Tampilkan postingan dengan label Setyaningsih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setyaningsih. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Agustus 2014

Buku Manjur Mahasiswa

                                          Buku Manjur Mahasiswa

Setyaningsih  ;   Bergiat di Bilik Literasi Solo, Tinggal di Boyolali
SUARA MERDEKA, 15 Agustus 2014
                                                


Di Indonesia, pelajar sulit berbekal buku petunjuk untuk memasuki perguruan tinggi. Ada indikasi krisis buku panduan sebagai jalan menembus kebuntuan dan kebingungan menghadapi dunia mahasiswa. Buku di pasaran atau perpustakaan seringkali hanya menyajikan buku-buku materi perkuliahan. Ini menjadi bukti pelajar tidak berotoritas untuk berbuku sebelum sah menjadi mahasiswa. Ada juga kecenderungan bahwa buku panduan mahasiswa tidak memiliki pesona.

Tahun 1982, sebuah buku kembali cetak untuk kali ke-12. Buku manjur dan laris ini Cara Belajar yang Efisien. Buku ini merupakan buku panduan dan pegangan menjadi mahasiswa garapan The Liang Gie. Buku terbitan Gadjah Mada University Press ini cetak pertama pada 1961. Ada bayangan masa itu gelombang pelajar memasuki perguruan tinggi itu besar. Mereka membutuhkan panduan agar tidak tersesat di tempat mentereng bernama perguruan tinggi. Penulis dan pemikir ampuh, Arief Budiman pun pernah menulis buku Pengalaman Belajar di Amerika Serikat (1982). Buku ini menjadi rekaman personal Arief saat belajar di AS berbekal beasiswa. Perlu kehati-hatian untuk memilih perguruan tinggi di luar negeri karena bisa jadi kualitasnya lebih buruk dari di Indonesia.

Perjalanan ke luar negeri pun bukan bagian dari gaya hidup seperti saat ini. Butuh kegigihan dan kesungguhan, terlebih jumlah beasiswa terbatas dan Arief juga harus memikirkan keluarga yang diboyong ke AS. Pertarungan diri dalam memunculkan gagasan, mengomentari permasalahan, terlibat dialog antarmahasiswa, dan gairah membuka buku-buku itu menjadi hal penting. Dosen sangat mengapresiasi kesungguhan mahasiswa.

Arief merasakan bahwa dosen bukan sosok utama yang memengaruhi pembelajaran. Mereka hanya menjadi gerbang pencarian pengetahuan. Arief membahasakan, ”Saya merasa seperti dilempar ke sebuah toko serbaada, diberi uang dan dibiarkan berbelanja sendiri. Tidak ada yang membatasi saya mau masak apa. Sayalah yang harus aktif berpikir, masakan apa yang mau saya buat.” Rujukan Buku Panduan Belajar di Perguruan Tinggi Amerika Serikat (1992) garapan Hermawan Sulistyo juga menjadi buku panduan menempuh belajar di luar negeri.

Perjalanan ini memuat masalah fisik, kultural, intelektual, dan mental. Pengaturan biaya hidup, penguasaan bahasa, perubahan waktu, dan perubahan iklim bisa dikatakan hal pertama untuk dimengerti. Mengenali kota dan memilih tempat tinggal akan menentukan kelancaran pergaulan dan berkuliah. Bekal mengenali kota bisa dijadikan jalan mengenali tempat penting, termasuk perpustakaan di lingkungan kampus atau di luar kampus. Hermawan juga menceritakan hal-hal tentang cara berkuliah mulai dari semester, mata kuliah, adab di kelas, indeks prestasi, dan pengerjaan tesis. Buku kecil setebal 88 halaman bisa dijadikan rujukan menjadi mahasiswa. Saya mengingat saat akan menjadi mahasiswa di kampus kurang terkenal di Solo. Ada perasaan linglung dan canggung.

Saya mengenal kampus lewat potongan cerita orang-orang. Saat memasuki kampus, saya belum mendapatkan buku panduan. Ada buku panduan akademik, tapi terlambat diberikan. Buku berwarna hijau tidak memesona karena hanya berisi seputar informasi kampus; nama jurusan, nama gedung, nama dosen, struktur kepengurusan akademik, daftar mata kuliah, dan beban SKS. Buku hanya menjadi petunjuk cara memahami aturan-aturan kampus. Saat ini, mahasiswa tidak berbekal buku untuk memasuki perguruan tinggi. Mereka berbekal seperangkat alat transportasi dan alat komunikasi canggih. Mahasiswa membaca buku pada saat detik-detik ujian atau saat mengerjakan skripsi. Memasuki penerimaan mahasiswa baru 2014, buku panduan seharusnya ada dan diusahakan oleh kampus demi memahami peran dan menempuh status sebagai mahasiswa.

Jumat, 27 Juni 2014

Politik dan Literasi

Politik dan Literasi

Setyaningsih  ;   Penulis, Tinggal di Solo, Bergiat di Bilik Literasi Solo
JAWA POS, 25 Juni 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
POLITIK bukan sekadar kata-kata berisik atau suatu keberadaan yang meledak-ledak. Politik juga membutuhkan lirih yang terkadang harus ditemui dalam lembar-lembar agenda berliterasi. Membaca dan menulis menjadi jalan membagikan keraguan serta gugatan. Hidup dengan tanda tanya menjadi bekal melakukan penjelajahan menuju kebenaran. Politik yang terkadang brutal dan menghadapkan nasib di tahanan bisa teredam oleh pembiasaan olah pikir dan rasa.

Laku berpolitik dan berliterasi pernah dijalani Soekarno, meski dalam derita tahanan. Saat itu Soekarno mengalami masa pembuangan di Flores. Dalam buku Soekarno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966) garapan Cindy Adams, Soekarno mengatakan, ’’Di samping kekosongan kerdja, kesepian dan ketiadaan kawan aku djuga menderita suasana tertekan jang hebat sekali. Flores adalah puntjak penganiajaan pada hari-hari pertama itu.’’

Soekarno menghendaki terang dengan mulai menulis cerita sandiwara sebagai pengisi kekosongan. Dua belas drama selesai mulai 1934 hingga 1938. Soekarno membuat perkumpulan Sandiwara Kelimutu. Hanya ada satu naskah dan dibacakan Soekarno secara sukarela pada setiap peran dan pemain. Naskah itu terucap berulang-ulang. Literasi menjadi penghibur kolektif.

Pada 1935, Sjahrir pun masih berliterasi di pembuangannya di Tanah Merah, Boven Digoel. Burhanuddin, kawan Sjahrir, merekam ingatan dalam tulisan yang dihimpun dalam buku Mengenang Sjahrir (2010). Ketika tidak berkumpul dengan kawan-kawan, Sjahrir mengisi waktu dengan membaca dan menulis. Hatta menjadi penyedia buku dan bacaan. Pewarta Deli serta Suara Umum yang dikirim dari Medan dan Surabaya menjadi jalan mengetahui berita di tanah air dan luar negeri. Tanah Merah menjadi tanah melimpah kata-kata. Tulisan mampu menghidupkan waktu.

Sebulan sekali Sjahrir melanjutkan kebiasaan menulis surat ke negeri Belanda. Kebiasaan itu dilakukannya sejak memimpin PNI di Bandung dan selama menjadi tahanan di Cipinang. Surat-surat tersebut akhirnya menjadi buku Indonesische Overpeinzinger atas inisiatif adiknya, Sjahsam, dan kawan-kawan di negeri Belanda. Burhanuddin mengenang, ’’Semasa di Digoel, Sjahrir juga suka membacakan beberapa bagian surat-suratnya yang bersangkutan dengan politik dan umum pada saya, mungkin ia ingin agar saya gunakan sebagai penambah pengetahuan.’’

Etos

Masa-masa berliterasi yang heroik juga dialami Tan Malaka. Dia bergerak bersama kata dalam penyamaran, pelarian, pengejaran, dan kemiskinan. Krisis ruang sering dialami Tan, tapi dia tidak mau gagal membawa kata di dalam tubuh. Kita bisa membaca kesaksian Tan dalam buku Dari Pendjara ke Pendjara (jilid II). Buku itu menjadi dokumentasi peristiwa Tan bertualang, berpolitik, dan berliterasi. Harapan dan keinginan membaca serta menulis itu tetap dilakoni dalam kondisi serba berbahaya.

Ada masa ketika Tan menyewa tempat singgah di Rawajati, Kalibata, Jakarta. Dia menjalani hidup murah. Tidak kurang dari tiga kali dalam seminggu, Tan pergi ke perpustakaan (Museum Nasional) di Jakarta untuk membaca buku-buku dan surat kabar. Setelah melihat keadaan kota, dia akan kembali ke tempat sewaan. Tan adalah risalah pertaruhan nasib tiada akhir. Tan mengatakan, ’’Demikianlah saja pertukarkan menulis dan membatja, bekerdja dan berdjalan, bertjakap2 dan merenungkan pertjakapan itu lebih dari pada setahun lamanja ditengah2 masjarakat jang bergelora…’’

Dalam pembukaan buku Madilog, Tan berkata, ’’Ringkasnya walaupun saya tiada berpustaka, walaupun buku-buku saya terlantar cerai-berai dan lapuk atau hilang di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia, atau dalam tebat di muka rumah tuan Tan King Cang di Upper Seranggoon Road, Singapura, bukanlah artinya itu saya kehilangan ’isinya’ buku-buku yang berarti.’’ Tan adalah tubuh yang mengingat. Tan memang tidak bisa memiliki ruang dalam bentuk fisik untuk menyimpan bukunya, tapi dia memiliki ruang di dalam tubuh untuk berliterasi.

Dalam debat capres dan jagat perpolitikan Indonesia, kita sulit menemukan gelagat berliterasi di tubuh para politikus. Kita hanya menemukan para politikus, pimpinan partai, dan dewan penasihat partai duduk takzim menjadi tim sorak dan tepuk tangan bagi dua calon presiden dan dua calon wakil presiden. Program kerja calon presiden pun masih menyangkut cara memberi makan perut jutaan orang, belum memberi makan pengetahuan melimpah jutaan pikiran dan batin.

Persiapan sebelum debat calon presiden mengesankan persiapan tiba-tiba: mengundang para ahli, mendatangkan orang penting, bahkan melakukan simulasi debat. Itu mengesankan kesulitan mendapat asupan wacana dari buku-buku atau menjadikan literasi sebagai bekal berpolitik. Wah, apakah calon presiden terlalu sibuk sampai harus melupakan buku atau belum memiliki laku berbuku bahkan sebelum mereka bermimpi menjadi penguasa?

Kita patut merasa bahwa politisi Indonesia saat ini tidak ingin mendapat kehormatan literasi sejajar dengan Soekarno, Sjahrir, atau Tan Malaka. Mereka belum ingin berjalan bersama literasi yang telah dilakoni para pendahulu. Mereka belum sanggup meneruskan tradisi berliterasi sebagai penentu etos berpikir, mengolah rasa, memahami konflik, atau memaknai prasangka demi membawa Indonesia menuju jalan terang.

Sabtu, 01 Maret 2014

Buku di Masa Kecil

Buku di Masa Kecil

Setyaningsih  ;   Penulis
TEMPO.CO,  28 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Masa kecil ada di lembaran buku. Ikatan pertama tercipta dari tangan yang memegang, mata yang menyaksikan wajah sampul, dan batin yang membaca setiap aksara. Permulaan menjadikan tubuh terus mengingat. Buku pertama yang selesai dibaca pada masa kecil menjadi kenangan puitis. Setelah itu, selalu saja ada buku yang membuat diri takjub, menangis, terluka, tertawa, bersedih, terdiam, marah, dan bahagia. Kita menemukan waktu, ruang, dan peristiwa dalam buku.

Dalam buku Tempat-tempat Imajiner, Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994), Michael Pearson-penulisnya-tidak luput menuliskan ingatan masa kecilnya di halaman pengantar. Buku ini menjadi ruang pertemuan Pearson dengan para pengarang dan pelbagai tempat mereka mencipta karya. Ingatan masa kecil Pearson bersama buku menjadi rujukannya untuk terus membaca dan bertualang. Pearson mengakui bahwa masa kecilnya itu menjadi bekal baginya untuk terus ada bersama buku-buku.

Pearson menulis, "Kenangan yang masih begitu nyata dari masa kanak-kanak adalah huruf-huruf itu sendiri." Pearson belajar membaca di kelas I. Sejak kecintaan membaca terbit, kehendak untuk menulis buku ini pun berawal. Pearson ingin melihat tempat di mana tulisan para pengarang masih meninggalkan magis. Steinbeck dan Twain ada di ingatan Pearson sejak masih kanak-kanak. Setelah dewasa, Pearson semakin mengagumi mereka. Buku merepresentasikan bergeraknya waktu bersama para juru kisah.

Buku mengasuh imajinasi. Buku mengasuh masa bocah yang lugu dan selalu ingin tahu. Hari-hari menjadikan buku teman itu kenyataan. Bersama buku, mereka seperti mendapatkan teman yang baik dan bersahaja. Namun betapa kebahagiaan itu tidak berhenti mengalir ketika orang tua menjadi peletak pertama kecintaan kepada buku. Peristiwa membeli buku pada akhir pekan, membacakan buku sebelum tubuh terlelap, atau hadiah buku akan menjadi ingatan sepanjang masa.

Hari ini, kebanyakan anak tidak lagi merasakan kegairahan imajinasi dalam asuhan buku. Anak-anak diasuh oleh media yang lebih canggih sekaligus buruk. Mereka lebih akrab dengan televisi dan video game. Media-media ini mendapat keberpihakan dari orang tua untuk menjadi pengasuh selama mereka bekerja dan berkutat dengan kesibukan. Lebih baik anak tinggal di rumah dengan segala kecanggihan daripada keluar bermain di tanah lapang.

Buku-buku pun sekadar menjadi selingan ketika mereka tidak belajar. Tentu, buku-buku bergelimang imajinasi, seperti dongeng, cerita binatang, dan legenda, tidak masuk daftar buku untuk belajar. Buku-buku ini tidak akan menghuni meja belajar. Pun tidak akan menambah prestasi sekolah atau sekadar naik pangkat menjadi hadiah untuk menggantikan buku tulis. Tidak dapat disangkal bahwa buku memang menjadi salah satu produk kemajuan zaman. Dulu, anak-anak dikelilingi oleh cerita-cerita lisan dan tembang-tembang dolanan yang dinyanyikan orang tua. Namun kini, anak-anak semakin kehilangan keduanya.

Pada abad ke-21, buku dan cerita-cerita lisan tertinggal jauh. Petuah dan nasihat tersegel tanpa terbaca. Sedangkan produk percepatan dan teknologi berkejaran mendapat perhatian dari anak-anak. Dan, apa yang dikatakan oleh Joko Pinurbo (1999) tak akan teralami oleh anak-anak dan imajinasinya. "Masa kecil kau rayakan dengan membaca. Kepalamu berambutkan kata-kata.”

Selasa, 24 Desember 2013

I b u

I b u
Setyaningsih  ;   Bergiat di Pengajian Selasa Siang
TEMPO.CO,  24 Desember 2013
Bandingkan dengan tulisan yang sama di TEMPO 23 Desember 2013

   

Di abad ke-21 ini, sebuah kabar datang memantik keterkejutan. Seorang perempuan berpengaruh di dunia memutuskan untuk tidak mempunyai anak, yang juga berarti keputusan untuk tidak menikah. Perempuan itu adalah Oprah Winfrey. Bagi dunia Barat, keputusan ini terdengar wajar, tapi seorang Oprah bukan hanya milik Barat. Oprah ditonton oleh orang-orang di seluruh dunia. Ini tentu akan mempengaruhi perasaan para penontonnya. Keterlibatan Oprah dalam Leadership Academy for Girls mungkin masih bisa dikatakan keterlibatan Oprah sebagai pendamping para anak perempuan. Namun hal itu belum bisa membuatnya menjadi seorang ibu.

Dalam ajaran agama mana pun, ibu selalu memiliki kedudukan yang sakral. Menjadi ibu itu tugas mulia dan setiap perempuan dipilih Tuhan untuk mengembannya. Perempuan penyampai rahmat Tuhan untuk membentuk anak-anak yang melengkapi kebermaknaan semesta. Dengan penuh kasih, seorang ibu membesarkan anak-anaknya. Perempuan tanpa memiliki anak dan menjadi seorang ibu, belum menjadi perempuan.

Namun, semakin zaman bergerak, menjadi ibu mengukir pertanyaan besar. Menjadi ibu sulit mengalir begitu saja layaknya perjalanan. Perempuan kesulitan menempuhnya. Alasan-alasan muncul bersamaan keputusan menjadi atau tidak menjadi. Kemunculan kota, masalah kependudukan, kemiskinan, industrialisasi, kemajuan pendidikan atau masa depan karier hadir bersama para perempuan. Kekhawatiran itu ada dan kerap membuat perempuan menunda menikah dan menjadi ibu.

Sulit disangkal bahwa pendidikan membawa pengaruh besar pada keputusan perempuan menempuh kehidupan rumah tangga. Pendidikan memberi ruang bagi perempuan untuk merintis karier dan masa depan. Ibaratnya, hidup sendiri saja mampu dan cukup, jadi tidak perlu menikah. Atau wacana yang merebak di perkotaan bahwa menikah menjadi penghabisan diri mengurusi anak dan rumah. Perempuan berada di bawah dominasi laki-laki. Perempuan tidak memiliki waktu mengurusi diri sendiri, ditambah pekerjaan menjadi ibu itu tidak digaji. Kekhawatiran pun bercabang: ketakutan menelantarkan anak dan ketakutan direpotkan anak.

Dalam buku Keluarga Jawa (1983), Hildred Geertz membaca bahwa perkawinan menjadi peristiwa sakral di masyarakat Jawa. Hubungan persaudaraan meluas dan menandai pertalian baru antar-keluarga. Perkawinan anak perempuan dalam keluarga sangat dipersiapkan. Mereka dijaga dari hal-hal buruk agar kelak mendapat pasangan yang bertanggung jawab dan bisa menjadi istri yang baik. Sering kali pasangan yang baru menikah masih tetap tinggal bersama orang tua agar yang perempuan bisa tetap belajar dari ibunya dalam mengurusi rumah tangga.

Kelahiran anak menjadi momentum yang ditunggu. Anak meramaikan kehidupan keluarga. Suami-istri yang tidak juga memiliki anak akan mencari jalan karena memiliki anak menjadi simbol keberkahan dan rezeki. Suami-istri yang diberi anak berarti dipercayai Tuhan untuk merawat. Kehadiran anak semakin memartabatkan diri sebagai perempuan dan ibu.

Kita menghaturkan syukur, sekalipun ibu kita bukan lulusan sekolah tinggi, justru itu yang membentuk ingatan akan ibu. Peristiwa-peristiwa hadir bersama ibu. Ibu menyokong peradaban. Anak-anak dan peradaban tidak lahir tanpa perempuan dan tanpa ibu.

Sabtu, 23 November 2013

Negeri Penghargaan

Negeri Penghargaan
Setyaningsih  ;   Anggota Bilik Literasi Solo
TEMPO.CO,  23 November 2013



Wajah Ibu Negara terlihat sumringah. Pada Selasa, 12 November 2013, Ani Yudhoyono menerima penghargaan sebagai tokoh pemberdayaan perempuan dalam bidang pendidikan dalam acara pekan sains L'Oreal-UNESCO For Woman in Science National 2013 di Universitas Indonesia. Penghargaan itu merupakan apresiasi atas kemajuan pendidikan bagi para perempuan Indonesia.

Indonesia adalah negeri penghargaan. Sebagian dari mereka yang menduduki  kursi pemerintahan dan kekuasaan adalah pendamba penghargaan. Penghargaan  pun wajar saja diberikan karena mengatasnamakan jasa. Namun, ketika kita menilik kembali tugas seorang Ibu Negara, bukankah sudah menjadi kewajiban bahwa dia harus memajukan rakyatnya, tanpa harus ada penghargaan yang nanti menghampirinya?

Kita teringat pada Dewi Sartika. Rochiati Wiriaatmadja mendokumentasikan hidup dia dalam buku Dewi Sartika (1986). Sekolah Istri pernah didirikan Dewi Sartika bukan sekadar untuk membuat perempuan merasa sama dengan laki-laki atau melampuinya. Dewi Sartika berharap perempuan, yang kelak menjadi ibu, akan menjadi ibu berpendidikan. Dalam artian perempuan yang tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan sekaligus menjadi penentu intelektualitas anaknya. 

Keprihatinan Dewi Sartika melihat kehidupan perempuan pada zamannya menggerakkan  tubuhnya untuk bertekad. Kita tentu tahu bahwa Dewi Sartika berasal dari  golongan priyayi menengah, bukan bangsawan tinggi. Ketika berkontribusi untuk  perempuan, Dewi Sartika tidak sedang menduduki kursi penting apa pun. Semua  murni bergerak dari dirinya atas nama kemanusiaan. Tidak ada jabatan, apalagi  penghargaan. Dewi Sartika hanya manusia yang tahu bahwa ia harus berbuat  sesuatu.

Begitu pula dengan Kartini, yang memang berasal dari keluarga  bangsawan. Pada zamannya, ayah Kartini-lah yang memiliki jabatan penting  sebagai bupati. Dalam surat-surat Kartini, kita bisa menyimak bagaimana nasib  yang harus diterima oleh para perempuan Jawa. Ia menginginkan kemajuan  pendidikan bagi perempuan-perempuan sezamannya bukan karena penghargaan. 

Kartini menyadari bahwa perempuanlah kelak yang menentukan masa depan dan nasib anaknya, seperti yang ia tulis dalam sebuah nota (1903) berjudul Berikanlah Pendidikan kepada Bangsa Jawa. "Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak  pertama-tama belajar merasa, berpikir, dan berbicara; dan dalam banyak hal  pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak…" 

Pada abad ke-21, penghargaan hadir atas nama jasa dan kontribusi.  Penghargaan mengatasnamakan rasa terima kasih. Penghargaan ada bersama  jabatan, kekuasaan, dan gelar. Kita dikacaukan oleh datangnya pelbagai  penghargaan yang seharusnya tidak perlu diberikan. Seolah-olah setiap bidang  harus diberi bagian dan penghargaannya masing-masing.

Orang-orang pemerintahan dan yang tengah duduk di kursi kekuasaan sudah  seharusnya melakukan tugasnya. Mereka memiliki janji dan utang yang mesti  dipenuhi karena mereka telah berani terjun dan memilih berada di kursinya. Bukankah  menggelikan jika mereka harus diberi penghargaan atas apa yang sudah  sewajarnya mereka lakukan. Jabatan mengandung kewajiban, bukan jabatan  mengandung penghargaan.

Senin, 28 Oktober 2013

Guru Miskin Buku

Guru Miskin Buku
Setyaningsih  Bergiat di Pengajian Selasa Siang dan Bilik Literasi Solo
TEMPO.CO, 26 Oktober 2013


Seandainya setiap guru adalah pembaca buku atau pendongeng, betapa bahagianya anak-anak yang memiliki sejarah duduk di bangku sekolah. Setiap hari menjadi petualangan penuh emosionalitas. Hari-hari dipenuhi aksara yang bertebaran melukiskan pedesaan, binatang, pepohonan, kebun, dan rerumputan. Setiap kali kembali ke rumah, anak bahagia membayangkan cerita yang dibacakan gurunya. Bahkan, jika suasana rumah terlengkapi dengan cerita-cerita lain dari orang tua. Sungguh, anak yang juga adalah seorang murid akan mendapatkan bagian hidupnya yang tidak terlupakan. 

Guru harus menyemai buku dan membaca. Tentu ini bukan masalah nilai bagus, naik kelas, atau persiapan menghadapi ujian. Jika begitu, guru tidak ada bedanya dengan pemerintah yang mengharuskan buku pelajaran sesuai dengan kurikulum sebagai konsumsi dan bukan pada buku yang menyemai hasrat membaca bergelimang imajinasi. Namun sepertinya akan sulit mengajak guru untuk berpikir melampaui itu, jika kita hari ini melihat ternyata buku bukan santapan guru dan membaca bukan peristiwa keseharian. 

Ray Bradbury dalam buku Fahrenheit 451 (2013) mengenang guru di masa sekolahnya, "Aku duduk di kelas satu tahun 1926 dan guruku semuanya miskin; penghasilan mereka delapan ratus dolar setahun, tapi mereka sepenuhnya mengajarkan membaca dan menulis sampai kelas satu berakhir." Masalah utamanya bukan penghasilan kecil. Kebetulan kita dipertemukan dengan sebuah zaman ketika kemiskinan bukan gangguan untuk melakukan dedikasi. Sekali lagi, ini adalah masalah dedikasi dan kecintaan. Ini masalah kehendak mengalahkan keengganan dan kemalasan; menghidupkan waktu, sekolah, dan murid bersama buku. 

Sekaya apa pun guru, ketika ia tidak memiliki kecintaan untuk membaca, habislah masa depan membaca di sekolah. Yang kemudian dihadapi adalah kemiskinan kesadaran, bukan kemiskinan materi. Kemiskinan ini tentu lebih berbahaya. 

Kemiskinan buku pada guru sejatinya bisa terlihat pada hal-hal kecil, seperti keberadaan buku-buku bacaan di meja guru. Kebanyakan meja guru-guru hanya berisi tumpukan lembar kerja siswa, laporan-laporan, proposal, atau kertas ujian. Hasrat membaca tidak tampak, bahkan untuk koran pagi. Pun berlanjut pada kualitas percakapan yang terjadi di antara para guru ketika berada di kantor. Saling menimpali komentar seputar kabar mutakhir hanyalah angin lalu. Percakapan hanya terjadi di tema teknologi atau komoditas terbaru. Dan sayangnya, hal ini tidak sampai pada refleksi dan kontemplasi diri. 

Keberadaan buku dalam kehidupan guru sendiri juga cukup mengenaskan. Rumah-rumah guru bukan rumah berjendela buku, berpintu buku, berlantai buku, atau berdinding buku, dalam artian buku menghidupkan rumah guru. Maka, kita akan jarang menemui guru yang sebagian besar gajinya digunakan untuk membeli buku, tentu tanpa melupakan kebutuhan keluarga. Sayangnya, kebutuhan keluarga kini telah menjelma buram antara iming-iming keinginan dan kemewahan. Apa-apa yang diinginkan harus menjadi kebutuhan. Guru merasa miskin untuk membeli buku dan tidak miskin untuk membeli yang selain buku.

Sepertinya ada guru yang merasa tidak diuntungkan dengan keberadaan buku atau kegiatan tambahan membacakan cerita/mendongeng. Alasan dana tentu sudah basi dan klise mengingat dana besar yang dialokasikan pemerintah untuk pendidikan. Atau pemangku pendidikan pusat memang lupa mengamanati buku sebagai bagian penentu pendidikan yang mesti dibenahi. Guru pun tidak terlalu ambil pusing karena merasa telah menjadi pelaksana agenda pemerintah. Uang diterima, sekolah dibangun, tapi tidak dengan buku. 

Tentu kita tidak hendak menghujat guru yang tengah berkeras mengejar sertifikasi atau cita-cita pegawai negeri. Ditambah kesibukan mengajar, mengurusi administrasi, menjalankan kurikulum pemerintah, menyiapkan materi pelajaran, atau mengurusi dana. Namun kesibukan ini memang menghantarkan guru pada formalitas di sekolah. Ada yang terlupa untuk diceritakan. Tanggung jawab berhenti di mengajar. Guru lupa membacakan buku dengan cerita-cerita yang menggugah emosi, dan ini berimbas keengganan membaca pada para murid.

Ada yang harus diluruskan kembali ketika manusia bernama guru di abad ke-21 menyemai kemiskinan buku. Sekali lagi bukan karena urusan materi, melainkan kemiskinan kesadaran untuk membawa buku-buku sastra, anak, fabel, dongeng, dan petualangan menuju jalan membaca yang kuat dan terbiasakan. Kesadaran ruang dan waktu harus diadakan untuk mengatasi keterbatasan. Dalam Bukuku Kakiku (2004), Melani Budianta menceritakan hal dulu, ketika sekolahnya di Malang tidak memiliki perpustakaan, namun gurunya memiliki sebuah gagasan mendatangkan buku di tengah krisis ruang. Anak-anak yang memiliki buku sebagai koleksi diminta meminjamkan lima sampai sepuluh buku. Buku-buku pinjaman tersebut dikumpulkan di sebuah lemari dalam kelas. Kelas pun menjadi ruang baca, tempat anak-anak saling bertukar buku sampai semua buku terbaca. Buku-buku dinikmati bersama. Setiap buku yang sudah terbaca akan ditukar dengan buku pinjaman yang baru. Penciptaan ruang dimulai dan kebermaknaan waktu diisi dengan buku-buku. 

Menjadi apa pun seorang murid kelak, selama ia juga menjadi pembaca, ia akan memaknai setiap apa yang dilakukannya. Segala bidang yang ditekuninya bukan hanya semata tuntutan pekerjaan, kesibukan, ataupun ambisi materi. Kekayaan bukan hanya materi yang tampak pada pandangan mata atau omongan tetangga, tapi juga pandangan batin.

Masa menjadi murid adalah masa menduplikasi. Ketika guru memperlihatkan buku yang dimiliki, anak-anak akan mencari tahu sambil bertanya-tanya, dan akhirnya mengikuti guru untuk membaca dan menemukan bukunya sendiri. Masih ada pernyataan dari Ray Bradbury yang patut menjadi rujukan, "Aku bisa melihat peristiwa ketika guru sekolah tidak lagi mengajarkan tentang membaca. Semakin sedikit mereka mengajar tentang itu, semakin Anda tidak membutuhkan buku." Akhirnya, jika guru membiarkan murid mengarungi waktu tanpa membaca dan buku, bisa diartikan bahwa guru menyongsong kemiskinan dan kematian muridnya sendiri.