Tampilkan postingan dengan label Pilkada Jakarta - Akhirnya Pesta Usai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilkada Jakarta - Akhirnya Pesta Usai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 April 2017

Setelah Pilkada Jakarta Usai

Setelah Pilkada Jakarta Usai
Ikrar Nusa Bhakti  ;   Profesor Riset LIPI
                                              MEDIA INDONESIA, 20 April 2017


                                                                                                                                                           

HASIL hitung cepat berbagai lembaga survei terkait dengan pilkada Jakarta menunjukkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menang telak atas pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Angkanya pun tak tanggung-tanggung, di atas 15%. Dari pengalaman pilkada-pilkada sebelumnya, hasil pilkada DKI Jakarta menunjukkan sebuah anomali politik karena pasangan petahana yang tingkat kepuasan publiknya 70%-76% ternyata dapat dikalahkan pasangan yang tidak memiliki pengalaman di bidang pemerintahan lokal atau daerah. Pastinya ada beberapa faktor yang menyebabkan anomali politik itu terjadi. Pertama, seperti tampak pula dari berbagai survei, agama menjadi faktor utama dari kemenangan Anies-Sandi. Secara kebetulan, pada September 2016, dalam sebuah acara di Kepulauan Seribu, Basuki alias Ahok membuat pernyataan yang bisa mengaitkan agama dan politik. Pernyataan yang mengaitkan politisasi Surah Al Maidah ayat 51 itu tentu saja menjadi bumerang baginya.

Persoalan itu kemudian menjadi isu agama karena secara kebetulan Ahok beragama Kristen dan beretnik Tionghoa. Kalau saja Ahok tidak memiliki dobel minoritas itu, belum tentu isu politisasi agama menjadi isu besar, bahkan menimbulkan demonstrasi besar-besaran dari yang disebut 411, 212, 212, hingga 311. Berbagai isu, bahwa memilih orang kafir sebagai gubernur akan masuk neraka, pemilih Ahok tak boleh disalati atau bahkan tak boleh dibantu pemakamannya, menambah semakin takutnya warga muslim untuk memilih Ahok-Djarot. Kedua, persoalan penggusuran untuk normalisasi Kali Ciliwung yang digoreng Anies Baswedan juga menimbulkan kesan seakan-akan Ahok ialah gubernur yang suka menggusur rakyat kecil. Apalagi hal itu dikaitkan dengan proyek reklamasi di Teluk Jakarta yang lagi-lagi digoreng seakan-akan Ahok lebih mengutamakan kepentingan ekonomi para konglomerat dan menyusahkan para nelayan yang ialah juga bagian dari rakyat kecil.

Meski Ahok sudah berbusa-busa menjelaskan keuntungan yang akan dinikmati rakyat kecil dan miskin Jakarta dari berbagai proyek yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, semua itu dianggap tidak menarik ketimbang berbagai tuduhan negatif Anies terhadap Ahok yang dianggap sebagai suatu kebenaran. Ketiga, gaya Anies yang pandai memilih kata-kata di dalam kampanye politiknya, seperti “Rakyat Jakarta menginginkan gubernur baru, saya akan menutup tempat mesum di Hotel Alexis, saya akan memecat Ahok sebagai gubernur, saya akan menghentikan proyek reklamasi di Teluk Jakarta. Lalu, saya akan menyatukan sistem transportasi di Jakarta dan rakyat hanya membayar Rp5.000, saya akan memberikan DP 0% untuk rakyat Jakarta yang akan memiliki rumah, saya akan memberikan kartu Jakarta pintar (KJP) kepada mereka yang tidak sekolah.” Semua itu menarik rakyat yang memimpikan bisa membeli rumah tanpa DP, yang ingin juga tetap dapat uang walaupun tidak sekolah atau tidak bekerja. Keempat, pemilih Jakarta terimbas oleh kebangkitan kembali konservatisme baru seperti yang terjadi di Inggris terkait dengan hasil referendum yang menyebabkan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) dan menangnya Donald Trump pada pemilu di AS 2016. Dengan kata lain, cara berpikir yang konservatif ternyata dapat mengalahkan cara berpikir yang rasional dan modern.

Pelajaran berharga

Hasil pilkada Jakarta memberikan pelajaran berharga bagi partai-partai nasionalis dan partai-partai Islam yang mengedepankan Islam moderat. Pertama, mereka selama ini seakan melupakan atau membiarkan konstituen Islam mereka di arus bawah sehingga dapat dirasuki pikiran-pikiran yang sempit dalam keberagamaan mereka. Ketika rakyat akar rumput ketakutan dengan ungkapan kalau meninggal tidak dimandikan atau disalati, mereka tidak cepat didekati para ulama yang merupakan bagian dari Islam moderat. Kedua, pilkada Jakarta sekali lagi membuktikan bahwa jumlah partai pendukung tidak identik dengan jumlah perolehan suara yang akan didapat di pilkada. Gaya berkampanye, sosok calon yang dikontraskan dengan petahana, isi kampanye yang membuai mimpi kaum miskin, dan kalimat-kalimat yang menyatakan bahwa semua kenikmatan dan kemudahan yang sudah dirasakan rakyat tak akan dihilangkan ternyata lebih menarik ketimbang hasil yang sudah dicapai petahana dan dinikmati rakyat miskin.

Ketiga, mobilisasi massa secara masif atas dasar agama yang bukan saja berasal dari dalam Jakarta, melainkan juga dari luar Jakarta sulit dibendung ketika jargon-jargon agama, politik, dan demokrasi disa­tukan untuk membenarkan mobilisasi massa itu. Atas nama demokrasi, kegiatan politik yang masif itu tentunya tak mungkin dihentikan karena pemerintah dan aparat keamanan tidak ingin dikatakan anti-Islam atau bertentangan dengan Islam. Apakah gaya politik ini bisa dikembangkan pada Pilpres 2019 tampaknya agak sulit karena pada pilkada kedekatan emosional pemilih dan yang dipilih amat kuat karena faktor geografis, politis, dan agama. Namun, pada pilpres ada jarak yang cukup jauh antara pemilih dan yang dipilih. Keempat, melihat hasil pilkada Jakarta, bukan mustahil pendekatan agama akan semakin digunakan pada pilkada-pilkada lainnya pada 2018 dan se­terusnya. Ini mengalahkan hasil kerja atau pun kejujuran dari seorang calon gubernur petahana, apalagi jika sang petahana memiliki perbedaan agama dengan sebagian besar penduduk di provinsi, kabupaten, atau kota tertentu.

Tantangan gubernur baru

Kita semua harus menerima hasil pilkada DKI Jakarta dengan lapang dada. Saya juga percaya bahwa para pemilih Ahok-Djarot bukanlah rakyat yang bodoh, irasional, dan emosional yang tidak mau menerima kekalahan mereka. Ini berbeda dengan pemilih Prabowo-Hatta yang sempat emosional dan tidak menerima kekalahan mereka secara lapang data. Mereka juga tidak seperti pendukung Partai Demokrat dan Hillary Clinton yang ramai melakukan demonstrasi di berbagai tempat di AS hingga kini dan tidak bisa menerima kemenangan Donald Trump. Tidaklah mengherankan jika Trump menggunakan gaya lama kebijakan Partai Republik, yakni menjadikan perang untuk mendapatkan dukungan dan legitimasi dari rakyat, seperti melalui pengeboman dahsyat tentara AS di Suriah. Pendukung Ahok-Djarot juga bukan para rasionalis Inggris yang tidak bisa menerima kekalahan pada referendum yang menyebabkan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Persoalannya kemudian ialah, pertama, dapatkah Anies kembali ke masa lalunya sebagai orang yang sering bicara mengenai pentingnya kita merajut kebangsaan di dalam kebinekaan ketimbang seseorang yang mulai lekat dengan sektarianisme atas dasar sentimen agama? Kedua, Anies tentunya berutang budi pada tokoh-tokoh Islam garis keras. Akankah dia memenuhi semua tuntutan tokoh-tokoh agama itu untuk menjadikan Jakarta bersyariah? Ketiga, bisakah Anies-Sandi adil terhadap penduduk Jakarta tanpa memandang suku-agama-ras-golongan mereka? Keempat, akankah Anies men-deliver janji-janji politik mereka soal DP rumah 0%, memberikan uang kepada mereka yang tidak sekolah dan bekerja, tidak akan menggusur orang, akan menghentikan reklamasi Teluk Jakarta, dan sebagainya? Kita akan menyaksikan apakah Jakarta akan berubah ke arah lebih baik dalam lima tahun ke depan. Namun, sebagai langkah awal, mari kita berikan ucapan selamat kepada Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih. Setelah masa jabatan Ahok-Djarot berakhir pada Oktober 2017 ini, kita akan melihat apakah janji-janji kampanye itu tinggal janji, ataukah janji itu akan dilaksanakan secara konsisten.

Akhirnya Pesta Usai

Akhirnya Pesta Usai
M Subhan SD  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 20 April 2017


                                                                                                                                                           

Saat pencoblosan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, Rabu (19/4) kemarin, tiba-tiba teringat potongan pepatah Jawa yang sering dilontarkan Presiden Soeharto: ngelurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Kira-kira artinya "menyerbu tanpa bala tentara, menang tanpa merasa ada yang dikalahkan". Pepatah ini terasa relevan saat Pilkada DKI Jakarta berlangsung begitu sengit, sampai mendidihkan suhu politik berbulan-bulan.

Meskipun tahun 2017 ini pilkada serentak digelar di 101 daerah pada Februari lalu, nyatanya cuma pesta demokrasi lokal ibu kota negara ini yang semirip pesta demokrasi tingkat nasional. Kegaduhannya makin bertambah panjang setelah dalam putaran pertama tak ada pasangan calon yang meraih 50 persen plus 1 suara. Pasangan Agus Harimurti-Sylviana Murni terhenti di putaran pertama. Lalu, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno lanjut bertarung di putaran kedua.

Dengan demikian, suhu panas politik makin lama. Apalagi Pilkada DKI Jakarta benar-benar jadi magnet. Tidak hanya milik orang Jakarta, warga seantero negeri pun ikut latah mengurusi. Kemarin sampai ada guyonan bikin ngakak yang beredar di grup Whatsapp (WA): "Pilkada DKI pilkada paling menjengkelkan, hebohnya sampai seluruh Indonesia, ehhh giliran libur cuma DKI doang... Terlalu!" diikuti emoticon "menangis".

Pilkada DKI Jakarta memang serasa pemilihan presiden (pilpres). Pertarungan sangat sengit, terutama semenjak kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada September 2016. Rivalitas dua kubu pun mengerahkan segala kekuatan, mirip taktik total football tim sepak bola Belanda di zaman pelatih Rinus Michels saat Piala Dunia 1974 di Jerman.

Kalau ditilik dari sisi kegairahan berpolitik, Pilkada DKI Jakarta ini mampu membangkitkan "partisipasi" masyarakat. Bukan cuma gawean para politikus atau kelompok elite di tingkat suprastruktur. Bahkan menjadi gerakan massa luar biasa, yang menuntut penuntasan kasus Basuki. Namun, partisipasi itu lebih didominasi sentimen primordial.

Memang, sejak era otonomi daerah, sentimen primordial subur pada setiap pilkada. Rata-rata berteriak "putra daerah". Di beberapa daerah pasca konflik hampir selalu ada kombinasi agama atau etnik di setiap pasangan calon. Namun, tidak sesengit rivalitas di Jakarta.

Seperti pesta, pertarungan pilkada juga ada akhirnya. Kemarin tenda telah dibongkar. Tiada lagi kemeriahan, apalagi kegaduhan. Tiada lagi provokasi atau agitasi, apalagi intimidasi. Dan, semoga tidak menjadi try out untuk Pilpres 2019, atau mengulangi Pilpres 2014.

Harus dicamkan pekerjaan pemimpin baru mengurus Jakarta sudah di depan mata, termasuk merangkai kembali kohesi sosial dan merawat tenunan kebangsaan yang beragam.

Dan, dalam setiap pertarungan, menang-kalah adalah hal lumrah walaupun terkadang meninggalkan luka. Meskipun masih menunggu hasil final dari KPU DKI Jakarta, hasil hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei menunjukkan perolehan suara Anies-Sandiaga unggul cukup tinggi ketimbang pasangan Basuki-Djarot. Dua pasangan itu memperlihatkan jiwa besar dalam berdemokrasi. Basuki-Djarot terlihat legawa. Anies-Sandiaga juga tidak jemawa.

Kemarin, pesta telah usai. Saatnya membangun Jakarta, menyatukan kembali warganya.