Tampilkan postingan dengan label Putu Fajar Arcana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putu Fajar Arcana. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Agustus 2021

 

Sosok-sosok Misterius Budi Darma

Putu Fajar Arcana ;  Penulis Kolom “Sosial Budaya” Kompas

KOMPAS, 25 Agustus 2021

 

 

                                                           

Dalam satu rapat dewan juri, cerpen Angela karya Budi Darma dan cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon karya Faisal Oddang saling berhadapan. Suara lima orang juri terbelah. Angela adalah kisah kelanjutan pengembaraan Budi Darma dalam meneropong kota Bloomington, Amerika, dengan sosok-sosok aneh, absurd, sekaligus misterius. Budi Darma selalu secara gemilang berhasil menjahit kolase-kolase peristiwa menjadi pengetahuan tentang keunikan sebuah karakter. Kencenderungan ini pula yang terdapat dalam cerpen Lelaki Pemanggul Goni, yang kemudian dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2012.

 

Seingat saya, entah dengan alasan apa waktu itu, wartawan senior Efik Mulyadi dan juga saya, mengajukan cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon untuk dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2014. Sebagai pengagum Budi Darma, Myrna Ratna dan Frans Sartono berkukuh tetap memilih Angela. Cerpen ini tidak hanya matang secara teknis, tetapi menyodorkan sisi misterius dan kejam dari kehidupan tokoh perempuan asal Columbia bernama Angela Vicario. Secara cermat, Budi Darma menjahit masa lalu para tokohnya dengan masa kini untuk menyingkap sebuah kehidupan yang penuh drama.

 

Masih ada juri lain, Hariadi Saptono, yang belum menentukan arah pilihannya. Saya mengusulkan, ketimbang berlarut-larut dalam posisi yang saling bertahan, semua juri wajib membaca ulang kedua cerpen itu. Selama sejam berikutnya, kami suntuk memeriksa cerpen Faisal Oddang dan Budi Darma. Dalam benak saya bermunculan pikiran tentang posisi Faisal Oddang sebagai pendatang baru yang waktu itu baru berusia 20 tahun dan Budi Darma yang karya-karyanya telah merengkuh berbagai penghargaan bergengsi.

 

Dengan kata lain, Faisal Oddang dan Budi Darma adalah ”pertarungan” dua generasi berbeda zaman dan gaya. Budi Darma membawa realisme menemukan jalan buntu ketika berhadapan dengan kemisteriusan hidup manusia. Masa lalu selalu menjadi sumber yang membentuk keanehan watak seseorang. Tokoh seperti Olenka, Angela, dan Karmain (dalam Lelaki Pemanggul Goni) adalah tokoh-tokoh yang terbelit masa lalu kelam. Ketika mereka hadir sebagai pribadi, yang berhadapan dengan tokoh-tokoh lain, terutama ”saya”, ia tampak menjadi aneh dan penuh kejutan.

 

Di sisi lain, Faisal Oddang tentu belum teraba benar kecenderungan kisah-kisahnya. Ia baru pertama kali mengirim cerpen ke Kompas dan kini karyanya harus berhadapan dengan nilai-nilai ”kemapanan” yang dibawa oleh Budi Darma. Saya melihat cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon tidak hanya istimewa ketika ia mempersoalkan kecenderungan komodifikasi terhadap kebudayaan dan tradisi lokal, tetapi juga membawa angin segar dalam gaya, bahasa, dan bidikan peristiwa. Sudah lama Kompas menunggu kisah-kisah yang mengangkat kembali potensi-potensi lokal, tanpa harus jatuh menjadi eksotisme, apalagi romantisme.

 

Secara surealistik, Oddang memberi porsi bercerita kepada dua bayi yang telah dikuburkan dalam batang pohon tarra sebagaimana tradisi di Toraja. Percakapan dua roh bayi itu menjulur jauh sampai kepada perubahan yang kini harus dihadapi oleh satu entitas kultural akibat gelegak dunia pariwisata. Celakanya, segala perubahan ke arah komersialisasi tradisi itu justru dilakukan oleh orang-orang yang menggeluti tradisinya sendiri. Cerpen ini lahir tepat ketika tumbuhnya pemikiran tentang post-moderisme, yang ditandai dengan penghargaan terhadap tradisi sebagai bagian penting dalam pergerakan kebudayaan. Modernisme, yang notebene dibawa oleh pemikiran dan gaya hidup Barat, terbukti telah membuat kebudayaan lokal terpinggirkan, bahkan dicap sebagai udik dan primitif.

 

Tanpa diduga, saudara Hariadi Saptono berpihak kepada cerpen karya Oddang. Seperti kemudian telah dicatat, cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2014. Nama Faisal Oddang tiba-tiba menjadi buah bibir dalam percaturan dunia kesusastraan Indonesia. Sejak Kompas menggelar pemilihan cerpen terbaik tahun 1992, belum pernah terjadi cerpen karya seorang anak muda berusia 20 tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa dinobatkan sebagai karya terbaik.

 

Meski harus diputuskan melalui voting, dengan suara 3 : 2 untuk cerpen Di Tubuh dalam Rahim Pohon, tak lantas membuat mutu cerpen karya Budi Darma lebih rendah. Cerpen ini tetap membuat kami para dewan juri penasaran untuk menyelami lebih jauh tentang pengarangnya. Budi Darma, yang sehari-hari dikenal sangat rapi, santun, murah senyum, tutur katanya lembut, dan siap diajak ngobrol kapan saja, ternyata menuliskan kisah-kisahnya secara tangkas dengan bahasa yang lugas. Jika menggunakan diksi-diksi yang berkesan keras seperti ”sundal” atau ”polisi berwatak anjing”, misalnya, tidak terkesan bahwa ia sedang mengumpat atau merendahkan akhlak seseorang. Dengan teknik penarasian yang kaya, kita menerimanya tidak sebagai kekasaran, tetapi sebagai perilaku misterius dari seorang tokoh yang sedang ia ceritakan.

 

Angela dan Olenka adalah representasi karakter perempuan yang hidup di wilayah sub-urban, seperti Bloomington. Masa lalu di negara asal terbawa menyusup ke dalam kebebasan gaya Amerika. Di wilayah sub-urban, para tokoh ini bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa. Angela Vicario bertemu dengan Burhanto dari Indonesia dan Tony Mbanta dari Etiopia. Olenka bertemu Fanton Drummond, orang Amerika yang terobsesi kepadanya. Dalam pertemuan-pertemuan itu, Budi Darma selalu menggambarkan relasi-relasi yang rumit, yang pada titik tertentu kita mengerti bahwa tokoh-tokoh itu telah begitu banyak menjalani peristiwa traumatik.

 

Angela trauma terhadap laki-laki karena setiap lelaki yang ingin memperkosa atau menidurinya selalu menyerah karena loyo. Bahkan, ketika ia memutuskan menikah dengan Tony Mbanta, yang tubuhnya perkasa, kekecewaan itu mendera dirinya. Penyebab semua itu tak pernah diungkap, Budi Darma hanya menyebut bahwa tubuh Angela terlalu dingin untuk semua lelaki. Mungkin oleh sebab itu, setiap orang dengan niat baik dan jahat sekali pun, termasuk ”saya”, tak akan berhasil merenggut keperawanannya.

 

Sebaliknya, Olenka melarikan diri dari suaminya, Wayne Danton, dan pacar gelapnya, Fanton Drummond, karena rasa bersalah. Walau secara terus terang mengakui dirinya adalah lesbian, ia sebenarnya mencintai Fanton. Sesungguhnya Olenka adalah pribadi yang tertutup, misterius, dan tidak banyak orang mengenalnya. Suatu hari Fanton mendengar bahwa Olenka terlibat pemalsuan lukisan para pelukis ternama dan di kamarnya ditemukan begitu banyak lukisan.

 

Keanehan tokoh-tokoh dalam karya Budi Darma sudah terlihat ketika ia menerbitkan buku kumpulan cerpen pertamanya Orang-orang Bloomington (1980). Ia banyak mengulas tentang para janda penghuni apartemen di mana para imigran sementara seperti dirinya memilih tempat tinggal. Keanehan biasanya diperlihatkan oleh fakta-fakta yang tampak di permukaan, seperti selalu melambai kepada semua orang yang lewat di jalanan serta memaki-maki tukang pos. Suatu kali lain, terlihat juga seorang lelaki tua, yang turut menghuni apartemen, yang selalu mengacung-acungkan pistol walau tak sekali pun ia meledakkannya.

 

Keanehan bagi Budi Darma bukan sekadar daya tarik cerita, melainkan satu upaya perekaman lanskap psikologi sosial yang ia alami dan rasakan selama bermukim di Bloomington pada 1974-1980. Kehidupan apartemen tentu saja menarik baginya karena ia menemukan pola hidup berbeda dengan kota seperti Surabaya di mana ia bermukim, termasuk ibu kota seperti Jakarta. Di Jakarta pada awal tahun 1980-an belum dikenal permukiman seperti apartemen. Orang-orang masih hidup di rumah-rumah biasa sebagaimana pula terjadi di kampung-kampung.

 

Soal itu, dalam satu percakapan dengan saya, Budi Darma mengatakan, baginya hidup di apartemen sedikit menyiksa walau ia belajar mengenai banyak hal di dalamnya. Kehidupan sub-urban seperti di Bloomington memungkinkannya bertemu dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia dengan latar kulturalnya yang berbeda-beda. ”Sebagai pencerita, saya merasa disuguhi materi yang begitu kaya,” kata Budi Darma dalam satu kesempatan bertemu di Surabaya beberapa tahun silam.

 

Realitas sosial yang ditangkapnya, kata Budi Darma, hampir selalu berawal dari pengalaman dan kehadirannya dalam mempersepsi peristiwa dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Bahkan, jauh setelah menulis Orang-orang Bloomington dan Olenka, karakter-karakter orang-orang yang ditemuinya selalu menarik dijadikan model untuk menulis sebuah cerita. Salah satu contohnya, kata Budi Darma, terdapat dalam cerpen Angela yang dimuat Kompas Minggu, 14 April 2014.

 

Pada kesan keseriusan dan kesantunan yang melekat dalam diri Budi Darma, siapa menduga ia punya selera humor yang memadai. Sore di hari Senin (12/7/2021) tiba-tiba ia mengirim pesan Whatsapp kepada saya tentang kejadian yang baru saja ia alami. ”Saya itu diberi dua pilihan, silakan menguji mengenakan toga atau jas dan dasi. Saya pilih pakai jas. Belakangan saya sadar sudah lama tidak punya jas. Lalu, saya pinjam sama Hananto, anak saya. Eh, jasnya kedombrangan, dia kan lebih besar dari saya…,” tulis Budi Darma.

 

Pesan darinya belum selesai. Budi Darma melanjutkan, dalam menguji calon doktor dari Unesa Surabaya itu, tidak ada yang tahu kalau dirinya mengenakan sarung. ”Kan yang kelihatan cuma jasnya yang kedombrangan itu, sarung bawahnya tak ada yang tahu,” katanya. Di kemudian hari, saya diberi tahu Hananto bahwa jas miliknya yang dipakai ayahnya tak lain adalah ”jatah” dirinya ketika menjadi pengawas pemilu tahun 2019. ”Itu jatah saya sebagai pengawas pemilu,” kata Hananto.

 

Beberapa hari sesudah itu, saya mendengar Budi Darma sakit. Secara spontan saya menghubunginya lewat pesan Whatsapp seperti komunikasi kami selama ini. Budi Darma bilang, ia memang sedang demam dan hanya butuh istirahat di rumah. Namun, penulis Vika Wisnu, yang mukim di Surabaya, kemudian memberi kabar penulis novel Rafillus itu dilarikan ke rumah sakit bersama istri dan anaknya pada 28 Juli 2021. Sesekali, penulis Wina Bojonegoro berkabar dari Surabaya bahwa ventilator yang dikenakan Budi Darma sudah dilepas beberapa hari ini. Saya agak lega walau tetap waswas karena pada 23-29 Mei 2021 sebelumnya, Budi Darma pernah dirawat di rumah sakit karena pneumonia.

 

Hananto Widodo, anak bungsu Budi Darma, kemudian bercerita bahwa ayah dan ibunya dirawat di rumah sakit berbeda dengan dirinya. ”Ketika saya sudah sembuh dan diizinkan pulang, demikian juga ibu, bapak masih dirawat di Rumah Sakit Islam Ahmad Yani,” tutur Hananto. Sampai kemudian ayahnya dikabarkan wafat, Sabtu (21/8/2021)  pukul 06.00, tak sekali pun ia bisa berkomunikasi dengan ayahnya. Bahkan sekadar untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhir, ia juga tidak diperkenankan. ”Saya sudah negatif Covid, tetapi masih isolasi mandiri,” katanya terbata-bata.

 

Kapan dan dengan cara apa kita akan pergi selalu menjadi misteri. Budi Darma seperti tokoh-tokoh dalam cerpen terakhirnya yang dimuat di Kompas Minggu, 14 Juli 2021 berjudul ”Kematian Seorang Pelukis”. Wiwin dan Sawitri, dua perempuan pelukis yang bersahabat, sama-sama pergi dengan cara misterius. Sawitri meninggal terlebih dahulu kemudian disusul Wiwin yang meninggal ketika sedang berada di atas pesawat. Secuplik kisah penyakit Wiwin, hanya disebut ia memiliki kelainan jantung. Oleh sebab itu, ia berobat kepada Dokter Munandar.

 

Sosok-sosok tokoh pada sebagian besar kisah Budi Darma sesungguhnya juga tokoh-tokoh yang aneh dan misterius. Saya yakin itulah cara peraih Satya  Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI tahun 2003 ini untuk memecahkan persoalan aburditas yang kerap melanda manusia. Dalam terminologi Jawa sering kali terdengar ungkapan, sangkan paraning dumadi: darimana manusia berasal ke sana pulalah ia akan pergi. Semoga dalam segala keterbatasan pemahaman manusia tentang diri dan Tuhannya, melalui pencarian lewat kisah-kisahnya, Budi Darma menemukan jalan terang benderang dan menyatu dengan sumber segala sumber cahaya. Dari mana ia berasal, ke sanalah ia berjalan menuju perhentian terakhir setelah mengembara ke kota-kota yang membara dalam kisah-kisahnya. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/25/sosok-sosok-misterius-budi-darma/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 04 Agustus 2021

 

Yang Bernas adalah Emas

Putu Fajar Arcana ;  Penulis Kolom “Sosial Budaya” Kompas

KOMPAS, 4 Agustus 2021

 

 

                                                           

yang emas adalah padi

 

yang hijau adalah padi

 

yang bernas sesungguhnya padi

 

yang bergurau kiranya padi

 

inilah kebenaran pertama sebelum yang lain-lain

 

karena laparlah yang pertama sebelum yang lain-lain

 

(Ubud, Isma Sawitri)

 

Penyair Isma Sawitri (80) pasti tidak menduga bahwa yang diungkapkannya dalam puisi tentang Ubud pada tahun 1962 kini benar-benar menjadi nyata. Bahkan, kenyataan itu menggema dari arena Olimpiade Tokyo 2020 lewat pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Keduanya tidak saja mengalungkan emas satu-satunya bagi Indonesia, tetapi juga mengumandangkan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” ke seluruh dunia. Itulah kabar paling menghibur bagi bangsa yang tengah beringsut dari kecamuk wabah ini.

 

Tahun 1960-an, Ubud adalah desa yang kecil dan terpencil. Di malam hari, anjing-anjing melolong mengabarkan tentang malam gelap yang mistis. Apa yang dilukiskan pelukis Rudolf Bonnet benar-benar nyata di depan mata. Tetapi, bagi para pemburu kedamaian, inilah sepotong surga yang hilang di bumi. Tidak salah jika banyak seniman kemudian menerjemahkan Ubud sebagai ubad (obat), bagi jiwa-jiwa yang kosong dan kesepian.

 

Isma Sawitri menemukan padi, sebagai metafora tentang keindahan dan kedamaian di sepotong surga (yang hilang). Padi yang bernas adalah kebenaran sekaligus kelaparan pertama sebelum yang lain-lain. Bahkan, jauh sebelum pura berdiri dan raja-raja bertakhta. Padi yang emas menjadi pengobat kelaparan inspirasi di masa manusia jenuh oleh kecamuk perang. Gelombang seniman dan orang-orang resah yang mencari kedamaian di Ubud bahkan berlanjut sampai ke era Elizabeth Gilbert menulis novel Eat Pray Love (2006). Kisah spiritualitas dan kemistikan Ubud semakin menggema ketika aktris Hollywood Julia Robert memainkan tokoh Liz Gilbert dalam film berjudul sama tahun 2010.

 

Ketika Greysia Polii/Apriyani Rahayu menunggu keputusan wasit, apakah shuttlecock pengembalian pasangan China, Chen Qingchen/Jia Yifan, berada di luar garis atau di dalam, kita semua ibarat menunggu uluran sebuah obor yang belum dinyalakan. Aku membayangkan, begitu gelapkah nasib bangsa yang sedang dirundung duka cita tanpa putus ini? Gelombang pandemi Covid-19 sampai aku menuliskan kisah ini kepadamu telah menewaskan 97.000 orang lebih di Tanah Air. Setiap hari selalu ada 1.000 orang lebih saudara, kerabat, tetangga, dan orang-orang yang kita kenal meninggal dunia.

 

Baru saja penulis kenamaan Albertine Endah menuliskan kehilangan seorang sahabatnya bernama Indy Noorsy di sebuah grup Whatsapp, di mana aku berada di dalamnya. Setiap membaca kabar dukacita, hatiku seperti tergores menjadi trauma tak berkesudahan. Lalu sebagai penghiburan aku tuliskan kata-kata ini: Begitulah selalu cara kepergian memberi celah bagi yang hidup. Semoga kata-kata itu mampu menjadi sekadar pelipur rasa kehilangan bagi orang-orang yang mengenal Indy.

 

Kapankah obor yang telah diulurkan itu benar-benar menyala sebagai api pengharapan kepada bangsa ini? Seorang perempuan Jepang, sahabatku, mengirim kabar bahwa ia menangis ketika bola pengembalian pasangan China dinyatakan keluar oleh wasit. Skor 21-19/21-15 untuk kemenangan pasangan Indonesia, katanya, menjadi penghibur rasa duka orang-orang Indonesia.

 

”Sebelum benar-benar lagu ’Indonesia Raya’ dikumandangkan saya sudah merinding. Lagu itu lebih khidmat dibanding ’Kimigayo’,” katanya. Sekadar tahu, di masa kecil, temanku pernah tinggal di Jakarta. Setiap hari dari sebuah instansi pemerintah pada tahun 1980-an, ia mendengar ”Indonesia Raya” dikumandangkan. Pelan-pelan lagu itulah yang menjadi pengikat hatinya dengan Indonesia, ketika ia sudah kembali ke negaranya.

 

Aku berpikir, obor yang diulurkan oleh ”tangan-tangan gaib” itu, telah dinyalakan oleh Greysia/Apriyani dengan sebatang korek api yang terbuat dari kerja keras, ketekunan, dan kesabaran. Bayangkan, setelah berganti-ganti pasangan, lalu didiskualifikasi dalam Olimpiade London 2012 ketika berpasangan dengan Meiliana Jauhari, Greysia tumbuh menjadi pribadi yang penuh kesabaran. Itu justru ”baru” terjadi ketika usianya menginjak 34 tahun (11 Agustus 1987). Perempuan berdarah Minahasa yang dibesarkan oleh ibu tunggal ini, penuh senyum sepanjang permainan. Senyum itu memperlihatkan tingkat kematangan mentalnya dalam menghadapi tantangan.

 

Sementara Apriyani meskipun jauh lebih muda, lahir 29 April 1998 di Konawe, Sulawesi Tenggara, berangkat dari keluarga sederhana. Ia mulai bermain bulu tangkis dari raket kayu yang dibeli ayahnya secara ketengan: mencicil dari senar, lingkaran, dan gagangnya. Apriyani bahkan menepok bola di halaman rumah kampungnya sebelum akhirnya mulai berlatih di gedung. Kisah orangtuanya yang jadi pegawai kecil, dengan kehidupan yang pas-pasan, justru memacu Apriyani untuk berprestasi.

 

Sesungguhnya tak ada ”tangan-tangan gaib”. Semuanya bermula dari kerja dan tekad yang membaja, sebagaimana dikatakan oleh penyair Chairil Anwar berikut ini:

 

Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat

 

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,

 

Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!

 

(Catetan 1946, Chairil Anwar)

 

Kata kunci dari puisi yang ditulis Chairil sesudah perang kemerdekaan itu terletak pada dua baris terakhir sebelum puisinya berakhir. ”…tatap dan penamu asah. Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!”.

 

Greysia/Apriyani, ketika dipasangkan tahun 2017, setidaknya telah mulai menatap masa depan kariernya. Mereka mengasah ketajaman intuisi untuk saling memahami satu dengan lainnya. Dan, ketika prestasi bulu tangkis Indonesia belakangan tampak begitu ”gersang”, keduanya seolah menjadi pembasuh tenggorokan bangsa Indonesia di tengah padang pasir.

 

Chairil tentu tidak severbal itu. Ia menyadari pada masa akhir perang kemerdekaan, bangsa Indonesia tak benar-benar merdeka. Kolonialisme sedang mengintip untuk kembali bercokol di Tanah Air, yang baru saja diproklamasikan 17 Agustus 1945. Konteks kata-kata penutup dalam puisi Chairil seolah menjelma ketika dari Musashiro Forest Sport Plaza, Tokyo, Senin (2/8/2021) di siang hari, bergema lagu kebangsaan ”Indonesia Raya”.

 

Tiga orang pahlawan: Greysia Polii, Apriyani Rahayu, dan pelatih Eng Hian, saling memeluk satu sama lain. Itulah pelukan kemenangan paling simbolik setelah bangsa ini diamuk badai pandemi, yang seakan tak berujung. Bahkan, ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan perpanjangan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) pada 3-9 Agustus 2021, aku merasa itu hal ”mudah” yang bisa diterapkan dan dilakukan. Bangsa ini, menurut perasaanku, telah menemukan momentum untuk bangkit bersama, justru ketika tiga pekerja keras sedang berpelukan di tengah-tengah lapangan olahraga.

 

Kenangan emas pertama dalam Olimpiade modern pertama 6 April 1896 di Athena, terjadi saat atlet Amerika Serikat James Brendan Bennet Connolly, melompat indah seperti kijang di atas lintasan lompat jangkit. Itulah emas pertama setelah 1.527 tahun Olimpiade modern berjarak dengan Olimpiade kuno. Menurut catatan, Olimpiade sebenarnya sudah diadakan 776 SM di Yunani, dengan mempertandingkan cabang atletik. Saat itu siapa pun boleh ikut serta turun ke gelanggang, dari rakyat jelata, buruh, tentara, hingga para keturunan raja. Olimpiade kuno tetap dilangsungkan di bawah ancaman invasi dari sejumlah bangsa. Bahkan, ketika bangsa Romawi menaklukkan Yunani pada abad ke-2 SM, Olimpiade tetap dilangsungkan di pelataran tempat suci Olympia. Sejak masa Yunani dan Romawi, Olimpiade dikaitkan dengan pemujaan terhadap Dewa Zeus sebagai dewa tertinggi.

 

Ketika Jepang ”keras kepala” tetap menggelar Olimpiade setelah diundur selama setahun, kota Tokyo sedang berada di bawah ancaman pandemi. Banyak rakyat Jepang yang protes ketika kota mereka kedatangan 78.000 orang dalam waktu bersamaan. Mereka umumnya khawatir angka orang yang terpapar Covid-19 akan bertambah terus. Dan memang, pada saat awal Olimpiade Tokyo 2020 dibuka, kota itu sedang menjalani kuncitara, untuk memutus rantai penyebaran virus mematikan tersebut.

 

Aku ingat lagi baris puisi Isma Sawitri: //inilah kebenaran pertama sebelum yang lain-lain/karena laparlah yang pertama sebelum yang lain-lain//. Baris ini seolah ingin menegaskan, kebenaran pertama adalah kebenaran yang mampu mengobati rasa ”lapar”, sebagai prasyarat dasar manusia dalam memperjuangkan eksistensi hidupnya. Ketika Isma pertama kali datang ke Ubud tahun 1962, ia melihat hamparan padi yang bernas dan hijau. Sawah yang berkelok-kelok adalah pemandangan subur di mana padi tumbuh menjadi emas. Ketika Ubud beringsut dari sebuah desa menjadi tujuan utama pariwisata dunia, perubahan menjadi sesuatu yang niscaya.

 

Perubahan adalah ketika Ubud mulai dialiri listrik dan kegelapan perlahan-lahan menjadi terang karena cahaya. Bukankah dari lapangan bulu tangkis Greysia/Apriyani telah menyalakan obor sebagai suluh yang menemani kita semua, sekarang di sini, menyusuri lorong kegelapan, yang hampir dua tahun mengungkung kita semua? Medali emas satu-satunya di ajang Olimpiade Tokyo 2020 menjadi penuh arti ketika aku, kau, dan banyak orang nyaris putus asa. Beberapa kali perpanjangan PPKM dan sebelumnya juga PSBB (pembatasan sosial berksala besar) di Tanah Air, membawa kabar bahwa kita belum akan keluar sepenuhnya dari kesulitan ini.

 

Kabar baik dari dua perempuan yang berlaga di arena bulu tangkis datang tepat waktu. Sebab, yang bernas adalah emas, daripadanya kita bisa kembali membasahi tenggorokan bangsa yang telah lama mengering. Semoga air harapan itu kini mengalir menggenangi hati setiap warga dan kita semua dengan kepala tegak terus melanjutkan hidup. Ingat, kehidupan itu selalu berawal mula dari para perempuan yang ada di sekeliling kita…. ●

 

Rabu, 28 Juli 2021

 

Dan Kematian (Pun) Makin Akrab

Putu Fajar Arcana ;  Penulis Kolom “Sosial Budaya” Kompas

KOMPAS, 28 Juli 2021

 

 

                                                           

Hari-hari kita belakangan ini dipenuhi cerita duka. Kabar itu mengepung dari berbagai sudut; seolah berdesakan merebut perhatian mata, pikiran, dan hati kita. Betapa pun kau memahami secara dalam siklus eksistensi manusia: lahir, hidup, dan mati, toh ketika kematian itu mendekat, ia senantiasa mengharu-biru, mengobrak-abrik, bahkan melemparkanmu ke sudut paling sedih dari rasa duka.

 

Saking mendalamnya rasa kehilangan di antara kita, ketika pesan berdenting di telepon, entah mengapa hatiku selalu terkesiut, darah di kepala seperti tersedot. Lalu, berbagai pertanyaan berseliweran: Siapa lagi yang pergi hari ini? Adakah itu nama-nama yang kita kenal? Jangan-jangan saudara, tetangga, sejawat, atau ayah dan ibu kita? Bahkan, ketika Minggu (25/7/2021) sekitar pukul 16.10 WITA aku menerima pesan dari penari Lena Guslina, belum pula kusimak isi pesannya, perasaan duka itu seperti terburu-buru menohok ulu hati. Dan, benar, ada kalimat di layar telepon:

 

Innalilahi wa innailahi rojiun, telah meninggal Atasi Amin di RS Sentosa siang ini. Kabar dari Yasmin, putrinya. Semoga tenang dan damai di tempat terindah dan mulia. Semoga kekuatan dan kesanggupan bersama keluarga yang ditinggalkan.

 

(Ada tanda emoticon: air mata menetes, sekuntum mawar, dan tangan yang tercakup)

 

Terima kasih banyak untuk @+62895-0138-….yg telah berjuang mencari dan mendapatkan pendonor plasma, juga memantaunya di PMI hingga terkirimkan #dukamendalam

 

Sesudahnya, seseorang mengabarkan bahwa Atasi Amin telah dimakamkan menjelang petang hari di pemakaman keluarga Jeihan Soekmantoro, Jalan Padasuka Bandung, Jawa Barat. Ya, Atasi memang putra sulung perupa yang akrab kupanggil Pak Jeihan itu. Kami dulu sering mengobrol sampai sore benar-benar terbenam di langit barat. Pada saat Pak Jeihan menggebu-gebu bercerita segala hal tentang seni rupa kesufiannya, Atasi selalu duduk menjauh. Ia bahkan hampir tak pernah nimbrung, apalagi nyeletuk, ketika kami asyik berdebat tentang banyak hal. Hanya sesekali Pak Jeihan seolah mengonfirmasi ingatannya kepada Atasi. Begitu selalu berulang berkali-kali dan berbilang tahun lamanya.

 

”Benar, kan, Tak…? Ya, benar waktu itu Bapak pernah mati suri,” begitu kata Pak Jeihan menyebut nama anak tertuanya.

 

Pada 16 November 2019, Pak Jeihan sudah beberapa bulan sakit keras. Ia nyaris tak mampu lagi berbicara. Entah kenapa, ketika aku membesuknya ke Bandung, Pak Jeihan minta Atasi mengambil kertas dan pensil. Kupikir ia akan menggambar, tetapi dengan terbata-bata ia menulis sebuah puisi pendek: //hari terang/hati tenang…// Setelah membacanya, aku bertanya, ”Terkenang siapa?” Atasi Amin yang tak jauh dari kami tiba-tiba menyahut: ”Mau pulang…”.

 

Tak lama sesudah aku menemaninya mengobrol di atas tempat tidur perawatannya, tepatnya 29 November 2019 pukul 18.15 WIB, Pak Jeihan benar-benar pulang pada usia 81 tahun. Kenanganku bukan hanya itu, Atasi dengan takzim dan cekatan mengambil kertas dan pensil lalu memeganginya agar Pak Jeihan bisa menulis. Tangan lelaki itu gemetar, bahkan untuk memegang pensil pun ia nyaris tak sanggup.

 

Kehilangan orang-orang terdekat pada hari-hari belakangan ini seolah menjadi keseharian. Hampir-hampir seperti mengunyah dongeng dari kakek-nenek kita di masa lalu. Ia berkecamuk dalam pikiran masa kecil dan diam-diam melekat sebagai ingatan di dasar jiwa kita. Bedanya, kematian yang terus susul-menyusul ini melekat dan bergerak dari trauma personal menjadi trauma kolektif yang tak mudah dihapus. Ia seolah virus korona jenis baru penyebab Covid-19 yang menempel di paru-paru kita.

 

Beginilah cara penyair Subagio Sastrowardoyo menyebutnya dalam sajak ”Dan Kematian Makin Akrab: (Sebuah Nyanyian Kabung)”. //Di muka pintu masih/bergantung tanda kabung/Seakan ia tak akan kembali/Memang ia tak kembali/tapi ada yang mereka tak/mengerti—mengapa ia tinggal diam/waktu berpisah/Bahkan tak ada kesan kesedihan/pada muka/dan mata itu, yang terus/memandang, seakan mau bilang/dengan bangga:—Matiku muda—….//Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar/yang mengajak/tertawa—itu bahasa/semesta yang dimengerti—…//Di ujung musim/dinding batas bertumbangan/dan/kematian makin akrab/Sekali waktu bocah/cilik tak lagi/sedih karena layang-layangnya/robek atau hilang/—Lihat, bu, aku tak menangis/sebab aku bisa terbang sendiri/dengan sayap/ke langit—//

 

Tak jua jadi aneh ketika aku mengingat seorang bocah bernama Alviano Dava Raharjo alias Vino (10), yang tinggal di Kampung Linggang Purworejo, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Ketika mendengar kabar ibunya, Lina Safitri (31), meninggal dan kemudian disusul ayahnya, Kino Raharjo (31), juga meninggal karena terinfeksi Covid-19, Vino hanya meringkuk dalam kamar. Vino juga terinfeksi dan kemudian melakukan isolasi mandiri di rumahnya seorang diri. Tempat tinggalnya barangkali tak layak disebut rumah; hanya sepetak kamar yang dijejali berbagai peralatan rumah tangga. Kasur tempat tidur, berbagai wadah dari plastik, boneka, air minum, alat memasak, serta sepotong televisi bertumpuk-tumpuk berebut ruang.

 

”Vino hanya dengar kabar, kedua orangtuanya sudah meninggal. Saat ini, ia isolasi mandiri di rumah,” ucap Mistari, tetangga terdekat Vino, kepada Kompas.com. Menurut Mistari, meski tetap tampak sehat, Vino berubah menjadi pemurung dan sering bingung. Mungkin, berita kehilangan itu terlampau terburu-buru menggempur hidupnya.

 

Barangkali seperti dikatakan Atasi Amin dalam sajaknya, yang dimuat di situs Jendela Sastra pada 11 Februari 2014 berjudul ”Panggilan”. //Tiba-tiba/Atasan memanggil anak buahnya/Dan tiba-tiba/Yang Di Atas memanggil kita/Siap?//

 

Sajak pendek ini seolah melontarkan beribu pertanyaan hakikat. Adakah yang benar-benar siap menghadapi kematian? Seberapa pun mencoba berakrab-akrab dengan kematian, pada saat kita benar-benar berhadapan muka dengannya, apakah akan saling menyapa atau saling membenci? Ketika kematian tiba-tiba mengetuk pintu depan rumahmu, apakah kau akan mempersilakannya masuk dan memperlakukannya sebagai seorang tamu istimewa? Bahkan, jika tamu itu membawa kado istimewa pula, apakah kau akan membiarkannya menginap di dalam kamar pribadimu?

 

Sesungguhnya tak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian. Bukan cuma karena kau akan terasingkan dari orang-orang di dekatmu, tetapi lebih-lebih karena misteri yang menghampar di depanmu. Ke mana kita setelah mati?

 

Atasi Amin, kawan akrabku yang pergi sewaktu usianya belum cukup tua, bahkan berkata dalam puisinya: //Sekarangan bunga kami terima/dari orang tak dikenal/Mungkin kurir yang salah…//  (Sekarangan Bunga, 2017). Bukankah ketika Bisma tertusuk ratusan anak panah Srikandi, mahaguru para ksatria itu tak segera mati? Ia bahkan hidup beberapa hari untuk menyaksikan kehancuran para Kurawa, yang terlihat kebingungan memenuhi permintaannya sebelum benar-benar gugur. Setelah para Pandawa memenuhi keinginannya berupa ribuan anak panah yang patah sebagai alas tubuhnya, barulah Bisma benar-benar mati.

 

Kisah ini memang menyodorkan tafsir beragam. Bisma dianggap sakti mandraguna karena bisa menentukan kapan dia akan benar-benar gugur. Namun, pada tafsir berbeda, bukankah kita bisa melihat kegamangannya dalam menghadapi kematian? Ia perlu bersiap dengan sepenuh khidmat, sebelum maut benar-benar merenggut jiwanya.

 

Dalam konsep ajaran leluhurku, kematian ”hanyalah” satu siklus dari keberadaan manusia di dunia yang disebut Tri Kona: Utpati (lahir), Stiti (hidup), dan Pralina (mati). Jatasya hi druvo mrtyur, dhruvam janma mrtasya ca, na tvam soritutn arhasi, tasmad apariharye’rthe. Artinya, pada yang lahir, kematian adalah pasti dan pasti pula kelahiran yang mati. Oleh karena itu, pada apa yang tidak dapat dielakkan, seharusnya tidak ada hati (Bhagawad Gita II.27).

 

Tri Kona sesungguhnya sekaligus mengandung ajaran tentang Samsara, yakni sebuah siklus ”kehidupan” setelah manusia mati. Menurut ajaran ini, setelah mati, roh terlepas dari raga untuk kemudian menunggu ”proses” reinkarnasi. Pada saat penantian itulah, roh dipengaruhi oleh karma. Seseorang yang pada masa hidupnya senantiasa mengamalkan kebaikan, ia akan terlahir kembali sebagai roh dalam raga dengan segala kemuliaan dalam hidupnya. Sebaliknya, seseorang yang selalu dilumuri hawa nafsu dan perbuatan jahat harus membayar utang karmanya di kehidupan dengan beragam cara. Bahkan, jikalau kejahatannya melebihi batas-batas peri kemanusiaan, bukan tidak mungkin rohnya akan menjelma menjadi binatang atau sosok makhluk yang lebih rendah tingkatannya dari manusia!

 

Baiklah. Karena ini menyangkut sebuah ajaran dari sebuah kepercayaan, kau boleh saja percaya dan boleh pula tidak percaya. Bukan itu memang yang sedang kita percakapkan hari ini, tetapi menjawab pertanyaan tentang mengapa begitu banyak kematian yang mewarnai hari-hari kita belakangan ini? Sedang terjadi apa dengan manusia di dunia? Tidak cukupkah ”menjadikan” dua juta anak-anak di dunia ini sebagai yatim piatu setelah kedua orangtua mereka tergerus arus kematian?

 

Sudah pasti Vino menjadi bagian dari ratusan juta anak lainnya yang terpaksa harus hidup sebatang kara di dunia. Pada bagian akhir dari sajaknya, Atas Amin menutupnya dengan mengatakan://saat satu per satu/bunga layu mengering, gugur/kembali menjadi tanah/tapi akarnya mulai rambat/bahkan membelit/bahkan menggenangi/tubuh kami/tulang kami/suara kami/suara kengerian kami//.

 

Ada kengerian yang fatalistik. Bagaimana secara simbolik Atasi menggunakan bunga, sejak layu, mengering, dan kemudian membelit diri sendiri. Seperti kehidupan yang tadinya indah pada akhirnya toh berujung kematian. Dalam rumusan filsuf Martin Heidegger, kematian bukanlah berhenti untuk menjadi, melainkan sebuah cara untuk berada. Setiap keberadaan manusia dipastikan diikuti dengan kematian. Eksistensi manusia dipersoalkan justru karena dia dipastikan akan mati.

 

Sebuah pandangan yang absurd dan sesungguhnya seperti yang telah dituliskan Subagio Sastrowardoyo, bahwa kematian semakin akrab justru ketika ia dipastikan dalam kehidupan seorang manusia. Toh begitu, kau dan aku tetap sepakat bukan, bahwa berita dukacita selalu datang di hari yang tidak tepat dalam hidup kita? Ketika mendengar Atasi Amin, seorang karib yang keberkawanannya teruji akhirnya dijemput maut, telingaku seperti ditampar angin puyuh, mataku seolah tertusuk panah-panah yang menghujam tubuh Bisma. Penerimaan dan keikhlasan menerima kematian memang akhirnya sesuatu yang berbeda dengan ajaran dan filsafat tentang kematian itu sendiri.

 

Sebab, kematian bukan cuma soal mati itu sendiri, melainkan menyangkut soal hidup orang-orang seperti Vino dan jutaan orang lainnya yang menjadi yatim piatu gara-gara kematian. Barangkali kau setuju dengan pandangan semacam ini: bahwa mati adalah sepotong siklus dari kelahiran dan kehidupan. Namun, manakala kematian itu telah menyeret kehidupan orang lain di dalamnya, itu menjadi tanggung jawab bersama untuk meneruskan kehidupan itu sendiri.

 

Mungkin lantaran itulah, hari-hari kita belakangan ini seperti dikepung kematian demi kematian. Entah di mana ini akan berakhir. ●

 

Rabu, 23 Juni 2021

 

Tumpukan Tradisi dalam Buku Bekas

Putu Fajar Arcana ;  Penulis Kolom “Sosial Budaya” Kompas

KOMPAS, 23 Juni 2021

 

 

                                                           

Lukisan tradisi Bali itu seperti buku bekas. Sampulnya boleh usang, tetapi isinya berupa tumpukan pengetahuan, yang bahkan pernah mengisi kepala orang-orang pintar dari generasi ke generasi. I Wayan Pendet (81), I Made Kartika (60), dan I Wayan Mardiana (52) sudah puluhan tahun menjadi pelukis. Gambarnya selalu dimulai dari ngorten (membuat sketsa) dan kemudian melalui tahapan-tahapan yang rumit agar menjadi lukisan yang utuh dan selesai.

 

Sore sudah hampir rebah ketika I Made Kartika bengong di depan lukisannya yang besar. Pohon maja di halaman tengah Museum ARMA Ubud mengembuskan angin sampai ke Bale Bengong. Anak Agung Rai, pemilik ARMA, sedang berbincang dengan pelukis (kontemporer) Putu Wirantawan di sebuah bangku panjang, tak jauh dari Bale Bengong.

 

”Sudah enam bulan belum akan selesai,” kata Kartika. Wajahnya tak lepas menatap lukisannya.

 

”Kapan kira-kira selesai?” tanyaku.

 

”Mungkin tiga bulan lagi, tapi belum tentu,” jawabnya singkat.

 

”Saya sudah sepuh, jadi kerja semampunya.”

 

”Mengapa membuat lukisan begitu besar?”

 

”Kalau kecil cepat selesai, tapi mata sudah tak sanggup.”

 

”Tapi lukisan ini, kan, detail sekali? Apa itu sanggup?”

 

”Ya memang begitu lukisan Bali.”

 

Kartika belum memberi judul lukisannya yang berukuran hampir dua meter itu. Ia cuma memberi isyarat bahwa gambarnya tentang aktivitas ritual di Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar. Di seberangnya, I Wayan Pendet sedang ngorten di atas kanvas putih. Ia menggores-goreskan pensil  untuk membentuk beberapa ekor ikan yang sedang bercengkerama di antara ganggang dan batu-batu. Proses membuat sketsa itu, kata Pendet, bisa berjalan sebulan lebih.

 

Jika proses itu berhasil dilalui dengan baik, melukis bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya, yakni melakukan nyawi (menegaskan garis dengan tinta cina), lalu ngucak (proses memberi efek jauh dekat dan gelap terang). ”Ini bisa berjalan 3 bulanan kalau lukisannya besar,” kata Agung Rai. Jangan berpikir bahwa lukisan akan selesai sebelum memasuki tahap berikutnya, yakni menyunin (membuat volume), ngasir (memberi ornamen), dan ngewarna (memberi warna).

 

Begitulah tahapan-tahapan yang harus dilalui kalau kau mau melukis dengan metode Kamasan, Ubud, Batuan, atau Sanur. Setiap langkah harus benar-benar menjejak pada tahapan-tahapan yang telah digariskan, tidak ada langkah melompat. Tradisi-tradisi seperti melukis Bali dan menenun kain sesungguhnya gabungan antara pengetahuan dan keindahan. Jika pengetahuan dihasilkan dari proses belajar berabad-abad melalui trial and error, keindahan memberinya perspektif berdasarkan fungsi. Lukisan-lukisan klasik bergaya Kamasan, dimulai dari tradisi rerajahan (kaligrafi) yang menggunakan huruf-huruf sebagai aksara suci. Rerajahan memiliki fungsi ritual, yang dibutuhkan saat-saat upacara untuk memuja dan mengagungkan Tuhan.

 

Artefak lukisan klasik tertua berada di Pura Besakih, Karangasem, yang diperkirakan berasal dari abad ke-18. Ada pula di langit-langit Bale Kertagosa, sebuah bangunan yang diperkirakan berfungsi sebagai ruang sidang di masa Kerajaan Gelgel, Klungkung, dilukis oleh I Gede Mersadi sekitar abad ke-19. Mersadi bahkan diberi gelar sangging oleh Raja Gelgel Dalem Waturenggong. Gelar ini semacam pengukuhan eksistensi seorang seniman yang diakui kepiawaiannya oleh kerajaan.

 

Kalau kau menyaksikan pameran Wana Jnana: Wanda, Rimba, dan Spiritualitas, yang dihelat dalam rangka Pesta Kesenian Bali ke-43, kau akan melihat bagaimana praktik melukis tradisi itu terlihat semakin menyenangkan. Beberapa karya yang dipajang di Museum ARMA, Museum Puri Lukisan, dan Gedung Kriya Taman Budaya Denpasar menunjukkan bahwa pewarisan terhadap pengetahuan, metode, dan corak melukis klasik/tradisi itu berjalan baik sesuai dengan perspektif generasi kini.

 

Kurator pameran Kun Adnyana, misalnya, menggambarkan ada perbedaan signifikan pada cara-cara generasi sepuh, seperti Pendet, dan generasi baru, seperti I Made Karsa (55) serta I Made Griyawan (42), dalam memandang tradisi. Ketiga generasi seniman Bali ini tetap memegang teguh proses kerja dalam melukis Bali, tetapi dengan perspektif yang berbeda. Jika Pendet tetap kukuh dengan gaya, tahapan, dan obyek karya yang adiluhung, Karsa meletakkan tradisi sebagai sesuatu yang bisa ”diberi” muatan berbeda. Karya Karsa berjudul ”Barong Membajak Sawah” tak hanya menggambarkan kenakalan, tetapi “Memberi tafsir baru terhadap artefak tradisi,” ujar Kun Adnyana, yang juga Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

 

Barong, kata Kun, sebenarnya simbol pemberi kesuburan. Jadi, ketika Karsa menggunakannya sebagai ”binatang” pembajak sawah, sesungguhnya ia telah melakukan penyodoran makna yang sebenarnya tersembunyi dalam tradisi. Meski begitu, penggunaan barong dalam aktivitas keseharian, seperti membajak sawah, bukanlah sesuatu yang lumrah. Barong sesungguhnya artefak tradisi yang sangat disakralkan sebagai simbol kebenaran.

 

Dalam obyek berbeda, I Made Griyawan memamerkan karyanya berjudul ”Rapat Para Binatang untuk Corona”. Kontekstualitasasi terhadap obyek sebuah karya sebenarnya sudah diajarkan dua seniman asing, Rudolf Bonnet dan Walter Spies, ketika turut mendirikan organisasi seniman bernama Pita Maha pada pertengahan tahun 1930-an. Obyek-obyek lukisan Bali yang tadinya hanya bersumber dari cerita wayang sebagaimana dikerjakan oleh para pelukis Kamasan bergeser menyodorkan obyek sehari-hari, seperti pasar atau kehidupan sehari-hari orang Bali.

 

Griyawan melakukan pemutakhiran sebagai respons terhadap merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Dipimpin raja hutan (seekor singa), para bintang secara tekun mengikuti sebuah rapat untuk membahas perihal virus korona yang telah menyerang manusia. Pertanyaan penting yang disodorkan karya ini, apakah virus korona bisa dimasukkan ke dalam kelompok binatang atau binatang buas sekalian? Dalam bidang gambar, Griyawan turut menyertakan empat virus yang turut serta ”menghadiri” rapat di tengah hutan lebat itu. Ada kenakalan di dalamnya, tetapi juga ada pertanyaan eksistensial: binatang saja serius menghadapi Covid-19, seharusnya manusia juga. Bukankah selalu begitu dari kisah-kisah fabel? Dia sengaja ditulis sebagai alegori, justru untuk semakin menegaskan maksud sesungguhnya. 

 

Dua contoh ini memberi makna penting dari pameran Wana Jnana, yang menggeber lebih dari 100 karya rupa. Penggelaran karya-karya para perupa klasik dan tradisi ini menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang beku, apalagi mati. Ia tetap dihayati, dipraktikkan dalam ritus, dan memperkaya dimensi hidup manusia. Lewat perjalanan generasi Pendet sampai ke Karsa dan Griyawan, kita mendapatkan bentangan kekayaan intelektual yang begitu kaya.

 

Karya-karya ketiga pelukis ini lahir menjadi sesuatu yang ”ikonik”, yang menjadi patok-patok perjalanan tradisi. Jika pada Pendet unsur makna sangat erat kaitannya dengan ritus-ritus dan praktik keberagamaan, pada dua generasi berikut tradisi diperkaya dengan tantangan hidup di masa pandemi. ”Ada penajaman makna yang disesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan akan tuntunan hidup di masa kini,” kata pengkaji budaya Bali asal Perancis, Jean Couteau, yang berbicara dalam Webinar Bali Kandarupa, Selasa (15/6/2021) di kompleks Museum ARMA Ubud.

 

Banyak yang sesat melihat tradisi karena hanya memperlakukannya sebagai ritus dan artefak. Lukisan-lukisan klasik dan tradisi Bali telah lama menjadi bukti bahwa warisan leluhur tidak cuma bertumbuh sebagai modal pengembangan industri pariwisata. Ia juga membawa satu perangkat sistem nilai, yang berisi etika dan estetika untuk melampaui garis zaman. Dengan perspektif semacam ini, kita akan mengerti lebih banyak mengapa orang-orang seperti Pendet, Karsa, Griyawan, dan para perupa yang lebih muda, seperti I Gede Feby Widi Cahyadi (22) serta I Komang Erik Setiawan (24) tetap kukuh bertahan melukis tradisi.

 

Estetika yang diwarisi oleh generasi terkini telah membuat mereka percaya tentang identitas, yang pada suatu masa terus menebal dan akan membawa entitas kultural mereka terus berkembang ke  arah yang semestinya. Di dalamnya ada optimisme dalam menatap hidup. ”Ini seperti kerja di sawah, selalu ada yang dinanti untuk terus hidup,” kata Pendet. Menurut dia, keasyikannya melukis sejak remaja dulu telah memberinya pelajaran penting dalam melakoni hidup.

 

”Sejak membuat sketsa sampai memberi warna, yang bisa makan waktu berbulan-bulan, sama dengan bertani, yang memupuk kesabaran untuk mendapatkan hasil bagus,” katanya. Terasa ada sentakan kecil, tetapi membuatku terperangah. Seseorang yang setiap hari selama lebih dari setengah abad menatap kanvas terus-menerus telah memberi perspektif penting dalam menjalani hidup.

 

Kanvas putih adalah sawah. Sketsa adalah menyemai benih. Nyawi dan ngucak adalah proses membajak sawah, mempersiapkan lahan untuk menanam padi. Menyunin mungkin serupa dengan meratakan hamparan sawah agar benar-benar siap ditanami padi, agar petak-petak itu tampak bervolume, dan ngasir tak lain adalah proses menanam padi. Sawah-sawah yang tadinya kosong diberi ”hiasan” tanaman padi. Terakhir tentau saja ngewarna, yakni merawat padi sehingga menjadi tanaman yang menghasilkan biji-biji yang bernas.

 

Kau boleh memandang ini sebagai tradisi agraris yang ketinggalan zaman. Namun, dengan etika bertanam padi yang benar, kau akan menghasilkan padi-padi yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Bukankah ini bisa menjadi sebuah metafor tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup sekarang ini?

 

Bahwa hasil yang baik dan bernas tak pernah mengingkari proses panjang yang telah dilalui secara benar. Etika yang disemai dalam tradisi telah mengajarkan kita untuk bekerja keras dan tekun sebelum memetik hasilnya. Tindakan subversif sedikit saja akan menjerumuskanmu ke jurang kehancuran. Kau bisa contohkan soal prilaku koruptif, yang sejak dulu sampai kini seolah tak bisa kita berantas. Tindakan semacam itu didasari oleh keinginan, sedikit kerja, tetapi memetik hasil yang berlimpah.

 

Lewat Pendet yang sepuh dan para generasi ahli waris lukisan Bali, kita belajar tentang nilai-nilai keadaban yang menegakkan martabat diri sebagai manusia yang berakal budi. Jadi, lukisan tak sekadar pajangan keindahan, kau harus mereguk nilai terdalam darinya sampai benar-benar tandas. ●