Tampilkan postingan dengan label Saifullah Yusuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saifullah Yusuf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 April 2017

Belajar dari Spirit Perubahan RA Kartini

Belajar dari Spirit Perubahan RA Kartini
Saifullah Yusuf  ;  Wakil Gubernur Jawa Timur; Ketua PB NU
                                                       JAWA POS, 25 April 2017



                                                           
JUMAT (21/4) saya dan beberapa akademisi, wartawan, dan pimpinan OPD Provinsi Jatim bersama-sama melihat film Kartini karya Hanung Bramantyo. Film tersebut layak ditonton semua kalangan, semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Berikut catatan saya setelah melihat film tersebut:

Hari kelahiran seorang perempuan yang menginspirasi perubahan bagi bangsa Indonesia. Dia adalah Raden Ajeng Kartini, putri seorang bupati Jepara yang lahir pada 1879, jauh hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Seorang perempuan terpelajar yang hidup di dalam tradisi kebangsawanan zaman itu.

Kelahiran Kartini sangat penting karena dia dianggap sebagai tokoh emansipasi di tengah tradisi yang menempatkan kaum perempuan di bawah subordinasi kaum pria. Ia dianggap sebagai tokoh yang dengan gigih memperjuangkan perlunya pendidikan bagi kaum miskin. Perempuan yang dengan berani memperjuangkan kesetaraan perempuan di tengah tradisi yang sama sekali tidak mendukungnya. Tokoh yang menjadikan perempuan lebih bermakna di saat perempuan hanya dilihat sebagai konco wingking alias seseorang yang harus di belakang.

Tapi, apakah seluruh perjalanan hidup Kartini sekadar memperjuangkan emansipasi perempuan? Menurut saya tidak. Kartini adalah lebih sebagai tokoh perubahan. Perubahan dari pola berpikir tentang tradisi, tentang pandangan hidup, tentang keluarga, dan tentang kehidupan yang lebih luas. Ia adalah sosok perempuan yang mendorong perubahan dalam keluarganya, kaumnya, dan masyarakat pada umumnya.

Memanfaatkan Akses Kebangsawanan

Pada abad ke-19, saat Kartini hidup, perempuan tidak boleh memperoleh pendidikan tinggi. Bahkan untuk kaum bangsawan sekali pun. Perempuan Jawa, di mana Kartini tumbuh, perempuan hanya diharapkan menjadi raden ayu dan menikah dengan pria ningrat untuk menghasilkan keturunan ningrat pula. Dia menjadi saksi bagaimana ibunya sendiri, Ngasirah, menjadi orang terbuang di rumah sendiri dan bahkan dianggap sebagai pembantu karena tidak menjadi darah ningrat.

Kenyataan yang dihadapi sehari-hari itulah yang membuat dia berontak. Ia tak mau menyerah dengan tradisi yang membelenggunya. Kartini pun memperkuat diri dengan membaca buku. Kebetulan, sebagai anak bupati, ia berhak memperoleh pendidikan dasar dan bisa berbahasa Belanda. Kemampuannya itulah yang kemudian memperluas wawasan sekaligus mampu membangun komunikasi dengan guru-guru Belanda.

Kartini tidak hanya berjuang mendobrak tradisi untuk kepentingan diri sendiri. Ia juga memperjuangkan perlunya pendidikan bagi kaum perempuan dan orang miskin. Karena itu, ia bersama dua adiknya mendirikan sekolah yang mengajari mereka huruf Latin. Huruf yang diajarkan kaum Barat. Huruf yang hanya dimengerti kaum bangsawan.

Selain itu, ia memanfaatkan akses kebangsawananya yang bisa berkomunikasi dengan bangsa Belanda untuk meningkatkan harkat hidup warganya. Yang tidak banyak diketahui orang selama ini, Kartini melatih para perajin ukiran untuk membuat produk yang sesuai dengan pasar. Ia bikinkan gambar desain sesuai kesukaan pasar dan menjualkannya ke pasar global. Langkahnya itulah yang mengangkat ekonomi warga Jepara yang hidup dari kerajinan tersebut.

Karena itu, bagi saya, Kartini bukan hanya seorang pahlawan bagi kaum perempuan. Ia adalah tokoh perubahan yang memikirkan kemajuan bagi kaum dan bangsanya. Dan semua perjuangan yang dilakukan saat itu adalah sesuatu yang melompat jauh ke depan. Sesuatu yang ternyata tetap menjadi persoalan umat manusia hingga sekarang.

Spirit perubahan yang diperjuangkan Kartini itulah yang seharusnya kita pegang terus hingga sekarang. Hanya dengan berpegang teguh pada spirit perubahan, kita akan bisa menjadi masyarakat yang maju. Hanya keberanian untuk berubahlah yang akan mendorong kita pada kehidupan yang lebih baik dan sejahtera.

Peran Seorang Ayah

Yang juga selama ini kurang diketahui kita semua, segala perjuangan dan kemajuan Kartini sebagai perempuan bisa terwujud karena peran ayahnya, Raden Mas Ario Sosroningrat. Karena rasa sayangnya kepada Kartini, ia memberikan ruang lebih luas kepada anaknya untuk belajar. Memberikan ruang gerak untuk berbuat lebih banyak, meski dalam batas-batas tertentu ia tidak bisa mengelak dengan tradisi yang berkembang saat itu.

Hal tersebut meyakinkan kepada saya bahwa keluargalah yang menjadi inti dari segala perubahan. Keluarga harus kita jadikan simpul dari segala tujuan pembangunan. Keluarga harus menjadi basis bagi pembangunan peradaban bangsa ini. Keluarga harus menjadi tempat anak-anak kita berkembang menjadi generasi yang punya mimpi, cita-cita, dan tujuan hidup yang lebih baik di masa depan.

Jika kemarin saya mengajak para pria, para suami, dan para kepala keluarga untuk menonton film Kartini bukan tanpa tujuan, saya ingin kawan-kawan dan bapak-bapak ini bisa mengambil pelajaran bagaimana ayah Raden Ajeng Kartini memberikan ruang kepada anaknya untuk menjadi orang berpendidikan, punya semangat perubahan, dan perhatian pada persoalan di lingkungannya.

Mengapa demikian? Bagi saya, perjuangan emansipasi Kartini kini sudah menjadi kenyataan. Kesetaraan antara perempuan dan pria sudah bisa dinikmati bersama. Akses perempuan terhadap pendidikan, dunia kerja, ekonomi, dan politik sudah sama. Dalam hal prestasi juga sudah tidak kalah oleh kaum pria. Perempuan berprestasi telah tersebar di berbagai sektor kehidupan.

Namun, yang masih sering kita dengar dan saksikan adalah masih banyaknya kekerasan dalam rumah tangga. Masih tingginya angka perceraian yang diakibatkan kegagalan dalam membangun kebersamaan dalam rumah tangga. Kegagalan banyak orang dalam membangun keluarga yang bahagia. Dalam hal inilah, kaum pria menjadi sangat penting untuk belajar dari spirit perjuangan Kartini.

Kita semua harus mulai melihat kaum perempuan bukan hanya dalam kacamata emansipatoris. Tapi, juga melihat perempuan sebagai bagian penting dari upaya membentuk keluarga bahagia dan sejahtera untuk menciptakan generasi baru yang lebih baik. Keluarga yang mampu menginternalisasi nilai-nilai kamajuan bagi anak-anak kita. Keluarga yang memberikan ruang kepada anak kita agar lebih maju dari diri kita sekarang.

Belajar Perubahan

Pada akhirnya, marilah kita jadikan Hari Kartini ini sebagai upaya kita belajar tentang spirit perubahan. Perubahan tidak hanya untuk kaum perempuan. Tapi, juga untuk keluarga kita, untuk masyarakat kita, dan bangsa kita. Perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Perubahan yang berbasis pada nilai-nilai tradisi yang baik dan menempatkan keluarga sabagai unit terkecil dalam komunitas kita.

Perjuangan emansipasi Kartini rasanya sudah cukup kita nikmati saat ini. Kini saatnya kita (kaum perempuan dan kaum pria) bergandengan tangan untuk membangun keluarga yang baik dalam menciptakan generasi unggul. Pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan akses pendidikan, mengurangi angka kemiskinan, dan membantu keluarga kurang mampu dalam menggapai kehidupan yang lebih sejahtera.

Selasa, 28 Juni 2016

Muhammadiyah, Harmonisasi Pikir dan Zikir

Muhammadiyah, Harmonisasi Pikir dan Zikir

Saifullah Yusuf ;   Wakil Gubernur Jawa Timur dan Ketua PB NU
                                                       JAWA POS, 27 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HAMPIR setiap tahun saya mendapat kesempatan bertemu dengan para pengurus Muhammadiyah. Setiap bulan puasa, para pimpinan persyarikatan se-Jawa Timur itu berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah forum kajian. Kajian itu selalu dihadiri para tokoh dari pimpinan pusat.

Kehadiran saya setiap tahun sejak tujuh tahun itu melengkapi pergaulan saya dengan sejumlah tokoh ormas Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut. Lantas, apa kesimpulan dari hasil pergaulan panjang dengan organisasi yang berdiri jauh hari sebelum kemerdekaan RI itu?

Sulit membayangkan Indonesia tanpa Persyarikatan Muhammadiyah. Persyarikatan itu ikut menyemaikan bibit pergerakan nasional yang kemudian melahirkan kemerdekaan.

Tak hanya sampai di situ. Sebagai persyarikatan modern, Muhammadiyah berada di garis depan dan berada di tengah pusat pusaran pembangunan Indonesia merdeka sebagai bangsa yang modern, beradab, dan bermartabat.

Hingga kini Muhammadiyah melanjutkan peran yang luar biasa dalam ikut membentuk Indonesia yang kita cita-citakan dan Jawa Timur yang kita dambakan. Jika kita rumuskan secara sederhana, kontribusi terpokok Muhammadiyah bagi Indonesia dan Jawa Timur adalah menyiapkan generasi yang diistilahkan dalam Alquran sebagai ulil albab, yakni orang-orang yang tercerahkan.

Secara sederhana, Alquran mendefinisikan ulil albab sebagai mereka yang bisa menjumpai dan belajar dari ayat-ayat Allah. Bukan hanya yang tersurat atau tekstual. Tetapi, juga yang tersurat melalui fenomena penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam (QS Ali Imran (3):190).

Lebih lanjut, Alquran memerinci ciri-cirinya sebagai berikut: "Yaitu, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..." (QS Ali Imran (3):191).

Sejak awal berdiri Persyarikatan Muhammadiyah bukanlah sekadar "organisasi" (organization), melainkan sebuah "gerakan" (movement). Kesimpulan tersebut bahkan diperkuat melalui hasil riset salah seorang peletak dasar ilmu politik di Indonesia, yakni alm Dr Alfian, melalui disertasinya.

Muhammadiyah melakukannya lewat aktivitas pendidikan dan pengajaran, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan, penyejahteraan ibu dan anak, serta pembinaan generasi muda. Untuk melakukan itu, Muhammadiyah memiliki berbagai institusi atau lembaga pendukung yang luar biasa dilihat dari jumlah, sebarannya di Indonesia, serta cakupan masyarakat yang terlayani. Kita mengenalnya secara singkat sebagai "amal-amal Muhammadiyah".

Salah satu tujuan yang senantiasa terpelihara di balik penyelenggaraan berbagai amal persyarikatan itu adalah terbangunnya harmoni di antara pikir dan zikir. Juga, menyatunya identitas kesalihan ritual dengan sosial, terbangunnya kecerdasan intelektual, sosial dan emosional dengan kecerdasan spiritual.

Jika kita gambarkan melalui khazanah Alquran (QS An Nahl (16):11-15), harmonisasi pikir dan zikir yang senantiasa diikhtiarkan Muhammadiyah itu dapat digambarkan sebagai terbentuknya sejumlah kualitas berikut: Kemampuan memikirkan (tafakkarun); Kemampuan memahami (takqilun); Kemampuan mengambil pelajaran (tadzakkarun); Kemampuan bersyukur (tasykurun); dan Kemampuan untuk mencari dan mendapatkan petunjuk (tahfadun). ?Indonesia dan Jawa Timur membutuhkan orang-orang yang tercerahkan yang memiliki kualitas-kualitas tersebut di atas. Sejarawan besar dari Inggris, Arnold Toynbee, dalam salah satu teorinya menyatakan, orang seperti itu sebagai "minoritas kreatif".

Orang-orang yang tercerahkan atau minoritas kreatif itu adalah orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai pelaku ketika orang-orang di sekeliling mereka secara keliru memosisikan diri sebagai penonton. Mereka tetap bisa memelihara optimisme dan harapan mereka di tengah orang-orang yang salah kaprah dengan berlomba-lomba pesimistis dan cepat berputus asa.

Orang-orang yang tercerahkan dan pemilik kualitas minoritas kreatif adalah mereka yang berhasil mengharmonisasi pikir dan zikir mereka. Orang-orang seperti itulah yang akan membuat Indonesia berjaya menjemput masa depannya yang gemilang.

Indonesia harus berterima kasih kepada Muhammadiyah karena tanpa lelah sejak zaman sebelum kemerdekaan terus mengontribusikan persyarikatannya untuk membentuk kualitas manusia Indonesia yang tercerahkan atau ulil albab itu.

Saya sendiri saat ini sedang menggalang sebuah gerakan bernama Gerakan Peduli Tetangga. Saya ingin kita sama-sama bergerak di level yang terbawah, dalam komunitas paling kecil dan bertumpukan orang per orang yang tidak bergantung pada orang lain dan menunggu peran orang lain. Saya ingin mengajak masyarakat Jawa Timur untuk aktif menjadi pencari jalan keluar dari masalah-masalah kecil dan sederhana dalam lingkungan terdekat dan terkecil mereka.

Gerakan Peduli Tetangga itu jelas membutuhkan minoritas kreatif, ulil albab atau orang-orang yang tercerahkan yang, antara lain, terus diupayakan pembentukannya oleh Muhammadiyah. Karena itu, bagi saya dan Muhammadiyah, sinergi bukan hanya kebutuhan tetapi kenisacayaan. Kerja sama di antara kami bukan cuma sebuah "kemungkinan yang terbuka", tetapi "keharusan dan amanat zaman yang harus kita ikhtiarkan".

Rabu, 05 November 2014

Seputar Pilihan Rais Am Nahdlatul Ulama

Seputar Pilihan Rais Am Nahdlatul Ulama

Saifullah Yusuf  ;  Wakil Gubernur Jawa Timur
JAWA POS, 04 November 2014
                                                
                                                                                                                       


TAHUN lalu, ketika menjelang konferensi NU Jawa Timur, banyak dibicarakan seputar wacana mekanisme penetapan pimpinan para ulama –ahli waris para nabi– ini. Sesuai dengan namanya, NU memang ”semata” tempat berkumpulnya para ulama. Mereka ber-jam’iyyah untuk menjaga keberlanjutan risalah di tengah jamaah. Agar jam’iyyah berjalan baik, dibuatlah beberapa alat kelengkapannya, antara lain jabatan rais am di level syuriah.

Menurut catatan, mereka yang duduk di majelis syuriah adalah ”murni” para ulama. Para pemangku ilmu keagamaan yang mumpuni, pengamal hikmah, dan terbiasa hidup penuh wara’ dan zuhud. Mereka lebih berorientasi pada kehidupan akhirat meski sama sekali tidak melupakan dunia. Karena, antara lain, perspektifnya berbeda dari orang kebanyakan dalam memandang hidup, bagi mereka berbicara, mengangankan, apalagi memperebutkan jabatan duniawi adalah tabu. Termasuk jabatan rais am.

Mengangankan dan memperebutkan jabatan, terlebih amanah sebagai rais am, bukanlah akhlak para ulama, seperti di NU. Sebagai kumpulan para ahli waris nabi, pantang bagi mereka terlibat atau dipaksa terlibat dalam urusan beginian. Mereka adalah tiang-tiang pancang Tuhan yang bertugas menyangga kehidupan di atas bumi. Demikian mulia tugas itu sehingga tidak sembarang orang bisa disebut ulama. Jabatan ulama adalah warisan dari para manusia terpilih, yaitu para nabi.

Bermula dari Muktamar Ke-30 NU di Lirboyo, Kediri, hingga ke-32 di Makassar, rais am dipilih secara langsung, persis pemilihan ketua umum PB NU. Pada muktamar ke-32 di Makassar, persaingan cukup mengeras. Nama KH M.A. Sahal Mahfudz, KH Mustofa Bisri, KH Maimoen Zubair, KH Ma’ruf Amien, KH Habib Luthie, dan KH A. Hasyim Muzadi disebut muktamirin layak menjadi kandidat untuk bertarung memperebutkan kursi rais am. Diam-diam, banyak yang terhenyak. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Sebab, di NU hal-hal demikian termasuk tindakan khaariqul ’aadah alias tidak biasa, khususnya di kalangan ulama sepuh.

Jamaknya sebuah organisasi, NU juga mengalami pasang surut dan silih bergantinya para pimpinan. Tetapi, sepanjang catatan sejarahnya, organisasi ini tak pernah mengalami keriuhan selain dua kali muktamar pada 1984 di Situbondo, Jawa Timur, dan 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Tapi, dari Situbondo, lahirlah duet maut KH Achmad Shiddiq-KH Abdurrahman Wahid dan dari Cipasung muncul pasangan Ajengan Ilyas Ruhiyat-Gus Dur.

Jauh sebelum itu, para kiai sepuh sudah memberikan teladan yang mesti kita pegang dan kita ta’dzimi. Lihatlah bagaimana Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Chasbullah menolak menjadi rais akbar karena masih ada KH Hasyim Asy'ari. Bahkan, sepeninggal hadratus syaikh, dua ulama sepuh itu tetap menolak jabatan tersebut, lebih-lebih kiai lainnya. Saat Kiai Wahab Chasbullah akhirnya bersedia, itu pun dengan konsensus agar nomenklatur rais akbar diganti dengan istilah rais am.

Saat Kiai Wahab sakit sepuh, muktamirin menginginkan Kiai Bisri Syansuri siap-siap menggantikan. Tapi, Kiai Bisri menolak. Alasannya, Kiai Wahab masih ada. Bahkan meski Mbah Wahab sudah gering dan hanya bisa sarean (rebahan), Kiai Bisri tetap menolak. Sepeninggal Kiai Bisri menjadi rais am untuk menggantikan Mbah Wahab, para kiai sepuh berembuk memilih pengganti. Seperti Mbah Wahab dan Mbah Bisri, saat diminta jadi rais am, Raden KH As'ad Syamsul Arifin (Situbondo) juga menolak.

Beliau merasa belum ”pangkatnya”. Ketika dipaksa para kiai, Kiai As'ad dengan tegas menjawab, ”Meski Malaikat Jibril turun dari langit untuk memaksa, saya pasti akan menolak. Yang pantas itu Kiai Machrus Ali, Lirboyo.” Kiai Machrus menukas saat namanya disebut Kiai As'ad. ”Jangankan Malaikat Jibril, kalaupun Malaikat Izrail turun dan memaksa saya, saya tetap tidak bersedia!” Akhirnya, musyawarah ulama memutuskan memilih Kiai Ali Maksum dari Krapyak, Jogjakarta, yang saat itu tidak hadir.

Nah, mekanisme musyawarah itu lazim disebut dengan ahlul halli wal ’aqdi. Ya, semacam pemilihan pimpinan dengan menggunakan mekanisme formatur. Menjelang Muktamar Ke-33 NU mendatang, ada baiknya kaum nahdliyin kembali merenungkan teladan yang diajarkan oleh para pendiri NU tersebut. Agar mereka yang benar-benar ulama sajalah yang akan memangku amanah syuriah. Penerapan mekanisme itu dilandasi prinsip saddudz-dzari’ah.

Munas Alim Ulama dan Konbes NU yang berakhir pada 2 November lalu di Jakarta telah menetapkan rancangan ahlul halli wal ’aqdi sebagai mekanisme untuk memilih rais am pada muktamar 2015. Itulah salah satu cara paling bijak untuk menghindarkan perselisihan dan perpecahan serta praktik pemilihan yang tidak bersih. Sebenarnya konsep tersebut telah diterapkan dalam sejarah perkembangan NU, dalam penetapan kepemimpinan sejak NU berdiri pada 1926 sampai 1952, ketika NU menjadi partai politik. Juga diterapkan lagi dalam Muktamar Ke-27 NU di Situbondo pada 1984, saat jam’iyyah ini kembali ke khitah 1926.

Lazimnya dalam tradisi NU, ahlul halli memiliki kualifikasi tertentu seperti berkepribadian adil, jujur, dan tepercaya. Memiliki pengetahuan untuk memilih orang yang berkemampuan memimpin dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Memiliki pandangan yang cermat dan arif sebagai ahli hikmah dalam memilih calon pemimpin terbaik yang akan membawa lebih banyak kemaslahatan. Jika ada pertanyaan siapa yang berhak menjadi ahlul halli wal ’aqdi, tentu jawabnya yang paling tahu adalah peserta muktamar.

Tetapi, PB NU bisa menyusun rancangan tata cara penjaringan dan kriteria calon serta menjaring calon anggota ahlul halli yang berjumlah sembilan orang. Mereka berasal dari unsur jam’iyyah-struktural dan jamaah-nonstruktural. Ahlul halli bertugas membuat garis-garis besar kepemimpinan NU, menetapkan haluan dasar, dan memilih rais am. Tugas mereka berakhir setelah terpilihnya rais am dan wakil rais am serta terbentuknya pengurus harian PB NU. Sementara pemilihan Ketum PB NU tetap melalui pemilihan langsung oleh muktamirin.

Selasa, 07 Oktober 2014

Koalisi Merah Putih vs Indonesia Hebat

Koalisi Merah Putih vs Indonesia Hebat

Saifullah Yusuf  ;   Wakil Gubernur Jawa Timur
JAWA POS,  06 Oktober 2014




TERPILIHNYA paket pimpinan DPR periode 2014–2019 –Setya Novanto, Fadli Zon, Agus Hermanto, Taufik Kurniawan, dan Fahri Hamzah–hanya salah satu di antara sekian rentetan kemenangan yang diperoleh Koalisi Merah Putih (KMP). Koalisi tersebut terdiri atas Partai Golkar, Partai Gerindra, PAN, PKS, PPP, dan PBB yang nonparlemen. Partai-partai itulah yang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada pilpres lalu.

Ketika gugatannya dimentahkan Mahkamah Konstitusi, koalisi itu tetap menunjukkan keteguhannya. KMP tidak meleleh. Kohesivitas mereka berlanjut. Saat pasangan Jokowi-JK disibukkan tarik-menarik isu pembuatan bangun dan pengisian format kabinet, KMP secara signifikan memetik buah soliditasnya. Setelah mengubah UU MD3, KMP ’’sukses’’ mengembalikan pilkada langsung ke DPRD dan menyapu bersih semua kursi pimpinan DPR periode 2014–2019.

Sejak bergulirnya roda reformasi, inilah kali pertama pendulum politik mengelompok kepada dua arus besar, yang kekuatannya nyaris berimbang. Pertama, Koalisi Indonesia Hebat yang terdiri atas PDI Perjuangan, PKB, Partai NasDem, Partai Hanura, dan PKPI yang nonparlemen. Dengan segala dinamikanya, Joko Widodo-H M. Jusuf Kalla yang mereka usung, memenangi Pilpres 2014. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia Hebat akan menguasai eksekutif dan KMP di legislatif.

Konon, negara besar seperti Amerika Serikat juga dikuasai dua partai politik besar. Partai Republik dan Partai Demokrat. Selain dua partai tersebut, masih ada beberapa partai kecil. Tapi, secara kepentingan dan agregasi politik, mereka berafiliasi ke salah satu partai; kalau tidak ke Republik, ya ke Demokrat. Situasi tersebut berlangsung berabad-abad sehingga tercipta pengarusutamaan partai politik. Untuk dua periode belakangan, Demokrat menguasai eksekutif dan Republik di Senat.

Penting Disyukuri

Negara-negara besar lain, misalnya Inggris, Prancis, Italia, Belanda, Spanyol, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Australia, juga telah mengalami transisi masif sebelum akhirnya hanya punya ’’dua’’ partai arus utama. Jika demokrasi kita jadikan kiblat berpolitik, kita berada di jalan yang benar. Itulah yang patut kita syukuri. Meski tidak persis dengan Republik-Demokrat, Buruh-Konservatif, dan Liberal-Buruh, kita sudah punya dua arus utama. Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih.

Kemampuan bersatu dalam dua arus besar dengan sendirinya akan memudahkan Indonesia mengurai masalah-masalah yang dihadapi pada masa depan. Sebab, menjamurnya partai politik di awal-awal Orde Reformasi disadari telah mengakibatkan kehidupan politik terlalu ingar-bingar. Lalu, muncul wacana seputar pentingnya penyederhanaan jumlah partai politik. Tentu saja hal itu mendapat perlawanan keras, terutama dari partai-partai kecil. Tapi, setelah beberapa tahun berkutat dengan mekanisme ambang batas, akhirnya kita sampai pada situasi saat ini.

Keadaan ini sangat penting untuk dapat dikelola dengan benar dan bijak agar tidak menimbulkan ekses politik yang negatif. Semua orang tidak menginginkan aura politik kekuasaan Orde Baru muncul lagi. Kita tidak ingin sistem pemerintahan yang executive heavy sehingga mengakibatkan dewan tidak berdaya. Sebagaimana kita juga tidak menginginkan lahirnya pemerintahan yang legislative heavy sehingga nyaris semua kebijakan dan program kerja pemerintah tersandera di tingkat dewan.

Sejumlah pihak mengkhawatirkan perkembangan terkini. Bak bola salju yang terus membesar, kekuatan KMP bergerak secara signifikan. Setelah kepemimpinan dewan ada di tangan, mereka ditengarai mengincar semua kursi pimpinan hingga ke tingkat paling teknis, misalnya ketua komisi. Jumlah penguasaan kursi dewan oleh dua kekuatan tidak berimbang. Bisa jadi pemerintahan Jokowi-JK akan mengalami persoalan. Kedua kekuatan itu disarankan untuk duduk bersama.

Kalau tidak, ada semacam kecemasan; rakyat yang akan menjadi korban dari sebuah ’’kompetisi’’ tiada ujung itu. Tentu saja, para pemimpin bertanggung jawab untuk memberikan kepastian kepada rakyat bahwa lahirnya dua arus utama kekuatan politik adalah sesuatu yang niscaya. Kelahiran dua arus utama itu harus menjadi berkah untuk semua dan bukan malah sebaliknya, membuat kerumitan baru dalam tata kelola pemerintahan kita. Dua-duanya harus dirawat agar tidak bergerak secara eksesif.

Bayang-Bayang Shutdown

Menurut saya, kerumitan semacam itu pernah beberapa kali menerjang negara besar seperti Amerika Serikat. Pada bulan yang sama dengan hari pelantikan DPR dan DPD tahun lalu, tepatnya 1 Oktober 2013, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan penutupan sementara alias shutdown kantor-kantor pemerintah setelah House of Representatives tidak kunjung menuntaskan penyusunan anggaran tahun fiskal 2014. Tenggatnya dimulai pada 1 Oktober itu.

Diakui Presiden AS Barack Obama, situasi itu muncul akibat ’’perang politik’’ antara dirinya dan dewan. Shutdown tersebut telah mengaibatkan setidaknya 800 ribu pegawai negeri di lingkungan kantor pemerintah, sipil, maupun militer dirumahkan (bukan dipecat) hingga kegiatan pemerintahan dibuka kembali. Tentu saja, kondisi shutdown tidak berarti negara bubar. Shutdown hanya membuat kantor-kantor pemerintahan ditutup dan para karyawannya tidak menerima gaji.

Penting dicatat, United States Shutdown merupakan ujung dari perseteruan politik antara Obama, yang merupakan kader Partai Demokrat dan House of Representatives, yang dipimpin oleh Partai Republik. Anehnya, itu bukan yang pertama terjadi. Perseteruan di antara keduanya berlangsung sejak awal bangsa Paman Sam mendirikan negara itu, pada 1700-an. Hanya karena kedewasaan berpolitiklah yang membuat mereka selalu bisa melewati situasi genting semacam itu.
Saya meyakini sekaligus berharap, koalisi partai politik yang segera menguasai eksekutif dan kelompok yang akan merajai legislatif dapat meletakkan kesadaran akan pentingnya masa depan Indonesia yang lebih sejahtera, demokratis, dan berkeadilan di atas segala kepentingan. Berpolitik dengan baik itu penting, tetapi bernegara dengan benar juga penting. Maka, biarkan Koalisi Indonesia Hebat menjalankan kebijakan dan programnya dan berilah kesempatan Koalisi Merah Putih menjalankan fungsinya sebagai penyeimbang. Setelah pilpres digelar, kini saatnya kita bersyukur.

Jumat, 13 April 2012

Musibah Perginya Para Pagar Kehidupan


Musibah Perginya Para Pagar Kehidupan
Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jatim dan Ketua PB NU
SUMBER : JAWA POS, 13 April 2012


INNALILLAHI wa inna ilaihi rojiun. Kalimat ini begitu sering muncul dari umat Islam Jatim beberapa waktu terakhir. Sejumlah romo kiai Jatim yang mengakar dengan masyarakat berpulang. Sebutlah KH Abdullah Faqih (Langitan), KH Fawaid As'ad (Asembagus), KH Imam Yahya Mahrus (Lirboyo), KH Ahmad Sofyan Mifatul Arifin (Situbondo), KH Ahmad Zamakhsyari (Malang), KH Munif Djazuli (Ploso), serta beberapa ulama lain, baik yang kita kenal maupun yang kehadirannya hanya kita rasakan melalui untaian doa-doa mereka yang setia menemani kita.

Mereka adalah orang-orang tua yang teramat kita cintai karena kedalaman ilmunya, keluasan makrifatnya, serta kepeduliannya yang tinggi terhadap kehidupan umat. Mereka telah meninggalkan kita, para santri dan murid-muridnya, untuk selamanya. Sebagai anak kandung-anak kandung kealiman dan saksi kebaikannya, kita hanya mampu bergumam, "Allahummaghfir lahum warhamhum wa 'aafihim wa'fu 'anhum (duhai Gusti, ampunilah mereka, sayangilah mereka, sejahterakanlah serta maafkanlah mereka)".

Kehilangan ulama ibarat kehilangan kompas kehidupan. Terlebih selama hidupnya, para ulama itu siang-malam, selama 24 jam, telah menjelma lilin yang terus membakar dirinya agar bisa menerangi lingkungannya. Mereka adalah mata air kehidupan yang tak pernah kering dan tak kenal musim. Ketika prahara kehidupan membuat kita menjauh dari nilai-nilai luhur, para ulama selalu siap sedia menerima "kepulangan" kita yang secara spiritual sudah compang-camping dan secara agama sudah kehilangan arah. Mereka adalah pagar kehidupan masyarakat.

Dalam beberapa tahun ke depan, dalam sisa-sisa usia kita, kita tidak akan lagi mendengar suara para pewaris (ahli waris) para nabi yang khas, lembut, menyelusup memasuki ruangan yang biasa kita siapkan untuk menyimpan petuah, wejangan, ajaran, serta pesan-pesannya yang luhur. Wajahnya yang teduh, tetapi penuh perbawa telah membuat kita tak mampu mengangkat muka di hadapan mereka karena rasa malu yang menyergap.

Malu karena terlalu sering meminta nasihat, tetapi terlalu sering pula kita mengabaikannya. Sekaligus juga tidak pernah kapok untuk sowan kepada mereka. Ibarat sambal yang pedas, penerimaannya kepada kita yang tulus telah membuat kita "kecanduan" akan petuah-petuahnya. Ulama-romo kiai yang kita sayangi memang kerap membuat kita ketakutan karena kita terlalu sering tidak mengindahkan isyarat-isyarat "tersembunyi" yang mereka sampaikan. Terlebih, jika kita takut akan sesuatu, kita akan lari menjauh dan menghindarinya. Tetapi, jika takut kepada ulama, kita akan lari mendekat, berharap pengayomannya.

Mari Menebar Manfaat

Hadis riwayat Imam Bukhari menyebutkan, "...InnalLaaha laa yaqbidhul 'ilma intizaa-'an, yantazi'uhuu minal 'ibaad, wa laakin yaqbidhul 'ilma bi qobdhil ulamaa (Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu langsung dari para hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu dengan "mencabut" para ulama)".

Musibah kehilangan orang yang kita cinta akan terus terjadi. Soal apakah kita mampu memperoleh hikmah atau tidak, itu amat bergantung kepada kita yang merasa kehilangan. Satu yang pasti, inilah skenario yang menjadi ketetapan Allah. Tidak ada ketetapan Allah yang tidak menghadirkan hikmah. Paling kurang, kepergian seorang ulama memastikan kita semua untuk selalu bersiap menerima kehadiran ulama-ulama muda sebagai penggantinya. Meski, tentu saja dengan kualifikasi yang berbeda-beda.

Para ulama tumbuh, berkembang, menebar manfaat, lalu pergi meninggalkan kita dengan berbagai situasi kemasyarakatan yang melingkupinya. Sebagai pewaris (ahli waris) para nabi -al-ulamaa-u warotasul anbiyaa-, para ulama akan terus bermunculan sebagai konsekuensi logis dari turunnya risalah dan nubuwah ke dunia ini. Wahyu memang sudah terputus, tetapi firman-firman suci tetap akan meluncur melalui para ahli waris kenabian, yakni para ulama sebagaimana ulama-ulama kita yang baru lalu diwafatkan oleh-Nya.

Mereka adalah sekelompok orang kepercayaan Allah di muka bumi ini -al-alimu amiinullaah fil ardhi. Mereka adalah seutama-utama manusia mukmin yang jika diperlukan, mereka akan berguna. Tetapi, jika tidak diperlukan sekalipun, mereka akan dapat mengurus diri sendiri. Ulama di mana pun berada, terlebih di Jawa Timur yang kuat tradisi kepesantrenannya, telah mengambil peran sejarah begitu besar sehingga mustahil mengabaikan kehadirannya dalam kehidupan masyarakat, kini dan yang akan datang.

Hanya memang, kehilangan ulama dengan ilmunya oleh Baginda Rasulullah diisyaratkan sebagai telah dekatnya hari yang dinanti, hari kiamat. "Inna min asyroothis saa-'ah an yurfa-'al ilmu (sesungguhnya di antara isyarat-tanda akan segera tibanya hari kiamat adalah terangkatnya ilmu)." (HR Imam Bukhari).

Musibah kehilangan ulama menyiratkan pesan bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya tanpa kecuali, dalam keadaan siap ataupun dalam keadaan terpaksa. Kita berharap dapat dikumpulkan kembali dengan para ulama kita di surga. Agama mengajarkan, mereka yang kuat silaturahminya akan selalu bersama dengan orang dicintainya di akhirat. Semoga kita bisa mengambil ibrah yang sebesar-besarnya dari kepergian para ulama kita. Wallaahu a'lam.