Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

Mendidik Karakter (2)

Mendidik Karakter (2)
Mohammad Nuh  ;   Guru Besar ITS Surabaya
                                                   KORAN SINDO, 16 April 2017



                                                                                                                                                           

Semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan, tidak akan dihitung kecuali disertai perilaku serta budi pekerti yang terpuji. Menghiasi amal di dunia dengan adab (karakter baik) menjadi tanda bahwa amal itu akan diterima kelak di akhirat.(KH Hasyim Asy‘ari dalam karya klasiknya, Adabul ‘Alim wal Muta‘allim)

Pada tulisan Mendidik Karakter (1) telah dibahas mengenai substansi karakter. Kini pertanyaannya, bagaimanacara mendidikkarakter, dari mana harus, memulainya dan kapan saat yang paling tepat.

Pertanyaan ini sungguh tidak mudah untuk dijawab melalui tulisan pendek, namun akan diurai secara garis besarnya. Karakter mulia atau sering kali dipadankan dengan akhlak mulia, meliputi keyakinan dan pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan, maka proses pembentukannya setidaknya perlu dua hal utama selain pemahaman: keteladanan(role model) dan pembiasaan (habituation).

Keteladanan dan Habituasi (Pembiasaan)

Sebagaimana tecermin dalam kisah tentang anak-anak sekolah dasar yang belajar tentang proses penanaman padi hingga menjadi beras (sebagaimana pada tulisan sebelumnya), anak-anak dapat melihat keteladanan hidup secara nyata dan ini berperan sebagai kanal transmisi nilai, norma, serta cinta, sebab kebaikan sebenarnya adalah wujud hakiki manusia. Kebaikan itu panggilan fitrah–bakat bawaan setiap manusia. (Khan: 2005).

Dan, agama diturunkan Tuhan untuk mengembangkan bakat bawaannya itu dan pendidikan menuntunnya agar terhindar dari salah arah. Neurosains juga membuktikan bahwa otak manusia dirancang sedemikian rupa sehingga bersikap baik kepada orang lain itu membuat kita merasa nyaman; berbagi itu menyenangkan. Dalam sebuah eksperimen pemindaian otak yang belum lama ini dilakukan, puluhan responden diberi uang USD128 dan kemudian dipersilakan untuk menabung atau menyumbangkan uangnya.

Pusat otak orang yang memilih untuk menyumbangkan uang mereka menjadi aktif, dan mereka merasa senang atas kedermawanan mereka. Bahkan, pusat otak beberapa orang responden lebih aktif ketika mereka bertindak altruistik(lawan dari egoisme) ketimbang ketika mereka menerima hadiah uang tunai. (Dapretto et al., ”Understanding Emotions”: 2011).

Jadi, kebaikan itu sejatinya tak perlu atau harus dijejalkan dari luar. Anak-anak butuh cermin yang bisa memantulkan kilau kebaikan dalam diri mereka. Mereka butuh upaya dan stimulasi kreatif dari kita untuk mencuatkan fitrah kebaikan itu, mereka butuh keteladanan, sebagai role model(Lickona, 2012) Yang kedua, pembiasaan (habituation),proses menanam kebiasaan tentang yang baik sehingga guru dan peserta didik memahami, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik.

Karakter berasal dari kata charassein (bahasa Yunani) yang berarti ”to engrave”, yakni melukis, mengukir, memahatkan. Kita ingin melukis pola pikir kebaikan di benak anak didik kita, mengukir cita rasa kebaikan di sanubari mereka, sehingga perilaku baik terpahatkan menjadi kebiasaan. Para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1990-an melakukan penelitian terhadap seekor tikus yang dimasukkan ke dalam pipa dan di sudut pipa diberi cokelat. Setelah tikus dilepaskan dan mencari cokelat, kegiatan ini dilakukan berulang kali dan direkam aktivitas otaknya.

Ternyata, pada awal-awal, amplitudo aktivitas otak tikus sangat tinggi, dan berangsur menurun sejalan dengan banyaknya pengulangan. Hal ini menandakan bahwa, pada saat awal, untuk mendapatkan cokelat tikus membutuhkan energi yang besar. Namun, setelah berulang kali dilakukan, sehingga menjadi kebiasaan, amplitudonya menurun. Kalau tikus saja mengenali tentang kekuatan pembiasaan, tentu manusia yang memiliki tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, pembiasaan akan menjadi kekuatan tersendiri (the power of habit).

Hasil penelitian tersebut diadopsi oleh Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit (2013). Intinya adalah, bahwa pembiasaan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam pembentukan karakter. Masa yang paling efektif dalam pembentukan karakter adalah pada usia formatif, usia emas (golden age). Di sini kita jadi ingat pesan orang tua lewat lagu kasidahan: belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu (at-ta‘allum fis shighari ka an-naqsyi ‘alal hajari).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Di sinilah pentingnya gerakan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang telah dicanangkan tahun 2011 dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan memanfaatkan fasilitas umum (balai RT dan RW) dan keagamaan (masjid, musala, gereja, dan pura).

Pendekatan sistemik

Persoalan mendasarnya adalah anak-anak kita tidak berada dalam ruang yang steril dari berbagai pengaruh negatif. Bahkan sering kali energi negatifnya lebih kuat dibanding energi positif yang terpaparkan (exposure) kepada anak-anak kita. Di sinilah pentingnya pendekatan sistemik dalam pembentukan karakter. Ada tiga wilayah utama yang menjadi sasaran, yaitu wilayah sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pengendalian wilayah sekolah dan keluarga relatif lebih dapat dikendalikan dibandingkan wilayah masyarakat. Salah satu unsur wilayah masyarakat, adalah media massa (cetak dan elektronik) dan media sosial. Di sinilah media memiliki peran yang khusus dalam pembentukan karakter.

Media dalam menyiapkan dan meramu informasi yang akan disajikan ke publik haruslah: mendidik (educate), memberdayakan (empowering) dan memberikan pencerahan (enlightenment). Dan semua itu, bermuara untuk penguatan nasionalisme anakanak kita. Istilahnya 3E (Educate, Empowering, dan Enlightement) dan 1 N (Nationalism).

Dari mana harus memulai

Dari sisi subjek dan waktu, tidak ada jawaban yang paling tepat kecuali mulai dari sekarang (now) dan dari diri sendiri (your self). Bahasa agamanya,Ibda’ binafsik. Kata nafsdalam konteks ini tidak saja berarti personal atau pribadi perorangan, melainkan bisa diperluas menjadi keluarga sendiri dan masyarakat lingkungan terdekat. Di samping itu harus dilakukan perubahan paradigma, khususnya dalam sistem pendidikan.

Prakarsa pengalihan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skills) saja tidaklah cukup. Namun, pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial (transmission of cultural values and social norms) harus menjadi satu kesatuan. Meleburkan nilai-nilai moral yang relevan di semua mata pelajaran dan kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Intinya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia (humanizing the human being) dengan segala aspek yang melekatnya.

Sebagaimana esensi Kurikulum 2013, yaitu meningkatkan kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skills), dan pengetahuan (knowledge) secara utuh.

Senin, 20 Maret 2017

Mendidik Karakter (1)

Mendidik Karakter (1)
Mohammad Nuh  ;   Guru Besar ITS Surabaya
                                                  KORAN SINDO, 19 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Transmisi nilai-nilai kebaikan adalah kerja peradaban. Sejarah mengingatkan kita bahwa perabadan tak selamanya tumbuh.

Kadang bangkit, kadang runtuh. Ia meruntuh saat moral merosot–kala suatu masyarakat gagal mewariskan kebaikan-kebaikan utama–kekuatan karakternya– kepada generasi barunya. (Lance Morrow) Pagi yang cerah, murid-murid kelas IV turun ke sawah untuk melihat proses pengolahan padi. Mulai dari menuai, merontokkan, menjemur hingga menggiling padi. Mereka bersemangat dan bergembira, berjalanmenyusuripematangsawah, bertegur sapa dengan petani.

Ketika sampai di sawah, mereka membantu petani menuai padi dengan menggunakan sabit. Batangpadiyangsudahdipotong dikumpulkan di pinggir sawah, lalu diangkut ke lapangan. Siswa melihat bagaimana petani merontokkan padi kering dalam karung berukuran kecil yang memungkinkan diangkut oleh siswa.

Satu per satu mereka bergantian memanggul karung padi itu ke tempat penggilingan. Saat berada di tempat penggilingan, spontan Akbar bertanya kepada gurunya. ”Bu Guru, berarti kita harus melepaskan dan meninggalkan perbuatanperbuatan yang tidak baik ya?” ”Memangnya kenapa, Akbar?” tanya guru menanggapi. ”Lihat, Bu, agar jadi beras yang bersih, yang siap dimasak menjadi nasi, padi harus melepaskan kulitnya. Kita harus seperti itu, Bu.”

Ibu guru tertegun dan bangga. Akbar yang baru kelas IV SD sudah bisa memetik nilai dari sebuah proses penggilingan padi. Sepulang dari sawah, ibu guru meminta siswa mengambil nilai-nilai yang mereka dapatkan. ”Kita harus bersyukur dengan rezeki yang diberikan Tuhan,” kata Gita sambil angkat tangan. ”Kita harus menghargai jerih payah petani,” ucap Hani.

Beberapa siswa lain pun menambahkan hasil refleksinya. Itu semua makna yang dapat diungkapkan dalam bahasa lisan. Namun guru menemukan pelajaran paling berharga yang tak diungkapkan siswa lewat kata-kata. Sejak itu tidak ada sebutir nasi pun yang tersisa di piring mereka ketika makan siang bersama di sekolah.

Mereka sudah meninggalkan kesia-siaan atau kemubaziran. Kisah tersebut bukan fiktif, melainkan aktivitas nyata anakanak SD yang menerapkan pendidikan berbasis karakter sebagai bagian dari masukan waktu menyusun dan merumuskan Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Pagi itu mereka tengah belajar tentang empati: merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi petani.

Empati diyakini para ahli sebagai inti emosi moral yang membantu anak didik memahami perasaan orang lain. Empati membuat mereka peka terhadap kebutuhan orang lain dan mendorong mereka untuk saling menolong dan saling mengasihi. Begitulah salah satu contoh praksis pendidikan moral atau karakter. Jangan bayangkan mereka harus menghafal setumpuk dalil dan teori tentang kebaikan, kejujuran, ketulusan, dan karakter luhur lainnya.

Itu hanya menambah pengetahuan tentang kebaikan. Penting tapi tak cukup. ”The dimensions of character are knowing, loving and doing the good,” kata Thomas Lickona. Para pendidik bangsa saat dulu mendirikan sekolah memaksudkan agar anak-anak didik mereka mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan mengamalkan yang baik. Itulah etika (kebaikan).

Tentu diajarkan pula tentang logika (kebenaran) dan estetika (keindahan). Jadi tak ada yang meragukan perlunya pembentukan karakter. Sebab bila seseorang kehilangan karakternya, ia kehilangan sisi genuine -nya dan kehadirannya di publik akan kehilangan kemanfaatan, bahkan menambah rumitnya kehidupan. Layaknya dalam pertunjukan sirkus, mereka yang tampil (sirkustor) telah mengalami de-i-sasi.

Singa yang buas dan ditakuti jadi jinak dan tampak lucu. Ia mengalami proses de-singa-i-sasi. Begitu juga dengan hewan-hewan lain, semua telah kehilangan watak orisinalnya. Tentu saja hal itu mengagumkan dan menyenangkan bagi penonton. Semakin jauh dari karakter orisinalnya, semakin lucu dan menarik. Itulah dunia sirkus.

Namun kehidupan ini sejatinya bukanlah sirkus, bukan lucu-lucuan, tetapi dalam kehidupan yang sejati, para pelaku harus memainkan karakter orisinal (genuine) masing-masing. Bagaimana jika de-i-sasi itu terjadi dalam kehidupan nyata? Penegak hukum dengan keadilan sebagai karakter dan perilaku dasarnya ternyata harus diadili.

Tokoh masyarakat yang berfungsi sebagai pencerah ternyata justru menyesatkan dan harus dicerahkan. Wakil rakyat yang mestinya menyerap aspirasi rakyat dan memperjuangkannya malah melakukan korupsi uang rakyat secara kolektif. Pendidik harus dididik. Demikian seterusnya. Pembicaraan mereka di ranah publik bisa saja mengagumkan, tetapi manfaat nyata bagi perubahan masyarakat sulit diharapkan. Karena kehilangan karakternya.

Mereka hanya jadi tontonan dan tak pernah jadi tuntunan. Itulah gambaran dari peribahasa Inggris, when wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, everything is lost. Bangsa ini membutuhkan bukan saja orang-orang jenius dalam perspektif pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan orang yang santun dalam bertutur kata, menghargai, menghormati sesama, dan memanusiakan manusia (humanizing the human being).

Dalam bahasa Kurikulum 2013, yang kita bangun adalah generasi yang memiliki keutuhan kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skills), dan pengetahuan (knowledge). Keutuhan ketiga kompetensi tersebut mengantarkan anak didik menuju kesempurnaan. Itulah tradisi profetik dan tradisi pendiri bangsa yang menjadi sumber keteladanan bagi kita.

Sehubungan dengan itu, menarik sekali apa yang disampaikan oleh salah satu pendiri dan guru bangsa yang juga pendiri NU, KH Hasyim Asyari, dalam karya klasiknya, Adabul Alim wal Mutaallim: semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan, tidak akan dihitung kecuali disertai perilaku serta budi pekerti yang terpuji.

Menghiasi amal di dunia dengan adab (karakter baik) menjadi tanda bahwa amal itu akan diterima kelak di akhirat. Kini pertanyaannya: bagaimana caranya, dari mana harus memulai, dan kapan saat yang tepat untuk mendidik karakter baik ini? Insya Allah akan diulas pada tulisan berikutnya.

Sabtu, 12 September 2015

Pendidikan Hati

Pendidikan Hati

Doni Koesoema A  ;  Pemerhati Pendidikan;
Pengajar di Universitas Multimedia Nusantara
                                                     KOMPAS, 11 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pembentukan karakter dan budi pekerti menjadi prioritas kebijakan pendidikan yang ingin dikembangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Namun, kebijakan ini hanya efektif apabila pengembangan budi pekerti—meminjam istilah Blaise Pascal—menyentuh rasionalitas hati.

Ujaran Pascal yang terkenal, ”Hati memiliki akalnya sendiri, di mana akal tidak mengenalnya”, masih relevan.

Hati memang memiliki akal yang mengatasi rasionalitas logika manusia yang mendasarkan diri pada hukum-hukum formal. Hidup manusia terlalu dangkal apabila hanya dinilai semata-mata dari dimensi formalnya. Pendidikan karakter yang abai terhadap dimensi rasionalitas hati bisa jatuh sekadar pada formalisme. Jika ini terjadi, pendidikan karakter tidak akan berhasil sebab setiap indoktrinasi bukan saja melemahkan akal, melainkan sekaligus mematikan nurani.

Fondasi kemanusiaan

Hati dan nurani adalah dua fondasi dasar kemanusiaan yang mampu melahirkan pemimpin besar. Pemimpin besar melihat dengan hati dan bertindak dengan nurani, baru kemudian dengan akal dan keterampilannya mendesain tatanan dunia baru yang lebih baik. Apabila pendidikan kita mau melahirkan para pemimpin bangsa yang besar, pendidikan hati dan nurani merupakan prioritas yang perlu diambil agar pendidikan mampu melahirkan para pembaru sejarah.

Telah lama, konon, katanya, pendidikan kita sangat timpang dan fokus pada pendidikan akal. Ironisnya, kajian-kajian internasional menunjukkan anak-anak Indonesia justru lemah dalam penggunaan akal. Anak-anak Indonesia ternyata kuat hanya dalam hal menghafal. Jika diminta menjawab pertanyaan dari bahan bacaan, anak Indonesia akan terlihat sangat pintar. Namun, begitu diminta menerapkan isi bacaan dalam persoalan nyata di kehidupan, anak-anak Indonesia mulai terlihat agak lambat. Kualitas penggunaan akal anak-anak Indonesia termasuk dalam pola berpikir tingkat rendah.

Pola berpikir tingkat rendah, seperti menghafal, memang harus dilalui siapa pun yang mau belajar. Bahkan, kekuatan menghafal ini, apabila diterapkan secara baik, bisa jadi sumber kekuatan pribadi yang luar biasa. Ia bisa menjadikan seorang jadi ahli bahasa. Kemampuan berbahasa sering kali terbantu apabila seseorang punya kekuatan menghafal yang luar biasa.

Ketika kemampuan berbahasa ini meningkat, otomatis konstruksi pemikiran logis dalam diri anak juga akan terbentuk. Jadi, kelirulah kita mengatakan bahwa pendidikan kita yang masih pada level menghafal ini adalah buruk.

Menghafal adalah salah satu tahapan dalam proses pendidikan. Namun, masih ada banyak tahapan lain, tantangan lain, yaitu cara berpikir tingkat tinggi yang perlu dikembangkan oleh siswa agar ia memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, sehingga mampu membangun sebuah sintesis dalam mengonstruksi realitas.

Cara berpikir tingkat tinggi yang sering digembar-gemborkan sebagai proses pendidikan yang unggul pun sebenarnya hanya salah satu dimensi proses pendidikan. Pascal jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahwa hati memiliki akalnya sendiri yang tak dikenal oleh akal manusia. Ungkapan Pascal zaman itu merupakan tanggapan dari pola pendidikan sarat beban akal yang berpuncak pada ungkapan Descartes: Cogito ergo sum (Aku berpikir maka aku ada). Descartes contoh paling gamblang di mana eksistensi manusia hanya diredusir pada otaknya semata. Akibatnya, kehancuran demi kehancuran yang kemudian muncul. Puncak kehancuran dari rasionalitas manusia tampil nyata dalam peristiwa Perang Dunia II yang meluluhlantakkan kemanusiaan.

Perang Dunia II membawa manusia bertanya tentang arti kemajuan dan apa fungsi akal mereka. Sebab, pasti ada yang kurang apabila akal ternyata justru menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Tersingkirnya nilai-nilai kemanusiaan akibat pendidikan yang berat ke akal mengajak kita kembali melihat hati sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.

Keterbatasan akal

Bagi kita adalah sangat menarik mencermati bagaimana publik dahulu mengidolakan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai sosok pemimpin yang genial, memiliki keunikan dan kekhasan yang memberikan harapan. Mereka adalah sosok pemimpin yang mau memimpin dengan hati. Lahirnya dua sosok pemimpin ini membuat harapan kita tumbuh, bahwa akhirnya kita memiliki sosok pemimpin yang tegas dan berani, yang kata-katanya keras, dan kebijakannya tegas dalam membela hak-hak rakyat.

Mengapa harapan ini memudar belakangan ini? Karisma Joko Widodo, sosok harapan rakyat, ternyata harus berhadapan dengan kultur politik yang membelenggu, yang membuatnya tidak lagi bebas mengekspresikan mata hatinya kepada rakyat. Bahkan, Basuki Tjahaja Purnama pun, meskipun tetap tegas dan keras, sekarang lebih suka berlindung di balik alasan legal formal, terutama dalam kasus penggusuran warga Kampung Pulo, ketimbang memandang wajah-wajah warga kotanya dengan mata hati dan nurani.

Harus segera ada proses pendidikan yang melengkapi kekurangan ini. Penumbuhan budi pekerti yang menyentuh hati dan merawat nurani perlu didukung. Sebab, persis inilah saat ini yang defisit dalam pendidikan kita. Anak-anak kita perlu belajar tentang persoalan sosial di ruang-ruang yang steril dari bau keringat dan peluh orang-orang yang bergulat dan berjuang demi mempertahankan sepetak tanah dan mendapatkan sesuap nasi.

Pendidikan hati dan nurani perlu jadi salah satu alternatif eksposur, selain model formal yang sudah diinisiasi, seperti kewajiban upacara bendera dan menyanyikan ”Indonesia Raya”. Anak-anak Indonesia yang sedang belajar tidak akan mengenal siapa sesama mereka, sesama warga bangsa yang memiliki pengalaman berbeda jika mereka selama hidupnya tak pernah bertemu-berjumpa dengan sisi-sisi kemanusiaan yang lain, yang wajah-wajahnya hilang dalam banjir imaji dan citra media.

Pendidikan rasionalitas hati hanya bisa tumbuh sejak dini apabila anak-anak memiliki pengalaman berjumpa dengan wajah-wajah manusia lain yang terpinggirkan dan termarjinalkan yang hidup di pinggiran kali ataupun di tumpukan sampah.

Benar kata Pascal, hati memang memiliki akalnya sendiri yang tidak dikenal oleh akal manusia. Hanya melalui pengalaman perjumpaan mendalam terhadap kemanusiaan seperti ini, pendidikan kita mampu melahirkan pemimpin besar yang bisa memimpin bukan hanya dengan kekuatan akal, dan keberanian untuk bertindak, melainkan juga dengan hati. Karena wajah mereka yang tertindas, terpinggirkan, dan diperlakukan tidak adil adalah wajah mereka juga, wajah kemanusiaan Indonesia yang sedang meneriakkan keadilan.

Minggu, 14 September 2014

Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

Erlangga Masdiana  ;   Kriminolog UI
REPUBLIKA, 12 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

Banyak anak didik kita yang terjebak berbagai tindakan menyimpang. Ada yang berprofesi sebagai "ayam sayur" (pekerja seks komersial), ada yang masuk dalam dunia hitam pemakai dan pengedar narkoba, ada yang terlibat tawuran pelajar, dan tindakan menyimpang lainnya. Ada apa dengan model pendidikan kita?

Memang, pendidikan karakter tidak mudah diajarkan di sekolah. Agama yang dituntut menjadi motor penggerak pendidikan karakter di sekolah acap kali tidak connected (nyambung) dengan berbagai aktivitas pendidikan di sekolah. Agama bahkan sering terkooptasi dalam model pendidikan "kuantitatif" (semua serba diberikan skor yang bersifat kognitif). Padahal, agama semestinya menggunakan penilaian kualitatif dengan mengukur aspek utamanya adalah afeksi dan psikomotor bukan pada aspek kognitif.

Dalam Kurikulum 2013, pendidikan karakter menjadi fokus utama. Karakter yang dikembangkan adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Pada dasarnya anak didik memiliki nilai-nilai itu semua. Namun, karakter yang baik akan bisa muncul kalau mereka melihat contoh dari guru, orang tua, dan lingkungan (masyarakat)-nya. Emile Drkheim menyebutkan, karakter yang ada dalam individu-individu adalah social fait (fakta sosial) di mana orang dipaksa melakukan peran tertentu (externality) dan mengatribusikan dirinya pada hal-hal yang sudah terlembaga (general) dalam masyarakat. Jika masyarakatnya memiliki kecenderungan nilai-nilai positif, akan terbentuk karakter individu yang baik.

Anak-anak didik kita banyak kehilangan figur teladan. Doktrin di sekolah dengan tujuan mengembangkan "karakter bangsa" justru banyak terhambat oleh berbagai persoalan implementasinya.

Pendidikan kapitalistis

Nilai-nilai kapitalistis dari sistem pendidikan kita mewarnai pola pikir sebagian masyarakat. Mereka tidak mempersoalkan biaya pendidikan sepanjang lembaga-lembaga pendidikan berbau (promosi) internasional. Masyarakat tidak memedulikan substansi makna internasional dengan hasil pendidikan yang membangun karakter bangsa yang berkepribadian Pancasila.

Kasus tindakan kekerasan terhadap anak di Jakarta International School dapat menjadi model pendidikan yang kapitalistis. Para orang tua seakan bangga jika anaknya dapat masuk ke sekolah berlabel "internasional".

Substansi pemaknaan "international" cenderung diartikan "bergaya" internasional dibandingkan dengan bermakna nilai-nilai "kompetensi" internasional. Bergaya internasional lebih mengarah kepada bagaimana mengambil "lifestyle" atau "budaya Barat" (modernism) seperti bagaimana mengajarkan table manner (cara makan), menyukai makanan-makanan, cara berbicara (komunikasi), model kemandirian tanpa peduli lingkungan, dan rasa ingin tahu yang tidak bernilai.

Dengan demikian, substansi pendidikan karakter bangsa dilupakan demi meraih "bergaya internasional". Biaya besar yang dikeluarkan hanya untuk show of force pengakuan status sosial ekonomi (SSE) tinggi. Pendidikan yang telah dibayar mahal tidak memberikan jaminan untuk bisa meraih karakter bangsa. Boleh jadi, produksi pendidikan kapitalistis melahirkan karakter arogan, tidak mau melihat ke dalam (inward looking) diri bangsa, berorientasi semua serbainternasional yang belum tentu positif.

Pendidikan kapitalistis bahkan menghadirkan pengelompokan lembaga pendidikan favorit, unggulan, dan biasa. Stigmatisasi pada lembaga pendidikan semacam ini hanya melahirkan diskreditasi terhadap anak didik oleh para pendidik dan fasilitas pendidikan yang disediakan negara. Padahal, kontribusi sekolah dan guru terhadap kualitas pendidikannya lebih banyak ditunjang oleh lembaga bimbingan belajar (bimbel) dibandingkan kontribusi guru dalam meraih prestasi masuk ke perguruan tinggi negeri ternama.

Kewajiban negara adalah menyediakan perangkat pendidikan yang mencukupi untuk dapat melahirkan generasi muda berkarakter. Perangkat utama yang harus disediakan negara adalah kualitas atau kompetensi guru agar merata pada semua lembaga pendidikan di Indonesia. Kualitas guru di Papua harus sama dengan guru di Jakarta dan Aceh.

Pendidikan yang kapitalistis ini jika dibiarkan terus hadir akan membahayakan cita-cita pendidikan menuju bangsa berkarakter. Para pemimpin negara di masa datang akan didominasi oleh anak didik produk pendidikan kapitalistis. Mereka beranggapan bahwa biaya mahal yang telah dikeluarkan harus break-even point (BEP) saat masuk ke dunia kerja.

Pendidikan kapitalistis bisa menjadi benih penyimpangan saat masuk ke dunia kerja. Kalau masuk ke dunia birokrasi akan menjadikan birokrasi sebagai ladang bisnis (korupsi) agar BEP tercapai. Jika masuk ke dunia swasta pun akan memainkan peran sebagai pengusaha yang tidak peduli moralitas bisnis, berkolaborasi negatif dengan birokrat, tidak punya kepedulian sosial. Bahkan, jika mereka gagal di dunia swasta akan masuk dalam perangkap dunia ilegal, fatalistic (bunuh diri, malapraktik), antisosial, agresif-negatif, dan ekstremis.

Terjebak tradisi

Pengembangan karakter anak-anak didik juga acap kali terjebak pada pekerjaan rumah yang dihadapi sekolah. Seperti sekolah-sekolah yang tidak diunggulkan dibiarkan pemerintah tanpa ada upaya meningkatkan kualitasnya. Tidak ada "dewa penolong" terhadap sekolah yang berprestasi biasa-biasa untuk dapat mengangkat grade-nya.

Guru dan kepala sekolah dibiarkan dengan pola pikir dan gaya mendidiknya yang "tradisional", tidak berusaha melakukan modifikasi terhadap berbagai perubahan lingkungan yang terjadi. Bahkan, anak-anak didik sering merasakan "jenuh" dengan materi dan gaya guru yang mengajar. Sedangkan fasilitas publik di sekolah juga serbaterbatas, kegiatan ekstra kurikuler juga tidak bisa datang setiap saat ketika jenuh.

Kejenuhan anak didik tidak diantisipasi oleh guru sekolah dan berketerusan --karena pola pikir dan pengetahuan terbatas, tidak punya visi pendidikan revolusioner, gaya komunikasi apa adanya-- sehingga anak-anak bebas melakukan berbagai gaya menyelesaikan kejenuhan. Ada yang bergerombol di jalan membuat simpul-simpul massa sehingga terjebak dalam konflik (tawuran), ada yang main ke mal, ada yang memainkan gadget.

Penyimpangan anak-anak didik seakan-akan dibiarkan menjadi kanal atas kejenuhan dan gaya guru dan sekolah yang tradisional (tidak melakukan modifikasi). Guru tidak berusaha melebur dengan murid sehingga berbagai kemungkinan potensi buruk dapat diantisipasi. Guru juga dapat mengembangkan anak-anak didik jika ada potensi prestatif lain.

Kurikulum 2013 dianggap dapat menjadi solusi berbagai keluhan anak didik terhadap situasi pendidikan yang terjadi sekarang. Masalahnya, apakah implementasinya bisa seperti yang diharapkan jika kualitas dan kompetensi kepemimpinan sekolah, guru, dan infrastruktur pendidikan tidak menunjang.

Senin, 02 Juni 2014

Pendidikan Karakter sebagai Landasan

Pendidikan Karakter sebagai Landasan

Anita Lie  ;   Profesor dan Direktur Program Pascasarjana
Unika Widya Mandala, Surabaya
KOMPAS,  02 Juni 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
KARAKTER adalah apa yang kita lakukan ketika tidak ada orang lain yang melihat. Dalam pemaparan visi misinya dan revolusi mental baru-baru ini, capres Joko Widodo menyampaikan alokasi yang besar untuk pendidikan karakter (dalam kurikulum SD, 80 persen pendidikan karakter, etika, dan budi pekerti serta 20 persen ilmu pengetahuan; tingkat SMP, 60-40 persen untuk pendidikan karakter; tingkat SMA 20 persen).

Karakter akan menentukan arah peradaban bangsa yang sedang kita bangun.  Ketika suatu peradaban sudah kehilangan jiwanya, harapan bangkit dari keterpurukan dan pembaruan akan ditentukan oleh karakter yang masih tersisa pada sebagian anggota masyarakat.  Harapan disandarkan pada pendidikan—bukan karena ada orang-orang terdidik yang berperan sebagai guru dan pamong di sekolah—melainkan karena ada tunas-tunas muda yang masih berpotensi menumbuhkan nilai-nilai etis.

Sebagian studi mengenai pendidikan karakter menelaah proses pertumbuhan nilai-nilai moral dan etis dalam individu dan norma kelompok atau budaya.  Karakter suatu masyarakat memengaruhi—tetapi tak menentukan—karakter warganya.  Dalam eksperimen dompet hilang (Thomas Lickona, 2004), tingkat kejujuran paling tinggi ada di Norwegia dan Denmark (100 persen pengembalian) serta paling rendah di Meksiko (21 persen).

Dikotomi semu

 Nilai-nilai kejujuran yang sudah menjadi norma dalam suatu masyarakat akan meneguhkan pertumbuhan nilai-nilai itu dalam setiap warga.  Namun sebaliknya, ketika nilai-nilai kejujuran sangat lemah dan tidak bisa menjadi norma dalam suatu masyarakat, toh masih ada segelintir warga yang memegang teguh nilai-nilai kejujuran.  Ini berarti harapan selalu ada untuk meningkatkan norma dan karakter para anggota masyarakat.

Saya berharap alokasi persentase untuk pendidikan karakter dalam kurikulum, seperti disampaikan Jokowi, tidak diterjemahkan menjadi pembagian jam pelajaran, kisi-kisi, teritori guru bidang pelajaran, serta penyekatan kurikulum dalam implementasi di sekolah, tetapi sebagai ajakan menelaah kembali apa yang telah hilang di sekolah-sekolah kita.  Dengan tekanan yang dihadapi dalam kehidupan profesional seorang guru, mulai dari target angka kelulusan ujian, standar mutu, kompetisi untuk menunjukkan prestasi dan keunggulan siswa, sampai kebutuhan guru atas kesejahteraan yang tak tercukupi, pendidikan karakter telah tersisihkan.

Padahal, pengembangan karakter adalah landasan bagi prestasi akademik yang berkelanjutan.  Menjadi seseorang yang berkarakter berarti menjadi yang terbaik yang bisa dicapai.  Tumbuh dalam karakter berarti menumbuhkan, baik potensi intelektual maupun etis. Pertumbuhan karakter meliputi kapasitas untuk mengasihi dan kapasitas untuk berkarya.  Nilai-nilai seperti empati, kasih sayang, pengorbanan, loyalitas, dan pengampunan menjadi bagian dari kapasitas untuk mengasihi.

Nilai-nilai seperti usaha keras, inisiatif, keuletan, dan disiplin adalah bagian dari kapasitas untuk berkarya dan menjadi kompeten dalam kehidupan.  Jadi, etos kerja dan kompetensi tidak bisa dipisahkan dari karakter.  Seberapa baik seseorang melakukan pekerjaannya adalah salah satu cara dia mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan memengaruhi kualitas kehidupan orang lain.

Kerangka, prinsip, strategi

Kepemimpinan nasional yang berkomitmen pada pendidikan karakter perlu untuk membangun kerangka dan merumuskan prinsip pendidikan karakter.  Dalam konteks pendidikan nasional kini (ketika peran pemerintah masih sangat kuat dalam penyelenggaraan pendidikan), kepemimpinan nasional diharapkan bisa menjaga koherensi   visi-misi dengan kebijakan pendidikan yang menimbulkan implikasi praksis di tataran sekolah.

Pendidikan karakter yang efektif harus melibatkan kemitraan keluarga dan sekolah dalam prosesnya.  Studi longitudinal atas 12.000 remaja kelas VII-XII di 80 sekolah di AS pada 1997 menemukan dua faktor pelindung dari perilaku berisiko (kenakalan, kekerasan, seks bebas, dan alkoholisme serta narkoba), yakni kedekatan dengan orangtua dan dengan orang-orang di sekolah.  Selain itu, pendidikan karakter yang sukses terjadi di semua area kurikulum (formal dan tersembunyi serta inti dan ekstra).  Artinya, koherensi tujuan pendidikan karakter dan praksis pendidikan menuntut kebijakan kurikulum dan penilaian belajar yang holistik.  Baik-buruk karakter peserta didik tak bisa diukur dari tipe tes kertas dan pensil.

Praksis ujian nasional harus dihentikan karena nilai-nilai ekonomis (target angka kelulusan, sistem insentif dan hukuman bagi para guru, serta pengukuran prestasi sekolah dan daerah berdasarkan kelulusan ujian nasional) yang melandasi penyelenggaraan UN telah menggerus nilai-nilai etis dan moral.

Selama bertahun-tahun berbagai manipulasi dalam penyelenggaraan ujian nasional yang tak lagi bisa diatasi birokrasi pendidikan/aparat kepolisian telah merusak karakter anak, karakter sekolah, dan karakter masyarakat secara masif.  Keterlibatan puluhan guru dalam pencurian soal-soal UN di Jawa Timur merupakan fenomena pucuk gunung es kerusakan karakter bangsa yang sedang terjadi.

Kerangka dan prinsip pendidikan nasional bisa dirumuskan pada tingkat nasional.  Namun, pada tataran strategi dan implementasi, inisiatif daerah atau bahkan satuan pendidikan akan membuat gerakan pendidikan karakter lebih hidup dan relevan dengan konteks setiap satuan pendidikan.  Nilai-nilai pendidikan karakter bisa digali dan dikaitkan dengan berbagai sumber: ajaran agama, Pancasila, nilai-nilai budaya lokal, atau karakter masyarakat setempat.

Nilai-nilai dasar karakter bersifat universal, tetapi kontekstualisasi yang sesuai kekhasan setiap satuan pendidikan akan membuat pendidikan karakter lebih bermakna dan dinamis.  Bahkan, keberhasilan pada tingkat lokal akan bisa jadi inspirasi di seluruh Nusantara.  Model pendidikan Taman Siswa yang dimotori Ki Hajar Dewantara dengan model among dan pamong menjadi inspirasi secara nasional dan perlu diberi ruang kembali pada tingkat akar rumput. Beberapa bangsa telah berhasil melakukan transformasi sosial dan bangkit dari keterpurukan.  Ketika bangsa Indonesia bersiap untuk (kembali) menjadi bangsa besar, karakter bangsa menjadi modal etis dan intelektual.  Pendidikan merupakan ranah yang diperhatikan karena ada anak-anak muda dengan potensi karakter yang menentukan keberhasilan atau kegagalan Indonesia jadi bangsa besar.

Selasa, 04 Februari 2014

Sekali Lagi, Pendidikan Karakter

Sekali Lagi, Pendidikan Karakter

Dody Wibowo  ;   Pengajar Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik;
Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
MEDIA INDONESIA,  03 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                      
“BU, semua sampah di depan kelas-kelas sudah benar terpisah sesuai tempatnya, sampah basah dan sampah kering, tetapi sampah di depan ruang guru kok masih salah tempatnya ya, Bu?“ begitu pertanyaan seorang murid kepada gurunya seusai melakukan tugas mengawasi penempatan sampah di lingkungan sekolahnya. Sang guru hanya tersenyum dan mencari jawaban untuk `melindungi' kesalahan rekan-rekan gurunya.

Di suatu pelatihan pengolahan sampah yang pesertanya ialah guru dan murid, ketika sampai di tahap praktik, hanya para murid yang aktif melakukan pembuatan kompos. Guru-gurunya hanya menonton sambil sesekali memberi petunjuk kepada murid, padahal ketika ditanya apakah para guru itu pernah melakukan kegiatan serupa, ternyata mereka belum pernah melakukannya. Mereka menganggap bahwa hal-hal yang berkaitan dengan praktik ialah kegiatan untuk murid saja.

Contoh-contoh cerita tadi akhirnya bisa menjawab pertanyaan saya mengenai mengapa sampai saat ini penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah masih sering mengalami hambatan. Ternyata guru-gurunya sendiri tidak memberikan contoh seperti apa praktik pelaksanaan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Guru berhenti pada sebatas menyampaikan melalui pesan dan nasihat.

Menjadi contoh

Guru dalam bahasa Jawa diartikan sebagai digugu lan ditiru (diperhatikan dan dicontoh). Dalam pendidikan untuk membentuk karakter murid, guru tidak hanya punya kewajiban untuk mampu menyampaikan materi atau pesan mengenai perilaku kepada murid. Guru juga wajib menghidupi pesan yang dia sampaikan dalam perilaku sehari-hari. Bagaimana guru berinteraksi dengan murid di kelas dan luar kelas, bagaimana berinteraksi dengan sesama kolega guru maupun unsur manajemen sekolah yang lain, bahkan bagaimana perilaku guru di lingkungan luar sekolah. 

Seorang guru menjadi model di sekolah dan juga dalam kehidupan di luar sekolah.
Namun, kemudian guru sekarang ini sepertinya tidak terlalu sempat memikirkan hal-hal seperti itu, abai dengan kenyataan bahwa dia ini adalah model bagi muridmuridnya, dan lebih jauh lagi para guru belum memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi diri apakah dirinya telah menjadi contoh yang baik untuk muridnya. Guru masih sibuk mengejar target capaian akademik yang dituntut untuk dipenuhi, guru masih mengedepankan prestasi-prestasi akademik sebagai komponen utama yang harus ditonjolkan sehingga bagaimana muridnya berperilaku tidak mendapat perhatian yang serius.

Jika ada murid yang punya permasalahan dengan perilakunya, guru tidak mencoba berefleksi untuk mengetahui apa sumbangan yang telah dia berikan sehingga si murid mempunyai perilaku yang demikian. Yang sering terjadi, kesalahan ditimpakan kepada murid dan si murid diberi cap `produk gagal'. Sang murid tidak memiliki kemampuan untuk membentuk perilaku yang baik tanpa pernah dicari tahu penyebab sebenarnya yang menjadikan murid tersebut `gagal'.

Guru juga masih banyak yang memahami bahwa pendidikan karakter merupakan sesuatu yang terpisah dan berbeda dari kegiatan belajar-mengajar yang mereka lakukan sehari-hari. Masih banyak guru yang menganggap pembentukan karakter adalah tanggung jawab mata pelajaran-mata pelajaran tertentu seperti agama, pendidikan kewarganegaraan, dan ilmu pengetahuan sosial. Guru masih banyak yang bingung ketika diminta mencoba mengintegrasikan nilai toleransi dalam mata pelajaran matematika, atau nilai kerja sama dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Ketika pemahaman seperti ini masih ada, dapat dipastikan usaha membentuk karakter murid yang baik tidak akan berjalan dengan baik.

Di dalam kelas, guru hanya fokus pada materi pelajaran. Ketika ada murid yang memiliki perilaku tidak baik, hukuman-yang biasanya berupa hukuman fisik--ialah hal termudah yang bisa diambil untuk merespons perilaku sang murid. Seusai kelas, sang guru hanya bisa mengeluh mengenai perilaku muridnya, akan tetapi tidak bisa melihat apakah kegiatan belajar-mengajar yang dia lakukan di kelas sudah mampu mendorong sang murid untuk berperilaku seperti yang diharapkan.

Kompetensi

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru telah dinyatakan bahwa seorang guru wajib memiliki empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Untuk mengawal jalannya pendidikan karakter, kita harus memperhatikan bagaimana kompetensi kepribadian sosial yang dimiliki guru.

Kompetensi kepribadian berkaitan dengan bagaimana seorang guru mempunyai nilai-nilai karakter yang baik yang tecermin dalam perilaku sehari-hari, dan secara sadar selalu menjaganya karena tahu bahwa seorang guru ialah seorang teladan.

Kompetensi sosial berkaitan dengan bagaimana seorang guru mampu membangun hubungan yang baik dengan pihak lain di sekitarnya. Kompetensi kepribadian dan sosial saling terkait karena melalui pengamalan nilai karakter yang baik dalam dirilah seorang guru mampu membangun dan menjaga hubungan sosial yang baik pula.

Untuk meningkatkan kompetensi kepribadian dan sosial guru, setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, dengan melakukan refleksi diri. Guru yang ingin muridnya cinta lingkungan harus mampu menunjukkan bahwa dia juga cinta lingkungan, bahwa dia selalu membuang sampah di tempat yang semestinya, kapan pun dan di mana pun. Guru yang ingin menanamkan nilai tanggung jawab kepada murid harus menunjukkan bahwa dia melaksanakan tanggung jawab sebagai pembina kelompok kompos dengan melakukan pendampingan kepada muridmuridnya pada jadwal yang telah ditentukan. Menyadari diri bahwa guru adalah contoh bagi murid, maka guru wajib melakukan refleksi diri untuk melihat apakah dia sudah menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya, apakah dia sudah menghidupi nilai-nilai yang selama ini dia sampaikan dan ingin agar muridnya melaksanakan dalam kehidupan.

Kedua, untuk meningkatkan kompetensi sosial, guru perlu melatih diri untuk awas dalam melihat keadaan sekeliling, baik di lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat sekitar sekolah, maupun lingkungan keluarga murid. Guru melakukan observasi dan pemetaan masalah untuk kemudian mengidentifikasi nilai-nilai karakter apa saja yang perlu ditanamkan dan dibiasakan kepada murid sebagai respons terhadap masalahmasalah yang ada.

Interaksi dengan berbagai pihak harus lebih sering dilakukan. Menanyakan kabar murid di awal pertemuan di kelas harus selalu dilakukan. Bukan untuk basa-basi, melainkan untuk mengetahui apakah murid mempunyai masalah atau tidak. Awas dan peduli dengan kejadian-kejadian di seputar sekolah maupun lingkungan luar sekolah dan melihat apa dampaknya bagi murid. Misal, terjadi penghakiman massa kepada pencuri yang terjadi di dekat sekolah. Guru perlu mendiskusikan peristiwa tersebut dengan murid-muridnya dan mengambil pelajaran agar kemudian murid tidak mengambil kesimpulan sendirisendiri yang mungkin malah bertentangan dengan nilai-nilai karakter yang baik.

Guru yang memiliki kompetensi kepribadian dan sosial yang baik akan memberi dampak yang luas. Menurut Jennings dan Greenberg (2009), guru yang memiliki kompetensi kepribadian dan sosial yang baik akan mampu membentuk suasana kelas yang kondusif melalui kemampuannya dalam membangun hubungan dengan murid; mendukung dan mendorong perkembangan murid dalam belajar, merancang pembelajaran yang berdasar pada kekuatan dan kemampuan murid, membangun dan menerapkan pedoman perilaku yang mampu mendorong motivasi intrinsik murid untuk menghidupi nilai-nilai karakter yang baik, melatih murid untuk menghadapi konflik dengan cara nirkekerasan, mendorong kerja sama antarmurid, dan menjadi model dalam melakukan komunikasi yang penuh penghormatan juga bagaimana perilaku prososial dilakukan. Pada akhirnya, dampak dari kompetensi kepribadian dan sosial yang dimiliki guru tidak hanya membangun karakter murid, tetapi juga membangun karakter guru.