Tampilkan postingan dengan label Widodo Muktiyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Widodo Muktiyo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Mei 2021

 

Lebaran, Refleksi Keagamaan dan Kebangsaan

Widodo Muktiyo ;  Guru Besar Ilmu Komunikasi UNS, Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa

KOMPAS, 11 Mei 2021

 

 

                                                           

Lebaran kali ini, kita masih dalam situasi pandemi Covid-19 dan diliputi keprihatinan nasional. Kedatangannya tidak selayaknya kita sambut dengan cara-cara konsumtif secara berlebihan dan hura-hura. Apalagi dengan membuat kerumunan dan mengabaikan protokol kesehatan yang berpotensi menimbulkan kluster penularan baru.

 

Esensi kemenangan Ramadhan

 

Dalam suasana seperti ini, mari kita mengambil esensi, bukan yang artifisial dari kemenangan Ramadhan tersebut. Kemenangan Ramadhan sendiri mesti dilalui dengan berbagai tempaan dan laku. Pertama, laku kedisiplinan terhadap godaan tentang batas awal dan akhir yang harus dipatuhi.

 

Kedua, konsisten dan tingkatkan daya tahan terhadap godaan sepanjang hari. Terakhir, kepekaan dan kepedulian kepada sesama. Ketiga laku itulah yang dijalani selama Ramadhan sehingga kemenangan diraih.

 

Modalitas itu, yakni kedisiplinan, daya tahan, dan kepedulian terhadap sesama, tampaknya telah lama terpinggirkan. Barangkali selama ini kita telah terperosok terlalu dalam pada sikap dan cara materialistis yang semuanya diukur berdasarkan pertimbangan rasional dan ekonomi deterministik.

 

Bahkan, hubungan persahabatan pun telah menjadi instrumentasi untuk mencari keuntungan. Tidak ada kawan abadi, yang ada adalah kepentingan.

 

Karena takarannya untung rugi dan mendapat bagian apa, pada gilirannya kita kehilangan sisi-sisi kemanusiaan yang paling krusial. Tentu saja, rasionalitas dan intelektualitas manusia penting. Kedudukannya tak lagi perlu diperdebatkan.

 

Ia telah memberikan sumbangsih sangat berharga bagi kehidupan yang lebih baik. Namun, kalau segala sesuatunya ditakar dengan nalar untung rugi, sikap materialisme ini akan melahirkan keserakahan dan ambisi kebablasan.

 

Tragisnya, selain memperburuk hubungan sosial, kondisi ini diperparah dengan sikap-sikap yang menekankan oposisi biner. Saya bukan Anda, dan Anda kawan atau lawan. Corak sosial kita menjadi dikotomis secara bipolar. Hidup jadi begitu kaku dan mudah pecah. Di sana-sini diwarnai kecurigaan, persaingan keras, dan kecurangan.

 

Dalam suasana semacam itu, motivasi terbesar yang ditunjukkan adalah kepenguasaan dan bukan kepedulian kepada sesama. Seolah-olah citraan semacam ini yang dibenarkan.

 

Padahal, kita sebagai manusia bukanlah makhluk satu dimensi yang segala harus dinalar dan harus rasional. Jelas tak memadai, apalagi dimensi jangka panjang. Kenalaran itu harus disandingkan dengan estetika, etika, dan agama. Ada rasa yang perlu diolah. Kepekaan dan kepedulian sesama yang harus terus ditumbuhkembangkan serta ada warna-warni hidup yang harus disyukuri.

 

Kemampuan rasionalitas manusia, meski penting, tetap tak memadai bagi kehidupan kita sebagai hamba yang paripurna. Dalam banyak keadaan, rasionalitas memiliki keterbatasan dan tak mampu menjangkau semuanya. Apa yang dekat saja tak mampu ditembus semuanya, sedangkan apa yang tak diketahui bukan berarti tak ada. Itulah sebabnya, manusia tidak hanya rational animal, tetapi juga makhluk sosial, makhluk bermoral, dan makhluk Tuhan.

 

Tentu saja, saya bukan Anda. Tak mungkin saya identik dengan Anda. Namun, tujuan pembedaan itu bukan untuk maksud penguasaan, yang menempatkan perbedaan sebagai oposisi, apalagi musuh. Tujuannya, untuk mendekatkan pada kemanusiaan yang lebih bermakna. Bahwa perbedaan itu sunatullah yang mesti disyukuri dan saling mengenal itu kewajiban kemanusiaan yang mesti dijalankan.

 

Jadi, kesadaran dan kepekaan terhadap sesama pada akhirnya berada dan ditentukan oleh orang lain pula. Hidup tidak bisa dirasakan apabila kita hanya sendiri di ruang hampa.

 

Di sana ada empati, makna, dan kepedulian yang termanifestasikan dalam hubungan-hubungan sosial, interaksi, dan komunikasi. Kita terus dilatih dalam berpuasa yang penuh kekhusyukan, semata untuk mencari rida-Nya (komunikasi transendental).

 

Momen-momen keagamaan bulan Ramadhan telah mengajarkan relasi dan dimensi kemanusiaan itu sekaligus. Bagaimana agama telah berbicara secara gamblang tentang empati dan kemanusiaan. Jika ada yang berbahagia, kita turut bahagia. Sebaliknya, jika ada yang sedang kesusahan, kita turut sedih. Pun apabila kita berlebih, kita berbagi.

 

Secara universal, agama berbicara tentang kedamaian, kebahagiaan, dan persaudaraan. Amaliah dalam wadah zakat, infak, dan sedekah menjadi sinar yang membahagiakan.

 

Merasuknya orientasi materialistis dan faktor ekonomi deterministik yang ditopang watak ingin untung dan kuasa dirasakan telah begitu mengkhawatirkan. Meski demikian, kehadiran media sosial dan era virtual menambah beban keprihatinan dan penyikapan tersendiri.

 

Introspeksi dan mawas diri

 

Hiruk-pikuk dan keriuhan komunikasi membutuhkan kecerdasan baru dalam bentuk kecerdasan digital. Di media sosial, ajaran dan ujaran bercampur menjadi satu yang sering kali sulit dibedakan antara ajaran atau kepahaman dan berbagai konsekuensinya.

 

Entah disadari atau tidak, situasi semacam ini menerabas kepantasan dan gagal menentukan batas ruang privat, ruang sosial, atau ruang publik.

 

Semua campur aduk menjadi satu, yang kemungkinan dapat membuat satu dengan yang lain tersinggung atau bahkan marah. Akibatnya, jarak sosial semakin jauh, yang membuat kita semakin asing satu terhadap yang lain, padahal kita dekat.

 

Semestinya perbedaan-perbedaan yang ada, hadir untuk kita jaga dan hormati, justru mencuat menjadi kontradiksi-kontradiksi dalam realitas virtual dan menjelma dalam realitas sosial. Terkadang terlalu banyak segi kesamaan kemanusiaan yang kemudian dilupakan. Kita sebagai bangsa religius dapat mengambil bulan keagamaan kali ini dengan introspeksi dan mawas diri yang menyeluruh.

 

Di tengah krisis pandemi Covid-19, sikap materialisme ekonomi deterministik ataupun perilaku tercela lainnya perlu jadi wahana becermin diri.

 

Kemenangan Ramadhan kali ini tampaknya masih kita rayakan dengan keheningan, ketenangan, dan kematangan hati, tak ada cerita tentang kemacetan orang mudik, atau lonjakan kenaikan harga kebutuhan pokok, dan hiruk-pikuk lain.

 

Rasa takzim dan hormat kepada orangtua kita lakukan dengan panggilan video ataupun bentuk komunikasi virtual/impersonal lainnya. Kita lepaskan impitan-impitan materialisme dengan membuka hati dan pintu maaf. Kita istighfar-i semua atas segala dosa dan kesalahan.

 

Bersamaan dengan itu, kemenangan Ramadhan kita isi dengan keikhlasan untuk merefleksikan semua bentuk keprihatinan yang terjadi.

 

Apa dan bagaimana kontribusi kita untuk menopang kemajuan bangsa sebagai bagian pilar kemanusiaan? Corak kepentingan apa yang semestinya dipertontonkan sebagai suri teladan agar musibah pandemi segera sirna? Apakah sejauh ini kita telah menjelma sedemikian rupa sebagai homo homini lupus? Indonesia menjadi wahana baldatun thoyibatun warrobun ghofur (negeri damai dan mendapat berkah Tuhan) yang mesti dilakukan, kita syukuri bersama.

 

Di tengah keheningan, keprihatinan, dan keikhlasan hati, mari di sepanjang malam jelang Lebaran, kita mendengarkan kumandang kebesaran Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Esa, yang kepada-Nya kita semua kembali dan pasti kembali. Meluruhkan kesombongan duniawi dan menanti antrean surgawi. Selamat hari raya Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir batin. ●

 

Sabtu, 17 April 2021

 

Komunikasi Kebajikan dalam Spirit Ramadhan

Widodo Muktiyo ; Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa dan Guru Besar Ilmu Komunikasi UNS Solo

                                                         KOMPAS, 15 April 2021

 

 

                                                           

Sudah dua hari kita menjalani bulan suci Ramadhan. Keutamaan dan kemuliaannya membuat setiap Ramadhan selalu terasa istimewa. Di tengah pandemi dan upaya-upayanya, di tengah keriuhan/kegaduhan dan ketegangan, paradoks-paradoks, serta kelogisan nalar untuk tetap berjuang dalam mewujudkan cita-cita negara, sepertinya Ramadhan 1442 H adalah momen penting untuk menahan diri.

 

Tidak berkata-kata, kecuali yang baik-baik. Tidak pat gulipat dan manuver sana atau sini, yang memicu urat leher menjadi kencang dan panas. Pun kerumunan-kerumunan yang menimbulkan kluster penularan baru. Sebagai penghormatan terhadap kemuliaan bulan suci kali ini sudah sepatutnya kita menahan diri terhadap ucapan dan tindakan yang sia-sia dan tidak perlu.

 

Menahan diri di bulan Ramadhan berarti berinstrospeksi. Menanggalkan perkataan-perkataan yang sia-sia dan menjauhkan diri dari kebencian, pertengkaran, apalagi pertumpahan darah. Ia hadir untuk digunakan bermuhasabah, sebagai diri, bagian dari keluarga, dan menjadi bagian dari bangsa menuju ketakwaan individu dan sosial.

 

Dengan ketenangan jiwa dan kebersihan hati, kita dapat menanyakan: sudah seberapa baikkah kita? Sudah seberapa besarkah kemanfaatan dan sejauh mana sumbangsih kita bagi perjalanan bangsa? Refleksi yang tulus dan langsung ini tidak saja penting, tetapi sekaligus membawa kita kepada kesadaran horizon diri yang lebih tinggi.

 

Meskipun satu bulan dan hanya datang satu tahun sekali, jika dibandingkan dengan perjalanan bangsa kita, Ramadhan selalu dapat menjadi waktu bernilai untuk merenungkan setiap perjalanan dan perjuangan bangsa. Tujuh puluh enam tahun lalu, kemerdekaan bangsa kita, ada di bulan suci Ramadhan, menunjukkan bulan ini ada sesuatu yang sakral dan energi luar biasa yang kita isi dengan pembangunan dan perjuangan hingga kini.

 

Mengasah diri

 

Di dalam ajaran berpuasa di bulan Ramadhan termaktub, jika ada yang datang kepadamu untuk mendebat dan membuat kegaduhan, katakanlah saya sedang berpuasa. Maknanya berpuasa itu memiliki marwah dan adab. Ia sebuah ruang peribadatan dan kontemplasi tetapi dekat dengan Tuhan.

 

Di dalam Ramadhan, selama sebulan penuh, setiap diri menyibukkan untuk bertransendensi dan bertransformasi menemukan jati diri kembali, yang mungkin telah menyimpang terlalu jauh oleh ambisi dan keserakahan serta ketidakpercayaan karena pengaruh fitnah dan hasutan.

 

Dalam konteks diri, manusia sebagai makhluk komunikasi, yang berkata-kata dengan bahasa, melakukan pertukaran makna, dan hidup melalui tindakan-tindakan simbolik beserta implikasinya, mengasah diri sebagai komunikator bukan saja perlu, tetapi wajib, untuk sedapat mungkin menghindari terjadinya kesia-siaan dalam berkomunikasi.

 

Betapa banyak terjadi pertikaian, perselisihan, dan permusuhan karena kesia-siaan komunikasi di antara kita. Begitu seringnya, jika tidak dikatakan biasa, kita memoralisasi diri melalui kata-kata untuk menutupi niat buruk. Melalui tindakan simbolik, sebuah dongeng menjadi fakta, sedangkan fakta menjadi bisu. Argumentasi bukan didudukkan sebagai penghormatan nalar, tetapi lebih sebagai pemanis. Pada tingkat akut, permasalahan ini telah menjerat kita untuk tidak saling percaya dan curiga.

 

Bukan hal yang kebetulan jika di dalam kultur Jawa dan momentum Ramadhan ada titik temu. Ada pepatah Jawa yang mengatakan ngulat sarira hangrasa wani. Kita mesti memiliki keberanian menelisik diri, menemukan hambatan-hambatan, dan pada gilirannya mendapatkan kemampuan untuk melepaskan ketergantungan dan bayang-bayang ketakutan yang tidak perlu.

 

Di sisi lain, refleksi diri itu, ada pada ucapan. Ajining diri ono ing lathi. Di sinilah, dalam perspektif Aristotelian, ditunjukkan bahwa krediblitas seseorang dalam kedudukannya sebagai komunikator dapat diasah melalui tiga pendekatan, yakni karakter, intelektualitas, dan motivasinya. Semua pesan, sebenarnya adalah refleksi dari karakter, intelektualitas dan niatan penyampainya.

 

Dalam tataran moralitas bulan suci Ramadhan, ujung dari rangkaian peribadatan itu adalah ketakwaan yang sebenarnya di dalam terminologi takwa itu, dalam hemat pandangan saya, tercakup tiga dimensi, yang sejalan dengan apa yang dipersyaratkan untuk menjadi seorang komunikator yang disegani. Mereka yang memiliki kejujuran akan memproduksi pesan yang konsisten.

 

Sikap ketegasan lahir dari keberanian yang bersumber dari keadilan.

 

Kelapangan dada dalam menerima kritik tercipta karena sikap terbuka. Sikap tenang dan tidak emosional muncul karena daya tahan diri dan kesabaran. Pendek kata, mereka yang memiliki karakter yang baik, sudah barang tentu, tidak memiliki motivasi untuk mencederai atau mendustai ucapannya sendiri.

 

Obyek-obyek sentral karakter semacam itu, seperti kejujuran, keadilan, kesabaran, dan kelapangan dada, merupakan tema-tema utama, yang menjadi sasaran terus-menerus, dalam setiap kali kita bertemu dengan Ramadhan. Di sanalah karakter yang berkarat, ditempa oleh panasnya lapar dan dahaga, dilembutkan dengan basuhan air wudhu, diperindah dengan ucapan-ucapan yang mulia dari Kitab Suci, dan mencerabut kedengkian serta keserakahan dengan mengeluarkan shodaqah dan zakat.

 

Secara intelektualitas, bulan suci Ramadhan kembali mengantarkan kita pada pencerahan pemikiran. Pesan-pesannya mengajarkan kepada kita agar dapat membedakan mana yang bersifat instrumental dan mana yang substantial, mana yang temporal dan mana yang abadi, serta mana yang hakiki dan mana yang fatamorgana. Kecerdasan yang bersih pula yang menuntun kemampuan dalam membedakan mana taktik dan mana yang licik. Karakter dan kecerdasan menuntun pada cara kerja yang menghasilkan legacy yang akan terus dikenang.

 

Belajarlah mendengar

 

Dalam kesibukan diri tidak berkata-kata yang sia-sia di bulan suci Ramadhan itu, cobalah belajar mendengar dari pemimpin dan sebaliknya. Sebab, salah satu dari mereka yang mendapatkan naungan Allah SWT di hari kiamat kelak adalah pemimpin yang adil. Dalam keheningan, merenungkan apa yang dilakukan para pemimpin, barangkali menghasilkan retrospeksi dan refleksi yang lebih mendekatkan daripada kecurigaan serta ketidakpatuhan.

 

Apa yang dipikirkan pemimpin yang adil pasti berbeda dengan apa yang dipikirkan mereka yang dipimpin. Apa yang dikatakan pemimpin dengan sendirinya berdampak luas di masyarakat. Beban pemimpin jauh lebih berat berlipat-lipat. Bisa jadi, beban yang sudah berat itu, ditambah, buruknya hubungan antara yang memimpin dan yang dipimpin.

 

Sosok pemimpin yang adil dan bijak, bagaimanapun ia menerima sikap-sikap dan cara-cara komunikasi rakyatnya, ia tetap menunjukkan kesantunan dan kelembutannya. Seperti Musa AS, yang tetap tenang dan lembut, ketika dituduh oleh pengikutnya telah mengada-ada. Konsistensi ketenangan dan kelembutannya ditunjukkan dalam berbagai situasi yang berbeda-beda.

 

Sebagian kecil atau sebagian besar pengikut yang tidak simpatik adalah merupakan keniscayaan bagi setiap perjalanan kepemimpinan seseorang. Bagi Musa AS, ia tetap merespons apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan skeptis dari pengikutnya sepanjang itu diperlukan, sedangkan di sisi lain, ia tunjukkan tindakan-tindakan konkret sebagai bukti kebenaran dari kepemimpinannya.

 

Bagi setiap pemimpin yang penting adalah bagaimana ia dapat menghantarkan apa yang menjadi visi dan misinya berdasarkan pada prinsip kebenaran, keadilan, kejujuran dan kemanfaatan. Sebab itu adalah catatan terbaiknya yang paling bernilai baginya.

 

Akhirnya, sejauh masih ada waktu dan bertemu dengan Ramadhan, masih ada kesempatan kembali dan mengambil kebajikan-kebajikan daripadanya. Kemuliaannya memberikan ruang dan cara untuk meluruhkan semua kesalahan, kealpaan, ketidakpedulian, dan kemudian terlahir kembali menjadi insan yang kalau berinteraksi dan berkomunikasi memiliki kesantunan dan budi pekerti yang terpuji.

 

Semua itu merupakan wujud kebajikan komunikasi dengan sesamanya, dengan pemimpin kita dan dengan rakyatnya. Karenanya pula, ini adalah modal kultural kita untuk mengatasi seberat apa pun persoalan yang menimpa bangsa kita. Semoga. ●

 

Sabtu, 27 Maret 2021

 

Komunikasi Kritik, Kualitas Demokrasi dan Kemajuan Bangsa

 Widodo Muktiyo ;  Dirjen IKP Kominfo dan Guru Besar Ilmu Komunikasi UNS Solo

                                                        KOMPAS, 27 Maret 2021

 

 

                                                           

Belum lama ini, istilah kritik ramai diperbincangkan. Seolah-olah apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah membutuhkan kritik dan pemerintah perlu dikritik merupakan paradoks dan penuh kontradiksi. Satu sisi, pernyataan itu diapresiasi karena memang begitulah demokrasi, tetapi di sisi lain, ada yang meragukan. Pertanyaannya adalah bagaimana menguraikan anggapan paradoks-paradoks dan kontradiksi-kontradiksi itu?

 

Ada tiga permasalahan penting, kenapa komunikasi yang dipandang sebagai kritik, tetapi oleh orang lain dipandang sebagai ujaran kebencian atau provokasi. Pertama adalah masalah semiotika. Pilihan diksi dalam komunikasi menentukan indikasi makna yang dirujuk. Dengan perkataan lain, setiap komunikasi memiliki makna yang dituju, satu sisi bagi penyampai, pada saat yang bersamaan, makna bagi penerima komunikasi.

 

Celahnya ada pada terbukanya kemungkinan perbedaan makna yang dimaksudkan dari penyampai, dengan mereka yang menangkap komunikasi. Perbedaan budaya, nilai rasa kata, dan kepentingan dapat memperlebar jarak bagi titik temu makna yang sama. Misalnya kata bobrok bagi penyampai komunikasi dimaksudkan untuk memberi ketegasan dan agar mendapat perhatian serta dukungan, sedangkan bagi penerima komunikasi kata bobrok dipandang sebagai hal yang tidak patut dan tendensius.

 

Masalah semiotika tidak terbatas pada makna indikatif dari diksi yang dipilih. Namun, hubungan antar-ujaran dalam perkataan membuka peluang bagi terbentuknya makna baru. Hubungan kata dengan kata, dan hubungan kalimat dengan kalimat, harus menjadi satu kesatuan utuh dalam memahami ujaran, yang kemudian dapat kita tentukan apakah ujaran itu merupakan bentuk komunikasi kritik atau sebaliknya sebagai komunikasi provokatif. Dengan lain perkataan, konteks menjadi hal yang penting bagi pemaknaan.

 

Masalah kedua yang menjadi sumber kontradiksi dan paradoks adalah masalah retorika. Dalam konteks hubungan pemerintah dan masyarakat, lazimnya dalam praktik komunikasi politik, komunikasi retorika merupakan keniscayaan. Ada hubungan timbal balik yang menarik dan dinamis, yang dapat kita cermati dari relasi itu. Sebab, komunikasi retoris bercirikan argumentasi, kelogisan, dan persuasi yang tujuannya sama-sama ingin memengaruhi dalam proses-proses pengambilan keputusan dan kebijakan terhadap kepentingan publik.

 

Dalam situasi komunikasi yang penuh argumentasi, kelogisan dan persuasi itu, penerimaan atau penolakan terhadap ujaran-ujaran, memunculkan opini dan tidak setiap opini harus menjadi opini publik. Ia dapat menjelma dan justru menimbulkan kontestasi dan pro-kontra. Dalam bentuk-bentuk yang tidak terkendali, hal ini akan menimbulkan keriuhan dan kegaduhan.

 

Apalagi praktik-praktik dari dimensi semiotika dan retorika itu yang tidak bijak, komunikasi akan menjadi komplikasi, ketika saat terjadi, tujuan menghalalkan segala cara. Aspek penting opini dari suatu pendapat adalah apakah ia memiliki nilai bagi pemerintah dan bangsa yang bermanfaat.

 

Masalah ketiga adalah persoalan etika. Meskipun berkomunikasi adalah hak setiap orang dan kemerdekan berpendapat adalah bagian dari demokrasi, komunikasi kritik harusnya konstruktif. Tuntutan kritik konstruktif bukan apologia. Memang begitu seharusnya. Kritik mesti mempertimbangkan pada kepatutan dan kepantasan. Sebab, di dalam kemerdekaan berkomunikasi itu, ada hak-hak orang lain juga yang harus dihargai dan dihormati.

 

Kritik yang konstruktif itu haruslah mengacu pada tiga solusi yang menjadi masalah itu sendiri. Adalah komunikasi yang mempertimbangkan keberagamaan makna yang timbul dari penggunaannya. Ia harus logis tanpa mengeksploitasi sisi emosi dan sensitifitas negatif dalam mempersuasi dan sekaligus mempertimbangkan segi kepatutan dan ketulusan.

 

Jadi, kritik itu berguna. Dalam demokrasi pun, ada prinsip yang menyatakan bahwa tidak ada yang kebal dari kritik. Dalam demokrasi yang berkualitas, semestinya tidak ada anasir-anasir yang antikritik dan sebaliknya, juga tidak perlu merasa takut untuk melakukan kritik. Sekeras apa pun kritik, tidak ditujukan pada pribadi, tetapi ditujukan pada pikiran, gagasan, dan kebijakan.

 

Sinyalemen presiden bahwa pemerintah membutuhkan kritik dan jika ada pasal karet dari peraturan yang menghambat kemerdekaan berpendapat yang konstruktif mesti direvisi, terang-terangan merupakan pandangan yang visioner. Ini cerminan sikap presiden yang matang, yang mengkhawatirkan kualitas demokrasi dan kemajuan bangsa.

 

Bangsa yang maju bukan bangsa yang hanya dihiasi oleh pujian-pujian yang berasal dari dalam diri kita sendiri, melainkan bersamaan dengan itu, koreksi-koreksi dan perbaikan-perbaikan yang sifatnya reflektif, dari internal dan eksternallah yang akan memacu kemajuan itu sendiri. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Namun, kita mesti memiliki kematangan dan bersikap bahwa ketidaksempurnaan itu mesti ada upaya untuk memperbaikinya. Salah satunya dengan cara mendengarkan dan menerima kritik.

 

Boleh jadi, kritik itu sebagai sesuatu yang tidak kita sukai, tetapi memberi manfaat bagi kita. Dan boleh jadi, kita menyukai pujian-pujian dari orang-orang yang suka memuji, tetapi tidak memberi kebaikan kepada kita. Di antara kritik dan pujian itu tersembunyi motif dan tujuan. Karena itu, dalam kerahasiaan dan ketersembunyian motif itu, marilah kita luruskan niat kita dalam berkomunikasi kritik yang konstruktif, yang semata-mata kita tujukan untuk kemajuan bangsa. Semoga. ●

 

Minggu, 07 Maret 2021

 

Komunikasi Kritik, Kualitas Demokrasi, dan Kemajuan Bangsa

 Widodo Muktiyo ; Dirjen IKP Kominfo dan Guru Besar Ilmu Komunikasi UNS Solo

                                                        KOMPAS, 06 Maret 2021

 

 

                                                           

Belum lama ini, istilah kritik ramai diperbincangkan. Seolah-olah apa yang disampaikan Presiden Jokowi bahwa pemerintah membutuhkan kritik dan pemerintah perlu dikritik merupakan paradoks dan penuh kontradiksi. Di satu sisi, pernyataan itu diapresiasi karena memang begitulah demokrasi, tetapi di sisi lain, ada yang meragukan.

 

Pertanyaannya adalah bagaimana menguraikan anggapan paradoks-paradoks dan kontradiksi-kontradiksi itu?

 

Semiotika, retorika, etika

 

Ada tiga masalah penting, kenapa komunikasi yang dipandang sebagai kritik, tetapi oleh orang lain dipandang sebagai ujaran kebencian atau provokasi.

 

Pertama adalah masalah semiotika. Pilihan diksi dalam komunikasi menentukan indikasi makna yang dirujuk. Dengan perkataan lain, setiap komunikasi memiliki makna yang dituju, satu sisi bagi penyampai, pada saat yang bersamaan, makna bagi penerima komunikasi.

 

Celahnya ada pada terbukanya kemungkinan perbedaan makna yang dimaksudkan dari penyampai, dengan mereka yang menangkap komunikasi. Perbedaan budaya, nilai rasa kata, dan kepentingan dapat memperlebar jarak bagi titik temu makna yang sama.

 

Misalnya kata bobrok bagi penyampai komunikasi dimaksudkan untuk memberi ketegasan dan agar mendapat perhatian serta dukungan, sedangkan bagi penerima komunikasi kata bobrok dipandang sebagai hal yang tidak patut dan tendensius.

 

Masalah semiotika tidak terbatas pada makna indikatif dari diksi yang dipilih. Namun, hubungan antar-ujaran dalam perkataan membuka peluang bagi terbentuknya makna baru.

 

Hubungan kata dengan kata, dan hubungan kalimat dengan kalimat, harus menjadi satu kesatuan utuh dalam memahami ujaran, yang kemudian dapat kita tentukan apakah ujaran itu merupakan bentuk komunikasi kritik atau sebaliknya, sebagai komunikasi provokatif. Dengan lain perkataan, konteks menjadi hal penting bagi pemaknaan.

 

Masalah kedua yang menjadi sumber kontradiksi dan paradoks adalah masalah retorika. Dalam konteks hubungan pemerintah dan masyarakat, lazimnya dalam praktik komunikasi politik, komunikasi retorika merupakan keniscayaan.

 

Ada hubungan timbal balik yang menarik dan dinamis, yang dapat kita cermati dari relasi itu. Sebab, komunikasi retoris bercirikan argumentasi, kelogisan, dan persuasi yang tujuannya sama-sama ingin memengaruhi dalam proses-proses pengambilan keputusan dan kebijakan terhadap kepentingan publik.

 

Dalam situasi komunikasi yang penuh argumentasi, kelogisan dan persuasi itu, penerimaan atau penolakan terhadap ujaran-ujaran memunculkan opini, dan tidak setiap opini harus menjadi opini publik. Ia dapat menjelma dan justru menimbulkan kontestasi dan pro-kontra. Dalam bentuk-bentuk yang tidak terkendali, hal ini akan menimbulkan keriuhan dan kegaduhan.

 

Apalagi praktik-praktik dari dimensi semotika dan retorika itu yang tidak bijak, komunikasi akan menjadi komplikasi, ketika saat terjadi, tujuan menghalalkan segala cara. Aspek penting opini dari suatu pendapat adalah apakah ia memiliki nilai bagi pemerintah dan bangsa yang bermanfaat.

 

Masalah ketiga adalah persoalan etika. Meskipun berkomunikasi adalah hak setiap orang dan kemerdekaan berpendapat adalah bagian dari demokrasi, komunikasi kritik harusnya konstruktif.

 

Tuntutan kritik konstruktif bukan apologia. Memang begitu seharusnya. Kritik mesti mempertimbangkan kepatutan dan kepantasan. Sebab, di dalam kemerdekaan berkomunikasi, ada hak-hak orang lain juga yang harus dihargai dan dihormati.

 

Mengacu ke solusi

 

Kritik yang konstruktif itu haruslah mengacu pada tiga solusi yang menjadi masalah itu sendiri. Adalah komunikasi yang mempertimbangkan keberagamaan makna yang timbul dari penggunaannya. Ia harus logis tanpa mengeksploitasi sisi emosi dan sensitivitas negatif dalam memersuasi dan sekaligus mempertimbangkan segi kepatutan dan ketulusan.

 

Jadi, kritik itu berguna. Dalam demokrasi pun, ada prinsip yang menyatakan bahwa tidak ada yang kebal dari kritik. Dalam demokrasi yang berkualitas, semestinya tidak ada anasir-anasir yang antikritik dan sebaliknya, juga tidak perlu merasa takut untuk melakukan kritik. Sekeras apa pun kritik, tidak ditujukan kepada pribadi, tetapi ditujukan kepada pikiran, gagasan, dan kebijakan.

 

Sinyalemen Presiden bahwa pemerintah membutuhkan kritik dan jika ada pasal karet dari peraturan yang menghambat kemerdekaan berpendapat yang konstruktif mesti direvisi, terang-terang merupakan pandangan yang visioner. Ini cerminan sikap Presiden yang matang, yang mengkhawatirkan kualitas demokrasi dan kemajuan bangsa.

 

Bangsa yang maju bukan bangsa yang hanya dihiasi oleh pujian-pujian yang berasal dari dalam diri kita sendiri, tetapi bersamaan dengan itu, koreksi-koreksi dan perbaikan-perbaikan yang sifatnya reflektif dari internal dan eksternallah yang akan memacu kemajuan itu sendiri. Di dunia ini tidak ada yang sempurna.

 

Namun, kita mesti memiliki kematangan dan bersikap bahwa ketidaksempurnaan itu mesti ada upaya untuk memperbaikinya. Salah satunya dengan cara mendengarkan dan menerima kritik.

 

Boleh jadi, kritik itu sebagai sesuatu yang tidak kita sukai, tetapi memberi manfaat bagi kita. Dan boleh jadi, kita menyukai pujian-pujian dari orang-orang yang suka memuji, tetapi tidak memberi kebaikan kepada kita. Di antara kritik dan pujian itu tersembunyi motif dan tujuan.

 

Karena itu, dalam kerahasiaan dan ketersembunyian motif itu, marilah kita luruskan niat kita dalam berkomunikasi kritik yang konstruktif, yang semata-mata kita tujukan untuk kemajuan bangsa. Semoga. ●