Schalke 04 —rival Dortmud dalam derby Ruhr— Sierman digoda untuk mendukung FC Koln —rival Gladbach dalam derby Rhine— dan Zeman dirayu untuk mendukung Dortmund, rival Bayern.

Bagaimana hasilnya? Sungguh mengagumkan dan membuat saya terharu.

"Tindakan ini seperti menjual identitas saya. Saya tidak bisa melakukannya," tampik Roemer.

"Tidak, uang tak jadi soal. Ini urusan hati. Saya terlahir sebagai fans Gladbach dan akan tetap seperti itu," tegas Siermann.

"Saya fans Bayern. Sekali Bayern, tetap Bayern," tepis Zeman.

Video Bundesliga itu diakhiri dengan kalimat yang menyentakkan kesadaran kita semua, "Fans sejati tidak bisa dibeli!"

Alangkah bedanya apa yang terjadi di lapangan bola dengan dunia politik. "Tidak ada kawan sejati di politik, yang ada hanya kepentingan pribadi," begitu ucapan yang sering saya dengar. Belantara berita tentang Ahok pun membuat orang yang tidak punya peta pikiran yang jernih bisa ikut tersesat.

"Ah, berita hoaks kok disebarin," begitu komentar sinis seorang ibu di acara arisan.

"Paling-paling untuk mengalihkan isu kerja pejabat yang nggak bener," ujar seorang sopir taksi online.

"Saya kok nggak percaya orang sekaliber Ahok bisa menceraikan istrinya," ujar seorang dokter.

"Mengapa tidak? Tidak ada orang yang steril terhadap kesalahan," ujar seorang notaris.

"Jika pernikahan Ahok dan Veronika Tan bubar, masalah buat lo?" begitu tulis sahabat saya.

Pemberitaan masalah keluarga Ahok ini bahkan lebih gaduh daripada kasus perceraian musisi kenamaan dengan penyanyi papan atas tanah air, lebih riuh ketimbang bintang film kenamaan yang terjerat narkoba, bahkan lebih gemuruh ketimbang perseteruan antara motivator kondang dengan anaknya.

"Kok begitu saja diributin?" ceplos seorang anak SD.

Saya senang dengan komentar polos kids zaman now ini. Mengapa? Banyak stigma negatif yang dicapkan di dahi mereka oleh adults zaman old kepada mereka. Ternyata mereka justru punya pikiran yang lebih jernih dan belum terpolarisasi antara lovers dan haters, terpolusi dengan berbagai kepentingan dan terdekadensi dengan keuntungan sesaat.

"It is easier to build strong children than to repair broken adults," ujar F. Douglass yang saya amini dengan cepat dan kencang.

Jika di dunia politik kawan bisa menjadi lawan, akankah lovers Ahok bisa menjadi hater-nya di kemudian hari karena terlalu kecewa dengan 'kejatuhan' idola mereka? Apakah haters Ahok bersorak sorai karena tokoh yang dibencinya hancur?

Jawabannya kembali kepada pertanyaan yang sangat mendasar: "Mengapa mereka menjadi lovers? Mengapa mereka menjadi haters?" Jika jawaban mereka mengambang, bahkan mengikut arus seperti, "Karena banyak orang yang mengidolakan, saya jadi ikut," atau, "Karena teman-teman saya membencinya, saya juga," maka orang-orang seperti inilah yang akan dibuat bingung, bahkan kehilangan arah, saat idola atau musuh mereka mengalami perubahan sikap.

Mereka kehilangan arah dan sikap hidup karena mengikuti arus bernama floating mass. Hanya ikan mati yang terseret arus.

Ketimbang jadi ikan asin, apalagi ikan mati membusuk, lebih baik kita menjadi manusia salmon, bukan manusia setengah salmon.

Saat berada di Salmon Run di Kanada bersama keluarga, saya bisa melihat dari jarak amat dekat para salmon yang dengan penuh perjuangan meloncati setiap rintangan untuk kembali ke tempat mereka berasal. Di sana mereka akan kawin, bertelur, dan mati.

Meski jalurnya itu-itu saja, tetapi salmon punya tujuan yang jelas: hidupnya bermanfaat. Bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga komunitasnya dan terlebih bagi penggemar sashimi seperti saya dan putra bungsu saya.

Kembali ke pertanyaan inti: bagi para die hard Ahoker, "Masihkah Anda mengidolakan Ahok?" Sekali lagi, jawaban Anda menentukan kualitas nilai dasar yang Anda pegang selama ini. Apakah Anda mengidolakan Ahok karena prestasi, prestise, atau pribadi? Jika semua unsur yang Anda idolakan itu runtuh, apakah kecintaan Anda terhadapnya ikut luruh? Ketika idola Anda rubuh, apakah Anda ikut jatuh bersamanya?

Tiba-tiba saja saya teringat dengan lagu diva pop idola orang sedunia, Michael Jackson. Perhatikan lirik lagu Man In The Mirror berikut:

I'm starting with the man in the mirror
I'm asking him to change his ways
And no message could have been any clearer
If you wanna make the world a better place
Take a look at yourself and then make a change

Saat idola kita mengambil langkah yang berbeda dengan kita, kita ingin —bahkan paksa— dia untuk berubah. Kita merasa langkah kita jauh lebih baik daripada dia. Seperti lagu di atas, ketimbang kita berusaha keras untuk mengubah dia menjadi seperti yang kita harapkan, dan kecewa berat saat itu tidak terjadi, mengapa kita tidak mengubah diri kita sendiri agar dunia menjadi tempat yang lebih indah untuk dihuni dan dinikmati?

Ketimbang mengidolakan figur publik, mengapa tidak berusaha sungguh-sungguh untuk meninggikan Sang Khalik agar kita bisa menjadi yang terbaik?

Saat bingung menjawab pertanyaan ini, marilah kita melihat ke cermin dan berkata, "Fans sejati tidak bisa dibeli." ●

Rabu, 22 November 2017

Takhta yang Bergoyang

Takhta yang Bergoyang
Xavier Quentin Pranata ;  Penikmat Sastra yang kurang suka
'drama' dan 'sandiwara'
                                                DETIKNEWS, 21 November 2017



                                                           
Saat berada di sebuah taman nasional di Kanada, saya dan keluarga berfoto di sebuah pohon raksasa yang disambar petir. Mengapa pohon itu tidak tumbang meskipun puncaknya gosong dan dalamnya berlubang? Soalnya pengelola memasang konstruksi baja di dalamnya untuk mempertahakannya agar tetap berdiri. Mengapa pula pohon yang sudah disambar petir tetap dipertahankan berdiri? Untuk monumen dan —tentu saja— mendulang dolar dari kunjungan turis. Manusia memang cenderung mempertahankan kekuasaan (baca: takhta) tidak peduli apakah 'kursi singanya' sudah goyah dan memanas?

Saat menemani anak ke sekolah, di dalam mobil saya membaca judul berita koran terbaru. Di halaman depan terpampang foto Setya Novanto yang terbaring di rumah sakit karena diduga mengalami gegar otak. Sebelumnya, drama pemanggilan paksa Ketua DPR itu di rumahnya sungguh meramaikan jagat berita Tanah Air. Di halaman internasional, Robert Mugabe menolak lengser meskipun militer, gereja, dan masyarakat sipil memintanya untuk lengser. Saya jadi ingat peristiwa yang mirip dengan itu sekian tahun yang lalu di Tanah Air tercinta ini saat gedung MPR-DPR dikepung mahasiswa yang meminta presiden mundur dari jabatannya.

Di bawah tulisan diktator Zimbabwe itu ada berita tentang Hun Sen --Perdana Menteri Kamboja-- yang memakai berbagai cara untuk melanggengkan takhtanya yang sudah berlangsung tiga puluh tahun. Jika berhasil menang pada pemilu mendatang, dia bisa mengugguli Soeharto yang pernah menjabat selama 32 tahun. Sementara itu, di Kerajaan Arab Saudi muncul bintang baru, yaitu Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) yang menggemparkan dunia karena aksi bersih-bersih yang dia lakukan.

MBS melakukan penangkapan tokoh-tokoh penting di Arab Saudi yang diduga melakukan korupsi besar-besaran. Meskipun tindakannya ini mendulang simpati di kalangan anak muda, kalangan konservatif khawatir karena mereka menduga ada maksud lain, yaitu untuk menyingkirkan orang-orang yang berpotensi untuk menggoyang kedudukannya. Sekali lagi hal ini bicara tentang takhta.

Singgasana, kata lain dari takhta, berasal dari bahasa Sansekerta sinhasana yang artinya tempat duduk singa. Singa dalam kebudayaan Budha dan Hindu memang menyiratkan arti keagungan dan kebesaran. Kita mengenal singa sebagai raja rimba. Siapa yang menyangkal kedahsyatan yang ditimbulkan singa, bahkan oleh aumannya saja? Ketika menginap di sebuah taman safari, saat malam hari, saya dibangunkan oleh auman singa yang menggetarkan dada. Seorang sahabat yang ikut safari ke Afrika dengan jeep terbuka merasakan betul kedahsyatannya. "Aumannya begitu mendebarkan," ujar penggemar fotografi alam liar itu.

Apakah penguasa zaman kini menunjukkan kharisma semacam itu? Menurut saya tidak. Mereka justru di-"bully" di mana-mana. Figurnya dijadikan meme. Meskipun begitu, conspiracy theory berkata sebaliknya. Karena nampak alim dan santun, mereka justru berbahaya karena kepanjangan tangan mereka ada di mana-mana. Orang-orang yang hendak mengusik singgasananya bahkan merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan seperti disiram air keras, bahkan bisa dibuat 'bunuh diri' meskipun berada jauh di Amerika sana. Benarkah teori itu? Siapa yang bisa melakukan cek dan ricek?

Ambisi untuk merebut takhta dan gengsi untuk mempertahankan singgasana membuat orang melakukan apa saja. Film Jepang klasik Throne of Blood (1961) yang mengadaptasi drama epik Macbeth (1606) karya Shakespeare dengan ciamik menggambarkan apa yang terjadi jika ambisi dan gengsi menikah. Pertumpahan darah. Saya membaca karya dramawan legendaris ini ketika kuliah di Fakultas Sastra Inggris.

Macbeth dan sahabat karibnya Banquo bertemu dengan penyihir yang meramalkan bahwa dia akan menjadi raja, dan sahabatnya --meskipun tidak menjadi orang nomor satu-- akan mempunyai keturunan yang menjadi raja. Ambisi yang disirami ramalan yang melambungkan ego membuatnya lupa diri. Bersama istrinya Lady Macbeth, dia merencanakan pembunuhan terhadap Raja Duncan I yang berkunjung ke rumahnya.

Begitu berhasil duduk di atas taktha, Macbeth —seperti penguasa zaman sekarang— mencoba mempertahakannya mati-matian; meminjam bahasa iklan sebuah kursi, "sudah duduk lupa berdiri". Dengan teori Machivelli —the end justifies the means— Macbeth betul-betul menghalalkan segala cara agar tetap bertaktha.

Karena khawatir sahabatnya membocorkan rahasia pertemuan mereka dengan tukang sihir, dia membunuh Banquo. Orang yang tangannya berlumuran darah, hidupnya sulit berserah. Dia justru tertimpa insomnia parah. Rasa bersalah yang berkelindan dengan rasa takut ketahuan membuatnya salah tingkah, dan ini tentu menimbulkan kecurigaan. Jenderal Macduff mencium bau busuk yang menguar dari perilaku penguasa baru itu. Malcolm dan Donalbain, kedua anak Duncan, yang sama-sama mencium bau busuk yang menguar dari aura Macbeth, diajaknya bergabung untuk mulai melakukan penyelidikan.

Orang yang ketakutan selalu mencari petunjuk kepada pihak lain yang dianggap bisa memberinya 'peta masa depan'. Macbeth kembali menemui tiga tukang sihir yang dulu pernah meramalkannya menjadi raja. Ada dua ramalam yang diberikan kepadanya. Pertama, Macbeth akan tetap berkuasa sampai "hutan Great Birnam datang ke bukit Dunsinane". Kedua, dia tidak akan dibunuh oleh manusia yang lahir dari rahim seorang perempuan.

Dua nubuat yang sulit dipenuhi itu membuatnya arogan. Mana bisa hutan datang ke bukit di istananya? Mana ada orang yang tidak dilahirkan seorang perempuan?

Keangkuhan adalah awal kejatuhan. Orang yang pongah tidak lagi tahu apa artinya jengah. Kesombongan membuat nalarnya menguar keluar. Kebenaran, pada akhirnya, memang menunjukkan kedigdayaannya. Malcolm dan Macdoff menyerbu ke Inggris untuk menggulingkan kekuasaan Macbeth. Mereka mengirim tentara yang berkamuflase dengan daun pepohonan dari hutan Great Birnam. Setelah berhasil merangsek masuk ke puri Macbeth, Macduff mendesak Macbeth untuk duel satu lawan satu yang dihadapi Macbeth dengan seringaian penuh arti. "Mana bisa dia membunuhku jika dia dilahirkan dari seorang perempuan!" begitu mungkin pikirnya dalam hati.

Macbeth terbunuh. Kok bisa? Macduff ternyata tidak dilahirkan, melainkan dikeluarkan dari rahim ibunya lewat operasi caesar. Macduff bukan seorang yang ambisius seperti lawannya. Setelah berhasil memotong kepala Macbeth, dia menyerahkan takhta kerajaan kepada Malcom. Utang darah terbayar sudah.

Apakah Robert Gabriel Mugabe akan berhasil lolos dari kudeta militer seperti yang dulu pernah dilakukannya juga? Apakah Hun Sen akan bisa mempertahankan kekuasaannya sampai urat ingin bertaktanya putus? Apakah orang-orang yang merugikan triliunan uang negara akan tetap tak tersentuh karena punya peramal dan prajurit yang terus membelanya? Jangan bertanya kepada rumput yang bergoyang, tetapi kepada Dia yang bukan saja sanggup menggoyang rumput, melainkan bumi beserta isinya!