Tampilkan postingan dengan label Safrita Ayu Hermawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safrita Ayu Hermawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

Ramadan Bisnis Raya

Ramadan Bisnis Raya
Safrita Ayu Hermawan ;   Praktisi Komunikasi dan Marketing
KORAN SINDO, 16 Juli 2013


Antrean panjang mengular pada jejeran kasa di salah satu supermarket di kawasan selatan Jakarta, menjelang Ramadan ini. Fenomena itu juga berlanjut memasuki Ramadan. 

Jelas sekali para ibu tengah bersibuk diri membeli keperluan menyambut puasa Ramadan. Mulai sayur segar sampai sayur kalengan, daging segar sampai daging kalengan, dan berliter-liter minyak goreng, sirup serta lainnya, menggunung di atas troli masing-masing. Bukan hanya berupa antrean panjang di supermarket, tren transaksi menyambut Ramadan ini juga menyebar ke media sosial. 

Paling mudah ditemui adalah texting nyelonong menawarkan kue kering dan aneka baju muslim untuk Lebaran pada saat bahkan berpuasa saja belum lagi dimulai. Keriuhan sebelum Ramadan tersebut akan terus berlanjut sepanjang bulan. Sudah wajar tampaknya, bahkan lazim terjadi di Indonesia, terutama di Jakarta dan sekitarnya ibu-ibu rumah tangga menyiapkan makanan yang lebih mewah daripada biasanya. 

Bahkan di bulan puasa, selalu tersedia kolak pisang atau kolak lainnya sebagai hidangan berbuka puasa. Kelaziman itu menjadi kegiatan rutin yang kemudian membuat Ramadan seakan sebagai bulan berbelanja. Gelombang berbelanja dan arus transaksi akan meningkat bulan ini. Iklan menyambut Ramadan sudah menghiasi berbagai media baik print maupun digital, jauh-jauh hari. 

Bahkan, lagulagu rohani Islami sudah berkumandang di berbagai pusat pertokoan. Pemerintah juga tak kalah serunya. Dengan mempertimbangkan meningkatnya konsumsi sepanjang Ramadan, berbagai keran impor kebutuhan pokok dibuka lebar-lebar. Hal ini sekaligus dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok setiap menjelang dan selama Ramadan. 

Terlebih pada saat ini, kenaikan harga menjadi lebih istimewa setelah pemerintah mengumumkan kenaikan BBM jenis premium dari Rp4.500/liter menjadi Rp6.500/ liter beberapa saat menjelang Ramadan. Tercatat dalam upaya menekan kenaikan harga dan menjaga ketersediaan daging, pemerintah sudah membuka impor daging sapi beku hingga 1.000 ton. 

Permintaan daging yang melonjak akan berdampak pada kenaikan harga daging. Dengan impor daging maka diharapkan harganya akan bertahan pada Rp80.000/kg di bulan Ramadan dan Rp75.000/kg setelah Lebaran. Kenyataannya, kurang dari sepekan bulan Ramadan berlangsung, harga daging sudah menembus Rp100.000/kg. 

Keran impor bawang merah dan cabai merah serta cabai rawit juga dibuka lebar-lebar. Hampir serupa dengan kasus daging, harga cabai merah segera naik menjadi Rp45.000/kg dari sebelumnya Rp20.000/kg. Beberapa tahun lalu, harga cabe merah bahkan sempat mencapai Rp80.000/kg di bulan Ramadan. 

Ekonomisasi Ramadan 

Kecenderungan tersebut ditangkap juga oleh Huffington Post yang baru-baru ini menurunkan artikel mengenai gejala peningkatan belanja Ramadan yang terjadi di Amerika Serikat dalam beberapa tahun belakangan ini (edisi 8 Juli 2013). Jumlah kaum muslim di AS yang meningkat dua kali lipat—kini 2,6 juta jiwa— dalam dua dekade terakhir ini menyebabkan konsumsi produk yang berhubungan dengan kebutuhan kaum muslim meningkat, terlebih di bulan Ramadan. 

Peningkatan serupa terjadi juga di banyak negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sejauh ini hal tersebut masih dibantah sebagai upaya ekonomisasi Ramadan oleh sejumlah entrepreneur muslim di Amerika Serikat dan negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya. 

Mereka masih menganggap fakta-fakta yang mengarah pada ekonomisasi dari pelaksanaan Ramadan tersebut sebagai anugerah dalam bulan Ramadan. Terlepas dari debat itu, patut dipikirkan dalam-dalam peran marketing dalam mengemas semua kebutuhan Ramadan dan lebaran yang membuat konsumen tergoda untuk berbelanja. 

Perangkap Marketing 

Perkembangan teknologi informasi yang terbuka lebar dan melintas batas negara, memberikan pengaruhnya dalam berbagai hal. Termasuk di dalamnya dalam pemasaran produk yang berhubungan dengan kebutuhan Ramadan. Produk dikemas apik dengan pendekatan bahasa yang beragam untuk menyasar target yang juga bervariasi. 

Bila tak jeli, konsumen akan terbawa dalam “perangkap marketing”. Huffington Post menyebutkan bahwa dari catatan Pan Arab Research Centre tiga tahun lalu, belanja iklan di Mesir melonjak hingga USD142 juta, atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan bulan lain di luar Ramadan pada tahun itu. Paket-paket ziarah ke Tanah Suci pada Ramadan juga banyak dikomunikasikan dan tercatat amat laris. 

Padahal, paket Ramadan ini mencapai titik cost tertingginya yang melipatgandakan transaksi yang mengiringinya, mulai biaya transportasi, akomodasi, sampai biaya belanja oleholeh. Walaupun belum dijumpai rilis resmi, secara kasatmata dapat dilihat belanja iklan di Tanah Air juga meningkat pesat selama Ramadan. Iklan produk bernuansa Ramadan bermunculan dalam berbagai media iklan yang ada. 

Para pemasang iklan pun merentang lebar jenis bisnisnya, mulai produsen produk konsumsi hingga berbagai yayasan yang mengelola zakat dan sedekah. Semua seakan turun gunung untuk beriklan. Patut diduga bahwa pengalaman beriklan tahun sebelumnya memberikan dampak signifikan terhadap respons pasar atas produk. Akan sangat sayang bila kesempatan untuk merebut pangsa pasar melalui iklan diabaikan begitu saja pada tahun ini dan tahun berikutnya. 

Dari sisi konsumen, peningkatan transaksi sejalan dengan peningkatan kebutuhan pada Ramadan dapat dianggap wajar sekaligus tidak. Wajar karena orang merespons Ramadan sebagai sebuah berkah yang disambut gembira. Menjadi tidak wajar dan tidak disarankan karena agama Islam mengajarkan kesederhanaan, termasuk dalam bulan Ramadan. 

Selanjutnya, gelombang ekonomisasi ini kelihatannya tidak akan terbendung. Akan terus berjalan seiring dengan semakin terbukanya arus teknologi komunikasi dunia. Bentuk bujukan iklan sebagai upaya pemasaran suatu produk akan terus bermunculan. Diperlukan kebijakan konsumen dalam merespons semua itu. 

Dalam konteks Ramadan, konsumen muslim patut mencermatinya dengan seksama sehingga tidak terbawa arus dan menjadi bermegah-megah secara tidak pada tempatnya. Bukankah Islam menghendaki Ramadan sebagai sebuah oase untuk merenungkan makna hidup ini dan bercakap-cakap lebih banyak dengan-Nya. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan! 

Kamis, 27 September 2012

Efektivitas Publikasi dan Pemasaran ala Jokowi-Ahok


Efektivitas Publikasi dan Pemasaran ala Jokowi-Ahok
Safrita Ayu Hermawan ; Penulis dan Praktisi PR, Jakarta
SINDO, 26 September 2012


Semendaratnya di Jakarta dalam rangka memboyong keluarga pindah, setelah “mengambil” mayoritas suara pemilih dalam Pilkada DKI, Jokowi segera menyapa kerumunan sopir taksi di Bandara Soekarno-Hatta. Ia menemui teman-temannya, para sopir taksi tersebut. Bahasa yang digunakan sederhana: menempatkan para supir taksi itu sebagai teman. Para supir taksi pun, sebagai pihak yang ditengarai sering dibuat kesal oleh kondisi lalu lintas Jakarta, tentu akan menjadi teman baik bagi Jokowi yang menjanjikan akan mengurai macet Jakarta apabila ia terpilih sebagai gubernur. Jokowi cenderung dekat dengan berbagai kalangan di level menengah bawah.

Dalam salah satu suasana kampanye yang ditayangkan televisi,tampak Jokowi tak canggung menyapa rakyat jelata. Ia luwes masuk keluar gang sempit dan kumuh. Dia juga makan dengan santai di salah satu warteg yang dijumpainya. Dengan cara demikian Jokowi, yang berpasangan dengan Ahok,secara psikologis sudah menang merebut hati kaum bawah.Selanjutnya para kaum bawah ini yang lalu bertindak sebagai juru kampanye secara tidak langsung,terlepas dari juru kampanye resmi yang dibentuk oleh tim suksesnya.

Pola Klasik 

Merujuk pada definisi klasik, aksi public relations (PR) dianggap sukses bekerja dengan baik apabila atas objek yang dipublikasikan tersebut si objek tidak perlu melakukan aksi sendiri. Sebagai gantinya, pihak lainlah yang akan bekerja dengan memublikasikan kelebihan si objek. Dalam kasus Jokowi, definisi ini terbukti mumpuni. Bila iseng menengok Youtube, semua aksi mendukung Jokowi-Ahok mudah dijumpai. Muncul pula dalam beragam versi.

Dari versi serius ala talkshow hingga gubahan aneka lagu populer berbagai versi, dalam dan luar negeri, yang diadopsi dan diubah liriknya menjadi lagu dukungan bagi Jokowi-Ahok. Gangnam Style, tarian kuda dari Korea yang sedang in juga tampil di Youtube dengan kemeja kotak-kotak. Jahilnya lagi, lagu Warteg Boys, Okelah Kalau Begitu, yang sejak awal diubah liriknya untuk mendukung Foke-Nara, dibuatkan cover versionnya oleh pihak lain untuk mendukung Jokowi-Ahok.

Demam, euforia, atau memang dukungan sesungguhnya, sedemikian kentalnya, tidak dapat lagi dielakkan .Masyarakat marginal, kaum urban, kaum muda, menjadi tenaga PR sukarela bagi Jokowi-Ahok. Militansi yang terbentuk bermuara pada satu semangat, Jokowi-Ahok harus menang dengan kesadaran bahwa merekalah yang akan menjadi roda gulir menuju kemenangan tersebut.

Prinsip Marketing 

Selain melakukan aksi PR, kubu Jokowi-Ahok juga menerapkan dengan baik prinsip marketing. Baik marketing klasik maupun multi level marketing. Kubu ini pun tidak berkeberatan bila tenaga marketing-nya melepaskan diri dari kelompok karena tidak teruji. Uji petik kelompok marketing kubu ini adalah melalui statement sejak awal bahwa tidak akan ada honor atau pamrih bagi mereka. Bagi tenaga marketing dengan harapan tinggi pada upah, sudah tentu hal ini sangat tidak menarik.

Sebaliknya bagi tenaga marketing yang memang terobsesi pada upaya “memasarkan” produk secara baik dan tepat sasaran, tugas yang dibebankan kepada mereka adalah tantangan luar biasa menarik. Adrenalin pun tertantang naik. Materi yang mereka jajakan pun cukup menggiurkan. Segudang prestasi Jokowi-Ahok layak jual dan seksi diperbincangkan dalam setiap kesempatan berjualan.

Perpaduan antara tenaga marketing yang terseleksi oleh alam dan materi yang layak jual inilah yang kemudian mengantarkan “dagangan” diserap pasar dengan baik. Masih bisa dijumpai satu hal lagi yang memudahkan Jokowi-Ahok dipasarkan. Yakni simbol yang diambil melalui kemeja kotak-kotak merah hitam. Warna kuat, model simpel dan merespons keseharian serta kekinian, dengan mudah diterima pasar.

Kemeja yang mereka kenakan tidak memberikan gambaran keberpihakan terhadap satu golongan atau satu kelompok secara spesifik. Kemeja ini juga menjadi “merchandise” yang dijual para relawan untuk mencari dana atau membiayai langkah mereka. Dan ajaibnya, laku! Kemeja kotak-kotak dengan lengan digulung selain memberikan kesan trendi secara simbolis berbicara lebih jauh tentang makna kerja keras.

Coba sedikit kita ingat bagaimana kemeja kotak-kotak ini pada sekitar beberapa abad lalu di tanah Amerika Utara identik dengan kostum para koboi. Para koboi sendiri adalah kelas pekerja keras. Secara tidak langsung kemeja kotak-kotak menyiratkan kesiapan Jokowi-Ahok untuk bekerja keras. Pasangan lain ada juga yang mengambil simbol pakaian sebagai “seragam” mereka. Hanya saja kostum yang diambil cenderung beraroma priyayi. Bukan berarti priyayi tak siap bekerja keras, hanya saja mind set dan keberpihakan masyarakat tentang pekerja keras adalah pada kelompok yang berpeluh dan berdebu.

Kekuatan Komunikasi 

Sudah beberapa kali media sosial yang sekitar satu dekade ini menyeruak ke permukaan sebagai wacana gaul generasi digital membuktikan keandalannya. Mediasosialinimemaksa generasi non-digital untuk juga melakukan migrasi kemari. Hasilnya adalah efektivitas komunikasi digital kelas tinggi. Batas wilayah, bahkan batas negara, menjadi kabur. Hilang sama sekali. Efeknya banyak hal bisa dilakukan dengan kerja ujung jari di atas keyboard komputer.

Kisah spektakuler kekuatan dunia digital ini di Indonesia diawali oleh kasus Prita dengan RS Omni. Di Mesir, kejatuhan Presiden Hosni Mubarak juga karena kekuatan media sosial di dunia digital. Dan dalam versi terkini, ya kita lihat sendiri pada kemenangan Jokowi-Ahok. Belum ada pernyataan resmi, akan tetapi peran Twitter di kalangan generasi muda berhasil menjadi corong komunikasi kelompok ini. Sebagaimana diketahui Twitter amat efektif bekerja sebagai media komunikasi dan ekspresi kaum muda.

Telaah sederhana dari sisi komunikasi dan pemasaran ini menemukan dengan jelas sinergi kekuatan komunikasi, pemasaran dan media yang dipilih. Pilihan yang diambil mengantarkan Jokowi-Ahok ke kemenangan. Euforia kini masih tersisa. Akan tetapi pekerja keras hendaknya tidak berlama-lama larut di dalamnya. Jakarta itu kompleks. Solusinya pun multisektoral dengan beragam faktor yang harus dipertimbangkan. Pastikan kekuatan komunikasi itu terus bekerja, bergulir demi kesejahteraan semua kalangan, terutama rakyat yang termarginalkan.
●