Tampilkan postingan dengan label SEA Games. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEA Games. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2011

Menggapai Prestasi Olahraga

Menggapai Prestasi Olahraga
Halim Mahfudz, CEO HALMA STRATEGIC
Sumber : KORAN TEMPO, 27 Desember 2011


Ketika Wakil Presiden Boediono membuka acara Hari Olahraga Nasional pada 9 September 2011, maskot SEA Games XXVI yang diletakkan oleh Wakil Presiden terguling dan jatuh karena kaki-kaki maskot kurang mapan. Setelah itu, Wapres Boediono menyampaikan sambutan dan salah satu poin pentingnya adalah pernyataan bahwa prestasi olahraga Indonesia belum membanggakan. “Kita harus mengakui bahwa, dalam membangun olahraga di Indonesia, masih banyak yang jauh dari harapan kita," kata Wapres waktu itu.

Pernyataan itu sesungguhnya merupakan ekspresi wajar dan senada dengan harapan seluruh warga bangsa ini. Kita pernah bangga akan cabang bulu tangkis di zaman Rudi Hartono, Tjun Tjun-Johan Wahyudi, hingga Liem Swie King. Itulah zaman ketika kejuaraan bulu tangkis menyedot perhatian masyarakat dan mampu menghentikan kegiatan seluruh warga Indonesia. Jalan-jalan sepi dan semua orang menyaksikan Sang Maestro mengalunkan nada-nada kemenangan dengan wajah dingin. Rudi Hartono dengan tenang menghabisi lawan-lawannya dan terus menanjak hingga ke posisi puncak.

Kita juga pernah bangga akan nama besar di sepak bola, dari Ramang, Abdul Kadir, hingga Ronny Pattinasarani. Namun, setelah itu, kita menyaksikan prestasi olahraga yang merosot dan makin kabur. Kisruh dan perebutan kekuasaan terjadi di tingkat federasi baik pusat maupun daerah. Dan prestasi olahraga kita terus meredup. November lalu, setelah lama menantikan, kerinduan pada prestasi olahraga terobati ketika Indonesia berhasil menjadi juara umum South East Asian Games 2011. Prestasi itu membuktikan anak-anak bangsa ini sesungguhnya mampu mencapai puncak prestasi olahraga di kawasan Asia Tenggara. Pencapaian ini adalah keberhasilan Indonesia yang kesepuluh dalam arena SEA Games setelah menjadi juara umum sebelumnya pada 1997. Tetapi apakah dengan keberhasilan menjuarai SEA Games ini berarti pernyataan Wapres ternyata dibuktikan terbalik selama ajang SEA Games?

Kerja Saling Dukung

Indonesia memang berhasil menjuarai SEA Games XXVI 2011 di Palembang. Tetapi pernyataan Wapres adalah dalam konteks yang jauh lebih luas daripada menjuarai satu peristiwa olahraga. Pernyataan itu harus dipahami sebagai sebuah bentuk pengamatan tentang pola pengelolaan, pengembangan, dan program versus potensi olahraga bangsa dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini. Pernyataan itu juga mengekspresikan harapan yang sesungguhnya bisa diraih oleh bangsa ini dari apa yang ada sekarang ini jika ada pengembangan dan pengelolaan yang lebih baik.

Satu hal penting yang sering kali dilupakan oleh banyak pihak adalah kenyataan bahwa di zaman ini semua masalah terkait satu dengan yang lain. Tidak ada satu masalah pun yang tidak terkait dengan pembuatan kebijakan dan keputusan, otoritas, fasilitas, dukungan atau penolakan dari pihak lain, moralitas dan mentalitas, serta peran publik. 

Olahraga juga bukan masalah yang bisa berdiri sendiri. Olahraga membutuhkan sarana untuk memfasilitasi peningkatan kualitas dan keahlian para atlet. Sarana membutuhkan ruang dengan berbagai fasilitas, infrastruktur, sistem pengelolaan, instruktur, sumber daya, dan sumber dana. Ini pasti bukan hal-hal yang bisa dipenuhi sendiri oleh pemerintah, apalagi oleh satu kementerian atau hanya oleh DPR. Olahraga melibatkan individu yang menjadi atlet, pelatih, official, dan orang-orang yang mengurus olahraga tersebut. Dan di zaman yang serba canggih ini, olahraga juga membutuhkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dibutuhkan untuk melakukan kajian dan menemukan secara ilmiah faktor-faktor yang bisa dikembangkan untuk peningkatan daya tahan, teknik, dan skill. Hal ini sudah diberlakukan di banyak negara, dan Indonesia tertinggal dalam soal ini.

Sebuah prestasi dicapai melalui proses, upaya, dan kerja keras yang harus dicapai melalui peran dan partisipasi banyak pihak. Sementara di lain pihak masih banyak pandangan bahwa pengembangan olahraga adalah tugas dan kewajiban Kementerian Pemuda dan Olahraga serta federasi olahraga bersangkutan. Masih banyak anggapan bahwa memperbaiki sepak bola adalah tugas PSSI, meningkatkan prestasi bulu tangkis adalah tugas PBSI, dan seterusnya. Sebaliknya, masyarakat luas termasuk pemerintah sendiri, DPR, serta perusahaan swasta justru berpandangan “hak” mereka adalah menikmati prestasi meski tanpa ikut andil.

Di Indonesia, kerja sama, dukungan, dan koordinasi antarinstansi pemerintah, peran swasta dan dukungan publik, masih jauh dari harapan. Masih ingat bagaimana lapangan Menteng berubah menjadi sebuah taman? Atau kasus megakorupsi Wisma Atlet? Itu hanya dua contoh bagaimana upaya mencapai prestasi tidak didukung oleh kerja sama bahkan di instansi pemerintah sendiri dan moral yang baik. Kasus mega korupsi Wisma Atlet mencerminkan bahwa tanggung jawab moral dan mental para pengelola sendiri sedang dalam titik nadir. Justru para pembuat keputusan yang menghancurkan jalan menuju peningkatan prestasi olahraga. Soal lapangan Menteng, ada argumen bahwa Jakarta membutuhkan paru-paru kota. Tetapi, pertanyaannya, kenapa harus memilih lapangan Menteng yang sebenarnya bisa menjadi penunjang prestasi olahraga Indonesia. Kenapa tidak membatalkan rencana pembangunan sebuah mal, karena pasokan mal sudah mencapai titik jenuh.

Apa pun yang kita lakukan sekarang ini adalah sebuah kompleksitas. Membangun sebuah stadion, misalnya, tidak bisa hanya menjadi urusan Kemenpora atau KONI, tetapi juga banyak pemangku kepentingan lain yang harus paham dan memberi dukungan. Ini tantangan tersendiri yang harus dipahami dan ditangani dengan baik.

Pengelolaan

Membangun fasilitas olahraga, seperti stadion, hanya salah satu bagian dari rentetan pentingnya pengelolaan olahraga bagi satu bangsa. Banyak orang melupakan bahwa olahraga adalah medium sangat strategis untuk membangun citra dan reputasi, diplomasi, dan keutuhan bangsa, bukan dengan basa-basi dan omong kosong. Dengan prestasi olahraga yang kita capai di SEA Games, reputasi Indonesia sebagai bangsa meningkat di dunia internasional. Dengan prestasi runner-up Piala SEA Games di cabang sepak bola, prestasi itu mengobati kekangenan pada kemenangan dan kebanggaan meski sebelumnya Indonesia gagal unjuk prestasi di penyisihan Piala Dunia.

Olahraga seharusnya bisa menjadi alat pemersatu bangsa dan alat diplomasi ampuh. Tampaknya potensi ini belum mendapatkan pemahaman yang baik. Yang terjadi di Indonesia justru masalah moral dan mental mereka yang berniat mengelola olahraga itu sendiri. Sebagai contoh, kisruh yang berkelanjutan di PSSI mengecewakan pemain, pelatih, dan penggemar cabang olahraga ini. Ironisnya, kisruh itu terjadi karena kepentingan di luar sepak bola. Dan kisruh PSSI itu hanya masalah permukaan, karena masalah sesungguhnya adalah masalah di luar sepak bola sebagai sebuah olahraga. 

Jadi, masalah lebih mendasar adalah bahwa banyak kepentingan di luar olahraga yang mengontrol dan mengendalikan langkah dan keputusan di bidang olahraga. Hal ini juga terjadi di tempat lain. Di Indonesia, parahnya, tekad mengontrol dan mengendalikan itu bukan untuk tujuan kemajuan dan prestasi olahraga, melainkan untuk tujuan lain, seperti politik, yang justru merusak olahraga.

Dengan ego sektoral dan koordinasi kacau di pemerintahan, mental dan moral para pembuat keputusan negeri ini, kepentingan di luar olahraga, dan publik yang tidak terlibatkan, apa yang disampaikan oleh Wapres Boediono adalah pernyataan yang tepat dan harus dipahami dengan hati terbuka.

Sabtu, 17 Desember 2011

Sepak Bola dan PSSI yang Terkoyak


LAPORAN OLAHRAGA AKHIR TAHUN 2011
Sepak Bola dan PSSI yang Terkoyak
Sumber : KOMPAS, 17 Desember 2011


Cerita sepak bola Indonesia 2011 di lapangan tidaklah buruk. Di tengah konflik PSSI, pemain Indonesia lolos ke putaran ketiga Pra-Piala Dunia 2014 bersama 19 negara Asia dan lolos ke final SEA Games. Namun, ceritanya lain di balik dinding kantor PSSI, klub-klub, ruang-ruang rapat, dan kongres.

Pencapaian timnas Pra-Piala Dunia 2014 yang selalu kalah di putaran kedua dan medali perak SEA Games 2011 memang tidak memenuhi harapan publik. Namun, mengingat hadir saat krisis sepak bola mendera negeri ini, dua pencapaian itu tidak buruk.

Di level yunior, prestasi itu tidak menggembirakan. Diwakili tim SAD yang tampil di kompetisi Uruguay, Indonesia kembali gagal lolos ke Piala Asia U-19 2012. ”Merah Putih Junior” juga gagal tampil di Piala Asia U-16 2012. Negeri ini memang tidak punya fondasi pembinaan usia muda.

Di tengah perkembangan sepak bola negara-negara Asia lain yang berlari kencang, sepak bola negeri ini jalan di tempat dan kian tertinggal. Di level klub, pada Liga Champions Asia (LCA), ceritanya setali tiga uang. Arema Indonesia mengikuti jejak Persipura Jayapura musim sebelumnya, yang jadi lumbung gol.

Persipura kebobolan 29 gol dari enam laga, sedangkan Arema kemasukan 22 gol! Keduanya mencatat rekor kebobolan gol terbesar di penyisihan grup yang diikuti 32 klub top Asia.

LCA jauh di atas level klub-klub kita. Mereka baru mampu bersaing di level bawahnya, Piala AFC. Di ajang ini, Persipura lolos ke perempat final dan Sriwijaya ke babak 16 besar.

Di level usia muda, cerita manis ditorehkan pemain Indonesia usia di bawah 15 tahun (U-15) yang menjuarai Piala Pelajar Asia 2011. Pemain muda bibit-bibit sepak bola negeri ini juga ambil bagian pada ajang lain.

SSB Hasanuddin mewakili Indonesia tampil dan menempati peringkat ke-33 dari 40 negara di Piala Danone 2011. Lalu, tim Indonesia ASIOP-Apacinti bertahan hingga 16 besar Gothia Cup, yang sering disebut Piala Dunia mini karena selalu diikuti lebih dari 80 negara, di Swedia.

Begitulah, apa pun hasilnya, cerita sepak bola di lapangan tetap mengasyikkan. Permainan kulit bundar selalu menjadi daya tarik dan hiburan, terlebih lagi jika kemenangan bisa diraih. Namun, tidak demikian jika berbicara sepak bola di luar lapangan dengan pengurus PSSI, klub, atau pengurus daerah (provinsi dan cabang) sebagai ”pemainnya”.

Cerita Memilukan

Mengikuti sepak terjang pengurus sepak bola itu sangat memilukan dan, di tahap tertentu, menjijikkan. Sepak bola negeri ini tidak diurus lewat pendekatan dan prinsip-prinsip keolahragaan (sportsmanship), tetapi dikelola seperti mengurus partai politik.

Kita mulai cerita menjijikkan ini dari awal tahun 2011, Januari akhir, saat PSSI menggelar kongres di Bali. Kongres berlangsung sekitar dua pekan setelah kick-off Liga Primer Indonesia (LPI), kompetisi yang bergulir sebagai ketidakpuasan atas liga resmi PSSI pimpinan Nurdin Halid selama hampir delapan tahun.

Seperti kongres-kongres sebelumnya, forum itu ”bersahabat”. Tak satu pun anggota PSSI bersuara kritis. Bahkan, sekadar abstain pun tidak. Diakui terbuka, forum itu ditunggangi untuk melanggengkan rezim Nurdin.

Seperti sulap, sikap anggota PSSI berubah total bulan-bulan berikutnya, yang—singkat cerita—berujung lengsernya Nurdin dan lahirnya pengurus baru dipimpin Djohar Arifin Husin.

Transisi kepemimpinan PSSI itu, seperti kita catat, berjalan tak mulus dan tak normal. FIFA turun tangan, membekukan Komite Eksekutif PSSI dan menunjuk Komite Normalisasi. Empat kongres telah berlalu: di Bali, Pekanbaru, Jakarta, dan Solo.
Satu hal yang dilupakan, termasuk oleh FIFA, dan tak pernah tersentuh, yakni pertanggungjawaban pengurus PSSI era Nurdin Halid. Ibarat sebuah lagu, PSSI seperti di-restart, berakibat komplikasi persoalan sana-sini dengan segala eksesnya hari ini.

PSSI melakukan blunder pertama, mencopot Alfred Riedl dengan alasan kontraknya dengan pengurus PSSI lama bermasalah (tiga versi). Mencopot pelatih hal biasa dalam sepak bola. Namun, pada kasus Riedl, itu tak dilakukan memadai dan bijak. Andai berpikir jernih, PSSI bisa saja menegosiasi ulang kontraknya dan, jika tak ada titik temu, apa boleh buat mungkin harus stop.

Blunder serupa terulang saat PSSI akan me-restart kompetisi dari titik nol, mengacu lima kriteria yang ditetap Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yakni legal, finansial, infrastruktur, personel, dan sporting. Akan tetapi, proses penilaian (assessment) itu tidak dijalankan memadai dan tahu-tahu muncul nama-nama klub pada divisi teratas.

Andai saja, sekali lagi andai saja, proses penilaian itu berlangsung fair, transparan, profesional, dan bukan hanya verifikasi dokumen, tetapi juga verifikasi lapangan—berapa pun jumlah klub yang diperoleh atau jika tak ada yang memenuhi syarat, klub dengan skor tertinggi yang lolos—boleh jadi tak sekisruh kini.

Walhasil, publik sepak bola kini disuguhi dua kompetisi: Liga Prima Indonesia yang diakui PSSI dan Liga Super Indonesia peninggalan pengurus PSSI lama. Polemik seputar kasus tercoretnya Persipura dari Piala AFC adalah ekses persoalan itu.

Klub-klub anggota PSSI dan para pengurus daerah (provinsi dan cabang) juga setali tiga uang. Keputusan AFC yang merilis tak satu pun klub Indonesia memenuhi syarat tampil di Liga Champions Asia adalah bukti pengurus klub tidak berbuat apa-apa untuk memajukan klub mereka. Pengurus daerah juga berpangku tangan tidak memutar kompetisi usia muda yang idealnya harus mereka gelar di level regional.

Akumulasi semua persoalan itu berujung pada tidak kunjung majunya sepak bola negeri ini. Sekadar pengingat, awal tahun ini, Indonesia di posisi ke-126 peringkat FIFA. November lalu, peringkat itu anjlok ke-144.

”Quo Vadis”?

Ya, quo vadis (ke mana hendak melangkah) sepak bola Indonesia? Tahun 2012 terbentang di depan mata. Sejumlah agenda telah terpampang nyata, bahkan hingga 2014. Untuk 2012 saja, mulai September bergulir kualifikasi Piala Asia 2015 Australia.
Pada Desember juga berlangsung Piala AFF di Malaysia dan Thailand. Di level antarklub Asia, pertengahan Maret, Arema berlaga di Piala AFC. Belum lagi kalender laga internasional timnas senior yang tidak kurang 11 kali setahun ke depan meski Indonesia telah tersingkir saat dijamu Bahrain, 29 Februari.

Untuk keluar dari karut-marut, jika mau mencontoh Nelson Mandela di Afrika Selatan saat negeri itu ganti rezim, seharusnya ada ruang rekonsiliasi bagi pengurus sepak bola yang kini bertikai bak pengurus parpol.

Tanpa rekonsiliasi, kapan lagi kita benar-benar membangun sepak bola? Ataukah memang ingin semua tenggelam bersama dalam keterpurukan tanpa ujung?
(MH SAMSUL HADI)


Mempertahankan Itu Sulit


LAPORAN OLAHRAGA AKHIR TAHUN 2011
Mempertahankan Itu Sulit
Sumber : KOMPAS, 17 Desember 2011


Siapa sangka tim perahu naga putra Indonesia mampu meraih tiga emas sekaligus di ajang Asian Games 2010? Siapa sangka tim Indonesia berbalik dikalahkan di ajang SEA Games XXVI/ 2011 oleh rival sengit di Asian Games 2010?

Serba tidak terduga! Itulah games, olahraga. Hasil cemerlang Asian Games 2010 maunya dijadikan modal untuk menyapu bersih nomor-nomor perahu naga dalam SEA Games 2011. Namun, fakta berbicara lain.

Tim perahu naga Indonesia, baik yang terdiri atas 12 pedayung maupun 22 pedayung, tidak sanggup membuktikan ketangguhan mereka di nomor-nomor yang amat mereka kuasai: 2.000 meter putra/putri, 1.000 meter putra/putri, dan 500 meter putra/putri. Di nomor jarak pendek 250 meter yang diincar sanggup diselesaikan oleh tim perahu naga Indonesia, hasilnya nihil juga.

Alhasil, harapan di nomor-nomor unggulan kandas. Myanmar membalikkan keunggulan Indonesia. Myanmar meluluhlantakkan skuad Merah Putih.

Myanmar akhirnya pulang dengan sembilan emas dan satu perak. Indonesia selesai dengan lima perak dan empat perunggu.

Mental Pemain

Itu cerita hampir satu bulan yang lalu. Akan tetapi, rasanya itu menjadi ganjalan bagi tim Merah Putih yang harus dicari tahu penyebabnya.

”Mereka sudah terus berusaha dan menyiapkan diri dengan keras. Namun, catatan waktu mereka tidak pernah bisa menyamai catatan waktu selama di Asian Games,” ujar Koordinator Cabang Terukur Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Prima) Utama, Sebastian Hadi Wihardja, Rabu (14/12).

Di Asian Games 2010, catatan waktu sekitar tiga menit dibukukan untuk melahap habis jarak 1.000 meter. Di SEA Games, mereka membukukan empat menit hingga lima menit untuk menuntaskan jarak tersebut.

Apa ada yang salah? ”Rasanya kesalahan itu ada pada mental pemain. Mereka belum siap menjadi juara. Padahal, manajer ataupun pelatih sudah selalu mengingatkan para atlet untuk berhati-hati. Myanmar adalah lawan yang belum ketahuan kekuatannya,” ujar manajer tim perahu naga Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI), Young Mardinal Djamaludin.

Selama persiapan menghadapi SEA Games, tim perahu naga Indonesia selalu mendominasi setiap uji coba yang diikuti, baik kejuaraan perahu naga di Malaysia maupun kejuaraan di Korea Selatan.

Sayangnya, tiap kali mengikuti uji coba, Myanmar tak pernah turun. Tim Indonesia boleh merajai semua nomor. Namun, tim Indonesia belum berarti apabila belum bertemu tim Myanmar.

Dari awal, seharusnya tim Indonesia terus mempertahankan kewaspadaan. Di Asian Games 2010, meski unggul, catatan waktu Indonesia berselisih tipis saja dari Myanmar.
Di nomor 250 meter putra, Indonesia mencatatkan 48,681 detik, sementara Myanmar 49,401 detik. Di nomor 500 meter putra, tim Indonesia mencatat waktu 1 menit 44,506 detik, sedangkan Myanmar 1 menit 45,622 detik. Begitu juga di nomor 1.000 meter putra, catatan waktu Indonesia dengan Myanmar juga tidak begitu jauh. ”Catatan waktu ini seharusnya menjadi catatan penting tim Indonesia,” ujar Hadi.

Apalagi, menurut Hadi, tak sekalipun dalam setiap uji coba di luar negeri tim Indonesia berjumpa dengan rival berat dari Asia Tenggara itu. ”Tim kita seperti lengah,” tuturnya.
Hal lain yang kurang dicermati adalah jadwal perlombaan. Di Asian Games 2010, tim perahu naga turun lebih dahulu kemudian para pedayung Indonesia turun di nomor kano serta kayak.

Di SEA Games XXVI/2011, dengan kekuatan tim yang sama dengan tim di Asian Games, para pedayung Indonesia rupanya sudah turun lebih dahulu di nomor kano dan kayak. Kemudian mereka tampil di nomor perahu naga.

Baik di Asian Games maupun SEA Games, tim Indonesia diperkuat para pedayung terkuat kano dan kayak. Dari dua pembagian jadwal itu, saat di Asian Games, Indonesia diuntungkan dengan pedayung yang masih segar bugar. Energi mereka amat berguna saat menuntaskan nomor-nomor lomba. Sementara di SEA Games, para pedayung terlihat kelelahan.

Padahal, secara teori iptek keolahragaan, seharusnya para pedayung Indonesia bisa pulih cepat setelah berlomba di nomor sebelumnya. Apalagi, dayung memiliki dukungan ilmu keolahragaan yang cukup.

”Saya juga kurang bisa memastikan mengapa para pedayung sepertinya tidak bisa pulih dengan cepat untuk turun di perahu naga,” ujar Mardinal.

Justru ketika para pedayung kano/kayak turun ke perahu naga, mereka kesulitan untuk menyamakan irama dan kecepatan kayuhan. Semakin dipacu kayuhan, perahu makin tidak terpacu.

”Sepertinya saat tim kita tersusul lawan, para pedayung kita, kok, malah grogi dan panik. Saya kira masalah mental juga berpengaruh,” ujar Mardinal.

Harus Spesialisasi

Mencermati kandasnya tim Merah Putih di pesta negara-negara Asia Tenggara itu, tim dayung Indonesia rasanya harus mengubah strategi.

Sudah saatnya tim manajer dan pelatih dayung memfokuskan para pedayung. Untuk disiplin kano dan kayak, para pedayung sebaiknya disiapkan khusus untuk tim kano dan kayak saja, juga untuk tim perahu naga. Dengan begitu, setiap pedayung mempunyai spesialisasi dan bisa difokuskan untuk kejuaraan single event atau multi-events seperti SEA Games.

Mardinal mengatakan, saat ini cabang dayung tengah menggelar kualifikasi Pekan Olahraga Nasional. Ia berharap para pedayung terbaik bisa diambil dari hasil tersebut untuk diarahkan ke spesialisasi.

Memang, mempertahankan hasil terbaik jauh lebih berat ketimbang saat berupaya meraihnya.
(Helena F Nababan)

Sampai Kapan Jika Sendirian?


LAPORAN OLAHRAGA AKHIR TAHUN 2011
Sampai Kapan Jika Sendirian?
Sumber : KOMPAS, 17 Desember 2011


Dalam lima-enam hari, Indonesia diguyur medali emas lewat atletik dan renang di SEA Games XXVI lalu. Untuk mewujudkan pesta yang temponya kurang dari sepekan itu, diperlukan bertahun-tahun latihan tak terputus dan dana besar. Namun, untuk kesinambungan prestasi jauh ke depan, induk organisasi atletik dan renang tak akan mampu berjalan sendirian.

Dalam pesta olahraga Asia Tenggara di Jakabaring, Palembang, itu, atletik Indonesia kembali mengulang kejayaan yang pernah ditoreh 18 tahun lampau. Tahun inilah atletik bisa kembali menyumbang emas dalam jumlah dua digit, 13 (ditambah 12 perak dan 11 perunggu). Jumlah itu sama seperti yang dihasilkan dalam SEA Games 1993.

Di kolam akuatik Jakabaring yang bersebelahan dengan stadion atletik, para perenang muda Indonesia meraup 6 emas, 8 perak, dan 10 perunggu. Dari segi jumlah, perolehan Indonesia memang masih kalah oleh Singapura yang raja renang Asia Tenggara (17 emas, 9 perak, dan 13 perunggu) dan dari Thailand yang mengumpulkan 8 emas, 7 perak, dan 5 perunggu.

Namun, para perenang Indonesia memecahkan lima rekor SEA Games di Jakabaring. Itu nyaris separuh dari total pemecahan rekor (11) yang tercipta di cabang renang dalam SEA Games kali ini.

Indonesia pun melakukan lompatan besar. Pasalnya, Indonesia hanya memegang rekor di satu nomor begitu SEA Games Laos 2009 usai, yaitu di estafet 4 x 100 meter gaya ganti putra. Padahal, renang memiliki 38 nomor lomba.

”Di SEA Games, empat perenang kita lolos limit B Olimpiade 2012,” ujar Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) Tonny P Sastramihardja. Keempat perenang itu adalah I Gede Siman Sudartawa (17 tahun), Triady Fauzi Sidiq (19), Glen Victor Susanto (22), dan Indra Gunawan (23).

Memang, para atlet tidak otomatis lolos ke London 2012 karena—dengan kuota 900 perenang (lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya 1.000 perenang)— akan ada seleksi lagi berdasarkan catatan waktu para atlet. Namun, berdasarkan catatan waktu mereka, Tonny optimistis keempat perenang Indonesia tidak akan tergusur.

Ditambahkan, perenang putri Yessy Yosaputra, Nicko Biondi, dan M Idham Dasuki juga punya peluang untuk tampil sebagai olimpian, atlet yang berlaga di panggung tertinggi pesta olahraga dunia.

”Catatan waktu Yessy (di SEA Games) sedikit lagi. Batas waktu kualifikasi 11 Juni tahun depan. Kami melihat ketiganya punya peluang,” kata Tonny.

Tak Tercipta Dalam Sekejap

Panen medali yang diraih oleh dua cabang induk olahraga itu tercipta lewat proses yang serupa, yaitu hasil dari ketekunan program latihan yang dilakukan, dimulai lama sebelum SEA Games XXVI dibuka, 11 November lalu. ”Ini adalah buah kesabaran. Kami memang selalu fokus pada jangka panjang. Di antara itu memang ada sasaran-sasaran jangka pendek, tetapi semua dalam rangka pelatnas jangka panjang,” kata Sekretaris Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor M Tanjung.

Bertahun-tahun PB PASI telah menggelar pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang tak terputus di Jakarta. Bahkan, pelatnas seperti itu dibentuk dalam empat jenjang, yaitu untuk atlet praremaja dengan usia atlet di bawah 16 tahun, remaja (16 tahun hingga sebelum 18 tahun), yunior (18-19 tahun), dan senior (atlet elite).

PB PRSI pun sama. Pelatnas jangka panjang digelar untuk atlet utama dan pratama di Jakarta dan Bandung. ”Seusai SEA Games 2009, kami langsung memulai pelatnas lagi,” tutur Tonny.

Bagi sebuah induk organisasi, keputusan itu tentu bukanlah pilihan yang murah. Misalnya, dana yang diperlukan PB PASI untuk menggelar pelatnas jangka panjang seperti itu mencapai Rp 12 juta per atlet (termasuk untuk biaya sekolah dan pemantauan psikologis atlet belia).

Di renang, biaya akomodasi di hotel atlet di kawasan Senayan saja besarnya Rp 150.000 per malam. Itu pun hanya untuk para perenang dan peloncat indah pratama yang jumlahnya 20 atlet.

PB PRSI memutuskan menyewa rumah bagi atlet utama mereka. Alasan Tonny, hotel atlet di Senayan tidak lagi cocok untuk pembinaan atlet utama dengan menjamurnya mal di kawasan itu. ”Terlalu banyak yang bisa mengganggu fokus atlet di usia mereka,” katanya.
PB PRSI juga harus menyewa kolam renang di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, yang biayanya puluhan juta rupiah per bulan. Bagi Tonny, kolam renang Senayan juga tak lagi memenuhi syarat sebagai tempat berlatih tim nasional.

”Saat berlatih, atlet perlu seluruh lintasan,” ujar dia. Sementara di Senayan, kolam dipakai bersamaan dengan anggota masyarakat yang lain. Itu belum menghitung kualitas air kolam Senayan yang sering kurang bagus.

Tigor dan Tonny sepakat, investasi pada pelatih juga berperan besar dalam mendongkrak prestasi atlet pelatnas mereka. Di kedua cabang itu, sebagian besar pelatih kerap dikirim dan didanai untuk mendapatkan sertifikasi internasional.

Dengan pola seperti itu, PB PASI dan PB PRSI tak khawatir akan kesinambungan prestasi. Paling tidak untuk beberapa tahun ke depan. Kedua organisasi itu beruntung karena memiliki ketua umum Mohammad Bob Hasan dan Hilmy Panigoro, pengusaha mapan yang memang ”gila” olahraga.

Tak Bisa Sendiri

Kesinambungan prestasi yang merupakan puncak dari bangunan piramida olahraga juga tak lepas dari terus tersedianya potensi-potensi belia yang bisa dibentuk menjadi atlet elite. Kedua induk organisasi atletik dan renang pun sepakat akan hal itu.

Oleh karena itu pula PASI rutin menggelar kejuaraan atletik anak-anak dan sekolah di sela-sela pelaksanaan kejuaraan nasional ataupun daerah. PRSI juga mengandalkan Kejuaraan Renang Antar-perkumpulan yang rutin digelar di tingkat nasional dan daerah.
Namun, Tigor mengakui, bentuk pencarian bibit dan pembinaan (khususnya di luar pelatnas) yang ada belumlah ideal, misalnya belum semua pengurus daerah rutin menggelar kejuaraan dan pemantauan. Selain itu, banyak daerah (yang meski kaya-raya dengan adanya otonomi daerah) tidak memiliki sarana atletik cukup baik. Tak perlu trek sintetis, lapangan rumput yang terawat pun jarang.

Memang, tidak ada rumus baku berapa persen talenta yang ada dari satu populasi. Namun, semakin besar populasi itu bisa dipantau, semakin besar pula peluang untuk menjaring atlet berbakat. Tigor menamsilkannya dengan, ”Saat ini masih banyak beras yang belum tertampung dalam tampah yang ada.”

Di renang, hal tersebut kian berat setelah cabang itu tak lagi menjadi olahraga wajib di sekolah dasar dan menengah pertama. Yang jelas, PASI dan PRSI semata tak akan mampu memperbesar ”tampah” itu. ”PASI itu cuma LSM. Kami tak mungkin bisa sendirian,” ujar Tigor.
(Yunas Santhani Aziz)