Tampilkan postingan dengan label Rhoma Irama Capres 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rhoma Irama Capres 2014. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Desember 2012

Menertawakan Pencapresan Rhoma


Menertawakan Pencapresan Rhoma
Husnun N Djuraid ;  Jurnalis Malang Post, Dosen Jurnalistik,
Penganjur Salat Duha, dan Alumnus Pascasarjana UMM
JAWA POS, 04 Desember 2012


DALAM sebuah acara dialog di TV, audiens sontak tertawa saat pembawa menyebut nama Rhoma Irama. Pembawa acara menyebut nama-nama tokoh yang sudah muncul sebagai calon presiden. Setelah menyebut nama para tokoh tersebut, pembawa acara menyebut nama Rhoma Irama. Dalam acara itu tampil dua tokoh yang berasal dari partai yang pemimpinnya sering disebut sebagai calon presiden (capres) dan seorang pengamat politik. 

Raja dangdut itu secara terang-terangan memang menyatakan siap mencalonkan diri menjadi presiden-berbeda dari calon lain yang sesungguhnya sangat ingin, tapi tidak berterus terang. Lontaran ini disambut PKB. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyatakan akan mengusungnya menjadi calon presiden. 

Niat pencapresan Bang Haji itu mendapat reaksi dari masyarakat. Ada yang mendukung, ada pula yang menolak, bahkan menertawakannya. Bang Haji ditertawakan bukan karena tengah bermain-main atau melucu dengan mencapreskan diri, tapi karena penolakan sebagian masyarakat. Reaksi ini tak lepas dari kiprah Bang Haji dalam kehidupan bermasyarakat dan berpolitik. 

Pertama, sebagai penyanyi dangdut dia dianggap tidak layak menjadi presiden, seorang tokoh terhormat dan elite, sementara sebagian masyarakat menempatkan dangdut dan pemusiknya sebagai kelompok marginal. Kedua, sikapnya sangat keras, terutama yang terkait dengan ajaran Islam, sehingga banyak pihak mencelanya. Saat pilgub DKI lalu dia berceramah yang dianggap menolak salah satu calon karena alasan agama. Hujatan dan celaan tak membuat Bang Haji mengubah sikapnya. Dia tetap konsisten. Ketiga, kehidupan pribadi dan perkawinannya membuat banyak kaum perempuan tidak menyukainya. 

Para penolak serta orang yang menertawakan Bang Haji mendapat porsi pemberitaan yang besar dari media. Media mainstream menganggap hal itu sebagai realitas yang harus ditampilkan sebagai berita. Hal yang sama dilakukan media sosial yang relatif bebas nilai dan etika. Bukan sekadar menertawakan, tapi sudah sampai pada caci maki dan penghinaan.

Memang wajar ketika para tokoh parpol, pengamat politik, dan pebisnis survei menertawakan pernyataan Bang Haji. Selama ini media menempatkan Bang Haji sebagai orang yang tidak disukai melalui berita-berita negatif karena pernyataan dan perilakunya yang dianggap kontroversial. Media berperan aktif sebagai penyalur (diseminator) berbagai informasi kepada masyarakat dengan mata yang dingin dan telinga yang jernih.

Hanya, untuk menyampaikan informasi itu media tidak steril. Banyak faktor yang memengaruhinya. Di antaranya kekuatan politik penguasa, pemilik modal maupun kekuatan politik dan ekonomi yang lain. Seperti, kata Henry Subijakto dan Rachmah Ida, pada dasarnya media massa dipengaruhi oleh sistem politik yang berlaku. 

Mengaca pada kondisi tersebut, wajar kalau Bang Haji tidak mendapatkan porsi pemberitaan yang wajar dan memadai. Apalagi, dia baru muncul ketika beberapa nama lain sudah berpacu kencang. Berita yang muncul soal Bang Haji sebagian bernada negatif. Media sudah berhasil menggiring masyarakat -kecuali pendukung setia Bang Haji- untuk memberi cap tidak baik. Padahal, kalau kita telaah syair lagu maupun aktivitas dakwahnya penuh dengan ajaran kebaikan. Itulah risiko yang harus diterima ketika seseorang mengajak kebaikan dan mencegah kejelekan. Reaksi muncul dari mana-mana, termasuk dari media. Mengapa? Karena Bang Haji tidak memiliki media dan tidak bisa "membeli'' media.

Tengoklah para tokoh yang sering muncul sebagai capres melalui berbagai poling dan survei. Semuanya berkaitan dengan media. Ada yang pemilik media, ada yang membelanjakan banyak uang untuk kepentingan media. Membeli halaman koran dan prime time TV sudah menjadi hal wajar dalam komunikasi politik modern. Dalam Pilpres AS 2004, yang menampilkan pertarungan George Bush dengan John Kerry, anggaran iklan yang dikeluarkan dua kandidat ini mencapai USD 600 juta. Kendati kalah, Kerry ternyata mengeluarkan anggaran lebih besar dibanding Bush. 

Para pemilik media - yang sekaligus politisi- bisa dengan seenaknya menampilkan aktivitasnya di media yang dimiliki, tak peduli acara itu disukai pemirsa atau tidak. Yang tidak memiliki media harus mengeluarkan anggaran besar agar sering muncul di media, baik sebagai sumber berita maupun dalam iklan dan advertorial (advertisement editorial). 

Bila hendak menepiskan pihak-pihak yang menolaknya dan berniat maju dalam bursa capres mendatang, Bang Haji harus memperhatikan komunikasi. Mengandalkan ketenaran sebagai penyanyi dangdut -yang sebagian besar masyarakat kita tidak suka- tidak cukup memadai untuk mendongkrak popularitas. Seperti kata Lasswell, komunikasi adalah who, say what, in which channel, to whom, with what effect.

Kalau memang sungguh-sungguh mau mencalonkan diri, Bang Haji harus menggarap media agar mendongkrak popularitas politiknya. Dia sudah memiliki popularitas individu, tapi belum cukup untuk mendongkrak popularitas dan keterpilihan (elektabilitas). Popularitas politis ini tidak datang dengan sendirinya, tapi harus melalui rekayasa yang sistematis. Harus ada upaya serius dan sistematis agar media mau memberitakan secara proporsional. Tapi, semuanya tidak cuma-cuma, no free lunch.

Dalam berbagai kesempatan, Bang Haji sudah berkomunikasi dengan para kiai, yang menurut pengakuannya sudah merestui dan mendukungnya. Secara moral mungkin ini sangat penting karena terkait dengan sopan santun dan minta doa restu para pemimpin umat. Tapi, dari dukungan politik riil, sudah tidak bisa diharapkan lagi. Meskipun mengaku memiliki kultur nahdliyin yang sama, bukan berarti Bang Haji bebas dari resistensi. 

Selain itu, sikapnya yang konsisten memegang keyakinan agama bisa jadi bertabrakan dengan kepentingan kaum liberal dan pluralis.

Sabtu, 24 November 2012

Rhoma dan Kisah Indonesia


Rhoma dan Kisah Indonesia
Aris Setiawan ;  Pengajar di Jurusan Etnomusikologi
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
JAWA POS, 24 November 2012



DANGDUT tak semata musik yang mengisahkan goyang, apalagi lirik yang berbau sensual. Dangdut lebih dari sekadar urusan raga dan erotika. Sejarah mencatat, gema dangdut lewat tangan Rhoma Irama menjadi denting bunyi yang bukan semata urusan asmara, namun juga titian doa, nasionalitas, luapan agama, penghormatan, pengorbanan, serta kritik sosial. Tak ada dendang di antero panggung dangdut di negeri ini yang alpa menggunakan jasa lagu ciptaannya.

Dalam lirik itu, Rhoma banyak berkisah tentang Indonesia, jejak peradaban bangsa Indonesia. Bekal itulah yang ''konon'' dianggap layak oleh sebagian kalangan untuk mencalonkan Satria Bergitar tersebut sebagai presiden Republik Indonesia. Rhoma dianggap mengerti seluk-beluk masalah Indonesia yang tecermin lewat ziarah lirik lagunya (Jawa Pos, 11/11/2012).

Namun, dalam konteks ini, hendak dibicarakan hubungan Rhoma dengan dangdut dalam menarasikan Indonesia. Sejauh mana laju lagu dangdut ala Rhoma dan dangdut masa kini mampu berbicara banyak akan Indonesia? Apakah dominasi Rhoma masih begitu besar? Atau sebaliknya, Rhoma hanya menjadi kerikil kecil dari ingar-bingar perkembangan dangdut muthakir karena telah mengalami kebangkrutan dalam eksistensi dan narasi penciptaan warna baru. Bagaimana kedudukan sosok Rhoma dalam konstelasi ke-Indonesia-an masa kini?

Terobosan Frontal 

Kehadiran Rhoma dalam jelajah musik dangdut tanah air pada 70-an boleh dikata terjadi dalam momen yang pas. Suka Hardjana (2004) mencatat, Rhoma muncul dengan lagunya kala masyarakat Indonesia pada masa itu merindukan terjadinya pembalikan antiphonal yang drastis dari impian-impian politis masa lalu ke impian-impian realistis. Lagu-lagunya berada dalam poros putaran arus masyarakat kelas bawah. 

Rhoma mampu mengakomodasi citra lagu yang menggambarkan harapan dan cita-cita masyarakat yang tak muluk-muluk. Lewat dangdut Rhoma, masyarakat seolah menemukan oasis yang menyegarkan dalam mengisahkan pelik dan susahnya impitan kehidupan. Jangan heran jika kemudian Begadang (1978) serta Perjuangan dan Doa (1980) adalah lagu yang begitu populer bagi masyarakat Indonesia.

Kisah Rhoma adalah kisah dangdut. Dangdut yang awalnya disebut musik kampungan kemudian menjadi selebrasi cita-cita. Jejak sejarah dangdut tak lebih dari ''musik kumuh'' yang penuh dengan citra negatif namun begitu beruntung saat dielaborasi Rhoma. 

Lewat kuasa dalam bermain musik rock, Rhoma dengan serta-merta mengonversi musik rakyat yang paling terbelakang (dangdut) dengan ramuan selera zaman yang paling mutakhir (rock). Terobosan Rhoma itu boleh dikata frontal karena tak terjadi dalam musik-musik lain sezamannya. Begitu harum namanya hingga masyarakat menyematkan nama ''raja dangdut''.

Masyarakat kelas bawah yang awalnya hanya menjadi saksi kelahiran sebuah musik kemudian harus menjadi lakon dalam kisah lagu Rhoma. Gelandangan, Kiamat, dan Gali Lubang Tutup Lubang adalah contohnya. Dangdut menjadi kendaraan imajinasi dalam usaha meraih supremasi kehidupan yang lebih baik. Dangdut ala Rhoma juga mengisahkan Islam. Banyak liriknya yang berkisah doa (voice of Moslem).

Hal itulah yang membuat banyak kalangan ulama yang merangkulnya. Dakwah lewat lagu dirasa lebih mengena daripada orasi seratus ulama. Karena itu, kultur musik dangdut yang begitu kuat tersebut bahkan berpengaruh terhadap visi dan misi Rhoma sebagai calon presiden. Rhoma menyatakan, visi dan misinya sebagai capres nanti tidak jauh berbeda dari lirik-lirik lagu dangdut yang selama ini dibawakannya (Tempo, 12/11/2012).

Perayaan Goyang 

Perjalanan musik dangdut sekarang justru tak mampu dikontrol dalam kuasa ideal seperti yang diharapkan Rhoma. Persentuhan dangdut muthakir adalah kisah tubuh dan sensualitas semata, tak lebih dari itu. Perdebatan sengit dengan Inul beberapa waktu silam menjadi masa yang justru mengawali gerak eksploitasi tubuh itu untuk semakin tumbuh subur di musik dangdut. Panggung-panggung dangdut tanah air begitu banyak menciptakan ragam goyangan daripada memproduksi lagu dengan judul yang baru.

Era Rhoma dengan gapaian cipta lagu -685 judul- yang monumental pun telah bangkrut. Rhoma kini seolah mengalami kemandulan dalam mengisahkan Indonesia lewat lagu-lagunya. Jejak-jejak perjalanan sejarah Indonesia masa kini telah banyak terbuang dalam musik dangdut. Tidak begitu menarik lagi sebagai sebuah titian ide dan rangsangan cipta. Rhoma justru disibukkan oleh kisah pelik politik yang berusaha melenakan dirinya dari dunia musik dangdut mutakhir.

Kini tidak ada lagi dentum keragaman Indonesia, ritus doa, dan kritik sosial dalam musik dangdut. Yang ada kemudian selebrasi kedangkalan tema. Tak dijumpai lagi Gelandangan, Begadang, 135 Juta, Judi, atauMonas masa kini. Yang tampak kemudian hanya Belah Duren, Cinta Satu Malam, Keong Racun, Hamil Duluan, Pengen Dibolongin, dan lagu sejenis lainnya. Dangdut muthakir diwujudkan sebagai perayaan goyang, bukan lagi cita-cita Indonesia.

Keadaan yang seharusnya menjadi kesempatan bagi Rhoma untuk kembali meluruskan musik ini sejalan dengan kisah sejarah yang pernah dibuatnya dulu kala. Artinya, musik dangdut masih membutuhkan sentuhan perjuangan Rhoma. Sebagai ''raja'', tentunya dia memiliki kuasa dalam legitimasi jalur dangdut masa kini. Sayangnya, hal itu tak terjadi. Politik telah melenakannya, politik mengalihkan pandangannya, politik memang cenderung menggiurkan.

Dangdut dalam mengisahkan Indonesia semakin sayup-sayup tak terdengar seperti sedia kala. Sementara itu, Rhoma lebih memilih lepas tangan dengan mencari gapaian dunia lain yang dirasa lebih menggairahkan, puncak kekuasaan politik. Keagungan sejarah musik dangdut sebagaimana dikisahkan Philip Yampolsky lewat Smithsonian Folksways (1991) yang menyatakan dengan jelas bahwa dangdut adalah ''musik nasional'' Indonesia yang semakin tak bisa dilacak lagi. Lajur Rhoma dalam musik dangdut seolah hanya menjadi mitos yang pernah tergores panjang.

Rhoma tak harus menjadi presiden Indonesia. Sebab, tanpa disadari, dia sejatinya sudah menjadi ''presiden'' di dunianya sendiri. 

Rabu, 21 November 2012

Kealpaan Rhoma


Kealpaan Rhoma
Ahmad Sahidah  Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia
SUARA MERDEKA, 20 November 2012


RHOMA Irama menarik perhatian orang ramai. Kali ini, ia tidak untuk bernyanyi di atas panggung tetapi bersedia maju sebagai calon presiden Indonesia tahun 2014. Sebelumnya, sejumlah ulama yang tergabung dalam Asatidz mendorong Raja Dangdut itu berkompetisi menjadi calon orang nomor satu di negeri ini. Dalam sebuah pengajian Habib al-Habsyi (11/11/12), Bang Haji juga menegaskan tengah menunggu pinangan partai untuk bersaing dengan calon lain.

Sebelum dia lebih jauh memantapkan keinginannya, kita harus menjernihkan persoalan terkait isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam putaran kedua Pilgub DKI Jakarta 2012. Waktu itu, ajakan Rhoma untuk memilih calon pimpinan daerah yang seiman memantik kontroversi.

Seruan ini menimbulkan banyak sanggahan dan ketidaksukaan orang ramai. Betapa pun hakikatnya banyak yang mendukung pandangan tersebut, terbukti perolehan suara Fauzi Bowo (Foke) tak berselisih jauh dari Joko Widodo (Jokowi). Namun menyelisik lebih dalam, pernyataan Rhoma bisa menimbulkan perpecahan masyarakat.

Meskipun Rhoma berkilah bahwa sedang berbicara kebenaran, kita pun mafhum bahwa sebelumnya ia berkampanye untuk pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli pada putaran pertama. Tak ayal, pernyataan yang dianggap tak menghasut itu tetap dianggap telah mencuri permulaan kampanye. Benarkah kita haruskah memilih pemimpin yang seiman?

Untuk itu, kita perlu menyoal adakah seruan memilih pemimpin yang seiman termasuk bagian dari iman itu sendiri atau tidak? Jawabannya tidak.  Hadis Abu Hurairah menyatakan iman adalah kepercayaan kepada Tuhan, malaikat, perjumpaan dengan Tuhan, para rasul, dan hari kebangkitan. Jelas, iman itu terkait dengan keyakinan pribadi yang ada di hati.

Namun kalau kita memeriksa lebih dalam kitab-kitab Ilmu Kalam, iman itu tidak hanya diucapkan (lisan) tetapi juga ditegaskan (taqrir), dan yang jauh lebih penting adalah perbuatan (amal). Betapa pun iman itu tersembunyi dalam hati, ia mewujud dalam sebuah tindakan.

Masalahnya, pada aras amal, ulama dan pemikiran muslim berselisih berhubung kriteria perbuatan yang bisa dikategorikan sebagai wujud iman. Atas kenyataan ini, seharusnya kita tak perlu terkejut bahwa di kalangan tokoh umat sendiri perbedaan itu tak dapat dielakkan. Belum lagi, dalam sejarah politik, umat Islam terbelah dengan pelbagai alasan demi merebut kekuasaan.

Kalau Rhoma membela Foke karena atas dasar kesamaan iman, Zuhairi Misrawi, Ketua Baitul Muslimin, sayap PDIP, sempat mengicau di Twitter bahwa tak ada salahnya masyarakat muslim memilih pemimpin yang bukan muslim. Seraya mengutip Ibn Taimiyyah dikatakan bahwa pemimpin kafir yang adil lebih baik ketimbang muslim yang tidak adil.

Tanpa terbebani sosok Ibn Taimiyyah yang lebih dikenal sebagai pemikir ''konservatif'', pendapatnya dirujuk untuk melegitimasi pilihan politik. Kalau menyelisik secara cermat,  sebenarnya intelektual muda NU ini juga melakukan hal serupa dengan Bang Haji tapi dalam nuansa berbeda. Keduanya sama-sama menggunakan agama untuk melegitimasi garis politik.

Ukuran Kebenaran
Rhoma bergeming dengan pernyataannya, dan menyatakan ia hanya ingin membina umat. Secara retorik, ia pun menempelak, adakah yang salah menyampaikan kebenaran di rumah Tuhan? Tentu Bang Haji telah berhitung bahwa pernyataannya tidak bisa diseret pada pasal ''karet'' tentang menghina pasangan calon gubernur melalui isu SARA, dan berkampanye di dalam tempat ibadah.

Bagi orang-orang yang berpandangan politik sealiran dengan Bang Haji, mereka akan menegaskan bahwa kebenaran agama itu tak hanya dalam bidang ibadah tetapi juga hal ikhwal sosial dan politik (siyasah). Slogan mereka yang sering terdengar al-Islam huwa al-hal, yaitu wujud dari kepercayaan terhadap Islam sebagai sistem politik.

Masalahnya, adakah kebenaran dalam politik kita di sini? Lebih jauh lagi, adakah partai yang betul-betul mengusung agama dalam meraih kekuasaan? PDIP yang dikenal sebagai partai nasionalis pun membuat sayap Baitul Muslimin. PKS yang acap dituduh sebagai partai konservatif juga mencalonkan wakil bukan Islam.

Pendek kata, betapa isu perbedaan agama, apalagi etnik, tak lagi menghalangi partai untuk berlomba-lomba menuju Istana. Kalaupun Rhoma mendukung Foke, siapa pun mafhum bahwa incumbent (petahana) itu juga didukung Partai Demokrat, yang di dalamnya dihuni banyak orang berbeda agama dan etnis.
Seandainya kita ingin berbicara iman dan kebenaran, sejatinya kita sedang berikhtiar untuk mewujudkan iman sejati. Musuh yang harus dibidik bukan manusia yang berbeda dalam agama, etnis, dan ras. Bagaimanapun, iman Nabi Muhammad saw yang mewujud dalam Piagam Madinah telah mencerminkan kehendak hidup bersama dengan komunitas Yahudi dan Kristen, serta suku Auz dan Khazraj.

Kepemimpin dalam Islam ditandai dengan gelar khalifah fil ard, yakni manusia menjadi pemimpin bagi bumi agar tidak musnah lewat angkara ketamakan. Musuh yang mengintai dan sering merusak itu adalah kemiskinan, kebodohan, dan penyakit. Hakikatnya, pemimpin yang berhasil mengatasi hal itu, dialah yang bisa menjaga iman dan kebenaran. Sejatinya, masyarakat Madinah itu menggambarkan lagu Bang Haji berjudul ''135 Juta'', tetapi kali ini Rhoma mungkin alpa. ●