Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Januari 2014

“Duka Suka” Pariwisata Indonesia

                           “Duka Suka” Pariwisata Indonesia

Al Busyra Basnur  ;   Pengamat Internasional
KORAN SINDO,  09 Januari 2014
                                                                                                                        


Dari 8–10 juta wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia setiap tahun, sebagian bukan karena semata-mata, utamanya, tertarik wisata Indonesia. Tentu terdengar agak aneh dan lucu. Jika tidak tertarik mengapa ke Indonesia. Bahwa tidak sedikit di antara mereka datang ke Indonesia mengunjungi para sahabat dekat, yaitu orang-orang Indonesia yang pernah mereka kenal, pernah bergaul, pernah hidup bersama dan bermakna bagi hidup mereka. 

Ada juga untuk melakukan bisnis. Kunjungan itu mereka gandeng dengan kegiatan wisata di Indonesia. Di era Indonesia semakin maju, terbuka, dan banyak masyarakatnya go international, hubungan masyarakat Indonesia dengan masyarakat berbagai negara juga kian luas, erat dan meningkat, terutama dengan negara-negara maju. 

Saling kunjung menjadi karakter kuat dalam ranah dan dinamika persahabatan antarbangsa itu. Jutaan orang Indonesia pernah berdomisili di luar negeri, sebagai pekerja, ikut keluarga atau pelajar dan mahasiswa. Mereka memiliki hubungan persahabatan erat dengan puluhan bahkan ratusan juta orang setempat, apalagi diaspora Indonesia. Langsung atau tidak, mereka akan bicara dan ikut mempromosikan Indonesia. 

Gerbang Indonesia 

Namun, amat disayangkan, tidak sedikit wisatawan asing, termasuk yang mempunyai sahabat orang Indonesia mempunyai catatan negatif dan merasa kecewa dari kunjungan mereka ke Indonesia. Contoh, kejadian 17 November 2013. Satu rombongan wisatawan dari negara bagian Arkansas, Amerika Serikat (AS) mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Mereka hendak bertemusahabatlamadiJakarta, orang Indonesia, sekaligus hendak berwisata. 

Cerita indah tentang Indonesia, baik kemajuan pembangunan, ekonomi, toleransi antarumat, seni-budaya, keindahan alam, dan reformasi pelayanan publik, mendorong wisatawan AS itu untuk memutuskan segera berkunjung ke Indonesia. Tidak mudah meyakinkan mereka, apalagi harus terbang lebih 20 jam. Namun apa nak dikata, mereka sangat kecewa di bandara. Mereka bersama ratusan wisatawan internasional lain yang mendarat saat itu, harus antre hampir dua jam untuk melewati gerbang imigrasi. Ditambah lagi, mereka dicekik udara panas dan pengap di ruang yang mestinya berhawa sejuk itu. 

Sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi di mana pun negara di dunia. “We are at the airport, an hour now. The immigration line is not moving. It is very hot here”, tulis seorang wisatawan itu melalui HP kepada sahabatnya yang tengah menunggu di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Satu jam setelahnya, turis AS itu kembali mengirimkan pesan singkat, “Now loading bags into hotel van. See you soon”. Orang Indonesia itu sangatlah heran, kecewa, bahkan merasa sangat malu tentang pelayanan di negerinya. Ia pun berpikir keras, apa yang hendak ia katakan nanti saat berjumpa sahabatnya. 

Saat menceritakan pengalaman mereka di lobi hotel, “No greet, no good face”, ucap wisatawan AS itu merujuk petugas imigrasi yang melayani mereka di bandara. “Inilah negeriku tercinta yang hendak menjadi tujuan utama wisatawan dunia,” kata orang Indonesia itu dalam hati sambil mengurut dada. Padahal, bandara adalah pintu gerbang utama Indonesia, bagi siapa saja. Kisah masuk Indonesia itu, bukanlah yang pertama, dan tidak seorang pun yang berani mengatakan itu untuk terakhir. 

Jembatan Indonesia 

Suatu ketika November 2013, sebuah pesawat terbang perusahaan pelat merah bersiap- siap take offdari Jakarta ke Yogyakarta. Pesawat itu penuh penumpang dan banyak sekali wisatawan asing di dalamnya. Apa selanjutnya yang terjadi? Setelah penumpang boarding berdesak-desak karena tidak patuh aturan sementara petugas tidak berusaha menegakkan aturan itu, perlu waktu hampir dua jam duduk manis penuh gelisah di tengah hawa panas sebelum take off. Konon pesawat harus antre. Padahal lama terbang Jakarta–Yogyakarta hanya 1 jam 10 menit. 

Namun, penumpang pesawat itu tentu masih “beruntung” dibanding penumpang pesawat rute Jakarta–Yogyakarta 27 Desember lalu yang setelah delay dua jam, kemudian boarding, lalu terpaksa turun lagi karena pesawat tidak bisa diberangkatkan. Mereka take off besok hari. Kemungkinan besar ada wisatawan asing di dalamnya. Mereka juga beruntung dibanding penumpang pesawat yang bandara tujuan mereka diblokade Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur sehingga terpaksa mendarat di bandara kota lain. Kemungkinanbesaradajuga wisatawan asing di dalamnya. 

Kisah terbang tak sedap seperti ini, menjadi cerita bersambung tak berujung di negeri kita. Rutin, media pers menyuguhkan kepada kita berbagai kejadian terbang yang sangat mengusik rasa aman dan nyaman penumpang. Padahal, pesawat terbang adalah“jembatan” kota dan pulau Indonesia, termasuk untuk wisatawan. Di Bali, etalase utama wisata Indonesia itu, ternyata juga banyak kejadian tak menyenangkan wisatawan asing. Gubernur Bali Made Mangku Pastika sendiri mengakui bahwa itu adalah fakta, baik di airport, pelayanan taksi, mobil sewaan, tour guide, serta pengemis dan gelandangan. 

Masih segar pula dalam ingatan kita kecurangan petugas money changerdan penangkapan seorang wisatawan asing yang tidak memakai helm oleh polisi lalu lintas, yang keduanya dapat disaksikan orang di seluruh dunia melalui YouTube. Liputan majalah Time 9, April 2011, “Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes” sempat pula membuat kita marah besar karena hati kita panas dan perasaan tak nyaman membacanya. Sejumlah media di Indonesia minggu lalu bahkan menulis pula adanya tumpukan 15 ton sampah yang rutin memenuhi Pantai Kuta. Meski begitu, survei menunjukkan bahwa 81% wisatawan asing menyatakan akan tetap berkunjung lagi ke Bali. Itulah Bali, dengan kekuatan dan daya tariknya. 

Benah Diri 

Pemerintah Indonesia dan swasta terus berupaya melakukan promosi pariwisata di luar negeri. Hasilnya, sektor pariwisata mampu memberi kontribusi 5% kepada GDP dan menyerap 8 juta tenaga kerja tahun 2012. Perwakilan RI di luar negeri, KBRI dan KJRI, tercatat memberi kontribusi besar pula terhadap pertumbuhan pariwisata Indonesia, di tengah anggaran mereka yang sangat terbatas. Banyak kalangan di tanah air yang sebenarnya kurang memahami sepak terjang sekitar 130 perwakilan RI di luar negeri dalam mempromosikan wisata Indonesia. 

Andai setiap perwakilan RI menyelenggarakan promosi wisata sedikitnya sekali saja dalam satu bulan, berarti dalam satu tahun penyelenggaraan kegiatan promosi wisata Indonesia di luar negeri 1.560 kali. Beberapa perwakilan RI bahkan menyelenggarakan promosi wisata lebih dari satu kali dalam sebulan. Perlu dimaklumi, bahwa kegiatan promosi wisata Indonesia di luar negeri tidak senantiasa dalam bentuk pameran pariwisata tunggal atau dalam skala besar. Promosi wisata sering pula digandengkan dengan berbagai kegiatan lain di perwakilan RI. 

Namun kenyataannya, promosi wisata di luar negeri yang sudah baik itu belum diimbangi kegiatan benah diri secara sempurna di dalam negeri, meski angka kunjungan wisatawan asing naik dari tahun ke tahun. Ekstremnya seakan kita sering menjual kebohongan di luar negeri karena apa yang kita sampaikan tidak selalu sesuai dengan kenyataan di dalam negeri. 

Kita selalu menekankan pentingnya pelayanan wisata, paket wisata yang dipasarkan, pengembangan objek wisata khususdanpembangunaninfrastruktur. Namun kita sering lupa akan pentingnya pembinaan karakter, sumber daya manusia, rasa tanggung jawab bersama terutama terhadap mereka yang bersentuhan langsung dengan wisatawan dunia, utamanya para petugas di bandara atau yang bertanggung jawab atas manajemen penerbangan Indonesia. Seakan pariwisata menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata saja, padahal tidak.  ●

Sabtu, 29 Desember 2012

Saatnya Liburan


Saatnya Liburan
Rhenald Kasali ;  Ketua Program MM UI
SINDO, 27 Desember 2012



Di atas pesawat yang membawa saya ke Turki, seorang pria berkebangsaan Malaysia duduk melamun memandangi hujan yang membasahi kaca jendela. Sebelum turun di Kuala Lumpur, ia bercerita betapa dongkolnya mengunjungi Jakarta. 

Tiga jam duduk di atas taksi dari hotel menuju Mangga Dua tak kunjung tiba, akhirnya ia meneruskan perjalanan ke bandara dan kembali pulang. Kisah terjebak banjir dalam berwisata bukan hal yang baru di dunia ini. Di Amerika saja Anda bisa terperangkap banjir atau terhadang badai tornado. Saya juga pernah kehilangan waktu dan uang saat tur menuju Lake Tahoe di California karena terhadang badai salju yang tebal. Juga bukan hal aneh bila Anda terhadang banjir atau kebakaran hutan di Australia. Dua tahun silam saya bahkan meninggalkan Suriah hanya satu hari sebelum terjadi konflik bersenjata. 

Hari-hari ini jutaan orang pergi berlibur, berdoa, melakukan ziarah, bersilaturahmi, berbelanja, dan sebagainya. Data terbaru dari World Tourism Organization menunjukkan, tahun ini jumlah pelancong lintas negara telah menembus 1 miliar manusia. Ini berarti satu dari enam penduduk dunia telah bepergian lintas negara. Kalau yang lima sisanya bepergian domestik, berarti hampir semua penduduk dunia adalah konsumen wisata. Siapkah Indonesia menjadi penghasil devisa pariwisata yang penting?

Pemburu Perdamaian 

Manusia yang berwisata pada dasarnya bukanlah manusia yang senang konflik. Juga tak ada bangsa yang lebih bodoh daripada yang menghamburkan anggaran promosi wisatanya sebelum menurunkan angka kriminalitas dan memperbaiki sanitasinya, termasuk pembuangan sampah. Maka itu, dari dulu saya pikir mengurus pariwisata bukanlah urusan pasang iklan dan ikut pameran di luar negeri, melainkan memperbaiki produk seperti yang dilakukan Turki yang dulu juga tidak aman, atau wali kota Palembang yang membersihkan preman, sehingga kita kini merasa nyaman berwisata di Jembatan Sungai Musi. 

Sejak terjadi konflik, Suriah yang dulu sedang giat beriklan bahkan berhenti berpromosi. Padahal di sana banyak situs peninggalan sejarah, termasuk bekas pasar yang pernah didatangi Nabi Besar Muhammad SAW. Memang ada banyak motif manusia berwisata, tetapi semua orang ingin mendapatkan sesuatu, ya pengetahuan, keindahan alam dan budaya, pengalaman, getaran jiwa, oksigen, kesehatan,dan sebagainya. 

Di Istanbul, Turki, saya bertemu sepasang dokter berkebangsaan Pakistan yang sudah 30 tahun membuka praktik di Wisconssin-Amerika Serikat, seorang investment banker asal Singapura dan seorang tua asal Spanyol yang menggandeng wanita muda yang tak henti-hentinya berpelukan di depan keramaian. Di depan menara Blue Mosque yang sangat terkenal, dokter asal Pakistan itu menanyakan kebenaran tentang arsitek yang kepalanya dipenggal Sultan karena membangun masjid yang tak sesuai dengan keinginannya. 

Ahmed, sejarawan muda yang mengantar kami, menjelaskan,“ Ada beberapa versi sejarah. Memang Sultan tidak senang ketika melihat bangunan masjid tak sesuai dengan keinginannya. Setelah itu arsiteknya hilang. Tetapi, versi lain menyebutkan, mereka hanya menghilang selama enam bulan, pergi ke Mekkah untuk melihat Kakbah, lalu kembali dan menambah satu menara lagi sesuai keinginan Sultan,” ungkapnya. 

Di Museum Aya Sofia (Hagia Sofia) yang indah kami kembali tertegun. Gereja Katedral ortodoks terbesar di timur yang berada di seberang Blue Mosque itu dulu dibangun Kaisar Konstantinopel pada abad keempat. Tetapi, di era kejayaan kerajaan Ottoman, oleh Sultan Mehmed 2,bangunan ini diubah menjadi masjid. Bel gereja dan altar dipindahkan, ornamen-ornamen khas gereja ditutup. Kaligrafi Arab dipasang di bagian dalam bangunan. Mimbar, menara masjid, dan mihrab ditambahkan. 

Namun, setelah Turki menjadi Republik, bapak bangsa Turki,Mustafa Kemal Ataturk, mengembalikan bangunan kuno itu menjadi museum. Selubung ornamen gereja yang ditutup sejak 1453 juga dilepas. Kini pengunjung museum bisa menyaksikan jerih payah perjalanan manusia mencari Tuhan. Di puncak altar, ada ornamen gereja yang dilukis seniman Bizantium berupa Bunda Maryam yang memangku Isa. 

Di kiri dan kanan-Nya terpampang kaligrafi Arab yang indah tentang kebesaran Tuhan. Kepada seorang profesor Turki,saya menanyakan keberadaan Turki dalam Uni Eropa (UE). Ia menjawab sambil tersenyum, “Lima belas tahun kami berjuang agar bisa diterima UE, sampai kini tak jelas rimbanya. Sekarang kami bersyukur tak masuk ke dalam UE. Kini merekalah yang butuh Turki. Kini semua orang Eropa ingin menghabiskan uangnya di Turki yang aman dan ekonominya sehat.” 

Berwisata, Berpengetahuan 

Sudah sejak lama saya mempercayai berwisata merupakan wadah pembelajaran yang penting. Maka itu, saya sering tersenyum-senyum membaca komplain masyarakat terhadap prilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang senang berjalan-jalan. Melancong itu sehat, sah, dan bagus untuk mengubah manusia. Sayangnya,tak semua manusia senang dengan perubahan. Yang pasti, hanya yang masih mau belajarlah yang bisa berubah, dan itu akan tampak dari apakah ia memakai uang sendiri atau tidak. 

Saya sejak lama mewajibkan mahasiswa saya memiliki passport. Punya passport itu sehat, apalagi sekarang biaya tiket pesawat banyak yang murah. Diluarnegeri, saya sering melihatanak-anaksekolahbiasa diajak gurunya melancong ke luar negeri. Mereka belajar tentang gunung berapi ke Hawai, batu-batuan alam ke Samoa, dan sejarah ke Candi Borobudur. Sebelum memasuki perkuliahan, calon-calon mahasiswa dari negara-negara di Eropa bergerombol memburu tiket lelang. 

Mereka menjadi backpackers, menginap di hotel-hotel bertarif murah. Semuanya memakai uang pribadi, bukan subsidi, bukan perjalanan dinas. Dari para backpackers-lah saya mengerti betapa banyak persoalan pariwisata yang belum diurus pemerintah. Ribuan makalah tentang pariwisata yang ditulis mahasiswa asing di luar negeri menyebutkan arah pariwisata Indonesia tidak jelas, cuma berpromosi. Mereka juga menyoroti kelucuan daftar 30 makanan asli Indonesia yang akan dipromosikan. Nasinya saja ada tiga (tumpeng, goreng kampung, dan liwet).

“Memangnya kami harus makan semua,” tanya mereka. Belum lagi kesemrawutan lalu lintas, sampah, dan keamanan. Tetapi, apa pun juga harus diakui, di beberapa lokasi kita masih bisa menikmati suasana wisata yang berbeda. Naik becak di Cirebon sambil makan nasi jamblang dan belanja batik, makan nasi liwet dan borong batik di Solo, menikmati angklung Ujo di Bandung, mengelilingi sawah di Ubud, membeli gelang baja putih eks pesawat tempur Sekutu di Morotai, menikmati ikan jelawat di Pontianak, atau menembus hutan pala di Maluku. 

Jadi, bersyukurlah Anda yang masih diberi waktu, kesehatan, dan uang untuk berlibur. Ini saatnya bercengkerama bersama keluarga. Berikanlah kesempatan bagi anak-anak Anda menjadi guide, memilih hotel, dan menentukan rute perjalanan. Hanya dengan cara itulah kepala Anda bisa menjadi ringan, dan liburan benar-benar bisa dinikmati. Dengan cara itu pula, anak-anak bisa menjadi driver bagi hidup mereka sendiri, bukan passenger yang selamanya menumpang dalam kehidupan orang lain. Selamat berlibur.

Senin, 12 Maret 2012

Bangkitnya Pariwisata Indonesia


Bangkitnya Pariwisata Indonesia
Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo, PENGAMAT EKONOMI
Sumber : SINDO, 12 Maret 2012




Pesawat Garuda GA-088 yang menerbangkan saya ke Amsterdam dari Jakarta pekan lalu sungguh luar biasa. Pada penerbangan saya yang kedua ke Amsterdam ini, seluruh kursi pesawat terisi.

Baik kelas ekonomi maupun bisnis benar-benar tidak ada yang kosong. Keadaan ini sungguh bertolak belakang dengan pemandangan setahun sebelumnya. Ketika itu untuk kelas bisnis, dari 36 kursi yang tersedia, hanya 12 kursi terisi. Bahkan berdasarkan informasi pramugari, sering terjadi jumlah penumpang bisnis demikian sedikitnya.Oleh karena itu, load factor yang sedemikian tinggi pada penerbangan kali ini sungguh membuat gembira pramugari tersebut karena sepanjang perjalanan banyak hal yang harus dia kerjakan demi melayani para penumpang.

Suatu hal yang juga sangat luar biasa, mayoritas penumpang pesawat Garuda tersebut adalah orang-orang asing dengan sebagian besar orang Eropa. Bahkan pada saat di Imigrasi Belanda, saya semakin menyadari, beberapa wajah yang saya tandai tampaknya sebagai orang Indonesia, ternyata, juga warga negara Eropa karena paspornya adalah paspor negara yang termasuk dalam Uni Eropa. Dari beberapa orang yang sempat saya tanyai, mereka mengatakan, kunjungan mereka ke Indonesia untuk berlibur. Mungkin mereka mencoba untuk menghindar dari udara ekstrem yang melanda Eropa beberapa waktu lalu.

Pilihan mereka untuk terbang bersama Garuda tentunya didorong harga tiket yang menurut mereka cukup menarik. Dengan pesawat baru, bahkan dengan fasilitas tempat duduk yang bisa diubah menjadi tempat tidur serta pelayanan yang tidak kalah dengan penerbangan lain, harga tiket kelas bisnis yang mereka bayar ternyata kurang dari setengah jika mereka harus terbang dengan KLM ataupun Singapore Airlines. Kombinasi ini jelas membuat Indonesia menjadi tujuan wisata yang murah dan sekaligus menarik.

Dari perjalanan tersebut, saya teringat dengan perjalanan saya ke Amsterdam sebelumnya di mana saya bertemu satu keluarga Belanda dengan dua anak yang masih remaja. Dalam perjalanan ke Indonesia itu, ternyata mereka telah merencanakan tamasya perjalanan darat dari Medan ke Padang dengan memakan waktu sekitar 3 minggu melalui tempat yang saya sendiri, sebagai orang Indonesia, bahkan belum pernah mendengar namanya. Hal tersebut menggambarkan betapa banyak ragam tujuan wisata yang ternyata kita miliki tanpa kita sendiri menyadarinya.

Dengan melihat gambaran penuhnya pesawat Garuda tersebut, data statistik yang menyatakan jumlah wisatawan mancanegara pada Januari 2012 lalu naik 18,93% dibandingkan dengan data periode yang sama 2011 ternyata tidaklah jauh berbeda dengan kenyataan yang ada.Kenaikan sebesar itu bukanlah peningkatan kecil. Oleh karena itu perkembangan tersebut perlu ditanggapi dengan perhatian lebih besar bagi bangkitnya industri pariwisata. Kebangkitan industri pariwisata telah mendorong bangkitnya industri perhotelan serta industri hospitality lainnya.

Di berbagai tempat di Indonesia, kita melihat banyaknya hotel yang baru dibangun dengan kelas sangat beragam. Di Bali kita melihat ada hotel tanpa bintang hingga hotel berbintang enam. Hotel sangat mewah tersebut ternyata memiliki segmen konsumen sendiri sehingga pada akhirnya dari sisi komersial pembangunan hotel tersebut sungguh masuk akal, dalam arti perhitungan bisnisnya. Di Yogyakarta ada hotel baru yang termasuk dalam jaringan Accor yang dalam waktu singkat sudah mampu menarik pelanggan cukup besar.

Hotel tersebut, yang tidak jauh dari pusat keramaian Malioboro,ternyata dapat memenuhi kebutuhan berbagai pihak karena dengan harga yang terjangkau, lokasinya sangat membantu para tamu untuk mendekatkan diri pada berbagai atraksi wisata di kota tersebut.Sementara itu hotel baru yang dibangun di Jalan Solo ternyata bahkan sempat membukukan tingkat hunian 100%.Saya yang mencoba untuk memesan kamar di hotel itu dalam kunjungan ke Yogya baru-baru ini ternyata melihat kenyataan,banyak tamu lain yang berpikiran sama dengan saya.

Seorang teman, yang sebetulnya bukan berasal dari industri perhotelan, mencoba peruntungan dengan membangun kawasan vila di pantai barat Pulau Lombok. Sungguh di luar dugaan dia sendiri,bahkan pada saat low season sekalipun, tingkat hunian hotel yang dia bangun sudah melampaui tingkat break even point. Ini menunjukkan, ada pasar yang besar yang tidak kita duga yang telah berkembang sehingga jika kita mampu memanfaatkannya, kita akan memperoleh keuntungan komersial lebih dari yang kita harapkan.

Jaringan vila teman tersebut, yang berharga dari Rp1,5 juta sampai Rp3 juta per malam, jelas bukan pasar bagi wisatawan backpack. Pada harga tersebut, pasar yang tercipta adalah pasar yang berupa wisatawan kelas menengah ke atas, baik dari mancanegara maupun domestik. Dengan telah laris dan populernya Bali, banyak turis yang akhirnya mencoba daerah-daerah baru di Indonesia. Pada kunjungan saya ke Yogya baru-baru ini, saya surprise bahwa seorang wisatawan dari Perth, Australia, bercerita dia sudah pernah bepergian ke Ubud, Sanur, Kuta, maupun Nusa Dua.

Tapi pada kesempatan kali ini dia tinggal di Hyatt Regency Yogya dan menyatakan, dia sungguh menemukan Yogya yang sangat indah. Komentar yang tulus (genuine) semacam ini perlu ditangkap dan dimanfaatkan bagi pengembangan industri pariwisata lebih lanjut. Jika Yogya sudah dikenal sebagai tujuan wisata dengan Borobudur, Prambanan maupun kota Yogya sendiri, rasanya tidak lama lagi kita akan melihat pantai selatan Yogya, terutama daerah Gunungkidul, akan menjadi magnet baru bagi industri pariwisata di Indonesia.

Saya pernah mendapatkan kesamaan antara jalan yang saya lalui dari Imogiri ke Panggang dengan Seventeen Mile Drive di daerah Monterrey, California,yang sangat terkenal dengan lapangan golfnya, yaitu Pebble Beach. Gunungkidul, terutama yang berada di daerah pantai selatan, jelas memiliki karakteristik tersebut. Bahkan dengan keasliannya saat ini, daerah itu memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan.

Barangkali pembentukan Badan Otorita Pantai Gunungkidul diperlukan agar bisa membangun pantai selatan Gunungkidul sehingga tidak kalah dengan yang telah berkembang di Nusa Dua.Semoga industri pariwisata kita semakin bangkit di masa-masa mendatang. Saya sendiri sungguh cinta dengan negara kita, Indonesia.