Tampilkan postingan dengan label Sujiwo Tejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sujiwo Tejo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2021

 

Mas Teddy Rusdy dan Utang Rasaku

 Sujiwo Tejo  ;  Seniman dan budayawan

                                                  DETIKNEWS, 24 Februari 2021

 

 

                                                           

Waktu Mas Teddy Rusdy kapundhut sangat saya sesalkan tak bisa menyaksikan almarhum untuk terakhir kalinya dalam wujud jenat, baik saat di rumah sakit bahkan setelah disemayamkan di pendopo khas Jawa di Bukit Golf, Pondok Indah, Jakarta. Saya sedang di Gunungkidul, Yogya, saat itu. Dalam bayangan saya, jenat almarhum tidak sekadar mesem. Beliau mesem, tapi mesem yang penuh jerit kegairahan hidup seperti setiap almarhum nyanyikan lagu-lagu sixty dari blues, country, rock'n roll dan apa saja. Beliau kadang sampai berjingkrak-jingkrak baik itu saat diiringi band lengkap maupun cuma organ tunggal.

Sampai tulisan ini saya kerjakan, saya selalu menahan diri untuk bertanya kepada siapa pun tentang bagaimana senyum jenat almarhum. Khawatir kalau cara mereka menggambarkan senyum almarhum yang mudah akrab dan dekat dengan berbagai kalangan ini tak sepersis cara saya membayangkannya.

 

Ya, saya sedang di Gunungkidul, Yogya, malam itu. Dapat kabar pun sudah hampir larut malam. Saya pastikan ini sudah kadaluwarsa sekian jam dari saat peristiwa eksistensial itu terjadi. Pengabarnya Nanang Hape. Dalang muda yang tinggal di kawasan Taman Mini itu, jauh dari Pondok Indah, bukan dari keluarga besar apalagi keluarga inti swargi. Pasti karena situasi di keluarga pewaris kebudayaan leluhur terutama Jawa tersebut begitu kalang kabutnya sampai-sampai mereka lupakan saya.

 

Kang Mbok, cara saya memanggil janda swargi, yang biasanya selalu kasih kabar penting ini-itu bisa dimaklumi kalau berdiam saat itu. HP saja mungkin sudah tidak tersentuh. Tapi putra-putra dan adik-adik Kang Mbok termasuk adik tingkat kuliahnya di Unair yang sudah Kang Mbok perlakukan bagai saudara sendiri, Iwan Sunaryoso?

 

Kawung

 

Pohon-pohon jati di perbukitan kapur Gunungkidul tampak hanya siluet berlatar rembulan. Anginnya menambah kesedihan. Padahal, sudah lebih sepuluh tahunan saya membiasakan diri untuk tidak mengucap "turut berduka cita" pada keluarga yang baru ditinggal pulang ke Tuhan oleh anggotanya. Alasan saya, tidak ada itu unsur "duka cita" dalam ungkapan "inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" kecuali, intinya, hanya semacam penyegaran dan penyadaran kembali bahwa segala sesuatu tak lain hanyalah "dari Tuhan kembali ke Tuhan". Yang ditinggalkan seyogianya menerima kenyataan itu (ridlo) dan rela melepaskannya (ikhlas).

 

Apalagi bila ajaran tanpa duka cita atas kematian itu disandingkan dengan ajaran-ajaran "asli" leluhur yang belum terkontaminasi oleh nilai-nilai baru. Cocok dan klop banget. Tak ada kebiasaan berbaju hitam-hitam seperti di sinetron dan film-film yang melambangkan duka saat menghantar kematian anggota keluarga. Pakaian mereka berwarna-warni seperti pada adat asli Toraja, Batak dan lain-lain.

 

Kang Mbok pernah mewejang saya tentang keanehan kehidupan sekarang. Banyak keluarga mempersiapkan baju-baju untuk pesta dan sejenisnya yang belum pasti ada. Padahal, yang lebih pasti dari semua acara tersebut adalah kematian. Adakah di lemari-lemari keluarga-keluarga saat ini tersimpan baju-baju, yang mungkin bukan hitam-hitam, yang seragam dikenakan bila ayah meninggal. Seragam dengan corak lain bila ibu yang meninggal. Seragam dengan corak lain lagi bila adik yang meninggal; bila kakak yang meninggal; dan sebagainya.

 

Wejangan itu satu paket dengan wejangan Kang Mbok tentang pintu rumah. Ukuran pintu-pintu rumah sekarang umumnya cuma memperhitungkan orang keluar masuk dengan berjalan normal, bukan orang keluar masuk saat sudah menjadi jenazah dan diangkut oleh orang-orang lain.

 

Doa-doa upacara kematian oleh para tetua adat yang sisa-sisanya masih sempat saya saksikan seperti di Tegal, Banyuwangi dan lain-lain juga berupa doa yang gagah bahwa nanti arwah yang meninggal akan disongsong oleh Cahaya. Tanpa ratapan. Tanpa dayu-dayuan yang berlarat-larat. "Hai Fulan/Fulanwati! Sira aja gentar (kamu jangan takut)!!!" begitu tandas tetua adat di bibir liang lahat yang berjongkok gagah dengan satu lutut menumpu tanah dan satu siku tangannya menumpu lutut yang tegak. Maksud sang tetua, kematian jangan membuatmu gentar karena nanti akan ada Cahaya yang menyambutmu. Begitu.

 

Tak sedikit malah yang menghantarkan kepergian almarhum/mah dengan tari-tarian. Saking gembiranya keluarga yang ditinggalkan, maka dalam tradisi "asli" sebelum terkontaminasi film dan sinetron, setiap orang yang sudah meninggal, "baik" atau "buruk", disebut swargi. Maknanya penghuni sorga. Jenasahnya disebut jenat yang saya curiga berasal dari kata jannah atau (kebun) sorga.

 

Ya, di antara siluet pohon-pohon jati Gunungkidul tengah malam itu, mungkin saya tidak sedih betul. Tapi, gembira betul karena Mas Teddy sudah menggenapi laku "dari Tuhan kembali ke Tuhan" sementara saya masih baru taraf "dari Tuhan", rasanya juga tidak. Sedih betul tidak. Gembira betul pun tidak. Lantas harus dengan apa perasaan ini saya namai? Mungkin dengan nama "seragam warna hitam bagi keluarga Kang Mbok," andai warna itu yang dipilih oleh Kang Mbok saat Mas Teddy meninggal.

 

Sebab, tentu Kang Mbok tidak memaknai hitam sebagai duka cita, tapi hitam seperti yang ia maknakan dalam novelnya Rahwana Putih, yaitu hitam sebagai pelindung segenap warna. Hidup jangan cuma menerima sepenggal-sepenggal warna. Terimalah kehidupan dengan seluruh warna-warninya. Utuh, menyeluruh, dan apa adanya. Dan, hitam adalah pelindung segenap warna.

 

Tidak sedih betul. Tidak gembira betul. Mungkin perasaan itu bernama "timbul tenggelamnya utang rasa" seperti timbul tenggelamnya rembulan di balik siluet-siluet pepohonan di perbukitan kapur malam itu. Saya berutang rasa pada swargi bahwa menyanyi tidak perlu punya mutu suara penyanyi profesional. Yang penting nyanyinya dari hati. Itulah menyanyi! Dan segala sesuatu tergantung niatnya. Menyanyi untuk telinga akan sampai ke telinga. Menyanyi untuk hati akan sampai ke hati. Swargi tak mengajarkan itu secara verbal, tapi langsung dengan perbuatan saat saya saksikan ia menyanyi di berbagai acara.

 

Saya juga berutang rasa pada ajaran non-verbal dari swargi saat ultah swargi, entah yang ke berapa, di sebuah lahan miliknya di kawasan Cijeruk, Bogor. Di antara para undangan seperti Kiai Fuad Affandi pengasuh Pondok Pesantren Agrobinis Al Ittifaq, Ciwidey, hadir juga beberapa teman bule swargi. Salah satunya menghadiahi stick golf. Saya lihat air muka swargi yang memang penggemar golf ini luar biasa senang sambil mengayun-ayunkan stick itu.

 

Tapi, saat Kiai Fuad memimpin doa dan di antaranya mendoakan agar nazar swargi untuk mendirikan pesantren di lahan tersebut terkabul, wajahnya tak kalah bahagia (kini di lahan tersebut oleh Kang Mbok dan atas restu Habib Lutfi Yahya Pekalongan telah didirikan Pondok Pesantren Siti Dhumillah). Urusan dunia (golf) dan urusan akhirat (pesantren) tak swargi beda-bedakan.

 

Saya pun berutang rasa pada swargi tentang bagaimana seyogianya menghargai tamu. Itu terjadi saat wayangan di rumah swargi di Yogya. Saya tahu bahwa paginya swargi sudah punya agenda, tapi menonton wayang sampai usai menjelang subuh. Biasanya wayangan-wayangan yang swargi saksikan baik di rumah Bukit Golf, Pondok Indah, di Omah Bethari Sri, dan lain-lain hanyalah wayangan padat 3-4 jam dari pukul 20-an hingga selesai pukul 24-an. Biasanya swargi menontonnya bersama swargi Sudwikatmono, Pak Try Sutrisno, Pak Harmoko, Pak Solichin, dan lain-lain. Ini, di Tegal Waras Yogya itu, sampai subuh! Sebab para tamu, termasuk Gusti Yuda, belum kondur hingga tancep kayon wayangan jelang subuh.

 

Saya juga berutang rasa pada swargi tentang bagaimana menghargai persahabatan. Waktu keluarga ini berwisata ke Eropa dan Amerika, Kang Mbok membelikan oleh-oleh untuk saya topi koboi. Di sepanjang perjalanan dari toko ke hotel, dan dari manca negara pulang ke Tanah Air topi itu swargi kenakan karena tak ada tempat di koper. "Papa seneng-seneng saja meskipun bisa jadi membebani. Tapi, mungkin itulah harga persahabatan, Om," cerita Andrew Baskoro, putra sulungnya. Swargi sendiri tak pernah bercerita tentang hal itu.

 

Daftar utang rasa ini masih bisa saya perpanjang andai ruang tulisan tidak terbatas.

 

Sido Mukti

 

O ya, apakah itu utang rasa? Bagi saya, suka atau tidak, kehidupan ini berlangsung secara transaksional. Yang bisa kita bayar pada dokter, sopir, tukang parkir, bakul nasi boran, dan sebagainya cuma tenaga, waktu, dan pikiran mereka. Rasa saat kita didokteri, disopiri, diparkirkan, makan ikan silinya dan lain-lain tak akan pernah terbayar. Itulah utang rasa. Saya mencoba membayar harga persahabatan itu dengan melukis secara komedial swargi bertopi, yang kemudian dipakai sebagai cover buku 75 tahun swargi: Bintang Sakti Maha Wira buat Mas Teddy. Walau, itu tadi, tidak berarti bahwa utang rasa saya sudah terbayar.

 

Untuk ajaran yang disampaikan secara verbal, utang rasa saya pada swargi juga tak terhitung. Swargi ini khas perwira tinggi militer yang bernas. Bicaranya sangat rasional, terstruktur dan berkerangka. Beberapa penekanan dalam uraian-uraian itu selalu ditandaskan swargi dengan aksentuasi telunjuk tangan kanan tegak di depan wajahnya. Begitulah swargi menguraikan apa itu esensi dan sejatinya nasionalisme.

 

Bila saya meminta contoh konkret yang melibatkan swargi sendiri dalam uraian tersebut, baru swargi memberikan contoh-contohnya. Misalnya dalam operasi pembebasan pembajakan pesawat Woyla yang legendaris itu. Juga, untuk menyebut beberapa contoh lagi dari sekian banyak contoh, keterlibatan swargi dalam operasi Alpha ke Israel, operasi penyelesaian konflik Timor Timur antara Indonesia, Fretilin, dan Portugal, juga operasi pembebasan Irian Barat.

 

Yang terakhir di Irian Barat itu, semi kocak dan tragis bisa dibilang swargi "terbang buta" lantaran tanpa peranti navigasi untuk menghindari tangkapan radar musuh, padahal keahliannya adalah navigator. Semua membuahkan setidaknya 14 bintang jasa dan kehormatan.

 

Suatu hari saya mengisi pembekalan bagi mahasiswa-mahasiswi yang akan berangkat belajar ke luar negeri dengan bea siswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Usai acara, panitia LPDP bertanya, dalam pembekalan mendatang untuk pembekalan spirit nasionalisme siapa yang menurut saya pas. Spontan saya rekomendasikan Mas Teddy. Saya matur ke swargi apa bersedia hadir ke tempat pembekalan itu, kalau tidak salah di sekitar Jakarta Timur. Cukup mengagetkan ternyata Mas Teddy malah menawarkan rumahnya di Pondok Indah, atau setidaknya di Graha STR milik keluarga swargi di Jakarta Selatan. Untuk urusan pendadaran nasionalisme, darah swargi mendadak jadi darah muda, sama berapi-apinya dengan saat ketika menceritakan awal-awal turut membentuk SMA Taruna Nusantara.

 

Suatu hari, di mobil entah karena ruang sudah penuh atau apa saya menaruh cemilan di lantai. Swargi meminta saya memindahkan itu. "Jangan menaruh makanan di lantai," katanya. Ajaran itu saya tularkan kepada anak-anak saya, dan juga kepada teman-teman. Dan itulah utang rasa saya lainnya pada ajaran verbal swargi.

 

Sekar Jagad

 

Saya tidak bisa meninggalkan Gunungkidul cepat-cepat bukan karena tak menganggap penting kepergian atau kepulangan swargi. Waktu itu jadwal saya bukan jadwal pribadi, tapi jadwal yang terkait dengan jadwal banyak orang, jadwal sewa lokasi, jadwal sewa peralatan, dan sebagainya, yaitu shooting film Kucumbu Tubuh Indahku arahan Garin Nugroho. Saya bisa naik pesawat terpagi dari Yogya untuk mengejar salat jenazah di Pondok Indah hingga pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tapi, itu tadi, jadwal shooting jadi mundur. Itu pun, kalau diundur, belum tentu pemain-pemain lain bisa. Belum lagi argo sewa lokasi, sewa peralatan seperti kamera, lampu, dan lain-lain. Semua berada di luar kontrol saya. Swargi pasti dapat memahaminya dengan, seperti biasa, mesam-mesem.

 

Tiga harian setelah Mas Teddy kapundhut ada break shooting. Dengan pesawat terpagi saya terbang ke Jakarta. Dari Bandara Soekarno-Hatta taksi saya langsung ke Kalibata. Di sana ternyata sudah ada Kang Mbok dan lain-lain termasuk Brandon Cahyadhuha bungsu swargi yang baru bisa pulang dari kuliahnya di Melbourne. Pulang ke Pondok Indah dari Kalibata, entah karena apa, Brandon tidak bergabung dengan mobil keluarga. Ia masuk begitu saja ke taksi saya. Kami hampir tidak bicara apa-apa di mobil. Yang agak riuh cuma pikiran saya.

 

Seingat saya waktu itu, dalam diam-diaman dengan Brandon, pikiran saya ke cungkup pendopo rumah Bukit Golf yang dirancang sendiri oleh Kang Mbok, yang diyakini akan memudahkan kemoksaan anggota keluarga bila disemayamkan tepat di bawahnya. Terkenang juga, lupa di mana yang jelas di suatu acara di ruang publik, swargi membawakan tas perempuan Kang Mbok yang lupa Kang Mbok cangking. Edan! Dibawakan oleh seorang pensiunan perwira tinggi dengan seabrek bintang jasa, lho!!!

 

Sejak kesaksian itu, diam-diam, saya tidak merasa rendah saat suatu hari pernah terpaksa membawakan tas perempuan istri. Menerawang juga pikiran saya ke Athena Urangayu yang masih balita, putri Brandon. Saat Urangayu mulai getol-getolnya belajar ngomong dan mulai bisa ngomong "Yang Kung" untuk Mas Teddy, saat itu Mas Teddy kapundhut.

 

Heuheuheu ...Tuhan selalu ada-ada saja.

 

Sepulang dari Kalibata, di Pondok Indah saya ketemu Udin. Lelaki paro baya berkumis tebal ini sudah puluhan tahun menjadi asisten keluarga Kang Mbok. Kata Raden Setyaki, panggilan saya padanya sebab ketebalan kumisnya mirip asisten Prabu Kresna dalam wayang itu, menjelang meninggal swargi memanggilnya hanya untuk berpesan sangat singkat, "Din, kamu (hidup yang) hati-hati, ya...."

 

Kelihatannya pesan itu bukan cuma buat "Raden Setyaki".

 

Akhirul kalam: Mas Teddy, cucu Sampeyan Urangayu yang dulu takut dan traumatik setiap ketemu saya saat Sampeyan masih sugeng, sekarang sudah tidak takut lagi, lho. Komen mantu-mantu Sampeyan, Arlin dan Caroline, "Mbah Tejo dan Urangayu sekarang sudah jadi sohib." Ya, sekarang saya sudah bisa ketawa-ketiwi bareng Urangayu. Sudah nari-nari bareng malah...Sudah sampai di mana sekarang, Sampeyan, Mas Teddy....? Sampai jumpa! Utang rasa.... ●

 

Kamis, 01 Mei 2014

Karna, Kresna, Pilpres

Karna, Kresna, Pilpres

Sujiwo Tejo  ;   Dalang
TEMPO.CO, 30 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
Siapa "Kresna" dalam Pilpres tahun ini? Siapa "Karna"?

Bharatayuda, yang dimenangi Pandawa, pecah setidaknya atas dua hal. Pertama, Prabu Kresna sebagai penasihat Pandawa harus mengemban skenario dewata. Perang Pandawa-Kurawa di Kuru Setra itu, suka atau tidak, harus terjadi seperti tertulis dalam Jitapsara. Kedua, Adipati Karna, pembelot Pandawa ke pihak Kurawa, terus-menerus membakar semangat Kurawa agar berani bertempur melawan Pandawa.

Tapi misi ilahiah Jitapsara itu disamarkan dalam bahasa manusia agar mudah dimengerti. Berkatalah Kresna dalam bahasa awam, bahwa Bharatayuda harus terjadi karena di situlah kancah pelunasan segala kaul. Ibu Puntadewa, Kunti, dulu bersumpah tak akan menyanggul rambutnya sebelum berkeramas darah Dursasana. Istrinya, Drupadi, dulu bersumpah tak akan mengenakan kemben sebelum berstagen kulit Sengkuni.

Tapi, menjelang pilpres, eh, menjelang Bharatayuda, Puntadewa selaku pemimpin Pandawa tiba-tiba seolah lupa pada seluruh kaul tersebut. Ia ingin mengalah dan membatalkan Bharatayuda. Puntadewa tak berminat lagi menagih pengembalian negeri Astina dan Indraprasta yang dikukuhi Kurawa. Di sinilah Kresna menandaskan kata-katanya yang tadi.

"Sekilas niatmu terpandang mulia, Dinda Puntadewa," ujarnya, "namun sejatinya itu pandangan yang mengecoh. Coba kamu ingat-ingat lakon Pandawa Dadu, lelakon ketika Pandawa kalah judi oleh Kurawa dan harus kehilangan negeri kalian. Kala itu Kurawa yang dipelopori Dursasana dan Sengkuni menjambaki rambut Kunti dan menelanjangi tubuh Drupadi. Masih juga kalian harus menebus kekalahan taruhan dengan bersembunyi selama 13 tahun. Kini tahun-tahun pengucilan dan mendiamkan segala peristiwa mutakhir itu sudah tuntas kalian jalani. Terus? Astina dan Indraprasta akan tetap kalian ikhlaskan pada Kurawa?"

Demikianlah salah satu versi yang tumbuh di Nusantara dari babon Mahabharata India. Siapa "Kresna" dalam pilpres tahun ini? Siapa tokoh yang demi memelihara harmoni di Nusantara sampai-sampai harus menyederhanakan bahasanya agar mudah dipahami manusia, yaitu bahasa yang mengungkit dan membarukan kembali luka-luka lama dari kalangan yang selama ini menahan diri, kalangan yang sesungguhnya akan lebih baik bila bersedia tampil memimpin?

Dalam salah satu versi yang juga tumbuh di Nusantara dari babon Mahabharata India, Karna adalah kesatria yang ingin betul agar kepemimpinan tak lagi berada di tampuk Kurawa, yang menurutnya korup. Ia mendambakan Pandawa yang gantian memimpin. Satu-satunya cara mencapai angan-angannya adalah menghancurkan Kurawa melalui perang dengan Pandawa. Agar mudah diterima oleh awam, alasan politik Karna adalah bahwa right or wrong is my country. Ia memang Pandawa, tapi sejak kecil dibuang oleh Kunti, ibu Pandawa, dan dibesarkan oleh Kurawa.

Lalu, siapakah "Karna" dalam pemilu tahun ini, tahun ketika semakin diyakini bakal muncul Sabdo Palon-Noyo Genggong sebagai perlambang datangnya keadilan? Dalam tahun yang diyakini bakal kembali muncul spirit abdi batin Majapahit itu, siapakah singa yang rela dan sengaja mengembikkan dirinya di kandang kambing sehingga kambing bangkit lalu berani melawan singa lain?

Luka Kunti dan Drupadi bisa menganga dalam wujud lain di era sekarang. Ia, di antaranya, bisa tampil dalam wujud dendam tak sudah dari para keturunan korban ataupun keturunan saksi orang-orang PKI atau terduga PKI yang dulu dibantai. Luka itu pun bisa tampil bagai bara dalam sekam dari kelompok-kelompok agama yang dipinggirkan ataupun setidaknya penganut 200-an lebih "aliran kepercayaan" yang didiskriminasikan dari pemeluk agama. Belum lagi, luka itu bisa tampil dalam wujud rasa tak diperlakukan adil dalam distribusi hasil pengelolaan sumber daya alam.

Bila puisi bisa dijadikan salah satu tolok ukur, cukup mengagetkan bahwa tema-tema luka kini hingga luka lama itu masih terus berdenyut dalam napas puisi-esai kita belakangan, walau penulisnya sudah merupakan generasi ketiga dari korban maupun saksi sejarah.

Dalam konteks itulah kita perlu tahu persis siapa "Kresna" kini. Kita perlu tahu persis mana tokoh yang mengungkit-ungkit luka lama sekadar untuk memancing perseteruan dan popularitas murahan dan mana pula tokoh yang terpaksa harus menggunakan bahasa yang mudah menyentuh emosi khalayak namun demi tujuan yang agung.

Ciri tokoh terakhir itu tahu persis aib Karna tapi tidak membeberkannya kepada siapa pun. Ia tahu persis bahwa sesungguhnya, sesaat menjelang Bharatayuda, pusaka andalan Karna, yakni Anting-anting Sesotya Maniking Toya dan Kotang Kawaca Kusuma, sudah diambil kembali oleh para dewa melalui utusannya, Dewa Indra, yang menyamar sebagai Pengemis Agung dari Asia.

Blakblakan Karna mengakui itu kepada Kresna. Ia yakin Kresna tak bakal menceritakannya kepada Duryudana, sehingga Duryudana miris kepada Pandawa lalu membatalkan Bharatayuda. Bahkan Karna yakin Kresna tak akan membabarkan itu kepada Pandawa sehingga Pandawa telah merasa unggul sebelum Pilpres, eh, sebelum pertempuran Kuru Setra.

Jumat, 28 Februari 2014

Bencana versus Sabda Alam

Bencana versus Sabda Alam

Sujiwo Tejo  ;   Dalang
TEMPO.CO,  27 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                                                                                       
Sudah saatnya kita tak terus-terusan kurang ajar kepada alam. Menyebut letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, dan sejenisnya sebagai bencana alam adalah bentuk kekurangajaran itu. Dengan istilah bencana alam, sadar atau tidak, terkandung kemarahan atau minimal kekesalan kita kepada alam.

Bukankah letusan gunung, hujan abu, dan sebagainya hanyalah peristiwa fisika-kimia biasa agar alam secara keseluruhan senantiasa mencapai keseimbangan baru? Hal yang sudah niscaya dalam hukum alam seperti itu, sama halnya dengan pemuaian, penguapan, gravitasi, dan sebagainya, kok dengan sepihak dan sewenang-wenang kita tuding sebagai bencana?

Dengan istilah yang mengandung unsur penyalahan alam, aktivitas memindahkan manusia terkesan sebagai kegiatan mengungsikan orang-orang dari ruang dan waktu milik mereka sebelumnya yang kemudian direnggut oleh alam. Padahal, kesibukan itu hanyalah bahu-membahu bagi sesama untuk sementara guna mengembalikan ruang dan waktu yang mereka pinjam dari alam sebagai nyonya ruang dan waktu.

Saat letusan gunung, angin topan, dan semacamnya terjadi, selalu mengharukan melihat polisi dan tentara rukun dalam membantu warga-pemandangan yang langka untuk "job-job" lain. Sayang, pada saat serentak, selalu membuat sedih. Sedihnya, pekerjaan yang guyub-sentosa itu sejatinya didorong oleh niat mengungsikan manusia dari hak milik ruang dan waktunya. Yang dipindahkan pun mempunyai rasa serupa. Adegan lantas tak ubahnya dengan pemandangan mengungsikan warga dari hak milik ruang dan waktunya yang terenggut oleh peperangan.

Padahal, peperangan jelas-jelas berbeda dengan letusan gunung. Peperangan itu bencana. Letusan gunung, seperti halnya angin puting-beliung dan sejenisnya, adalah sabda alam. Mereka adalah keniscayaan-keniscayaan yang berlangsungnya tidak bergantung pada nafsu, hasrat, cita-cita, dan lain-lain manusia.

Ini sama halnya sabda alam yang terucap dalam hukum gravitasi bumi. Buah apel akan jatuh bila dilepas. Tak peduli apa harapan Galileo maupun Newton terhadap nasib buah tersebut.

Apakah jatuhnya apel adalah bencana? Rasanya semua akan sepakat untuk mengatakannya tidak. Herannya, dalam musyawarah tata nilai, sadar maupun tidak, semua masih mufakat bahwa letusan gunung adalah bencana alam.

Buntut lain dari penggunaan idiom bencana alam masih banyak. Di antaranya, kegiatan yang dianggap sebagai pemulihan dari akibat letusan gunung dan semacamnya disebut penanggulangan. Lahirlah, misalnya, lembaga yang dinamai Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Konsisten dengan anggapan sebagai bencana, letusan gunung pun dianggap sebagai masalah. Masalah, sebagaimana lilitan utang, skripsi yang tak kunjung rampung, dan sebagainya, harus ditanggulangi.

Padahal, sejatinya, yang bermasalah itu siapa? Yang mencari perkara, ya, kita. Kita semua termasuk saya. Yang berkehendak tinggal di atas ribuan kilometer tapal kuda api. Kita sudah berkehendak menjadi perkara itu sendiri jauh sebelum gunung meletus.

Alam tak demikian. Tanah yang labil lantaran tak ditahan oleh akar-akar maupun talut akan tunduk pada sabda alam untuk mencari kestabilan baru dengan cara longsor. Gunung, sungai, hutan, lautan, dan sebagainya tak punya kehendak. Mereka hanya tunduk pada hukum alam untuk selalu mencapai, itu tadi, keseimbangan baru.

Konsekuensi menamai sabda alam terhadap semua itu termasuk gempa, sebagai ganti bencana alam, tentu banyak. Antara lain, tak ada lagi nama Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Adanya Badan Nasional Penyelarasan Sabda Alam.

Sabda alam tak perlu ditanggulangi, tak perlu diatasi, apalagi dilawan. Sabda alam hanya perlu diselarasi. Ini klop dengan doa agama-agama leluhur untuk tak minta apa-apa kecuali memohon agar kita senantiasa sanggup menyelaraskan diri dan tunduk dalam harmoni hukum semesta.

Harmonisasi terhadap hukum alam itu bisa ditempuh melalui jalan pengetahuan. Selama tinggal di atas tapal kuda api itu, yang percaya ilmu pengetahuan model sekarang biarlah menyimak petunjuk-petunjuk Mbah Rono dan sejawatnya.

Yang percaya ilmu pengetahuan model baheula biarlah menyimak petuah-petuah Mbah Maridjan dan para sejawat serta penggantinya, yang melanggengkan cerita-cerita tentang gegunung. Jangan sampai 129 gunung berapi di Nusantara ini kehabisan kisah. Jangan sampai orang-orang berpikir bahwa Gunung Karangetang, Gunung Lokon, dan Gunung Rokatenda sebentar lagi mungkin akan meletus. Tidak! Mereka tak akan pernah meletus. Mereka, bahkan menurut Mbah Rono, hanya akan menepati janji-janjinya.

Ya, senantiasa mencari keseimbangan baru dan senantiasa menepati janji-janjinya. Demikianlah sabda alam dalam dua cita rasa ilmu pengetahuan.

Soal penggantian bencana alam dengan sabda alam, atau dengan istilah lain kalau ada yang lebih tepat, tidak susah. Mengafkir papan-papan nama departemen menjadi kementerian saja bisa kok. Apalagi mengganti nama-nama yang kuat terkait dengan tata-krama kita terhadap alam.