Made
In Indonesia
Joko Mokoginta ; CEO PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
|
KORAN
SINDO, 05 Agustus 2014
|
Saya mendirikan sekaligus memimpin perusahaan Tiga Pilar Sejahtera Food (TPS Food)
sejak 22 tahun silam atau tepatnya pada 1992. Saya memiliki hobi di bidang
makanan, apa pun bentuk dan jenisnya, rekreasi, yang membawa saya dan
keluarga menikmati dunia lain, serta membaca. Karena itu, saya sendiri maupun
bersama keluarga, rekan kerja, staf perusahaan, dan tidak
jarang pula dengan kolega telah melakukan kunjungan di banyak negara (selain
Afrika) yang berada dikeempat benua: Asia, Australia, Amerika, dan Eropa.
Saya selalu bergumam sendiri dan geregetan melihat produk-produk food pack branded yang terpampang di
toko, supermarket atau pasar tradisional, sangat sulit atau jarang sekali dan
hampir tidak ada yang made in Indonesia.
Rasanya miris ketika yang saya jumpai produk-produk dari negara
tetangga atau negara berkembang lainnya dengan kemasan bagus, kualitas produk
yang baik, dan harganya tidak lebih murah dibandingkan produk lokal negara
itu. Hal ini sangat bertolak belakang kalau kita melihat di supermarket kita
yang banyak dibanjiri produk-produk negara lain.
Pertanyaan yang sering muncul di benak saya setelah lima tahun
bekerja atau pada tahun 1997, apakah kita bangsa Indonesia tidak bisa
memproduksi produk-produk food yang bagus kualitasnya, khususnya rasanya,
menarik desain kemasannya, dan menawarkan harga yang terjangkau agar konsumen
memperoleh nilai dan kualitas yang tinggi atau maksimal, kemudian produk kita
merambah ke mana-mana di negara di dunia ini, serta menjadi salah satu
pilihan konsumen di mana pun berada di muka bumi.
Saya ingin memaparkan beberapa pemikiran dan ide. Yang saya
soroti dalam tulisan ini adalah kondisi industri makanan kita dan pasar
domestik atau perhatian di industri ini. Lantas pada bagian akhir tulisan,
saya berpendapat sudah saatnya industri makanan kita melakukan transformasi
agar bisa Go to Global Market and Feed
the World.
Terlena dan Jago Kandang
Pasar makanan dan minuman kemasan bermerek mencapai Rp700
triliun dan berkembang setiap tahun sekitar 6%. Industri ini kira-kira setara
industri confectionery Jepang yang
besarnya 15% dari total pasar makanan dan minuman kemasan bermerek negara
itu, yang mencapai Rp5.000 triliun, dengan jumlah penduduk setengah dari
Indonesia.
Jika nanti pada 2030 kita menjadi negara dengan produk domestik
bruto (PDB) nomor 6 di dunia, bisa dibayangkan potensi pasar makanan dan
minuman kita. Apabila kita terlena dan jago kandang terus, jangan heran nanti
industri makanan dan minuman kita didominasi asing yang memiliki pabrik di
Indonesia. Saya melihat pemain di industri ini berada di zona nyaman (comfort zone), baik pemain yang
bermerek atau apalagi yang ”abal-abal”, tidak memiliki standar kualitas, dan
masih banyak yang bermain dengan strategi harga saja agar dibeli konsumen.
Ini menunjukkan kelemahan-kelemahan pemain industri ini, dan
biasanya juga tidak mematuhi peraturan yang ada. Ditambah lagi dengan
lemahnya kontrol pemerintah yang berwenang di bidang makanan dan minuman.
Bila keadaan ini dibiarkan terus-menerus, cepat atau lambat produk-produk
kita akan mati, apalagi yang ”abal-abal”, nonbranded
atau produk lokal lainnya yang saat ini asal laku saja.
Mampu Bersaing
Di depan mata, yaitu Desember 2015, akan diterapkan ASEAN Economic Community. Sebesar 60%
pasar di ASEAN adalah Indonesia. Ini bisa menjadi mimpi buruk bagi industri
makanan dan minuman kita bila tidak bersiap-siap, sejak kemarin- kemarin
seharusnya. Kita masih bertarung sesama produsen tanpa berpikir panjang untuk
mengantisipasi produk global yang masuk pasar Indonesia. Boro-boro menyerbu
pasar negara lain atau ekspor demi merebut dan bersaing di negara lain.
Bagi saya, seharusnya kita sama sekali tidak takut untuk bangkit
dan bersaing dengan produk makanan dari mana pun karena kita mempunyai
keterampilan dan pengetahuan yang selama ini belum dioptimalkan. Ditambah
manajemen yang bagus dan well prepared serta semua rencana dan eksekusi yang well planned, saya sangat yakin kita
bisa mengantisipasi produk global sebelum mereka menyerang kita atau yang
saat ini sudah banyak berada di tengah-tengah pasar kita.
Transformasi dengan Change
Mindset
Saat ini sudah waktunya kita sadar dan melakukan transformasi di
industri makanan dan minuman. Kita sudah saatnya memikirkan produk-produk
yang bernilai atau lebih baik dari sisi kualitas, termasuk kemasan dengan
desain yang menarik. Kita mesti menghentikan cara berpikir dan berbisnis
”yang penting laku” sehingga menghalalkan praktik-praktik ”murahan”. Semua
pemain di industri ini harus berani keluar dari comfort zone dan bersama-sama melakukan promosi produk yang
premium dengan taste yang bisa
diterima oleh masyarakat dunia.
Dengan demikian kita akan menjadi ”macan dunia” baru yang
merambah segenap penjuru dunia dan menjadi tuan rumah di pasar domestik.
Modal atau cara yang sangat mendasar untuk melakukan transformasi yang
bertujuan menjadi negara dengan produk-produk food packed branded yang diperhitungkan di kancah pasar global
adalah perubahan mindset bagi
seluruh stakeholders di industri
makanan dan minuman Indonesia. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar