Tampilkan postingan dengan label Televisi - Sensor Tayangan TV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Televisi - Sensor Tayangan TV. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Takhayul Tubuh

Takhayul Tubuh

Bre Redana ;   Wartawan Senior Kompas
                                                       KOMPAS, 06 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sensor tubuh yang marak sekarang mencerminkan pemikiran penuh takhayul termasuk takhayul tubuh. Tubuh, gejala paling jujur, paling empiris dari diri, disikapi dengan sejumlah pengingkaran. Implikasinya sudah dengan nyata terlihat, ceto welo-welo orang Jawa bilang, kita mulai teralienasi dari kebudayaan kita sendiri. Di bandara, beberapa waktu lalu, saya ketemu teman fotografer yang katanya baru dari Jawa Tengah untuk berburu dan coba mengabadikan peristiwa-peristiwa pengantin berpakaian tradisional Jawa.

”Sulit sekali menemukan pengantin wanita yang rambutnya dipaes,” katanya. Paes adalah riasan di atas dahi pengantin wanita, simbol kecantikan tradisional wanita Jawa. ”Bagian itu sekarang ditutup. Rambut tak lagi kelihatan. Kalau tidak diabadikan sekarang, nanti kita tidak akan mengenal lagi paes,” lanjutnya.

Begitu pula busana yang disebut basahan atau dodot berupa kemben panjang dan lebar dari batik. Seluruh tata rias dan busana berikut pernak-perniknya menyimbolkan berbagai hal, termasuk basahan yang konon simbol rasa berserah kepada Yang Maha Kuasa.

Ketika kemudian semua kena sensor, ketika tubuh diingkari, segala upaya mencari kesejatian menjadi tidak relevan. Dalam jejak kebudayaan yang terkubur karena semua diburamkan, termasuk kartun binatang di televisi (segawon, komentar teman di Yogya sopan), ikut terkubur sejumlah memori.

Padahal, di tengah genangan realitas virtual di mana yang nyata dan tak nyata tidak lagi mudah dibedakan, empirisme tubuh inilah yang sangat tidak mudah dimanipulasi dilusi dunia digital. Tubuh hadir dan merasakan. Pengalaman tubuh berbeda dengan pengalaman sekadar mendengar, yang dari situ otak mengembara ke mana-mana, berempati secara keliru, memuja secara membabi-buta, atau membenci tanpa sebab-musabab jelas. Persis relasi dalam media sosial sekarang.

Sekitar 20 tahun lalu, hal-hal semacam hiperrealitas, simulakra, realitas gadungan, dianggap kenes-kenesan wacana post-modernisme. Kini, disadari atau tidak, kita hidup di tengah kenyataan gadungan, atau menurut istilah Baudrillard, kenyataan yang tak lagi memiliki asal-usul. Dalam dunia media, perhatian terhadap proses, refleksi, dan kontemplasi ditengarai menghambat laju percepatan bisnis. Tidak sesuai dengan zaman yang bergegas. Siapa yang mempertahankan akurasi tradisi literer media cetak dianggap kuno, ndeso, tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.

Otak manusia sekarang banyak yang tidak seimbang karena terlalu banyak memproses informasi-informasi tak berkejuntrungan, yang berasal dari katanya katanya. Mengira semua yang digerojokkan media online dan media sosial benar belaka.

Ironi teknologi, kemajuan terutama teknologi informasi yang diandaikan mampu memandirikan dan membuat individu kian otonom, malah membuat masyarakat kian konservatif. Tak boleh seseorang berbeda sedikit saja dari suara mayoritas. Anda bisa lihat sendiri sekarang: adakah kritik di bidang seni sastra, sinema, drama, dan lain-lain? Semua mati. Yang ada cuma proses masturbasi. Rezim moral mendesak kriteria lain, seperti sejarah, filsafat, estetika, kebudayaan, paham kebangsaan, dan lain sebagainya.

Jadi ingat puluhan tahun lalu di kota kecil kami terdapat bioskop Rex yang memasang poster dan foto-foto dari film yang sedang atau hendak main. Banyak adegan pemeran berpakaian minim bahkan telanjang. Toh rasanya orang-orang seangkatan kami tidak lalu tumbuh menjadi manusia yang rusak-rusak amat.

Moral telah menjadi takhayul baru sekaligus penggada baru untuk menakut-nakuti, menggerebek, men-sweeping, dan menistakan kelompok-kelompok kecil yang berusaha mempertahankan nalar sehat, memori otak, memori tubuh.

Kalau Anda paham dunia kanuragan, bukan hanya otak yang menyimpan memori, melainkan juga tubuh. Upacara pengantin tradisional bisa diabadikan dalam foto, tetapi kalau yang terdistorsi memori otak, memori tubuh?

Ah, kecantikan termasuk seginya yang transendental itu, di mana nanti kami mencarimu... ●

Senin, 29 Februari 2016

Blur

Blur

Arswendo Atmowiloto ;   Budayawan
                                            KORAN JAKARTA, 27 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kadang terasa, suatu kata itu menjelaskan dirinya sendiri, dan menemukan jalannya untuk menjadi popular. Blur contohnya. Kata itu mengandung makna kabur, remang-remang, bluret atau blurred, menjadikan kabur. Kabur pada seluruh atau sebagian. Istilah yang juga digunakan di dunia fotografi. Misalnya gambar menjadi tidak fokus ketika kamera bergerak, panning, atau membidik dekat, zoom. Bisa dilakukan secara sengaja, memblur bagian depan atau belakang suatu obyek, dengan tujuan mempertegas bagian yang lain.

Kini kata blur menjadi lebih popular lagi. Terutama karena kini banyak gambar atau foto yang diblur. Misalnya gambar atau foto yang dinilai terlalu sensual. Bagian yang seksi itulah yang disamarkan. Menjadi tidak jelas itu gambar apa. Dan karena blurnya asal menutupi, menjadi kontras dan karenanya menarik perhatian.

Makin diperbincangkan terus dan diucapkan karena saat ini banyak sekali tayangan di televisi yang diblur. Awalnya hanya terbatas hal yang betulbetul mengganggu—misalnya adegan yang memperlihatkan orang tengah merokok. Atau norma-norma kekerasan. Tapi kemudian ketika dikaitkan dengan masalah sensualitas men jadi berbeda. Karena kini bukan hanya pemilihan ratu kecantikan—yang bahkan pakai kebaya pun kena blur bagian belahan dada,melainkan juga adegan dalam jenis kartun. Tokoh kartun dalam adegan di laut—atau pantai, kena blur karena memakai celana renang misalnya. Sedemikian banyaknya blur ini sehingga saya bertanya-tanya apakah yang dipermasalahkan ini benar-benar terjadi, atau bahan meme, gambar lucu untuk mengolok-olok.

Misalnya saja adegan anak kecil belajar memerah sapi yang diblur. Apakah ini sungguh-sungguh terjadi? Kalau benar sungguh banyak pertanyaan yang bisa dimajukan. Kalau tidak betul-betul terjadi, berarti memasuki wilayah mentertawakan yang bisa menyakitkan. Seperti yang menurut saya benar-benar cara mengolok-olok diri sendiri, bahwa gambar pentil ban mobil diblur. Persis seperti gambar adanya taufan besar, dengan tulisan dan tanda blur. Pentil ban dan puting adalah nama jenis yang kurang lebih sama artinya. Dan karena nama itu dianggap vulgar, atau kasar, makanya perlu diblur.

Tak bisa dielakkan bahwa rajinnya menyensor dengan memblur ini terkait dengan maraknya menghindarkan promosi besar yang dilakukan komunitas LGBT. Komunitas atau kelompok yang terdiri dari kaum lesbi, pecinta sesama jenis kaum perempuan, gay, pencinta sesama jenis kaum lelaki, atau biseks, bisa berhubungan intim dengan sesama atau lawan jenis, atau trangender, mereka yang mengubah jenis kelaminnya, biasanya dari lelaki menjadi perempuan.

Pembahasan dan atau penolakan terhadap LGBT memang sedang meluap, dan itu sebenarnya ada benarnya, namun pendekatan atau cara-cara yang terlihat menyudutkan kelompok tertentu. Misalnya saja untuk menghindarkan pengaruh pada penonton televisi, maka dilaranglah tampilan “lelaki berpenampilan wanita”. Satu istilah ini sudah membuat ruwet rumusan yang pada akhirnya memerlukan banyak sekali penjelasan. Dan sedemikian penjelasan akan makin membuat tidak jelas, dan karenanya tidak operasional. Itulah sebabnya tampilan “lelaki seperti perempuan” bisa dari segi pakaian, cara berjalan, cara berkata, dan sebagainya. Yang menimbulkan pertanyaan lain : bagaimana nasib seni tradisional seperti ludruk, atau bahkan wayang orang misalnya? Apakah termasuk yang kena blur?

Dengan kata lain kita masuk ke dalam putaran pendekatan yang harus bisa dilakukan dengan lebih jernih dan lebih fasih. Dan ini berarti juga gaduh yang riuh yang sebenarnya mengingatkan agar tak bergeser terlalu jauh, menjadi konfrontatif.

Di tengah berbagai kemungkinan itu, masih juga kita dengar lelucon. Bahwa sebenarnya yang perlu kena blur bukan gambar atau foto yang merangsang, yang sadis saja, melainkan juga gambar mantan. Karena mantan juga termasuk menganggu.

Kita tertawa, tapi itu tak menyembunyikan perih. Juga luka dalam kok makin munikasi yang perlu ditata. Agar tidak makin blur di antara kita.